Kontrasepsi Oral Tipe Minipil Kontrasepsi Oral Tipe Minipil

progestibJuwita Evitaphani (068114110)

Anthonius Ade P. P (068114132)

APAKAH KONTRASEPSI ITU…

Kontrasepsi memiliki peranan dalam setiap fase reproduksi, yaitu untuk menunda kehamilan atau menjarangkan kehamilan. Untuk mencapai tujuan tersebut, berbagai cara dapat dilakukan, antara lain penggunaan pil KB/ kontrasepsi oral, suntikan atau intravaginal, penggunaan alat dalam saluran reproduksi (kondom, alat kontrasepsi dalam rahim/implan), operasi (tubektomi, vasektomi) atau dengan obat topikal intravaginal yang bersifat spermisid. Dari sekian banyak cara tersebut, penggunaan obat oral termasuk cara yang paling banyak digunakan karena sudah lama dikenal dan efektivitasnya sebagai kontrasepsi cukup tinggi.
KONTRASEPSI ORAL?
Pil adalah obat pencegah kehamilan yang diminum secara oral. Sedangkan jika minipil, cenderung berisi derivat progestin.Pil diperuntukkan bagi wanita yang tidak hamil dan menginginkan cara pencegah kehamilan sementara yang paling efektif bila diminum secara teratur. Minum pil dapat dimulai segera sesudah terjadinya keguguran, setelah menstruasi, atau pada masa post-partum bagi para ibu yang tidak menyusui bayinya. Jika seorang ibu ingin menyusui, maka hendaknya penggunaan pil ditunda sampai 6 bulan sesudah kelahiran anak (atau selama masih menyusui) dan disarankan menggunakan cara pencegah kehamilan yang lain. Pil dapat digunakan untuk menghindari kehamilan pertama atau menjarangkan waktu kehamilan-kehamilan berikutnya sesuai dengan keinginan wanita. Berdasarkan atas bukti-bukti yang ada dewasa ini, pil itu dapat diminum secara aman selama bertahun-tahun. Tetapi, bagi wanita-wanita yang telah mempunyai anak yang cukup dan pasti tidak lagi menginginkan kehamilan selanjutnya, cara-cara jangka panjang lainnya seperti spiral atau sterilisasi, hendaknya juga dipertimbangkan. Akan tetapi, ada pula keuntungan bagi penggunaan jangka panjang pil pencegah kehamilan. Misalnya, beberapa wanita tertentu merasa dirinya secara fisik lebih baik dengan menggunakan pil daripada tidak. Atau mungkin menginginkan perlindungan yang paling efektif terhadap kemungkinan hamil tanpa pembedahan. Kondisi-kondisi ini merupakan alasan-alasan yang paling baik untuk menggunakan pil itu secara jangka panjang. Macam – macam pil ini adalah :
• Pil Kontrasepsi Oral Tipe Kombinasi
• Pil Kontrasepsi Oral Tipe Sekuensial
• Pil Kontrasepsi Oral Tipe Pil Mini
• Pil Kontrasepsi Oral Tipe Pil Pascasanggama (Morning After Pill)

Penggunaan Pil Kontrasepsi Oral Tipe Pil Mini


Hanya berisi derivat progestin, dosisnya kecil, terdiri dari 21-22 pil. Cara pemakaiannya sama dengan cara tipe kombinasi, untuk pengunaan satu siklus. Pil kontrasepsi oral pertama mulai diminum pada hari pertama perdarahan haid, selanjutnya setiap pil 1 hari 1 pil selama 21-22 hari. Umumnya setelah 2-3 hari sesudah pil kontrasepsi oral terakhir diminum, akan timbul perdarahan haid, yang sebenarnya merupakan perdarahan putus obat. Penggunaan pada siklus selanjutnya, sama seperti siklus sebelumnya, yaitu pil pertama ditelan pada hari pertama perdarahan haid.
Contoh sediaan minipil berisi progestin adalah :
Linestrenol 500mg (Exluton) dan Desogestrel 75 mcg (Cerazette)
EFEKTIVITAS MINIPIL PROGESTIN

Sangat efektif (98,5%), penggunaannya jangan sampai lupa dan jangan sampai terjadi gangguan gastrointestinal (muntah, diare) karena karena kemungkinan dapat terjadi kehamilan sangat besar. Penggunaan obat mukolitik asetilsistein bersama dengan minipil karena dapat meningkatkan penetrasi sperma sehingga kemampuan pil dapat terganggu.

APA ITU PROGESTIN ???
Progestin merupakan hormon yang secara alami terutama diproduksi oleh corpus luteum dan plasenta yang berperan dalam reproduksi dengan mempersiapkan endometrium untuk implantasi telur dan membantu perkembangan serta berfungsinya kelenjar mammary . Di samping efeek progestionalnya , progestinsintetik tertentu memiliki efek anabolik,androgenik atau estrogenik(biasanya lemah). Progesteron merupakan progestin alam yang paling banyak selain efeknya sebagai hormon juga berfungsi sebagai prazat untuk produksi berbagai androgen,kortikosteroid dan estrogen secara endogen.

CARA KERJA KONTRASEPSI ORAL JENIS MINIPIL PROGESTIN
Cara kerja pil tersebut adalah dengan menekan sekresi gonadotropin dan sintesis steroid seks di ovarium tetapi tidak begitu kuat, terjadinya transformasi lebih awal pada endometrium sehingga implantasi lebih sulit, mengentalkan lendir serviks sehingga menghambat penetrasi sperma, serta mengubah motilitas tuba sehingga transportasi sperma terganggu.
EFEK SAMPING PROGESTIN
Efek sampingnya adalah obstipasi, rasa letih, nyeri kepala, reaksi kulit alergis dan melasma, varices dan kejang tungkai, juga depresi. Di samping itu zat ini juga dapat menyebabkan perdarahan antara di minggu – minggu pertama, hipomenorroea dan amenorroea, libido berkurang dan gangguan pembuluh, serta kolerterol HDL diturunkan.
KONTRAINDIKASI MINIPIL PROGESTIN
Dengan fungsi utama untuk mencegah kehamilan (karena menghambat ovulasi), kontrasepsi juga biasa digunakan untuk mengatasi ketidakseimbangan hormon estrogen dan progesteron dalam tubuh. Namun sama halnya dengan pemakaian obat secara oral lainnya, harus diperhatikan juga beberapa faktor dalam pemakaian semua jenis obat yang bersifat hormonal, yaitu:
Kontraindikasi mutlak: (sama sekali tidak boleh diberikan):kehamilan, gejala thromboemboli, kelainan pembuluh darah otak, gangguan fungsi hati atau tumor dalam rahim.
Kontraindikasi relatif (boleh diberikan dengan pengawasan intensif oleh dokter): penyakit kencing manis (DM), hipertensi, pendarahan vagina berat, penyakit ginjal dan jantung.
PIL KONTRASEPSI ORAL YANG BIASA DIGUNAKAN
Umumnya pil kontrasepsi oral di pasaran terdiri dari 28 pil kontrasepsi, biasanya 7 diantaranya berisi plasebo (zat netral). Hal ini dilakukan untuk mendisiplinkan pemakaian pil kontrasepsi oral. Pil kontrasepsi oral selain untuk mencegah kehamilan juga untuk mengatur haid agar teratur. Tetapi ada juga pil kontrasepsi oral yang menggunakan bahan yang tidak menimbulkan efek samping berat badan naik dan menyebabkan tulang keropos. Produk tertentu pil kontrasepsi oral juga ada yang menjanjikan kehalusan kulit pada pemakainya.
TUJUAN TERAPI
Tujuan terapi dari pil kontrasepsi ini ialah untuk mencegah kehamilan dan juga untuk mengatur haid agar teratur. Pil dapat digunakan untuk menghindari kehamilan pertama atau menjarangkan waktu kehamilan-kehamilan berikutnya sesuai dengan keinginan wanita. Berdasarkan atas bukti-bukti yang ada dewasa ini, pil itu dapat diminum secara aman selama bertahun-tahun.
Saran : Dalam memilih kontrasepsi apa yang akan cocok untuk anda, sebaiknya anda mengetahui keuntungan dan kelemahan dari masing-masing metode yang ada, dan berdiskusilah dengan pasangan anda karena yang terpenting adalah anda dan pasangan merasa aman dan nyaman dengan pilihan kontrasepsi yang digunakan.
Bila anda masih ragu jangan pernah malu untuk bertanya dan berkonsultasi dengan dokter anda untuk memilih jenis metode kontrasepsi apa yang terbaik untuk anda.

Sumber:
http://www.medicastore.com
http://www.gealgeol.com/2008/09/19/kontrasepsi-darurat-,-apa-dan-untuk-siapa?.html
http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/05PemanfaatanHormondalamKontrasepsi112.pdf
http://mommygadget.com/category/kontrasepsi/
http://mommygadget.com/2008/07/01/mengenal-jenis-jenis-pil-kontrasepsi/
Raharja, Kirana, 2007, Obat – Obat Penting, edisi keenam, PT Elex Media Komputindo, Jakarta
Saifuddin, Abdul Bari, 2006, Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi, edisi 2, Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta

Regina Citra D (068114153)

C. A Rosita I (068114170)

Vitamin A (Retinol) Untuk Bayi Prematur

Bayi premature membutuhkan dukungan nutrisi yang khusus oleh karena derajat imaturitas biokimianya yang tinggi, laju pertumbuhan yang cepat dan dapat terjadi insidens komplikasi medik yang lebih besar. Vitamin A pada bayi dengan berat lahir sangat rendah sangat diperlukan untuk mengurangi morbiditas dan mortalitas akibat bronchopulmonary dysplasia (BDP). Sebaiknya bayi premature diberikan diet optimal sebagai diet yang mendukung kecepatan pertumbuhan sesuai dengan pertumbuhan intrauterine tanpa mengadakan stress pada fungsi metabolic dan sekresi.

Vitamin A adalah vitamin larut dalam lemak yang dikenal sebagai suatu zat esensial yang diperlukan untuk peningkatan pertumbuhan. Vitamin A campuran (retinoid) terdapat dalam 3 bentuk alami: retinol, retinaldehide dan asam retinoat.

Retinol (vitamin A alcohol) dengan struktur molekul C20H30O dan bobot molekul 286,45 g/mol, adalah komponen diet yang ada dalam bentuk retinil ester dari sumber makanan hewani dan juga dibentuk in vivo dari prekursornya yaitu betakaroten yang ada dalam sumber makanan nabati. Retinil ester merupakan turunan dari proses esterifikasi retinol. Sedangkan retinaldehide yang biasa disebut juga retinal merupakan turunan dari proses reversible oksidasi retinol dan bila dikombinasi dengan berbagai lipolrotein membentuk pigmen visual retina. Sedangkan asam retinoat bisa dihasilkan dari proses oksidasi irreversible retinaldehide dalam jaringan.

Fisiologi

Vitamin A ditransfer dari ibu ke fetus terutama pada masa gestasi lanjut. Pada masa gestasi awal, vitamin A fetus ditransfer dari ibu transplasenter ke dalam bentuk kompleks retinol – Retinol Binding Protein (RBP).

Oleh karena cadangan yang sedikit pada waktu lahir, bayi terlahir premature dengan pertumbuhan yang sedikit cepat membutuhkan jumlah vitamin A lebih banyak dibanding dengan bayi cukup bulan untuk menjamin penyimpananyang adequate dalam jaringan.

Absorpsi

Retinil ester dari makanan akan diproses melalui mekanisme yang agak kompleks, termasuk disperse dan emulsifikasi retinil ester di lambung, kemudian proses hidrolisis di lumen usus oleh enzim pancreas dan enzim – enzim lainnya serta solubilisasi retinol, yang merupakan hasil hidrolisis retinil ester, dengan garam empedu. Retinil dalam sel mukosa sebagian besar diesterifikasi ulang dengan asam lemak rantai panjang. Retinil ester kemudian disatukan bersama lemak – lemak yang lain dan apolipoprotein ke dalam partikel kilomikron. Kilomikron kemudian disekresi oleh sel mukosa usus ke dalam sinus – sinus lacteal dan masuk ke dalam system limfatik melalui duktus torasikus yang kemudian diambil dari siklus oleh hati.

Penyimpanan

Sebanyak 90% dari seluruh vitamin A tubuh disimpan dalam hati. Pada penelitian yang dilakukan terhadap 25 bayi premature yang meninggal dalam 24 jam setelah kelahiran, diperoleh konsentrasi rata-rata vitamin A hati 30+ 13 μg/g (dengan range 2 – 49 μg/g). Terdapat presentasi yang tinggi (76%) bayi premature yang mempunyai konsentrasi vitamin A yang kurang dari 40 μg/g. hal ini menunjukkan baha bayi premature mempunyai simpanan vitamin A dalam hati yang rendah pada saat kelahiran. Selain hati, organ lain yang juga merupakan tempat penyimpanan vitamin A adalah paru-paru. Penyimpanan vitamin A dimulai pada saat trimester terakhir kehamilan.

Metabolisme

Vitamin A didistribusikan ke jaringan dalam bentuk kompleks retinol – RBP yang terikat pada prealbumin. Pengambilan vitamin A sel tergantung dari adanya reseptor membran spesifik yang mengenal RBP. Setelah pengankutan vitamin A ke membran plasma, RBP kembali ke sirkulasi dan sebagian dieliminasi oleh ginjal dan sebagian lagi digunakan kembali untuk pengangkutan vitamin A. Mekanisme yang melibatkan prealbumin belum diketahui.

Perpindahan vitamin A dalam sel jaringan melibatkan dua jenis protein pengikat vitamin A intrasel, yaitu cellular retinol – binding protein (CRBP) dan cellular retinoic acid – binding protein (CRABP). CRBP memainkan peran dalam transfer retinol dari membran plasma ke tempat pengikatan spesifik untuk retinol dalam inti pada beberapa komponen kromatin. CRBP mungkin terlibat dalam interaksi asam retinoat dalam inti sel. Mekanisme yang tepat dimana retinol dan asam retinoat mempengaruhi metabolisme inti sel, regulasi penampakan genome dan indikasi diferensiasi jaringan masih dalam penelitian.

Ekskresi

Tidak ada tanda – tanda spesifik defisiensi vitamin A pada bayi seperti buta senja, kornea kering, dermatritis folikularis dan lain-lain. Pada prinsipnya, konsentrasi serum retinol < o,35 umunya dikatakan sebagai indikator adanya defisiensi vitamin A meskipun hubungan langsung konsentrasi retinol hati dan serum tidak selalu ada.

Vitamin A memainkan peranan penting dalam diferensiasi dan pemulihan sel epitel jalan napas. Defisiensi vitamin A akan menyebabkan perubahan progresif epitel jalan napas. Perubahan ini termasuk necrotizing tracheobronchitis pada stadium awal defisiensi dan metaplasia skusmosa pada stadium lanjut. Perubahan patofisiologi ini akan menyebabkan antara lain:

* Kehilangan sekresi normal sel goblet dan sel sekretori yang lain

* Kehilangan homeostasis air normal yang melewati epitel trakeobronkial

* Kehilangan silia yang merupakan predisposisi terjadinya atelektasia dan infeksi jalan napas

* Penyempitan lumen dan kehilangan distensibilitas jalan napas yang akan mengakibatkan peningkatan resistensi jalan napas.

Bayi prematur yang rentan terhadap penyakit paru akut, subakut dan kronik mempunyai risiko terhadap penyakit paru yang disebut bronchopulmonary dysplasia (BPD). Meskipun bentuk defisiensi yang sebenarnya tidak dikenal secara klinik, namun bayi prematur dengan insufisiensi pernapasan berat dan atau BPD mempunyai konsentrasi retinol plasma yang sangat rendah.

Daftar Pustaka:

Specker BL, DeMarin S., 1992, Vitamin and Mineral Supplementation hal.161 – 2, Oxford University Press, New York

Sinclair JC, Bracken MB, 1992, Effective Care Of The Newborn Infant, Tokyo : Oxford University Press

Surif B., 2002, Vitamin A Untuk Bayi Berat Lahir Sangat Rendah, Fakultas Kedokteran Universitas Hassanudin, Makassar

DEPRESI..??!!!! OH NO !!!!

DEPRESI..??!!!! OH NO !!!!

TERAPI SSRI..MAKNYUZZZ !!!!

Created by :

Monica Dini Puspita (068114003)

Ayu Widya Sari (068114061)

Apakah kalian tahu mengenai depresi…??? Pastinya kita sudah sering mendengar kata-kata tersebut bukan??Nah..buat tahu lebih lanjut serta terapi SSRI nya..simak saja tulisan di bawah ini ya…Selamat membaca…

Depresi adalah keadaan psikis yang tidak sesuai (cocok) dengan keadaan kehidupan yang bersangkutan yang disertai hambatan emosi menyeluruh (Mutschler, 1991).

Apa tanda dan gejala dari gangguan depresi ???

a. Tanda-tanda :

Pola tidur yang abnormal atau sering terbangun termasuk diselingi kegelisahan dan mimpi buruk, sulit konsentrasi pada setiap kegiatan sehari-hari, selalu kuatir, mudah tersinggung, cemas dan aktivitas yang tadinya disenangi menjadi makin lama makin dihentikan serta bangun tidur pagi rasanya malas (Anonim, 2007).

b. Gejala-gejala :

Perubahan cara berpikir, perubahan perasaan dan perubahan perilaku.

Apa penyebab dari depresi ???

Penyebab gangguan depresi dapat dilihat dari sisi organobiologik, psikologik dan lingkungan.

Bagaimana 3 fase pengobatan gangguan depresif ???

Saat merencanakan intervensi pengobatan, penting untuk menekankan kepada penderita bahwa ada beberapa fase pengobatan sesuai dengan perjalanan gangguan depresif:

- Fase akut bertujuan untuk meredakan gejala

- Fase kelanjutan untuk mencegah relaps

-Fase pemeliharaan/rumatan untuk mencegah rekuren (Anonim, 2007).


(Anonim, 2007).

Apa itu terapi SSRI yang digunakan pada pengobatan depresi ???

Saat ini, SSRI (Selective Serotonin-Reuptake Inhibitor) secara umum diterima sebagai obat lini pertama. SSRI atau inhibitor ambilan kembali serotonin selektif merupakan grup kimia antidepresan baru yang khas, hanya mengambil ambilan serotonin secara spesifik. Dibanding dengan antidepresan trisiklik, SSRI menyebabkan efek antikolinergik lebih kecil dan kardiotoksisitas lebih rendah. Namun demikian, SSRI harus digunakan secara seksama sampai nanti setelah efek jangka panjang diketahui (Mycek, et al., 2001).

Contoh obat dari SSRI adalah fluoksetin.

1. Struktur fluoksetine HCl :


(Anonim, 2008).

2. Penggunaan dalam terapi : Indikasi utama fluoksetin, yang lebih unggul daripada antidepresan trisiklik, adalah depresi. Digunakan pula untuk mengobati bulimia nervosa dan gangguan obsesi kompulsif. Untuk pelbagai indikasi lain, termasuk anoreksia nervosa, gangguan panik, nyeri neuropatidiabetik dan sindrom premenstrual (Mycek, et al., 2001).

3. Mekanisme Kerja : SSRI menyebabkan peningkatan serotonin ekstraseluler yang paa awalnya mengaktivasi autoreseptor, suatu aktivitas yang menghambat pelepaan serotonin dan menurunkan serotonin ekstraseluler ke kadar sebelumnya. Akan tetapi, dengan terapi kronis, autoreseptor inhibisi mendesensitisasi dan selanjutnya terdapat penigkatan yang menetap pada pelepasan serotonin otak depan yang menyebabkan efek terapeutik (Neal, 2006).

4. Farmakokinetik : Resorpsinya dari usus baik, makanan menurunkan kecepatannya tetapi jumlah totalnya tidak dipengaruhi. Fluoksetin dalam terapi terdapat sebagai campuran R dan enantiomer S yang lebih aktif. Kedua senyawa mengalami demetilasi menjadi metabolit aktif, norfluoksetin. Fluoksetin dan Norfluoksetin dikeluarkan secara lambat dari tubuh dengan waktu paruh 1 sampai 10 hari untuk senyawa asli dan 3-30 hari untuk metabolit aktif. Dosis terapi fluoksetin diberikan secara oral dan konsentrasi plasma yang mantap tercapai setelah beberapa minggu pengobatan. Fluoksetin merupakan inhibitor kuat untuk isoenzim sitokrom P-450 hati yang berfungsi untuk eliminasi obat antidepresan trisiklik, obat neuroleptika dan beberapa obat antiaritmia dan antagonis β-adrenergik. Pada hewan,S-norfluoksetin sangat kuat dan merupakan inhibitor selektif ambilan serotonin dan pada dasarnya sama dengan R- atau S- fluoksetin. R-Norfluoksetin kurang poten untuk obat yang menghambat ambilan serotonin. Catatan : Kira-kira 7% kulit putih tidak mempunyai enzim P-450 dan karenanya metabolisme fluoksetin sangat lambat (Mycek, et al., 2001).

5. Akumulasi dan Eliminasi :

Eliminasi yang relatif lambat dari fluoxetin (t1/2 eliminasi 1-3 hari setelah pemberian akut dan 4-6 hari untuk pemberian kronis (jangka panjang)), untuk metabolit aktif (Norfluoxetin) t1/2 eliminasinya yaitu 4-16 hari, jika diberikan secara akut dan kronis. Akumulasi yang signifikan terjadi pada waktu pemberian jangka panjang dan untuk mencapai ke steady state sangat lambat, juga pada pemakaian dosis tertentu. Setelah 30 hari dengan dosis sebesar 40 mg/hari, konsentrasi plasma yang fluoxetin teramati berada dalam range 91-302 ng/ml dan norfluoxetine dalam range 72-258 ng/ml (Anonim, 2008).

Konsentrasi plasma fluoxetine lebih tinggi dari yang diperkirakan oleh studi dosis tunggal, karena metabolisme fluoxetine tidak sebanding untuk mengobati. Tetapi, norfluoxetine, mempunyai linear farmakokinetik. Berarti, t1/2 eliminasinya setelah dosis tunggal adalah 8,6 hari dan setelah pemberian dengan dosis ganda ialah 9,3 hari. Tingkat steady state setelah dosisnya diperpanjang adalah 4-5 minggu (Anonim, 2008).

Farmakokinetik pada geriatri (orang tua)

Pengaturan dosis tunggal fluoxetin pada subjek uji sehat yang tergolong tua (berumur > 65 tahun) tidak berbeda signifikan dari subjek uji normal yang lebih muda. Efek metabolisme fluoxetin berdasarkan umur telah diselidiki pada 260 orang tua, tetapi pasien sehat (berumur ≥ 60 tahun) penggunaanya dibatasi, yaitu 20 mg fluoxetine untuk 6 minggu. Konsentrasi plasma untuk kombinasi fluoxetine plus norfluoxetine adalah 209.3 ± 85.7 ng/mL pada 6 minggu terakhir (Anonim, 2008).

Farmakokinetik pada pediatri (anak-anak dan remaja)

Farmakokinetik fluoxetine dievaluasi pada 21 pasien pediatri (10 anak-anak berumur 6<13 tahun, 11 orang kaum remaja dengan umur 13 < 18 tahun) didiagnosa menderita gangguan depresi mayor atau OCD (Obsessive Compulsive Disorder). Fuoxetine dengan dosis 20 mg/ hari diberikan sampai 62 hari. Konsentrasi rata-rata steady state fluoxetine pada anak-anak 2 kali lipat lebih tinggi dari kaum remaja (171 ng/ml untuk anak-anak dan 86 ng/ml untuk remaja). Konsentrasi rata-rata steady state norfluoxetine pada anak-anak 1,5 kali lipat lebih tinggi dari kaum remaja (195 ng/ml untuk anak-anak dan 113 ng/ml untuk remaja) (Anonim, 2008)

Parameter

Fluoxetin

Norfluoxetin

Cx (ng/ml)

87.2 ± 4.8

113.0 ± 7.3

tmax (h)

6.7 ± 0.4

23.8 ± 6.4

AUC (ng.h/ml)

340.9 ± 806.1

26043.2 ± 1627.2

T1/2 (h)

85.4 ± 7.8

288.4 ± 24.0

Parameter

Fluoksetin

Norfluoksetin

Cmax   (ng/ml)

87.2 ± 4.8

113.0 ± 7.3

tmax    (h)

6.7 ± 0.4

23.8 ± 6.4

AUC      (ng.h/ml)

6340.9 ± 806.1

26043.2 ± 1627.2

t1/2     (h)

85.4 ± 7.8

288.4 ± 24.0

Parameter Farmakokinetik Fluoxetine dan metabolitnya (Norfluoxetine) untuk sukarelawan sehat, pria berumur 20 tahun (Carrasco, et al., 2001).

6. Efek samping : hilang libido, ejakulasi terlambat dan anorgasme, dapat menimbulkan kejang.

7. Dosis : Pada depresi dan OCD oral 20 mg sehari, bila perlu dinaikkan setiap 2 minggu sampai maksimal 60 mg sehari dalam dua dosis (Mycek, et al., 2001).

8. Interaksi :

· SSRI dengan alkohol : efek mungkin ditingkatkan

· SSRI dengan antiaritmia : kadar plasma flekainida dinaikkan oleh fluoksetin

· SSRI dengan antikoagulan : efek nikoumalona dan warfarin ditingkatkan

· SSRI dengan antidepresan lain : efek pada SSP dari MAOI meningkat (resiko toksisitas); SSRI tidak boleh dimulai sampai 2 minggu setelah penghentian MAOI; sebaliknya MAOI tidak boleh dimulai sampai setidaknya satu mingu setelah SSRI dihentikan (setidaknya 5 minggu untuk fuoksetin); dengan moklobemid, kadar plasma dapat beberapa trisiklik meningkat, terjadi agitasi dan nausea dengan triptofan (Anonim, 2000).

Jadi…kesimpulannya terapi SSRI dapat dijadikan pilihan utama dalam pengobatan gangguan depresi..

Daftar Pustaka

Anonim, 2000, Informatorium Obat Nasional Indonesia, 145, 466-467, Depkes RI, Jakarta

Anonim, 2007, Pharmaceutical Care Untuk Penderita Gangguan Depresif, 4-6, 20, Depkes RI, Jakarta

Anonim, 2008, Levitra Drug Description, http://www.rxlist.com/viagra-drug.htm, diakses tanggal 17 Maret 2008

Carrasco, et al., 2001, Multiple-Dose Pharmacokinetics of Fluoxetine in Healty Mexican Subjects, 2, Instituto Nacional de Pediatria, Mexico

Mutschler, 1991, Dinamika Obat, edisi V, 129, Penerbit ITB, Bandung

Mycek, M.J., et al., 2001, Farmakologi, edisi II, 123, 124, Widya Medika, Jakarta

Neal, M.J., 2006, At a Glance Farmakologi Medis, edisi V, 63, Erlangga, Jakarta


PROFIL FARMAKOKINETIKA PEMBERIAN OBAT MELALUI INFUS

Nama penyusun:

Mayland Yee Sewa                  (06-087)

Ni Nyoman Manik U.               ( 06-091)

 

Pemberian melalui infus diartikan sebagai pemberian obat secara perlahan-lahan dengan jangka waktu lama, sehingga didapatkan keseimbangan antara kecepatan masuknya obat ke sirkulasi sistemik dengan kecepatan eliminasi obat. Tujuan dari pemberian obat melalui infus terutama adalah agar didapatkan kadar terapetik yang terpelihara (konstan), yang memang diperlukan pada keadaan keadaan tertentu. Untuk itu, perlu dibedakan pemberian obat bersama infus atau pemberian obat secara perlahan-lahan. Pada saat akan dimulainya pemberian suatu obat secara infus, kadar obat dalam tubuh adalah nol. Kemudian diberikan infus, maka kadar obat akan naik, setelah waktu tertentu proses eliminasi akan seimbang dengan kecepatan masuknya obat, sehingga didapatkan keadaan yang disebut “steady state” atau “plateau”. Steady state ini dapat dipertahankan, apabila kecepatan infus diatur sedemikian rupa sehingga seimbang dengan kecepatan eliminasi (lihat Gambar 5).

 

 

Dengan demikian, secara matematis jumlah obat yang berada dalam tubuh (Ass) dan kadar obat dalam darah (Css) pada keadaan steady state (=tunak) dapat diprediksi dengan formula:

                     Ro

a) Css = ————–       atau Ass = Css x Vd

                   Kel

 

                     Ro

b) Css = ————–

                    CL

Keterangan :

Css adalah kadar obat pada keadaan tunak

Ro adalah kecepatan infus

CL adalah klirens tubuh total

Ass adalah jumlah obat yang berada dalam tubuh pada keadaan tunak.

 

Waktu untuk mencapai keadaan tunak pada pemberian obat melalui infus.

Berapa lama waktu yang diperlukan untuk mencapai keadaan tunak? Bila infus diberikan dengan kecepatan yang sama dengan kecepatan eliminasinya, maka keadaan tunak akan tercapai dalam waktu 3,3 x T 1/2. Pada keadaan tertentu, mungkin waktu ini terlalu lama. Untuk itu, pencapaian keadaan tunak dapat dipercepat dengan pemberian bolus, yaitu sejumlah dosis obat yang diberikan secara cepat. Pemberian bisa dilakukan dengan cara mempercepat tetesan infus selama waktu tertentu, bisa dengan memberikan sejumlah dosis per injeksi intravena (lihat Gambar 6a, 6b, 6c).

 

 

 

 

Apabila kadar obat selama infus dipertahankan supaya tidak berubah, maka setelah infus dihentikan, kadar obat akan menurun, mengikuti pola kinetika eliminasi yang dimiliki oleh obat tersebut (lihat Gambar 7

 

Contoh obat yang dapat diberikan melalui infus.

Contoh obat yang dapat diberikan melalui infus yaitu metronidazol ( 500 mg metronidazol dalam 100 ml infus). Metronidazol bekerja sebagai bakterisid, amubisid dan trikomonasid.

Farmakokinetik

Absorpsi

Setelah pemberian infus IV selama 1 jam dengan dosis 15 mg/kgBB kemudian diikuti dengan pemberian infus IV metronidazol Hcl selama 1 jam dengan dosis 7,5 mg/kgBB setiap 6 jam pada orang dewasa sehat, konsentrasi puncak metronidazol dalam plasma rata-rata 26 μg/ml dan konsentrasi yang mantap dalam plasma rata-rata 18 μg/ml. Dalam satu studi crossover pada orang dewasa, daerah bawah kurva (AUCs = area under the concentration – time curves) tidak ada perbedaan secara signifikan pada pemberian dosis metronidazol tablet 500 mg dengan dosis infus IV tunggal 500 mg metronidazol HCl yang diberikan selama 20 menit.

 

 

Distribusi

Metronidazol didistribusikan secara luas ke dalam jaringan dan cairan tubuh termasuk tulang, empedu, air liur, cairan pleural, cairan peritoneal, cairan vagina, cairan seminal, cairan serebrospinal (CSF = cerebrospinal fluid), dan abses hati dan otak. Distribusi pada pemberian oral maupun pemberian infus IV adalah sama. Konsentrasi metronidazol dalam cairan serebrospinal dilaporkan sebanyak 43% dari konsentrasi metronidazol dalam plasma, pada pasien dengan uninflamed meninges serta sebanding atau lebih besar dari konsentrasi metronidazol dalam plasma pada pasien dengan inflamed meninges. Metronidazol juga didistribusi ke dalam eritrosit. Ada data yang menduga bahwa volume distribusi metronidazol menurun pada pasien geriatrik dibandingkan pasien usia muda, hal ini mungkin merupakan akibat dari menurunnya ambilan metronidazol oleh eritrosit pada pasien geriatrik. Metronidazol terikat kurang dari 20% pada protein plasma. Metronidazol melewati plasenta, didistribusikan ke dalam ASI dengan konsentrasi yang sama dengan konsentrasi metronidazol dalam plasma.

Eliminasi:

Waktu paruh dalam plasma dari metronidazol dilaporkan 6-8 jam pada orang dewasa dengan fungsi ginjal dan hepar normal. Suatu studi dengan menggunakan metronidazol HCl yang dilabel, waktu paruh dari metronidazol bentuk utuh rata-rata 7,7 jam dan waktu paruh dari radioaktivitas total rata-rata 11,9 jam. Waktu paruh metronidazol dalam plasma tidak dipengaruhi oleh perubahan fungsi ginjal, akan tetapi waktu paruh dapat lebih panjang pada pasien gangguan fungsi hepar. Studi pada orang dewasa dengan penyakit hepar alkoholik dan gangguan fungsi hepar memperlihatkan bahwa waktu paruh rata-rata 18,3 jam (kisaran: 10,3-29,5 jam).

 

Inkompatibilitas obat melalui infus.


Ada obat yang tidak kompatibel dengan kandungan larutan infus. Contoh khas adalah natrium bikarbonat dengan Ringer laktat atau Ringer asetat. Untuk mencegah inkompatibilitas, penting dipikirkan bagaimana obat bisa berinteraksi di dalam atau di luar tubuh. Jika harus mencampur suatu obat, selalu ikuti petunjuk pabrik seperti volume dan jenis diluen yang tepat; mana larutan yang bisa ditambahkan ke pemberian “piggy back”; dan larutan “bilas” apa yang harus digunakan di antara pemberian suatu produk dan produk lain untuk menghindari kejadian-kejadian, seperti pengendapan di dalam selang infus (sebagai Contoh, jangan pernah memberikan fenitoin ke dalam infus jaga yang mengandung dekstrosa, atau jangan campur amphotericin B dengan normal saline). Hal-hal lain yang perlu dipertimbangkan adalah adanya elektrolit (misal. kalium klorida) yang dicampur ke infus kontinyu, misal pada sistem piggyback. Jika ingin mencampur obat dalam spuit untuk pemberian bolus, pastikan obat - obat ini kompatibel di dalam spuit. Selain itu perlu waspada dengan obat yang dikenal memiliki riwayat inkompatibilitas bila berkontak dengan obat lain. Contoh-contoh furosemide (Lasix), phenytoin (Dilantin), heparin, midazolam (Versed), dan diazepam (Valium) bila digunakan dalam campuran IV.

 

Daftar Pustaka

Anonim, 2008, Kepentingan Pendidikan Farmakologi Klinik dan Terapetika dan Pengertian Farmakologi Klinik, www.farklin.com/images/multirow4008d7d67ef72.pdf, diakses tanggal 18 Maret 2009.

Anonim, 2008, Formulasi steril,

http://formulasisteril.blogspot.com/2008/05/pendahuluan-infus.html, diakses tanggal 18 Maret 2009.

Anonim, 2009, Fladex Infus, http://www.dexa-medica.com/ourproduct/prescriptionproducts/detail.php?id=67&idc=7, diakses tanggal 18 Maret 2009.

Darmawan, I., 2008, Interaksi Obat : Apa Yang Patut Anda Ketahui, http://www.otsuka.co.id/?content=article_detail&id=48=id, diakses tanggal 18 Maret 2009.

Arifianto, 2008, Tata Laksana Pemberian Infus, http://keluargasehat.wordpress.com/2008/03/29/tata-laksana-pemberian-infus/, diakses tanggal 18 Maret 2009.

 

 

 

 

 

 

 

 

Interaksi Obat Mempengaruhi ADME Obat

Farmakokinetika Klinik

Oleh:

Dion Arga Anggayasta 068114013

Bernadus Tatag Prasetya 068114075

Interaksi Obat Mempengaruhi ADME Obat

Di dalam tubuh obat mengalami berbagai macam proses hingga akhirnya obat di keluarkan lagi dari tubuh. Proses-proses tersebut meliputi, absorpsi, distribusi, metabolisme (biotransformasi), dan eliminasi. Dalam proses tersebut, bila berbagai macam obat diberikan secara bersamaan dapat menimbulkan suatu interaksi. Selain itu, obat juga dapat berinteraksi dengan zat makanan yang dikonsumsi bersamaan dengan obat.

Interaksi yang terjadi di dalam tubuh dapat dibedakan menjadi dua, yaitu interaksi farmakodinamik dan interaksi farmakokinetik. Interaksi farmakodinamik adalah interaksi antar obat (yang diberikan berasamaan) yang bekerja pada reseptor yang sama sehingga menimbulkan efek sinergis atau antagonis. Interaksi farmakokinetik adalah interaksi antar 2 atau lebih obat yang diberikan bersamaan dan saling mempengaruhi dalam proses ADME (absorpsi, distribusi, metabolisme, dan eliminasi) sehingga dapat meningkatkan atau menurunkan salah satu kadar obat dalam darah. Selanjutnya akan dibahas lebih lanjut tentang interaksi farmakokinetik.

Interaksi Famakokinetik

1. Interaksi pada proses absorpsi

Interaksi dala absorbs di saluran cerna dapat disebabkan karena

a. Interaksi langsung yaitu terjadi reaksi/pembentukan senyawa kompleks antar senyawa obat yang mengakibatkan salah satu atau semuanya dari macam obat mengalami penurunan kecepatan absorpsi.

Contoh: interaksi tetrasiklin dengan ion Ca2+, Mg2+, Al2+ dalam antasid yang menyebabkan jumlah absorpsi keduanya turun.

b. Perubahan pH

Interaksi dapat terjadi akibat perubahan harga pH oleh obat pertama, sehingga menaikkan atau menurukan absorpsi obat kedua.

Contoh: pemberian antasid bersama penisilin G dapat meningkatkan jumlah absorpsi penisilin G

c. Motilitas saluran cerna

Pemberian obat-obat yang dapat mempengaruhi motilitas saluan cerna dapat mempegaruhi absorpsi obat lain yang diminum bersamaan.

Contoh: antikolinergik yang diberikan bersamaan dengan parasetamol dapat memperlambat parasetamol.

2. Interaksi pada proses distribusi

Di dalam darah senyawa obat berinteraksi dengan protein plasma. Seyawa yang asam akan berikatan dengan albumin dan yang basa akan berikatan dengan α1-glikoprotein. Jika 2 obat atau lebih diberikan maka dalam darah akan bersaing untuk berikatan dengan protein plasma,sehingga proses distribusi terganggu (terjadi peingkatan salah satu distribusi obat kejaringan).

Contoh: pemberian klorpropamid dengan fenilbutazon, akan meningkatkan distribusi klorpropamid.

3. Interaksi pada proses metabolisme

a. Hambatan metabolisme

Pemberian suatu obat bersamaan dengan obat lain yang enzim pemetabolismenya sama dapat terjadi gangguan metabolisme yang dapat menaikkan kadar salah satu obat dalam plasma, sehingga meningkatkan efeknya atau toksisitasnya.

Cotoh: pemberian S-warfarin bersamaan dengan fenilbutazon dapat menyebabkan mengkitnya kadar Swarfarin dan terjadi pendarahan.

b. Inductor enzim

Pemberian suatu obat bersamaan dengan obat lain yang enzim pemetabolismenya sama dapat terjadi gangguan metabolisme yang dapat menurunkan kadar obat dalam plasma, sehingga menurunkan efeknya atau toksisitasnya.

Contoh: pemberian estradiol bersamaan denagn rifampisin akan menyebabkan kadar estradiol menurun dan efektifitas kontrasepsi oral estradiol menurun.

4. Interaksi pada proses eliminasi

a. Gangguan ekskresi ginjal akibat kerusakan ginjal oleh obat

jika suatu obat yang ekskresinya melalui ginjal diberikan bersamaan obat-obat yang dapat merusak ginjal, maka akan terjadi akumulasi obat tersebut yang dapat menimbulkan efek toksik.

Contoh: digoksin diberikan bersamaan dengan obat yang dapat merusak ginjal (aminoglikosida, siklosporin) mengakibatkan kadar digoksin naik sehingga timbul efek toksik.

b. Kompetisi untuk sekresi aktif di tubulus ginjal

Jika di tubulus ginjal terjadi kompetisi antara obat dan metabolit obat untuk sistem trasport aktif yangsama dapat menyebabkan hambatan sekresi.

Contoh: jika penisilin diberikan bersamaan probenesid maka akan menyebabkan klirens penisilin turun, sehingga kerja penisilin lebih panjang.

c. Perubahan pH urin

Bila terjadi perubahan pH urin maka akan menyebabkan perubahan klirens ginjal. Jika harga pH urin naik akan meningkatkan eliminasi obat-obat yang bersifat asam lemah, sedangkan jika harga pH turun akan meningkatkan eliminasi obat-obat yang bersifat basa lemah.

Contoh: pemberian pseudoefedrin (obat basa lemah) diberikan bersamaan ammonium klorida maka akan meningkatkan ekskersi pseudoefedrin. Terjadi ammonium klorida akan mengasamkan urin sehingga terjadi peningkatan ionisasi pseudorfedrin dan eliminasi dari pseudoefedrin juga meningkat.

Daftar Pustaka

Mutschler, E., 1985, Dinamika Obat Farmakologi dan Toksikologi, 88-93, Penerbit ITB, Bandung

Sulistia, dkk, 2007, Famakologi dan Terapi, 862-872, UI Press, Jakarta

SEKILAS INFO TENTANG ANTIJAMUR : FLUKONAZOL

Disusun oleh :

Valentina Dewi Akhila C.                     (058114066)

Fitriana Annisa S.N.                (068114095)

Maret 2009

 

Antijamur

Obat antijamur terdiri dari beberapa kelompok yaitu : kelompok polyene (amfoterisin B, nistatin, natamisin), kelompok azol (ketokonazol, ekonazol, klotrimazol, mikonazol, flukonazol, itrakonazol), allilamin (terbinafin), griseofulvin, dan flusitosin.

 

Azol

Antijamur azol merupakan senyawa sintetik dengan aktivitas spektrum yang luas, yang diklasifikasi sebagai imidazol (mikonazol dan ketokonazol) atau triazol (itrakonazol dan flukonazol) bergantung kepada jumlah kandungan atom nitrogennya ada 2 atau 3. Struktur kimia dan profil farmakologis ketokonazol dan itrakonazol sama, flukonazol unik karena ukuran molekulnya yang kecil dan lipofilisitasnya yang lebih kecil. Pada jamur yang tumbuh aktif, azol menghambat 14-α- demetilase, enzim yang bertanggung jawab untuk sintesis ergosterol, yang merupakan sterol utama membran sel jamur. Pada konsentrasi tinggi, azol menyebabkan K+ dan komponen lain bocor keluar dari sel jamur.

 

Flukonazol

 

 Gambar struktur kimia Flukonazol

 

Farmakologi : Flukonazol merupakan inhibitor cytochrome P-450 sterol C-14 alpha-demethylation (biosintesis ergosterol) jamur yang sangat selektif. Pengurangan ergosterol, yang merupakan sterol utama yang terdapat di dalam membran sel-sel jamur, dan akumulasi sterol-sterol yang mengalami metilase menyebabkan terjadinya perubahan sejumlah fungsi sel yang berhubungan dengan membran. Secara in vitro flukonazol memperlihatkan aktivitas fungistatik terhadap Cryptococcus neoformans dan Candida spp.

 

Spektrum : Spektrum aktivitas antijamurnya sama dengan ketokonazol. Fluconazole memiliki spectrum yang luas meliputi Blastomyces dermatidis, Cocciodioides immitis, Cryptococcus neoformus, Histoplasma capsulatum dan Paracoccidioides brasiliensis. Obat ini aktif terhadap Candida albicans, C. tropicalis, dan C. parapsilosis, namun tidak peka terhadap C. krusei dan Torulopsis glabrata (sekarang diklasifikasikan ke dalam spesis Candida glabrata). Fluconazole aktif di dalam dermatophytosis namun tidak efektif di dalam aspergillosis dan mucormycosis. Pada pasien penderita neutropenik, manifestasi resistensi fluconazole yang paling umum adalah pada seleksi spesis Candida yang tidak biasa dijumpai, seperti C. krusei, yang memiliki resistensi intrinsik terhadap obat ini.

 

Farmakokinetik : Flukonazol larut air dan cepat diabsorpsi sesudah pemberian oral, dengan 90% bioavailabilitas, 12% terikat pada protein. Obat ini mencapai konsentrasi tinggi dalam LCS, paru dan humor aquosus, dan menjadi obat pilihan pertama untuk meningitis karena jamur. Konsentrasi fungisidanya juga meningkat dalam vagina, saliva, kulit dan kuku.

        Pengobatan secara oral dengan fluconazole mengakibatkan terjadinya absorpsi obat secara cepat dan hampir sempurna. Konsentrasi serum identik diperoleh setelah pengobatan secara oral dan secara parenteral yang menunjukkan bahwa metabolisme tahap awal (first-pass metabolism) obat tidak terjadi. Konsentrasi darah naik sesuai dengan dosis dengan tingkat dosis yang bermacam-macam. Dua jam setelah pemberian obat secara oral dengan dosis 50 mg, konsentrasi serum dengan kisaran 1,0 mg/l dapat diantisipasi, namun hal ini terjadi hanya setelah dosis ditambah secara berulang-ulang hingga mencapai 2,0 sampai dengan 3,0 mg/l.

        Pengobatan fluconazole secara oral atau secara parenteral menyebabkan percepatan dan penyebaran distribusi obat. Tidak seperti obat antifungal azol jenis lainnya, protein yang mengikat fluconazole memiliki kadar yang rendah (sekitar 12%). Hal ini menyebabkan tingginya tingkat sirkulasi obat yang tidak terikat. Tingkat sirkulasi obat yang tidak terikat pada sebagian besar kelencar dan cairan tubuh biasanya melampaui 50% dari konsentrasi darah simultan.

        Tidak seperti obat anti jamur azole jenis lain, fluconazole tidak dapat dimetabolisme secara ekstensif oleh manusia. Lebih dari 90% dari dosis yang diberikan tereliminasi ke dalam urin: sekitar 80% dalam bentuk obat-obatan asli (tidak berubah komposisinya) dan 10% dalam bentuk metabolit. Tidak ada indikasi induksi atau inhibit yang signifikan pada metabolisme fluconazole yang diberikan secara berulang-ulang.

        Sarana eliminasi utama dalam hal ini adalah ekskresi renal obat-obatan yang tidak dapat dirubah komposisinya. Pada pasien yang memiliki fungsi renal normal, terdapat sekitar 80% dari jumlah dosis yang diberikan tercampur dengan urin dengan bentuk yang tidak berubah dan konsentrasi > 100 mg/l. obat jenis ini dibersihkan melalui filtrasi glomerular, namun secara bersamaan terjadi reabsorpsi tubular. Fluconazole memiliki paruh hidup serum selama 20-30 jam, tetapi dapat diperpanjang waktunya jika terjadi gangguan pada fungsi renal, dengan pemberian dosis terhadap pasien yang memiliki tingkat filtrasi di bawah 50 ml/menit. Fluconazole akan hilang selama haemodialysis dan pada sejumlah kasus terjadi selama dialysis peritoneal. Sessi haemodialysis selama 3 jam dapat mengurangi konsentrasi darah hingga sekitar 50%.

 

Indikasi : infeksi sistemik, kandidiasis mukokutan, vaginal candidiasis.

 

Kegunaan Terapi : Fluconazole dapat digunakan untuk mengobati candidosis mukosa dan candidosis cutaneous. Selain itu, obat ini juga efektif untuk perawatan berbagai jenis gangguan dermatophytosis dan pityriasis versicolor.

Fluconazole adalah jenis ramuan obat yang menjanjikan bagi perawatan penyakit candidosis stadium lanjut/berat pada pasien yang tidak menderita neutropenia, namun sebaiknya tidak digunakan sebagai pilihan utama pada pasien neutropenia kecuali jika terdapat alasan-alasan tertentu. Fluconazole telah terbukti bermanfaat untuk perawatan prophylaktat terhadap penyakit candidosis yang diderita oleh pasien pengidap neutropenik. Fluconazole tidak tidak efektif untuk mengobati aspergillosis dan mucormycosis.

Fluconazole merupakan jenis obat-obatan yang ampuh untuk mengatasi meningitis cryptococcal, tetapi tidak boleh dijadikan prioritas utama untuk pasien pengidap AIDS kecuali jika terdapat alasan-alasan tertentu. Fluconazole terbukti lebih efektif dan lebih dapat ditoleransi dibandingkan amphotericin B untuk mengobati atau mencegah terjadinya cryptococcosis pada pasien penderita AIDS.

Fluconazole saat ini menjadi jenis obat yang menjadi pilihan banyak dokter untuk mengobati pasien penderita meningitis coccidioidal. Syaratnya, pasien tersebut harus tetap mengkonsumsi fluconazole selama hidupnya agar mencegah munculnya kembali penyakit yang sama.

 

Dosis & Cara Pemberian : Flukonazol tersedia dalam bentuk kapsul 50 dan 150 mg dan infus 2 mg/ml. Dosis tunggal 150 mg. Modifikasi dosis perlu dilakukan pada pasien dengan gangguan ginjal..

Fluconazole merangsang terjadinya absorpsi secara sempurna pada saat dilakukan pengobatan secara oral, sehingga jenis pengobatan oral menjadi prioritas utama. Flukonazol dapat dipakai dengan atau tanpa makanan Jika pemberian obat pada pasien tidak memungkinkan untuk diberikan lewat mulut, maka fluconazole diberikan dalam bentuk larutan intravena, atau melalui infus dengan kadar infus 5-10 ml/menit.

        Vaginal candidosis dapat diobati dengan fluconazole oral dengan dosis 150 mg. Sedangkan Oropharyngeal candidosis diobati dengan dosis 50-200 mg/hari selama 1-2 pekan. Candidosis jenis Oesophageal dan mucocutaneus serta candidosis saluran kencing bagian bawah memerlukan fluconazole dengan dosis 100-200 mg/hari yang diberikan selama 2-4 pekan.

        Dosis yang disarankan untuk pasien penderita cryptococcosis atau candidosis stadium lanjut adalah 400 mg/hari. Namun demikian, sejumlah praktisi klinik telah menggunakan dosis yang lebih tinggi lagi untuk mengatasi infeksi-infeksi yang membahayakan nyawa pasien. Lama waktu atau durasi perawatan akan berbeda sesuai dengan kondisi pasien itu sendiri, bergantung pada sifat dan jangkauan infeksi serta penyakit yang mendahuluinya. Diperlukan sekurang-kurangnya 6-8 pekan lamanya untuk mengobati pasien penderita cryptococcosis yang tidak mengidap AIDS. Dosis yang disarankan untuk anak-anak adalah 1-2 mg/kg untuk jenis candidosis superficial dan 5 mg/kg untuk cryptococcosis atau candidosis stadium lanjut.

        Pengobatan jangka panjang menggunakan fluconazole dengan tujuan menyembuhkan pasien cryptococcosis yang juga menderita AIDS harus dilakukan pada dosis 200 mg/hari. Untuk mencegah candidosis pada pasien penderita neutropenik, maka dosis yang diberikan adalah 100-400 mg/hari. Pasien-pasien yang memiliki resiko tinggi terhadap serangan infeksi stadium lanjut harus diobati dengan dosis 400 mg/hari dan hal ini harus dimulai beberapa hari menjelang munculnya gejala neotropenia dan berlangsung selama 1 pekan setelah jumlah neutrofil kembali pada kisaran 1 x 109/l.

        Pasien yang menderita gangguan renal harus diberi dosis normal selama 48 hari pertama pengobatan. Segera setelah itu, interval dosis harus dilipatgandakan sampai dengan 48 jam (dengan kata lain, dosis dikurangi setengahnya). Hal ini berlaku bagi pasien yang memiliki tingkat pembersihan kreatinin 21-40 ml/menit. Sedangkan pasien yang memiliki tingkat pembersihan kreatinin 10-20 ml/menit interval dosis adalah 72 jam.

        Pasien yang menderita haemodialysis secara reguler memerlukan dosis yang biasa yang diberikan setelah masing-masing tahap atau sesi dialysis.

 

 

Kehamilan dan menyusui : Penggunaan pada masa kehamilan dan  menyusui tidak direkomendasikan.

 

Efek samping : Sakit kepala, nyeri abdominal, diare, dan pu­sing. Ruam pada kulit bisa terjadi tapi jarang. Flukonazol bisa menyebabkan kerusakan hati pada kasus jarang. Fungsi hati harus dimonitor setelah beberapa hari penggunaan obat. 

Fluconazole adalah jenis obat yang dapat ditoleransi dengan baik. Efek samping yang paling umum terjadi adalah gastrointestinal seperti nausea (mual) dan nyeri pada bagian perut, namun jarang yang memerlukan diskontinuasi perawatan, khususnya pada pasien yang menerima dosis hingga 400 mg/hari. Elevasi asimptomatik transient tingkat transaminase serum relatif biasa terjadi pada pasien penderita AIDS, dan pengobatan harus dihentikan pada pasien penderita hepatitis simptomatik atau penderita gangguan fungsi hati.

Pasien penderita kanker atau AIDS memiliki kemungkinan untuk mengidap sindrom Stevens-Johnson (fatal exfoliative skin rashes), namun hubungan sebab akibat penyakit ini dengan fluconazole belumlah jelas, terutama jika penanganan dilakukan secara terus-menerus dengan obat-obatan jenis lain. Ada baiknya untuk menghentikan konsumsi fluconazole pada pasien penderita infeksi jamur superficial, di mana pasien tersebut mengalami pengelupasan kulit. Pasien penderita infeksi jamur stadium lanjut/berat yang juga mengalami pengelupasan kulit harus diawasi terus perkembangannya dan pemberian obat harus dihentikan jika terjadi luka yang serius atau erythrema multiforme.

Berbeda dengan ketoconazole, fluconazole tidak menghambat metabolisme adrenal maupun steroid testicular manusia. Syaratnya, obat ini dikonsumsi dengan dosis yang tepat.

 

Nama dagang : Diflucan, Funzol.

 

 

DAFTAR PUSTAKA :

 

·         http://pojokapoteker.blogspot.com/

·         http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/11AntijamurSistemik108.pdf/11AntijamurSistemik108.html

·         http://www.adasidna.blogspot.com/

·         http://spiritia.or.id/li/bacali.php?lino=534

·         http://72.14.235.132/search?q=cache:C4whYXEP3z8J:farmakologi.files.wordpress.com/2008/10/infeksi-jamur.pdf+flukonazol+merupakan&cd=10&hl=id&ct=clnk&gl=id

·         http://www.majalah-farmacia.com/rubrik/one_news.asp?IDNews=571

KONTRASEPSI SUNTIKAN (INJEKSI) -DEPO PROVERA-

KONTRASEPSI SUNTIKAN (INJEKSI)

-DEPO PROVERA-

MARET 2009

Vincentia Octavianna (06-8114-115)
Paulina Berliani ( 06-8114-120)

DEFINISI

Kontrasepsi suntikan adalah cara untuk mencegah terjadinya kehamilan dengan melalui suntikan hormonal. Kontrasepsi hormonal jenis KB suntikan ini di Indonesia semakin banyak dipakai karena kerjanya yang efektif, pemakaiannya yang praktis, harganya relatif murah dan aman.Sebelum disuntik, kesehatan ibu harus diperiksa dulu untuk memastikan kecocokannya. Suntikan diberikan saat ibu dalam keadaan tidak hamil. Umumnya pemakai suntikan KB mempunyai persyaratan sama dengan pemakai pil, begitu pula bagi orang yang tidak boleh memakai suntikan KB, termasuk penggunaan cara KB hormonal selama maksimal 5 tahun.

JENIS KB SUNTIK

Jenis-jenis alat KB suntik yang sering digunakan di Indonesia antara lain:
a. Suntikan / bulan ; contoh : cyclofem
b.Suntikan/3 bulan ; contoh : Depo provera, Depogeston (Harnawati, 2008).

CARA KERJA KB SUNTIK

a. Menghalangi ovulasi (masa subur)
b. Mengubah lendir serviks (vagina) menjadi kental
c. Menghambat sperma & menimbulkan perubahan pada rahim
d. Mencegah terjadinya pertemuan sel telur & sperma
e. Mengubah kecepatan transportasi sel telur.

CONTOH OBAT INJEKSI BESERTA DOSISNYA

• Depo Provera ( 3 ml/150 mg atau 1 ml/150 mg) diberikan setiap 3 bulan (12 minggu )
• Noristeran ( 200 mg ) diberikan setiap 2 bulan ( 8 minggu )
• Cyclofem 25 mg Medroksi Progesteron Asetat dan 5 mg Estrogen Sipionat diberikan setiap bulan.

DEPO PROVERA ??

images

imagess

imagesp1Depo-provera ialah 6-alfa-metroksiprogesteron yang digunakan untuk tujuan kontrasepsi parenteral, mempunyai efek progesterone yang kuat dan sangat efektif. Obat ini termasuk obat depot. Noristerat termasuk dalam golongan kontrasepsi ini. Mekanisme kerja kontrasepsi ini sama seperti kontrasepsi hormonal lainnya. Depo-provera sangat cocok untuk program postpartum oleh karena tidak mengganggu laktasi.

MANAJEMEN TERAPI
HOW MUCH : 150 mg

HOW OFTEN: 3 bulan sekali (i.m.)

HOW LONG: bergantung pada keinginan pasien

TUJUAN TERAPI : mencegah kehamilan

REVERSIBILITAS : 3-18 bulan

T ½ : 50 hari

CARA KERJA
Berdasarkan penghambatan pelepasan LH dan perintangan ovulasi serta pengentalan lender servik.

INTERAKSI OBAT :
Aminoglutethimide (Cytadren) mungkin dapat meningkatkan eliminasi dari medroxyprogesterone lewat hati dengan menurunkan konsentrasi medroxyprogesterone dalam darah dan memungkinkan pengurangan efektivitas medroxyprogesterone.

CARA PENYIMPANAN : disimpan dalam suhu 20-25°C

CARA PEMBERIAN
a. Waktu Pemberian
• Setelah melahirkan : 6 minggu pasca salin
• Setelah keguguran : segera setelah dilakukan kuretase atau 30 hari setelah keguguran (asal ibu belum hamil lagi)
• Dalam masa haid : Hari pertama sampai hari ke-5 masa haid
b. Lokasi Penyuntikan dengan i.m sampai daerah glutus
• Daerah bokong/pantat
• Daerah otot lengan atas

EFEKTIVITAS : Keberhasilannya praktis 99.7 %.

INDIKASI
Indikasi pemakaian kontrasepsi suntik antara lain jika klien menghendaki pemakaian kontrasepsi jangka panjang, atau klien telah mempunyai cukup anak sesuai harapan, tapi saat ini belum siap. Kontrasepsi ini juga cocok untuk klien yang menghendaki tidak ingin menggunakan kontrasepsi setiap hari atau saat melakukan sanggama, atau klien dengan kontra indikasi pemakaian estrogen, dan klien yang sedang menyusui. Klien yang mendekati masa menopause, atau sedang menunggu proses sterilisasi juga cocok menggunakan kontrasepsi suntik.

KONTRAINDIKASI
Beberapa keadaan kelainan atau penyakit, merupakan kontra indikasi pemakaian suntikan KB. Ibu dikatakan tidak cocok menggunakan KB suntik jika ibu sedang hamil, ibu yang menderita sakit kuning (liver), kelainan jantung, varises (urat kaki keluar), mengidap tekanan darah tinggi, kanker payudara atau organ reproduksi, atau menderita kencing manis. Selain itu, ibu yang merupakan perokok berat, sedang dalam persiapan operasi, pengeluaran darah yang tidak jelas dari vagina, sakit kepala sebelah (migrain) merupakan kelainan-kelainan yang menjadi pantangan penggunaan KB suntik ini.

EFEK SAMPING
Menjadi kacaunya pola pendarahan, terutama pada bulan-bulan pertama dan sudah 3-12 bulan umumnya berhenti dengan tuntas. Seringkali berat badan bertambah sampai 2-4 kg dalam waktu 2 bulan karena pengaruh hormonal, yaitu progesterone. Progesterone dalam alat kontrasepsi tersebut berfungsi untuk mengentalkan lendir serviks dan mengurangi kemampuan rahim untuk menerima sel yang telah dibuahi. Namun hormon ini juga mempermudah perubahan karbohidrat menjadi lemak, sehingga sering kali efek sampingnya adalah penumpukan lemak yang menyebabkan berat badan bertambah dan menurunnya gairah seksual.

Salah satu sifat lemak adalah sulit bereaksi atau berikatan dengan air, sehingga organ yang mengandung banyak lemak cenderung mempunyai mempunyai kandungan air yang sedikit / kering. Kondisi ini juga terjadi pada vagina sebagai akibat sampingan dari hormon progesteron. Vagina menjadi kering, sehingga merasa sakit (dispareuni) saat melakukan hubungan seksual, dan jika kondisi ini berlangsung lama akan menimbulkan penurunan gairah atau disfungsi seksual pada wanita.

KEUNTUNGAN
Kontrasepsi suntik adalah kontrasepsi sementara yang paling baik, dengan angka kegagalan kurang dari 0,1% pertahun (Saifuddin, 1996). Suntikan KB tidak mengganggu kelancaran air susu ibu (ASI), kecuali Cyclofem. Suntikan KB mungkin dapat melindungi ibu dari anemia (kurang darah), memberi perlindungan terhadap radang panggul dan untuk pengobatan kanker bagian dalam rahim.
Kontrasepsi suntik memiliki resiko kesehatan yang sangat kecil, tidak berpengaruh pada hubungan suami-istri. Pemeriksaan dalam tidak diperlukan pada pemakaian awal, dan dapat dilaksanakan oleh tenaga paramedis baik perawat maupun bidan. Kontrasepsi suntik yang tidak mengandung estrogen tidak mempengaruhi secara serius pada penyakit jantung dan reaksi penggumpalan darah. Oleh karena tindakan dilakukan oleh tenaga medis/paramedis, peserta tidak perlu menyimpan obat suntik, tidak perlu mengingat setiap hari, kecuali hanya untuk kembali melakukan suntikan berikutnya. Kontrasepsi ini tidak menimbulkan ketergantungan, hanya saja peserta harus rutin kontrol setiap 1, 2 atau 3 bulan. Reaksi suntikan berlangsung sangat cepat (kurang dri 24 jam), dan dapat digunakan oleh wanita tua di atas 35 tahun, kecuali Cyclofem.

KERUGIAN
a. Gangguan haid. Siklus haid memendek atau memanjang, perdarahan yang banyak atau sedikit, spotting, tidak haid sama sekali.
b. Tidak dapat dihentikan sewaktu-waktu
c. Permasalahan berat badan merupakan efek samping tersering
d. Terlambatnya kembali kesuburan setelah penghentian pemakaian
e. Terjadi perubahan pada lipid serum pada penggunaan jangka panjang
f. Pada penggunaan jangka panjang dapat menurunkan densitas tulang
g. Pada penggunaan jangka panjang dapat menimbulkan kekeringan pada vagina, menurunkan libido, gangguan emosi, sakit kepala, nervositas, dan jerawat.

SUMBER:
http://butterflystillfly.wordpress.com/
http://www.nextbio.com/b/home/home.nb?q=depo-progestin
http://www.medicinenet.com/medroxyprogesterone/article.htm
http://www.pubmedcentral.nih.gov/pagerender.fcgi?artid=1374922&pageindex=5#page
PROHEALTH, http://forbetterhealth.wordpress.com/2008/11/19/kontrasepsi-suntik/
Rahardja, Kirana, 2007, Obat-obat Penting ed.6, 717, PT. Elex Media Computa, Jakarta
Saifuddin, A.B., 2006, Buku panduan Praktis pelayanan Kontrasepsi, Pk-54-PK58, Yayasan Bina Pustaka sarwono Prawirohardjo, Jakarta

USIR GEMUK DENGAN OBAT ?????

USIR GEMUK DENGAN OBAT ????

Maret 2009


Created by:

Winny Listyrini Hardi (068114008)

Grace Litad (068114020)

All or none. Cantik atau tidak sama sekali.

Kodrat wanita untuk selalu mempercantik dan memperindah tubuh itulah yang menjadi sasaran empuk produsen alat-alat kecantikan untuk memasarkan produknya, termasuk produk-produk pelangsing. Pasar kecantikan menjadi tak terkendali akibat tingginya persaingan di antara produsen untuk memikat pembeli. Dan, tak bisa kita pungkiri peredaran produk ilegal pun ikut menjamahi pasar kecantikan tersebut baik produk tradisonal maupun modern. Ironisnya, tak sedikit pula wanita pemburu kecantikan yang mulai mengabaikan unsur kesehatan. Setelah menganggap diet kalori dan olahraga tak dapat membantu penurunan berat badan secara cepat, mereka mulai menempuh jalur instan. Mereka mulai meminum jamu sampai obat kimia pelangsing secara berlebihan.

Menurut pengakuan salah seorang konsumen yang diwawancarai oleh tim Sigi dari SCTV menyatakan bahwa dalam waktu tiga bulan setelah mengkonsumsi kapsul Arma Sin Gang San, satu di antara banyak obat pelangsing tubuh, berat tubuhnya turun namun disertai rasa gelisah, sulit untuk tidur dan tidak mempunyai nafsu makan. Produk PT Warisan Jaya, Semarang, Jawa Tengah, itu memang tokcer. Harganya pun relatif murah, sekitar Rp 10 ribu per kapsul. Tapi, Badan Pengawasan Obat dan Makanan telah melarang peredaran jamu ini. Pasalnya, berdasarkan hasil uji laboratorium, Arma Sin Gang San mengandung sibutramin hidroklorida, bahan kimia obat berbahaya.

Sibutramine Hydrochloride

Sibutramine hydrochloride merupakan golongan OBAT KERAS yang digunakan dalam pengobatan obesitas, dimana obat ini hanya dapat diperoleh dan digunakan berdasarkan resep dokter. Namun kenyataannya, obat ini banyak ditemukan dijual bebas di pasaran.

Sibutramine direkomendasikan untuk pasien obesitas dengan index massa tubuh ≥ 30 kg/m2, atau ≥ 27 kg/m2 untuk pasien dengan resiko diabetes, dislipidemia, dan hipertensi.

Mekanisme Aksi

Sibutramin hydrochloride menghambat reuptake noradrenaline dan serotonin oleh sel saraf setelah kedua neurotransmiter ini menyampaikan pesan diantara sel saraf yang ada di otak. dihambatnya reuptake membuat kedua neurotransmitter ini bebas menjelajah di otak. saat itulah keduanya menghasilkan perasaan penuh (kenyang) pada pasien sehingga mengurangi keinginan untuk makan.

Obat ini terbukti menurunkan asupan makanan dan meningkatkan thermogenesis. Secara invivo, sibutramine bekerja melalui 2 metabolit aktif yaitu M1 dan M2. Efikasinya untuk menurunkan dan mempertahankan berat badan telah ditunjukkan pada beberapa penelitian klinis.

Farmakokinetika :

Sibutramine diabsorpsi cepat di saluran gastroinestinal (77%). Sibutramin terdistribusi luas ke jaringan terutama di hati dan ginjal. Metabolit M1 dan M2 terikat sebanyak 94% pada protein plasma sedangkan sibutramine terikat 97% pada protein plasma. Hal ini menunjukkan bahwa volume distribusi (Vd) sibutramin, metabolit M1 dan M2 kecil didalam tubuh. Sibutramin mengalami first pass metabolisme di hati oleh sitokrom P450 isoenzim CYP3A4 mengahasilkan dua metabolit aktif, M1 dan M2. Kedua metabolit ini selanjutnya mengalami konjugasi dan hidroksilasi menjadi metabolit inaktif, yaitu M5 dan M6. T1/2 eliminasi sibutramin adalah 1 jam , Metabolite: M1 : 14 jam, M2 : 16 jam. Tmaks sibutramin 1,2 jam, Metabolit : M1dan M2 : 3-4 jam. Sibutramin dan metabolitnya dieksresikan terutama lewat urine (77%) dan feses.

Efek samping :

Sakit kepala, isomnia, konstipasi, migrain, depresi, hipertensi, takikardia, mulut kering.

Penggunaan Sibutramin Hidroklorida dalam dosis tinggi :

ð Berisiko meningkatkan tekanan darah dan denyut jantung serta menyebabkan penggunanya sulit tidur sehingga senyawa kimia itu tidak boleh dikonsumsi secara sembarangan oleh orang yang mempunyai riwayat penyakit arteri koroner, gagal jantung kongestif, aritmia dan stroke.

Interaksi

ð Jika digunakan bersamaan dengan obat-obat yang mekanisme kerjanya menghambat oksidasi monoamine (MAOIs, seperti selegiline), sibutramine hydrochloride secara klinis akan menghasilkan interaksi yang bermakna karena meningkatkan resiko serotonin syndrome

ð Selain itu, penggunaan sibutramine bersamaan dengan obat-obat penghambat CYP3A4 seperti ketokonazol dan eritromisin dapat meningkatkan kadar sibutramine dalam plasma.

Kontraindikasi

Dosis

10 mg 1 kali sehari tiap pagi, bila setelah 4 minggu berat badan menurun < 2 kg, dosis dapat ditingkatkan sampai maksimal 15 mg per hari

Mengapa Perlu Pengawasan Dokter ???

* Obat ini merupakan obat keras yang salah satunya kontraindikasi dengan penyakit kardiovaskuler. Sedangkan orang yang mengalami kelebihan berat badan (obesitas) memiliki resiko yang sangat besar untuk menderita penyakit kardiovaskuler. Oleh karena itu sangat perlu dilakukan konsultasi mengenai riwayat penyakit pasien dengan Dokter sebelum memilih menggunakan sibutramine hydrochloride.

* Sibutramine hydrochloride menghasilkan 2 metabolit aktif yang mekanisme kerjanya sama dengan senyawa induknya yaitu sibutramine hydrochloride. Hal ini dapat meningkatkan toksisitas dari obat tersebut jika dosis, frekuensi dan lama pemberian tidak dikontrol.

* Sibutramine hydrochloride merupakan obat golongan anoreksansia yang berdaya menekan nafsu makan secara efektif selama 4 sampai 6 minggu namun setelah digunakan 3 sampai 6 bulan efeknya akan sangat berkurang akibat terjadinya toleransi. Jika terjadi toleransi, maka ketika dilakukan peningkatan dosis (menjadi 15 mg , maksimal selama 1 tahun) perlu pengawasan ketat dari dokter untuk menghindari efek samping obat.

* Efek samping sibutramine hydrochloride antara lain : meningkatkan debar jantung dan hipertensi, maka frekuensi jantung dan tensi darah perlu dimonitor selama 3 bulan pertama.

* Resiko lain mengkonsumsi obat-obat diet tanpa pengawasan dokter adalah : membuat tubuh lemas dan sistem kekebalan tubuh menurun karena jarang makan (tetapi tidak merasa lapar), jantung berdebar-debar, dehidrasi, sulit tidur, diare, penurunan tekanan darah, nyeri kepala, dan gula darah menurun drastis. Namun, resiko yang timbul pada setiap orang tidak sama, karena itu konsumsi obat-obat diet harus di bawah pengawasan dokter.

Overall,,, Sibutramine hydrochloride sebenarnya direkomendasikan oleh Food Drug Association (FDA) sebagai obat pilihan dalam terapi obesitas, namun penggunaannya harus diawasi dan dikontrol serta diikuti dengan olahraga teratur dan diet….OK!!!

So??……… Tergantung Anda

menyikapinya


DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 1997, FDA Talk Paper, FDA Approves Sibutramine To Treat Obesity, http://fdahomepage.html, diakses tanggal 15 Maret 2009

Anonim, 2006, Drug Information Handbook, 14th Edition, 1444-1446, Lexi Comp, Ohio

Anonim, 2008, Sibutramine Turunkan Berat Badan, http://princessraia.blogspot.com, diakses tanggal 15 Maret 2009

Anonim, 2008, Tanggung Jawab Badan Pengawas Obat dan Makanan Terhadap Konsumen Obat Tradisional Yang Mengandung Bahan Kimia Obat ( BKO ), http://pustaka.net, diakses tanggal 15 Maret 2009

Anonim, 2009, Meridia, http://rxlist.com, diakses tanggal 15 Maret 2009

Tjay, Tan Hoan, dan Kirana Rahardja, 2007, Obat-Obat Penting, Edisi Keenam, 497-499, Elex Media Computindo, Jakarta

Perubahan Farmakokinetika Obat pada saat Kehamilan

DISUSUN OLEH :
CHAROLINE AYEM NASTITI (068114149)
LITA SEPTIANA (068114150)

Perubahan Farmakokinetika Obat pada saat Kehamilan

Pada masa kehamilan, perubahan fisiologis akan terjadi secara dinamis, hal ini dikarenakan terbentuknya unit fetal-plasental-maternal. Karena perubahan fisiologis inilah maka farmakokinetika obat baik absorpsi, distribusi, metabolisme maupun ekskresi pun ikut berubah. Perubahan-perubahan yang terjadi tersebut antara lain perubahan fungsi saluran cerna, fungsi saluran nafas, dan peningkatan laju filtrasi glomerulus pada ginjal.
Suatu penelitian menunjukkan bahwa kebanyakan obat dapat melewati sawar plasenta dengan mudah, sehingga janin yang dikandung pun ikut menerima obat.
Respon ibu dan janin terhadap obat selama kehamilan dipengaruhi oleh dua faktor utama:
1) Perubahan absorbsi, distribusi, dan eliminasi obat dalam tubuh wanita hamil.
2) unit plasental-fetal yang mempengaruhi jumlah obat yang melewati sawar plasenta, persentase obat yang dimetabolisme oleh plasenta, distribusi dan eliminasi obat oleh janin.

I. Perubahan Farmakokinetika Obat Akibat Perubahan Maternal
1. Absorbsi saluran cerna
Pada wanita hamil terjadi penurunan sekresi asam lambung (40% dibandingkan wanita tidak hamil), disertai peningkatan sekresi mukus, kombinasi kedua hal tersebut akan menyebabkan peningkatan pH lambung dan kapasitas buffer. Secara klinik hal ini akan mempengaruhi ionisasi asam-basa yang berakibat pada absorbsinya.
2. Absorbsi paru
Pada kehamilan terjadi peningkatan curah jantung, tidal volume, ventilasi, dan aliran darah paru. Perubahan-perubahan ini mengakibatkan peningkatan absorbsi alveolar, sehingga perlu dipertimbangkan dalam pemberian obat inhalan.
3. Distribusi
Volume distribusi obat akan mengalami perubahan selama kehamilan akibat peningkatan jumlah volume plasma hingga 50%. Peningkatan curah jantung akan berakibat peningkatan aliran darah ginjal sampai 50% pada akhir trimester I, dan peningkatan aliran darah uterus yang mencapai puncaknya pada aterm (36-42 L/jam); 80% akan menuju ke plasenta dan 20% akan mendarahi myometrium. Akibat peningkatan jumlah volume ini, terjadi penurunan kadar puncak obat (Cmax) dalam serum.
4. Pengikatan protein
Sesuai dengan perjalanan kehamilan, volume plasma akan bertambah, tetapi tidak diikuti dengan peningkatan produksi albumin, sehingga menimbulkan hipoalbuminemia fisiologis yang mengakibatkan kadar obat bebas akan meningkat. Obat-obat yang tidak terikat pada protein pengikat secara farmakologis adalah obat yang aktif, maka pada wanita hamil diperkirakan akan terjadi peningkatan efek obat.
5. Eliminasi oleh hati
Fungsi hati dalam kehamilan banyak dipengaruhi oleh kadar estrogen dan progesteron yang tinggi. Pada beberapa obat tertentu seperti phenytoin, metabolisme hati meningkat mungkin akibat rangsangan pada aktivitas enzim mikrosom hati yang disebabkan oleh hormon progesteron; sedangkan pada obat-obatan seperti teofilin dan kafein, eliminasi hati berkurang sebagai akibat sekunder inhibisi komfetitif dari enzim oksidase mikrosom oleh estrogen dan progesterone.
6. Eliminasi ginjal
Pada kehamilan terjadi peningkatan aliran plasma renal 25-50%. Obat-obat yang dikeluarkan dalam bentuk utuh dalam urin seperti penisilin, digoksin, dan lithium menunjukkan peningkatan eliminasi dan konsentrasi serum steady state yang lebih rendah.

II. Efek kompartemen fetal-plasental

Jika pemberian obat menghasilkan satu kesatuan dosis maupun perbandingan antara kadar obat janin: ibu maka dipakai model kompartemen tunggal. Tetapi jika obat lebih sukar mencapai janin maka dipakai model dua kompartemen di mana rasio konsentrasi janin: ibu akan menjadi lebih rendah pada waktu pemberian obat dibandingkan setelah terjadi distribusi.
1. Efek protein pengikat
Protein plasma janin mempunyai afinitas yang lebih rendah dibandingkan protein plasma ibu terhadap obat-obatan. Tetapi ada pula obat-obatan yang lebih banyak terikat pada protein pengikat janin seperti salisilat. Obat-obat yang tidak terikat (bebas) adalah yang mampu melewati sawar plasenta.
2. Keseimbangan asam-basa
Molekul yang larut dalam lemak dan tidak terionisasi menembus membran biologis lebih cepat dibandingkan molekul yang kurang larut dalam lemak dan terionisasi selain itu PH plasma janin sedikit lebih asam dibandingkan ibu. Dengan demikian basa lemah akan lebih mudah melewati sawar plasenta. Tetapi setelah melewati plasenta dan mengadakan kontak dengan darah janin yang relatif lebih asam, molekul-molekul akan lebih terionisasi. Hal ini akan berakibat penurunan konsentrasi obat pada janin dan menghasilkan gradien konsentrasi. Fenomena ini dikenal sebagai ion trapping.
3. Eliminasi obat secara feto-placental drug eliminaton
Terdapat bukti-bukti bahwa plasenta manusia dan fetus mampu memetabolisme obat. Semua proses enzimatik, termasuk fase I dan fase II telah ditemukan pada hati bayi sejak 7 sampai 8 minggu pasca pembuahan tetapi proses tersebut belum matang, dan aktivitasnya sangat rendah. Kemampuan eliminasi yang berkurang dapat menimbulkan efek obat yang lebih panjang dan lebih menyolok pada janin. Sebagian besar eliminasi obat pada janin dengan cara difusi obat kembali ke kompartemen ibu. Tetapi kebanyakan metabolit lebih polar dibandingkan dengan asal-usulnya sehingga kecil kemungkinan mereka akan melewati sawar plasenta, dan berakibat penimbunan metabolit pada jaringan janin. Dengan pertambahan usia kehamilan, makin banyak obat yang diekskresikan ke dalam cairan amnion, hal ini menunjukkan maturasi ginjal janin.
4. Keseimbangan Obat Maternal-fetal
Jalur utama transfer obat melalui plasenta adalah dengan difusi sederhana. Obat yang bersifat lipofilik dan tidak terionisasi pada pH fisiologis akan lebih mudah berdifusi melalui plasenta. Kecepatan tercapainya keseimbangan obat antara ibu dan janin mempunyai arti yang penting pada keadaan konsentrasi obat pada janin harus dicapai secepat mungkin, seperti pada kasus-kasus aritmia atau infeksi janin intrauterin, karena obat diberikan melalui ibunya.

III. Mekanisme Transfer Obat melalui Plasenta
Obat-obatan yang diberikan kepada ibu hamil dapat menembus sawar plasenta sebagaimana halnya dengan nutrisiyang dibutuhkan janin, dengan demikian obat mempunyai potensi untuk menimbulkan efek pada janin. Perbandingan konsentrasi obat dalam plasma ibu dan janin dapat memberi gambaran pemaparan janin terhadap obat-obatan yang diberikan kepada ibunya.
Waddell dan Marlowe (1981) menetapkan bahwa terdapat 3 tipe transfer obat-obatan melalui plasenta sebagai berikut:
· Tipe I
Obat-obatan yang segera mencapai keseimbangan dalam kompartemen ibu dan janin, atau terjadi transfer lengkap dari obat tersebut. Yang dimaksud dengan keseimbangan di sini adalah tercapainya konsentrasi terapetik yang sama secara simultan pada kompartemen ibu dan janin.
· Tipe II
Obat-obatan yang mempunyai konsentrasi dalam plasma janin lebih tinggi daripada konsentrasi dalam plasma ibu atau terjadi transfer yang berlebihan. Hal ini mungkin terjadi karena transfer pengeluaran obat dari janin berlangsung lebih lambat.
· Tipe III
Obat-obatan yang mempunyai konsentrasi dalam plasma janin lebih rendah daripada konsentrasi dalam plasma ibu atau terjadi transfer yang tidak lengkap.

Faktor-faktor yang mempengaruhi transfer obat melalui plasenta antara lain adalah:
– Berat molekul obat.
Pada obat dengan berat molekul lebih dari 500D akan terjadi transfer tak lengkap melewati plasenta.
- PKa (pH saat 50% obat terionisasi).
– Ikatan antara obat dengan protein plasma.
Mekanisme transfer obat melalui plasenta dapat dengan cara difusi, baik aktif maupun pasif, transport aktif, fagositosis, pinositosis, diskontinuitas membran dan gradien elektrokimiawi.

DAFTAR PUSTAKA
Ganiswara, SG., 1995, Farmakologi dan terapi, Edisi ke 4, 728-59, Farmakologi FKUI, Jakarta
Nindya, S., 2001, www.cerminduniakedokteran.com Perubahan Farmakokinetik Obat pada Wanita Hamil dan Implikasinya secara Klinik, diakses tanggal 10 Maret 2009

Obat Antiinflamasi NonSteroid(OAINS) : KAFLAM (Natrium Diklofenak)

Obat Antiinflamasi NonSteroid(OAINS) :

KAFLAM (Natrium Diklofenak)

Disusun oleh :

Veronica Desi R (068114092)

Tania Gunawan (068114121)

Natrium Diklofenak

Farmakologi dan farmakokinetika

KAFLAM adalah obat antiinflamasi nonsteroid yang mengandung garam kalium dari diklofenak. Obat ini memiliki efek analgesic dan antiinflamasi.

Mekanisme kerjanya adalah dengan menghambat sintesis prostaglandin, mediator yang berperan penting dalam proses terjadinya inflamasi, nyeri dan demam. Kalium diklofenak akan diabsorbsi dengan cepat dan lengkap dan jumlah yang diabsorbsi tidak berkurang jika diberikan bersama dengan makanan. Kadar puncak obat dicapai dalam ½ -1 jam. Ikatan protein 99,7%, waktu paruh 1-2 jam. Pemberian dosis berulang tiidak menyebabkan akumulasi . eliminasi terutama melalui urin

Natrium diklofenak dalam bentuk CR/lepas-lambat terkendali adalah salah satu tekonologi yang dikembangkan untuk memperbaiki efikasi dan toleransi diklofenak. Pengembangan formulasi yang canggih dengan teknologi tinggi pada “drug delivery System” telah dilakukan oleh Klinge Pharma GmbH dan telah dipasarkan di Indonesia dengan nama Deflamat CR oleh PT. Actavis Indonesia. Deflamat CR (gabungan antara teknologi Enteric-Coated dengan Sustained-Release ) memiliki bentuk yang unik yaitu pelet CR dimana zak aktif terbagi dalam ratusan unit sferis kecil ( pelet) yang akan menjamin penyebaran yang baik dari zat aktif diseluruh saluran gastro-intestinal sehingga akan memperbaiki toleransi gastro-intestinal dari obat AINS

Selain itu, dengan ukuran partikel yang kecil, pelet bisa melintasi pilorus dengan cepat bersama kimus, dimana transportasi menuju doudenum tidak bergantung pada pengosongan lambung, sehingga waktu transit obat rata-rata lebih cepat dan dengan sistem pelepasannya yang terkendali, absorpsi yang cepat dan kontinyu memberikan kontribusi utama untuk memperbaiki bioavilabilitas obat AINS.

Beberapa studi klinis natrium diklofenak yang diberikan sebagai monoterapi atau kombinasi, menunjukkan obat ini efektif meredakan gejala osteoartritis (OA) maupun reumatoid artritis (RA). Studi yang dilakukan di Jerman terhadap 230 pasien menunjukkan, penggunaan diklofenak dalam sediaan gel untuk pasien osteoartritis pada lulut terbukti efektif dan aman untuk meredakan gejala osteoartritis pada lutut. Studi ini dimuat dalam Journal of Rheumatology

Indikasi

Sebagai pengobatan jangka pendek untuk kondisi-kondisi akut sebagai berikut:

- Nyeri inflamasi setelah trauma seperti terkilir.

- Nyeri dan inflamasi setelah operasi, seperti operasi gigi atau tulang.

Sebagai adjuvant pada nyeri inflamsi yang berat dari infeksi telinga, hidung, atau tenggorokan misalnya tonsilofaringitis, otitis.

Sesuai dengan prinsip pengobatan umum, penyakitnya sendiri harus diobati dengan terapi dasar. Demam sendiri bukan suatu indikasi.

Kontraindikasi

Hipersensitif terhadap zat aktif dan tukak lambung. Juga dikontraindikasikan pada pasien dengan riwayat tercetusnya serangan asma, urtikaria atau rhinitis akut akibat obat-obat anti nonsteroid lainnya

Peringatan dan perhatian

- Hati-hati penggunaan pada penderita dekomposisi jantung atau hipertensi, karena diklofenak dapat menyebabkan retensi cairan dan edema.

- Hati-hati penggunaan pada penderita gangguan fungsi ginjal, jantung, hati, penderita usia lanjut dan penderita dengan luka atau perdarahan pada saluran pencernaan.

- Hindarkan penggunaan pada penderita porfiria hati.

-Hati-hati penggunaan selama kehamilan karena diklofenak dapat menembus plasenta.
- Diklofenak tidak dianjurkan untuk ibu menyusui karena diklofenak diekskresikan melalui ASI.
- Pada anak-anak efektivitas dan keamanannya belum diketahui dengan pasti.

Efek samping

Saluran pencernaan :

- Kadang- kadang : nyeri epigastrum, gangguan saluran pencernaan seperti mual, muntah, diare, kejang perut, dyspepsia, perut kembung, anoreksia.

- Jarang : perdarahan saluran pencernaan ( hematemesis, melena, tukak lambung dengan atau tanpa perdarahan/ perforasi, diare berdarah )

- Sangat jarang : gangguan usus bawah seperti “nonspesifik haemorrhagic colitis” dan eksaserbasi colitis ulseratif atau chron’s disease, stomatitis aphthosa, glositis, lesi esophagus, konstipasi.

Saluran saraf pusat dan perifer :

- Kadang- kadang : sakit kepala, pusing, vertigo

- Jarang : perasaan ngantuk

- Sangat jarang : gangguan sensasi ternasuk parestesia, gangguan memori, disorientasi, gangguan penhlihatan ( blurred vision, diplopia ), gangguan pendengaran, tinnitus, insomnia, iritabilitas, kejang, depresi, kecemasan,mimpi buruk, tremor, reaksi psikotik, gangguan perubahan rasa.

Kulit

- Kadang-kadang : ruam atau erupsi kulit

- Jarang : urtikaria

- Sangat jarang : erupsi bulosa , eksema, eritema multiforme, SSJ, lyell syndrome ( epidermolisis toksik akut ), eritrodema ( dermatitis exfoliatif ), rambut rontok, reaksi fotosensitivitas, purpura termasuk purpura alergik

Sistem urogenital, fungsi hati, darah, hipersensitivitas, susunan organ lainnya.

Interaksi obat

Apabila diberikan bersamaan dengan preparat yang mengandung lithium atau digoxin, kadar obat-obat tersebut dalam plasma meningkat tetapi tidak dijumpai adanya gejala kelebihan dosis.

Beberapa obat antiinflamasi nonsteroid dapat menghambat aktivitas dari diuretika. Pengobatan bersamaan dengan diuretika golongan hemat kalium mungkin mungkin disertai dengan kenaikan kadar kalium dalam serum.

Pemberian bersamaan dengan antiinflamasi nonsteroid sistemik dapat menambah terjadinya efek samping. Meskipun pada uji klinik diklofenak tidak mempengaruhi efek antikoagulan, sangat jarang dilaporkan adanya penambahan resiko perdarahan dengan kombinasi diklofenak dan antikoagulan, oleh karena itu dianjrkan untuk dilakukan pemantauan yang ketat terhadap pasien tersebut. Seperti dengan anti inflamasi nonsteroid lainnya, diklofenak dalam dosis tinggi (200 mg ) dapat menghambat agrregasi platelet untuk sementara.

Uji klinik memperlihatkan bahwa diklofenak dapat diberikan bersamaan dengan anti diabetic oral tanpa mempengaruhi efek klinis dari masing-masing obat. Sangat jarang dilaporkan efek hipoglikemik dan hiperglikemik dengan adanya diklofenak sehingga diperlukan penyesuaian dosis obat-obat hipoglikemik. Perhatian harus diberikan bila antiinflamasi nonsteroid diberikan kurang dari 24 jam sebelum atau setelah pengobatan dengan methotrexate dalam darah dapat meningkat dan toksisitas dari pbat ini bertambah.

Penambahan nefrotoksisitas cyclosporine munkin terjadi oleh karena efek obat-obat antiinflamasi nonsteroid terhadap prostaglandin ginjal.

Dosis berlebih

Penanganan keracunan akut dengan antiinflamasi nonsteroid pada dasrnya dilakukan dengan tindakan supportif dan simptomatik. Tidak ada gambaran klinis yang khas dari dosis berlebih diklofenak. Tindakan pengobatan yang dilakukan dalam hal dosis berlebih adalah sebagai erikut : absorbs harus dicegah segera setelah dosis berlebih dengan pencucian lambungdan pengobatan dengan arang aktif. Pegobatan suportif dan simptomatik harus diberikan untuk komplikasi seperti hipotensi, gagal ginjal, kejang, iritasi saluran pencernaan dan depresi pernapasan. Tetapi spesifik seperti “ forced dieresis”, dialysis atau hemoperfusi mungkin tidak membantu menghilangkan antirematik non steroid karena jumlah ikatan protein yang tinggi.

Dosis

Umumnya takaran permulaan untuk dewasa 100-150 mg sehari. Pada kasus-kasus yang sedang , juga untuk anak-anak di atas usia 14 tahun 75-100 mg sehari pada umumnya sudah mencukupi.

Dosis seharian harus diberikan dengan dosis terbagi 2-3 kali

Tablet harus diberikan dengan air, sebaiknya sebelum makan, tidak dianjurkan untuk pemakaian anak-anak.

Daftar pustaka

Neal,M.J., 2006, Farmakologi Medis, 70-71, Erlangga, Jakarta

www.narod-sobe.cz/…/ChemPict.htm

http://www.majalah-farmacia.com/rubrik/one_news.asp?IDNews=181.

http://www.dechacare.com/Natrium-Diklofenak-P566.html