Penggunaan Captopril [Angiotensin Converting Enzyme (ACE) Inhibitor] pada Terapi Hipertensi

Penggunaan Captopril [Angiotensin Converting Enzyme (ACE) Inhibitor]

pada Terapi Hipertensi

 

(Willy Hartanto, S. Farm. / 078115071)

 

Hipertensi merupakan suatu keadaan meningkatnya tekanan darah sistolik di atas 140 mmHg atau tekanan diatolik di atas 90 mmHg serta menjadi faktor resiko utama penyebab coronary artery disease (CAD), gagal jantung, stroke, dan gagal ginjal. Prevalensi terjadinya hipertensi meningkat seiring dengan pertambahan usia.  

 

Tabel Klasifikasi Tekanan Darah berdasarkan JNC (Joint National Committe on Prevention,

Detection, Evaluation, and treatment oh High Blood Pressure) VII

Kategori

Sistolik (mmHg)

Diastolik (mmHg)

Normal

< 120

< 80

Prehipertensi

120 – 139

80 – 89

Hipertensi stage 1

140 – 159

90 – 99

Hipertensi stage 2

≥ 160

≥ 100

 

Secara umum, hipertensi dapat disebabkan oleh makanan; stres; rokok; obat-obatan yang berupa kontrasepsi oral dan kortikosteroid; serta kehamilan. Sebagian besar pasien (70%) tidak menyadari bahwa mereka mengalami hipertensi karena pasien hipertensi terlihat sehat dan tidak menunjukkan gejala yang spesifik. Faktor-faktor yang dapat memperbesar resiko terjadinya hipertensi antara lain pria berusia di atas 55 tahun atau wanita di atas 65 tahun; menderita diabetes melitus dan/atau dislipidemia, mikroalbuminuria, obesitas; mempunyai riwayat keluarga penyakit jantung; jarang beraktivitas (olahraga); perokok; alkoholik.

Hipertensi ditandai dengan peningkatan tekanan darah di sekitar kategori prehipertensi dan sebagian besar pasien tidak menunjukkan gejala yang spesifik. Diagnosis hipertensi sejak dini dapat mencegah resiko penyakit kardiovaskuler serta mengurangi resiko morbiditas dan mortalitas. Pemeriksaan dini terhadap hipertensi dapat dilakukan dengan pengukuran tekanan darah secara berkala, pemeriksaan target organ damage akibat hipertensi (otak, mata, jantung, ginjal dan sistem sirkulasi darah perifer).

Sasaran terapi dalam pengobatan hipertensi adalah tekanan darah. Tujuan terapi antihipertensi adalah menurunkan tekanan darah ke tekanan darah yang disarankan oleh JNC VII, yaitu di bawah 140/90 mmHg (pasien hipertensi); di bawah 130/80 mmHg (pasien hipertensi dengan komplikasi diabetes melitus); dan di bawah 130/80 mmHg (pasien hipertensi dengan komplikasi gagal ginjal kronis). Strategi terapi dapat dilakukan dengan terapi nonfarmakologi maupun terapi farmakologi.

Terapi nonfarmakologi dapat dilakukan dengan mengubah pola hidup pasien hipertensi. Banyak mengkonsumsi buah-buahan, sayuran, dan makanan rendah lemak dapat menurunkan tekanan darah. Pengubahan pola hidup dapat berupa penurunan berat badan jika overweight; membatasi konsumsi alkohol (< 30ml/hari untuk pria dan <15ml/hari untuk wanita); berolahraga teratur (30-45 menit/hari); mengurangi konsumsi garam (< 100 mmol/hari atau 6 gram NaCl); mempertahan konsumsi natrium, kalsium, magnesium yang cukup (± 90 mmol/hari); dan berhenti merokok.

Terapi farmakologi dapat dilakukan dengan menggunakan obat-obatan antihipertensi yang berupa golongan diuretik, Angiotensin Converting Enzyme (ACE) Inhibitor, β-adrenergic blockers, Angiotensin Receptor Blockers (ARB), Calcium Channel Blockers (CCB).

ACE inhibitor merupakan antihipertensi yang efektif dan efek sampingnya dapat ditoleransi dapat dengan baik. Efek samping penggunaan ACE inhibitor antara lain sakit kepala, takikardi (peningkatan denyut jantung), berkurangnya persepsi pengecapan, dizziness (ketidakseimbangan saat berdiridari posisi duduk atau tidur), nyeri dada, batuk kering, hiperkalemia, angiodema, neutropenia, dan pankreatitis. ACE inhibitor dapat digunakan sebagai obat tunggal maupun dikombinasikan dengan obat lain (biasanya dikombinasikan dengan diuretik). Selain sebagai antihipertensi, ACE inhibitor juga dapat digunakan sebagai vasodilator, terapi congestive heart failure (CHF), left ventricular dysfunction, myocardial infarction, dan diabetes melitus.

ACE inhibitor bekerja dengan menghambat perubahan angiotensin I menjadi angiotensin II. Angiotensin II bekerja di ginjal dengan menahan ekskresi cairan (Na+ dan H2O) yang dapat menyebabkan vasokonstriksi dan meningkatkan tahanan perifer. Meningkatnya tahanan perifer akan berefek pada peningkatan tekanan darah. Dengan adanya ACE inhibitor maka tidak akan terbentuk angiotensin II, mengurangi retensi cairan, terjadi vasodilatasi, dan mengurangi kerja jantung.

ACE inhibitor dikontraindikasikan untuk wanita hamil karena ACE inhibitor dapat menembus plasenta. ACE inhibitor dihubungkan dengan fetal hypotension, oliguria serta kematian pada manusia, dan fetotoxicity pada hewan uji. Informasi yang perlu diketahui pasien hipertensi terhadap ACE inhibitor antara lain tetap menggunakan ACE inhibitor walau sudah mencapai tekanan darah normal karena hipertensi tidak mempunyai gejala yang spesifik. ACE inhibitor tidak dapat menyembuhkan hipertensi, akan tetapi hanya dapat mengontrol hipertensi dengan terapi jangka panjang. Pasien dianjurkan untuk tidak menggunakan obat-obatan lain khususnya OWA simpatomimetik, kecuali atas rekomendasi dokter. Pasien harus segera menghubungi dokter jika pasien mengalami kehamilan selama menggunakan ACE inhibitor.

Jenis ACE inhibitor yang dapat digunakan sebagai antihipertensi antara lain Benazepril, Captopril, Enalapril, Fosinopril, Lisinopril, Moexipril, Perindropil, Quinapril, Ramipril, Trandolapril. Salah satu golongan ACE inhibitor yang paling banyak digunakan sebagai antihipertensi adalah Captopril. Captopril sebagai dosis tunggal mempunyai durasi selama 6-12 jam dengan onset 1 jam. Captopril diabsorpsi sebanyak 60-75% dan berkurang menjadi 33-40% dengan adanya makanan serta  25-30% Captopril akan terikat protein. Waktu paruh Captopril dipengaruhi oleh fungi ginjal dan jantung di mana waktu paruh Captopril pada volunteers sehat dewasa 1,9 jam; pasien CHF 2,06 jam; dan pasien anuria 20-40 jam. Captopril diekskresikan melalui urin (95%) dalam waktu 24 jam.

Captopril

Nama generik                     : Kaptopril tablet 12,5 mg; 25 mg; 50 mg

Nama dagang di Indonesia   :

·         Acendril® (Harsen) tablet 12,5 mg; 25 mg

·         Acepress® (Bernofarm) tablet 12,5; 25 mg

·         Capoten® (Bristol-Myers Squibb Indonesia) tablet 12,5 mg; 25 mg; 50 mg

·         Captensin® (Kalbe Farma) tablet 12,5; 25 mg

·         Captopril Hexpharm® (Hexpharm) tablet 12,5; 25 mg; 50 mg

·         Casipril® (Tunggal Idaman Abdi) tablet 12,5 mg; 25 mg

·         Dexacap® (Dexa Medica) tablet 12,5 mg; 25 mg; 50 mg

·         Farmoten® (Fahrenheit) tablet 12,5 mg; 25 mg

·         Forten® (Hexpharm Jaya) kaplet 25 mg; tablet 50 mg

·         Locap® (Sandoz) tablet 25 mg

·         Lotensin® (Kimia Farma) kaplet 12,5 mg; tablet 25 mg

·         Inapril® (Indofarma) tablet 25 mg

·         Metopril® (Metiska) tablet salut selaput 12,5 mg; 25 mg; kaplet salut selaput 50 mg

·         Otoryl® (Otto) tablet 25 mg; kapsul-tablet 50 mg

·         Praten® (Prafa) kaplet 12,5 mg; 25 mg

·         Prix® (Rama) tablet 12,5 mg; 25 mg

·         Scantensin® (Tempo Scan Pacific) tablet 12,5 mg; 25 mg; 50 mg

·         Stablon® (Combiphar) tablet salut gula 12,5 mg

·         Tenofax® (Prima Hexal) tablet 12,5; 25 mg

·         Tensicap® (Sanbe Farma) tablet 12,5 mg; 25 mg; 50 mg

·         Tensobon® (Coronet Crown) tablet 25 mg

·         Vapril® (Phapros) tablet 12,5 mg; 25 mg

Indikasi                               : antihipertensi, left ventricular disfunction yang disertai myocardial infarction, diabetes nefropati, vasodilator, CHF

Kontrindikasi                       : hipersensitivitas terhadap Captopril, angiodema yang disebabkan oleh penggunaan ACE inhibitor sebelumnya, wanita hamil dan menyusui

Bentuk sediaan                    : tablet, tablet salut selaput, tablet salut gula, kaplet, kaplet salut selaput, kapsul-tablet

Dosis                                  : sebagai antihipertensi pada orang dewasa (oral)

·         Dosis awal                 : 12,5-25 mg 2-3 kali/hari yang dapat ditingkatkan 12,5-25 mg dalam 1-2 minggu menjadi 50 mg 3 kali/hari

·         Dosis perawatan        : 50 mg 3 kali/hari

·         Dosis maksimum        : 150 mg 3 kali/hari

Aturan pakai                       :

·         Diberikan dalam keadaan perut kosong (1 jam sebelum makan atau 2 jam setelah makan)

·         Captopril digunakan setelah penggunaan antihipertensi lain dihentikan selama 1 minggu, kecuali pada pasien dengan accelerated or malignant hypertension atau hipertensi yang sulit dikontrol

·         Pasien yang tidak dapat menggunakan sediaan padat secara oral dapat dibuat larutan oral Captopril dengan cara menyerbuk 25 mg tablet Captopril yang dilarutkan dalam 25 atau 100 ml air dan diaduk hingga bercampur lalu segera diminum tidak lebih dari 10 menit karena sifat Captopril yang tidak stabil dalam bentuk larutan

Efek samping                      : ruam, berkurangnya persepsi pengecapan, sakit kepala, batuk kering, hipotensi sementara, neutropenia, proteinurea

Resiko khusus                     :

·         Kehamilan                 : faktor resiko C pada trimester pertama (penelitian dengan hewan uji terbukti terjadi teratogenik pada janin tetapi tidak ada kontrol penelitian pada wanita atau penelitian pada hewan uji dan wanita pada saat yang bersamaan dan obat dapat diberikan jika terdapat kepastian bahwa pertimbangan manfaat lebih besar daripada resiko pada janin) dan faktor resiko D pada trimester kedua dan ketiga (potensial terjadi resiko teratogenik pada janin manusia)

·         Menyusui                   : Captopril didistribusikan ke air susu sehingga tidak direkomendasikan untuk menyusui saat menggunakan Captopril

 

Daftar Pustaka

Anderson, P.O., Knoben, J.E., and Troutman, W.G., 2002, Handbook of Clinical Drug Data, 10th edition, 326-327, McGraw-Hill Companies, Inc., USA

Anonim, 2000, Informatorium Obat Nasional Indonesia, 47-53, Departemen Kesehatan Republik Indonesia Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan, Jakarta

Anonim, 2005, USP DI-Volume I : Drug Information for the Health Care Professional, 25th edition, 195-197, Thomson Micromedex, USA

Anonim, 2006, Informasi Spesialite Obat Indonesia, volume 41, 39, 270-277, Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia, Jakarta

Anonim, 2006, MIMS Indonesia Petunjuk Konsultasi, edisi 2006-2007, 39-43, PT InfoMaster lisensi dari CMPMedica, Jakarta

Chan, P.D., and Johnson, M.T., 2004, Treatment Guidelines for Medicine and Primary Care, 2004 edition, 20-24, Current Clinical Strategies Publishing, USA

Lacy, C.F., Armstrong, L.L., Goldman, M.P., and Lance, L.L., 2006, Drug Information Handbook, 14th edition, 262-264, Lexi-Comp, Inc., USA

Massie, B.M., 2002, Systemic Hypertension, in Tierney, L.M., McPhee, S.J., and Papadakis, M.A., (Eds.), Current Medical Diagnosis & Treatment, 41th edition, 460, 464-473, McGraw-Hill Companies, Inc., USA

Warfield, C., 1996, Everything You Need to Know about Medical Treatments, 3-5, Springhouse, Corp., USA

About these ads

4 responses to “Penggunaan Captopril [Angiotensin Converting Enzyme (ACE) Inhibitor] pada Terapi Hipertensi

  1. penting .ttg jnc vii

  2. tolong cantumin harga dari obat-obatan tersebut…thanks

  3. Saya diberi dokter captopril 12.5 mg 2-3X sehari utk h tinggi saya, cuma yang saya baca di mims ada efek peningkatan ureum dan kreatinin di ginjal ,pertanyaan saya apakah konsumsi obat ini dalam jangka panjang bisa merusak ginjal.trims sebelumnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s