Penggunaan kaptopril Pada Pasien Hipertensi dengan Diabetes Mellitus

Penggunaan kaptopril Pada Pasien Hipertensi dengan Diabetes Mellitus

(Surya Dwi Ariatma/078115033)

Pendahuluan

Hipertensi dan Diabetes melitus merupakan dua keadaan yang berhubungan erat dan keduanya merupakan masalah kesehatan yang perlu mendapatkan penanganan yang seksama. Hipertensi pada diabetes mellitus merupakan penyebab utama pada kematian dalam diabetes pada penyakit kardiovaskuler. Kelainan pada mata akibat diabetes melitus yang berupa retinopati diabetik juga dipengaruhi oleh hipertensi.

Hipertensi secara umum adalah keadaan dimana tekanan darah sistolik 140 mmHg atau lebih dan tekanan diastolik 90 mmHg atau lebih dan diukur lebih dari satu kali kesempatan, oleh karena itu jika dokter menyatakan tekanan darah anda diatas 140/90 berarti anda menderita hipertensi alias tekanan darah tinggi.

 

Tabel Klasifikasi Tekanan Darah Untuk Pasien >18 Tahun

Menurut Joint National Committee VII

Klasifikasi Tekanan Darah

Tekanan Darah Sistolik (mmHg)

Tekanan Darah Diastolik (mmHg)

Normal

<120

<80

Prehipertensi

120-139

80-89

Hipertensi tingkat 1

140-159

90-99

Hipertensi tingkat 2

≥160

≥100

 

Sasaran dan Tujuan Terapi

Penderita tekanan darah tinggi perlu berupaya menormalkan tekanan darahnya. Sasaran pengobatan tekanan darah pada diabetes mellitus adalah mencapai dan mempertahankan tekanan darah dibawah 130/80 mm Hg. Dan tujuan pengobatan dari hipertensi ini, yaitu mencegah terjadinya morbiditas (angka kesakitan) dan mortalitas (angka kematian) kardiovaskuler akibat tekanan darah tinggi.

 

Strategi Terapi

Strategi penatalaksanaan hipertensi meliputi beberapa tahap yaitu, memastikan bahwa tekanan darah benar-benar mengalami kenaikan pada pengukuran berulang kali, menentukan target dalam penurunan tekanan darah, melakukan terapi non farmakologis meliputi pengamatan secara umum terhadap pola hidup pasien, kemudian terapi farmakologis meliputi pengoptimalan penggunaan obat tunggal anti-hipertensi dalam terapi, bila perlu berikan kombinasi penggunaan obat anti-hipertensi, dan melakukan monitoring secara rutin. Terapi hipertensi dapat dilakukan dengan dua cara yaitu terapi non farmakologis (tanpa obat) dan terapi farmakologis (menggunakan obat).

 

Terapi non farmakologis

Terapi non farmakologis dilakukan dengan modifikasi pola hidup yang berguna untuk menurunkan tekanan darah pada penderita hipertensi dengan diabetes mellitus. Modifikasi utama pola hidup yang dapat menurunkan tekanan darah antara lain penurunan berat badan pada kasus obesitas, kurangi asupan kalori, konsumsi buah dan sayur-sayuran, diet rendah lemak, diet rendah garam, menghindari konsumsi alkohol dan memperbanyak aktivitas atau olahraga.

 

Modifikasi Pola Hidup dalam Penatalaksanaan Hipertensi

Modifikasi

Rekomendasi

Perkiraan penurunan tekanan darah (mmHg)

Penurunan berat badan

Menjaga berat badan normal (Body Mass Index 18,5-24,9 kg/m2)

5-20 per 10 Kg penurunan berat badan

 

Pola makan

Mengkonsumsi buah-buahan, sayuran, dan makanan rendah kadar lemak

 

8-14

Kurangi asupan natrium

Kurangi asupan natrium < 2,4 gram perhari

 

2-8

Aktivitas fisik

Olahraga teratur seperti aerobik ringan minimal 30 menit per hari

4-9

Kurangi alkohol

Membatasi konsumsi alkohol, pada pria tidak lebih dari 30 ml etanol per hari dan pada wanita tidak lebih dari 15 etanol ml per hari

 

2-4

Terapi farmakologis

Ada beberapa golongan obat anti-hipertensi yaitu first line drug : diuretik, Penyekat reseptor beta adrenergic (β-blocker), Penghambat angiotensin-converting enzyme (ACE inhibitor), Penghambat reseptor angiotensin (Angiotensin-receptor blocker,ARB), antagonis kalsium, dan second line drug : penghambat saraf adrenergik, Agonis α-2 sentral dan vasodilator.

Pada prinsipnya pengobatan hipertensi pada diabetes melitus tidak berbeda dengan pengobatan pada hipertensi pada penderita tanpa diabetes melitus.Yang perlu mendapatkan perhatian ialah bahwa efek samping obat anti-hipertensi dapat menimbulkan gangguan metabolik pada diabetes melitus. Oleh karena itu pengobatan harus diberikan dengan mengingat kepentingan secara individual dan tingkat kelainan metabolik yang ada.

Semua pasien dengan diabetes dan hipertensi dapat diatasi dengan pemberian antihipertensi yang lainnya termasuk ACE Inhibitor atau ARB. Secara farmakologi, kedua golongan obat ini memberikan nephrotection memperlihatkan vasodilatasi oleh karena arteriole pada ginjal. Lebih dari itu inhibitor-inhibitor ACE mempunyai pengurangan resiko yang besar sekali ditunjukkan data pengurangan pada kedua resiko kardiovaskular (kebanyakan dengan ACE inhibitor) dan resiko dari kelainan fungsi tubuh ginjal yang progresif (kebanyakan dengan ARBs) pada pasien-pasien diabetes.

Terapi obat pilihan dalam artikel ini adalah kaptopril yang merupakan golongan obat antihipertensi ACE inhibitor.Enzim pengkonversi angiotensin (ACE) memfasilitasi terbentuknya angiotensin II yang mempunyai peran penting dalam pengaturan tekanan darah arteri. Enzim pengkonversi angiotensin (ACE) terdistribusi dalam banyak jaringan dan terdapat dalam beberapa tipe sel yang berbeda, tetapi secara umum ACE terletak pada sel endotelial. Oleh karena itu, produksi utama angiotensin II terletak di pembuluh darah bukan di ginjal. Obat-obat golongan ini diindikasikan untuk hipertensi pada diabetes mellitus dan hipertensi pada diabetes dengan nefropati. Pada beberapa pasien, obat golongan ini menyebabkan penurunan tekanan darah yang sangat cepat.

OBAT PILIHAN ► KAPTOPRIL

Indikasi : hipertensi ringan sampai sedang (sendiri atau dengan terapi tiazid) dan hipertensi berat yang resisten terhadap pengobatan lain; gagal jantung kongestif (tambahan); setelah infark miokard; nefropati diabetic (mikroalbuminuria lebih dari 30 mg/hari) pada diabetes tergantung insulin.

Kontraindikasi : hipersensitif terhadap penghambat ACE (termasuk angiodema); penyakit renovaskuler (pasti atau dugaan); stenosis aortic atau obstruksi keluarnya darah dari jantung; kehamilan; hipertensi dengan gejala hiponatrium; anuria; Laktasi; gagal ginjal.

Efek Samping : ruam kulit, pruritus, muka kemerahan, batuk kering; gangguan pengecapan; hipotensi; gangguan gastrointestinal, proteinuria. Jarang, netropenia, takikardi, angiodema.

Aturan pakai : Diberikan dalam keadaan perut kosong (1 jam sebelum makan atau 2 jam setelah makan).

Dosis : hipertensi ringan sampai dengan sedang awal 12,5 mg 2 x sehari. Pemeliharaan : 25mg 2xsehari, dapat ditingkatkan dengan selang waktu 2-4 minggu. Maksimal 50 mg dua kali sehari. Hipertensi berat awal 12,5 mg 2 x sehari, dapat ditingkatkan bertahap sampai dengan maksimal 50 mg 3 x sehari.

Resiko Khusus : pada pasien dengan stenosis arteri ginjal bilateral yang berat, penghambat ACE mengurangi atau meniadakan filtrasi glomerolus sehingga menyebabkan gagal ginjal yang berat dan progresif. Pada wanita hamil dapat mengganggu pengendalian tekanan darah janin dan bayi neonatus, serta mengganggu fungsi ginjalnya; juga bisa mengakibatkan kerusakan tengkorak dan oligohidramnios. Pada ibu menyusi, kaptopril didistribusikan ke air susu sehingga tidak direkomendasikan untuk menyusui saat menggunakan kaptopril

Macam-macam obat Kaptopril

Kaptopril (Generik) Tablet 12,5 mg, 25 mg, 50 mg.

Acepress (Bernofarm) Tablet 12,5 mg, 25 mg.

Capoten (Bristol-Myers Squibb) Tablet 12,5 mg, 25 mg, 50 mg.

Captensin (Kalbe Farma) Tablet 12,5 mg, 25 mg.Kaptopril Hexparm (Hexparm)

Tablet 12,5 mg, 25 mg, 50 mg.

Forten (Hexparm) Tablet 25 mg, 50 mg.Casipril (Tunggal Idaman Abadi)

Tablet 12,5 mg, 25 mg.

Dexacap (Dexa Medica) Tablet 12,5 mg, 25 mg, 50 mg.Farmotten (Fahrenheit)

Tablet 12,5 mg, 25 mg.

Lotensin (Kimia Farma) Tablet 12,5 mg, 25 mg.Locap (Sandoz)

Tablet 25 mg.

Tenofax (Sandoz) Tablet 12,5 mg, 25 mg.Metopril (Metiska Farma)

Tablet Salut Selaput 12,5 mg, 25 mg, Kaplet Salut Selaput 50 mg.

Otoryl (Otto) Tablet 25 mg.Praten (Prafa)

Tablet 12,5 mg, 25 mg.

Scantesin (Tempo Scan Pacific) Tablet 12,5 mg, 25 mg.Tensobon (Coronet)

Tablet 25 mg.

 

Daftar Pustaka

Anonim, 2000, Informatorium Obat Nasional Indonesia, Dep. Kes. RI, JakartaAnonim, 2006, MIMS Indonesia Petunjuk Konsultasi, edisi 6, Info Master, Indonesia Dipiro, J. T., 1997, Pharmacotherapy: A Pathophysiologic Approach, 3rd Edition, Appeton & Lange, Stamford

Nafrialdi, 2007, Antihipertensi, dalam Gunawan, S.G (Editor), Farmakologi dan Terapi, Edisi V, Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s