pemberian antikonvulsan pada komplikasi ensefalitis

Pemberian Antikonvulsan pada Komplikasi Ensefalitis

(Maria Rosa Irma Budi Cahyani, S.Farm/078115020)

Ensefalitis adalah proses inflamasi akibat infeksi pada susunan saraf pusat yang melibatkan parenkim otak yang dapat bermanifestasi sebagai gangguan neurofisiologis difus dan / atau fokal. Secara klinis ensefalitis dapat dijumpai muncul bersamaan dengan meningitis, disebut meningoensefalitis, dengan tanda dan gejala yang menunjukkan adanya inflamasi pada meninges seperti kaku kuduk, nyeri kepala, atau fotofobia. Ensefalitis biasanya timbul sebagai akibat proses inflamasi akut tapi dapat juga berupa reaksi inflamasi pasca infeksi penyakit lain (postinfeksius ensefalomyelitis), penyakit kronik degeneratif, atau akibat infeksi slow virus. Ensefalitis biasanya disebabkan oleh virus secara langsung melalui 2 jalur yakni hematogen atau secara neuronal ( saraf perifer atau saraf kranialis).

Jenis patogen yang paling sering menyerang adalah arbovirus dan enterovirus. Ensefalitis yang disebabkan oleh arbovirus disebut juga arthropode-borne viral encephalitides. Kelompok virus ini menunjukkan gejala neurologis yang berat dan hampir mirip, disebabkan oleh beberapa jenis arbovirus. Enterovirus termasuk dalam family picornavirus. Family picornavirus antara lain virus coxsackie A dan B, poliovirus, echovirus, enterovirus 68 dan 71, hepatitis A virus.Virus herpes simpleks tipe I (VHS tipe I) merupakan penyebab tersering dari ensefalitis sporadik. Sedangkan VHS tipe II lebih sering dijumpai pada neonatus dengan ensefalitis. VHS merupakan virus DNA yang dapat menyebabkan penyakit lokal maupun sistemik. Pada Anak dan bayi, VHS dapat menyebabkan ensefalitis yang dapat memburuk. Infeksi pada neonatus biasanya didapat selama atau sesaat sebelum bayi dilahirkan, bersumber dari organ genitalia eksterna ibu. Infeksi primer VHS tipe II selama proses persalinan memberikan faktor risiko yang lebih besar terhadap ensefalitis. Infeksi juga dapat terjadi melalui rekurensi, namun baik infeksi primer maupun rekurens keduanya dapat terjadi secara asimtomatik sehingga banyak para ibu yang tidak menyadari hal ini. Human herpesvirus 6 merupakan jenis VHS yang menjadi agen pada exanthema subitum, virus ini dihubungkan dengan terjadinya komplikasi neurologikus yang luas, termasuk pada ensefalitis viral (fokal).

Komplikasi jangka panjang dari ensefalitis berupa sekuele neurologikus yang nampak pada 30 % anak dengan berbagai agen penyebab, usia penderita, gejala klinik, dan penanganan selama perawatan. Perawatan jangka panjang dengan terus mengikuti perkembangan penderita dari dekat merupakan hal yang krusial untuk mendeteksi adanya sekuele secara dini. Walaupun sebagian besar penderita mengalami perubahan serius pada susunan saraf pusat (SSP), komplikasi yang berat tidak selalu terjadi. Komplikasi pada SSP meliputi tuli saraf, kebutaan kortikal, hemiparesis, quadriparesis, hipertonia muskulorum, ataksia, epilepsi, retardasi mental dan motorik, gangguan belajar, hidrosefalus obstruktif, dan atrofi serebral.

Dalam kesempatan ini, sasaran, tujuan dan strategi terapi akan lebih ditekankan pada komplikasi ensefalitis khususnya epilepsi. Pada kasus epilepsi, sasaran dan tujuan terapi yang diberikan bukan membuat anak seperti anak normal lainnya, tetapi mengembangkan sisa kemampuan yang ada pada anak tersebut seoptimal mungkin, sehingga diharapkan anak dapat melakukan aktifitas sehari-hari tanpa bantuan atau dengan sedikit bantuan.Strategi terapi yang diberikan meliputi terapi non farmakologis dan terapi farmakologis.

Terapi non farmakologis dapat dilakukan dengan pemberian nasehat (advis) agar penderita dapat hidup dalam keadaan yang senormal mungkin. Penderita baik yang masih sekolah maupun yang sudah bekerja dinasehati supaya melakukan kegiatannya seperti biasa. Penderita tidak diperkenankan untuk menjadi supir mobil dan hendaknya jangan diberikan surat izin mengemudi, karena hal itu dapat membahayakan dirinya, para penumpangnya, dan para pengguna jalan lain. Penderita tidak dilarang berolahraga, tetapi dianjurkan penderita tetap menjaga diri dan sebaiknya jangan sampai kelelahan. Olah raga berenang pun tidak dilarang asal ada yang menjaganya. Psikoterapi memegang peranan yang sangat penting dalam menambah kepercayaan dan membantu mengurangi/ menghilangkan rasa rendah diri pada penderita. Makanan penderita harus teratur, penderita dijaga agar jangan sampai merasa lapar. Bila penderita merasa lapar hendaknya segera makan untuk mencegah terjadinya hipoglikemia. Jika dewasa kelak penderita epilepsi tidak diperbolehkan minum-minuman beralkohol seperti bir dan lain – lainnya. Tidak ada larangan terhadap rokok atau kopi, asal jangan berlebihan. Buang air besar harus teratur, bila ada obstipasi, sebaiknya penderita diberikan laksansia ringan. Tidur harus teratur, penderita tidak diperbolehkan bergadang. Tidak jarang bangkitan epilepsi timbul setelah penderita kurang tidur. Pada penderita epilepsi pasca meningoensefalitis yang kelak dewasa dan gravidae, lebih mudah terjadi bangkitan-bangkitan epilepsi. Hal ini disebabkan karena wanita yang hamil akan mengalami retensi natrium, hidrasi dan berat badan yang bertambah, yang menimbulkan perubahan-perubahan metabolisme dalam tubuh wanita tersebut, yang pada akhirnya menurunkan ambang myokloni.

Terapi farmakologis dapat dilakukan dengan pemberian obat-obat antikonvulsan. Obat-obat antikonvulsan yang dapat diberikan adalah :

  1. Fenobarbital (Luminal)

Generik: Phenobarbital, tablet 30 mg, 50 mg; cairan injeksi 100 mg/ml.

Merek dagang (brand name): -

Indikasi: epilepsy, semua jenis, kecuali petit mal, status epileptikus.

Kontraindikasi: depresi pernapasan berat, porfiria.

Dosis dan aturan pakai: oral : 60-180 mg (malam). Anak 5-8 mg/kg/hari. Injeksi i.m/i.v. 50-200 mg, ulang setelah 6 jam bila perlu, maksimal 600 mg/hari. Encerkan dalam air 1:10 untuk i.v. status epileptikus (tersedia di ICU): i.v kecepatan tidak lebih dari 100 mg/menit, sampai bangkitan teratasi atau sampai maksimal 15 mg/kg/hari tercapai.

Efek samping: mengantuk, letargi, depresi mental, ataksia, nistagmus, irritabel dan hiperaktif pada anak, agitasi, resah dan bingung pada usia lanjut, reaksi alergi pada kulit, hipoprotom bunemia, anemia megaloblastik.

Risiko khusus:

- Kehamilan : faktor risiko D

- Menyusui : dapat memasuki air susu ibu (tidak direkomendasikan/dapat terus diberikan dengan perhatian khusus)

- Penderita dengan ganggan fungsi hati dan ginjal perlu mendapatkan perhatian khusus.

2. Valium

    Generik: Diazepam, tablet 2 mg, 5 mg.

    Merek dagang (brand name):

    · Lovium® (Phapros), tablet 2 mg, 5 mg.

    · Mentalium® (Soho), tablet 2 mg, 5 mg, 10 mg.

    · Paralium® (Prafa), cairan injeksi 5 mg/ml.

    · Stesolid® (Dumex Alpharma indonesia), cairan injeksi 10 mg/2ml; enema 5 mg/2,5 ml, 10 mg/2,5 ml; sirup 2 mg/5 ml; tablet 2 mg, 5 mg.

    · Trankinon® (Combiphar), tablet 2 mg, 5 mg.

    · Valium® (Roche Indonesia), cairan injeksi 5 mg/ml; tablet 2 mg, 5 mg.

    · Validex® (Dexa Medica), tablet 2 mg, 5 mg.

    · Valisanbe® (Sanbe), tablet 2 mg, 5 mg.

    Indikasi: status epileptikus, konvulsi akibat keracunan.

    Kontraindikasi: depresi pernapasan berat, insufisiensi pulmoner akut, status fobi/obsesi, pikosis kronik, porfiria.

    Dosis dan aturan pakai: injeksi i.v. 0,5 mg/kgbb/x i.v. dan pada anak dengan berat badan 10 kg diberikan sebanyak ½ ampul per kali.

    Efek samping: mengantuk, pandangan kabur, bingung, ataksia (pada usia lanjut), amnesia, ketergantungan. Kadang nyeri kepala, vertigo, hipotensi, gangguan salivasi dan saluran cerna, ruam, perubahan libido, retensi urin.

    Risiko khusus:

    - Kehamilan : faktor risiko D

    - Menyusui : dapat memasuki air susu ibu (dapat terus diberikan dengan perhatian khusus)

    3. Clonazepam

      Generik: -

      Merek dagang (brand name):

      · Rivotril® (Roche Indonesia), tablet 2 mg.

      Indikasi: epilepsi, semua jenis, termasuk petit mal, mioklonus, status epileptikus.

      Kontraindikasi: depresi pernapasan berat, insufisiensi pulmoner akut, porfiria.

      Dosis dan aturan pakai: dosis awal 1 mg (Usia Lanjut: 500 mcg) malam hari, selama 4 hari. Bertahap dosis dinaikkan dalam 2-4 minggu sampai dosis pemeliharaan: 4-8 mg/hari dalam dosis terbagi. Anak sampai 1 th 250 mcg, dinaikkan bertahap sampai 0,5-1 mg. 1-5 th 250 mcg, dinaikkan bertahap sampai 1-3 mg. 5-12 th 500 mcg, dinaikkan bertahap sampai 3-6 mg.

      Efek samping: lelah, mengantuk, pusing, hipotoni otot, gangguan koordinasi gerak, hipersalivasi pada bayi, agresi, iritabel dan perubahan mental, jarang gangguan darah, abnormalitas fungsi hati.

      Risiko khusus:

      - Kehamilan : faktor risiko D

      - Menyusui : dapat memasuki air susu ibu (tidak direkomendasikan)

      4. Valproic acid

        Generik: -

        Merek dagang (brand name):

        · Depakote® (Abbott Indonesia), tablet 250 mg.

        · Depakene® (Abbott Indonesia), sirup 250 mg/5 ml.

        · Leptilan® (Novartis Indonesia), tablet Ss150 mg, 300 mg.

        Indikasi: epilepsi, semua jenis epilepsi

        Kontraindikasi: penyakit hati aktif, riwayat disfungsi hati berat dalam keluarga, porfiria.

        Dosis dan aturan pakai: dosis awal 300-600 mg/hari terbagi dalam 2 dosis, setelah makan dinaikkan 200 mg/hari tiap 3 hari, maksimum 2,5 g/hari, dalam dosis terbagi. Dosis pemeliharaan biasanya 1-2 g/hari(20-30 mg/kg/hari). Anak sampai 20 kg (4 th): dosis awal 20 mg/kg/hari dalam dosis terbagi. Dapat bertahap dinaikkan sampai 40 mg/kg/hari. Lebih dari 20 kg: dosis awal 400 mg/hari biasanya 20-30 mg/kg/hari, maksimal 35 mg/kg/hari.

        Efek samping: badan terasa capai, mual, muntah, dan diare, berat badan bertambah, tremor, trombositopenia ringan, dan peningkatan enzim – enzim hepatik. Sewaktu terapi dengan depakene hendaknya dipantau jumlah trombosit dan fungsi hati.

        Risiko khusus:

        - Kehamilan : faktor risiko D

        - Menyusui : dapat memasuki air susu ibu

        - Penderita dengan gangguan ginjal perlu mendapatkan perhatian khusus.

        Referensi:

        Anonim, 2000, Informatorium Obat Nasional Indonesia, 152-155, Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.

        Lacy, C.F, dkk, 2006, Drug Information Handbook, Edisi XIV, 370-372, 451-453, 1252-1254, Lexi-Comp Inc., Hudson, Ohio.

        Tierney, L.M., McPhee, S.J., dan Papadakis, M.A., 2006, Current Medical Diagnosis & Treatment, Edisi 45, 980-986, Lange Medical Books, McGraw-Hill.

        About these ads

        4 responses to “pemberian antikonvulsan pada komplikasi ensefalitis

        1. Delphius Ginting

          Dear Maria Rosa Irma,
          Anak saya didiagnosa epilepsi infantil oleh dokter. sudah minum depakene syurup sejak 6 hari lalu. saya berpikir untuk mengkombinasikannya dengan pengobatan tradisional; pijat.

          mohon komentar dan sarannya.

          trims,

          DElphius

        2. farmakoterapi-info

          dear Delphius Ginting,
          depakene merupakan obat dengan kandungan aktif asam valproat. Obat ini memang biasa dipakai untuk anak2 penderita epilepsi.

          Mengingat epilepsi merupakan penyakit yang disebabkan karena depolarisasi yang berlebihan, menurut pendapat saya, ‘terapi pijat’ tidak sepenuhnya tepat, kecuali memang sudah ada yang memiliki pengalaman demikian

        3. Makanan atau minuman apa saja yang tidak boleh di konsumsi oleh penderita epilepsi?

        4. kehamilan bagi penderita epilepsi apa berpengaruh bagi perkembangan janin? saya tidak minum obat sejak lima tahun dan tidak kambuh selama 6 bulan ini hanya mengalami kejang di pagi hari. sedang berencana hamil. mohon infonya.

        Leave a Reply

        Fill in your details below or click an icon to log in:

        WordPress.com Logo

        You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

        Twitter picture

        You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

        Facebook photo

        You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

        Google+ photo

        You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

        Connecting to %s