Penggunaan Opioid Antagonis pada Nyeri

Penggunaan Opioid Antagonis pada Nyeri

Galuh Nindya Tyas Tusthi, S.Farm.

078115013

Nyeri merupakan respon langsung terhadap kejadian/ peristiwa yang tidak menyenangkan yang berhubungan dengan kerusakan jaringan, seperti, luka, inflamasi, atau kanker. Nyeri juga dapat dikatakan sebagai perasaan sensoris dan emosional yang tidak enak dan yang berkaitan dengan (ancaman) kerusakan jaringan.  Nyeri merupakan suatu perasaan pribadi dimana ambang toleransi nyeri berbeda-beda bagi setiap orang. Ambang nyeri didefinisikan sebagai tingkat (level) dimana nyeri dirasakan untuk pertama kali.

A.       Sasaran, Tujuan, dan Strategi Terapi

Sasaran terapi nyeri dengan menggunakan antagonis opioid yaitu reseptor opioid, dengan cara berikatan dengan reseptor opioid untuk menghalangi pelepasan neurotransmiter sehingga respon nyeri tidak muncul. Tujuannya adalah untuk mengobati nyeri tersebut dengan cara menghilangkan gejala yang muncul. Strategi terapi untuk nyeri terdiri dari terapi non farmakologis dan terapi farmakologis.

Terapi non farmakologis untuk nyeri dapat berupa terapi stimulasi atau dengan intervensi psikologi. Terapi stimulasi dilakukan dengan meggunakan Transcutaneus Electrical Nerve Stimulation (TENS) yang telah terbukti berhasil dalam terapi nyeri akibat pembedahan atau sesudah operasi, traumatik, nyeri oral-facial. Walaupun efek samping akibat pengguanaan obat-obat opioid dapat dicegah dengan metode ini, namun metode ini kurang dapat diterima untuk pengobatan nyeri akut. Intervensi psikologi jarang digunakan secara luas untuk terapi nyeri. Intervensi sederhana seperti memberi informasi kepada pasien mengenai sensasi rasa yang akan muncul, dapat mengurangi stress yang dialami pasien setelah tindakan pengobatan (misal setelah operasi). Teknik psikologi lain yang berhasil dilakukan untuk terapi nyeri antara lain dengan latihan relaksasi, melukis, atau dengan menghipnotis pasien.

Sedangkan terapi farmakologis untuk nyeri yaitu dapat menggunakan obat-obat analgesik baik non-opioid (NSAID) analgesik (golongan salisilat, parasetamol, fenamat, asam piranokarboksilat, asam propionat, asam karboksil pirolizin, serta inhibitor COX-2) maupun opioid analgesik (opioid agonis dan opioid antagonis).

Opioid merupakan senyawa alami atau sintetik yang menghasilkan efek seperti morfin. Semua obat dalam kategori ini bekerja dengan jalan mengikat reseptor opioid spesifik pada susunan saraf pusat untuk meghasilkan efek yang meniru efek neurotransmiter peptida endogen, opiopeptin (misal endorfin dan enkefalin). Opioid analgesik penggunaan utamanya adalah untuk menghilangkan nyeri yang dalam dan ansietas yang menyertainya, baik karena operasi atau sebagai akibat luka atau suatu penyakit misal kanker.

Reseptor opioid secara luas terdistribusi dalam sistem saraf pusat yang dikelompokkan menjdi 3 tipe utama yaitu μ-, κ-, dan σ-reseptor. μ-reseptor memiliki jumlah yang paling banyak di otak dan merupakan reseptor yang paling berinteraksi dengan opioid analgesik untuk mengasilkan efek analgesik. Sedangkan κ- dan σ-reseptor menunjukkan selektivitas terhahap enkefalin dan dinorfin secara respektif. Aktivasi κ-reseptor juga dapat menghasilkan efek analgesik, namun berlawanan dengan  μ-agonis, yang dapat menyebabkan euforia. Beberapa opioid analgesik mengahsilkan efek stimulan dan psikomotorik dengan beraksi pada σ-reseptor. Aktivasi pada μ- dan σ-reseptor dapat menyebabkan hiperpolarisasi pada saraf dengan cara mengaktivasi K+ chanel melalui  proses yang melibatkan G-protein. Sedangkan aktivasi κ-reseptor dapat menghambat membran Ca2+ chanel. Sehingga dapat merintangi peletuoan neuronal dan pelepasan transmitter.

Naloxone dan Naltrexone merupakan antagonis opioid murni yang disintesis melalui perubahan yang relatif minor pada struktur morfin. Alterasi substituen pada piperidin nitrogen dari kelompok metil menjadi ikatan samping yang lebih panjang merubah sifat obat dari agonis menjadi antagonis. Antagonis opioid mengikat reseptor opioid dengan afinitas tinggi. Namun Naloxone tidak memblok efek dari opioid pada μ-reseptor. Semua antagonis opioid akan mempercepat penyembuhan pada pasien ketergantungan opioid.

 B.       Obat Pilihan

Naloxone

Nama Generik

Naloxone

Nama Dagang

Narcan*

Indikasi

Pembalikan sebagian atau keseluruhan overdosis opioid depresion dan acute opioid, termasuk penekanan pernafasan, yang dipicu oleh opioid alami maupun sintetik, termasuk propoxyphene, methadone, dan campuran agonis-antagonis analgesik, nalbuphine, pentazocine, dan butorphanol.

Diagnosis dengan dugaan  opioid tolerance atau overdosis opioid akut.

Agen tambahan untuk meningkatkan tekanan darah pada septic shock (keracunan).

Kontra Indikasi

Hipersensitifitas terhadap naloxone atau komponen pada formulasi.

Bentuk Sediaan, Dosis, dan Aturan Pakai

Bentuk sediaan      : injeksi, larutan (sebagai HCl): 0,4 mg/mL (1 mL, 10 mL)

                                  Narcan* 0,4 mg/mL(1 mL) (DSC)

Dosis dan aturan pakai:

Injeksi I.V., 0.4-2 mg diulang tiap 2-3 menit hingga maksimal 10 mg jika fungsi pernafasan tidak meningkat; anak-anak 10 μg /kg,  dosis berikutnya 100 μg /kg bila tidak ada respon.

Injeksi S.C atau I.M. dosis dewasa dan anak-anak sama seperti dosis I.V, tetapi digunakan jika tidak memungkinkan menggunakan rute I.V (onset lebih lambat).

Infus I.V. menggunakan pompa infus, 4 mg dilarutkan dalam 200 ml larutan infus I.V (tanpa konsentrasi), kecepatan diatur sesuai dengan respon (kecepatan awal diatur pada 60% dosis awal injeksi I.V (lihat atas) dan di infus lebih dari 1 jam)

Efek Samping

Frekuensinya tidak tetap.

Cardiovascular: hiper-hipotensi, takikardi, aritmia ventrikular, cardiac arrest.

Sistem Saraf Pusat: mudah marah, gelisah, penarikan diri terhadap narkotik, resah, seizure.

Gastrointestinal: mual, muntah, diare.

Neuromuscular & skeletal: gemetar

Pernafasan: dispnea, pembangkakan paru-paru, ingusan, bersin-bersin.

Miscellaneous: diaforesis.

Resiko Khusus

Faktor Resiko C pada kehamilan.

Implikasi terhadap kehamilan mempertimbangkan manfaat terhadap si ibu dan resiko terhadap janin sebelum diberikan kepada wanita hamil yang diketahui atau diduga ketergantungan opioid. Dapat mempercepat penarikan diri terhadap narkotik baik pada ibu maupun janin.

 
Naltrexone

Nama Generik

Naltrexone

Nama Dagang

Nalorex

Indikasi

Terapi tambahan untuk mencegah kambuh pada detoksifikasi pasien dengan riwayat ketergantungan  opioid (masih terdapat opioid-free setidaknya selama 7-10 hari).

Kontra Indikasi

Hipersensitifitas terhadap Naltrexone maupun komponen yang ada pada formulasi, ketergantungan narkotik atau sedang menggunakan opioid analgesik; opioid withdrawal akut, kegagalan memberikan Narcan* atau positif mengandung opioid pada urin, hepatitis akut, kerusakan liver.

Bentuk Sediaan, Dosis, dan Aturan Pakai

Bentuk sediaan      : Nalorex: Tablet naltrexon hidroklorida 50 mg.

Dosis dan aturan pakai: tidak diberikan hingga pasien bebas terhadap opioid 7-10 hari melalui analisis urine.

Dosis awal 25 mg kemudian menjadi 50 mg per hari; total dosis mingguan dapat dibagi dan diberikan 3 hari dalam seminggu untuk meningkatkan ketaatan pasien (misal 100 mg pada senin dan rabu,dan 150 mg pada jumat). Naltrexone tidak direkomendasikan untuk anak-anak.

Efek Samping

Mual, muntah, nyeri abdominal; gelisah, gugup, sulit tidur, pusing, pengurangan energi; nyeri otot; diare, konstipasi, peningkatan rasa haus, nyeri dada, peningkatan jumlah keringat dan lakrimasi; mudah marah,ejakulasi dini, abnormalitas fungsi liver; dilaporkan juga terjadi trombositopenia idiopati yang bersifat reversibel.

Daftar Pustaka

Anonim, 2006, British National Formulary, edisi 52, hal 31, 268, British Medical Association, Royal Pharmaceutical Society of Great Britain, London.

 Craig, Charles R., Stitzel, Robert E.,2007, Modern Pharmacology With Clinical Application, 6th edition, 318, 326-327, Lippincott Williams & Wilkins.

 Dipiro, 2005, Pharmacotherapy, A Pathophysiologic Approach, sixth edition, 1093-1099, McGraw-Hill.

 Lacy, C.F., Amstrong, L.L., Goldman, M.P., Lance, L.L., 2006, Drug Information Handbook, 14th edition, hal 1106-1108, Lexi Comp Ine, Canada

 Neal, Michael J., 2002, Medical Pharmacology at a Glance, fourth edition, 60, Blackwell Science Ltd.

 Rang, H.P., Dale, M.M., Ritter, J.M., Moore, P.K., 2003, Pharmacology, edisi V, 232, Churchill Livingstone

 Tjay, T.H., dan Rahardja,K, 2002, Obat-Obat Penting : Khasiat penggunaan dan Efek-Efek Sampingnya, Edisi V, Cetakan ke-2, 295-310, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.

 

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s