Monthly Archives: December 2007

PENGGUNAAN CAPTOPRIL PADA PASIEN HIPERTENSI DENGAN GAGAL JANTUNG

PENGGUNAAN CAPTOPRIL PADA PASIEN HIPERTENSI DENGAN GAGAL JANTUNG

Oleh : Eunike Sandjaja (078115011)

Hipertensi merupakan salah satu penyakit yang banyak diderita oleh masyarakat Indonesia bahkan masyarakat dunia. Hipertensi didefinisikan sebagai keadaan dimana kenaikan tekanan darah sistolik 140mmHg atau lebih dan tekanan diastolik 90mmHg atau lebih dan diukur lebih dari satu kali kesempatan. Hipertensi yang tidak ditangani dengan benar dapat menyebabkan komplikasi. Komplikasi tersebut berkaitan dengan kenaikan tekanan darah yang tetap (dengan konsekuensi terjadinya perubahan pada sistem vaskular tubuh dan jantung) atau berkaitan dengan artherosclerosis yang menyertai dan dipercepat karena adanya hipertensi yang lama (long-standing hypertension).

Salah satu komplikasi yang dapat terjadi adalah penyakit kardiovaskular yang ditandai dengan adanya kenaikan tekanan darah yang abnormal. Komplikasi yang berkaitan dengan jantung adalah penyebab utama morbiditas dan mortalitas dalam hipertensi esensial, dan mencegahnya merupakan tujuan utama dari terapi. Hipertrofi pada ventrikular jantung bagian kiri dapat menyebabkan congestive heart failure (CHF), myocardial ischemia (MI), aritmia ventrikular, dan kematian mendadak.

Gagal jantung (Heart Failure) merupakan suatu kondisi dimana cardiac output tidak mencukupi kebutuhan sirkulasi tubuh (pada saat istirahat maupun beraktivitas) atau dengan kata lain, jantung tidak mampu memompa darah ke seluruh bagian tubuh. Gagal jantung dapat terjadi dari berbagai penyakit yang menurunkan pengisian pembuluh (disfungsi diastolik) dan/atau kontraktilitas miokardial (disfungsi sistolik). Jantung dapat gagal memompa darah dikarenakan preload yang berlebihan seperti pada aliran balik darah (valvular regurgitation) atau afterload yang berlebihan seperti pada penyempitan aorta dekat jantung (aortic stenosis) atau pada hipertensi yang parah. Fungsi pompa dapat juga menjadi tidak memadai saat jantung tidak dapat beradaptasi dengan baik terhadap variasi yang terjadi pada preload, afterload, maupun tempo jantung seperti pada layaknya jantung yang berfungsi dengan normal.

Sasaran dari terapi pada pasien hipertensi dengan gagal jantung adalah mengurangi/menghilangkan tanda dan gejala dari gagal jantung. Tujuan terapi ini adalah untuk memperlambat laju keparahan, mengurangi frekuensi perawatan intensif (hospitalization), dan mengurangi/mencegah mortalitas (memperpanjang usia pasien). Strategi terapi yang dilakukan adalah meningkatkan perfusi jaringan, menurunkan tekanan pada venous sentral, dan mencegah terjadinya udem.

Obat pilihan yang digunakan dalam terapi farmakologi pasien hipertensi dengan gagal jantung adalah Angiotensin Converting Enzyme (ACE) inhibitor. ACE inhibitor direkomendasikan sebagai obat pilihan pertama didasarkan pada sejumlah studi yang menunjukkan penurunan morbiditas dan mortalitas. Akan tetapi, diuretik juga menjadi bagian dari terapi lini pertama (first line therapy) karena dapat memberikan penghilangan gejala udem dengan menginduksi diuresis.

ACE inhibitor memiliki mekanisme aksi menghambat sistem renin-angiotensin-aldosteron dengan menghambat perubahan Angiotensin I menjadi Angiotensin II sehingga menyebabkan vasodilatasi dan mengurangi retensi sodium dengan mengurangi sekresi aldosteron. Oleh karena ACE juga terlibat dalam degradasi bradikinin maka ACE inhibitor menyebabkan peningkatan bradikinin, suatu vasodilator kuat dan menstimulus pelepasan prostaglandin dan nitric oxide. Peningkatan bradikinin meningkatkan efek penurunan tekanan darah dari ACE inhibitor, tetapi juga bertanggungjawab terhadap efek samping berupa batuk kering. ACE inhibitor mengurangi mortalitas hampir 20% pada pasien dengan gagal jantung yang simtomatik dan telah terbukti mencegah pasien harus dirawat di rumah sakit (hospitalization), meningkatkan ketahanan tubuh dalam beraktivitas, dan mengurangi gejala.

ACE inhibitor harus diberikan pertama kali dalam dosis yang rendah untuk menghindari resiko hipotensi dan ketidakmampuan ginjal. Fungsi ginjal dan serum potassium harus diawasi dalam 1-2 minggu setelah terapi dilaksanakan terutama setelah dilakukan peningkatan dosis. Salah satu obat yang tergolong dalam ACE inhibitor adalah Captopril yang merupakan ACE inhibitor pertama yang digunakan secara klinis.

Nama Generik : Captopril

Nama Dagang :

Acepress : Tab 12,5mg, 25mg

Capoten : Tab 12,5mg, 25mg

Captensin : Tab 12,5mg, 25mg

Captopril Hexpharm : Tab 12,5mg, 25mg, 50mg

Casipril : Tab 12,5mg, 25mg

Dexacap : Tab 12,5mg, 25mg, 50mg

Farmoten : Tab 12,5mg, 25mg

Forten : Tab 12,5mg, 25mg, 50mg

Locap : Tab 25mg

Lotensin : Kapl 12,5mg, 25mg

Metopril : Tab salut selaput 12,5mg, 25mg; Kapl salut selaput 50mg

Otoryl : Tab 25mg

Praten : Kapl 12,5mg

Scantensin : Tab 12,5mg, 25mg

Tenofax : Tab 12,5mg, 25mg

Tensicap : Tab 12,5mg, 25mg

Tensobon : Tab 25mg

Indikasi :

  1. Hipertensi esensial (ringan sampai sedang) dan hipertensi yang parah.
  2. Hipertensi berkaitan dengan gangguan ginjal (renal hypertension).
  3. Diabetic nephropathy dan albuminuria.
  4. Gagal jantung (Congestive Heart Failure).
  5. Postmyocardial infarction
  6. Terapi pada krisis scleroderma renal.

    Kontraindikasi :

  7. Hipersensitif terhadap ACE inhibitor.
  8. Kehamilan.
  9. Wanita menyusui.
  10. Angioneurotic edema yang berkaitan dengan penggunaan ACE inhibitor sebelumnya.
  11. Penyempitan arteri pada salah satu atau kedua ginjal.

    Bentuk sediaan : Tablet, Tablet salut selaput, Kaplet, Kaplet salut selaput.

    Dosis dan aturan pakai captopril pada pasien hipertensi dengan gagal jantung :

    Dosis inisial : 6,25-12,5mg 2-3 kali/hari dan diberikan dengan pengawasan yang tepat. Dosis ini perlu ditingkatkan secara bertingkat sampai tercapai target dosis.

Target dosis : 50mg 3 kali/hari (150mg sehari)

Aturan pakai : captopril diberikan 3 kali sehari dan pada saat perut kosong yaitu setengah jam sebelum makan atau 2 jam setelah makan. Hal ini dikarenakan absorbsi captopril akan berkurang 30%-40% apabila diberikan bersamaan dengan makanan.

Efek samping :

  1. Batuk kering
  2. Hipotensi
  3. Pusing
  4. Disfungsi ginjal
  5. Hiperkalemia
  6. Angioedema
  7. Ruam kulit
  8. Takikardi
  9. Proteinuria

    Resiko khusus :

  10. Wanita hamil.

    Captopril tidak disarankan untuk digunakan pada wanita yang sedang hamil karena dapat menembus plasenta dan dapat mengakibatkan teratogenik. Hal ini juga dapat menyebabkan kematian janin. Morbiditas fetal berkaitan dengan penggunaan ACE inhibitor pada seluruh masa trisemester kehamilan. Captopril beresiko pada kehamilan yaitu pada level C (semester pertama) dan D (semester kedua dan ketiga).

  11. Wanita menyusui.

    Captopril tidak direkomendasikan untuk wanita yang sedang menyusui karena bentuk awal captopril dapat menembus masuk dalam ASI sekitar 1% dari konsentrasi plasma. Akan tetapi tidak diketahui apakah metabolit dari captopril juga dapat menembus masuk dalam ASI.

  12. Penyakit ginjal.

    Penggunaan captopril (ACE inhibitor) pada pasien dengan gangguan ginjal akan memperparah kerusakan ginjal karena hampir 85% diekskresikan lewat ginjal (hampir 45% dalam bentuk yang tidak berubah) sehingga akan memperparah kerja ginjal dan meningkatkan resiko neutropenia. Apabila captopril digunakan pada pasien dengan gangguan ginjal maka perlu dilakukan penyesuaian dosis dimana berfungsi untuk menurunkan klirens kreatininnya.

     

     

     

     

    DAFTAR PUSTAKA

     

    Dipiro, D. C., Talbert, R. M., Yee, G. C., Matzke, G. R., Welles, B. G., Posey, L. M., 2005, Pharmacotherapy : A Pathophysiologic Approach, Sixth Edition, 219-257, The McGraw-Hill Companies Inc, USA.

    Dollery, C., 1999, Therapeutic Drugs, 2nd Edition, volume 1 (A-H), C38-C42, Churchill Livingstone, USA.

    Konsil Kedokteran Indonesia, 2007, MIMS edisi Bahasa Indonesia, volume 8, 51-56, CMP Medika, Jakarta.

    Lacy, C. F., Armstrong, L. L., Goldman, M. P., Lance, L. L., 2006, Drug Information Handbook, 14th Edition, 262-264, Lexi-Comp Inc, Ohio.

    Poppy, K., Komala, S., Santoso, A. H., Sulaiman, J. R., Rienita, Y., Nuswantari, D., 1998, Kamus Saku Kedokteran Dorland, Edisi 25, EGC, Jakarta.

    Rang, H. P., Dale, M. M., Ritter, J. M., Moore, P. K., 2003, Pharmacology, Fifth Edition, 269, 300-302, Churchill Livingstone, USA.

    Tierney, L. M., Mcphee, S. J., Papadakis, M. A., Current Medical Diagnosis & Treatment, 45th Edition, 385-340, 419, 424-425, 434, 440, McGraw-Hill Inc, USA.

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

 

MAKALAH UJIAN AKHIR SEMESTER

FARMAKOTERAPI DAN TERMINOLOGI MEDIK

 

PENGGUNAAN CAPTOPRIL PADA PASIEN HIPERTENSI DENGAN GAGAL JANTUNG


 

 

 

 

 

 

 

 

Disusun oleh:

Eunike Sandjaja, S. Farm. (078115011)

 

Dosen: Luciana Kuswibawati, dr., M.Kes.

Yosef Wijoyo, M.Si., Apt

PROGRAM PROFESI APOTEKER

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

2007

Penatalaksanaan Terapi Penyakit Impetigo

oleh : Vincensius Anjar Trilaksono, S.Farm        078115036

Impetigo merupakan suatu infeksi kulit superfisial (kulit bagian atas) yang disebabkan oleh bakteri streptokokus atau bakteri stafilokokus. Penyakit impetigo ditandai dengan adanya  bula  yaitu benjolan pada kulit dengan diameter >0,5 cm dan berisi cairan yang merupakan pustula (penumpukkan nanah dalam kulit). Gambaran klinis dari penyakit ini yaitu bula yang berdinding tipis sehingga mudah pecah akan menimbulkan krusta (koreng) pada kulit.

Pengobatan infeksi ini dapat digunakan antibiotik secara topikal dan oral. Tujuan terapinya yaitu mengobati infeksi, mencegah penularan, menghilangkan rasa tidak nyaman, dan mencegah terjadinya kekambuhan. Sasaran terapinya yaitu infeksi bakteri streptokokus atau stafilokokus. Terapi non farmakologis untuk pengobatan impetigo yaitu menghilangkan krusta dengan cara mandi selama 20-30 menit  disertai mengelupaskan krusta dengan handuk basah dan bila perlu olesi dengan zat antibakteri, mencegah menggaruk daerah lecet atau dapat dilakukan dengan menutup daerah yang lecet dengan perban tahan air dan memotong kuku, lanjutkan pengobatan sampai semua luka lecet sembuh. Terapi non farmakologis untuk pencegahan penyakit impetigo yaitu mandi teratur dengan sabun dan air (sabun antiseptik dapat digunakan, namun dapat mengiritasi pada sebagian kulit orang yang kulit sensitif), menjaga kebersihan yang baik (cuci tangan teratur, menjaga kuku jari tetap pendek dan bersih), jauhkan diri dari orang dengan impetigo, orang yang kontak dengan orang yang terkena impetigo segera mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, mencuci pakaian, handuk dan sprei dari penderita impetigo terpisah dari yang lanilla (cuci dengan air panas dan keringkan di bawah sinar matahari atau pengering yang panas), dan gunakan sarung tangan saat mengoleskan antibiotik topikal di tempat yang terinfeksi dan cuci tangan setelah itu.Terapi farmakologis yang digunakan yaitu menggunakan antibiotik topikal atau antibiotik per-oral. Penggunaan antibiotik per-oral diberikan jika pasien sensitif terhadap antibiotik topikal dan kondisi penyakit atau lesi yang ditimbulkan sudah parah (lesi lebih luas). Antibiotik topikal yang dapat digunakan yaitu mupirocin dan asam fusidat. Antibiotik per-oral yang dapat digunakan yaitu eritromisin dan flukloksasilin.

Pilihan obat

Antibiotik topikal

Mupirocin

Nama Generik   : Mupirocin

Nama paten      : BACTROBAN (GlaxoSmithKline)

Brand name      : Bactoderm (Ikapharmindo)

Indikasi             : infeksi kulit primer akut, misalnya impetigo, folikulitis, furunkulosis

Kontraindikasi   : hipersensitif terhadap mupirocin

Bentuk sediaan  : salep dan krim

Dosis                : salep→oleskan 3x/hr selama 10 hari,

                          krim→oleskan 3x/hr, jika perlu daerah yang diobati ditutup dengan kasa

                          lakukan evaluasi jika tidak ada respon klinis dalam 3-5 hari

Efek samping    : rasa terbakar, gatal, rasa tersengat, kemerahan

Peringatan        : hindari kontak dengan mata. Hati-hati penggunaan pada gangguan ginjal sedang sampai berat, hamil, lakatasi. Hentikan penggunaan jika terjadi reaksi sensitivitas atau reaksi kimia. Tidak untuk digunakan pada permukaan mukosa. Penggunaan jangka panjang menyebabkan  pertumbuhan berlebihan dari mikroorganisme yang tidak diinginkan.

Asam Fusidat

Nama Generik   : Asam Fusidat

Brand name      : Afucid (Ferron), Fusycom (Combiphar), Fuladic (Guardian),  Futaderm (Interbat)

Indikasi             : Impetigo kontagiosum, folikulitis superfisdial, furunkulosis, sikosis barbae, hidradenitis akselaris, abses, paronikia, eritrasma

Kontraindikasi   : hipersensitif terhadap asam fusidat.

Bentuk sediaan  : salep(Na fusidat) dan krim (asam fusidat)

Dosis                : tanpa pembalut/kasa steril : gunakan 3-4x/hari

                          dengan pembalut/kasa steril : gunakan lebih sering lama terapi kurang lebih 7 hari.

Efek samping    : reaksi sensitifitas misalnya ruam kulit, urtikaria, iritasi

Peringatan        : hindari penggunaan pada bagian mata. Penggunaan jangka dapat  meningkatkan resiko sensitisasi kulit dan resistensi bakteri.  Hamil trimester pertama. Bayi baru lahir.

Antibiotik per-oral

Eritromisin

Nama Generik   : Eritromisin

Nama paten      : ERYTHROCIN (Abbott)

Brand name      : Corsatrocin (Corsa).

Indikasi             : infeksi saluran nafas bagian atas dan bawah tonsilitas,  abses peritonsiler, faringitis, laringitis, sinusitis, infeksi sekunder pada  demam dan flu, trakeitis, bronkitis akut dan kronis, pneunomia,  bronkiektaksis. Infeksi telinga: otitis media dan eksternal, mastoiditis.  Infeksi oral : gingivitis, angina vincenti. Infeksi mata: blefaritis.  Infeksi kulit dan jaringan lunak: furunkel dan karbunkel, paronikia,  abses, akne pustularis, impetigo, selulitis, erisipelas.

Kontraindikasi   : hipersensitif terhadap eritromisin, penyakit hati.

Bentuk sediaan  : tablet atau kapsul

Dosis                : dewasa 1-2g/hr tiap 6, 8 atau 12 jam.  Infeksi berat 4g/hr dalam dosis terbagi.

                          Anak 30-50 mg/kgBB/hr tiap 6, 8 atau 12 jam.

                          Bayi-2tahun 125mg 4x/hr,  2-8tahun 250 mg 4x/hr atau 500 mg tiap12jam

                          Sebelum atau pada waktu makan.

Efek samping    : jarang: hepatotoksik, ototoksik.

                         Gangguan GI : mual, muntah, nyeri perut,diare.

                         Urtikaria, ruam dan reaksi alergi lainya.

Peringatan        : gangguan ginjal, gangguan fungsi hati, porfiria,  kehamilan (tidak diketahui efek buruknya)  menyusui (sejumlah kecil masuk ke ASI)

Flukloksasilin

Nama Generik   : flukloksasilin Na monohidrat

Brand name      : FLOXAPEN (GlaxoSmithKline)

Indikasi             : infeksi bakteri gram(+) termasuk yang resisten penisilin.

                          Infeksi karena stapilokokus terutama pada kulit (impetigo, selulitis)

Kontraindikasi   : hipersensitif terhadap penisilin,  bayi yang lahir dari ibu yang hipersensitif penisilin.

Bentuk sediaan  : kapsul (250 mg, 500mg)

Dosis                : dewasa 250-500 mg tiap 8 jam (3x/hr).

                          Anak <2tahun 62,5mg 3x/hr (tiap 8 jam),  2-10tahun 125 mg 3x/hr (tiap 8 jam)

Efek samping    : mual, muntah, nyeri perut, diare.Urtikaria, ruam kulit, kadang terjadi reaksi anafilaktik.

Peringatan        : hipersensitif penisilin, gangguan ginjal, leukimia limfatik.

Daftar pustaka

Anonim, 2000, Informularium Obat Nasional Indonesia, 204-205, 222-223, 416-418, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.

Corwin, Elizabeth, J, 2000, Buku Saku Patofisiologi, 606-607, EGC, Jakarta.

Djuanda, Adhi, 2006, MIMS petunjuk konsultasi, 183, 191, 319, PT. InfoMaster, Jakarta.

Hayes, P.C., Mackay, T.W, 1997, Buku Saku Diagnosis dan Terapi, 393, EGC, Jakarta.

PENGGUNAAN ADSORBEN PADA PENGOBATAN DIARE

oleh : Theresia Dian Pramudita S.Farm  (078115035) 

APA ITU DIARE?

Diare merupakan gangguan pada saluran cerna yaitu ketidaknormalan (pertambahan) frekuensi buang air besar (defekasi) dengan ciri khas konsistensi fesesnya cair. Yang dimaksudkan dengan ketidaknormalan di sini adalah keadaan yang tidak seperti biasanya. Misalnya seseorang biasa buang air besar 3 kali seminggu, pada saat diare orang tersebut bisa buang air besar 3 kali dalam sehari dengan konsistensi yang cair. Di Amerika 16,5 juta anak kurang dari 5 tahun menderita diare dan 300-500 anak meninggal setiap tahunnya karena diare. Di negara berkembang, diare akut membunuh 5000 anak setiap tahunnya. WHO (World Health Organization) memperkirakan bahwa 744 ribu sampai 1 juta kasus diare terjadi pada anak-anak setiap tahunnya. Jadi sebaiknya jangan menyepelekan diare.

APA SAJA PENYEBAB DIARE?

Ada beberapa penyebab diare, yaitu seperti : sanitasi buruk; nutrisi buruk; intoleransi terhadap bahan makanan tertentu, misalnya susu; obat-obatan seperti laksatif/pancahar, antibiotik (Ampicilin), antihipertensi (Reserpine), kolinergik (Metoclopramide), obat kardiovaskular (Digoxin, Digitalis); AIDS-yang dihubungkan dengan diare dan agen penginfeksi:

  1. Bakteri    : Shigella, Salmonella, Eschericia coli, Stephylococcus, Camphylobacter
  2. Protozoa  : Giardialamblia, Cryptosporidia, Entamoeba histoyitica
  3. Virus       : Norwalk, Rotavirus

Penyebab diare tersebut menyebabkan penurunan absorbsi (penyerapan) cairan pada makanan dalam usus dan peningkatan sekresi (pengeluaran) air dan elektrolit. Hal tersebut menyebabkan tinja menjadi cair sehingga terjadilah diare.

APA BEDA ANTARA DIARE AKUT DAN DIARE KRONIS?

Diare Akut:

-Terjadi 72 jam setelah agen diare masuk ke dalam tubuh

-Keluhan yang dialami penderita adalah: feses berair, lemah, perut sakit, seperti kembung, perut bagian bawah tiba-tiba kejang dan berbunyi sebagai tanda adanya gangguan pencernaan

.Diare kronis:

-Terjadi setelah 2-3 kali agen diare menyerang, biasanya terjadi lebih dari 14 hari

-Menyebabkan turunnya berat badan, selalu lesu dan anoreksia (selera makan menurun)

-Demam, yang mengindikasikan bahwa diare disebabkan oleh adanya infeksi

BAGAIMANA PENGOBATAN DIARE?

Karena banyak cairan yang keluar lewat feses, maka keseimbangan cairan dan elektrolit di dalam tubuh menjadi terganggu dan dapat mengakibatkan terjadinya dehidrasi. Diare kronis dapat menyebabkan hilangnya 10% cairan atau lebih dari berat badan. Setelah buang air besar 8-10 kali dalam jangka waktu 24 jam, untuk bayi yang berumur 2 bulan akan kehilangan cairan cukup banyak sehingga dapat menyebabkan gangguan sirkulasi serta kegagalan kerja ginjal.Pengobatan diare mempunyai beberapa tujuan, yaitu: memperbaiki atau mencegah kehilangan cairan dan elektrolit serta gangguan asam dan basa, menghilangkan gejala-gejala yang timbul pada saat diare, mengidentifikasi dan mengobati penyebab diare, dan mengontrol penyakit lain yang juga diderita oleh penderita diare, misalnya diabetes mellitus. Agar pengobatan diare dapat berhasil dengan baik, maka pengobatannya harus tepat pada sasaran. Sasaran yang dituju dalam pengobatan diare yaitu dehidrasi, kehilangan cairan elektrolit, dan hilangnya gejala yang menyertai diare. Pengobatan diare dapat melalui 2 cara, yaitu pengobatan/terapi non farmakologis dan terapi farmakologis. Pada dasarnya untuk mengobati diare, lebih diutamakan terapi non farmakologis seperti dietary management (mengatur pola makan) dan mengatur cairan dan elektrolit dalam tubuh. Yang dimaksud dengan pengaturan pola makan di sini adalah menghentikan sementara (selama 24 jam) konsumsi makanan yang sulit dicerna oleh usus dan produk yang diolah dari susu. Tetapi dari penelitian didapatkan bahwa jika diare yang diderita adalah diare osmotik (karena ada makanan yang tidak dapat terabsorbsi, misalnya susu) maka cara ini dapat mengontrol masalah diare tetapi jika yang diderita adalah diare sekretorik (misalnya karena infeksi bakteri sehingga terjadi peningkatan sekresi/pengeluaran air dan elektrolit) maka cara ini dikatakan tidak dapat mengurangi diare. Untuk pengaturan cairan dan elektrolit dapat dilakukan dengan membuat larutan oralit, caranya adalah dengan mencampurkan 4 pucuk sendok gula dan 1 pucuk sendok garam ke dalam air matang 250 cc. Terapi ini biasa disebut dengan Oral Rehydration Therapy yang sangat dianjurkan sebagai terapi pertama untuk diare terutama bila diare terjadi selama kurang dari 3 hari dan tidak ada tanda demam. Tetapi bila ada tanda demam atau gejala sistemik seperti mual dan muntah, penderita diare dianjurkan untuk melakukan uji laboratorim untuk mengecek ada tidaknya agen penginfeksi seperti virus, parasit dan bakteri. Bila terdapat tanda demam, selain diberikan oralit, penderita juga akan diberikan terapi secara farmakologis. Yang dimaksud dengan terapi farmakologis yaitu terapi dengan menggunakan obat. Jika hasil laboratorium menunjukkan adanya bakteri, penderita akan diberikan antibiotik dan obat penghilang gejala diare. Tetapi bila hasil laboratoriumnya negatif, maka penderita diberikan obat penghilang gejala diare, tidak perlu antibiotik. Terapi farmakologis dapat menggunakan obat-obat seperti antimotilitas, adsorben, antisekretori, dan enzyme. Yang akan dibahas dalam artikel ini adalah adsorben. Adsorben digunakan untuk mengobati gejala yang timbul pada diare (terapi simptomatik). Obat-obat ini tidak membutuhkan resep dokter dan tidak menimbulkan toksik, tetapi keefektifannya masih belum dapat dibuktikan. Aksi kerja dari adsorben sendiri tidak spesifik. Obat ini mengadsobsi nutrien, toxin (racun), obat-obat, dan sari-sari buah yang tercerna. Bila penderita meminum obat ini bersama dengan obat lain maka jumlah obat adsorben dalam darah dapat berkurang. FDA (Food and Drug Administration) merekomendasikan penggunaan polycarbophil atau karboadsorben sebagai adsorben yang efektif. Polycarbophil dapat mengadsobsi 60 kali dibanding beratnya dalam air.Di Indonesia terdapat beberapa adsorben antara lain karboadsorben, attapulgit, kombinasi kaolin dan pektin, kombinasi attapulgit dan pektin. Sediaan generik tidak tersedia.

A. Karboadsorben

-Nama dagang        : Becarbon, Norit

-Indikasi                  : diare, kembung

-Kontraindikasi        : -

-Bentuk sediaan      : Becarbon tablet 250 mg

-Dosis dan aturan pakai       : dewasa 3-4 tablet, anak 1-2 tablet, diberikan 3 kali sehari

-Efek samping         : muntah, konstipasi, feses hitam

B. Attapulgit

-Nama dagang        : Biodiar, Enterogit, Kaotate, New Diatabs, Teradi

-Indikasi                  : terapi simptomatik untuk diare non spesifik (penyebab diare belum pasti) dengan mengabsorbsi toksin dan virus penyebab diare

-Kontraindikasi        : Biodiar, Enterogit: hipersensitif terhadap attapulgit, demam tinggi, stenosis (penyempitan) pada saluran cerna ; Kaotate, New Diatabs: hipersensitif terhadap attapulgit atau salah satu komponen kaotate, pasien yang menderita konstipasi, obstruksi usus.

-Bentuk sediaan      : Biodiar: tablet 630 mg, Enterogit: tablet 750 mg, Kaotate: suspensi 60 ml, New Diatabs: tablet 600 mg, Teradi: tablet 600 mg

-Dosis dan aturan pakai       : Biodiar: dewasa 2 tablet setelah BAB pertama kali, 2 tablet tiap kali setelah buang air besar berikutnya. anak 6-12 th ½ dosis dewasa. Maksimal 6 tablet/hari. Enterogit: 2 tablet 3 kali sehari, maksimal 12 tablet/hari. Hentikan bila tidak ada perbaikan setelah 48 jam. Kaotate: dewasa dan anak>12 th 2 sendok makan setiap setelah BAB, anak 6-12 tahun 1 sendok makan setiap setelah BAB. New Diatabs, Teradi: dewasa dan anak>12th 2 tablet setelah BAB, maksimal 12 tablet/hari, anak 6-12 th 1 tablet setelah BAB, maksimal 6 tablet/hari

-Efek samping         : Teradi: Konstipasi

-Peringatan             : Biodiar, Enterogit :jangan digunakan lebih dari 2 hari atau bila disertai demam tinggi. Tidak untuk anak < 6 th, insufisiensi ginjal berat. Kaotate, New Diatabs: Tidak untuk anak 3-6 th, demam tinggi, jangan digunakan lebih dari 2 hari. Teradi: pasien insufisiensi ginjal berat

C. Kombinasi kaolin dan pektin

-Nama dagang        : Kaopectate, Neo Diaform, Neo Enterostop, Neo Kaocitin, Neo Kaominal

-Indikasi                  : simptomatik diare non spesifik

-Kontraindikasi        : Kaopectate, Neo Diaform: Obstruksi intestinal, hipersensitif terhadap kaolin dan pektin. Neo Enterostop: Konstipasi. Neo kaocitin, Neo Kaominal : obstruksi usus, konstipasi, hipersensitif

-Bentuk sediaan      : Kaopectate: suspensi 120 ml, Neo Diaform, Neo Enterostop: tablet. Neo Kaocitin, Neo Kaominal: suspensi 60 ml

-Dosis dan aturan pakai       : Kaopectate: dewasa 4-8 sendok makan, anak>12th 4 sendok makan, 6-12th: 2-4 sendok makan, 3-6 th: 1 sendok makan. Neo Diaform: dewasa dan anak>12 th: 2,5 tablet tiap diare, maksimal 15 tablet/hari; anak 6-12 th: 1,5 tablet tiap diare maksimal 7,5 tablet/hari. Neo enterostop: dewasa dan anak>12 th 2 tablet tiap BAB maksimal 12 tablet/hari, 6-12 th: 1 tablet tiap BAB, maksimal 6 tablet/hari. Neo Kaocitin: dewasa dan anak>12 th 2 sendok teh tiap BAB maksimal 12 sendok teh/hari, 6-12 th: 1 sendok teh tiap BAB, maksimal 6 sendok teh/hari. Neo Kaominal: dewasa dan anak >12 th 2 sendok makan/hari atau 6 sendok teh (30 ml)/hari maksimal 12 sendok makan/hari atau 36 sendok teh/hari, 6-12 th:1 sendok makan/hari atau 18 sendok teh/hari.-Efek samping         : Neo Enterostop: bila dalam dosis tinggi dapat menimbulkan fekalit (konkresi intestinal yang terbentuk di sekitar feses)

-Peringatan             : Kaopectate: jangan digunakan lebih dari 2 hari, pasien demam, anak< 3th. Neo Diaform: jangan digunakan lebih dari 2 hari, pasien demam, anak < 6th. Neo Enterostop: sebaiknya jangan digunakan pada anak < 6 th. Neo Kaocitin: pasien demam, anak<6 th. Neo Kaominal: anak 3-6 th, demam tinggi, jangan digunakan lebih dari 2 hari

D. Kombinasi attapulgit dan pektin

-Nama dagang        : Akita, Arcapec, Diagit, Entrogard, Licopec, Neo Koniform-Indikasi                  : Pengobatan diare non spesifik

-Kontraindikasi        : Akita, Diagit, Entrogard, Licopec: pasien konstipasi, obstruksi usus, hipersensitif terhadap obat ini. Arcapec: konstipasi. Neo Koniform:  stenosis pada saluran cerna, demam.

-Bentuk sediaan      : Akita:tablet, Arcapec: tablet dan suspensi kering, Entrogard: tablet, Licopec, Neo Kaominal: kaplet

-Dosis dan aturan pakai       : Akita, Diagit, Entrogard: dewasa dan anak >12th 2 tablet/kaplet sesudah diare pertama lalu 2 tablet tiap kali sesudah BAB maksimal 12 tablet/kaplet/, 6-12 th: ½ dosis dewasa , maksimal 6 tablet/kaplet/hari. Arcapec: dewasa dan anak >12 th 2 tablet/sendok teh sesudah diare pertama maksimal 12 tablet/sendok teh/hari, 6-12 th 1 tablet/sendok teh setelah diare , maksimal 6 tablet/sendok teh/hari. Neo Koniform: dewasa dan anak >12 th 2 kaplet tiap kali BAB maksimal 12 kaplet/hari, 6-12 th 1 kaplet/hari maksimal 6 kaplet.

-Efek samping         : Akita, Licopec: konstipasi, Arcapec: fekolit (dalam dosis besar), Entrogard: konstipasi, impaksi feses (dalam dosis besar)

-Peringatan: Akita,Entrogard: tidak untuk anak < 6 th, demam tinggi, dehidrasi. Diagit: jangan diberikan lebih dari 2 hari, demam tinggi, anak < 6 th, hamil dan menyusui. Licopec: insufisiensi ginjal, anak < 3 th, demam tinggi, jangan diberikan lebih dari 2 hari. Neo Koniform: obstruksi usus.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2000, Informatorium Obat Nasional Indonesia (IONI), DepKes RI, Jakarta, hal. 26,27.

Anonim, 2006, MIMS Indonesia Petunjuk Konsultasi, Edisi 6 2006/2007, Jakarta, PT. Info Master dan CMP Medika, Hal.25-28.

Spruil, W.J. and Wade,W.E., 2005, Pharmacotherapy:A Pathophysiologic Approach, 6th Edition, Mc Graw Hill Medical Publishing Division, New York, 677-684.

Kasper, D.L., 2005, Harrison’s Manual of Medicine, Mc Graw Hill Medical Publishing Division, New York, 208-212.

PENGGUNAAN β-BLOCKER PADA ANGINA PECTORIS

oleh : Alfonsia Purnamasari, S.Farm / 078115002

Angina pectoris merupakan gejala kompleks yang dikarenakan myocardial ischemia. Gejala yang umum muncul sejenis sakit dada pada pasien dengan penyakit jantung koroner atau dalam istilah medis untuk nyeri dada atau ketidaknyamanan karena penyakit jantung koroner, yang merupakan suatu gejala pada sebuah kondisi yang disebut miokardial iskemik yaitu ketidakseimbagnan antara suplai darah ke otot jantung (miokardial) dan kebutuhan oksigen.Penyebab angina biasanya dikarenakan kerusakan arteri koroner yang diakibatkan atherosclerosis. Kejang (idiopatik atau yang diakibatkan oleh kokain) atau emboli koroner mungkin juga bias menjadi faktor penyebab namun jarang. Angina pectoris merupakan manifestasi klinis yang paling umum dari myocardial ischemia. Angina pectoris terjadi saat kerja jantung dan kebutuhan oksigen di miokardial melebihi kemampuan arteri koroner untuk mensuplai oksigen darah. Adanya peningkatan dari detak jantung, tekanan sistolik atau tekanan arteri mengakibatkan berkurangnya aliran darah koroner sehingga memicu terjadinya angina.Angina merupakan gejala atau gabungan gejala-gejala dan bukan suatu penyakit. Ciri khas angina adalah adanya tekanan yang tidak nyaman (uncomfortable pressure), squeezing (diremas-remas) atau nyeri pada dada bagian tengah, mersa sesak, terbakar atau terasa berat. Ketidaknyamanan juga terasa pada leher, rahang, bahu, punggung atau lengan. Intensitas rasa sakit yang dirasakan dari ringan sampai berat. Hal ini disebabkan karena penurunan suplai darah miokardial, peningkatan gerakan ekstravaskuler seperti pembengkakan ventrikel kiri yang dikarenakan hipertensi, aortic stenosis atau hypertropic cardiomyopathy atau meningkatkan tekanan diastolic, penurunan kapasitas darah dalam membawa oksigen (seperti anemia), kelainan congenital dari arteri koroner epikardial utama, kelainan structural dari arteri koroner.

Secara umum beberapa penyakit ischemia tidak menyebabkan gejala angina (silent ischemia), pasien sering mengalami nyeri berulang atau gejala lainnya yang tampak setelah beraktivitas, peningkatan frekuensi rasa sakit yang hebat, durasi dan gejala pada saat beristirahat (unsable angina). Gejala-gejala klinik seperti rasa ditekan/terbakar melewati tulang dada, sering tapi tidak selalu menjalar ke rahang kiri, bahu, lengan, dada kencang dan nafas pendek, nyeri biasanya berlangsung 30 menit. Faktor lain yang dapat memacu timbulnya gejala yaitu olahraga, lingkungan yang dingin, emosi meningkat, berkelahi, marah dan hubungan seksual. Tanda-tanda klinik yaitu precordial tidak normal, pembengkakan sistolik dan irama jantung tidak normal. Tes fisik angina meliputi tes jantung, evaluasi hiperlipidemia, hipertensi, penyakit vascular peripheral, CHF (congestive heart failure), anemia dan penyakit tiroid. Tes laboratorium meliputi elektrokardiogram dan tes profil lipid. Penelitian lebih lanjut mencakup chest films, hemoglobin dan tes untuk diabetes, fungsi tiroid dan fungsi ginjal. Angina pectoris dapat diobati dengan obat yang dapat mempengaruhi suplai darah ke otot jantung atau yang dapat memenuhi kebutuhan oksigen di jantung dan keduanya. Obat yang dapat mensuplai darah sebagai vasodilator koroner, menyebabkan pembuluh darah relaksasi. Nitrogliserin adalah obat yang paling sering digunakan. Obat β-bloker dan calcium antagonis digunakan untuk efek menurunkan tekanan darah, yaitu dengan mengurangi kerja jantung dan kebutuhan oksigen. Outcome terapi ini adalah mengurangi atau mencegah terjadinya gejala angina.

Tujuan terapinya adalah menghilangkan rasa nyeri dan sesak pada dada, menurunkan heart rate, kontraktilitas jantung, mencegah terjadinya CHD (coronary heart disease) seperti MI (myocardiac infrac), aritmia, gagal jantung, dan meningkatkan kualitas hidup. Sasaran terapi ini adalah heart rate. Strategi terapi farmakologis untuk angina pectoris secara umum adalah aspirin, β-bloker dengan prioritas MI, inhibitor ACE untuk pasien dengan CAD (penyakit arteri koroner) dan diabetes atau disfungsi sistole LV, terapi untuk menurunkan LDL dengan CAD dan LDL konsentrasi >130 mg/dl (catatan: diturunkan sampai kurang dari 100 mg/dl), nitrogliserin sublingual untuk pertolongan cepat untuk angina, calcium antagonist / long-acting nitrat untuk mengurangi gejala jika kontraindikasi β-bloker, calcium antagonist / long-acting nitrat dikombinasikan dengan β-bloker jika pengobatan utama dengan β-bloker tidak berhasil, calcium antagonist / long-acting nitrat sebagai pengganti β-bloker jika pengobatan utama dengan β-bloker mempunyai efek samping yang tidak dapat diterima. Sedangkan terapi nno farmakologisnya adalah melakukan olahraga secara teratur dan menghindarkan atau mengurangi faktor resiko seperti merokok. β-bloker merupakan satu-satunya obat antiangina untuk memperpanjang hidup pasien dengan penyakit koroner (post myocardial infrac) dan digunakan sebagai first line pada pasien dengan choric angina.Obat pilihan β-bloker memiliki indikasi yaitu hipertensi, angina dan aritmia. Mekanisme β-bloker adalah β-bloker (beta-adrenoreseptor blocking agent) menghambat secara kompetitif aksi dari katekolamin pada bagian reseptor β1-adrenergik, dimana berperan sebagai mediator dalam sirkulasi katekolamin. Penghambatan secara kompetitif ada aksi katekolamin akan meminimalkan pengaruh pada tingkat kronotropik (kontraksi otot) dan inotropik dari miokardium. Efek yang menguntungkan dengan β-bloker yaitu meningkatkan ventrikular volume dan waktu pengeluaran. Efek β-bloker secara keseluruhan pada pasien angina adalah mengurangi kebutuhan akan oksigen. Salah satu alasan tidak dilanjutkan terapi dengan β-bloker berhubungan dengan adverse effect pada susunan saraf pusat, misalnya fatigue (kurang tenaga/kurang responsif), malaise (rasa gelisah), dan depresi. Farmakokinetika yang berhubungan dengan β-bloker meliputi waktu paro (half-life time) dan rute eliminasi. Obat yang memiliki waktu paro lebih panjang membutuhkan frekuensi dosis yang lebih kecil dibanding obat dengan waktu paro lebih pendek, bagaimanapun juga adanya perbedaan antara waktu paro dan durasi dari aksi β-bloker (contoh metoprolol). Disfungsi pada renal dan hepar mempengaruhi disposisi dari β-bloker, tetapi β-bloker berefek sebagai haemodinamik atau simptomatik, selain itu rute eliminasi bukan pertimbangan utama dalam pemilihan obat. Adanya resiko timbulnya gagal jantung, hipotensi berat, asistol bila β-bloker dan verapamil (antiaritmia) digunakan bersama pada penyakit jantung iskemik, kecuali jika fungsi miokardium terpelihara dengan baik. β-bloker dihindarkan pada pasien dengan riwayat asma / penyakit paru obstruktif menahun, hipoglikemia yang sering, IDDM (insulin-dependent diabetes melitus). Tidak boleh diberikan pada pasien yang baru mulai gagal jantung atau pasien dengan blok AV derajat dua atau tiga (non-selective beta-blocker). Putus obat yang mendadak dapat menyebabkan memburuknya angina. Karena itu bila β-bloker akan dihentikan lebih baik dilakukan dengan cara pengurangan dosis sedikit demi sedikit.β-bloker dibagi menjadi 2 jenis yaitu non selektif β-bloker dan cardioselektif β-bloker. Berikut adalah contoh obat non selektif β-bloker dan cardioselektif β-bloker:

Non selektif β-bloker§

Propanolol

Nama Generik: Propanolol tablet 10mg, 40mg.

Nama Dagang: Farmadral ® (Fahrenheit) tablet 10mg, Inderal® (Astra Zaneca) tablet 10mg, 40mg.

Indikasi: Hipertensi, feokromositoma, angina, aritmia, kardiomiopati obstruktif hipertropik, takikardi ansietas dan tirotoksikosis (tambahan), profilaksis setelah IM, profilaksis migran dan tremor esensial.

Kontraindikasi: Asma atau riwayat penyakit paru obstruktif, gagal jantung yang tidak terkendali, bradikardi yang nyata, sindrom penyakit sinus, blok AV 2 atau 3, syok karsinogenik, feokromositoma.

Efek samping: Bradikardi, gagal jantung, gangguan konduksi, bronkospasme, vasokontriksi perifer, gangguan saluran cerna, fatigue, gangguan tidur, jarang ruam kulit dan mata kering (reversible bila obat dihentikan), eksaserbasi psoriasis.

Peringatan: Faktor resiko kehamilan C dan D (untuk trimeseter 2 dan 3), menyusui, hindari putus obat yang mendadak apda angina, kurangi dosis oral propanolol pada penyakit hati, memburuknya fungsi hati pada hipertensi portal, kurangi dosis awal pada gangguan ginjal, diabetes, miastemia grais, pada anafilaksis respons terhadap adrenalin berkurang.

Dosis dan aturan pakai: Angina dosis awal 40mg 2-3 kali sehari, dosis pemeliharaan 120-240mg sehari. Bentuk sediaan obat : Tablet.

Asebutolol

Nama Generik: —-

Nama Dagang: Sectral® (Aventis) tablet 400mg, Sectrazide® (Aventis).

Indikasi : Hipertensi, angina, aritmia.

Kontraindikasi: Asma atau riwayat penyakit paru obstruktif, gagal jantung yang tidak terkendali, bradikardi yang nyata, sindrom penyakit sinus, blok AV 2 atau 3, syok karsinogenik, feokromositoma.

Efek samping:Bradikardi, gagal jantung, gangguan konduksi, bronkospasme, vasokontriksi perifer, gangguan saluran cerna, fatigue, gangguan tidur, jarang ruam kulit dan mata kering (reversible bila obat dihentikan), eksaserbasi psoriasis.

Peringatan: Faktor resiko kehamilan C dan D (untuk trimeseter 2 dan 3), menyusui.

Dosis dan aturan pakai: Angina dosis awal 400mg 1 kali sehari atau 200mg 2 kali sehari, 300mg 3 kali sehari pada angina berat sampai 1,2g sehari.

Bentuk sediaan obat: Tablet.

Cardioselektif β-bloker

Metoprolol

Nama Generik: ——

Nama Dagang: Seloken ® (Sastra Zaneca) 50mg, 100mg, Lopresor ® (Sandos) 100mg.

Indikasi: Hipertensi, angina, aritmia, profilaksis migran, tiroroksikosis.

Kontraindikasi: Asma atau riwayat penyakit paru obstruktif, gagal jantung yang tidak terkendali, bradikardi yang nyata, sindrom penyakit sinus, blok AV 2 atau 3, syok karsinogenik, feokromositoma.

Efek samping: Bradikardi, gagal jantung, gangguan konduksi, bronkospasme, vasokontriksi perifer, gangguan saluran cerna, fatigue, gangguan tidur, jarang ruam kulit dan mata kering (reversible bila obat dihentikan), eksaserbasi psoriasis.

Peringatan: Faktor resiko kehamilan C dan D (untuk trimeseter 2 dan 3), menyusui, kurangi dosis pada gangguan hati.

Dosis dan aturan pakai: Angina 50-100mg 2-3 kali sehari.

Bentuk sediaan obat: Tablet.

Atenolol

Nama Generik: —-

Nama Dagang: Betablok ® (Kalbe Farma) 50mg, 100mg, Farnomin ® (Fahrenheit) 50mg, Hiblok ® (Nufarindo) 50mg, Internolol ® (Interbat) 50mg, 100mg, Tenormin ® (Sastra Zaneca) 50mg, 100mg, Tensinorm ® (Medicon Prima) 50mg, 100mg, Zumablok ® (Sando) 50mg, 100mg.

Indikasi : Hipertensi, angina, aritmia.

Kontraindikasi: Asma atau riwayat penyakit paru obstruktif, gagal jantung yang tidak terkendali, bradikardi yang nyata, sindrom penyakit sinus, blok AV 2 atau 3, syok karsinogenik, feokromositoma.

Efek samping: Bradikardi, gagal jantung, gangguan konduksi, bronkospasme, vasokontriksi perifer, gangguan saluran cerna, fatigue, gangguan tidur, jarang ruam kulit dan mata kering (reversible bila obat dihentikan), eksaserbasi psoriasis.

Peringatan: Faktor resiko kehamilan C dan D (untuk trimeseter 2 dan 3), menyusui, kurangi dosis pada gangguan ginjal.

Dosis dan aturan pakai: Angina 100mg sehari dalam 1 atau 2 dosis.

Bentuk sediaan obat: Tablet.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2000, IONI (Informatorium Obat Nasional Indonesia) 2000, DepKes RI, Direktorat Jendral Pengawasan Obat dan Makanan, Sagung Seto: Jakarta.

Anonim, 2007, ISO (Informasi Spesialite Obat Indonesia) Volume 42, Penerbit Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia, PT Ikrar Mandiri: Jakarta.

Chan, Paul., et.all., 2005, Out Patient and Primary Care Medicine 2005 edition, ALguna Hills: California.

Lacy, Charles.F., et all, 2006, Drug Information Hanbook 14th edition, Lexi Company: USA.

Tierney, Lawrence M., et all, 2006, Current Medical Diagnosis and Treatment 45th edition, Mc Graw-Hill Companies: USA.

PENGOBATAN TUBERKULOSIS PARU PADA PASIEN DM

PENGOBATAN TUBERKULOSIS PARU PADA PASIEN DM

Oleh : Nugraheni Angger U., S.Farm

078115023

 

 

Tuberkulosis paru merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberkulosis. Pada pengobatan tuberkulosis paru ketepatan pengobatan suatu hal yang penting dalam proses penyembuhan, yang meliputi tepat indikasi, tepat pasien, tepat obat dan pemberian, tepat dosis serta waspada efek samping. Hal tersebut berperan dalam mencegah resistensi bakteri tuberkulosis, menghambat penularan, dan mengurangi angka kematian. Gejala tuberkulosis paru adalah batuk lebih dari 4 minggu dengan atau tanpa sputum (dahak), malaise (berupa anoreksia tidak ada nafsu makan, badan semakin kurus, sakit kepala , nyeri otot, dan keringat malam), demam derajat rendah, nyeri dada dan batuk darah.

Sasaran, Tujuan dan Strategi Terapi

Sasaran pengobatan tuberkulosis paru adalah meringankan tanda dan gejala tuberkulosis paru serta membunuh dan membersihkan Mycobacterium tuberculosis. Pengobatan tuberkulosis paru ini mempunyai tujuan antara lain mengidentifikasi secara cepat kasus baru tuberkulosis paru, mengisolasi pasien yang positif menderita tuberkulosis paru untuk mencegah penyebaran penyakit, mengatasi secara cepat tanda dan gejala yang muncul, meningkatkan kepatuhan pasien selama pengobatan, serta menyembuhkan pasien secepat mungkin (umumnya setelah 6 bulan pengobatan) dengan tidak mempengaruhi penggunaan obat oral anti diabetes. Pasien tuberkulosis paru dapat dikelompokkan menjadi 4 kategori yaitu kategori 1, kategori 2, kategori 3, dan sisipian. Kategori 1 adalah penderita baru tuberkulosis paru dengan hasil test Bakteri Tahan Asam (BTA) positif, penderita tuberkulosis paru BTA negatif rontgen positif sakit berat, dan penderita tuberkulosis ekstra paru berat. Kategori 2 adalah pasien tuberkulosis paru kambuh, penderita gagal, dan penderita dengan pengobatan setelah lalai. Kategori 3 adalah penderita baru BTA negatif dan rontgen positif sakit ringan, serta pada penderita ekstra paru ringan. Pasien yang tergolong kategori sisipan apabila pada akhir tahap intensif pengobatan baik pada penderita kategori 1 atau kategori 2, dimana hasil pemeriksaan BTA masih positif. Agar pengobatan tuberkulosis menjadi optimal maka strategi pengobatan meliputi pengobatan non farmakologis dan pengobatan farmakologis (dengan pemberian kombinasi Obat Anti Tuberkulosis). Pengobatan non farmakologis meliputi minum susu kambing ataupun susu sapi, olah raga secara teratur, menghindari kontak langsung dengan pasien tuberkulosis, istirahat yang cukup, pola makan yang benar, dan rajin mengontrol kadar gula darah. Sedangkan pengobatan farmakologisnya dengan menggunakan kombinasi Obat Anti Tuberkulosis (OAT) yaitu isoniazid, rifampisin, pirazinamid, etambutol dan streptomisin.

Pengobatan tuberkulosis paru diberikan dalam dua tahap, yaitu tahap intensif dan tahap lanjutan. Pada tahap intensif penderita mendapat OAT selama 2 bulan, apabila hasil pemeriksaan BTA pada akhir tahap ini negatif, maka dapat dilanjutkan dengan pengobatan tahap lanjutan tetapi jika hasil pemeriksaan BTA masih positif maka diberikan tahap sisipan terlebih dahulu sebelum masuk ke tahap lanjutan. Pasien dengan kategori 1, pada tahap intensif akan mendapat kombinasi Obat Anti Tuberkulosis yaitu isoniazid, rifampisin, pirazinamid, dan etambutol selama 2 bulan diberikan setiap hari, pada tahap lanjutan yaitu isoniazid, rifampisin diberikan 3 kali dalam seminggu selama 4 bulan. Pasien dengan kategori 2, pada tahap intensif mendapat OAT selama 3 bulan yang terdiri dari 2 bulan dengan isoniazid, rifampisin, pirazinamid, etambutol, dan suntikan streptomisin diberikan setiap hari, serta 1 bulan dengan isoniazid, rifampisin, pirazinamid, dan etambutol diberikan setiap hari. Setelah tahap intensif, diteruskan dengan tahap lanjutan selama 5 bulan dengan kombinasi OAT isoniazid, rifampisin, dan etambutol diberikan 3 kali dalam seminggu. Pasien tuberkulosis paru dengan kategori 3 pada tahap intensif mendapat kombinasi OAT isoniazid, rifampisin, dan pirazinamid diberikan setiap hari selama 2 bulan. Setelah tahap intensif, diteruskan tahap lanjutan dengan kombinasi OAT isoniazid dan rifampisin diberikan 3 kali dalam seminggu selama 4 bulan. Pada tahap sisipan akan mendapat kombinasi OAT isoniazid, rifampisin, pirazinamid, dan etambutol diberikan setiap hari selama 1 bulan.

Pengobatan tuberkulosis paru pada pasien yang menderita Diabetes Mellitus (DM), selama menjalani pengobatan tuberkulosis harus rajin mengontrol kadar gula darahnya karena penggunaan rifampisin sebagai Obat Ant Tuberkulosis (OAT) akan mengurangi efektifitas obat oral anti diabetes (Sulfonil urea) sehingga dosis obat oral anti diabetes perlu ditingkatkan. Pada pasien yang menderita DM dalam penggunaan etambutol harus hati-hati karena penggunaan etambutol mempunyai komplikasi terhadap mata, dimana penglihatan menjadi berkurang. Gangguan penglihatan ini akan kembali normal dalam beberapa minggu setelah OAT dihentikan.

Obat pilihan

  1. isoniazid

    Nama generik : isoniazid

    Nama dagang : inoxin®, kapedoxin®, pulmolin®, suprazid®

    Indikasi : tuberkulosis dalam kombinasi dengan obat lain

    Kontra-indikasi : penyakit hati yang aktif

    Bentuk sediaan : tablet

    Dosis dan aturan pakai : dewasa : 5 mg/kg per hari (dosis yang biasanya 300 mg/hari), 10 mg/kg/hari 3 kali seminggu atau 15 mg/kg 2 kali seminggu (maksimal 900 mg)

    Anak : 10-15 mg/kg/hari dalam 12 dosis terbagi (maksimal 300 mg/hari), 20-30 mg/kg 3 kali seminggu (maksimal 900 mg)

    Efek samping : mual, muntah, konstipasi, neuritis perifer, dengan dosis tinggi, neuritis optic, kejang, episode psikosis, vertigo, reaksi hipersensitif seperti demam, eritema multiforme, purpura, agranulositosis, anemia hemolitik, anemia aplastik, hepatitis (terutama pada usia lebih dari 35 tahun), sindrom Sistemik Lupus Eritema, elagra, hiperrefleksia,hiperglikemia dan ginekomastia

    Resiko khusus : kelainan fungsi hati

    Pemberian Isoniazid selalu disertai dengan pemberian piridoksin (Vitamin B6)

  2. pirazinamid

    Nama generik : pirazinamid

    Nama dagang : corsazinamid®, prazina®, sanazet®, TB Zet®

    Indikasi : tuberkulosis dalam kombinasi dengan obat lain

    Kontra-indikasi : porfiria gangguan fungsi hati berat, hipersensitifitas terhadap pirazinamid

    Bentuk sediaan : tablet

    Dosis dan aturan pakai : dewasa : 15-30 mg/kg/hari, 50 mg/kg dua kali seminggu, 25-30 mg/kg ( maksimal 2,5 g) 3 kali seminggu.

    anak : 15-30 mg/kg/hari (maksimal 2 g/hari), 50 mg/kg/dosis 2 kali seminggu (maksial 4 g/dosis)

    Efek samping : hepatotoksisitas termasuk demam, anoreksia, hepatomegali, splenomegali, jaundice, kerusakan hati, mual, muntah, urtikaria, artralgia, anemia sideroblastik.

    Resiko khusus : kelainan hati kronik

  3. rifampisin

    Nama generik : rifampisin

    Nama dagang : lanarif®, medirif®, rifabiotic®, rimactane®, rifamtibi®, rifacin®

    Indikasi : bruselosis, legionelosis, infeksi berat stafilokokus kombinasi dengan obat lain. Tuberkulosis dalam kombinasi dengan obat lain

    Kontra-indikasi : jaundice

    Bentuk sediaan : kapsul, kaptab

    Dosis dan aturan pakai : 10 mg/kg (8-12 mg/kg) per hari, maksimal 600 mg/hari 2 atau 3 kali seminggu

    Efek samping : gangguan saluran cerna seperti anoeksia, mual, muntah, sakit kepala, pada terapi interminten dapat terjadi sindrom influenza, gangguan respirasi (nafas pendek), kolaps dan syok, anemia hemolitik, gagal ginjal akut, purpura, trobositopenia, gangguan funsgsi hati, jaundice, kemerahan, urtikaria, ruam. Efek samping yang lain : udem, kelemahan otot, miopati, lekopenia, eosinofilia, gangguan menstruasi, warna kemerahan pada urin, saliva dan cairan tubuh lainnya, tromboplebtis pada pemberian per infus jangka panjang

    Resiko khusus : wanita pengguna kontrasepsi, penderita Diabetes Mellitus

  4. etambutol

    Nama generik : etambutol

    Nama dagang : bacbutol®, corsabutol®, parabutol®

    Indikasi : tuberkulosis dalam kombinasi dengan obat lain

    Kontra-indikasi : anak di bawah 6 tahun, neurotis optik, gangguan penglihatan

    Bentuk sediaan : tablet

    Dosis dan aturan pakai : dewasa : 15-25 mg/kg/hari, 50 mg/kg 2 kali seminggu, 25-30 mg/kg 3 kali seminggu

    anak (di atas 6 tahun) : 15-20 mg/kg/hari (maksimal 1 g/hari), 50 mg/kg 3 kali seminggu (maksimal 4 g/dosis)

    Efek samping : neuritis optic, buta warna merah/hijau, neuritis perifer

    Resiko khusus : kelainan ginjal

  5. streptomisin

    Nama generik : streptomisin

    Nama dagang : streptomisin sulfat meiji®

    Indikasi : tuberkulosis dalam kombinasi dengan obat lain

    Kontra-indikasi : hipersensitif terhadap aminoglikosida

    Bentuk sediaan : serbuk injeksi 1g/vial, 5 g/vial

    Dosis dan aturan pakai : dewasa : 15 mg/kg/hari (maksimal 1g), 25-30 mg/kg 2 kali seminggu (maksimal 1,5g), 25-30 mg/kg 3 kali seminggu (maksimal 1g)

    anak : 20-40 mg/kg/hari (maksimal 1 g/hari), 20-40 mg/kg 2 kali seminggu (maksimal 1 g), 25-30 mg/kg 3 kali seminggu)

    Efek samping : ototoksisitas, nefrotoksisitas yang biasanya terjadi pada orang tua atau gangguan fungsi ginjal

    Resiko khusus : wanita hamil, kelainan ginjal

Daftar Pustaka

Anonim, 2001, Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis, Cetakan Ke-6, 1-45, Departemen Kesehatan Replubik Indonesia, Jakarta.

Anonim, 2006, British National Formulary, edisi 52, 303-307, British Medical Association, Royal Pharmaceutical Society of Great Britain, London.

              Anonim, 2007, MIMS, Volume 8, 309-315, PT Info Master, Jakarta.

Lacy, C.F., Armstrong, L.L., Goldman, M.P., and Lance, L.L., 2006, Drug Information Handbook, 14th Ed.,593, 868, 1353, 1394-1397, 1484 , Lexicomp, Inc., USA

 

 

PENGGUNAAN FENITOIN PADA EPILEPSI

PENGGUNAAN FENITOIN PADA EPILEPSI

Anastasia Yuli Ekasaptawati, S. Farm

078115003

 

Epilepsi adalah sebuah kondisi otak yang dicirikan dengan kerentanan untuk kejang berulang (peristiwa serangan berat, dihubungkan dengan ketidaknormalan pengeluaran elektrik dari neuron pada otak). Kejang merupakan manifestasi abnormalitas kelistrikan pada otak yang menyebabkan perubahan sensorik, motorik, tingkah laku. Penyebab terjadinya kejang antara lain trauma terutama pada kepala, encephalitis (radang otak), obat, birth trauma (bayi lahir dengan cara vacuum-kena kulit kepala-trauma), penghentian obat depresan secara tiba-tiba, tumor, demam tinggi, hipoglikemia, asidosis, alkalosis, hipokalsemia, idiopatik. Sebagian kecil disebabkan oleh penyakit menurun. Kejang yang disebabkan oleh meningitis disembuhkan dengan obat anti epilepsi, walaupun mereka tidak dianggap epilepsi.

Menurut International League Against Epilepsy (ILAE), kejang dapat dikategorikan menjadi 2 kelompok utama yaitu kejang parsial (Partial seizures) dan kejang keseluruhan (Generalized seizures). Kejang sebagian dibagi lagi menjadi kejang parsial sederhana dan kejang parsial kompleks. Sedangkan kejang keseluruhan dikelompokkan menjadi petit mal seizures (Absence seizures); atypical absences; myoclonic seizures; tonic clonic (grand mal) seizures; tonic, clonic, atonic seizures.

Mekanisme terjadinya serangan epilepsi (kejang) adalah karena adanya sekelompok neuron yang mudah terangsang membentuk suatu satuan epileptik fungsional yang disebut fokus. Adanya muatan yang bersama-sama memasuki neuron-neuron tersebut menyebabkan terjadinya sinkronisasi. Sinkronisasi meupakan syarat terjadinya serangan. Jika banyak terjadi sinkronisasi (hipersinkronisasi) maka akan terjadi penyebaran rangsangan ke daerah-daerah lain di otak, akibatnya terjadi kejang.

 

SASARAN, TUJUAN DAN STRATEGI TERAPI

Sasaran terapi pada epilepsi yaitu menstabilkan membran saraf dan mengurangi aktifitas kejang dengan meningkatkan pengeluaran atau mengurangi pemasukan ion Na+ yang melewati membran sel pada kortek selama pembangkitan impuls saraf. Tujuan terapinya yaitu membuat penderita terbebas dari serangan, khususnya serangan kejang, sedini/seawal mungkin tanpa mengganggu fungsi normal susunan saraf pusat agar penderita dapat menunaikan tugasnya tanpa adanya gangguan.
Strategi terapi untuk epilepsi yaitu menggunakan terapi non farmakologis dan terapi farmakologis. Terapi non farmakologi bisa dengan melakukan diet, pembedahan dan vagal nerve stimulation (VNS), yaitu implantasi dari perangsang saraf vagal, makan makanan yang seimbang (kadar gula darah yang rendah dan konsumsi vitamin yang tidak mencukupi dapat menyebabkan terjadinya serangan epilepsi), istrirahat yang cukup karena kelelahan yang berlebihan dapat mencetuskan serangan epilepsi, belajar mengendalikan stress dengan menggunakan latihan tarik nafas panjang dan teknik relaksasi lainnya. Sedangkan untuk terapi farmakologis yaitu dengan menggunakan Obat Anti Epilepsi (OAE). Pengobatan dilakukan tergantung dari jenis kejang yang dialami. Pemberian obat anti epilepsi selalu dimulai dengan dosis yang rendah, dosis obat dinaikkan secara bertahap sampai kejang dapat dikontrol atau tejadi efek kelebihan dosis. Pada pengobatan kejang parsial atau kejang tonik-klonik rata-rata keberhasilan lebih tinggi menggunakan fenitoin, karbamazepin, dan asam valproat. Pada sebagian besar pasien dengan 1 tipe/jenis kejang, kontrol memuaskan dapat dicapai dengan 1 obat anti epilepsi. Pengobatan dengan 2 macam obat mungkin ke depannya mengurangi frekuensi kejang, tetapi biasanya toksisitasnya lebih besar. Pengobatan dengan lebih dari 2 macam obat, hampir selalu membantu penuh kecuali kalau pasien mengalami tipe kejang yang berbeda.


OBAT PILIHAN

Obat pilihannya yaitu Fenitoin.

Nama generik: Phenytoin kapsul 100 mg; 300 mg.

Nama dagang:

Dilantin®, tablet 50 mg; kapsul 100 mg; cairan injeksi 50mg/ml

Ikaphen®, kapsul 100 mg; injeksi 50 mg/ml.

Kutoin-100®, kapsul 100 mg; ampul 100 mg/2 ml

Movileps®, tablet 50 mg; kapsul 100 mg

Phenilep® , kapsul 100 mg

Phenytoin Ikapharmindo®, kapsul 100 mg; ampul 200 mg/2 ml

Zentropil®, kapsul 100 mg

 

Indikasi:

Semua jenis epilepsi, kecuali petit mal; status epileptikus; trigeminal neuralgia jika karbamazepin tidak tepat digunakan.

Kontra-indikasi:

Gangguan hati, hamil, menyusui, penghentian obat mendadak; hindari pada porfitia.

 

 

 

 

Dosis:

Status epileptikus: i.v:

Bayi dan anak: dosis awal 15-20 mg/kg pada dosis tunggal atau dosis terbagi; dosis pemeliharaan: awal: 5 mg/kg/hari pada 2 dosis terbagi; dosis biasa:

5 bulan-tahun: 8-10 mg/kg/hari

4-6 tahun: 7,5-9 mg/kg/hari

7-9 tahun: 7-8 mg/kg/hari

10-16 tahun: 6-7 mg/kg/hari, beberapa pasien mungkin membutuhkan setiap 8 jam.

Dewasa:dosis awal:15-25 mg/kg; dosis pemeliharaan: 300 mg/hari atau 5-6 mg/kg/hari pada 3 dosis terbagi atau 1-2 dosis terbagi untuk pelepasan bertahap.

Antikonvulsi: anak-anak dan dewasa: oral

Dosis awal: 15-20 mg/kg; tergantung pada konsentrasi serum fenitoin dan riwayat dosis sebelumnya. Pemberian dosis awal oral pada 3 dosis terbagi diberikan setiap 2-4 jam untuk mengurangi efek yang tidak dinginkan pada saluran pencernaan dan meyakinkan bahwa dosis oral terabsorpsi sepenuhnya.; dosis pemeliharaan sama seperti i.v

Pembedahan saraf (profilaksis):
100-200 mg pada kira-kira interval 4 jam selama pembedahan dan selama periode setelah pembedahan.

Penyesuaian dosis pada kerusakan ginjal atau penyakit hepar: aman pada dosis biasanya untuk penyakit hepar ringan. Level fenitoin bebas harus dimonitor.

Efek samping:

Gangguan saluran cerna, pusing, nyeri kepala, tremor, insomnia, neuropati perifer, hipertrofi gingiva, ataksia, bicara tak jelas, nistagmus, penglihatan kabur, ruam, akne, hirsutisme, demam, hepatitis, lupus eritematosus, eritema multiform, efek hematologik (leukopenia,trombositopenia, agranulositosis).

Resiko khusus:

Hamil dan menyusui. Selama kehamilan, kadar plasma total obat antiepilepsi (terutama fenitoin) menurun, tapi kadar obat bebas dalam plasma tetap sama. Terdapat kenaikan resiko teratogenik pada penggunaan obat antiepilepsi. Karena itu perlu dilakukan pemantauan oleh spesialis terkait. Dianjurkan untuk memberi asam folat 5 mg/hari untuk mengantisipasi terjadinya kelainan neural tube. Untuk mengantisipasi terjadinya pendarahan neonatal, yang berkaitan dengan pemberian fenitoin, dapat diberi vitamin K pada ibunya. Ibu yang menyusui dapat terus mendapat obat antiepilepsi, dengan perhatian khusus.

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Anonim, 2000, Informatorium Obat Nasional Indonesia, 153-154, Depkes RI, Jakarta,

Anonim, 2006, British National Formulary, edisi 52, 246-247, British Medical Association, Royal Pharmaceutical Society of Great Britain

Anonim, 2007, MIMS, Volume 8, 178-181, PT Info Master, Jakarta.

Lacy, C.F., Armstrong, L.L., Goldman, M.P., and Lance, L.L., 2006, Drug Information Handbook, 14th Ed., 1260-1264, Lexicomp, Inc., USA

Dipiro, J.T., 2005, Pharmacotherapy, A Pathophysiologic Approach, 6th ed, 1023-1035, Mc Graw-Hill Companies, New York

Tierney, L. M., Stephen J.M., Maxine A. P., 2006, Current Medical Diagnosis & Treatment, 45th ed, 980-986, Mc Graw-Hill Companies, USA

 


PENGGUNAAN TRIAMCINOLON TOPIKAL DALAM TERAPI DERMATITIS ATOPIK

Disusun oleh: Stephanie Gunawan, S.Farm.

        Kulit merupakan organ terbesar pada tubuh, kira-kira sebesar 17% dari berat tubuh manusia. Ketebalan kulit berkisar antara 3-5mm. Fungsi utama dari kulit adalah untuk melindungi struktur dibawahnya dari trauma, perbedaan suhu, masuknya benda-benda yang berbahaya ke dalam kulit, kelembaban, radiasi, dan invasi mikroorganisme.
Lapisan kulit ada tiga, yaitu epidermis yang mempunyai fungsi utama sebagai barrier tubuh, dermis yang mempunyai fungsi utama untuk menjaga tubuh dari luka mekanis dan mendukung dermal appendage dan epidermis, dan jaringan subkutan yang mempunyai fungsi utama mendukung dermis dan epidermis, dan sebagai tempat penimbunan lemak.
Dermatitis atopik (DA) merupakan penyakit yang kronik, kambuhan, gatal dan radang yang juga dikenal dengan nama atopic eczema. Dermatitis atopik sering disebut eksim ringan. Umumnya DA menyebar pada permukaan bagian utama tubuh. Wajah, kulit kepala dan leher. Dermatitis atopik sering disertai xerosis atau kekeringan, terbakar, dan daerah yang tidak radang meluas ke seluruh tubuh. Dermatitis tidak hanya menyebabkan gatal, namun perlindungan lapisan kulit menjadi tidak normal. Mudah teririasi karena alergi.
Penyebab DA adalah komplikasi genetik, lingkungan, dan mekanisme imunologi yang secara lengkap tidak dapat diketahui. Komponen turunan tertentu dari etiologi DA sangat kuat. Enam puluh persen anak-anak dengan salah satu orangtua yang menderita DA juga mengalami DA. Delapan puluh persen anak-anak dengan kedua orangtua mengalami DA juga akan mengalami DA. Jika ayah terkena DA dan asma, merupakan resiko yang sangat kuat dibandingkan dengan sejarah ibu. Hampir semua pasien dengan DA ditemukan mengalami peningkatan eosinofil dan IgE yang umumnya ditemukan pada pasien dengan rhinitis alergi atau asma, dan 80% anak-anak dengan DA secepatnya akan mengalami perkembangan dari salah satu penyakit imunologi atau alergi. Anak-anak dengan DA lebih sering mengalami asma kambuhan daripada anak-anak asma tanpa DA. Karakteristik dari penyakit DA yaitu peningkatan pengurangan air pada transepidermal dan penurunan fungsi barrier lapisan kulit bagian bawah.
Gatal yang terus menerus dan reaktivitas kulit adalah tanda dari penyakit DA. Luka ruam yang akut mengalami gatal yang intens. Luka gatal ini jika digaruk akan mengeluarkan eksudat. Luka subakut lebih tebal, lebih pucat, bersisik dan kemerahan. Luka kronik memiliki karakteristik penebalan, noda-noda tonjolan, dan tonjolan jaringan fibrosa.
Gejala-gejala dapat menjadi indikasi adanya AD. Peningkat IgE dan eosinofilia ditemukan pada hampir semua pasien dengan DA. Dalam hal ini tidak dapat dilakukan tes laboratorium tunggal. Untuk mendiagnosis DA, karena beberapa pasien tidak menunjukkan adanya abnormalitas. Tes skin prick atau tes enzyme-linked immunosorbent assay dapat digunakan untuk mengidentifikasi DA. Bias dilakukan tes alergi tapi tidak cukup spesifik atau sensitif untuk mendiagnosis DA.
Pemicu imunologi dapat berpengaruh pada perkembangan DA, yaitu allergen makanan dan aeroallergen. Macam-macam allergen menyebabkan 85% pasien DA hasil tes serum IgE antibodinya positif. Dermatitis atopik juga biasa disebabkan karena aeroallergen (sampah, pollen, dll). Tes alergi hewan peliharaan juga dapat dilakukan. Alergi makanan juga dapat menjadi faktor DA. Telur, susu, kacang dan gandum tercatat hampir 90% menjadi allergen makanan pada anak dengan DA. Walaupun allergen makanan sudah dihindari namun kondisi akan tetap sampai 1-3 tahun kemudian.
Air susu ibu merupakan hipolergenik terbesar sebagai nutrisi bayi, kecuali jika ibu menyusui berdiet khusus selama menyusui. Situasi stres karena pasien frustasi akibat gatal sering terjadi. Namun stres sendiri tidak menyebabkan DA. Mengetahui irritan juga diperlukan, contohnya sabun, detergen, baju, rokok, temperatur, kelemababan dapat menjadi faktor walau sinar UV menguntungkan untuk beberapa pasien, tapi sunscreen tetap diperlukan untuk menghindari sunburn atau terbakar sinar matahari. Namun bahan kimia sunscreen seringkali dapat menyebabkan dermatitis.
Saat ini DA tidak dapat disembuhkan. Kondisi ini membutuhkan rencana manajemen termasuk mengidentifikasi dan menghindari pemicu luar, memelihara kulit dan menggunakan beberapa pilihan terapetik untuk mengurangi gejala. Tetapi harus secara individual dan pendekatan secara multipronged harus dilakukan. Tujuan dari terapi DA adalah untuk mengurangi gejala, mencegah flares-ups dan meningkatkan kualtas hidup tanpa penyakit atau tanpa komplikasi pengobatan. Sedangkan sasaran terapi DA adalah menghilangkan gejala DA.
Strategi terapi DA dapat dilakukan baik secara non farmakologis maupun farmakologis. Rekomendasi terapi nonfarmakologi bisa termasuk menghindari kontak dengan parfum, sabun berwarna dan detergen. Menggunakan cara 2 kali bilas untuk cucian, menghindari fluktuasi temperatur yang ekstrim, dan lain sebagainya. Tabir surya harus digunakan pada pasien dengan DA, tapi penggunaan agen nonkimia seperti tabir surya, titanium atau zinc oxide mungkin bisa menyebabkan iritasi lebih lanjut atau kontak dermatitis. Terapi farmakologis DA dapat dilakukan dengan menggunakan kortikosteroid topikal, antihistamin, imunomodulator topikal, dan sediaan tar.
Pada terapi, sangat penting untuk memilih bentuk sediaan obat. Jika lukanya basah maka harus dikeringkan, jika lukanya kering maka harus dibasahkan. Sediaan basah sangat berguna pada luka akut yang kering, luka radang sedangkan basis salep sangat berguna untuk luka kronik, penebalan. Pemilihan pembawa untuk luka kronik berdasarkan kecocokan pasien. Seringkali pasien dengan penyakit kulit kronis menggunakan berbagai tipe pembawa contohnya basis krim yang kering pada pagi hari dan basis salep pada malam hari walaupun berminyak namun merupakan emollient yang lebih baik. Formulasi obat dermatologik yang tersedia adalah larutan, suspensi, lotion kocok, serbuk, lotion, emulsi, gel, krim, salep dan aerosol.
Kortikosteroid topikal merupakan obat yang biasa digunakan dalam menangani inflamasi dan pruritus yang disebabkan oleh DA. Kortikosteroid topikal digunakan untuk pengobatan reaktif dalam jangka pendek untuk flare-ups akut. Penggunaan kortikosteroid topikal harus ditambah dengan emollients. Adapun obat-obat yang termasuk golongan kortikosteroid yaitu hidrokortison, prednisolon, derivat 9-α-fluor (triamcinolon, deksametason, betametason), derivat 6-α-fluor, derivat difluor (flutikason, flumitason), derivat klor (beklometason, mometason), derivat klor-fluor (klobetasol, fluklorolon).
Triamcinolon merupakan kortikosteroid sintetik poten yang digunakan untuk mengobati sejumlah autoimun dan kondisi alergi. Triamcinolon acetonide merupakan kortikosteroid terhalogenasi pertama yang digunakan secara topikal dengan luas dan ketika dikenalkan pertama kali ditemukan secara dramatis lebih efektif daripada beberapa dermatitis topikal sebelumnya. Triamcinolon merupakan kortikosteroid topikal pertama yang mempunyai efek terapeutik pada psoriasis.

TRIAMCINOLON TOPIKAL

  • Indikasi: inflamasi dermatitis yang responsif terhadap steroid.
  • Kontraindikasi: hipersensitif terhadap triamcinolon atau bahan lain dalam formulasi, infeksi jamur sistemik, infeksi serius (kecuali septic shock dan tuberculous meningitis), terapi utama pada keadaan asmatikus, infeksi jamur, virus atau bakteri pada mulut dan tenggorokan.
  • Peringatan: jangan digunakan pada kulit terbuka atau luka.
  • Efek samping: gatal-gatal, alergi dermatitis kontak, kekeringan, folikulitis, infeksi kulit (kedua), hipertrikosis, erupsi menyerupai bentuk jerawat, hipopigmentasi, maserasi kulit, atrofi kulit, striae, miliaria, dermatitis perioral, atrofi mukosa oral.
  • Farmakologi: triamcinolon merupakan kortikosteroid terfluorinasi sintesis yang aktivitas glukokortikoid-nya meningkat hebat dan aktivitas mineralkortikoid-nya banyak berkurang dibanding kortisol. Aksi antiinflamasi triamcinolon adalah mensupresi atau mencegah tanda-tanda inflamasi seperti panas lokal, kemerahan, lembek, bengkak, tanpa menghiraukan penyebabnya. Mikroskopik utama awal (dilatasi kapiler, oedema, migrasi leukosit dan fagosit) dan tanda-tanda berikutnya (proliferasi kapiler dan fibroblas, deposisi kolagen) terhambat. Beberapa hal utama ini muncul karena terbentuknya inhibitor fosfolipase, lipokortin yang menurunkan suplai asam arakidonat untuk sintesis prostaglandin dan leukotrien.
  • Mekanisme aksi: menurunkan inflamasi dengan menekan migrasi leukosit polimorfonuklear dan menurunkan permeabilitas kapiler, menekan sistem imun dengan menurunkan aktivitas dan volum sistem limfatik, menekan fungsi adrenal (pada dosis tinggi).
  • Dosis: cream dan ionment à aplikasikan lapisan tipis pada daerah dikehendaki 2 – 4 kali sehari; spray à aplikasikan pada daerah yang dikehendaki 3 – 4 kali sehari.
  • Nama dagang triamcinolon di Indonesia yaitu: Kenacort A®, Kenalog in orabase®, Ketricin®.

DAFTAR PUSTAKA
Dipiro, J. T., Talbert, R. L., Yee, G. C., Matzke, G. R., Wells, B. G., Posey, L. M., 2005, Pharmacotherapy: A Pathophysiologic Approach, Sixth Edition, 1741-1752, 1769-1781, 1785-1791, The McGraw-Hill Companies, Inc., USA.
Dollery, C., 1999, Therapeutic Drug, 2nd edition, Harcourt Brace and company limited, Toronto.
Lacy, C. F., Armstrong, L. L., Goldman, M. P., and Lance, L. L., 2006, Drug Information Handbook, 14th edition, 1605 – 1608, Lexi-Comp Inc., Ohio.
Tan, H. T., dan Rahardja, K., 2003, Obat-obat Penting, 688 – 690, PT. Elex Media Komputindo, Jakarta.

Penggunaan Antibiotika pada Sinusitis

Penggunaan Antibiotika pada Sinusitis
Disusun oleh :
Themy Roestian Lavatinova, S.Farm.
078115034

Pendahuluan
Penyebab sinusitis atau radang sinus sebetulnya sepele. Tapi lantaran sering diabaikan, akibatnya dapat merugikan. Mungkin sedikit yang tahu kalau komplikasinya bisa ke otak, bola mata atau telinga tengah.
Di sekitar hidung ada beberapa rongga. Kita menyebutnya rongga sinus. Ada di bagian pipi, belakang hidung dan dahi. Semua rongga ini saling berhubungan dengan rongga hidung lewat liang-liang sinus. Sama seperti rongga hidung, dinding rongga sinus dilapisi selaput lendir juga. Jika selaput lendir hidung meradang, yang mungkin disebabkan alergi, kemasukan bibit penyakit atau terluka, selaput sinus pun bisa mengalami hal yang sama. Bedanya, ingus produktif selaput lendir hidung dengan mudah dapat keluar melalui lubang hidung atau tenggorokan. Namun lendir atau ingus dari sinus yang jika meradang atau terinfeksi produksinya jadi meningkat, tidak selalu mudah dialirkan ke rongga hidung. Akibatnya lendir dan ingus terkumpul di rongga ingus yang normalnya cuma berisi udara.
Hal tersebut dapat terjadi sebab pada alergi, infeksi dan peradangan umumnya, selaput lendir sinus membengkak. Akibat pembengkakan selaput lendir sinus, liang sinus yang merupakan pintu satu-satunya penyalur lendir dan ingus dari saluran sinus ke rongga hidung menjadi tertutup. Ingus yang terus diproduksi akibat penyakit pada sinus tertahan tidak bisa keluar dari rongga sinus.
Peradangan pada sinus seringkali disebabkan oleh infeksi, baik infeksi virus maupun bakteri. Selain itu, faktor alergi juga memegang peranan penting dalam terjadinya sinusitis ini. Baik infeksi maupun alergi menyebabkan cairan pada sinus tidak dapat dialirkan secara baik sehingga bakteri/virus dapat tumbuh dan berkembang dalam sinus.
Pada tahap ini sebetulnya obat masih bisa mengoreksi sumber penyebab peradangannya, maupun membuka kembali liang sinus yang tertutup tadi. Dengan cara tersebut proses ingus yang terus-menerus tertimbun dan semakin menumpuk di dalam sinus dapat dihentikan.

Sasaran dan Tujuan Terapi
Terapi untuk penyakit sinusitis ini lebih pada mengatasi penyakit tersebut supaya tidak kambuh lagi dengan menghindari dan menghilangkan faktor pencetus (misalnya dengan menghindari diri supaya tidak terserang pilek, atau jika sudah terlanjur pilek sebaiknya segera berobat secara teratur, minum obatnya sesuai anjuran dokter dan tidak sembarangan minum antibiotik).

Strategi Terapi
Pengobatan sinusitis tergantung dari penyebabnya. Sinusitis yang disebabkan oleh infeksi bakteri tentu saja memerlukan terapi antibiotika. Bila dokter sudah memberikan terapi antibiotika, habiskan sesuai anjuran. Jangan sekali-kali menghentikan sendiri penggunaan antibiotika walaupun merasa sudah sehat. Minumlah sesuai dosis yang ditentukan oleh dokter.
1. Terapi non farmakologis
Untuk menghilangkan gejala sinusitis lakukan terapi uap panas. Caranya: didihkan 4-6 gelas air, tempatkan dalam mangkuk yang cukup besar, lalu tundukkan kepala (sambil diselubungi handuk) di atas mangkuk tersebut sehingga uap panas dapat di hirup secara maksimal. Terapi ini biasanya dilakukan selama 10-15 menit. Minum banyak cairan, seperti air, jus buah dan teh untuk mengencerkan lendir dalam rongga hidung. Banyak istirahat, terutama di tempat yang cukup lembab. Sedapat mungkin hindari pemicu alergi.
2. Terapi farmakologis
Antibiotika
Antibiotika merupakan zat yang dihasilkan oleh mikroba, terutama fungi, yang dapat menghambat pertumbuhan atau membasmi mikroba jenis lain. Antibiotika juga dapat dibuat secara sintesis. Penggunaan antibiotika didasarkan pada dua pertimbangan utama yaitu:
a. penyebab infeksi
Pemberian antibiotika yang paling ideal adalah berdasarkan hasil pemeriksaan mikrobiologi dan uji kepekaan kuman.
b. faktor pasien
Diantara faktor pasien yang perlu diperhatikan dalam pemberian antibiotika antara lain fungsi ginjal, fungsi hati, riwayat alergi, daya tahan terhadap infeksi, daya tahan terhadap obat, beratnya infeksi, usia, untuk wanita apakah sedang hamil atau menyusui dan lain-lain.

OBAT PILIHAN
Nama generik: Amoksisilin.
Nama dagang: Amoksisilin memiliki beberapa nama dagang, antara lain: Amoxsan® (kapsul 250 mg dan 500 mg, sirup kering 125 mg/5 ml dan 250 mg/5 ml, tetes pediatrik 100 mg/ml, serbuk injeksi 1 g/vial). Amoxillin® (kapsul 500 mg, sirup kering 125 mg/5 ml). Amobiotic® (kapsul 250 mg dan 500 mg, sirup 125 mg/5 ml, sirup forte 250 mg/ 5 ml, tetes 100 mg/ ml, injeksi 1 g/vial). Amoxil® (kapsul 250 mg dan 500 mg, sirup 125 mg/5 ml, sirup forte 250 mg/5 ml, tetes 125 mg/1,25 ml, injeksi 1 g/vial). Bufamoxy® (kapsul 250 mg), dll.
Indikasi: amoksisilin memiliki indikasi untuk mengatasi infeksi saluran kemih, otitis media, sinusitis, bronkitis kronik, salmonelosis invasif dan gonore. Juga untuk profilaksis endokarditis dan terapi tambahan pada meningitis listeria.
Kontra-indikasi: mempunyai sejarah hipersensitifitas terhadap penisilin.
Bentuk sediaan dan dosisnya:
Dosis oral untuk dewasa 250-500 mg tiap 8 jam, pada infeksi saluran nafas berat/berulang 3 gram tiap 12 jam. Dosis untuk anak kurang dari 10 tahun 125-250 mg tiap 8 jam, pada infeksi berat dapat diberikan dua kali lebih tinggi. Dosis injeksi intramuskular untuk dewasa 500 mg tiap 8 jam dan untuk dosis anak 50-100 mg/hari dalam dosis terbagi. Dosis injeksi intravena atau infus untuk dewasa 500 mg tiap 8 jam, dapat dinaikkan sampai 1 gram tiap 6 jam. Untuk anak dosisnya 50-100 mg/hari dalam dosis terbagi.
Efek samping: penggunaan amoksisilin dapat menimbulkan efek samping berupa mual, diare, ruam, kadang-kadang terjadi kolitis karena antibiotika.
Perhatian khusus:
· Reaksi hipersensitifitas berat sampai fatal dapat terjadi. Reaksi anafilaksis lebih sering terjadi pada pemberian parenteral dibanding oral.
· Kehamilan kategori B: penggunaan selama kehamilan seharusnya dihindari.
· Laktasi: penggunaan selama menyusui dapat menyebabkan diare, kandidiasis atau alergi pada bayi yang minum ASI.

Daftar Pustaka
Anonim, 2000, Informatorium Obat Nasional Indonesia (IONI), Departemen Kesehatan Republik Indonesia.

Anonim, 2006, Obat-Obat Penting Untuk Pelayanan Kefarmasian, Laboratorium Manajemen Farmasi dan Farmasi Masyarakat Bagian Farmasetika UGM.

Anonim, 2007, MIMS Indonesia Petunjuk Konsultasi, Ed. 6, Info Master, Jakarta.

Davey, P., 2003, At a Glance MEDICINE, Erlangga, Jakarta.

PENGGUNAAN ANALGETIKA PADA PENDERITA MIGREN

PENGGUNAAN ANALGETIKA PADA PENDERITA MIGREN
Disusun oleh
Severina Sri Haryuni Wiratwanti S.,Farm
( 078115029 )

Pendahuluan
Tuan Alex sudah hafal kapan migrennya kumat, yaitu jika penglihatannya mulai melihat dobel, agak kabur, dan badannya merasa kesemutan, dan benar, beberapa jam setelah itu migrennya datang. Terasa berdenyut-denyut di pelipis, dahi, dan berat disekitar mata sisi kanan. Nyeri akan semakin berat menjalar ke kuduk dan bahu, yang dirasakan hingga beberapa jam. Jika serangan berat sering tidak bisa melakukan pekerjaan apapun. Kejadian migren ini bisa terjadi 3-4 kali dalam sebulan. Pada saat migren menyerang Tuan Alex juga sering merasakan tangan dan kakinya terasa dingin, ulu hati tidak enak, mual dan sesekali muntah, jemari tangan membengkak, dan wajah kadang sembab.
Apa sih sebenarnya Migren itu?
Harus dibedakan antara migren dengan sekedar sakit kepala sebelah. Pada kasus tension headache (nyeri kepala tegang) bisa muncul sakit kepala yang menyerupai migren juga. Bedanya, nyeri kepala tension headache tidak disertai gejala pendahuluan, langsung terasa nyeri kepala yang terpusat dikuduk. Kuduk terasa kencang dan kaku, dan nyeri menjalar sampai ke bahu dan punggung. Tension headeache banyak diderita pekerja kantoran yang salah posisi duduknya saat bekerja. Selain peralatan kantor ergonomic (sesuai posisi tubuh) posisi duduk pun kurang tepat sehingga beban pundak menjadi berat.
Jenis nyeri kepala tegang juga sering sebagai akibat beban jiwa. Bedanya dengan sakit kepala biasa, pada tension headache rasa kencang, pegal, dan kaku di kuduk tidak hilang dengan pijitan dan obat gosok. Untuk meringankan beban jiwa, pasien sakit kepala tegang butuh obat penenang selain pereda nyeri. Jika nyeri kepala tension headache menyerang sebelah kepala, jenis sakit kepala begini tergolong sindrom migren, bukan betulan. Dalam keseharian tidak sedikit orang yang mengeluh begini lalu berangapan kena migren.
Sakit kepala sebelah (hemicranial) bukanlah migren jika tidak didahului gejala pembuka seperti lazim dialami pasien migren. Ragam gejala pembuka migren sangat bervariasi. Tanda gejala pembuka sakit kepala sebelah pasti bukan migren betulan.
Migren betulan dikenal sebagai migren klasik. Pada migren klasik setelah gejala pembuka muncul disusul rasa nyeri yang bermula dari sisi kepala bagian puncak kepala ke pelipis, kemudian rasa nyeri ini mengumpul di bagian hidung, lalu ke sekitar mata. Selagi nyeri menghebat mungkin muncul silau, penglihatan kabur, gelap sebagian, mual, muntah, mulas sampai mencret.
Duapertiga kasus migren menyerang salah satu sisi kepala, kalau tidak sisi kanan atau sisi kiri saja. Namun ada sepertiga kasus migren yang bisa bergantian: kalau tidak menyerang sisi kiri saat lain menyerang sisi kanan. Yang pasti, begitu serangan migren mereda, semua keluhan maupun gejala pembuka migren hilang. Keluhan dan gejala yang sama muncul lagi bila migrennya kumat.
Sampai dengan saat ini belum seluruhnya jelas mengapa orang tertimpa migren. Yang terjadi pada kasus migren pembuluh darah didalam kepala entah mengapa mengucup. Keadaan ini yang mendahului serangan. Pengucupan pembuluh darah otak mengganggu fungsi otak ini. Gangguan fungsi otak ini yang terbaca sebagai gejala pembuka migren.
Secara otomatis, untuk mengimbangi pengucupan pembuluh darah otak, pembuluh darah di luar otak (di antaranya yang diluar kulit kepala) akan mengembang. Mengembangnya pembuluh darah di luar kepala itulah yang menimbulkan nyeri kepala. Mengapa pembuluh darah didalam kepala mendadak menguncup, diduga karena ada faktor bakat. Pada orang-orang tertentu pembuluh darah didalam kepalanya ”cacat”. Mekanisme pengaturan pengembangan dan menguncupnya pembuluh darah otak mengalami kekacauan. Migren bisa diderita semua usia, namun wanita lebih sering dari pada pria.
Menyerupai Stroke
Gejala pembuka migren biasanya berlangsung beberapa menit. Pasien mendadak lemah atau kesemutan separo badan, mendadak gagap berbicara, terjadinya gangguan melangkahkan kaki dan bola mata sukar dilirikkan. Tak lama setelah itu serangan nyeri kepala muncul.
Adakalanya serangan nyeri kepala baru muncul setelahlebih dari 10 jam sehabis gejala pembuka. Migren begini tergolong migren berkomplikasi. Pada kasus begini, migren sering dikira seangan stroke. Untuk memastikan serangan migren itu bukan serangan stroke, perlu dilakukan pemeriksaan kondisi pembuluh darah batang leher carotis (arteriografi). Jika positif ada kelainan, berarti benar itu serangan stroke. Pada migren pembuluh normal.
Pasien migren biasanya mengalami penimbunan cairan di beberapa bagian tubuh, sehingga mungkin wajah nampak membengkak, selain kelopak mata sembab, dan jari lebih besar dari biasanya, cincin dan sepatu menjadi lebih sempit. Migren sering menyerang pagi hari. Pada orang tertentu diet tertentu bisa mencetus serangan migren. Habis makan coklat dan kacang tertentu migren bisa kambuh. Pada wanita muda, migren bisa dahulu tidak sadarkan diri.
Migren juga berkaitan dengan hormon otak serotonin. Jika sadar serotonin rendah, migren kumat. Pasang surut kadar serotonin mencerminkan kondisi emosi. Itu sebab diduga ikut berpengaruh terhadap bangkitnya serangan migren.
Pengobatan
Tujuan
Tujuan pengobatan migren untuk (1) mengurangi nyeri akut, (2) memulihkan fungsi normal, (3) mencegah kekambuhan dan meminimalkan efek samping. Untuk sakit migren yang kronis tujuan yang lainnya adalah untuk mengurangi frekuensi sakit kepala yang ditimbulkan.
Terapi non farmakologi
Migren kronis biasanya membutuhkan pengobatan seperti terapi fisik dan latihan relaksasi. Umumnya terapi fisik melonggarkan dan memperkuat otot yang sakit, hal ini lebih efektif dibandingkan dengan pemberian obat untuk mengatasi migren ini.
Pengobatan secara umum untuk migrein termasuk (1) mengatur jadwal tidur dan makan secara teratur (2) mengatasi stress.
Pengaturan nutrisi bertujuan untuk mencegah migrein berdasar pada : (1) pembatasan makanan yang dapat memicu migrein (2) menghindari kelaparan dan rendahnya glukosa dalam darah (3) suplemen magnesium. Terapi nutrisi yang makanan yang disarankan tidak mengandung nitrit karena nitrit dapat memperlebar pembuluh darah. Makanan lain yang harus dihindari Makanan lain yang harus dihindari seperti coklat, sakarin, kafein, dan MSG. Hindari lingkungan yang bisa memicu migren , seperti asap rokok, suara bising dan bau yang menyengat.
Terapi farmakologi
Analgetika
Analgetika atau obat penghalang nyeri adalah zat-zat yang mengurangi atau menghalau rasa sakit tanpa menghilangkan kesadaran. Berasal dari bahasa Yunani yaitu an
Yang berarti tanpa dan algia yang berarti nyeri. Nyeri adalah perasaan sensoris dan emosional yang tidak enak dan yang berhubungan dengan gangguan atau kerusakan jaringan. Nyeri dapat terjadi karena rangsangan mekanis, kimiawi atau fisis yang menimbulkan kerusakan jaringan. Rangsangan tersebut memicu pelepasan zat-zat tertentu yang disebut mediator nyeri. Mediator nyeri terdiri antara lain histamin, serotonin, bradikinin, leukotrien, dan prostaglandin.
Contoh obat : Asetaminofen atau yang lebih populer dengan nama parasetamol (nama generik)
Parasetamol
Indikasi : Analgetika ini memiliki indikasi untuk mengatasi nyeri migren yang bersifat ringan sampai sedang. Obat ini bekerja dengan meringankan rasa sakit yang bersifat sementara. Kerjanya menghambat mediator nyeri terutama prostaglandin di otak.
Kontra-indikasi : Untuk anak dibawah umur 12 tahun dan anak yang sedang disusui. Obat ini juga tidak diperuntukkan bagi pasien yang sebelumnya pernah mengalami Hipersensitif terhadap obat ini, ulserasi saluran cerna, hemofilia.
Bentuk sediaan beserta dosisnya :
Dosis oral : 0,5-1 g tiap 4-6 jam hingga maksimum 4g sehari. Anak 2 bulan 60 mg. 3bulan -1 tahun 60-120 mg, 1-5 tahun 120-250 mg, 6-12 tahun 250-500 mg. Dosis-dosis ini boleh diulang tiap 4-6 jam bila diperlukan ( maksimum 4 dosis dalam 24 jam). Bentuk sediaan Kapsul 325, 500mg ; chew tab 80, 160 mg ; SR tab 650 mg; tab 160, 325,500, 650mg ; drp 48, 100 mg/ml ; elxr 16, 24, 26, 32, 65 mg/ml; sirup 32 mg/ml ; supp 80, 120, 300, 325, 650 mg.
Efek Samping :
Biasanya ringan dan tidak sering tetapi insidens tinggi untuk iritasi saluran cerna dengan pendarahan ringan yang tanpa gejala, memanjangnya waktu pendarahan :bronkospasme, dan reaksi kulit pada pasien hipersensitif.

Reaksi obat yang tidak dikehendaki :
Pada over dosis akut , kemungkinan dapat terjadi nekrosis hepatic fatal/ tubuli renal, tetapi bukri klinis dan laboratorium mengenai keracunan kemungkinan baru muncul setelah beberapa hari. Hepatitis toksik juga dapat terjadi pada pemakaian jangka panjang 5-8 g/ hari selama beberapa minggu atau 3-4 g/ hari selama satu tahun.
Tindakan Pencegahan :
Jika terjadi reaksi sensitif, hentikan pengobatan. Gunakan dengan hati-hati pada alkoholik kronis (tidak lebih dari 2g/hari).
Contoh nama dagang :
Bodrex (tablet 500mg) ; Pamol (Sirup 120mg/5ml ; tablet 500 mg); Panadol (drops 100 mg/ml; Kaptab 500 mg sirup 160mg/5 ml; tab kunyah 80 mg) ; Sanmol (droups 80ml/ 0,8 ml; sirup 120mg/5ml tablet 500 mg) Tempra (droups 100mg/ml; sirup 160 mg/ml).

Daftar Pustaka
Anonim, 2000, Informatorium Obat Nasional Indonesia (IONI), Departemen Kesehatan Republik Indonesia.

Anonim, 2006, Obat-Obat Penting Untuk Pelayanan Kefarmasian, Laboratorium Manajemen Farmasi dan Farmasi Masyarakat Bagian Farmasetika UGM.

Maryanix 2005, Applied Therapeutics The Clinical Use of Drug, Edision 8th , Library of Congress Cataloging in publication Data, USA.

PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI PENGHAMBAT ENZIM PENGUBAH ANGIOTENSIN PADA NEFROPATI DIABETIK

Penggunaan Antihipertensi Penghambat Enzim Pengubah Angiotensin pada Nefropati Diabetik

(M. Rianasari Dwi Swastika / 078115019)

Diabetes Melitus (DM), atau yang dikenal sebagai penyakit kencing manis, merupakan sekumpulan gangguan metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein yang ditandai dengan hiperglikemia (peningkatan kadar gula dalam darah sehingga kadarnya melebihi normal) serta dapat mengakibatkan komplikasi kronis termasuk mikrovaskular dan makrovaskular. Seseorang dikatakan menderita penyakit DM jika dalam pemeriksaan kadar gula darah puasa menunjukkan kadar gula darah lebih dari atau sama dengan 126 mg/dl, atau tes toleransi kadar gula dalam darah setelah 2 jam pemasukan glukosa secara oral lebih dari atau sama dengan 200 mg/dl, atau kadar glukosa dalam plasma sewaktu lebih dari atau sama dengan 200 mg/dl dengan gejala-gejala DM seperti merasa cepat lapar, rasa haus yang berlebihan, dan sering buang air kecil. Jika DM tidak ditangani dan diobati dengan baik maka akan dapat menimbulkan komplikasi pada mata, ginjal, atau pada saraf, dan dapat menyebabkan amputasi pada kaki. Komplikasi yang terjadi pada ginjal disebut dengan nefropati diabetik.

Nefropati diabetik merupakan suatu komplikasi penyakit DM yang termasuk dalam komplikasi mikrovaskular, yaitu komplikasi yang terjadi pada pembuluh darah yang lebih halus (kecil). Hal ini dikarenakan komplikasi ini terjadi pada ginjal, di mana pembuluh darah pada organ tersebut merupakan pembuluh darah yang halus. Nefropati diabetik timbul utamanya karena kerusakan fungsi glomerulus (penyaring yang ada dalam ginjal). Tingginya kadar gula dalam darah akan membuat struktur ginjal berubah sehingga fungsinyapun ikut berubah (rusak), termasuk fungsi ginjal dalam menyaring. Dalam keadaan normal protein tidak tersaring dan tidak melewati glomerulus karena ukuran protein yang besar tidak dapat melewati lubang-lubang glomerulus yang kecil. Dengan demikian adanya protein dalam urin dapat menunjukkan pasien DM mengalami komplikasi (gangguan) pada ginjalnya, dan pada awalnya ditunjukkan dengan mikroalbuminuria.

Pemeriksaan untuk mengetahui nefropati diabetik harus dimulai pada saat pasien DM tipe 2 didiagnosis menderita DM, sedangkan untuk pasien DM tipe 1 disarankan pemeriksaan dimulai 5 tahun setelah didiagnosis DM. Dalam pemeriksaan tersebut dilakukan pemeriksaan urin untuk mengetahui adanya mikroalbuminuria (disebut mikroalbuminuria jika terdapat lebih dari 30-300 mg albumin dalam pemeriksaan pengumpulan urin 24 jam atau terdapat lebih dari 30-300 mg albumin per gram kreatinin pada pengumpulan urin semalam atau pengukuran rasio albumin-kreatinin pada pengumpulan urin acak). Jika mikroalbuminuria tidak tampak pemeriksaan diulang setiap satu tahun satu kali baik untuk pasien DM tipe 1 maupun tipe 2. Bersamaan dengan atau sesaat setelah perkembangan mikroalbuminuria, hipertensi sering terjadi. Hipertensi ini akan memperburuk nefropati diabetik dan merupakan komponen penting dalam perkembangan gagal ginjal.

Setelah pemeriksaan menunjukkan adanya mikroalbuminuria sebaiknya segera dilakukan pengobatan. Pengobatan nefropati diabetik dilakukan dengan sasaran fungsi ginjal pasien, kadar gula darah, dan tekanan darah (fungsi jantung). Adapun tujuan dari pengobatan nefropati diabetik adalah untuk mencegah berkembangnya mikroalbuminuria menjadi makroalbuminuria (albumin lebih dari atau sama dengan 300 mg dalam pemeriksaan urin), menghambat penurunan fungsi ginjal pada pasien DM dengan makroalbuminuria, dan menurunkan kejadian penyakit kardiovaskular. Semakin cepat mikroalbuminuria diketahui maka akan semakin cepat pengobatan dilakukan. Semakin cepat pengobatan dilakukan maka manfaat yang didapatkan akan semakin besar pula dan pasien dapat terhindar dari gagal ginjal di mana fungsi ginjal sudah jauh menurun atau bahkan tidak dapat berfungsi lagi.

Untuk dapat mencapai tujuan tersebut maka diperlukan suatu strategi dalam pengobatan nefropati diabetik. Untuk pasien dengan normoalbuminuria (jumlah albumin dalam urin kurang dari 30 mg) pengobatan dilakukan dengan pencegahan terjadinya nefropati diabetik. Pencegahan tersebut dilakukan dengan kontrol kadar gula darah secara intensif, yang dapat dilakukan dengan menggunakan obat antidiabetik secara teratur. Penelitian klinik menunjukan bahwa dengan menggunakan obat secara teratur (ditunjukan dengan level HbA1c kurang dari 7%) dihubungkan dengan menurunnya resiko terkena nefropati diabetik pada pasien DM tipe 1 dan tipe 2. Selain itu kontrol tekanan darah secara intensif juga dapat menurunkan resiko penyakit kardiovaskular dan terjadinya komplikasi dari DM. Target tekanan darah untuk pasien DM adalah 130/80 mmHg.

Prinsip pengobatan pada pasien dengan mikroalbuminuria dan makroalbuminuria pada dasarnya sama dengan pencegahan penyakit nefropati diabetik, meskipun pada kasus ini strategi yang digunakan lebih banyak dan lebih intensif. Pada pasien dengan mikroalbuminuria dan makroalbuminuria kontrol gula darah dilakukan dengan menggunakan insulin atau obat antidiabetik oral sehingga level HbA1c kurang dari 7%. Kontrol kadar gula darah ini akan menurunkan hiperfiltrasi (peningkatan laju penyaringan glomerulus) dan menurunkan mikroalbuminuria pasien DM pada tahap awal penyakit ini.

Selain itu terapi antihipertensi juga dapat menurunkan mikroalbuminuria. Peningkatan mikroalbuminuria berhubungan dengan peningkatan tekanan darah dan kolesterol LDL. Dengan menggunakan antihipertensi maka mikroalbuminuria dapat dikontrol. Bukti dari beberapa penelitian mendukung peran spesifik obat antihipertensi golongan penghambat enzim pengubah angiotensin dalam menurunkan tekanan intraglomerular (dalam glomerulus) sebagai tambahan peran golongan obat tersebut dalam menurunkan tekanan darah tinggi. Tekanan darah yang dituju untuk pasien dengan mikroalbuminuria dan makroalbuminuria adalah kurang dari 130/80 mmHg atau 125/75 mmHg dengan peningkatan kreatinin serum dan proteinuria lebih dari 1,0 g/24 jam.

Rekomendasi strategi pengobatan untuk pasien dengan mikroalbuminuria dan makroalbuminuria yaitu dengan pengobatan antihipertensi, meliputi penghambat enzim pengubah angiotensin dan/atau antagonis reseptor angiotensin II, dan diet rendah protein (0,6 – 0,8 g/kg berat badan tiap hari). Tujuan yang ingin dicapai pada pasien dengan mikroalbuminuria adalah penurunan atau pengurangan albuminuria atau kembali ke normoalbuminuria. Sedangkan untuk pasien dengan makroalbuminuria dilakukan untuk mencapai kadar protein dalam urin serendah mungkin atau kurang dari 0,5 g/24 jam.

Pengobatan dapat dilakukan dengan nonfarmakologi (tanpa obat). Cara ini dilakukan dengan diet di mana terapi nutrisi direkomendasikan untuk semua orang yang menderita DM. Tujuan utamanya adalah mencapai keluaran metabolik yang optimal dan sebagai pencegahan dan terapi untuk komplikasi. Mengganti daging merah dengan daging ayam dalam diet akan menurunkan ekskresi albumin dalam urin sebesar 46% dan menurunkan kolesterol total, kolesterol LDL, dan apoliprotein B pada pasien DM tipe 2 dengan mikroalbuminuria.

Pengobatan dengan obat dapat dilakukan pada kontrol kadar gula darah dan kontrol tekanan darah. Seperti yang telah dituliskan di atas, kontrol tekanan darah dapat dilakukan dengan salah satunya penghambat enzim pengubah angiotensin. Obat golongan ini bekerja dengan cara dengan cara menghambat kerja enzim pengubah angiotensin sehingga perubahan angiotensin I menjadi angiotensin II dapat diblok. Angiotensin II merupakan vasokonstriktor kuat dan juga menstimulasi sekresi aldosteron. Dengan “terhalangnya” pembentukan angiotensin II maka vasokonstriksi (pengecilan pembuluh darah) tidak terjadi dan tekanan darah tetap (tidak menjadi tinggi). Hal yang sama juga terjadi dalam pembuluh darah di ginjal. Degradasi bradikinin juga diblok oleh penghambat enzim pengubah angiotensin. Hal ini membuat pasien yang menggunakan obat ini akan mengalami batuk kering persisten dan merupakan efek samping dari penghambat enzim pengubah angiotensin.

Pada pasien DM tipe 1 dan tipe 2 normotensif (tekanan darah normal) yang memiliki mikroalbuminuria, penelitian menunjukkan bahwa pengobatan dengan penghambat enzim pengubah angiotensin menurunkan laju perkembangan mikroalbuminuria menuju insufisiensi ginjal. Selain itu, mempertahankan kadar gula darah mendekati normal dengan pengobatan secara intensif juga dapat menurunkan resiko nefropati diabetik secara signifikan. Jika penyakit ginjal stadium akhir (gagal ginjal) sudah terjadi, transplantasi ginjal merupakan terapi pengganti yang lebih ditawarkan daripada menggunakan penghambat enzim pengubah angiotensin.

Obat pilihan : antihipertensi golongan penghambat enzim pengubah angiotensin

1. Kaptopril

Nama generik : Kaptopril

Nama dagang di Indonesia : Capoten, Casipril, Dexacap, Farmoten, Metopril, Otoryl, Praten, Scantensin, Tensobon.

Indikasi : hipertensi, gagal jantung kongestif, setelah infark miokard, nefropati diabetik.

Kontraindikasi : untuk pasien yang hipersensitif terhadap kaptopril atau komponen lain dalam obat dalam komposisi obat; pasien yang memiliki riwayat angiodema dikaitkan dengan pengobatan dengan penghambat enzim pengubah angiotensin terdahulu; pasien dengan penyempitan arteri bilateral ginjal; pasien yang sedang hamil trimester kedua atau ketiga.

Bentuk sediaan : tablet 12,5 mg, 25 mg, 50 mg.

Dosis dan aturan pakai : untuk pengobatan nefropati diabetik digunakan dosis 25 mg, diminum 3 kali dalam sehari; jika diperlukan penurunan tekanan darah lebih lanjut, antihipertensi lain dapat digunakan bersama kaptopril; pada gangguan ginjal berat awalnya 12,5 mg, 2 kali sehari.

Efek samping : hipotensi, batuk kering yang persisten, pusing, sakit kepala, letih, mual, memperburuk fungsi ginjal (mungkin terjadi pada pasien dengan penyempitan arteri bilateral ginjal), ruam kulit, reaksi hipersensitif, gangguan tidur, gelisah, anemia, radang pankreas.

Resiko khusus : pada pasien yang sedang hamil pada trimester pertama resiko penggunaan obat ini adalah termasuk kategori C, di mana penelitian pada wanita (manusia) belum tersedia. Pasien yang sedang hamil pada trimester kedua dan ketiga termasuk dalam kategori D, di mana terdapat bukti positif resiko pada janin manusia, tetapi obat dapat digunakan pada wanita hamil walaupun beresiko yaitu pada kasus penyakit serius dan obat yang lebih aman tidak dapat digunakan atau inefektif.

2. Enalapril

Nama generik : Enalapril

Nama dagang di Indonesia : Meipril, Renacardon, Tenace.

Indikasi : hipertensi ringan sampai berat, pengobatan CHF, disfungsi ventrikel kiri setelah miokard infark, nefropati diabetik.

Kontraindikasi : untuk pasien yang hipersensitif terhadap enalapril atau enalaprilat; pasien yang memiliki riwayat angiodema terkait dengan pengobatan dengan penghambat enzim pengubah angiotensin terdahulu; pasien dengan penyempitan arteri bilateral ginjal; pasien yang sedang hamil trimester kedua atau ketiga.

Bentuk sediaan : tablet 2,5 mg, 5 mg, 10 mg, 20 mg.

Dosis dan aturan pakai : awalnya 5 mg/hari. Penyesuaian dosis pada gangguan ginjal : klirens kreatinin 30-80 ml/menit beri 5 mg/hari dititrasi sampai maksimum 40 mg; klirens kreatinin kurang dari 30 ml/menit beri 2,5 mg/hari dititrasi (ditingkatkan) sampai tekanan darah terkontrol.

Efek samping : batuk kering yang persisten, pusing, sakit kepala, lelah, lesu, mual, diare, ruam, hipotensi, memperburuk fungsi ginjal (mungkin terjadi pada pasien dengan penyempitan arteri bilateral ginjal), ruam kulit, reaksi hipersensitif.

Resiko khusus : pada pasien yang sedang hamil pada trimester pertama resiko penggunaan obat ini adalah termasuk kategori C, di mana penelitian pada wanita (manusia) belum tersedia. Pasien yang sedang hamil pada trimester kedua dan ketiga termasuk dalam kategori D, di mana terdapat bukti positif resiko pada janin manusia, tetapi obat dapat digunakan pada wanita hamil walaupun beresiko yaitu pada kasus penyakit serius dan obat yang lebih aman tidak dapat digunakan atau inefektif.

Anonim, 2000, Infomatorium Obat Nasional Indonesia 2000, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.

Lacy, C.F., Armstrong, L.L., Goldman, M.P., and Lance, L.L., 2006, Drug Information Handbook, 14th Ed., Lexi-Comp Inc., United States of America.

Genuth, S., 2003, Diabetes Mellitus, in Pale, D.C., Federman, D.D., (Eds.), Scientific American Medline, 2003 Ed., Vol.1, 582-584,606, WebMD Inc., United States of America.

Gross, J.L., de Azevedo, M.J., Silveiro, S.P., Canani, L.H., Caramori, M.L. and Zelmanovitz, T., 2005, Diabetic Nephropathy: Diagnosis, Prevention, and Treatment, http://care.diabetesjournals.org/cgi/content/full/28/1/.

McPhee, S.J., Lingappa, V.R., Ganong, W.F., and Lange, W.F., 1995, Pathophysiology of Disease an Introduction to Clinical Medicine, First (1st) Ed., 384-387, Prentice-Hall International Inc., London.

Masharani, U., 2006, Diabetes Mellitus and Hypoglycemia, dalam Tierney, L.M., McPhee, S.J., dan Papadakis, M.A., (Eds.), Current Medical Diagnosis and Treatment, 45th Ed., 1221-1222, The Mc Graw-Hill Companies, New York.

Triplitt, C.L., Reasner, C.A., and Isley, W.L., 2005, Diabetes Mellitus, dalam Dipiro, J.T., Talbert, R.L., Yee, G.C., Matzke, G.R., Wells, B.G., dan Posey, L.M., (Eds.), Pharmacotherapy A Patophysiologic Approach, Sixth (6th) Ed., 1333-1363, The Mc Graw-Hill Companies, New York.