Monthly Archives: December 2007

PENGGUNAAN ANALGETIKA PADA PENDERITA MIGREN

PENGGUNAAN ANALGETIKA PADA PENDERITA MIGREN
Disusun oleh
Severina Sri Haryuni Wiratwanti S.,Farm
( 078115029 )

Pendahuluan
Tuan Alex sudah hafal kapan migrennya kumat, yaitu jika penglihatannya mulai melihat dobel, agak kabur, dan badannya merasa kesemutan, dan benar, beberapa jam setelah itu migrennya datang. Terasa berdenyut-denyut di pelipis, dahi, dan berat disekitar mata sisi kanan. Nyeri akan semakin berat menjalar ke kuduk dan bahu, yang dirasakan hingga beberapa jam. Jika serangan berat sering tidak bisa melakukan pekerjaan apapun. Kejadian migren ini bisa terjadi 3-4 kali dalam sebulan. Pada saat migren menyerang Tuan Alex juga sering merasakan tangan dan kakinya terasa dingin, ulu hati tidak enak, mual dan sesekali muntah, jemari tangan membengkak, dan wajah kadang sembab.
Apa sih sebenarnya Migren itu?
Harus dibedakan antara migren dengan sekedar sakit kepala sebelah. Pada kasus tension headache (nyeri kepala tegang) bisa muncul sakit kepala yang menyerupai migren juga. Bedanya, nyeri kepala tension headache tidak disertai gejala pendahuluan, langsung terasa nyeri kepala yang terpusat dikuduk. Kuduk terasa kencang dan kaku, dan nyeri menjalar sampai ke bahu dan punggung. Tension headeache banyak diderita pekerja kantoran yang salah posisi duduknya saat bekerja. Selain peralatan kantor ergonomic (sesuai posisi tubuh) posisi duduk pun kurang tepat sehingga beban pundak menjadi berat.
Jenis nyeri kepala tegang juga sering sebagai akibat beban jiwa. Bedanya dengan sakit kepala biasa, pada tension headache rasa kencang, pegal, dan kaku di kuduk tidak hilang dengan pijitan dan obat gosok. Untuk meringankan beban jiwa, pasien sakit kepala tegang butuh obat penenang selain pereda nyeri. Jika nyeri kepala tension headache menyerang sebelah kepala, jenis sakit kepala begini tergolong sindrom migren, bukan betulan. Dalam keseharian tidak sedikit orang yang mengeluh begini lalu berangapan kena migren.
Sakit kepala sebelah (hemicranial) bukanlah migren jika tidak didahului gejala pembuka seperti lazim dialami pasien migren. Ragam gejala pembuka migren sangat bervariasi. Tanda gejala pembuka sakit kepala sebelah pasti bukan migren betulan.
Migren betulan dikenal sebagai migren klasik. Pada migren klasik setelah gejala pembuka muncul disusul rasa nyeri yang bermula dari sisi kepala bagian puncak kepala ke pelipis, kemudian rasa nyeri ini mengumpul di bagian hidung, lalu ke sekitar mata. Selagi nyeri menghebat mungkin muncul silau, penglihatan kabur, gelap sebagian, mual, muntah, mulas sampai mencret.
Duapertiga kasus migren menyerang salah satu sisi kepala, kalau tidak sisi kanan atau sisi kiri saja. Namun ada sepertiga kasus migren yang bisa bergantian: kalau tidak menyerang sisi kiri saat lain menyerang sisi kanan. Yang pasti, begitu serangan migren mereda, semua keluhan maupun gejala pembuka migren hilang. Keluhan dan gejala yang sama muncul lagi bila migrennya kumat.
Sampai dengan saat ini belum seluruhnya jelas mengapa orang tertimpa migren. Yang terjadi pada kasus migren pembuluh darah didalam kepala entah mengapa mengucup. Keadaan ini yang mendahului serangan. Pengucupan pembuluh darah otak mengganggu fungsi otak ini. Gangguan fungsi otak ini yang terbaca sebagai gejala pembuka migren.
Secara otomatis, untuk mengimbangi pengucupan pembuluh darah otak, pembuluh darah di luar otak (di antaranya yang diluar kulit kepala) akan mengembang. Mengembangnya pembuluh darah di luar kepala itulah yang menimbulkan nyeri kepala. Mengapa pembuluh darah didalam kepala mendadak menguncup, diduga karena ada faktor bakat. Pada orang-orang tertentu pembuluh darah didalam kepalanya ”cacat”. Mekanisme pengaturan pengembangan dan menguncupnya pembuluh darah otak mengalami kekacauan. Migren bisa diderita semua usia, namun wanita lebih sering dari pada pria.
Menyerupai Stroke
Gejala pembuka migren biasanya berlangsung beberapa menit. Pasien mendadak lemah atau kesemutan separo badan, mendadak gagap berbicara, terjadinya gangguan melangkahkan kaki dan bola mata sukar dilirikkan. Tak lama setelah itu serangan nyeri kepala muncul.
Adakalanya serangan nyeri kepala baru muncul setelahlebih dari 10 jam sehabis gejala pembuka. Migren begini tergolong migren berkomplikasi. Pada kasus begini, migren sering dikira seangan stroke. Untuk memastikan serangan migren itu bukan serangan stroke, perlu dilakukan pemeriksaan kondisi pembuluh darah batang leher carotis (arteriografi). Jika positif ada kelainan, berarti benar itu serangan stroke. Pada migren pembuluh normal.
Pasien migren biasanya mengalami penimbunan cairan di beberapa bagian tubuh, sehingga mungkin wajah nampak membengkak, selain kelopak mata sembab, dan jari lebih besar dari biasanya, cincin dan sepatu menjadi lebih sempit. Migren sering menyerang pagi hari. Pada orang tertentu diet tertentu bisa mencetus serangan migren. Habis makan coklat dan kacang tertentu migren bisa kambuh. Pada wanita muda, migren bisa dahulu tidak sadarkan diri.
Migren juga berkaitan dengan hormon otak serotonin. Jika sadar serotonin rendah, migren kumat. Pasang surut kadar serotonin mencerminkan kondisi emosi. Itu sebab diduga ikut berpengaruh terhadap bangkitnya serangan migren.
Pengobatan
Tujuan
Tujuan pengobatan migren untuk (1) mengurangi nyeri akut, (2) memulihkan fungsi normal, (3) mencegah kekambuhan dan meminimalkan efek samping. Untuk sakit migren yang kronis tujuan yang lainnya adalah untuk mengurangi frekuensi sakit kepala yang ditimbulkan.
Terapi non farmakologi
Migren kronis biasanya membutuhkan pengobatan seperti terapi fisik dan latihan relaksasi. Umumnya terapi fisik melonggarkan dan memperkuat otot yang sakit, hal ini lebih efektif dibandingkan dengan pemberian obat untuk mengatasi migren ini.
Pengobatan secara umum untuk migrein termasuk (1) mengatur jadwal tidur dan makan secara teratur (2) mengatasi stress.
Pengaturan nutrisi bertujuan untuk mencegah migrein berdasar pada : (1) pembatasan makanan yang dapat memicu migrein (2) menghindari kelaparan dan rendahnya glukosa dalam darah (3) suplemen magnesium. Terapi nutrisi yang makanan yang disarankan tidak mengandung nitrit karena nitrit dapat memperlebar pembuluh darah. Makanan lain yang harus dihindari Makanan lain yang harus dihindari seperti coklat, sakarin, kafein, dan MSG. Hindari lingkungan yang bisa memicu migren , seperti asap rokok, suara bising dan bau yang menyengat.
Terapi farmakologi
Analgetika
Analgetika atau obat penghalang nyeri adalah zat-zat yang mengurangi atau menghalau rasa sakit tanpa menghilangkan kesadaran. Berasal dari bahasa Yunani yaitu an
Yang berarti tanpa dan algia yang berarti nyeri. Nyeri adalah perasaan sensoris dan emosional yang tidak enak dan yang berhubungan dengan gangguan atau kerusakan jaringan. Nyeri dapat terjadi karena rangsangan mekanis, kimiawi atau fisis yang menimbulkan kerusakan jaringan. Rangsangan tersebut memicu pelepasan zat-zat tertentu yang disebut mediator nyeri. Mediator nyeri terdiri antara lain histamin, serotonin, bradikinin, leukotrien, dan prostaglandin.
Contoh obat : Asetaminofen atau yang lebih populer dengan nama parasetamol (nama generik)
Parasetamol
Indikasi : Analgetika ini memiliki indikasi untuk mengatasi nyeri migren yang bersifat ringan sampai sedang. Obat ini bekerja dengan meringankan rasa sakit yang bersifat sementara. Kerjanya menghambat mediator nyeri terutama prostaglandin di otak.
Kontra-indikasi : Untuk anak dibawah umur 12 tahun dan anak yang sedang disusui. Obat ini juga tidak diperuntukkan bagi pasien yang sebelumnya pernah mengalami Hipersensitif terhadap obat ini, ulserasi saluran cerna, hemofilia.
Bentuk sediaan beserta dosisnya :
Dosis oral : 0,5-1 g tiap 4-6 jam hingga maksimum 4g sehari. Anak 2 bulan 60 mg. 3bulan -1 tahun 60-120 mg, 1-5 tahun 120-250 mg, 6-12 tahun 250-500 mg. Dosis-dosis ini boleh diulang tiap 4-6 jam bila diperlukan ( maksimum 4 dosis dalam 24 jam). Bentuk sediaan Kapsul 325, 500mg ; chew tab 80, 160 mg ; SR tab 650 mg; tab 160, 325,500, 650mg ; drp 48, 100 mg/ml ; elxr 16, 24, 26, 32, 65 mg/ml; sirup 32 mg/ml ; supp 80, 120, 300, 325, 650 mg.
Efek Samping :
Biasanya ringan dan tidak sering tetapi insidens tinggi untuk iritasi saluran cerna dengan pendarahan ringan yang tanpa gejala, memanjangnya waktu pendarahan :bronkospasme, dan reaksi kulit pada pasien hipersensitif.

Reaksi obat yang tidak dikehendaki :
Pada over dosis akut , kemungkinan dapat terjadi nekrosis hepatic fatal/ tubuli renal, tetapi bukri klinis dan laboratorium mengenai keracunan kemungkinan baru muncul setelah beberapa hari. Hepatitis toksik juga dapat terjadi pada pemakaian jangka panjang 5-8 g/ hari selama beberapa minggu atau 3-4 g/ hari selama satu tahun.
Tindakan Pencegahan :
Jika terjadi reaksi sensitif, hentikan pengobatan. Gunakan dengan hati-hati pada alkoholik kronis (tidak lebih dari 2g/hari).
Contoh nama dagang :
Bodrex (tablet 500mg) ; Pamol (Sirup 120mg/5ml ; tablet 500 mg); Panadol (drops 100 mg/ml; Kaptab 500 mg sirup 160mg/5 ml; tab kunyah 80 mg) ; Sanmol (droups 80ml/ 0,8 ml; sirup 120mg/5ml tablet 500 mg) Tempra (droups 100mg/ml; sirup 160 mg/ml).

Daftar Pustaka
Anonim, 2000, Informatorium Obat Nasional Indonesia (IONI), Departemen Kesehatan Republik Indonesia.

Anonim, 2006, Obat-Obat Penting Untuk Pelayanan Kefarmasian, Laboratorium Manajemen Farmasi dan Farmasi Masyarakat Bagian Farmasetika UGM.

Maryanix 2005, Applied Therapeutics The Clinical Use of Drug, Edision 8th , Library of Congress Cataloging in publication Data, USA.

PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI PENGHAMBAT ENZIM PENGUBAH ANGIOTENSIN PADA NEFROPATI DIABETIK

Penggunaan Antihipertensi Penghambat Enzim Pengubah Angiotensin pada Nefropati Diabetik

(M. Rianasari Dwi Swastika / 078115019)

Diabetes Melitus (DM), atau yang dikenal sebagai penyakit kencing manis, merupakan sekumpulan gangguan metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein yang ditandai dengan hiperglikemia (peningkatan kadar gula dalam darah sehingga kadarnya melebihi normal) serta dapat mengakibatkan komplikasi kronis termasuk mikrovaskular dan makrovaskular. Seseorang dikatakan menderita penyakit DM jika dalam pemeriksaan kadar gula darah puasa menunjukkan kadar gula darah lebih dari atau sama dengan 126 mg/dl, atau tes toleransi kadar gula dalam darah setelah 2 jam pemasukan glukosa secara oral lebih dari atau sama dengan 200 mg/dl, atau kadar glukosa dalam plasma sewaktu lebih dari atau sama dengan 200 mg/dl dengan gejala-gejala DM seperti merasa cepat lapar, rasa haus yang berlebihan, dan sering buang air kecil. Jika DM tidak ditangani dan diobati dengan baik maka akan dapat menimbulkan komplikasi pada mata, ginjal, atau pada saraf, dan dapat menyebabkan amputasi pada kaki. Komplikasi yang terjadi pada ginjal disebut dengan nefropati diabetik.

Nefropati diabetik merupakan suatu komplikasi penyakit DM yang termasuk dalam komplikasi mikrovaskular, yaitu komplikasi yang terjadi pada pembuluh darah yang lebih halus (kecil). Hal ini dikarenakan komplikasi ini terjadi pada ginjal, di mana pembuluh darah pada organ tersebut merupakan pembuluh darah yang halus. Nefropati diabetik timbul utamanya karena kerusakan fungsi glomerulus (penyaring yang ada dalam ginjal). Tingginya kadar gula dalam darah akan membuat struktur ginjal berubah sehingga fungsinyapun ikut berubah (rusak), termasuk fungsi ginjal dalam menyaring. Dalam keadaan normal protein tidak tersaring dan tidak melewati glomerulus karena ukuran protein yang besar tidak dapat melewati lubang-lubang glomerulus yang kecil. Dengan demikian adanya protein dalam urin dapat menunjukkan pasien DM mengalami komplikasi (gangguan) pada ginjalnya, dan pada awalnya ditunjukkan dengan mikroalbuminuria.

Pemeriksaan untuk mengetahui nefropati diabetik harus dimulai pada saat pasien DM tipe 2 didiagnosis menderita DM, sedangkan untuk pasien DM tipe 1 disarankan pemeriksaan dimulai 5 tahun setelah didiagnosis DM. Dalam pemeriksaan tersebut dilakukan pemeriksaan urin untuk mengetahui adanya mikroalbuminuria (disebut mikroalbuminuria jika terdapat lebih dari 30-300 mg albumin dalam pemeriksaan pengumpulan urin 24 jam atau terdapat lebih dari 30-300 mg albumin per gram kreatinin pada pengumpulan urin semalam atau pengukuran rasio albumin-kreatinin pada pengumpulan urin acak). Jika mikroalbuminuria tidak tampak pemeriksaan diulang setiap satu tahun satu kali baik untuk pasien DM tipe 1 maupun tipe 2. Bersamaan dengan atau sesaat setelah perkembangan mikroalbuminuria, hipertensi sering terjadi. Hipertensi ini akan memperburuk nefropati diabetik dan merupakan komponen penting dalam perkembangan gagal ginjal.

Setelah pemeriksaan menunjukkan adanya mikroalbuminuria sebaiknya segera dilakukan pengobatan. Pengobatan nefropati diabetik dilakukan dengan sasaran fungsi ginjal pasien, kadar gula darah, dan tekanan darah (fungsi jantung). Adapun tujuan dari pengobatan nefropati diabetik adalah untuk mencegah berkembangnya mikroalbuminuria menjadi makroalbuminuria (albumin lebih dari atau sama dengan 300 mg dalam pemeriksaan urin), menghambat penurunan fungsi ginjal pada pasien DM dengan makroalbuminuria, dan menurunkan kejadian penyakit kardiovaskular. Semakin cepat mikroalbuminuria diketahui maka akan semakin cepat pengobatan dilakukan. Semakin cepat pengobatan dilakukan maka manfaat yang didapatkan akan semakin besar pula dan pasien dapat terhindar dari gagal ginjal di mana fungsi ginjal sudah jauh menurun atau bahkan tidak dapat berfungsi lagi.

Untuk dapat mencapai tujuan tersebut maka diperlukan suatu strategi dalam pengobatan nefropati diabetik. Untuk pasien dengan normoalbuminuria (jumlah albumin dalam urin kurang dari 30 mg) pengobatan dilakukan dengan pencegahan terjadinya nefropati diabetik. Pencegahan tersebut dilakukan dengan kontrol kadar gula darah secara intensif, yang dapat dilakukan dengan menggunakan obat antidiabetik secara teratur. Penelitian klinik menunjukan bahwa dengan menggunakan obat secara teratur (ditunjukan dengan level HbA1c kurang dari 7%) dihubungkan dengan menurunnya resiko terkena nefropati diabetik pada pasien DM tipe 1 dan tipe 2. Selain itu kontrol tekanan darah secara intensif juga dapat menurunkan resiko penyakit kardiovaskular dan terjadinya komplikasi dari DM. Target tekanan darah untuk pasien DM adalah 130/80 mmHg.

Prinsip pengobatan pada pasien dengan mikroalbuminuria dan makroalbuminuria pada dasarnya sama dengan pencegahan penyakit nefropati diabetik, meskipun pada kasus ini strategi yang digunakan lebih banyak dan lebih intensif. Pada pasien dengan mikroalbuminuria dan makroalbuminuria kontrol gula darah dilakukan dengan menggunakan insulin atau obat antidiabetik oral sehingga level HbA1c kurang dari 7%. Kontrol kadar gula darah ini akan menurunkan hiperfiltrasi (peningkatan laju penyaringan glomerulus) dan menurunkan mikroalbuminuria pasien DM pada tahap awal penyakit ini.

Selain itu terapi antihipertensi juga dapat menurunkan mikroalbuminuria. Peningkatan mikroalbuminuria berhubungan dengan peningkatan tekanan darah dan kolesterol LDL. Dengan menggunakan antihipertensi maka mikroalbuminuria dapat dikontrol. Bukti dari beberapa penelitian mendukung peran spesifik obat antihipertensi golongan penghambat enzim pengubah angiotensin dalam menurunkan tekanan intraglomerular (dalam glomerulus) sebagai tambahan peran golongan obat tersebut dalam menurunkan tekanan darah tinggi. Tekanan darah yang dituju untuk pasien dengan mikroalbuminuria dan makroalbuminuria adalah kurang dari 130/80 mmHg atau 125/75 mmHg dengan peningkatan kreatinin serum dan proteinuria lebih dari 1,0 g/24 jam.

Rekomendasi strategi pengobatan untuk pasien dengan mikroalbuminuria dan makroalbuminuria yaitu dengan pengobatan antihipertensi, meliputi penghambat enzim pengubah angiotensin dan/atau antagonis reseptor angiotensin II, dan diet rendah protein (0,6 – 0,8 g/kg berat badan tiap hari). Tujuan yang ingin dicapai pada pasien dengan mikroalbuminuria adalah penurunan atau pengurangan albuminuria atau kembali ke normoalbuminuria. Sedangkan untuk pasien dengan makroalbuminuria dilakukan untuk mencapai kadar protein dalam urin serendah mungkin atau kurang dari 0,5 g/24 jam.

Pengobatan dapat dilakukan dengan nonfarmakologi (tanpa obat). Cara ini dilakukan dengan diet di mana terapi nutrisi direkomendasikan untuk semua orang yang menderita DM. Tujuan utamanya adalah mencapai keluaran metabolik yang optimal dan sebagai pencegahan dan terapi untuk komplikasi. Mengganti daging merah dengan daging ayam dalam diet akan menurunkan ekskresi albumin dalam urin sebesar 46% dan menurunkan kolesterol total, kolesterol LDL, dan apoliprotein B pada pasien DM tipe 2 dengan mikroalbuminuria.

Pengobatan dengan obat dapat dilakukan pada kontrol kadar gula darah dan kontrol tekanan darah. Seperti yang telah dituliskan di atas, kontrol tekanan darah dapat dilakukan dengan salah satunya penghambat enzim pengubah angiotensin. Obat golongan ini bekerja dengan cara dengan cara menghambat kerja enzim pengubah angiotensin sehingga perubahan angiotensin I menjadi angiotensin II dapat diblok. Angiotensin II merupakan vasokonstriktor kuat dan juga menstimulasi sekresi aldosteron. Dengan “terhalangnya” pembentukan angiotensin II maka vasokonstriksi (pengecilan pembuluh darah) tidak terjadi dan tekanan darah tetap (tidak menjadi tinggi). Hal yang sama juga terjadi dalam pembuluh darah di ginjal. Degradasi bradikinin juga diblok oleh penghambat enzim pengubah angiotensin. Hal ini membuat pasien yang menggunakan obat ini akan mengalami batuk kering persisten dan merupakan efek samping dari penghambat enzim pengubah angiotensin.

Pada pasien DM tipe 1 dan tipe 2 normotensif (tekanan darah normal) yang memiliki mikroalbuminuria, penelitian menunjukkan bahwa pengobatan dengan penghambat enzim pengubah angiotensin menurunkan laju perkembangan mikroalbuminuria menuju insufisiensi ginjal. Selain itu, mempertahankan kadar gula darah mendekati normal dengan pengobatan secara intensif juga dapat menurunkan resiko nefropati diabetik secara signifikan. Jika penyakit ginjal stadium akhir (gagal ginjal) sudah terjadi, transplantasi ginjal merupakan terapi pengganti yang lebih ditawarkan daripada menggunakan penghambat enzim pengubah angiotensin.

Obat pilihan : antihipertensi golongan penghambat enzim pengubah angiotensin

1. Kaptopril

Nama generik : Kaptopril

Nama dagang di Indonesia : Capoten, Casipril, Dexacap, Farmoten, Metopril, Otoryl, Praten, Scantensin, Tensobon.

Indikasi : hipertensi, gagal jantung kongestif, setelah infark miokard, nefropati diabetik.

Kontraindikasi : untuk pasien yang hipersensitif terhadap kaptopril atau komponen lain dalam obat dalam komposisi obat; pasien yang memiliki riwayat angiodema dikaitkan dengan pengobatan dengan penghambat enzim pengubah angiotensin terdahulu; pasien dengan penyempitan arteri bilateral ginjal; pasien yang sedang hamil trimester kedua atau ketiga.

Bentuk sediaan : tablet 12,5 mg, 25 mg, 50 mg.

Dosis dan aturan pakai : untuk pengobatan nefropati diabetik digunakan dosis 25 mg, diminum 3 kali dalam sehari; jika diperlukan penurunan tekanan darah lebih lanjut, antihipertensi lain dapat digunakan bersama kaptopril; pada gangguan ginjal berat awalnya 12,5 mg, 2 kali sehari.

Efek samping : hipotensi, batuk kering yang persisten, pusing, sakit kepala, letih, mual, memperburuk fungsi ginjal (mungkin terjadi pada pasien dengan penyempitan arteri bilateral ginjal), ruam kulit, reaksi hipersensitif, gangguan tidur, gelisah, anemia, radang pankreas.

Resiko khusus : pada pasien yang sedang hamil pada trimester pertama resiko penggunaan obat ini adalah termasuk kategori C, di mana penelitian pada wanita (manusia) belum tersedia. Pasien yang sedang hamil pada trimester kedua dan ketiga termasuk dalam kategori D, di mana terdapat bukti positif resiko pada janin manusia, tetapi obat dapat digunakan pada wanita hamil walaupun beresiko yaitu pada kasus penyakit serius dan obat yang lebih aman tidak dapat digunakan atau inefektif.

2. Enalapril

Nama generik : Enalapril

Nama dagang di Indonesia : Meipril, Renacardon, Tenace.

Indikasi : hipertensi ringan sampai berat, pengobatan CHF, disfungsi ventrikel kiri setelah miokard infark, nefropati diabetik.

Kontraindikasi : untuk pasien yang hipersensitif terhadap enalapril atau enalaprilat; pasien yang memiliki riwayat angiodema terkait dengan pengobatan dengan penghambat enzim pengubah angiotensin terdahulu; pasien dengan penyempitan arteri bilateral ginjal; pasien yang sedang hamil trimester kedua atau ketiga.

Bentuk sediaan : tablet 2,5 mg, 5 mg, 10 mg, 20 mg.

Dosis dan aturan pakai : awalnya 5 mg/hari. Penyesuaian dosis pada gangguan ginjal : klirens kreatinin 30-80 ml/menit beri 5 mg/hari dititrasi sampai maksimum 40 mg; klirens kreatinin kurang dari 30 ml/menit beri 2,5 mg/hari dititrasi (ditingkatkan) sampai tekanan darah terkontrol.

Efek samping : batuk kering yang persisten, pusing, sakit kepala, lelah, lesu, mual, diare, ruam, hipotensi, memperburuk fungsi ginjal (mungkin terjadi pada pasien dengan penyempitan arteri bilateral ginjal), ruam kulit, reaksi hipersensitif.

Resiko khusus : pada pasien yang sedang hamil pada trimester pertama resiko penggunaan obat ini adalah termasuk kategori C, di mana penelitian pada wanita (manusia) belum tersedia. Pasien yang sedang hamil pada trimester kedua dan ketiga termasuk dalam kategori D, di mana terdapat bukti positif resiko pada janin manusia, tetapi obat dapat digunakan pada wanita hamil walaupun beresiko yaitu pada kasus penyakit serius dan obat yang lebih aman tidak dapat digunakan atau inefektif.

Anonim, 2000, Infomatorium Obat Nasional Indonesia 2000, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.

Lacy, C.F., Armstrong, L.L., Goldman, M.P., and Lance, L.L., 2006, Drug Information Handbook, 14th Ed., Lexi-Comp Inc., United States of America.

Genuth, S., 2003, Diabetes Mellitus, in Pale, D.C., Federman, D.D., (Eds.), Scientific American Medline, 2003 Ed., Vol.1, 582-584,606, WebMD Inc., United States of America.

Gross, J.L., de Azevedo, M.J., Silveiro, S.P., Canani, L.H., Caramori, M.L. and Zelmanovitz, T., 2005, Diabetic Nephropathy: Diagnosis, Prevention, and Treatment, http://care.diabetesjournals.org/cgi/content/full/28/1/.

McPhee, S.J., Lingappa, V.R., Ganong, W.F., and Lange, W.F., 1995, Pathophysiology of Disease an Introduction to Clinical Medicine, First (1st) Ed., 384-387, Prentice-Hall International Inc., London.

Masharani, U., 2006, Diabetes Mellitus and Hypoglycemia, dalam Tierney, L.M., McPhee, S.J., dan Papadakis, M.A., (Eds.), Current Medical Diagnosis and Treatment, 45th Ed., 1221-1222, The Mc Graw-Hill Companies, New York.

Triplitt, C.L., Reasner, C.A., and Isley, W.L., 2005, Diabetes Mellitus, dalam Dipiro, J.T., Talbert, R.L., Yee, G.C., Matzke, G.R., Wells, B.G., dan Posey, L.M., (Eds.), Pharmacotherapy A Patophysiologic Approach, Sixth (6th) Ed., 1333-1363, The Mc Graw-Hill Companies, New York.

PENGGUNAAN ANTIMOTILITAS (LOPERAMIDE) PADA DIARE AKUT AKIBAT INFEKSI

Penggunaan Antimotilitas (Loperamid ) pada Diare Akut Akibat Infeksi

(Y Nugraha Sukarna/078115038)

Di Indonesia penyakit diare merupakan penyakit endemis dan tahunan yang biasa menyerang ketika musim hujan tiba. Hal ini disebabkan masih kurangnya kesadaran masyarakat akan kebersihan lingkungan disekitarnya sehingga ketika ada salah satu warga terkena diare akan menyebar ke warga yang lain. Di tiap-tiap kabupaten maupun provinsi dalam setahun masih ditemukan adanya Kejadian Luar Biasa (KLB) penyakit diare, hal ini menggambarkan bagaimana masyarakat hidup dengan resiko terkena diare yang besar bila tidak menjaga kebersihan. Penderita diare harus segera diberikan terapi pengobatan bila dibiarkan berlanjut tanpa terapi yang benar akan berakibat fatal.

Diare adalah buang air besar (defekasi) dengan tinja berbentuk cair atau setengah cair (setengah padat), kandungan air tinja lebih banyak dari biasanya lebih dari 200 g atau 200 ml/24 jam, yang berlangsung kurang atau paling lama 15 hari. Definisi lain memakai kriteria frekuensi, yaitu buang air besar encer lebih dari 3 kali per hari. Buang air besar encer tersebut dapat/tanpa disertai lendir dan darah. Diare terbagi menjadi 2 berdasarkan mula dan lamanya yaitu diare akut dan diare kronik. Dalam keadaan normal, tinja mengandung 60-90% air, pada diare airnya bisa mencapai lebih dari 90%.

Diare akut adalah diare yang waktu terjadinya gejala tiba-tiba dan berlangsung singkat (< 48-72 jam) disebabkan oleh infeksi (virus dan bakteri), keracunan makanan atau obat, sedang diare kronik yaitu diare yang berlangsung lebih dari 3 minggu (orang dewasa) sedangkan pada bayi dan anak 2 minggu, merupakan fase lanjut dari diare akut. Bakteri penyebab diare antara lain: Shigella, Salmonella, Campylobacter, Staphylococcus, V. cholerae serta E. Coli (ETEC dan EIEC), sedangkan virus antara lain: Adenovirus dan Rotavirus.

Secara klinis diare akut karena infeksi dibagi menjadi 2 golongan. Pertama, koleriform, dengan diare yang terutama terdiri atas cairan saja. Kedua, disentriform, pada diare didapatkan lendir kental dan kadang-kadang darah. Pasien dengan diare akut akibat infeksi akan sering mengalami mual, muntah, nyeri perut, dan demam. Kekurangan cairan akan menyebabkan pasien akan merasa haus, lidah kering, tulang pipi menonjol, kulit menjadi keriput serta suara menjadi serak. Kekurangan kalium dapat menimbulkan aritmia jantung. Perfusi ginjal dapat menurun yang menimbulkan anuria sehingga bila kekurangan cairan tak segera diatasi dapat menyebabkan dehidrasi dan nekrosis tubular akut. Tujuan pengobatan diare akibat infeksi yaitu memperbaiki kehilangan cairan dan elektrolit, menghilangkan simtom (gejala), menghilangkan penyebab utama dan menghindari terjadinya gangguan kedua.

Adapun strategi terapi diare akut akibat infeksi yaitu : rehidrasi sebagai prioritas utama pengobatan, pasien diberikan oralit atau ringer laktat, kemudian dilakukan identifikasi penyebab diare apakah termasuk jenis diare koleriform atau disentriform, selanjutnya dilakukan pemeriksaan penunjang yang terarah. Terapi simtomatik (gejala) salah satunya obat anti diare golongan antimotilitas dan sekresi usus dari golongan opiat salah satunya adalah Loperamide (ImodiumÒ) dan yang terakhir adalah melakukan terapi definitif dengan pemberian edukasi yang jelas sangat penting sebagai langkah pencegahan antara lain higiene perorangan, sanitasi lingkungan dan imunisasi melalui vakinasi.

Loperamide merupakan derivat difenoksilat (dan haloperidol, suatu anti psikotikum) dengan khasiat obstipasi yang 2-3 kali lebih kuat tetapi tanpa efek terhadap sistem saraf pusat (SSP) karena tidak bisa menyeberangi sawar-darah otak oleh karena itu kurang menyebabkan efek sedasi dan efek ketergantungan dibanding golongan opiat lainnya seperti difenoksilat dan kodein HCl. Loperamide mampu menormalkan keseimbangan resorpsi-sekresi dari sel-sel mukosa, yaitu memulihkan sel-sel yang berada dalam keadaan hipersekresi ke keadaan resorpsi normal kembali. Mulai kerja loperamide lebih cepat dan bertahan lebih lama.

Obat ini tidak boleh diberikan pada anak di bawah usia 2 tahun, karena fungsi hatinya belum berkembang dengan sempurna untuk dapat menguraikan obat ini, begitu pula untuk pasien dengan penyakit hati hati disarankan tidak menggunakan obat ini.

Loperamide dapat dikombinasikan dengan antibiotika (amoksisilin, fluoroquinolon, kotrimoksazol) untuk semua diare akibat infeksi bakteri atau virus kecuali infeksi Shigella, Salmonella, dan kolitis pseudomembran karena akan memperburuk diare yang diakibatkan bakteri enteroinvasif akibat perpanjangan waktu kontak antara bakteri dan epitel usus. Disamping itu loperamide juga tidak berinteraksi dengan antibiotika-antibiotika tersebut.

Obat pilihan :

Nama generik : Loperamide HCl

Nama paten : ImodiumÒ (Janssen-Cilag)

Nama dagang Indonesia : Alphamid (Alpharma), Amerol (Tempo), Antidia (Bernofarm),

Colidium (Solas), Diadium (Lapi), Imomed (Medikon), Imore

(Soho), Inamid (Nufarindo), Loremid (Meprofarm), Motilex

(Kalbe Farma), Normudal (Combiphar), Renamid (Fahrenheit).

Indikasi : untuk pengobatan diare akut dan diare kronik

Kontraindikasi : hipersensitivitas dengan loperamid, hambatan peristaltik, bayi

dan anak < 2 tahun, hindari penggunaan sebagai terapi utama

untuk disentri akut, ulseratif kolitis akut, bacterial enterocolitis

dan kolitis pseudomembran.

Bentuk sediaan : kaplet dan tablet salut selaput 2 mg.

Dosis dan aturan pakai : anak-anak : – diare akut maksimal 16 mg per hari

2-5 tahun (13-20 kg) : 1 mg 3 kali per hari

6-8 tahun (20-30 kg) : 2 mg 2 kali per hari

8-12 tahun (> 30 kg) : 2 mg 3 kali per hari

pemeliharaan : 0,1 mg/kg BB sesudah BAB

- diare kronis maksimal 4-12 mg per hari

< 5 tahun : 1 mg 4 kali per hari

> 5 tahun : 2 mg 4 kali per hari

pemeliharaan : 2 mg per hari sesudah BAB

dewasa : – diare akut, dosis awal 4 mg diikuti 2 mg

sesudah BAB maksimal 16 mg/hari,

- diare kronis dosis awal seperti diare akut

diikuti 4-8 mg/hari sesudah BAB maksimal

16 mg/hari.

Efek samping : nyeri abdominal (perut), mual, muntah, mulut kering,

mengantuk, pusing, ruam kulit, dan megakolon toksik.

Resiko khusus : pada pasien yang sedang hamil pada trimester pertama resiko

penggunaan obat ini adalah termasuk kategori C, di mana

penelitian pada wanita (manusia) belum tersedia.

Tidak direkomedasikan untuk wanita menyusui karena

loperamid dapat masuk ke jaringan payudara (susu).

Tidak boleh untuk pasien dengan kolitis ulserativ parah, karena

megakolon toksik dapat terjadi.

Anonim, 2006, MIMS, edisi bahasa Indonesia volume 7, PT Info Master, Jakarta, 28-30.

Dipiro, Josep T, 2005, Pharmacotherapy Pathophysiologic Approach, sixth edition, The McGraw-Hill Companies Inc., 677-683

Katzung, Bertram G, 2004, Farmakologi Dasar dan Klinik, edisi pertama, Salemba Medika, Jakarta, 553.

Mansjoer,Arif dkk.,2001, Kapita Selekta Kedokteran, edisi ketiga jilid I, Media Aesculapius Fakultas Kedokteran UI, Jakarta, 500-507.

Tjay, H. T., dan Rahardja, K., 2002, Obat-obat Penting: Khasiat, Penggunaan dan Efek-efek Sampingnya, Edisi V, Cetakan pertama, 781, Gramedia, Jakarta, 271-279.

Penggunaan Tacrolimus pada Atopic Dermatitis

Penggunaan Tacrolimus pada Atopic Dermatitis
Disusun oleh:
M. Maharani Eka sati
078115018

Pendahuluan
Dermatitis atopik merupakan penyakit kulit sangat gatal berupa bercak kemerahan bersisik, terdapat pada wajah dan daerah-daerah lipatan yang bisa menjadi basah dan mengering seperti koreng. Garukan dan gesekan akan menyebabkan infeksi, penebalan kulit dan likenifikasi.
Dermatitis atopik dibagi menjadi tiga fase yaitu:
1. dermatitis atopik fase infantil (bayi usia 0-2 tahun)
2. dermatitis atopik fase anak (anak usia 2-12 tahun)
3. dermatitis atopik fase dewasa (usia 12-18 tahun)
Faktor pencetus
1. penggunaan sabun atau detergen, bahan kimia yang dapat memicu rasa gatal pada kulit
2. pakaian dari bahan wol atau berserat kasar
3. keringat berlebihan, disebabkan lingkungan yang bersuhu panas/dingin dan kelembaban tinggi atau rendah, sinar matahari.
4. akibat tungau debu rumah, bulu binatang, serbuk sari, karpet, dll.
Dermatitis atopik merupakan kondisi kambuhan yang dimulai pada masa anak-anak dan kadang terus berlanjut sampai manula. Dermatitis atopik tidak menular. Penyakit ini tidak dapat disembuhkan, namun penanganan yang tepat akan mencegah dampak negatif penyakit ini terhadap anak yang mengalami dermatitis atopik dan keluarganya.
Kecenderungan penderita dermatitis atopik yaitu sebagai berikut:
1. 5% dari anak-anak berusia kurang dari 5 tahun
2. 25% punya riwayat keluarga dengan asma, hay fever, konjungtivitis atau dermatitis dengan diastesi atopik.
3. kadar IgE serum meningkat

Sasaran
Terapi untuk penyakit dermatitis atopik ini lebih untuk mengatasi kekeringan kulit yang timbul, menghilangkan inflamasi, mengurangi rasa gatal, mengidentifikasi dan menghilangkan faktor pencetus.

Tujuan
Perawatan dan pengobatan dermatitis atopik harus dilakukan mengingat penyakit ini kronis dan sangat mengganggu. Banyak faktor yang menyebabkan kambuh antara lain alergen, infeksi kulit, iritasi, berkeringat, kedinginan, stress. Oleh karena itu pengobatan pada dasarnya dengan menghindari hal-hal tersebut. Tujuan dari terapi dermatitis atopik yaitu untuk (1) melembutkan kulit dengan emolien, (2) mengurangi rasa gatal dengan antihistamin oral, (3) mengurangi inflamasi dengan steroid topikal atau dengan tacrolimus topikal.

Strategi Terapi
Dermatitis atopik merupakan reaksi hipersensitivitas dan dapat kambuh hingga usia dewasa sehingga mungkin sulit untuk diatasi. Namun terapi tetap dapat dilakukan dengan pinsip melembabkan kulit dengan menggunakan emolien dan mengurangi rasa gatal dengan antihistamin oral ditambah dengan penggunaan NSAID untuk mengurangi inflamasinya. Pada terapi kali ini akan dijelaskan tentang penggunaan tacrolimus topikal untuk pengobatan dermatitis atopik.

1. Terapi non farmakologis
Faktor iritan seperti sabun, pekerjaan yang terus menerus basah, panas dan paparan zat pelarut harus dihindari. Selain itu kebersihan kondisi lingkungan tempat tinggal juga mempengaruhi, menghindari tungau debu rumah dapat membantu mengurangi bertambah parahnya dermatitis atopik. Selain itu iklim juga berpengaruh, sehingga penderita harus menjaga kondisi sanitasi dan ventilasi di sekitar tempat tinggal. Iklim yang cerah kering menguntungkan.

2. Terapi Farmakologis
TACROLIMUS
Tacrolimus merupakan hasil fermentasi dari Streptomyces tsukubaensis dan diisolasi pertama kali pada tahun 1984. Tacrolimus bekerja dengan menghambat transkripsi gen pembentuk sitokin pada limfosit T. Tacrolimus memiliki aktivitas immunosupresif seperti cyclosporine, namun dengan volume yang sama tacrolimus memiliki daya yang lebih kuat. Tacrolimus dapat digunakan pada preparat topikal untuk terapi dermatitis atopik berat.

Indikasi:
Untuk terapi jangka panjang dan pendek dermatitis atopik

Kontra indikasi: hipersensitif terhadap makrolid

Bentuk sediaan :
Salep 0.03% x 10 g
Salep 0.1% x 10 g

Dosis:
a. Dewasa : oleskan tipis (kandungan salep 0.03% – 0.1%) pada daerah kulit yang terkena, lanjutkan sampai satu minggu hingga gejala dan tanda dari dermatitis atopik hilang.
b. Anak (usia kurang dari 2 tahun) : oleskan tipis (kandungan salep 0.03%) pada daerah kulit yang terkena, lanjutkan sampai satu minggu hingga gejala dan tanda dari dermatitis atopik hilang.

Efek samping:
- Rasa panas terbakar, tersengat atau gatal biasanya bersifat ringan sampai sedang dan cenderung membaik dalam waktu 1 minggu terapi.
- Penglihatan kabur
- Masalah liver & ginjal (Nefrotoksik)
- Tremor, hipertensi, hipomagnesemia, kram, neuropathy
- Meningkatnya terjadinya infeksi jamur, virus
- Diare, muntah
- Kurangnya nafsu makan
- Insomia

Perhatian:
Emolien tidak boleh digunakan pada area yang sama dalam waktu 2 jam, pemberian bersama preparat topikal lain tidak dianjurkan. Infeksi klinis pada tempat yang diobati harus disingkirkan sebelum terapi. Hindari kontak dengan mata dan membran mukosa, penggunaan penutup luka/ perban, atau paparan sinar matahari. Kehamilan (kategori C) dan laktasi.
Nama dagang: Protopic®

DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2000, Informatorium Obat Nasional Indonesia (IONI), Departemen Kesehatan Republik Indonesia

Anonim, 2007, MIMS Indonesia Petunjuk Konsultasi, Ed. 6, Info Master, Jakarta.

Davey, P., 2003, At a Glance MEDICINE, Erlangga, Jakarta.

Katzung, G., and Bertram, M., 2007, Basic and Clinical Pharmacology, 10th edition, The Mc.Graw-Hill Company, USA

Tatro, D. S., 2004, A to Z Drugs Facts, 5th Edition, Wolters Kluwer Health, Inc., USA

Penggunaan Amlodipin Sebagai Antihipertensi

PENGGUNAAN AMLODIPIN SEBAGAI ANTIHIPERTENSI   

St. Layli Prasojo, S.Farm.(078115065)                

I. SASARAN TERAPI

Secara umum, yang menjadi sasaran terapi pada penyakit hipertensi adalah tekanan darah. Berdasarkan mekanisme penurunan tekanan darah, sasaran terapi hipertensi secara khusus terbagi menjadi:

1.       Sasaran pada tubula ginjal.Anti hipertensi yang bekerja di tubula ginjal bekerja dengan cara mendeplesi (mengosongkan) natrium tubuh dan menurunkan volume darah.

2.       Sasaran pada saraf simpatis.Pengaruh anti hipertensi pada saraf simpatis yaitu menurunkan tahanan vaskuler perifer, menghambat fungsi jantung, dan meningkatkan pengumpulan vena di dalam pembuluh darah kapasitans.

3.       Sasaran pada otot polos vaskuler.Anti hipertensi menurunkan tekanan darah dengan cara merelaksasi otot polos vaskular sehingga mendilatasi pembuluh darah resistans.

4.       Sasaran pada angiotensinAnti hipertensi menyakat produksi angiotensin atau menghambat ikatan angiotensin dengan reseptornya, sehingga menyebabkan penurunan tahanan vaskular perifer dan volume darah.

Sasaran terapi hipertensi dengan menggunakan amlodipin adalah pada otot polos vaskular. Hal ini berdasarkan mekanisme kerja dari amlodipin, yaitu sebagai inhibitor influks kalsium (slow chanel blocker atau antagonis ion kalsium), dan menghambat masuknya ion-ion kalsium transmembran ke dalam jantung dan otot polos vaskular. Ion kalsium berperan dalam kontraksi otot polos. Jadi dengan terhambatnya pemasukan ion kalsium mengakibatkan otot polos vaskuler mengalami relaksasi. Dengan demikian menurunkan tahanan perifer dan menurunkan tekanan darah.

II.                TUJUAN TERAPI

Tujuan terapi hipertensi adalah menurunkan tekanan darah hingga taraf yang direkomendasikan. Tekanan darah yang disarankan oleh JNC7, yaitu :

1.       Di bawah 140/90 mmHg

2.       Untuk pasien dengan diabetes, di bawah 130/80 mmHg

3.       Untuk pasien dengan penyakit gagal ginjal kronis, di bawah 130/80 mmHg (GFR < 60 ml/menit, serum kreatinin > 1,3 mg/dL untuk wanita dan > 1,5 mg/mL untuk pria, atau albuminuria > 300 mg/hari atau ≥ 200 mg/g kreatinin). 

III.             STRATEGI TERAPI

Terapi hipertensi dapat dibagi menjadi dua cara, yaitu:

1.      Terapi non farmakologi. Terapi non farmakologi yaitu pengobatan tanpa menggunakan obat. Terapi non farmakologi pada hipertensi lebih ditekankan pada gaya hidup. Gaya hidup yang disarankan untuk penderita hipertensi antara lain: mengurangi asupan natrium (garam), mengurangi makan makanan berlemak, jangan merokok, hindari minuman beralkohol, olah raga secara teratur, dan hindari aktivitas fisik yang berat.

2.      Terapi farmakologi. Terapi farmakologi yaitu penanganan penyakit menggunakan obat. Obat-obat yang biasa digunakan pada terapi hipertensi adalah:

a.       Diuretik. Diuretik bekerja dengan meningkatkan ekskresi natrium, klorida dan air, sehingga mengurangi volume plasma dan cairan ekstrasel, sehingga tekanan darah menurun. Ada tiga golongan obat diuretik, yaitu:  tiazid (cth: Hidroklortiazid), diuretik kuat (cth: furosemid), dan diuretik hemat kalium (cth: Spironolakton).

b.       β-blocker (Misal : propanolol, bisoprolol). Merupakan obat utama pada penderita hipertensi ringan sampai moderat dengan penyakit jantung koroner atau dengan aritmia. Bekerja dengan menghambat reseptor β1 di otak, ginjal dan neuron adrenergik perifer, di mana β1 merupakan reseptor yang bertanggung jawab untuk menstimulasi produksi katekolamin yang akan menstimulasi produksi renin. Dengan berkurangnya produksi renin, maka cardiac output akan berkurang yang disertai dengan turunnya tekanan darah.

c.       α-blocker (Misal : Doxazosin, Prazosin). Bekerja dengan menghambat reseptor α­1 di pembuluh darah sehingga terjadi dilatasi arteriol dan vena. Dilatasi arteriol akan menurunkan resistensi perifer.

d.       Penghambat Renin Angiotensin System1). Angiotensin Converting Enzyme Inhibitor/ACEI (Cth: Captopril, Enalapril)Bekerja dengan menghambat enzim peptidil dipeptidase yang mengkatalisis pembentukan angiotensin II dan pelepasan bradikinin (suatu senyawa vasodilator). Dengan demikian, akan  terjadi vasodilatasi dan penurunan sekresi aldosteron yang menyebabkan terjadinya ekskresi natrium dan air, serta retensi kalium. Akibatnya terjadi penurunan TD.2). Angiotensin II Reseptor Antagonist/AIIRA (Cth: Losartan)Bekerja dengan bertindak sebagai antagonis reseptor angiotensin II yang terdapat di otot jantung, dinding pembuluh darah, sistem syaraf pusat, ginjal, anak ginjal, dan hepar sehingga efek sekresi aldosteron yang disebabkan oleh angiotensin II tidak terjadi. Akibatnya akan terjadi penurunan tekanan darah.Digunakan sebagai obat kombinasi dengan ACEI sebagai penurun TD yang efektif, karena kerja kedua kelas obat ini saling sinergi.

e.  Calcium channel blocker (Cth: Nifedipin, Amlodipin). Bekerja dengan menghambat masuknya kalsium ke dalam otot polos pembuluh darah sehingga mengurangi tahanan perifer. Merupakan antihipertensi yang dapat bekerja pula sebagai obat angina dan antiaritmia, sehingga merupakan obat utama bagi penderita hipertensi yang juga penderita angina.

IV.              OBAT PILIHAN

  1. Nama Generik

      Amlodipin; sebagai garam amlodipin besilat atau amlodipin asetat.

  1. Nama Dagang di Indonesia

            Tensivask® (Pfizer), Norvask® (Dexa Medica), Divask® (Kalbe Farma)

  1. Indikasi

            Amlodipin diindikasikan untuk pengobatan hipertensi, dapat digunakan sebagai agen tunggal untuk mengontrol tekanan darah pada sebagian besar penderita hipertensi. Penderita hipertensi yang tidak cukup terkontrol jika hanya menggunakan anti hipertensi tunggal akan sangat menguntungkan dengan pemberian amlodipin yang dikombinasikan dengan diuretik thiazida, inhibitor β-adrenoreseptor, atau inhibitor angiotensin converting enzyme. Amlodipin juga diindikasikan untuk pengobatan iskemia myokardial, baik karena obstruksi fixed (angina stabil), maupun karena vasokonstriksi (angina varian) dari pembuluh darah koroner. Amlodipin dapat digunankan sebagai monoterapi atau kombinasi dengan obat-obat anti angina lain, terutama pada penderita angina yang sukar disembuhkan dengan nitrat dan atau dengan β-blocker pada dosis yang memadai.

  1. Kontraindikasi

            Amlodipin dikontraindikasikan pada pasien yang sensitif terhadap dihidropiridin.    

  1. Bentuk sediaan

      Amlodipin yang beredar di pasaran semuanya berada dalam bentuk sediaan tablet per oral dengan kekuatan 5 mg dan 10 mg.  

  1. Dosis dan Aturan Pakai

            Untuk hipertensi dan angina, dosis awal yang biasa digunakan adalah 5 mg satu kali sehari. Dosis dapat ditingkatkan hingga maksimum 10 mg tergantung respon pasien secara individual dan tingkat keparahan penyakitnya. Untuk anak-anak, pasien lemah, dan usia lanjut atau pasien dengan gangguan fungsi hati dapat dimulai dengan dosis 2,5 mg amlodipin satu kali sehari. Dosis ini juga dapat digunakan ketika amlodipin diberikan bersama anti hipertansi lain.

  1. Efek Samping

            Efek samping pada kardiovaskular: Palpitasi; peripheral edema; syncope; takikardi, bradikardi, dan aritmia. Pada SSP: sakit kepala, pusing, dan kelelahan.  Pada kulit: dermatitis, rash, pruritus, dan urtikaria. Efek pada Saluran pencernaan: mual, nyeri perut, kram, dan tidak nafsu makan. Efek pada saluran pernafasan: nafas menjadi pendek-pendek, dyspnea, dan wheezing. Efek samping lain: Flushing, nyeri otot, dan nyeri atau inflamasi. Pada penelitian klinis dengan kontrol plasebo yang mencakup penderita hipertensi dan angina, efek samping yang umum terjadi adalah sakit kepala, edema, lelah, flushing, dan pusing.

  1. Resiko Khusus

a.       Penggunaan pada pasien dengan kegagalan fungsi hatiWaktu paruh eliminasi amlodipin lebih panjang pada pasien dengan kegagalan fungsi hati dan rekomendasi dosis pada pasien ini belum ditetapkan. Sebaiknya perlu diberikan perhatian khusus penggunaan amlodipin pada penderita dengan kegagalan fungsi hati

b.       Penggunaan pada wanita hamil dan menyusuiKeamanan penggunaan amlodipin pada wanita hamil dan menyusui belum dibuktikan. Amlodipin tidak menunjukan toksisitas pada penelitian reproduktif pada hewan uji selain memperpanjang parturisi (proses melahirkan) pada tikus percobaan yang diberi amlodipin 50 kali dosis maksimum yang direkomendasikan pada manusia. Berdasarkan hal itu, penggunaan pada wanita hamil dan menyusui hanya direkomendasikan bila tidak ada alternatif lain yang lebih aman dan bila penyakitnya itu sendiri membawa resiko yang lebih besar terhadap ibu dan anak.

V.                 PUSTAKA         

Dipiro, J.T., 2005, Pharmacotherapy : A Pathophysiologic Approach, 6th edition, The McGraw-Hill   Company, USA         

Katzung, G. dan Bertram, M., 2007, Basic and Clinical Pharmacology, 10th edition, The                           McGraw-Hill Company, USA         

Tatro, David S., Pharm D, 2004, A to Z Drug Facts, 5th edition, 80-82, Wolters Kluwer                               Health, Inc., USA

PENGGUNAAN ANTIDIABETIK ORAL GOL. SULFONILUREA PADA DIABETES MELLITUS

PENGGUNAAN ANTIDIABETIK ORAL GOL. SULFONILUREA

PADA DIABETES MELLITUS

Sunarni Darwis Sasmito S.Far (078115032)

    PENDAHULUAN

Diabetes mellitus merupakan penyakit menahun yang ditandai dengan kadar glukosa darah yang melebihi nilai normal. Apabila dibiarkan tidak terkendali, diabetus mellitus dapat menimbulkan komplikasi yang berakibat fatal, misalnya terjadi penyakit jantung koroner, gagal ginjal, kebutaan dan lain-lain.

Menurut data stastistik tahun 1995 dari WHO terdapat 135 juta penderita diabetes mellitus di seluruh dunia. Tahun 2005 jumlah diabetes mellitus diperkirakan akan melonjak lagi mencapai sekitar 230 juta. Angka mengejutkan dilansir oleh beberapa Perhimpunan Diabetes Internasional memprediksi jumlah penderita diabetes mellitus lebih dari 220 juta penderita di tahun 2010 dan lebih dari 300 juta di tahun 2025.

Dari data WHO di tahun 2002 diperkirakan terdapat lebih dari 20 juta penderita diabetes mellitus di tahun 2025. tahun 2030 angkanya bisa melejit mencapai 21 juta penderita. Saat ini penyakit diabetes mellitus banyak dijumpai penduduk Indonesia. Bahkan WHO menyebutkan, jumlah penderita diabetes mellitus di Indonesia menduduki ranking empat setelah India, China, dan Amerika Serikat.

Apoteker, terutama bagi yang bekerja di sektor kefarmasian komunitas, memiliki peran yang sangat penting dalam keberhasilan penatalaksanaan diabetes. Membantu penderita menyesuaikan pola diet sebagaimana yang disarankan ahli gizi, mencegah dan mengendalikan komplikasi yang mungkin timbul, mencegah dan mengendalikan efek samping obat, memberikan rekombinasi penyesuaian rejimen dan dosis obat yang harus dikonsumsi penderita bersama-sama dengan dokter yang merawat penderita, yang kemungkinan dapat berubah dari waktu ke waktu sesuai dengan kondisi penderita, merupakan peran yang sangat sesuai dengan kompetensi dan tugas seorang apoteker. Apoteker dapat juga memberikan tambahan ilmu pengetahuan kepada penderita tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan kondisi dan pengelolaan diabetes.

Diabetes mellitus sendiri didefinisikan sebagai suatu penyakit dan gangguan metabolisme kronis dengan multi etilogi yang ditandai dengan tingginya kadar gula darah disertai dengan gangguan metabolisme karbohidrat, lipid, dan protein sebagai akibat insufisiensi fungsi insulin. Insufisiensi fungsi insulin dapat disebabkan oleh gangguan atau difisiensi produk insulin oleh sel-sel beta Langerhans kelenjar pankreas, atau disebabkan oleh kurang reponsifnya sel-sel tubuh terhadap insulin (WHO, 1999).

    SASARAN TERAPI

Diabetes mellitus terjadi karena gangguan metabolisme kronis yang ditandai dengan meningkatnya atau tingginya kadar glukosa darah, sehingga yang menjadi sasaran terapi yang paling utama diabetes mellitus adalah upaya pengendalian atau mengendalikan kadar glukosa darah dengan menjaga kadar glukosa darah berada dalam kisaran normal.

    TUJUAN TERAPI

Terapi diabetes mellitus hendaklah bertujuan untuk mencegah akibat-akibat defisiensi insulin yang akan segera timbul, yang meliputi hiperglikemia simptomatik (yaitu : polyuria, polydipsia dan penurunan berat badan), ketoasidosis diabetika (KAD) dan sindroma hyperosmolar non-ketotic (SHNK) dan mencegahkan atau meminimalkan komplikasi-komplikasi penyakit yang berlangsung lama yang timbul akibat diabetes mellitus.

Terdapat petunjuk-petunjuk yang menyarankan bahwa komplikasi-komplikasi kronis diabetes mellitus berasal dari kelainan-kelainan metabolik dan bahwa pengendalian hiperglikemia dapat menurunkan insidensi bagi terjadinya komplikasi-komplikasi itu (Ann. Intern. Med 105 : 254, 1986). Dokter sebaiknya membuat rancangan terapi untuk setiap pasien sedemikian rupa sehingga dapat diperoleh pengendalian kadar glukosa plasma yang sebaik-baiknya tanpa mendorong timbulnya hiperglikemia yang berat atau terlampau sering. Rekomendasi yang menyangkut praktek klinik telah dibuat oleh The American Diabetes Association (ADA) (Diabetes Care 14 Suppl 2 : 1, 1991).

    STRATEGI TERAPI

Strategi terapi (penatalaksanaan terapi) untuk penderita diabetes mellitus secara non farmakologi dan farmakologi.

    Non Farmakologi

    Pendidikan pada Pasien

Agar pengobatan diabetes mellitus dapat optimum pasien perlu diberikan pengetahuan tentang segala hal yang berkaitan dengan diabetes mellitus. Tetapi tidak hanya untuk pasien juga untuk keluarganya harus mendapat pengetahuan yang cukup mendalam mengenai peyebab dan strategi terapi diabetes mellitus. Pengobatan akan diperudah bia pasien mampu membuat keputusan-keputusan yang tepat dalam perawatan penyakitnya sehari-hari.

Pemberian pengetahuan secara dini hendaklah menekankan pentingnya segi-segi praktis pengobatan penyakit, yang meliputi perencanaan diet dan tekhnik pemantauan glukosa dan keton-keton. Perlu disampaikan kepada pasien kaitan-kaitan yang ada antara diet, aktivitas fisik dan obat-obatan yang digunakan.dukungan dari dokter (pemberi diagnosis/sebagai pemberi instruksi), apoteker (pemberi obat dan informasi), dan ahli gizi serta perawat (untuk membantu perawatan) merupakan hal penting dalam mencapai sasaran pemberian pengetahuan. Pemberian pengetahuan dan pengobatan akan paling efektif bila semua unsur profesional tersebut saling berkomunikasi mengenai pasiennya secara perorangan.

    Diet

Diet merupakan hal penting pada semua jenis diabetes mellitus dan juga bermanfaat bagi pasien yang menderita gangguan toleransi glukosa. Tujuan terapi diet hendaknya diberitahukan kepada pasien dan ahli gizi yang merawat dan sasaran pemberian diet supaya ditelaah ulang secara teratur. Rencana makanan harus dibuat dengan mempertimbangkan kesukaan, penghasilan dan kebutuhan masing-masing pasien.

Perencanaan modifikasi diet mulai dari sasaran kalori, konsistensi, komposisi makanan dengan karbohidrat 50-60%; protein 10-20%; lemak 25-30%; serat 25 g/1000 kkal; pemanis buatan, dan penggunaan alkohol harus dibatasi.

    Olah Raga

Berolah raga secara teratur dapat menurunkan dan menjaga kadar glukosa darah tetap normal. Prinsipnya, tidak perlu olah raga berat tetapi olah raga ringan asal dilakukan secara teratur akan sangat bagus pengaruhnya bagi kesehatan. Olah raga yang disarankan adalah yang bersifat CRIPE (Continuous, Rhytmical, Interval, Progressive, Endurance Training). Sedapat mungkin mencapai zona sasaran 75-85% denyut nadi maksimal (220-umur). Disesuaikan dengan kemampuan dan kondisi penderita. Ctoh olah raga yang disarankan seperti jalan atau lari pagi, bersepeda, berenang dll.

    Farmakologi

Terapi obat dengan obat antidiabetik oral terutama ditujukan untuk membantu penanganan pasien diabetes mellitus tipe II. Berdasarkan mekanisme kerjanya, obat-obat antidiabetik oral terbagi menjadi 5 golongan. Salah satu terapi obat antidiabetik oral adalah golongan sulfonilurea.

    Farmakologi dan Indikasi

Sulfonilurea adalah turunan sulfanilamid tetapi tidak mempunyai aktivitas antibakteri. Golongan ini bekerja merangsang sekresi insulin di pankreas sehingga hanya efektif bila sel -pankreas masih dapat berproduksi. Golongan sulfonilurea dibagi 2, yaitu generasi I (asetoheksaid, klorpropamid, tolazamid, tolbutaid) dan generasi II (glipizid, gliburid, glimepirid). Indikasi : diabetes mellitus tipe II.

    Farmakokinetik

Semua golongan sulfonilurea diabsorpsi dengan baik setelah pemberian oral. Dapat diminum bersama makanan kecuali glipizid. Tolbutamid, gliburid, glipizid lebih efektif diminum 30 menit sebelum makan. Generasi I lebih mudah lepas ikatan proteinnya jika digunakan bersama dengan obat yang terikat pada protein yang sama (warfarin).

    Kontra indikasi

Hipersensitif terhadap sulfonilurea, komplikasi diabetes karena ketoasidosis dengan atau tanpa koma, komplikasi diabetes karena kehamilan.

    Adverse reaction

Hipoglikemik, CNS (asthenia, tremor, nyeri, insomnia, depresi, konfusi), dermatologik (reaksi alergi kulit, eksema, pruritis, urtikaria), GI (mual, rasa terbakar), hematologi (leukopenia, agranulositosis, eosinofilia).

    OBAT YANG DIPILIH

    Sulfonilurea golongan I

  • Klorpropamid (Diabenese)

Indikasi : NIDDM

Kontra-indikasi : diabetes juveil, NIDDM berat atau tidak stabil. Ketoasidosis, pembedahan, infeksi berat, trauma, ggn fungsi hati, ginjal atau tiroid. Hamil.

Bentuk sediaan & dosis : tablet 100 mg ; tablet 250 mg dan pasien paruh baya 250 mg/hari, usia lebih tua 100-125 mg/hari. Aturan pakai 3 x sehari bersama makanan.

Efek samping : ikterus kolestatik, reaksi seperti disulfiram, mual, muntah, diare, anoreksia.

Resiko khusus : pada penderita gangguan fungsi ginjal dan wanita menyusui.

    Sulfonilurea golongan II

  • Glipizid (Aldiab)

Indikasi : NIDDM

Kontra-indikasi : DM ketoasidosis dengan atau tanpa koma, juvenile DM, ggn fungsi ginjal, hati yang berat.

Bentuk sediaan & dosis : tab 5 mg dan dosis awal 15-30 mg 1x /hari sebelum makan pagi, dosis ditambah 2,5-5 mg tergantung kadar gula darah.

Efek samping : ggn GI, hipoglikemik, reaksi alergi kulit eritema, erupsi makulopapular, urtikaria, pruritus, eksema, porfiria, fotosensitifitas. Reaksi seperti disulfiram. Reaksi hematologik:agranulositois, leukopenia, trombositopenia, anemia plastesik, anemia hemolitik, pansetopenia, pusing, mengantuk, sakit kepala. Peningkatan AST, LDH, alkaline phosphatese, BUN & kreatinin.

Resiko khusus : penderita hati, ginjal dan wanita hamil.

  • Glimepirid (Amadiab)

Indikasi : DM tipe II (NIDDM)

Kontra-indikasi : DM tipe 1, diabetik ketoasidosis, prekoma atau koma diabetikum, hipersensitif terhadap glimepirid, hamil, laktasi.

Bentuk sediaan & dosis : kapl 1 mg; 2 mg; 3 mg; 4 mg. Dosis 1 mg 1 x/hari dosis dinaikkan selama 1-2 minggu.

Efek samping : hipoglikemik, ggn visual sementara, ggn GI, kerusakan hati. Trombopenia, leukopenia.

Resiko khusus : hipersensitif & ggn fungsi hati.

  • Glibenclamide ( Prodiabet)

Indikasi : NIDDM

Kontra-indikasi : IDDM, ketoasidosis, infeksi berat, stress, trauma, ggn ginjal, hati atau tiroid berat, porifia akut.

Bentuk sediaan & dosis : tablet 5 mg. Dosis awal 2,5 mg/hari, ditingkatkan 2,5 mg.

Efek samping : ikterus kolestasis, alergi dermatologi & reaksi hematologi, ggn GI, sakit kepala, pusing, parestesia.

Resiko khusus : usia lanjut & hipoglikemia.

    DAFTAR PUSTAKA

Anonim., 2005, Pharmaceutical Care Untuk Penyakit Diabetes Mellitus, DepKes RI.

Anonim., 2006, MIMS Indonesia Petunjuk Konsultasi, PT. InfoMaster lisensi dari CMPMedica.

Tjay, T. H., Rahardja, K., 2002, Obat-obat Penting, Khasiat, Penggunaan dan Efek-efek Sampingnya, edisi 5, cetakan ke I, PT. Elex Mania Komputindo Gramedia, Jakarta.

Wilhiam, Skach,MD, dkk., 1996, Penuntun Terapi Medis (Hannd Book Of Medical Treatment), edisi 18, EGC, Jakarta.

PENDEKATAN HOLISTIK TERHADAP PENYAKIT DIABETES MELITUS TIPE II DAN KARDIOVASKULER (ATEROSKLEROSIS)

pharmacotherapy-by-william-salim.pdf

PENDEKATAN HOLISTIK TERHADAP PENYAKIT

DIABETES MELITUS TIPE II DAN KARDIOVASKULER (ATEROSKLEROSIS)

William Salim

07 8115 070

Program Profesi Apoteker Universitas Sanata Dharma

LATAR BELAKANG

Faktor risiko utama yang mendasari penyakit kardiovaskuler (aterosklerosis) dan diabetes melitus tipe II adalah obesitas. Salah satu produk jaringan adipose yang dianggap mempunyai peranan terbesar pada proses kardiovaskuler dan telah banyak diteliti adalah adiponektin. Secara eksklusif, adiponektin disintesa dalam jaringan adipose dan diinduksi ketika terjadi diferensiasi jaringan adipose, kemudian disirkulasikan ke dalam aliran darah dengan konsentrasi yang besar. Hormon ini dikenal sebagai kunci dari regulasi sensitifitas insulin dan inflamasi jaringan. Berbeda dengan adipokin lain, kadar adiponektin berhubungan terbalik dengan jumlah lemak tubuh. Pada orang dengan resistensi insulin, obesitas, diabetes, dan penyakit arteri koroner, kadar adiponektin lebih rendah daripada orang lain. Jadi, adiponektin dapat sebagai hormon antidiabetes, antiaterosklerosis, dan meningkatkan sensitifitas insulin.

1. SASARAN TERAPI

Sasaran terapi adalah adiponektin. Peningkatan kadar adiponektin berhubungan dengan menurunnya berat badan akan meningkatkan sensitifitas insulin. Kadar adiponektin rendah berhubungan dengan peningkatan risiko penyakit aterosklerosis.

2. TUJUAN TERAPI

Tujuan terapi adalah menurunkan TNF alfa dan meningkatkan adiponektin, yang pada akhirnya akan menurunkan resistensi insulin.

3. STRATEGI TERAPI

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan adiponektin, diantaranya dengan intervensi gaya hidup dan terapi farmakologi. Intervensi gaya hidup berdasar aktivitas fisik, gaya hidup, dan pola makan meningkatkan adiponektin bersamaan dengan penurunan hCRP dan IL-6 dalam 3 bulan. Diit makanan yang mengandung indeks glikemik rendah dan berserat tinggi dapat meningkatkan konsentrasi plasma adiponektin pada pasien diabetes. Selain itu hindari merokok, kelebihan berat badan, gaya hidup dengan banyak duduk.

Terapi farmakologi menggunakan obat golongan sulfonylurea yaitu glimepiride. Selain memerbaiki sekresi insulin dan kualitas sel beta, glimepiride juga memerbaiki resistensi insulin dengan meningkatkan kadar adiponektin. Pemberian glimepiride selama 12 minggu terhadap pasien usia lanjut dengan diabetes melitus tipe II, menyebabkan perbaikan sensitifitas insulin (penurunan HOMA-IR, peningkatan metabolic clearance rate (MCR) dan penurunan HnA1c, tetapi tidak insulin) dengan penurunan secara signifikan TNF alfa dan meningkatkan serum adiponektin. Keunikan glimepiride dibanding glibenklamid, glipizide, dan glikazid adalah efeknya yang lebih besar pada pankreas. Glimepiride secara mengagumkan memperbaiki resistensi insulin, yang ditunjukkan dengan penurunan HOMA-IR, meningkatkan MCR-g dan menurunkan HbA1c tanpa mengubah fungsi sel beta ekstrapankreas dan CPR dalam urin.

4. OBAT PILIHAN

  • NAMA GENERIK

    Glimepiride.

      • NAMA DAGANG DI INDONESIA

        Amaryl® (Aventis Pharma).

        Metrix® (Kalbe Farma).

          • INDIKASI

            (1) Merupakan obat golongan sulfonylurea untuk pengobatan diabetes melitus tipe II, diresepkan sebagai tambahan pada diet dan olahraga.

            (2) Menurunkan kadar gula darah dengan cara merangsang tubuh memproduksi insulin lebih banyak.

              • KONTRAINDIKASI

                (1) Pasien yang hipersensitif terhadap obat ini, obat-obat golongan sulfonamida lain, atau bahan-bahan tambahan lain (yang menimbulkan resiko hipersensitif).

                (2) Pasien dengan ketoasidosis diabetes, dengan atau tanpa koma. Keadaan seperti ini harus diatasi dengan terapi insulin.

                  • BENTUK SEDIAAN DAN DOSIS BESERTA ATURAN PAKAI

                    Bentuk sediaan glimepiride adalah tablet.

                    Dosis

                    Kadar glukosa darah pasien dan HbA1c harus diukur secara berkala untuk menetapkan dosis minimum yang efektif bagi pasien tersebut dengan tujuan:

                    - Untuk mendeteksi kegagalan primer yaitu tidak adanya penurunan berarti dari gula darah pada pemberian dosis maksimum yang diperbolehkan.

                    - Untuk mendeteksi kegagalan sekunder yaitu hilangnya respon penurunan glukosa darah setelah adanya periode keefektifan inisial.

                    Dosis awal

                    1-2 mg satu kali sehari, diberikan bersamaan makan pagi atau makanan utama yang pertama. Untuk pasien yang lebih sensitif terhadap obat-obat hipoglikemik, dosis awal yang diberikan sebaiknya dimulai dari 1 mg satu kali sehari, kemudian boleh dinaikkan (dititrasi) dengan hati-hati.

                    Dosis pemeliharaan

                    1-4 mg satu kali sehari. Dosis maksimum yang dianjurkan 8 mg satu kali sehari. Pada saat pemberian telah mencapai dosis 2 mg maka kenaikan dosis tidak boleh melebihi 2 mg dengan interval 1-2 minggu tergantung dari respon gula darah pasien. Efikasi jangka panjang harus dimonitor dengan mengukur kadar HbA1c setiap 3-6 bulan.

                      • EFEK SAMPING

                        (1) Gangguan pada saluran cerna seperti muntah, nyeri lambung dan diare.

                        (2) Reaksi alergi seperti pruritus, erythema, urtikaria, erupsi morbiliform atau maculopapular, reaksi ini bersifat sementara dan akan hilang meskipun penggunaan glimepiride harus dihentikan.

                        (3) Gangguan metabolisme berupa hiponatremia.

                        (4) Perubahan pada akomodasi dan/atau kaburnya penglihatan.

                        (5) Reaksi hematologik seperti leukopenia, agranulositosis, trombositopenia, anemia hemolitik, anemia aplastik, dan pansitopenia.

                          • INTERAKSI OBAT

                            (1) Risiko hipoglikemia akan meningkat pada pemberian glimipiride bersama-sama dengan obat-obat tertentu, yaitu NSAID dan obat lain dengan ikatan protein tinggi, seperti salisilat, sulfonamida, kloramfenikol, kumarin, probenesid, MAO inhibitors, β-adrenergic blocking agents.

                            (2) Daya kerja glimepiride dalam menurunkan kadar glukosa darah akan menurun jika diberikan bersamaan dengan obat-obat yang cenderung menimbulkan hiperglikemia, seperti tiazid dan diuretik lain, kortikosteroid, fenotiazin, produk-produk kelenjar tiroid, estrogen, kontrasepsi oral, fenitoin, asam nikotinat, simpatomimetik dan isoniazid.

                            (3) Pemberian propanolol (40 mg tid) dan glimepiride meningkatkan Cmax, AUC, dan T½ dari glimepiride sebesar 23%, 22% dan 15% serta menurunkan CL/f sebesar 18%, pasien perlu diperingatkan akan potensi hipoglikemia yang akan terjadi.

                            (4) Pemberian glimepiride bersamaan dengan warfarin akan menurunkan respon farmakodinamik dari warfarin.

                            (5) Interaksi antara mikonazol oral dan obat hipoglikemia oral dilaporkan dapat menyebabkan hipoglikemia.

                            (6) Glimepiride berpotensi terjadi interaksi dengan fenitoin, diklofenak, ibuprofen, naproksen dan asam mefenamat, karena seluruhnya dimetabolisme oleh sitokrom P450 II C9.

                              • RESIKO KHUSUS

                                Tidak dianjurkan untuk digunakan pada wanita hamil dan menyusui karena glimepiride dapat menembus jaringan payudara sehingga dapat mengkontaminasi nutrisi untuk bayi.

                                KESIMPULAN

                                Dengan melihat prospek klinis mengenai hubungan reseptor-struktur molekuler, adiponektin menjadi target penelitian dalam menurunkan morbiditas dan mortalitas penyakit diabetes melitus tipe II dan aterosklerosis dalam aplikasi klinis sehari-hari.

                                DAFTAR PUSTAKA

                                Anonim, 2006, Ethical Digest: semijurnal farmasi dan kedokteran no. 31, 34, Ethical Digest, Jakarta.

                                Anonim, 2006, Informasi Spesialite Obat (ISO) Indonesia, 181, PT. Anem Kosong Anem (AKA), Jakarta.

                                Anonim, 2006, Surabaya Diabetes Update (SDU), http://www.kalbe.co.id/index.php?mn=news& tipe=detail&detail=18610, diakses tanggal 21 Desember 2007.

                                Anonim 2007, Faktor-Faktor CMR, http://www.sanofi-aventis.co.id/live/id/in/layout.jsp?cnt=B940B265-7DED-400C-B34D-2603764B7D0E, diakses tanggal 21 Desember 2007.

                                Anonim, 2007, Glimepiride, http://www.dexa-medica.com/ourproducts/prescriptionproducts/detail.php?id=43&idc=7, diakses tanggal 21 Desember 2007.

                                Anonim, 2007, Glimepiride, http://www.sanofi-aventis.co.id/live/id/in/layout.jsp?scat=6F241C06-5EE2-42D2-8B8B-8879B15FC80A, diakses tanggal 21 Desember 2007.

                                Anonim, 2007, Glimepiride, http://www.medicinenet.com/glimepiride-oral/article.htm, diakses tanggal 21 Desember 2007.

                                Anonim, 2007, Metrix, http://www.kalbefarma.com/index.php?mn=product&tipe=detail&jenis=adv&detail=105, diakses tanggal 21 Desember 2007.

                                God, bless people in the world

                                Amen

                                SINGKATAN

                                CPR (C-Peptide immuno Reactivity) = peptide yang memroduksi pro-insulin untuk meningkatkan respon insulin terhadap glukosa dalam darah.

                                HbA1c (glycosylated hemoglobin) = suatu molekul dalam sel darah merah yang berikatan dengan glukosa.

                                hCRP (human C-Reactive Protein) = protein plasma yang diproduksi hati saat terjadi inflamasi.

                                HnA1c (Human neutrophil Antigen 1c) = suatu tipe sel darah putih dalam bentuk granulosit dan dapat membantu sel makhluk hidup dalam membunuh dan memakan mikroorganisme (bersifat fagositosis).

                                HOMA-IR (Homeostatis model Assessment of Insulin Resistence) = penilaian sistem homeostatis terhadap resistensi insulin dalam tubuh.

                                IL-6 (Interleukin-6) = sitokinin karena adanya inflamasi yang dilepaskan oleh sel T dan makrofag.

                                MCR-g (Metabolic Clearance Rate ginjal) = kecepatan klirens metabolit dari ginjal.

                                TNF alfa (Tumor Necrosis Factor – alpha) = mediator inflamasi yang disekresi oleh monosit dan dapat menurunkan permeabilitas pembuluh darah.