Monthly Archives: December 2007

PENGGUNAAN KOMBINASI OBAT (GEMFIBROZIL DAN ATORVASTATIN) PADA TERAPI HIPERLIPIDEMIA

Veronica Dwi Wijayanti

07.8115.068

 

PENDAHULUAN

            Kegemukan merupakan salah satu hal yang mengganggu, dan dapat menjadi pemicu berbagai penyakit seperti kardiovaskuler, vesica biliaris, hiperlipidemia, dan diabetes. Penyakit kardiovaskuler termasuk penyakit jantung koroner (PJK) merupakan salah satu pencetus kematian di Indonesia. Dislipidemia atau hiperlipidemia ditandai dengan peningkatan trigliserida, kolesterol, LDL, dan kolesterol total (total plasma cholesterol) dalam darah.

Kondisi hiperlipidemia bila berkelanjutan memicu terbentuknya aterosklerosis (hilangnya elastisitas disertai penyempitan dan pengerasan pembuluh darah arteri). Aterosklerosis menjadi penyebab utama terjadinya PJK. Pada sebagian besar penderita hiperlipidemia dapat dikontrol dengan diet dan olahraga. Namun, bisa juga dengan bantuan obat penurun kadar lipid darah atau antihiperlipidemia

 

SASARAN TERAPI

            Sasaran terapi pada terapi kombinasi ini adalah kolesterol , trigliserida dan LDL (Low Density Lipoprotein).

 

TUJUAN TERAPI

Untuk menurunkan kolesterol dan LDL (Low Density Lipoprotein), meningkatkan HDL (High Density Lipoprotein) terutama pada pasien dengan hiperlipidemia berat yang tidak dapat dikontrol dengan obat tunggal sehingga dapat mencapai kadar lipid yang ditargetkan, serta menurunkan resiko hiperlipidemia seperti infark miokard dan stroke.

 

SRATEGI TERAPI

Non farmakologi

Terapi yang pertama kali dianjurkan bagi penderita hiperlipidemia adalah pengaturan gaya hidup atau life style. Diet merupakan salah satu usaha yang paling baik dalam menanggulangi hiperlipidemia adalah mengatur agar susunan  makanan sehari-hari rendah lemak dan kolesterol serta menyesuaikan perbandingan jumlah kalori yang berasal dari lemak, protein dan karbohidrat sesuai dengan kebutuhan tubuh. Individu dengan berat badan berlebih dianjurkan makan makanan rendah kolesterol (< 300 mg/hari), rendah lemak total (< 30% dari kalori) dan rendah lemak jenuh (<10% dari kalori). Selain diet, dianjurkan untuk melakukan aktivitas fisik secara teratur seperti jalan kaki.

            Selain terapi dengan diet, individu dengan hiperlipidemia dianjurkan untuk menghindari faktor-faktor yang meningkatkan pembentukan aterosklerosis, yaitu menghentikan rokok, mengobati hipertensi, olahraga cukup dan pengawasan kadar gula darah pada penderita diabetes.

 

Farmakologi

Terapi menggunakan obat dianjurkan untuk beberapa kelainan lipoprotein utama. Terapi hiperlipidemia harus dihindarkan bagi wanita yang hamil dan menyusui. Anak-anak dengan dengan hiperkolesterolemia familial heterozigot dapat diobati dengan resin pengikat asam empedu, biasanya stelah usia 7 atau 8 tahun.

Obat penurun lipid dibagi terdiri atas: resin penukar ion, kelompok klofibrat, asam nikotinat, inhibitor HMG KoA Reduktase (statin), dan inhibitor pada absorpsi kolesterol usus. Obat-obat penurun lipid diindikasikan untuk pasien dengan penyakit jantung koroner atau dengan hiperlipidemia berat, yang tidak cukup terkendali dengan diet rendah lemak. Pengobatan juga harus mempertimbangkan berbagai faktor resiko (termasuk merokok, hipertensi, diabetes mellitus, dan riwayat keluarga penyakit jantung koroner prematur). Terapi dengan obat apa pun harus dikombinasi dengan diet yang ketat, menjaga bobot badan mendekati ideal, serta penurunan tekanan darah dan bila merokok dihentikan.

Statin merupakan obat pilihan untuk mengobati hiperkolesterolemia, fibrat untuk hipertrigliseridemia, serta dapat digunakan bersama untuk mengobati hiperlipidemia campuran.

 

OBAT PILIHAN

Hiperlipidemia berat tidak selalu dapat dikontrol dengan obat tunggal dan terapi kombinasi banyak digunakan untuk mencapai kadar lipid. Kombinasi harus mencakup obat-obat dengan mekanisme kerja yang berbeda.

GEMFIBROZIL

Gemfibrozil termasuk dalam obat golongan fibrat. Obat-obat yang tergolong kelompok ini dapat dianggap sebagai hipolipidemik berspektrum luas. Selain menurunkan kadar trigliserida Serum, kelompok fibrat juga cenderung menurunkan kadar kolesterol-LDL dan menaikkan kolesterol-HDL.  Fibrat bekerja sebagai ligan untuk reseptor transisi nukleus, reseptor alfa peroksisom yang diaktivasi proliferator, dan menstimulasi aktivitas lipoprotein lipase.

Nama generik       : Gemfibrozil

Nama dagang    : Dubrozil (Dumex Alpharma Indonesia), Fenitor (Otto), Fibralip (Tunggal Idaman), Grospid (Gratia Husada), Hypofyl (Sanbe), Inobes (Prafa), Lanaterom (Pertiwi  Agung), Lapibroz (Lapi), Lifibron (Metiska), Lipira (Combiphar), Lopid (Warner Lambert P.D. Indonesia), Nufalemzil (Nufarindo), Scantipid (Tempo), Zenibroz (Zenith).

Indikasi             : hiperlipidemia tipe IIa, IIb, III, IV dan V, serta pencegahan penyakit jantung pada pria usia 40-55 tahun yang tidak merespon dengan cukup terhadap diet dan tindakan-tindakan lain yang sesuai. Dislipidemia yang berhubungan dengan diabetes mellitus (DM).  Xanthoma yang berhubungan dengan dislipidemia.

Kontraindikasi   : alkoholisme, kerusakan ginjal atau hati berat, penyakit saluran empedu (batu empedu), kehamilan (faktor resiko: C) dan menyusui.

Efek samping    : gangguan saluran cerna, juga ruam kulit, dermatitis, pruritus, urtikaria, impotensi, sakit kepala, pusing, pandangan kebur, sakit kuning kolestatik, angiodema, edema larings, fibrilasi atrium, pankreatitis, miastenia, miophaty, rabdomiolisis, mialgia.

Dosis                    : 1200mg/hari dalam 2 dosis terbagi, rentang 900-1500 mg sehari. Diminum 30 menit sebelum makan pagi dan makan malam.

Bentuk sediaan     : Kapsul 300 mg, Kaplet 600 mg, Tablet salut selaput 600 mg.

Peringatan       : profil lipid, angka-angka darah, dan uji fungsi hati sebelum mengawali pengobatan jangka panjang, gangguan ginjal.

 

ATORVASTATIN

Atorvastatin termasuk dalam golongan statin. Obat ini bekerja denan cara menghambat secara kompetitif enzim HMG CoA reduktase, yakni enzim pada sintesis kolesterol, terutama dalam hati. Obat golongan statin ini lebih efektif dibanding resin penukar anion dalam menurunkan kolesterol-LDL tetapi kurang efektif dibanding kelompok fibrat dalam menurunkan kadar trigliserida dan meningkatkan kolesterol-HDL.

Statin telah terbukti dapat mengurangi kejadian jantung koroner, semua kejadian kardiovaskuler pada pasien dengan umur sampai dengan 70 tahun dengan penyakit jantung koroner (riwayat angina atau infark miokard akut) dan dengan kolesterol plasma 5,5 mmol/l atau lebih.

Nama generik   : Atorvastatin

Nama dagang    : Lipitor (Pfizer)

Indikasi            : terapi pada dislipidemia atau pencegahan primer pada penyakit kardiovaskuler (aterosklerosis), yaitu:

·  Pencegahan primer pada penyakit kardiovaskuler (high risk CVD): untuk mengurangi resiko MI atau stroke pada pasien tanpa penyakit hati yang mempunyai faktor resiko multipel atau diabetes tipe 2.

·  Terapi pada dislipidemia: untuk mengurangi peningkatan kolesterol total, kolesterol-LDL, apoliporotein B, trigliserida, dan untuk meningkatkan kolesterol-HDL pada dislipidemia Frederickson tipe IIa, IIb, III, dan IV, serta pada hiperkolesterolemia turunan homozigot.

·        Terapi pada hiperkolesterolemia turunan heterozigot pada pasien remaja (10-17 tahun) yang mempunyai kolesterol-LDL ≥ 190 mg/dl atau ≥ 160 mg/dl dengan riwayat keluarga positif beresiko CVD.

Kontraindikasi   : hipersensitif terhadap atorvastatin atau komponen lain yang terdapat dalam formula. Penyakit hati aktif, atau kenaikan serum transaminase > 3x batas normal tertinggi. Pada kehamilan (faktor resiko: X) dan menyusui (atorvastatin diekskresi lewat air susu).

Efek samping    : gangguan GI, sakit kepala, mialgia, astenia, isomnia, edema angionerutik, kram otot, miositis, miophati, ikterus kolestatik, neuropati perifer, pruritus.

Dosis                    :

·      Hiperkolesterolemia primer dan hiperlipidemia campuran : 10 mg sekali sehari.

·     Hiperkolesterolemia turunan : dosis awal 10 mg sehari, tingkatkan dengan interval 4 minggu sampai 40 mg sekali, bila perlu tingkatkan lebih lanjut sampai maksimal 80 mg sekali sehari.

Bentuk sediaan     : Tablet salut selaput 10 mg dan 20 mg.

Peringatan        : Statin harus digunakan dengan hati-hati pada pasien dengan riwayat penyakit hati atau yang minum banyak alkohol (hindari penggunaan pada penyakit hati yang aktif). Fungsi hati harus diukur sebelum dan sesudah pengobatan. Obat harus dihentikan bila kadar transaminase serum meningkat hingga dan bertahan pada 3 kali batas atas nilai normalnya.

 

 

 

PUSTAKA

Anonim, 2000, Informasi Obat Nasional Indonesia 2000, 83-87, Departemen Kesehatan RI,  Jakarta.

Anonim, 2006, MIMS Indonesia Petunjuk Konsultas, Edisi 6 2006/2007, 259-265, Penerbit PT Infomaster,Jakarta.

Katzung, B.G, 2002, Farmakologi Dasar dan Klinik, edisi 8, buku 2, 466-470, Penerbit Salemba Medika, Jakarta.

Lacy, C.F., Amstrong, L.L., Goldman, M.P., Lance, L.L., 2006, Drug Information Handbook, 14th Edition, 161-162, 726, AphA, Lexi-Comp Inc, Hudson, Ohio.

Neal, M.J, 2006, At Glance Farmakologi Medis, ed.5, 46-47, Penerbit Erlangga, Jakarta.

 

 

 

Penggunaan Captopril [Angiotensin Converting Enzyme (ACE) Inhibitor] pada Terapi Hipertensi

Penggunaan Captopril [Angiotensin Converting Enzyme (ACE) Inhibitor]

pada Terapi Hipertensi

 

(Willy Hartanto, S. Farm. / 078115071)

 

Hipertensi merupakan suatu keadaan meningkatnya tekanan darah sistolik di atas 140 mmHg atau tekanan diatolik di atas 90 mmHg serta menjadi faktor resiko utama penyebab coronary artery disease (CAD), gagal jantung, stroke, dan gagal ginjal. Prevalensi terjadinya hipertensi meningkat seiring dengan pertambahan usia.  

 

Tabel Klasifikasi Tekanan Darah berdasarkan JNC (Joint National Committe on Prevention,

Detection, Evaluation, and treatment oh High Blood Pressure) VII

Kategori

Sistolik (mmHg)

Diastolik (mmHg)

Normal

< 120

< 80

Prehipertensi

120 – 139

80 – 89

Hipertensi stage 1

140 – 159

90 – 99

Hipertensi stage 2

≥ 160

≥ 100

 

Secara umum, hipertensi dapat disebabkan oleh makanan; stres; rokok; obat-obatan yang berupa kontrasepsi oral dan kortikosteroid; serta kehamilan. Sebagian besar pasien (70%) tidak menyadari bahwa mereka mengalami hipertensi karena pasien hipertensi terlihat sehat dan tidak menunjukkan gejala yang spesifik. Faktor-faktor yang dapat memperbesar resiko terjadinya hipertensi antara lain pria berusia di atas 55 tahun atau wanita di atas 65 tahun; menderita diabetes melitus dan/atau dislipidemia, mikroalbuminuria, obesitas; mempunyai riwayat keluarga penyakit jantung; jarang beraktivitas (olahraga); perokok; alkoholik.

Hipertensi ditandai dengan peningkatan tekanan darah di sekitar kategori prehipertensi dan sebagian besar pasien tidak menunjukkan gejala yang spesifik. Diagnosis hipertensi sejak dini dapat mencegah resiko penyakit kardiovaskuler serta mengurangi resiko morbiditas dan mortalitas. Pemeriksaan dini terhadap hipertensi dapat dilakukan dengan pengukuran tekanan darah secara berkala, pemeriksaan target organ damage akibat hipertensi (otak, mata, jantung, ginjal dan sistem sirkulasi darah perifer).

Sasaran terapi dalam pengobatan hipertensi adalah tekanan darah. Tujuan terapi antihipertensi adalah menurunkan tekanan darah ke tekanan darah yang disarankan oleh JNC VII, yaitu di bawah 140/90 mmHg (pasien hipertensi); di bawah 130/80 mmHg (pasien hipertensi dengan komplikasi diabetes melitus); dan di bawah 130/80 mmHg (pasien hipertensi dengan komplikasi gagal ginjal kronis). Strategi terapi dapat dilakukan dengan terapi nonfarmakologi maupun terapi farmakologi.

Terapi nonfarmakologi dapat dilakukan dengan mengubah pola hidup pasien hipertensi. Banyak mengkonsumsi buah-buahan, sayuran, dan makanan rendah lemak dapat menurunkan tekanan darah. Pengubahan pola hidup dapat berupa penurunan berat badan jika overweight; membatasi konsumsi alkohol (< 30ml/hari untuk pria dan <15ml/hari untuk wanita); berolahraga teratur (30-45 menit/hari); mengurangi konsumsi garam (< 100 mmol/hari atau 6 gram NaCl); mempertahan konsumsi natrium, kalsium, magnesium yang cukup (± 90 mmol/hari); dan berhenti merokok.

Terapi farmakologi dapat dilakukan dengan menggunakan obat-obatan antihipertensi yang berupa golongan diuretik, Angiotensin Converting Enzyme (ACE) Inhibitor, β-adrenergic blockers, Angiotensin Receptor Blockers (ARB), Calcium Channel Blockers (CCB).

ACE inhibitor merupakan antihipertensi yang efektif dan efek sampingnya dapat ditoleransi dapat dengan baik. Efek samping penggunaan ACE inhibitor antara lain sakit kepala, takikardi (peningkatan denyut jantung), berkurangnya persepsi pengecapan, dizziness (ketidakseimbangan saat berdiridari posisi duduk atau tidur), nyeri dada, batuk kering, hiperkalemia, angiodema, neutropenia, dan pankreatitis. ACE inhibitor dapat digunakan sebagai obat tunggal maupun dikombinasikan dengan obat lain (biasanya dikombinasikan dengan diuretik). Selain sebagai antihipertensi, ACE inhibitor juga dapat digunakan sebagai vasodilator, terapi congestive heart failure (CHF), left ventricular dysfunction, myocardial infarction, dan diabetes melitus.

ACE inhibitor bekerja dengan menghambat perubahan angiotensin I menjadi angiotensin II. Angiotensin II bekerja di ginjal dengan menahan ekskresi cairan (Na+ dan H2O) yang dapat menyebabkan vasokonstriksi dan meningkatkan tahanan perifer. Meningkatnya tahanan perifer akan berefek pada peningkatan tekanan darah. Dengan adanya ACE inhibitor maka tidak akan terbentuk angiotensin II, mengurangi retensi cairan, terjadi vasodilatasi, dan mengurangi kerja jantung.

ACE inhibitor dikontraindikasikan untuk wanita hamil karena ACE inhibitor dapat menembus plasenta. ACE inhibitor dihubungkan dengan fetal hypotension, oliguria serta kematian pada manusia, dan fetotoxicity pada hewan uji. Informasi yang perlu diketahui pasien hipertensi terhadap ACE inhibitor antara lain tetap menggunakan ACE inhibitor walau sudah mencapai tekanan darah normal karena hipertensi tidak mempunyai gejala yang spesifik. ACE inhibitor tidak dapat menyembuhkan hipertensi, akan tetapi hanya dapat mengontrol hipertensi dengan terapi jangka panjang. Pasien dianjurkan untuk tidak menggunakan obat-obatan lain khususnya OWA simpatomimetik, kecuali atas rekomendasi dokter. Pasien harus segera menghubungi dokter jika pasien mengalami kehamilan selama menggunakan ACE inhibitor.

Jenis ACE inhibitor yang dapat digunakan sebagai antihipertensi antara lain Benazepril, Captopril, Enalapril, Fosinopril, Lisinopril, Moexipril, Perindropil, Quinapril, Ramipril, Trandolapril. Salah satu golongan ACE inhibitor yang paling banyak digunakan sebagai antihipertensi adalah Captopril. Captopril sebagai dosis tunggal mempunyai durasi selama 6-12 jam dengan onset 1 jam. Captopril diabsorpsi sebanyak 60-75% dan berkurang menjadi 33-40% dengan adanya makanan serta  25-30% Captopril akan terikat protein. Waktu paruh Captopril dipengaruhi oleh fungi ginjal dan jantung di mana waktu paruh Captopril pada volunteers sehat dewasa 1,9 jam; pasien CHF 2,06 jam; dan pasien anuria 20-40 jam. Captopril diekskresikan melalui urin (95%) dalam waktu 24 jam.

Captopril

Nama generik                     : Kaptopril tablet 12,5 mg; 25 mg; 50 mg

Nama dagang di Indonesia   :

·         Acendril® (Harsen) tablet 12,5 mg; 25 mg

·         Acepress® (Bernofarm) tablet 12,5; 25 mg

·         Capoten® (Bristol-Myers Squibb Indonesia) tablet 12,5 mg; 25 mg; 50 mg

·         Captensin® (Kalbe Farma) tablet 12,5; 25 mg

·         Captopril Hexpharm® (Hexpharm) tablet 12,5; 25 mg; 50 mg

·         Casipril® (Tunggal Idaman Abdi) tablet 12,5 mg; 25 mg

·         Dexacap® (Dexa Medica) tablet 12,5 mg; 25 mg; 50 mg

·         Farmoten® (Fahrenheit) tablet 12,5 mg; 25 mg

·         Forten® (Hexpharm Jaya) kaplet 25 mg; tablet 50 mg

·         Locap® (Sandoz) tablet 25 mg

·         Lotensin® (Kimia Farma) kaplet 12,5 mg; tablet 25 mg

·         Inapril® (Indofarma) tablet 25 mg

·         Metopril® (Metiska) tablet salut selaput 12,5 mg; 25 mg; kaplet salut selaput 50 mg

·         Otoryl® (Otto) tablet 25 mg; kapsul-tablet 50 mg

·         Praten® (Prafa) kaplet 12,5 mg; 25 mg

·         Prix® (Rama) tablet 12,5 mg; 25 mg

·         Scantensin® (Tempo Scan Pacific) tablet 12,5 mg; 25 mg; 50 mg

·         Stablon® (Combiphar) tablet salut gula 12,5 mg

·         Tenofax® (Prima Hexal) tablet 12,5; 25 mg

·         Tensicap® (Sanbe Farma) tablet 12,5 mg; 25 mg; 50 mg

·         Tensobon® (Coronet Crown) tablet 25 mg

·         Vapril® (Phapros) tablet 12,5 mg; 25 mg

Indikasi                               : antihipertensi, left ventricular disfunction yang disertai myocardial infarction, diabetes nefropati, vasodilator, CHF

Kontrindikasi                       : hipersensitivitas terhadap Captopril, angiodema yang disebabkan oleh penggunaan ACE inhibitor sebelumnya, wanita hamil dan menyusui

Bentuk sediaan                    : tablet, tablet salut selaput, tablet salut gula, kaplet, kaplet salut selaput, kapsul-tablet

Dosis                                  : sebagai antihipertensi pada orang dewasa (oral)

·         Dosis awal                 : 12,5-25 mg 2-3 kali/hari yang dapat ditingkatkan 12,5-25 mg dalam 1-2 minggu menjadi 50 mg 3 kali/hari

·         Dosis perawatan        : 50 mg 3 kali/hari

·         Dosis maksimum        : 150 mg 3 kali/hari

Aturan pakai                       :

·         Diberikan dalam keadaan perut kosong (1 jam sebelum makan atau 2 jam setelah makan)

·         Captopril digunakan setelah penggunaan antihipertensi lain dihentikan selama 1 minggu, kecuali pada pasien dengan accelerated or malignant hypertension atau hipertensi yang sulit dikontrol

·         Pasien yang tidak dapat menggunakan sediaan padat secara oral dapat dibuat larutan oral Captopril dengan cara menyerbuk 25 mg tablet Captopril yang dilarutkan dalam 25 atau 100 ml air dan diaduk hingga bercampur lalu segera diminum tidak lebih dari 10 menit karena sifat Captopril yang tidak stabil dalam bentuk larutan

Efek samping                      : ruam, berkurangnya persepsi pengecapan, sakit kepala, batuk kering, hipotensi sementara, neutropenia, proteinurea

Resiko khusus                     :

·         Kehamilan                 : faktor resiko C pada trimester pertama (penelitian dengan hewan uji terbukti terjadi teratogenik pada janin tetapi tidak ada kontrol penelitian pada wanita atau penelitian pada hewan uji dan wanita pada saat yang bersamaan dan obat dapat diberikan jika terdapat kepastian bahwa pertimbangan manfaat lebih besar daripada resiko pada janin) dan faktor resiko D pada trimester kedua dan ketiga (potensial terjadi resiko teratogenik pada janin manusia)

·         Menyusui                   : Captopril didistribusikan ke air susu sehingga tidak direkomendasikan untuk menyusui saat menggunakan Captopril

 

Daftar Pustaka

Anderson, P.O., Knoben, J.E., and Troutman, W.G., 2002, Handbook of Clinical Drug Data, 10th edition, 326-327, McGraw-Hill Companies, Inc., USA

Anonim, 2000, Informatorium Obat Nasional Indonesia, 47-53, Departemen Kesehatan Republik Indonesia Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan, Jakarta

Anonim, 2005, USP DI-Volume I : Drug Information for the Health Care Professional, 25th edition, 195-197, Thomson Micromedex, USA

Anonim, 2006, Informasi Spesialite Obat Indonesia, volume 41, 39, 270-277, Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia, Jakarta

Anonim, 2006, MIMS Indonesia Petunjuk Konsultasi, edisi 2006-2007, 39-43, PT InfoMaster lisensi dari CMPMedica, Jakarta

Chan, P.D., and Johnson, M.T., 2004, Treatment Guidelines for Medicine and Primary Care, 2004 edition, 20-24, Current Clinical Strategies Publishing, USA

Lacy, C.F., Armstrong, L.L., Goldman, M.P., and Lance, L.L., 2006, Drug Information Handbook, 14th edition, 262-264, Lexi-Comp, Inc., USA

Massie, B.M., 2002, Systemic Hypertension, in Tierney, L.M., McPhee, S.J., and Papadakis, M.A., (Eds.), Current Medical Diagnosis & Treatment, 41th edition, 460, 464-473, McGraw-Hill Companies, Inc., USA

Warfield, C., 1996, Everything You Need to Know about Medical Treatments, 3-5, Springhouse, Corp., USA

Penggunaan Inhibitor Platelet Pada Stroke Iskemik

PENGGUNAAN INHIBITOR PLATELET PADA STROKE ISKEMIK

Oleh : Agustina Wira Paribasa, S.Farm. (078115001)

Stroke iskemik merupakan suatu penyakit yang diawali dengan terjadinya serangkaian perubahan dalam otak yang terserang apabila tidak ditangani dengan segera berakhir dengan kematian bagian otak tersebut. Stroke iskemik terjadi karena adanya sumbatan atau hambatan aliran darah ke otak, yaitu apabila aliran darah ke otak kurang dari 20 ml per 100 gram otak per menit. Sumbatan tersebut disebabkan oleh trombosis atau emboli karena terbentuknya plak atau ateroma pada proses aterosklerosis. Walaupun berat otak hanya sekitar 1400 gram, namun menuntut suplai darah yang relatif sangat besar yaitu sekitar 20 % dari seluruh curah jantung. Kegagalan dalam memasok darah dalam jumlah yang mencukupi akan menyebabkan gangguan fungsi bagian otak atau yang terserang atau nekrosis dan kejadian inilah yang lazimnya disebut stroke (Junaidi, 2004).

Sasaran terapi stroke iskemik adalah penyebab yaitu penyakit pembuluh darah besar (emboli pada arteri), emboli pada arteri ke jantung, penyakit pembuluh darah kecil (infark lakuner), penyebab yang jarang terjadi misalnya infark vena, vaskulopati, penggunaan obat, migrain, dan lain-lain (Fagan dan Hess, 2005).Tujuan terapi dari stroke iskemik yaitu mengurangi kerusakan neurologis, mengurangi mortalitas dan kecacatan dalam waktu yang lama, mencegah komplikasi dengan cara mencegah terbentuknya trombus karena penggumpalan trombosit darah.

Adapun strategi terapi stroke iskemik meliputi terapi nonfarmakologi dan terapi farmakologi. Terapi non farmakologi dapat dilakukan dengan modifikasi pola hidup dengan cara menghindari konsumsi alkohol dan rokok, konsumsi makanan sehat dan seimbang, mengurangi berat badan bila kegemukan, sikap hidup rileks dan menghindari stres (Junaidi, 2004).Terapi farmakologi stroke iskemik dapat dilakukan dengan reperfusi dan neuroproteksi. Dalam paper ini akan dibahas mengenai inhibitor platelet yang merupakan salah satu cara untuk reperfusi. Reperfusi yaitu mengembalikan aliran darah ke otak secara adekuat sehingga perfusi meningkat, obat-obat yang dapat diberikan antara lain : thrombolytic agent, inhibitor platelet dan antikoagulan (Junaidi, 2004).

Inhibitor platelet merupakan pilihan utama dalam penanganan stroke iskemik. Inhibitor platelet mencegah terbentuknya trombus karena penggumpalan trombosit darah. Beberapa contoh obat ini adalah asam asetil salisilat (asetosal) atau aspirin, tiklopidin, pentoksiflin, clopidogrel, kombinasi asetosal dengan dipiridamol, dan cilostazol.   

Adapun obat-obat pilihan sebagai berikut :

ASETOSAL

Nama generik : Asetosal

Nama dagang di Indonesia : Restor (Prima Adimulia Sejati), Ascardia (Pharos), Procardin (Medikon Prima), Trombo Aspilet (Medifarma), Aspimec (Mecosin), Cardio Aspirin (Bayer).

Indikasi : Terapi antiagregasi platelet (trombosit) pada kondisi patologis dimana hiperaktivasi atau aktivasi trombosit mungkin menjadi faktor penentu dalam proses terbentuknya trombus.

Kontraindikasi : Tukak peptik atau dispepsia, hemofilia dan gangguan perdarahan lain, asma, anak dibawah 12 tahun dan yang menyusui (sindrom reye), polip nasal.

Bentuk sediaan : Tablet 80 mg dan 100 mg, tablet salut enterik 80 mg dan 100 mg.

Dosis dan aturan pakai : 75- 300 mg sehari untuk pencegahan sekunder penyakit serebrovaskuler atau kardiovaskuler trombotik. Asetosal 150-300 mg sehari digunakan untuk mengurangi kematian setelah infark miokard. Asetosal dosis rendah (misal 75 atau 100 mg sehari) juga diberikan setelah pembedahan bypass (Anonim, 2000). Stroke akut : 160-325 mg/hari dimulai dalam 48 jam  (pada pasien yang tidak mengalami trombolisis dan tidak menerima antikoagulan sistemik). Pencegahan stroke : 30-325 mg/hari (dosis dinaikkan sampai 1300 mg/hari terbagi dalam 2-4 dosis (2-4 x sehari) yang telah digunakan dalam percobaan klinis) (Lacy, et al, 2006)

Efek samping : Bronkospasme; perdarahan saluran cerna (kadang-kadang parah), juga perdarahan lain (misal subkonjugtiva).

Resiko khusus : Gangguan hati dan ginjal.

TIKLOPIDIN

Nama generik : Tiklopidin

Nama dagang di Indonesia : Cartrilet (Fahreinheit), Klobitor (Varia Sekata), Nufaclapide (Nufarindo), Piclodin (Pharos), Ticard (Sanbe Farma), Ticuring (Lapi), Agulan (Darya Varia)

Indikasi : Inhibitor agregasi platelet yang mengurangi resiko dari stroke trombotik pada pasien stroke atau prekursor stroke, mengurangi resiko trombogenik pada pasien intoleransi aspirin.

Kontraindikasi : Hipersentivitas terhadap tiklopidin, disfungsi liver parah, diastesis hemopati dan hemoragik, lesi organik dengan kemungkinan perdarahan, stroke hemoragik akut, alergi kulit, leukopenia, trombopenia atau agranulositosis.

Bentuk sediaan : Tablet 250 mg, tablet salut selaput 250 mg

Dosis dan aturan pakai : Pencegahan stroke : 250 mg 2 x sehari pada waktu makan.

Efek samping : Gangguan gastrointestinal, urtikaria, ruam kulit, eritema, agranulositosis, trombopenia, aplasia medulla, ikterus kolestatik atau tanpa kenikan transaminase.

Resiko khusus : Pasien dengan resiko perdarahan akibat trauma; pembedahan atau kondisi patologik; hamil; laktasi; jangan digunakan bersama dengan aspirin, antikoagulan, kortikosteroid.

PENTOKSIFILIN

Nama generik : Pentoksifilin

Nama dagang di Indonesia : Erypent (Sunthi Sepuri), Erytal (Medikon Prima), Lentrin (Metiska Farma), Platof (Sanbe), Tarontal (Bernofarm), Trental (Hoest Marion Roussel Indonesia), Trentox (Dexa Medica), Trenxy (Ikapharmindo)

Indikasi : Klaudikasi intermiten akibat oklusi arteri perifer kronis

Kontraindikasi : Hipersensitif terhadap pentoksifilin, xantin (cafein, teofilin), perdarahan serebral dan atau retina.

Bentuk sediaan : Tablet salut enterik 100 mg, tablet lepas lambat 400 mg, kabtab salut gula 400 mg, cairan injeksi 20 mg/ml

Dosis dan aturan pakai : 400 mg 2-3 x sehari setelah makan; jika dalam 1-2 minggu tidak ada perbaikan sebaiknya dihentikan; jika terjadi efek samping saluran cerna atau sistem saraf pusat berkembang sebaiknya dosis dikurangi menjadi 400 mg 1-2 x sehari

Efek samping : lazim terjadi mual dan dispepsia; kurang lazim kembung, anoreksia, muntah; pusing, sakit kepala, muka merah; kadang-kadang insomnia, mengantuk,cemas, bingung; jarang terjadi palpitasi, angina, aritmia, hipotensi, dispnea, edema; juga pernah dilaporkan kolesistitis, hepatitis, pansitopenia, trombositopenia, purpura, anemia aplastik; kadang-kadang juga terjadi penglihatan kabur, ruam kulit, urtikaria, mulut kering, sumbatan nasal.

Resiko khusus : Hipotensi, laktasi, penyakit jantung koroner berat, pasien yang alergi terhadap turunan xantin; mungkin mengurangi aras fibrinogen plasma; pada pasien yang juga menerima obat antihipertensi sebaiknya tekanan darahnya dipantau; pasien yang menerima terapi antikoagulan atau yang beresiko terjadi perdarahan; pasien lanjut usia dimulai dengan dosis rendah dan pantau fungsi ginjalnya; pasien dengan penurunan fungsi ginjal dan hepar.

CLOPIDOGREL

Nama generik : Clopidogrel

Nama dagang di Indonesia : Plavix (Sanofi Aventis)

Indikasi : Mengurangi terjadinya aterosklerotik (infark miokard, stroke dan kematian vaskular) pada pasien dengan aterosklerosis yang disebabkan oleh stroke sebelumnya, infark miokard atau penyakit arteri perifer.

Kontraindikasi : Hipersensitif terhadap clopidogrel, perdarahan patologi aktif (seperti ulkus peptik aktif, perdarahan intrakranial), gangguan koagulasi.

Bentuk sediaan : Tablet salut selaput 75 mg

Dosis dan aturan pakai : 75 mg 1 x sehari dapat diberikan tanpa makanan.

Efek samping : Perdarahan gastrointestinal, purpura, memar, hematoma, anemia, epistaksis, hematuria, perdarahan okular, perdarahan intra kranial, nyeri perut, dispepsia, gastritis dan konstipasi, ruam, pruritus.

Resiko khusus : Pasien yang mungkin mengalami peningkatan resiko perdarahan akibat, pembedahan atau kondisi patologik lain. Pasien dengan penyakit liver parah. Pasien sedang diberikan terapi NSAID. Hentikan terapi 1 minggu sebelum operasi. Kehamilan.

KOMBINASI ASETOSAL dan DIPIRIDAMOL

Nama generik : Asetosal dan Dipiridamol

Nama dagang di Indonesia : Aggrenox (Boehringer Ingelheim)

Indikasi : Mengurangi resiko stroke iskemik dan serangan iskemik sementara.

Kontraindikasi : Hipersensitif terhadap dipiridamol dan asetosal, atau salah satu komponen obat, penggunaan bersama ketorolac, alergi terhadap NSAID, pasien dengan asma, rinitis, dan polip nasal, gangguan perdarahan, anak-anak dibawah 16 tahun dengan infeksi viral, kehamilan dan laktasi, penyakit ginjal berat, ulkus gaster atau duodenum atau perdarahan gastrointestinal.

Bentuk sediaan : Kapsul lepas lambat (dipiridamol 200 mg, asetosal 25 mg)

Dosis dan aturan pakai : 1 kapsul 2 x sehari, pagi dan malam, dapat diberikan dengan atau tanpa makanan.

Efek samping : Sakit kepala, mual, muntah, diare, pusing, nyeri otot, nyeri lambung, reaksi hipersensitif, perdarahan.

Resiko khusus : Penyakit jantung koroner berat (angina tidak stabil atau infark miokard), disfungsi hepar, pasien dengan hipotensi, miastenia gravis, asma, rinitis alergi, polip nasal, gangguan lambung atau duodenum kronis atau berulang, gangguan fungsi ginjal, defisiensi G6PD. Hentikan terapi 1 minggu sebelum operasi. Hentikan terapi bila terjadi kepeningan (dizziness), tinnitus atau berkurangnya pendengaran.

CILOSTAZOL

Nama generik : Cilostazol

Nama dagang di Indonesia : Pletaal (Otsuka), Stazol (Bernofarm), Naletal (Guardian Pharmatama), Qital (Ethica), Aggravan (Ferron), Agrezol (Meprofarm), Citaz (Kalbe Farma).

Indikasi : Terapi gejala iskemik, misalnya ulserasi, nyeri dan rasa dingin pada ekstremitas pada oklusi arteri kronik, pencegahan infark serebral rekuren.

Kontraindikasi : Hipersensitif terhadap cilostazol, perdarahan, gagal jantung kongestif, hamil dan laktasi

Bentuk sediaan : Tablet 50 mg dan 100 mg

Dosis dan aturan pakai : Dewasa : Oral : 100 mg 2 x sehari diminum 1,5 jam sebelum atau 2 jam setelah makan pagi dan makan malam, dosis seharusnya dikurangi menjadi 50 mg 2 x sehari selama terapi bersamaan dengan inhibitor CYP3A4 atau CYP2C19. Cilostazol paling baik dikonsumsi 30 menit sebelum atau 2 jam setelah makan.

Efek samping : Ruam, palpitasi, takikardi, muka merah dan panas, sakit kepala, pusing; sakit perut, mual muntah, anoreksia, diare, pendarahan subkutan; peningkatan SGPT, SGOT, A-1P dan LDH; berkeringat dan edema.

Resiko khusus : Menstruasi, kecenderungan untuk terjadi perdarahan, diastesis hemoragik, gangguan hati atau ginjal berat, pasien dalam terapi antikoagulan, antitrombotik atau antiplatelet, prostaglandin E1 atau derivatnya. 

DAFTAR PUSTAKA 

Anonim, 2000, Informatorium Obat NasionalIndonesia (IONI), Direktorat Pengawasan Obat dan Makanan Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta. 

Anonim, 2004, Drug Fact and Comparison 2004, 58th edition, Fact and Comparison St. Louis Missouri, USA.

 Anonim, 2005, MIMS Annual Indonesia 2005/2006, Medimedia Asia pte, Ltd, Singapura. 

Anonim, 2006, MIMS Indonesia Petunjuk Konsultasi 2006/2007, PT IndoMaster lisensi dari CMP Medica, Jakarta.

 Anonim, 2007, Informasi Spesialite Obat Indonesia (ISO), Volume 42, Ikatan Sarjana Farmasi, Jakarta. 

Fagan, S. C., and Hess, D. C., dalam Dipiro, J. T., Talbert, R. L., Matzke, B. R., Wells, B. G., dan Posey, M. L., 2005, Pharmacotherapy a Pathophysiologic Approach, 3rd edition, Appleton and Lange Stampord Conecticut, USA.

 Junaidi, I., 2004, Panduan Praktis Pencegahan dan Pengobatan Stroke, PT Bhuana Ilmu Populer Kelompok Gramedia, Jakarta. 

Lacy, C.F., Amstrong, L.L., Goldman, M.P., and Lance, L.L., 2006, Drug Information Handbook, 14th edition, AphA. Lexi-Comp’s. 

Intercollegiate Stroke Working Party (ISWP), 2004, National Clinical Guidelines for Stroke, 2nd edition, Royal College of Physicians, London. 

PENATALAKSANAAN TERAPI PADA SERANGAN AKUT GOUT ARTHRITIS

PENATALAKSANAAN TERAPI

PADA SERANGAN AKUT GOUT ARTHRITIS

Oleh: Christina Dewi Nelawati, S. Farm.

NIM: 07.8115.006

 

            Arthritis merupakan nyeri sendi yang disebabkan oleh adanya peradangan. Gout sendiri merupakan penyakit metabolik dengan sifat dasar yang berbeda-beda, sering merupakan faktor keturunan. Penyakit ini dikaitkan dengan adanya abnormalitas kadar asam urat dalam serum darah dan ditandai dengan adanya nyeri akut. Keterkaitan antara gout dengan hiperurisemia yaitu adanya produksi asam urat yang berlebih, menurunnya ekskresi asam urat melalui ginjal, atau mungkin karena keduanya. Konsumsi alkohol juga menyebabkan adanya penumpukan asam urat dengan cara memproduksi asam urat secara berlebih dan menurunkan ekskresinya.

            Sasaran terapi gout arthritis yaitu mempertahankan kadar asam urat dalam serum di bawah 6mg/dL dan nyeri yang diakibatkan oleh penumpukan asam urat. Tujuan terapi yang ingin dicapai yaitu mengurangi peradangan dan nyeri sendi yang ditimbulkan oleh penumpukan kristal monosodium urat monohidrat. Kristal tersebut ditemukan pada jaringan kartilago, subcutan, dan jaringan partikular, tendon, tulang, ginjal, dan beberapa tempat lainnya. Selain itu, terapi gout juga bertujuan untuk mencegah tingkat keparahan penyakit lebih lanjut karena penumpukan kristal dalam medula ginjal akan menyebabkan Chronic Urate Nephropathy serta meningkatkan resiko terjadinya gagal ginjal. Terapi obat dilakukan dengan mengobati nyeri yang timbul terlebih dahulu, kemudian dilanjutkan dengan pengontrolan dan penurunan kadar asam urat dalam serum darah.

Strategi terapi

1.       Nonstreoid Anti-inflammatory Drugs- NSAIDs

Terdapat beberapa jenis NSAID, namun tidak semua memiliki efektivitas dan keamanan yang baik untuk terapi gout akut. Beberapa NSAID yang diindikasikan untuk mengatasi gout arthritis akut dengan kejadian efek samping yang jarang terjadi yaitu:

A.     Naproxen

Naproxen merupakan NSAID turunan asam propionat yang berkhasiat antiinflamasi, analgesik, dan antipiretik. Naproksen telah menjadi salah satu pilihan pertama karena khasiatnya dan  kejadian efek sampingnya yang jarang.

Nama obat

Nama dagang

Indikasi

Kontraindikasi

BSO, dosis, aturan pakai

Efek samping

Resiko khusus

Naproxen

Synflex

 

 

 

 

 

 

 

 

Xenifar

Mengurangi nyeri sedang sampai berat pada OA, RA, spondilitis ankilosa, gout akut

Asma, rinitis, urtikaria yang diiduksi aspirin atau obat AINS, hamil trimester 3 dan laktasi

Sediaan kaplet dosis awal pemberian 3 tablet 275mg tiap 8 jam, dilanjutkan 1 tablet 275mg tiap 8 jam

Sediaan kaplet, dosis awal pemberian

 

825mg tiap 8jam kemudian 275mg tiap 8jam

Diminum setelah makan

rasa tidak enak pada perut, nyeri ulu hati, reaksi GI, tukak peptik, sakit kepala, mual, dan edema perifer

 

 

 

sakit kepala, mengantuk, pusing, edema, palpitasi, takikardi, mual, dispepsia, muntah, diare, tinitus, alopesia, angiodema, pendarahan GI, trobositopenia, anemia aplastik, gangguan penglihatan, eritema multiform, sindroma nefrotik

kehamilan kategori B

B.     Natrium Diklofenak

Natrium Diklofenak

Merupakan golongan NSAID turunan asam propionat yang memiliki cara kerja dan efek samping yang sama dengan naproksen. Beberapa obat pilihannya yaitu:

Nama obat

Nama dagang

Indikasi

Kontraindikasi

BSO, dosis, aturan pakai

Efek samping

Resiko khusus

Natrium diklofenak

Abdiflam

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Berifen

 

 

 

 

 

 

 

 

inflamasi dan bentuk degeneratif reumatik seperti AR, termasuk juvenil, spondilitis ankilosa, OA, spondiloartritis, reumatik non sirkular, sindrom nyeri kolumna vertebralis, serangan gout akut

 

ulkus peptic, hipersensitif diklofenak, aspirin, obat penghambat prostaglandin sintetase lain

 

Sediaan kaplet dosis awal pemberian 100-150mg/hari dalam 2-3 dosis terbagi

pemeliharaan 75-100mg/Hr terbagi dalam 2-3 dosis

sakit kepala, mengantuk, pusing, edema, palpitasi, takikardi, mual, dispepsia, muntah, diare, tinitus, alopesia, angiodema, pendarahan GI, trobositopenia, anemia aplastik, gangguan penglihatan, eritema multiform, sindroma nefrotik

 

sakit kepala, mengantuk, pusing, edema, palpitasi, takikardi, mual, dispepsia, muntah, diare, tinitus, alopesia, angiodema, pendarahan GI, trobositopenia, anemia aplastik, gangguan penglihatan,eritema

kehamilan kategori B

a.  NSAID selektif COX-2

Merupakan golongan NSAID yang mempunyai tingkat keamanan saluran cerna atas lebih baik dibanding NSAID non-selektif.

Nama obat

Nama dagang

Indikasi

Kontraindikasi

BSO, dosis, aturan pakai

Efek samping

Resiko khusus

 

2.       Colchicine

Colchicine tidak direkomendasikan untuk terapi jangka panjang gout akut. Colchicine hanya digunakan selama saat kritis untuk mencegah serangan gout.

3.       Kortikosteroid

Kortikosteroid sering digunakan untuk menghilangkan gejala gout akut dan akan mengontrol serangan. Kortikosteroid ini sangat berguna bagi pasien yang dikontraindikasikan terhadap golongan NSAID. Jika goutnya monarticular, pemberian antra-articular yang paling efektif.

Nama obat

Nama dagang

Indikasi

Kontraindikasi

BSO, dosis, aturan pakai

Efek samping

Resiko khusus

 

Terapi selama simptom hilang ditujukan untuk meminimalkan penumpukan urat di jaringan, yang akan menyebabkan benjolan-benjolan arthritis semakin kronis, dan untuk mengurangi frekuensi kekambuhan dan tingkat keparahan.

1.       Diet

Penyebab kelebihan asan urat / hiperurikemia adalah diet tinggi purin, obesitas, konsumsi alkohol, dan penggunaan beberapa obat seperti tiazid dan diuretik kuat akan menghambat ekskresi asam urat di ginjal, serta aspirin dosos rendah < 3 g memperburuk hiperurikemia.

2.       Pengurangan kadar asam urat

Indikasi diperlukannya penurunan kadar asam urat meliputi sering munculnya artritis akut yang tidak terkontrol oleh pemberian colchicine untuk profilaksis, penumpukan asam urat/benjolan, atau kerusakan ginjal. Hiperurisemia dengan serangan nyeri yang jarang tidak membutuhkan pengobatan, demikian juga yang tidak menunjukkan gejala. Tujuan terapi yang diharapkan yaitu mempertahankan kadar asam urat di bawah 6mg/dL. Dua kelas obat yang dapat digunakan untuk menurunkan asam urat serum yaitu uricosuric dan allopurinol. Pemilihan salah satu atau keduanya bergantung pada hasil pemisahan asam urat dalam urin selama 24 jam. Nilai di bawah 800 mg mengindikasikan undersecretion asam urat, maka perlu uricosuric. Pasien dengan kadar asam urat lebih dari 800 mg menunjukkan adanya produksi yang berlebihan dan membutuhkan allopurinol.

a.       Uricosuric

Obat ini memblok reabsorpsi tubular dimana urat disaring sehingga mengurangi jumlah urat metabolik, mencegah pembentukan benjolan baru dan memperkecil ukuran benjolan yang telah ada. Uricosuris seperti probenesid dan sulfinpirazon dapat diberikan sebagai pengganti allopurinol, namun probenesid tidak diindikasikan untuk gout yang akut. Pembentukan kristal urat dalam urin bisa terjadi dengan urocisuric dan penting untuk memastikan jumlah urin cukup yaitu 2000 ml atau lebih untuk mencegah pengendapat kristal urat di saluran urin. Saat diberikan secara kombinasi dengan colchicine, akan mengurangi frekuensi kekambuhan gout akut. Uricosuric tidak efektif pada pasien dengan gangguan renal dengan serum kreatinin lebih dari 2 mg/dL.

Nama obat

Nama dagang

Indikasi

Kontraindikasi

BSO, dosis, aturan pakai

Efek samping

Resiko khusus

 

b.       Allopurinol

Sebagai penghambat xantin oksidase, allopurinol segera menurunkan plasma urat dan konsentrasi asam urat di saluran urin serta memfasilitasi mobilisasi benjolan. Obat ini sangat bermanfaat bagi pasien dengan gagal ginjal atau batu urat yang tidak dapat diberi urocisuric. Biasanya obat ini diberikan sekali sehai sebab metabolit aktif allopurinol waktu paruhnya panjang. Dosis awalnya 100 mg diberikan selama 1 minggu; kemudian dinaikkan jika kadar asam urat masih tinggi. Kadar asam urat serum akan dicapai dengan dosis harian 200-300 mg. Seringkali kombinasi allopurinol dengan uricosuric akan sangat membantu. Allopurinol tidak dianjurkan untuk pengobatan hiperurisemia asimtomatik dan gout yang aktif.

Nama obat

Nama dagang

Indikasi

Kontraindikasi

BSO, dosis, aturan pakai

Efek samping

Resiko khusus

 

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2000, Informatorium Obat Nasional Indonesia 2000, Departemen Kesehatan RI, Jakarta.

 

Anonim, 2006, MIMS Edisi Bahasa Indonesia, PT. Info Master, Jakarta.

 

Lacy, Charles, 2005, Drug Information Hand Book the 13th edition, Lexi-Comp.Inc. Hudson, Ohio, America.

 

McPhee, Tierney, 2006, Current Medical Diagnosis & Treatment 45th edition, Mc Graw Hill, USA.

PENGGUNAAN BRONKODILATOR : SIMPATOMIMETIKA (β2 AGONIST) DALAM TERAPI ASMA

PENGGUNAAN BRONKODILATOR : SIMPATOMIMETIKA (β2 AGONIS)

DALAM TERAPI ASMA

ENDRA DEWI PRIANINGRUM, S.FARM.

07 8115 007

Asma merupakan penyakit yang sering ditemukan pada semua usia. Asma adalah suatu keadaan dimana saluran nafas mengalami penyampitan peradangan dan penyempitan yang bersifat sementara. Ini terjadi karena saluran nafas tersebut sangat sensitif terhadap faktor khusus (pemicu) yang menyebabkan jalan udara menyempit hingga aliran udara berkurang dan mengakibatkan sesak nafas dan nafas berbunyi (wheezing).

Penatalaksanaan terapi pada penyakit asma meliputi outcome, sasaran terapi, tujuan terapi, dan strategi terapi. Pada umumnya sasaran terapi penyakit asma adalah gejala asma, bronkospasma (kejang bronki) dan peradangan pada saluran pernafasan. Tujuan terapi penyakit asma adalah mencegah terjadinya gejala asma, mengontrol terjadinya gejala asma, mencegah dan mengurangi terjadinya bronkospasma (kejang bronki), dan menghambat atau mengurangi peradangan saluran pernafasan. Strategi terapi penyakit asma meliputi terapi non farmakologis (tidak menggunakan obat) dan terapi farmakologis (menggunakan obat).

Terapi nonfarmakologis (tidak menggunakan obat) dapat dilakukan dengan pemberian edukasi pada pasien. Penting bagi pasien untuk mengenali gejala asma yang mesti diwaspadai seperti sesak nafas disertai mengi, keringat dingin, pucat, nyeri dada, dan lemas. Edukasi pada pasien berupa penjelasan mengenai faktor pemicu timbulnya asma dan cara penanganannya jika serangan asma terjadi. Selain itu juga mengontrol kondisi lingkungan sekitar (membersihkan lingkungan rumah dan kamar secara rutin), tidak merokok, tidak beraktivitas secara ebrlebihan, dan menjauhkan sebanyak mungkin faktor pemicu timbulnya serangan asma (menghindari tempat-tempat berdebu, menjauhi binatang berbulu yang bulubya mudah rontok seperti kucing dan anjing).

Terapi farmakologis merupakan terapi yang menggunakan obat. Tahap-tahap dalam terapi farmakologis asma ada dua, yaitu Quick-relief medicines dan Long-term medicines. Cara kerja quick-relief medicines yaitu merelaksasi otot-otot di saluran pernafasan, memudahkan pasien untuk bernafas, memberikan kelegaan bernafas, digunakan saat terjadi serangan asma.Cara kerja long-term medicines yaitu mengobati inflamasi pada saluran pernafasan, mengurangi udem dan mukus berlebih, memberikan kontrol untuk jangka waktu lama, membantu mencegah timbulnya serangan asma. Berdasarkan mekanisme kerjanya obat asma dibedakan menjadi golongan bronkodilator, golongan kortikosteroid, dan obat-obat lain. Ada tiga jenis bronkodilator, yaiu simpatomimetika (β2 agonist), metil santin, dan antikolinergik.

Artikel ini membicarakan tentang terapi asma menggunakan obat asma golongan bronkodilator jenis simpatomimetika (β2 agonist). Obat simpatomimetika merupakan obat yang memiliki aksi serupa dengan aktivitas saraf simpatis. Sistem saraf simpatis memegang peranan penting dalam emnentukan ukuran diameter bronkus. Ujung saraf simpatis yang menghasilkan norepinepherine, ephinepherine, isoprotenerol disebut adrenergic. Adrenergic memiliki dua reseptor α dan β (β1 dan β2). Adrenergic menstimulasi reseptor β2 (pada kelenjar dan otot halus bronkus) sehingga terjadi bronkodilatasi. Mekanisme kerja obat simpatomimetika adalah melalui stimulus reseptor β2 pada bronkus menyebabkan aktivasi adenilsiklase. Enzim ini mengubah ATP (Adenosintrifosfat) menjadi cAMP (cyclic-adenosine-monophosphat) dengan pembebasan energi yang digunakan untuk proses dalam sel. Meningkatnya kadar cAMP dalam sel menghasilkan efek bronkodilatasi.

Obat simpatomimetika (β2 agonist) mempunyai dua aksi yaitu short-acting (salbutamol, terbutalin sulfat, bambuterol hidroklorida, fenoterol hidrobromida) dan long-acting (formeterol fumarat, salmeterol). Obat simpatomimetika (β2 agonist) seperti salbutamol dan terbutalin merupakan obat β2 agonist yang paling aman dan paling efektif untuk asma. Serangan asma ringan sampai sedang umumnya memberikan respon secara cepat terhadap pemberian aerosol seperti salbutamol dan terbutalin. Untuk serangan asma yang lebih berat, diperlukan kortikosteroid oral jangka pendek agar asmanya terkontrol. Salmeterol dan formeterol kerjanya lebih panjang (long acting), diberikan secara inhalasi 2xsehari. Salmeterol dan formeterol mampu memberikan manfaat klinis untuk penggunan rutin tetapi tidak dapat dipakai untuk serangan asma akut. Obat simpatomimetika (β2 agonist) short-acting tidak boleh diresepkan secara rutin untuk pasien dengan asma ringan atau sedang, karena berbagai uji klinik penggunaannya secara rutin tidak memberikan manfaat klinis.

Berikut ini adalah obat-obat pilihan bronkodilator jenis simpatomimetika (β2 agonist) untuk terpi asma :

1. Nama Obat Salbutamol

· Generik = salbutamol

· Dagang = Bromosal®, Ventolin®, Lasal®, Ventab®, Bromosal®, Venterol®, Volmax®, Butasal®

· Indikasi

Asma dan kondisi lain yang berkaitan dengan obstruksi saluran nafas yang reversibel

· Kontra indikasi

Hipertiroidisme, insufisiensi miokard, aritmia, hipertensi

· Bentuk sediaan, Dosis, Dan Aturan Pakai

ü Peroral (Tablet, kapsul, kaptab)

4 mg 3-4xsehari (usia lanjut dan pasien yang sensitif dosis awal 2 mg)

Dosis tunggal max 8mg

<2th: 100mcg/kg 4xsehari

2-6th: 1-2mg 3-4xsehari

6-12tth: 2mg 3-4xsehari

ü Injeksi subkutan

500mcg diulang tiap 4 jam bila perlu

ü Injeksi intravena lambat

250mcg diulang bila perlu

ü Infus intravena

5mcg/menit lalu disesuaikan dengan respon dan denyut jantung, lazimnya antara 3-20mcg/menit, atau bila perlu

ü Inhalasi aerosol

100-200mcg (1-2 hisapan), untuk gejala persisten 3-4 kali sehari, anak 100mcg (1 hisapan) dapat dinaikkan menjadi 200mcg bila perlu

· Efek Samping

Tremor halus terutama tangan, ketegangan saraf, sakit kepala, vasodilatasi perifer, takikardi (jarang pada pemberian aerosol), hipokalemia sesudah dosis tinggi, reaksi hipersensitif termasuk bronkospasma paradoks, urtkaria, dan angio edema. Sedikit rasa sakit pada tempat injeksi intramuskular

· Resiko Khusus

Wanita hamil dan menyusui, pasien usia lanjut, pemberian intravena pada pasien diabetes.

2. Nama Obat Terbutalin Sulfat

· Generik = -

· Dagang = Bricasma®, Bricasma Durules®, Brasmatic®, Bintasma®, Sobutal®

· Indikasi

Asma dan kondisi lain yang berkaitan dengan obstruksi saluran nafas yang reversibel

· Kontra indikasi

Hipertiroidisme, insufisiensi miokard, aritmia, hipertensi

· Bentuk sediaan, Dosis, Dan Aturan Pakai

ü Peroral (Tablet, kaptab)

2,5 mg 3xsehari selama 1-2 minggu, lalu dinaikkan 5mg 2xsehari

Anak: 75mcg/kg 3xsehari

7-15th: 2,5mg 2-3xsehari

ü Injeksi subkutan, intravena lambat

250-500mcg sampai 4xsehari ; 2-15th: 10mcg/kg sampai max 300mcg

ü Infus intravena

Dalam larutan yang mengandung 3-5mcg/ml, 1,5-5mcg/menit selama 8-10jam

ü Inhalasi aerosol

Dewasa dan anak: 250-500mcg (1-2 hisapan), untuk gejala persisten sampai 3-4xsehari

· Efek samping

Tremor halus terutama tangan, ketegangan saraf, sakit kepala, vasodilatasi perifer, takikardi (jarang pada pemberian aerosol), hipokalemia sesudah dosis tinggi, reaksi hipersensitif termasuk bronkospasma paradoks, urtkaria, dan angio edema. Sedikit rasa sakit pada tempat injeksi intramuskular

· Resiko khusus

Wanita hamil dan menyusui, pasien usia lanjut, pemberian intravena pada pasien diabetes

3. Nama Obat Salmeterol

· Generik = -

· Dagang = Serevent Inhaler®, Serevent Rotadisk®

· Indikasi

Obstruksi saluran nafas reversibel (termasuk asma noktural dan asma karena latihan fisik) pada pasien yang memerlukan terapi bronkodilator jangka lama yang seharusnya juga menjalani pengobatan antiinflamasi inhalasi (kortikosteroid) atau kortikosteroid oral (catatan : salmeterol tidak bisa untuk mengatasi serangan akut dengan cepat, dan pengobatan pengobatan kortikosteroid yang sedang berjalan tidak boleh dikurangi dosisnya atau dihentikan)

· Kontra indikasi

Hipertiroidisme, insufisiensi miokard, aritmia, hipertensi

· Bentuk sediaan, Dosis, Dan Aturan Pakai

ü Inhalasi

50 mcg (2 hisapan) 2xsehari, hingga 100mcg (4 hisapan) 2xsehari pada obstruksi yang lebih berat.

< 4th tidak dianjurkan

> 4th 50 mcg (2 hisapan) 2xsehari

· Efek samping

Tremor halus terutama tangan, ketegangan saraf, sakit kepala, vasodilatasi perifer, takikardi (jarang pada pemberian aerosol), hipokalemia sesudah dosis tinggi, reaksi hipersensitif termasuk bronkospasma paradoks, urtkaria, dan angio edema. Sedikit rasa sakit pada tempat injeksi intramuskular

· Resiko khusus

Wanita hamil dan menyusui, pasien usia lanjut, pemberian intravena pada pasien diabetes

4. Nama Obat Formoterol Fumarat

· Generik = -

· Dagang = Foradil®

· Indikasi

Sama seperti salmeterol

· Kontra indikasi

Hipertiroidisme, insufisiensi miokard, aritmia, hipertensi

· Bentuk sediaan, Dosis, Dan Aturan Pakai

ü Inhalasi Serbuk

Dewasa : > 18th 12mcg 2xsehari, dapat dinaikkan menjadi 24mcg 2xsehari pada obstruksi jalan nfas yang lebih berat. Tidak dianjurkan untuk anak di bawah 18th.

· Efek samping

Tremor halus terutama tangan, ketegangan saraf, sakit kepala, vasodilatasi perifer, takikardi (jarang pada pemberian aerosol), hipokalemia sesudah dosis tinggi, reaksi hipersensitif termasuk bronkospasma paradoks, urtkaria, dan angio edema. Sedikit rasa sakit pada tempat injeksi intramuskular, iritasi orofaring, iritasi konjungtiva atau udem pelupuk mata, mual, insomnia, ruam kulit, dan gangguan pengecapan

· Resiko khusus

Wanita hamil dan menyusui, pasien usia lanjut, pemberian intravena pada pasien diabetes

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2006, British National Formulary, 52nd edirion, 142-150, BMJ Publishing Group Ltd, British.

Dipiro, J. T., 1997, Pharmacotherapy: A Pathophysiologic Approach, 3rd Edition, 553-590, Appeton & Lange, Stamford.

Tierney, L. M., McPhee, S. J., Papadakis, M. A., 2006, Current Medical Diagnosis And Treatment, 45th Edition, 226-237, Lange Medical Books/MacGraw-Hill, USA.

Tjay, Tan, dan Rahardja, Kirana, 2002, Obat-Obat Penting: Khasiat, Penggunaan, Dan Efek-Efek Sampingnya, Edisi V, Cetakan I, 599-618, Elex Media Komputindo, Jakarta.

TERAPI KOMBINASI ANTIDIABETIKA ORAL (METFORMIN DAN GLIBENKLAMID) UNTUK DIABETES MELITUS TIPE 2

TERAPI KOMBINASI ANTIDIABETIKA ORAL (METFORMIN DAN GLIBENKLAMID) UNTUK DIABETES MELITUS TIPE 2

BERTHA MELLINA

078115045

PENDAHULUAN

Diabetes melitus, penyakit gula atau kencing manis adalah suatu gangguan kronis yang khususnya menyangkut metabolisme karbohidrat (glukosa) di dalam tubuh. Penyebabnya adalah kekurangan hormon insulin, yang berfungsi memanfaatkan glukosa sebagai sumber energi dan mensintesa lemak. Akibatnya ialah glukosa bertumpuk di dalam darah (hiperglikemia) dan akhirnya diekskresikan lewat kemih tanpa digunakan (glycosuria). Karena itu produksi kemih sangat meningkat dan pasien harus sering kencing (poliuria), merasa amat haus (polidipsia), berat badan menurun dan berasa lelah. Di Indonesia, penderita diabetes diperkirakan 3 juta orang atau 1,5% dari 200 juta penduduk.

Ada dua jenis tipe diabetes, yakni diabetes melitus tipe 1 dan diabetes melitus tipe 2.

a. Diabetes Melitus Tipe 1

Diabetes melitus tipe 1 biasa disebut dengan IDDM (Insulin Dependent Diabetes Melitus).

Gambaran Klinis : saat datang pasien umumnya kurus dan memiliki gejala-gejala poliuria, polidipsia, penurunan berat badan, cepat lelah, dan terdapat infeksi (abses, infeksi jamur, misalnya kandidiasis). Terapi untuk pasien yang menderita diabetes melitus tipe 1 lazimnya memerlukan insulin dan tidak dianjurkan minum antidiabetika oral.

b. Diabetes Melitus Tipe 2

Diabetes melitus tipe 2 biasa disebut dengan NIDDM (Non-Insulin Dependent Diabetes Melitus).

Gambaran klinis : 80% kelebihan berat badan; 20% datang dengan komplikasi (penyakit jantung iskemik, gagal ginjal, ulkus pada kaki). Pasien dapat juga datang dengan poliuria dan polidipsia yang timbul perlahan-lahan. Pasien yang menderita diabetes melitus tipe 2 tidak tergantung dari insulin dan dapat diobati dengan antidibetika oral. Tipe NIDDM lazimnya mulai di atas 40 tahun dengan insidensi lebih besar pada orang gemuk dan pada usia lanjut.

Dalam artikel ini akan dibahas mengenai sasaran, tujuan, dan strategi terapi serta obat antidiabetika oral kombinasi metformin dan glinbenklamid untuk penderita diabetes melitus tipe 2.

SASARAN TERAPI

Sasaran terapi untuk diabetes melitus tipe 2 adalah kadar glukosa darah, komplikasi, dan pola hidup penderita diabetes melitus tipe 2. Terapi harus meminimalkan gejala dan menghindari komplikasi, dan memungkinkan pasien untuk hidup normal.

TUJUAN TERAPI

Tujuan terapi jangka pendek untuk penderita diabetes melitus tipe 2 adalah untuk mengurangi tanda dan gejala yang muncul, seperti poliuria (banyak buang air kecil), polidipsia (banyak minum), dan polifagia (banyak makan) dan untuk menormalkan kadar glukosa darah. Kira-kira 80% dari semua pasien tipe-2 adalah terlalu gemuk dengan kadar gula tinggi sampai 17-22 mmol/l, sehingga kadar gula darah perlu dikontrol dengan nilai normal (4-7 mmol/l).

Tujuan terapi jangka panjang adalah memperlambat laju perkembangan komplikasi mikrovaskular dan makrovaskular. Komplikasi mikrovaskular seperti retinopati (penyakit mata), neuropati (kerusakan pada saraf), nefropati (kerusakan ginjal). Komplikasi makrovaskular adalah seperti penyakit kaki, keadaan ini merupakan akibat penyakit pembuluh darah perifer (kaki yang dingin dan nyeri), dan peningkatan kecenderungan untuk terinfeksi, sehingga terbentuk ulkus, gangren dan kaki charcot (kaki hangat/panas dengan kerusakan sendi).

Untuk mencapai kedua tujuan ini adalah sangat penting mengusahakan regulasi yang optimal. Regulasi yang optimal dimaksudkan bahwa sepanjang hari kadar gula darah pada penderita diabetes sangat berfluktuasi, sehingga hendaknya kadar gula darah dikendalikan dengan nilai normal (4-7 mmol/l). Kontrol glikemik yang baik menghambat timbul dan berkembangnya semua penyakit mikrovaskular, penyakit makrovaskular jarang terjadi pada pasien yang tekanan darahnya dapat terkontrol dengan baik (<140/90 mmHg).

STRATEGI TERAPI

Nonfarmakologis

Strategi terapi nonfarmakologis untuk diabetes melitus tipe 2 adalah dengan diet, gerak badan, dan mengubah pola hidup (misalnya dengan berhenti merokok, bagi penderita yang merokok). Diet dilakukan terlebih pada pasien yang kelebihan berat badan. Makanan juga dipilih secara bijaksana, terutama pembatasan lemak total dan lemak jenuh untuk mencapai normalitas kadar glukosa darah, dan juga hindari makan makanan yang banyak mengandung gula berlebih. Gerak badan secara teratur dapat dilakukan, yaitu seperti jalan kaki, bersepeda, atau olahraga. Berhenti untuk tidak merokok, karena nikotin dapat mempengaruhi secara buruk penyerapan glukosa oleh sel.

Farmakologis

Pada saat ini terdapat 5 macam kelas obat hipoglikemik oral untuk pengobatan DM tipe II, yaitu sulfonilurea, biguanid, meglitinid, α-glukosidase inhibitor, dan agonis receptor γ (thiazolidin atau glitazon). Obat hipoglikemik oral diindikasikan untuk pengobatan pasien DM tipe II yang tidak mampu diobati dengan melakukan diet dan aktivitas fisik. Biguanid dan thiazolidinedion dikategorikan sebagai sensitizer insulin, dengan cara menurunkan resistensi insulin. Sulfonilurea dan meglitinid dikategorikan sebagai insulin secretagogues karena kemampuannya merangsang pelepasan insulin endogen.

Contoh :

Sulfonilurea : sulfonilurea generasi pertama (acetohexamid, clorproramid, tolbutamid, talazamid) dan generasi kedua (glimepirid, gilipizie, dan glibenklamid)

Meglitinid  : nateglinid, repaglinid

Biguanid  : metformin

Thiazolidinedion : pioglitazon dan resiglitazon

Alfa glukosidase inhibitor : acarbose dan miglitol.

Sulfonilurea dan biguanid tersedia paling lama dan secara tradisional merupakan pilihan pengobatan awal untuk diabetes tipe 2.

OBAT PILIHAN

Antidiabetika Oral Kombinasi Metformin dan Glibenklamid

Kombinasi ini sangat cocok digunakan untuk penderita diabetes melitus tipe 2 pada pasien yang hiperglikemianya tidak bisa dikontrol dengan single terapi (metformin atau glibenklamid saja), diet, dan olahraga. Di samping itu, kombinasi ini saling memperkuat kerja masing-masing obat, sehingga regulasi gula darah dapat terkontrol dengan lebih baik. Kombinasi ini memiliki efek samping yang lebih sedikit, apabila dibandingkan dengan efek samping apabila menggunakan monoterapi (metformin atau glibenklamid saja). Metformin dapat menekan potensi glibenklamid dalam menaikkan berat badan pada pasien diabetes melitus tipe 2, sehingga cocok untuk pasien diabetes melitus tipe 2 yang mengalami kelebihan berat badan (80% dari semua pasien diabetes melitus tipe 2 adalah terlalu gemuk dengan kadar gula tinggi sampai 17-22 mmol/l).

Nama Generik :

Metformin Hidroklorida

Indikasi : menekan nafsu makan, tidak meningkatkan berat badan, indikasi lain penggunaannya dalam kombinasi dengan sulfonilurea adalah untuk pasien diabetes melitus tipe 2 dengan hasil yang tidak memadai hanya dengan pemberian terapi sulfonilurea.

Dosis : 3 kali sehari 500 mg, atau 2 kali sehari 850 mg, diminum yang diberikan pada waktu makan. Bila perlu dosis dinaikkan dalam waktu 2 minggu sampai maksimal 3 kali sehari 1g.

Efek Samping : agak sering tejadi dan berupa gangguan lambung-usus, antara lain anorexia (kehilangan nafsu makan), mual, muntah, keluhan abdominal, diare terutama pada dosis di atas 1,5 g/hari. Efek tersebut berhubungan dengan dosis dan cenderung terjadi pada awal terapi dan bersifat sementara.

Kontraindikasi : kontraindikasi pada pasien yang menderita penyakit ginjal, alkoholisme, penyakit hati.

Perhatian : Berhubung kekurangan data mengenai keamanannya, maka metformin tidak dianjurkan selama kehamilan dan laktasi. Sebagai gantinya selalu disuntik dengan insulin.

Glibenklamid

Indikasi : digunakan untuk diabetes melitus tipe 2 dimana kadar gula darah tidak dapat dikontrol hanya dengan diet saja.

Dosis : dosis awal 2,5 mg per hari atau kurang, rata-rata dosis pemeliharaan adalah 5-10 mg/hari, dapat diberikan sebagai dosis tunggal. Tidak dianjurkan memberikan dosis pemeliharaan lebih dari 20mg/hari.

Efek samping : hipoglikemia yang dapat terjadi secara terselubung dan adakalanya tanpa gejala yang khas, agak terjadi gangguan lambung-usus (mual, muntah, diare), sakit kepala, pusing, merasa tidak enak di mulut, gangguan kulit alergis.

Kontraindikasi : pasien usia lanjut, gangguan hati dan ginjal, wanita hamil dan menyusui.

Peringatan : dapat menimbulkan kenaikkan berat badan atau hipoglikemia.

Nama dagang di Indonesia :

Glucovance ® dari Merck

Bentuk Sediaan :

tablet (film coated)

Komposisi :

per tab 1,25mg/250mg mengandung glibenklamid 1,25 mg, metformin HCl 250 mg.

per tab 2,5mg/500mg mengandung glibenklamid 2,5 mg, metformin HCl 500 mg.

per tab 5mg/500mg mengandung glibenklamid 5 mg, metformin HCl 500 mg.

Indikasi : terapi tahap kedua untuk diabetes melitus tipe 2 yang tidak dapat dikontrol dengan diet, olahraga, dan sulfonilurea atau metformin.

Kontraindikasi : gangguan fungsi ginjal, penyakit jantung kongestif, hipersensitif terhadap metformin HCl atau glibenklamid atau sulfonilurea lain, asidosis metabolik akut atau kronik, gangguan fungsi hati, intoksikasi akut alkohol, alkoholisme, porfiria, laktasi.

Dosis awal : 1,25 mg/250 mg 1-2 kali per hari atau 2,5 mg/500 mg dua kali sehari bersama makanan

Efek Samping : infeksi saluran nafas atas, diare, sakit kepala, mual, muntah, sakit perut, pusing.

Resiko khusus : pregnancy risk factor B, tidak boleh digunakan pada wanita hamil dan menyusui.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2000, Informasi Obat Nasional Indonesia 2000, 263-269, Departemen Kesehatan RI: Jakarta.

Anonim, 2005, AHFS Drug Information, 3065-3068, American Society of Health System Pharmacist Inc., USA.

Anonim, 2006, MIMS Indonesia Petunjuk Konsultasi, 255, Penerbit PT Infomaster: Jakarta.

Katzung, B.G, 2002, Farmakologi Dasar dan Klinik, edisi 8, buku 2, 693-705, Penerbit Salemba Medika : Jakarta.

Lacy, C.F., Amstrong, L.L., Goldman, M.P., Lance, L.L., 2006, Drug Information Handbook, 14th Edition, 742-743, AphA, Lexi-Comp Inc, Hudson, Ohio.

Neal, M.J, 2006, At Glance Farmakologi Medis, ed.5, 78-79, Penerbit Erlangga: Jakarta.

Tjay, T.H, Rahardja, K., 2002, Obat-obat Penting, ed. 5, 693-712, Penerbit PT Elex Media Komputindo: Jakarta.

Penggunaan Sildenafil pada Pasien Disfungsi Ereksi (Impotensi)

Penggunaan Sildenafil pada Pasien Disfungsi Ereksi (Impotensi)

Disusun oleh : Yulia Ratika Siwi

NIM : 078115074

(download PDF)

Definisi disfungsi ereksi

Disfungsi ereksi yang dikenal juga dengan sebutan impotensi adalah suatu ketidakmampuan untuk mendapatkan atau menjaga agar tetap ereksi untuk berhubungan seksual.

 

Penyebab disfungsi ereksi

Disfungsi ereksi dapat disebabkan oleh psikis (stress), obat (misalnya golongan diuretik untuk antihipertensi seperti hidroklorotiazid karena dapat menghambat aliran darah ke penis), hormonal (kekurangan hormon testosteron sehingga mangalami penurunan libido), komplikasi penyakit (diabetes mellitus, hipertensi), pola hidup tidak sehat (merokok, alkoholik)

 

 

Penatalaksanaan terapi

Dalam terapi disfungsi ereksi, yang menjadi sasaran terapi (bagian yang akan diterapi) adalah ereksi penis. Berdasarkan sasaran yang diterapi, maka tujuan terapi adalah meningkatkan kualitas dan kuantitas ereksi penis yang nyaman saat berhubungan seksual. Kualitas yang dimaksud adalah kemampuan untuk mendapatkan dan menjaga ereksi. Sedangkan kuantitas yang dimaksud adalah seberapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menjaga ereksi (waktu untuk tiap-tiap orang berbeda untuk mencapai kepuasan orgasme,tidak ada waktu normal dalam ereksi).

 

Sebelum memilih terapi yang tepat, perlu diketahui penyebab atau faktor resiko pada pasien yang berperan dalam menyebabkan munculnya disfungsi ereksi. hal ini terkait dengan beberapa penyebab disfungsi ereksi yang terkait. Dengan demikian, jika diketahui penyebab disfungsi ereksi yang benar maka dapat diberikan terapi yang tepat pula. Terapi untuk disfungsi ereksi dapat dibedakan menjadi dua yaitu terapi tanpa obat (nonfarmakologis-pola hidup sehat dan menggunakan alat ereksi seperti vakum ereksi) dan terapi menggunakan obat (farmakologis).

 

Yang pertama kali harus dilakukan oleh pasien disfungsi ereksi harus memperbaiki pola hidup menjadi sehat. Beberapa cara dalam menerapkan pola hidup sehat antara lain olah raga, menu makanan sehat, kurangi dan hindari rokok atau alkohol, menjaga kadar kolesterol dalam tubuh, mengurangi berat badan hingga normal), dan mengurangi stres. Jika dengan menerapkan pola hidup sehat, pasien sudah mengalami peningkatan kepuasan ereksi maka pasien disfungsi ereksi tidak perlu menggunakan obat atau vakum ereksi.

 

Obat-obatan yang digunakan untuk pengobatan disfungsi ereksi antara lain golongan phosphodiesterase inhibitor5 (sildenafil, vardenafil, dan tadalafil), alprostadil (disuntikkan di penis-intracevernosal dan dimasukkan dalam ureter-intrauretral), papaverine, trazodone, dan dengan testosteron replacing hormone

(penambahan homon estrogen). Obat yang digunakan sebagai obat pilihan untuk pengobatan disfungsi ereksi adalah sildenafil.

Obat Pilihan

 

 

gambar Viagra(R)

Sildenafil

 

Nama generik :sildenafil

 

Merk dagang : Viagra®

 

Golongan : phosphodiesterase inhibitor5

 

Penggunaan :harus dengan resep dokter

 

Ketersediaan bentuk generik : tidak ada

 

Bentuk sediaan :

Tablet Viagra salut film, berwarna biru, bentuk bulat, atau seperti intan.

 

Kekuatan tiap tablet :25 mg, 50 mg, dan 100 mg

 

Penyimpanan : tablet Viagra disimpan dalam suhu ruangan (15-300C)

 

Indikasi :

Sildenafil diindikasikan untuk terapi disfungsi ereksi (impotensi) yang disebabkan secara organik (karena penyakit pada sistem vaskuler-hipertensi, sistem saraf atau hormonal) dan psikis.

 

Dosis dan aturan pakai:

Dewasa; dosis yang dianjurkan adalah 25-100 mg/hari. Untuk pengobatan yang pertama kali diberikan dosis sebesar 50 mg 30 menit-4 jam sebelum berhubungan seksual. Jika dibutuhkan dosis dapat ditambah 25 mg dan maksimal dosis 100 mg/hari. Sildenafil digunakan hanya sekali dalam sehari (dosis maksimal 100mg.hari) dan berefek maksimal jika digunakan pada saat perut kosong.

 

Efek sildenafil akan muncul setelah 30 menit-1jam pemberian sildenafil dan durasi efeknya selama 4 jam. Ketika sildenafil digunakan bersamaan dengan makanan (terlebih daging) maka efek yang timbul akan lebih lama sekitar 2 jam kemudian setelah pemberian sildenafil.

 

Kontraindikasi :

Sildenafil tidak boleh digunakan pada pasien dengan fungsi ereksi normal karena dapat menyebabkan ereksi terlalu lama/prolong erection (menimbulkan nyeri yang sangat pada penis); pasien yang menggunakan nitrat (isosorbid dinitrat/mononitrat-untuk pengobatan angina pektoris) karena dapat meningkatkan efek hipotensi dari nitrat sehingga tekanan darah menjadi terlalu rendah (shock hipotensi), pasien dengan terapi simetidin, eritromisin, ketoconazole, itraconazole karena meningkatkan resiko munculnya efek samping sildenafil

 

Efek samping :

Efek samping sildenafil tidak sering muncul. Efek samping sidenafil antara lain: muka memerah, pusing, nyeri perut, mual, diare, sensitif pada cahaya (fotosensitif), kepekaan mendengar berkurang, kepala pening.

 

Peringatan :

Tidak dianjurkan untuk anak. Pasien dengan riwayat sakit jantung (aritmia, pernah mengalami serangan jantung, hipertensi) perlu monitoring dan modifikasi dosis. Pasien dengan penurunan fungsi ginjal atau penurunan fungsi hepar : dosis awal dikurangi menjadi 25 mg/hari. Hati-hati pada pasien yang mengalami kerusakan penis dan pasien yang mempunyai bentuk sel darahnya bulan sabit (sickle cell disease).

 

Informasi bagi pasien:

  • Pasien diberi informasi jika tidak berefek untuk meningkatkan ereksi harus kembali ke dokter
  • Pasien diharapkan kembali ke dokter jika efek ereksi melebihi 4 jam.
  • Pasien harus mematuhi aturan pakai

Daftar Pustaka

  1. Lee Mary, Erectile Dysfunction, in Dipiro, J. T., 2001, Pharmacotherapy : A Pathophysiologic Approach, 6th, The McGraw-Hill Inc., United State of America
  2. Tatro, David S., PharmD, 2003, A to Z Drug Facts, Facts and Comparisons, San Franscisco
  3. Chan, Paul D. M.D., 2004, Treatment Guidelinesfor Medicine and Primary Care, New Current Clinical Strategies, California

Penggunaan Obat Antituberculosis Pada Ibu Hamil

PENGGUNAAN OBAT ANTITUBERCULOSIS PADA IBU HAMIL
Bernadeta Mirmayanti (078115044)

PENDAHULUAN
Tuberculosis (TB) merupakan suatu penyakit pada saluran pernafasan yang disebabkan karena adanya infeksi pulmonary oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Bakteri ini sangat mudah berpindah dari orang yang satu ke orang yang lain melalui udara (batuk atau bersin). Oleh karena itu, TB dikategorikan sebagai penyakit menular. TB dapat menyebabkan kerusakan yang progresif pada jaringan paru-paru atau bahkan kematian, terutama jika penyakit ini tidak diobati (Dipiro, et al., 2005).
TB merupakan penyakit yang prevalensinya cukup tinggi di dunia, terutama di negara berkembang. Di Indonesia, TB menjadi masalah kesehatan masyarakat yang cukup penting. Jumlah penduduk Indonesia yang terkena TB menduduki peringkat ke-3 di dunia setelah India dan Cina. Dengan demikian sangatlah penting bagi masyarakat untuk memperluas pengetahuannya mengenai TB dan cara penanggulangannya.
Gejala-gejala yang perlu diwaspasai terkait dengan TB adalah: penurunan berat badan, fatique, batuk produktif, demam, dan night sweats. Gejala ini dapat muncul secara bertahap. Peningkatan keparahan dari TB sangat bergantung pada: jumlah bakteri yang menginfeksi, kemampuan bakteri dalam menginfeksi, serta sistem imun tubuh pasien (Dipiro, et al., 2005).

SASARAN dan TUJUAN TERAPI
Sasaran dari terapi TB adalah Mycobacterium tuberculosis. Sedangkan tujuan dari terapi TB adalah membunuh Mycobacterium tuberculosis dan mencegah penyebaran Mycobacterium tuberculosis.

STRATEGI TERAPI
Non Farmakologis. Terapi non farmakologis untuk TB bertujuan untuk 1). Mencegah penyebaran TB, 2). Melakukan investigasi pada daerah endemik TB, dan 3). Meningkatkan kondisi pasien menjadi well-being (lebih sehat). Tujuan 1 dan 2 dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan, sedangkan tujuan no 3 dapat dicapai dengan terapi nutrisi dan peningkatan sistem imun pasien. Di Rumah Sakit, ruangan rehabilitasi untuk pasien TB harus terpisah, untuk menghindari terjadinya penyebaran Mycobacterium tuberculosis. Selain itu, udara yang berasal dari ruang rehabilitasi tersebut, harus disinari dengan sinar UV terlebih dahulu sebelum dibuang. Penyinaran ini bertujuan untuk membunuh Mycobacterium tuberculosis yang ada. Apabila terjadi kerusakan jaringan akibat TB, maka dapat dilakukan operasi pada jaringan yang telah mengalami kerusakan (Dipiro, et al., 2005).

Farmakologis. Terapi Farmakologis untuk TB adalah dengan penggunaan antibiotika, kortikosteroid, dan Bacille Calmette Guerin Vaccine (BCG Vaksin). Dari ketiga macam obat tersebut, yang paling banyak dan efektif digunakan adalah antibiotika. First line drugs utnuk TB adalah Isoniazid, Ethambutol, Rifampisin dan Pirazinamid. Sedangkan second line drugs- nya adalah Steptomycin, Para Aminosalicylic Acid, Fluoroquinolone, Amoxicillin, Ethionamide, Cycloserin, dan antibiotika golongan makrolida (Dipiro, et al., 2005).

OBAT PILIHAN
TB pada ibu hamil harus diobati, karena jika tidak diobati dapat menyebabkan kecacatan, aborsi dan kematian. Pemilihan obat TB pada ibu hamil harus rasional dan memperhatikan potensial resiko yang dapat terjadi pada ibu dan janin yang dikandung. Oleh karena itu, dalam memilih obat untuk ibu hamil, harus diperhatikan indeks keamanan oabt tersebut pada ibu hamil. Berikut adalah indeks keamanan obat untuk ibu hamil menurut Anonim (2007a):

Kategori dan Keterangannya  
A    Studi terkontrol pada wanita hamil tidak memperlihatkan adanya resiko terhadap janin pada kehamilan trimester 1 (dan juga tidak ada resiko pada trimester selanjutnya), dan sangat kecil kemungkinan untuk membahayakan janin.

B    Studi terhadap sistem reproduksi hewan percobaan tidak memperlihatkan adanya resiko terhadap janin pada kehamilan trimester 1 (dan juga tidak ada resiko pada trimester selanjutnya), akan tetapi belum dilakukan studi terkontrol pada wanita hamil.
C    Studi terhadap hewan percobaan yang telah memperlihatkan adanya efek samping pada janin, tetapi belum dilakukan studi terkontrol pada wanita hamil. Obat ini hanya dapat diberikan jika manfaat yang diperoleh lebih besar daripada resiko yang mungkin terjadi pada janin.

D    Terdapat bukti positif mengenai adanya resiko terhadap janin manusia, tetapi manfaat obat ini pada ibu hamil mungkin lebih besar daripada resiko yang ditimbulkan (misalnya, obat ini diperlukan untuk mengatasi situasi yang mengancam jiwa, dimana obat yang lebih aman tidak tersedia atau tidak efektif).

X    Studi terhadap hewan percobaan atau manusia telah memperlihatkan adanya abnormalitas pada janin atau terdapat bukti resiko pada janin (resiko penggunaan lebih besar daripada manfaat). Obat dalam kategori ini dikontraindikasikan pada wanita hamil.

Obat TB yang relatif aman digunakan pada ibu hamil adalah Ethambutol, Isoniazid, dan Rifampisin, yang digunakan selama 9 bulan (Dipiro, et al., 2005).

Ethambutol (nama generik).
Nama dagang di Indonesia
Cetabutol® (Soho), Ethaxol® (Heroic), Pulna® (Landson), Arsitam® (Meprofarm), Decabutol® (Harsen), Ethinh® (Zenith), Etibi® (Rocella) (Anonim, 2007b).

Indikasi
Antituberkulosis dan infeksi Mycobacterium lain (Lacy, et al., 2006).

Kontraindikasi
Hipersensitivitas Ethambutol dan bahan tambahannya, optic neuritis, penggunaan pada anak-anak, pasien tidak sadar, pasien dengan gangguan penglihatan (Lacy, et al., 2006).

Bentuk sediaan, dosis, aturan pakai
Bentuk sediaan berupa tablet 250 dan 500 mg (Anonim, 2007b).
Dosis Ethambutol untuk dewasa (Lacy, et al., 2006) :
§    Terapi harian : 14-25 mg/kg BB.
40-45 kg = 800mg, 56-75 kg = 1200mg, 76-90 kg = 1600mg (maksimum dosis yang dianjurkan).
§    Dua kali/minggu Directly Observed Therapy (DOT) : 50 mg/kg BB.
40-45 kg = 2000mg, 56-75 kg = 2800mg, 76-90 kg = 4000mg (maksimum dosis yang dianjurkan).
§    Tiga kali/minggu DOT : 25-30 mg/kg BB (maksimum 2,5 g).
40-45 kg = 1200mg, 56-75 kg = 2000mg, 76-90 kg = 2400mg (maksimum dosis yang dianjurkan).

Efek samping
Myocarditis, pericarditis, sakit kepala, malaise, tidak sadar, demam, halusinasi, mata berkunang-kunang, dermatiitis, kulit kemerahan, anoreksia, mual, muntah, gangguan pencernaan, optic neuritis, gangguan penglihatan, nephritis, hepatotiksik,  gejala hipersensitif (Lacy, et al., 2006).

Resiko khusus
Ethambutol relatif aman digunakan pada ibu hamil. Obat ini memiliki indeks keamanan kehamilan yang termasuk dalam kategori B (Anonim, 2007a). Untuk pasien dengan gangguan ginjal perlu dilakukan penyesuaian dosis. Selain itu, obat ini juga dapat menyebabkan hepatotoksik, sehingga perlu dilakukan monitoring untuk pasien dengan gangguan hepar (Lacy, et al., 2006).

Isoniazid (nama generik)
Nama dagang di Indonesia
Sediaan Isoniazid yang diperdagangkan, sebagian besar berisi Isoniazid dan Vit B6. Beberapa nama dagang sediaan tersebut di Indonesia adalah: INH CIBA® (Sandoz), Inoxin® (Dexa Medica), Niacifort-6® (Ikapharmindo), Nufadoxin Forte® (Nufarindo), Pulmolin® (Pharos) (Anonim, 2007a).

Indikasi
Antituberkulosis, baik karena latent tuberculosis infection maupun active TB infection (Lacy, et al., 2006).

Kontraindikasi
Hipersensitivitas Isoniazid dan bahan tambahannya, penyakit liver akut, riwayat kerusakan hepar karena penggunana Isoniazid (Lacy, et al., 2006).

Bentuk sediaan, dosis, aturan pakai
Bentuk sediaan berupa tablet yang mengandung 400 mg Isoniazid dan 10 mg Vitamin B6 (Anonim, 2007a).
Dosis Isoniazid untuk dewasa adalah (Lacy, et al., 2006):
§    Untuk pengobatan latent tuberculosis infection (LTBI): 300 mg/hari atau 900 mg dua kali/minggu selama 6-9 bulan (untuk pasien yang tidak terinfeksi HIV), dan 9 bulan (untuk pasien yang terinveksi HIV). Pengobatan dapat dilanjutkan hingga 12 bulan jika terjadi ketidakteraturan dalam terapi.
§    Untuk pengobatan active TB infection:
Terapi harian : 5 mg/kg BB/hari (biasanya 300 mg/hari), 10 mg/kgBB/hari 1-2 kali sehari dalam dosis terbagi.
Dua kali/minggu DOT: 15 mg/kg BB (maksimum 900 mg).
Tiga kali/minggu : 15 mg/kg BB (maksimum 900 mg).

Efek samping
Hipertensi, palpitasi, takikardi, demam, mata berkunang-kunang, depresi, kejang, kulit kemerahan, lethargi, kulit terasa terbakar, gangguan liver, gangguan hepar, anoreksia, mual, muntah, gangguan penglihatan, gejala hipersensitif (Lacy, et al., 2006).

Resiko khusus
Isoniazid relatif aman digunakan pada ibu hamil. Obat ini memiliki indeks keamanan kehamilan yang termasuk dalam kategori C (Anonim, 2007a). Untuk pasien dengan gangguan ginjal dan liver akut perlu dilakukan penyesuaian dosis. Selain itu, obat ini juga dapat menyebabkan hepatotoksik, sehingga perlu dilakukan monitoring untuk pasien dengan gangguan hepar (Lacy, et al., 2006).

DAFTAR PUSTAKA
Anonim 2007a, MIMS Indonesia Petunjuk Konsultasi, Edisi 6, 131-140, 225-228, Info Master, Jakarta.

Anonim 2007b, Informasi Spesialite Ibat Indonesia, Vol 42, 329-334, Ikrar Mandiri Abadi, Jakarta.

DiPiro, T.J., Talbert, R.L., Yee, G.C., Matzke, G.R., Wells, B.G., Pasey, L.M., 2005, Pharmacoterapy : A Phathophysiologocal Approach, 6th Ed., 2059-2076 Mc Graw-Hill Inc, USA.

Lacy, C.F., Armstrong, L.L., Goldman, M.P., and Lance, L.L., 2006, Drug Information Handbook, 14th Ed., 593-595, 868-870, Lexicomp, Inc., USA.

TERAPI ANTAGONIS RESEPTOR HISTAMIN H2 PADA PEPTIC ULCER DISEASE (PUD)

TERAPI ANTAGONIS RESEPTOR HISTAMIN H2 PADA PEPTIC ULCER DISEASE (PUD)Disusun oleh:
Titus Punto Wibi Kurniawan
(07.8115.067)

PENDAHULUAN
Peptic ulcer disease adalah lesi pada lambung atau duedenum yang disebabkan oleh ketidakseimbangan antara faktor agresif (sekresi asam lambung, pepsin dan infeksi bakteri Helicobacter pylori) dengan faktor defensif/faktor pelindung mukosa (produksi prostaglandin, gastric mucus, bikarbonat dan aliran darah mukosa).
Ada tiga penyebab terjadinya peptic ulcer disease, yaitu Helicobacter pylori, induksi nonsteroidal anti-inflamatory drug (NSAID) dan stress ulcer.
Infeksi dari Helicobacter pylori menyebabkan infeksi kronis gastritis pada semua individu yang akan memicu terjadinya peptic ulcer disease (PUD) dan kanker lambung (gastric cancer). Helicobacter pylori berbentuk spiral, sensitif terhadap pH, termasuk golongan bakteri Gram negatif dan merupakan bakteri mikroarofilik yang hidup berada diantara lapisan mukus dan permukaan sel epitelial di perut dan di beberapa lokasi di lambung. Bakteri ini menghasilkan sitotoksin yang mampu memecah pertahanan mukus dan kemudian menempel pada sel epitelial lambung atau pada usus halus. Bakteri ini akan menghasilkan adhesin yang mengikat membran yang terdiri dari lipid dan karbohidrat. Bakteri ini juga memproduksi urease yang akan mengkatalis peristiwa hidrolisis urea menjadi karbonmonoksida dan amonia yang bersifat toksik. Amonia dan produk lain yang dihasilkan oleh bakteri ini akan terakumulasi dan merusak integritas mukosa lambung dan menyebabkan terjadinya ulcer (tukak/luka) (Dipiro, J.T., et al., 2005).
NSAID termasuk aspirin dapat menyebabkan kerusakan mukosa lambung melalui dua mekanisme yaitu secara langsung atau mengiritasi topikal sel epitelium lambung dan secara sistemik dengan menghambat sistesis prostaglandin (Dipiro, J.T., et al., 2005).
Selain faktor-faktor penyebab diatas, peptic ulcer disease juga dapat disebabkan oleh kebiasaan merokok lebih dari 10 batang sehari. Mekanisme merokok dapat menyebabkan peptic ulcer disease masih belum jelas. Mekanisme yang mungkin yaitu adanya penundaan pengosongan lambung, menghambat sekresi bikarbonat, dan mengurangi produksi prostaglandin pada lapisan mukosal yang akan mengakibatkan berkurangnya perlindungan terhadap mukosa lambung. Selain itu merokok dapat menyebabkan peningkatan sekresi asam lambung, walaupun ini tidak terjadi pada setiap individu (Dipiro, J.T., et al., 2005).

SASARAN TERAPI
Sasaran terapi secara umum untuk peptic ulcer disease yaitu infeksi bakteri Helicobacter pylori, sekresi asam lambung berlebih dan pertahanan mukosa.

TUJUAN TERAPI
Tujuan dari terapi untuk peptic ulcer disease yaitu mengurangi sekresi berlebih asam lambung, menetralkan asam lambung, memperkuat sistem perlindungan mukosa, mengurangi atau menghilangkan nyeri epigastrik, mengurangi dan mencegah terjadinya komplikasi.

STRATEGI TERAPI
Terapi peptic ulcer disease dapat secara farmakologis maupun non-farmakologis. Terapi non-farmakologis yang dapat dilakukan diantaranya mengurangi atau menghilangkan stress psikologis, menghentikan kebiasaan merokok, tidak menggunakan obat-obat golongan nonsteroidal anti-inflamatory drug (NSAID). Selain itu penderita peptic ulcer disease harus menghindari makanan-makanan yang dapat menyebabkan terjadinya ulcer (tukak) seperti makanan dan minuman yang mengandung kafein, pedas dan alkohol. (Dipiro, J.T., et al., 2005).
Terapi farmakologi untuk peptic ulcer disease yaitu dengan menggunakan antagonis reseptor histamin H2, pompa proton inhibitor, antasida, analog prostaglandin, sucralfate. Dalam makalah ini hanya akan dibahas terapi farmakologi menggunakan antagosis reseptor H2.
Antagonis reseptor Histamin H2
Terapi menggunakan antagonis reseptor histamin H2 merupakan terapi yang digunakan untuk mengurangi sekresi asam lambung berlebih. Mekanisme aksi obat golongan antagonis reseptor histamin H2 yaitu dengan cara mem-blok kerja dari histamin atau berkompetisi dengan histamin untuk berikatan dengan reseptor H2 pada sel parietal sehingga mengurangi sekresi asam lambung (Katzung, B.G, 2002).
Ada 4 antagonis reseptor histamin H2 yang sering digunakan dalam pengobatan peptic ulcer disease yaitu cimetidine, ranitidine, famotidine, dan nizatidine. Keempat obat tersebut dapat secara cepat di absorbsi di usus halus. Cimetidine, ranitidine dan famotidine akan mengalami first-pass hepatic metabolism yang akan mengakibatkan bioavailabilitasnya menjadi sekitar 50%. Sedangkan nizatidine hanya sedikit mengalami first-pass hepatic metabolism sehingga bioavalabilitasnya mendekati 100%. Waktu paruh (half life) dari keempat obat tersebut adalah 1 hingga 4 jam dan durasinya tergantung dari besarnya dosis yang diberikan. Obat golongan antagonis reseptor histamin H2 akan dibersihkan dari tubuh melalui kombinasi metabolisme di hati, flitrasi glomerolus dan sekresi tubulus renal. (Katzung, B.G, 2002).
Berikut akan diuraikan mengenai cimetidine dan ranitidine.

Cimetidine
Nama dagang di Indonesia: Cimetidine Hexpharm (diproduksi oleh Hexpharm), Cimetidine Prafa (Prafa), Corsamed (Corsa), Licomed (Berlico Mulia Farma), Tagamed (GlaxoSmithKline), Tidifar (Ifars), Ulcedine (United American), Ulcumed (Soho), Ulcusan (Pyridam), Ulsikur (Kalbe Farma), Xepamed (Metiska Farma).
Indikasi: Terapi jangka pendek untuk ulkus duodenum aktif, terapi pemeliharaan ulkus duodenum sesudah penyembuhan dari ulkus aktif, terapi jangka pendek ulkus gaster aktif yang jinak, terapi refluks gastroesofagus erosif, pencegahan pendarahan saluran cerna bagian atas.
Kontra indikasi: Hipersensitif dengan cimetidine
Bentuk sediaan, dosis, dan aturan pakai: tablet 200 mg dan tablet 400 mg.
Ulkus duodenum aktif 800 mg 1x sehari pada malam hari atau 300 mg 4x sehari pada waktu makan atau sebelum tidur atau 400 mg 2x sehari pada pagi hari dan sebelum tidur. Lama terapi 4-6 minggu.
Terapi pemeliharaan ulkus duodenum 400 mg 1x sehari pada malam hari sebelum tidur.
Ulkus gaster aktif jinak 800 mg 1x sehari pada malam hari sebelum tidur atau 300 mg 4x sehari pada saat makan dan sebelum tidur selama 6-8 minggu.
Refluks gastroesofagus erosif 800 mg 2x sehari atau 400 mg 4x sehari dalam dosis terbagi selama 12 minggu
Hipersekresi patologis 300 mg 4x sehari pada saat makan dan sebelum tidur.
Dosis maksimal 2,4 gram sehari.
Efek samping: diare ringan, sakit kepala, mengantuk, agitasi, dpresi, cemas, halusinasi, mual, muntah.
Resiko khusus: Wanita hamil dan menyusui. Cimetidine dapat melintasi plasenta dan dapat mencapai air susu, sehingga tidak boleh digunakan pada wanita hamil dan menyusui.

Ranitidine
Nama dagang di Indonesia: Aldin (diproduksi oleh Merck),.Anitid (Bernofarm), Chopintac (Nufarindo), Fordin (Promed), Gastridin (Interbat), Hexer (Kalbe Farma), Radin (Dexa Medica), Rancus (Mersifarma TM), Ranin (Pharos), Ranitidine Hexpharm (Hexpharm) , Ranticid (Kimia Farma), Rantin (Kalbe Farma), Ratinal (Gracia Farmindo), Ranatac (Fahrenheit), Tricker (Meprofarm), Ulceranin (Otto), Wiacid (Lansond), Xeradin (Metiska Farma), Zantac (GlaxoSmithKline), Zantadin(Soho), Zantifar (Ifars), Zumaran (Sandoz).
Indikasi: Ulkus duodenum, ulkus gaster non maligna, kondisi hipersekresi patologi.
Kontra indikasi: Hipersensitif dengan ranitidine
Bentuk sediaan, dosis, dan aturan pakai: tablet 150 mg, ampul 25 mg, ampul 50 mg.
Ulkus duodenum 150 mg 2x sehari atau 300 mg 1x sehari pada malam hari.
Pencegahan kekambuhan ulkus 150 mg sebelum tidur
Sindrom Zollinger Ellison 150 mg 3x sehari.
Efek samping: sakit kepala, pusing, ruam kulit, aritmia, vertigo.

PUSTAKA
Anonim 2007, MIMS Indonesia Petunjuk Konsultasi, Edisi 6, Info Master, Jakarta.

Dipiro, J.T., Talbert, R.L., Yee, G.C., Matzke, G.R., Wells, B.G., and Posey, L.M., 2005, Pharmacotherapy: A                                     Pathophysiologic Approach, Sixth Edition, 629-643, The McGraw-Hill Companies, Inc.,USA.

Katzung, B.G., 2002, Basic & Clinical Pharmacology, 8th edition, Mc Graw-Hill Companies INC., New York.

Lacy, C.F., Armstrong, L.L., Goldman, M.P., and Lance, L.L., 2006, Drug Information Handbook, 14th Ed., Lexicomp, Inc.,             USA.

PENGGUNAAN SALBUTAMOL (ALBUTEROL) DALAM TERAPI ASMA

 

Brigitta Dharma Shanti

078115046

            Kata asma berasal dari bahasa Yunani “asthma” yang berarti sukar bernafas. Asma termasuk salah satu penyakit yang memiliki angka kejadian yang relatif tinggi di Indonesia. Oleh karena itu, kata ”asma” tentu sudah tidak terdengar asing lagi bagi sebagian besar masyarakat. Penyakit asma bisa bisa muncul kapan saja dan bisa diderita oleh siapa saja tanpa pandang bulu, mulai dari anak-anak sampai orang dewasa, baik wanita maupun laki-laki. Saat kambuh, panderita akan mengalami sesak nafas sehingga aktivitas sehari-hari, seperti sekolah maupun kerja, bisa terganggu. Selain mengganggu aktivitas, penyakit ini bahkan bisa menyebabkan kematian bila tidak ditangani secara cepat dan tepat. Namun jika penyakit ini dikendalikan, kematian dapat dicegah dan penderita asma tak perlu mengalami serangan lagi atau gejalanya berkurang. Untuk dapat mengetahui bagaimana cara pencegahan dan pengobatan yang tepat untuk asma, maka penderita perlu mengenal lebih jauh tentang asma terlebih dahulu.

Asma adalah penyakit yang disebabkan karena adanya inflamasi (peradangan) kronis pada saluran pernafasan, yang belum diketahui secara pasti penyebabnya. Beberapa faktor  yang dapat memicu terjadinya asma antara lain adalah: infeksi saluran pernafasan, alergen (debu, bulu hewan, serbuk sari, dll), kondisi lingkungan (udara dingin, asap rokok), stress, olahraga berat, obat (aspirin, NSAIDs, β-blocker). Adanya peradangan membuat saluran pernafasan menjadi sangat sensitif terhadap rangsangan dan mudah mengalami penyempitan.  Penyempitan ini menyebabkan udara yang masuk dan keluar saluran pernafasan terhalang sehingga penderita menjadi sesak. Selain itu, serangan asma juga sering disertai dengan serangan batuk, nafas pendek, rasa sesak di dada. Pada asma yang sudah parah biasanya juga ditandai dengan wheezing atau “mengi”, terutama pada malam hari. Penyempitan saluran nafas pada asma bersifat reversible dan serangan biasanya berlangsung beberapa menit sampai beberapa jam.

Kelainan utama penyakit asma adalah peradangan saluran nafas, sehingga pengelolaan/pengobatannya bukan hanya ditujukan untuk menghilangkan gejala sesak nafas semata, tetapi juga berbagai tujuan berikut yaitu, agar penderita mempunyai fungsi paru mendekati normal dan gejala asmanya menghilang atau minimal. Tujuan lainnya adalah agar serangan asma minimal, pemakaian obat untuk serangan sesak berkurang, dan tidak ditemukan efek samping obat.

Secara umum, ada 2 cara untuk mengatasi asma yaitu dengan terapi non-farmakologis (tanpa obat) dan terapi farmakologis (dengan obat). Terapi non farmakologis dapat dilakukan dengan menghindari faktor-faktor resiko yang dapat menimbulkan asma serta dengan melakukan olahraga ringan seperti renang.

Adapun untuk terapi farmakologis, ada dua jenis obat yang biasa digunakan yaitu quick-relief dan long-term control. Kedua jenis obat tersebut memiliki cara kerja yang berbeda. Obat-obat quick-relief, misal bronkodilator, bekerja dengan merelaksasi otot-otot di saluran nafas sehingga saluran nafas yang semula menyempit akan melebar kembali dan penderita mampu bernafas dengan lega. Dengan demikian, obat-obat ini lebih efektif digunakan saat serangan asma terjadi. Adapun obat-obat long-term relievers digunakan untuk mencegah timbulnya serangan asma dengan mengatasi peradangan di saluran pernafasan agar tidak semakin memburuk, antara lain dengan mengurangi udem. Contoh obat yang termasuk long-term relievers ini adalah kortikosteroid.

Salbutamol merupakan salah satu bronkodilator yang paling aman dan paling efektif. Tidak salah jika obat ini banyak digunakan untuk pengobatan asma. Selain untuk membuka saluran pernafasan yang menyempit, obat ini juga efektif untuk mencegah timbulnya exercise-induced broncospasm (penyempitan saluran pernafasan akibat olahraga). Saat ini, salbutamol telah banyak beredar di pasaran dengan berbagai merk dagang, antara lain: Asmacare, Bronchosal, Buventol Easyhaler, Glisend, Ventolin, Venasma, Volmax, dll. Selain itu, salbutamol juga telah tersedia dalam berbagai bentuk sediaan mulai dari sediaan oral (tablet, sirup, kapsul), inhalasi aerosol, inhalasi cair sampai injeksi. Adapun dosis yang dianjurkan adalah sebagai berikut:

Ø      Sediaan oral

·         Anak < 2 tahun : 200 mcg/kg BB diminum 4 kali sehari

·         Anak 2-6 tahun : 1-2 mg 3-4 kali sehari

·         Anak 6-12 tahun : 2 mg diminum 3-4 kali sehari

·         Dewasa            : 4 mg diminum 3-4 kali sehari, dosis maksimal 1 kali minum sebesar 8 mg

      Catatan : dosis awal untuk usia lanjut dan penderita yang sensitif sebesar 2 mg

Ø      Inhalasi aerosol

  • Anak    : 100 mcg (1 hisapan) dan dapat dinaikkan menjadi 200 mcg (2 hisapan) bila perlu.
  • Dewasa : 100-200 mcg (1-2 hisapan), 3-4 kali sehari

Ø      Inhalasi cair

  • Dewasa dan anak >18 bulan : 2,5 mg diberikan sampai 4 kali sehari atau 5 kali bila perlu.
  • Catatan : manfaat terapi ini pada anak < 18 bulan masih diragukan.

Ø      Injeksi subkutan atau intramuscular

  • Dosis : 500 mcg diulang tiap 4 jam bila perlu

Ø      Injeksi intravena lambat

  • Dosis : 250 mcg, diulang bila perlu

Sediaan inhalasi cair banyak digunakan di rumah sakit untuk mengatasi asma akut yang berat, sedangkan injeksi digunakan untuk mengatasi penyempitan saluran nafas yang berat. Bentuk sediaan lain, seperti tablet, sirup dan kapsul digunakan untuk penderita asma yang tidak dapat menggunakan cara inhalasi. Dari berbagai bentuk sediaan yang ada, pemberian salbutamol dalam bentuk inhalasi aerosol cenderung lebih disukai karena selain efeknya yang cepat, efek samping yang ditimbulkan lebih kecil jika dibandingkan sediaan oral seperti tablet. Bentuk sediaan ini cukup efektif untuk mengatasi serangan asma ringan sampai sedang, dan pada dosis yang dianjurkan, efeknya  mampu bertahan selama 3-5 jam. Beberapa keuntungan penggunaan salbutamol dalam bentuk inhalasi aerosol, antara lain:

v      Efek obat akan lebih cepat terasa karena obat yang disemprotkan/dihisap langsung masuk ke saluran nafas.

v      Karena langsung masuk ke saluran nafas, dosis obat yang dibutuhkan lebih kecil jika dibandingkan dengan sediaan oral.

v      Efek samping yang ditimbulkan lebih kecil dibandingkan sediaan oral karena dosis yang digunakan juga lebih kecil.

Namun demikian, penggunaan inhalasi aerosol ini juga memiliki kelemahan yaitu ada kemungkinan obat tertinggal di mulut dan gigi sehingga dosis obat yang masuk ke saluran nafas menjadi lebih sedikit dari dosis yang seharusnya. Untuk memperbaiki penyampaian obat ke saluran nafas, maka bisa digunakan alat yang disebut spacer (penghubung ujung alat dengan mulut).

            Sangat penting untuk mengetahui bagaimana cara penggunaan inhalasi aerosol yang benar. Mengapa? Karena cara pakai yang salah bisa berakibat kegagalan terapi. Cara yang benar adalah dengan menghisapnya secara perlahan dan menahan nafas selama 10 detik sesudahnya.

            Kontraindikasi dari obat ini adalah untuk penderita yang hipersensitif terhadap salbutamol maupun salah satu bahan yang terkandung di dalamnya. Adapun efek samping yang mungkin timbul karena pamakaian salbutamol, antara lain: gangguan sistem saraf (gelisah, gemetar, pusing, sakit kepala, kejang, insomnia); nyeri dada; mual, muntah; diare; anorexia; mulut kering; iritasi tenggorokan; batuk; gatal; dan ruam pada kulit (skin rush).  Untuk penderita asma yang disertai dengan penyakit lainnya seperti: hipertiroidisme, diabetes mellitus, gangguan jantung termasuk insufisiensi miokard maupun hipertensi, perlu adanya pengawasan yang lebih ketat karena penggunaan salbutamol bisa memperparah keadaan dan meningkatkan resiko efek samping. Pengawasan juga perlu dilakukan pada penderita asma yang sedang hamil dan menyusui karena salbutamol dapat menembus sawar plasenta. Untuk meminimalkan efek samping maka untuk wanita hamil, sediaan inhalasi aeorosol bisa dijadikan pilihan pertama. Penggunaan salbutamol dalam bentuk sediaan oral pada usia lanjut sebaiknya dihindari mengingat efek samping yang mungkin muncul.

            Beberapa hal penting yang perlu diketahui oleh para pengguna salbutamol untuk mengatasi asma, adalah sebagai berikut:

v      Sebaiknya tidak menggunakan obat ini jika memiliki riwayat alergi terhadap salbutamol atau bahan-bahan lain yang terkandung di dalamnya.

v      Untuk sediaan oral, sebaiknya diminum 1 jam sebelum atau 2 jam sesudah makan.

v      Telan tablet salbutamol dan jangan memecah maupun mengunyahnya.

v      Untuk sediaan inhalasi, kocok dulu sebelum digunakan dan buang 4 semprotan pertama jika menggunakan inhaler baru atau inhaler yang sudah tidak terpakai selama lebih dari 2 minggu.

v      Sebaiknya berkumur setiap kali sehabis mengkonsumsi salbutamol supaya tenggorokan dan mulut tidak kering.

v      Jika dibutuhkan lebih dari 1 hisapan dalam sekali pemakaian, maka beri jarak waktu minimal 1 menit untuk setiap hisapan.

v      Simpan obat pada suhu kamar agar stabil (aerosol: 15-25o C; inhalasi cair: 2-25o C dan sirup: 2-30o C)

v       Jika ada dosis yang terlewat, segera minum salbutamol yang terlewat. Namun jika waktu yang ada hampir mendekati waktu pengonsumsian selanjutnya, lewati pengonsumsian yang tertinggal kemudian lanjutkan mengkonsumsi salbutamol seperti biasa. Jangan pernah mengkonsumsi 2 dosis dalam sekali pemakaian.

v      Obat-obat golongan beta blocker, seperti: propanolol, metoprolol, atenolol, dll bisa menurunkan efek salbutamol.

v      Penggunaan salbutamol dosis tinggi bersamaan dengan kortikosteroid dosis tinggi akan meningkatkan resiko hipokalemia.

v      Asetazolamid, diuretik kuat dan thiazida dosis tinggi akan meningkatkan resiko hipokalemia jika diberikan bersamaan dengan salbutamol dosis tinggi pula.

v      Penggunaan salbutamol bersama dengan obat golongan MAO-inhibitor (misal: isocarboxazid, phenelzine) bisa menimbulkan reaksi yang serius. Hindari pemakaian obat-obat golongan ini 2 minggu sebelum, selama maupun sesudah konsumsi salbutamol.

            Asma merupakan penyakit yang membutuhkan terapi jangka panjang sehingga perlu dilakukan monitoring terhadap perkembangannya secara terus-menerus untuk melihat apakah obat yang diberikan cocok atau tidak. Ada kalanya asma tidak cukup diatasi hanya dengan satu macam obat saja, sehingga perlu penambahan obat (kombinasi obat). Maka dari itu, pengetahuan akan salah satu jenis obat saja tidak cukup karena masih banyak obat selain salbutamol yang tentu saja memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing.

            Agar tujuan terapi tercapai, maka penderita asma dianjurkan tetap proaktif dan semangat dalam mengatasi penyakitnya. Pengendalian asma yang tepat akan mampu meningkatkan kualitas hidup penderita asma sehingga bisa menjalani hidupnya secara menyenangkan. Dan satu hal yang perlu diingat: jangan biarkan asma mengendalikan hidup Anda, tetapi Andalah yang harus mengendalikan asma.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Anonim, 2000, informatorium Obat Nasional Indonesia, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.

 

Anonim, 2006, MIMS Petunjuk Konsultasi, Ed. Ke-6, 70-76, PT. InfoMaster, Jakarta

 

Dipiro, J.T., 1997, Pharmacotherapy “A Pathophysiologyc Approach“, 3rd Ed., Appleton &      Lange Stamford, Connecticut

 

Katzung, B.G., 2001, Farmakologi Dasar & Klinik, Ed.I, Salemba Medika, Jakarta

 

Lacy, Charles F.; Armstrong, Lora I.; Goldman, Morton P., 2003, Drug Information        Handbook, 11th Ed., 45-46, Lexi-Comp Inc., Canada

 

Paul, Les and Nagle, Becky, 2002, The Essential Medication Guidebook To Healthy Aging,     99-104, Ballantine Books, New York