PENGGUNAAN KLOROKUIN DALAM PENGOBATAN DAN KEMOPROFILAKSIS MALARIA

PENGGUNAAN KLOROKUIN DALAM PENGOBATAN DAN KEMOPROFILAKSIS MALARIA

Disusun oleh: Leni Emiliana (078115055)

Program Profesi Apoteker

Fakultas Farmasi

Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

Malaria merupakan penyebab utama kematian pada Negara berkembang. Malaria adalah penyakit menular yang disebabkan oleh empat spesies plasmodium yaitu plasmodium falcifarum, P. vivak, P. malariae, dan P. ovale. Spesies P. falcifarum yang bertanggung jawab pada sebagian besar kematian karena malaria. Perkembangbiakkan malaria adalah meliputi siklus aseksual dan seksual. Siklus aseksual terjadi dalam tubuh manusia, yang dimulai dengan masuknya sporozoit melalui gigitan nyamuk anofeles betina yang terinfeksi parasit. Selain itu infeksi dapat terjadi melalui transfusi darah yang tercemar parasit. Sporozoit dalam tubuh akan berkembang melalui fase preeritrosit, fase eritrosit, dan fase hepatis. Siklus seksual ini dimulai dengan merozoit yang berdiferensiasi menjadi gamet jantan dan betina bila berpindah ke nyamuk pada saat nyamuk mengigit pasien. Hal ini disebut fase gametosit. Klorokuin adalah obat antimalaria yang bekerja pada fase eritrosit dan tidak efektif pada fase hepatis. Sehingga dalam pengobatan malaria setelah menggunakan Klorokuin dilanjutkan menggunakan Primaquin untuk membasmi P. vivak dan P. ovale dalam hati (fase hepatis).

Sasaran Terapi

Sasaran terapi Klorokuin sebagai antimalaria adalah tahap eritrosit aseksual dari infeksi dalam darah . Tahap aseksual adalah tahap dimana parasit berkembang dari trofozoit menjadi skizon, kemudian akan memecah eritrosit inangnya. Pecahnya eritrosit tersebut akan melepaskan merozoit ke sirkulasi. Merozoit ini memasuki eritrosit lain dan mengulangi fase skizogoni. Penghancuran eritrosit yang terjadi secara periodik inilah yang menimbulkan gejala khas malaria, yaitu demam yang diikuti mengigil.

Tujuan Terapi

Tujuan terapi Klorokuin adalah menyembuhkan demam dan menghilangkan parasetemia dari malaria di dalam tubuh.

Strategi Terapi

Strategi terapi untuk malaria yaitu terapi farmakologis menggunakan obat antimalaria.Terapi farmakologis antara lain meliputi:

1. Klorokuin merupakan obat pilihan untuk pengobatan malaria nonfalcifarum dan falcifarum yang sensitif. Klorokuin hanya efektif terhadap parasit dalam fase eritrosit, tetapi tidak untuk parasit yang ada di jaringan.

2. Quinin dan Quinidin merupakan skizontizida yang sangat efektif terhadap empat spesies parasit malaria. Obat ini adalah gametosida terhadap P. vivak dan P. ovale, akan tetapi obat ini tidak efektif terhadap parasit tahap hepatis.

3. Mefloquin merupakan terapi yang efektif terhadap strain P. falcifarum yang resisten Klorokuin dan spesies lainnya. Klorokuin mempunyai aktivitas skizontisida darah yang kuat terhadap P. falcifarum dan P. vivak, tetapi tidak efektif menghadapi tahap hepatis atau gametosit.

4. Primaquin merupakan obat pilihan untuk penyembuhan radikal malaria yang disebabkan P. vivak dan P. ovale. Primaquine aktif erhadap tahap hepatis dan merupakan gametosida dari semua parasit malaria. Sehingga obat ini dapat digunakan untuk membasmi P. vivak dan P. ovale dalam hati sesudah pengobatan Klorokuin.

Obat Pilihan

Nama generik : KlorokuinNama dagang di Indonesia: Riboquin (Dexa Medica) dan Nivaquine (Rhone Poulenc Rorer Indonesia).

Klorokuin telah menjadi obat pilihan untuk pengobatan dan kemoprofilaksis malaria yang disebabkan P. vivak, P. malaria, P. ovale, dan P. falcifarum yang sensitif (P. falcifarum yang tidak resisten terhadap Klorokuin). Kloroluin dengan depat mengakhiri demam (dlam 24 – 48 jam) dan membersihkan parasitemia (48 – 72 jam) yang disebabkan oleh parasit yang sensitif. Selain untuk pengobatan Klorokuin juga merupakan agen kemoprofilaksis yang lebih disukai pada wilayah malaria tanpa malaria falcifarum yang resisten.Klorokuin merupakan kontraindikasi pada pasien dengan psoriasis atau porfuria, karena berpotensi mencetuskan serangan akut dari penderita tersebut. Secara umum, sebaiknya Klorokuin tidak digunakan pada pasien dengan kelainan retina atau miopati. Agen antidiare kaolin dan antasida yang mengandung kalsium dan magnesium menganggu penyerapan Klorokuin dan sebaiknya tidak diberikan bersama-sama Klorokuin. Klorokuin tersedia dalam bentuk tablet 100 mg dan 150 mg. berikut ini akan dijabarkan mengenai dosis Klorokuin yang digunakan sebagai profilaksis dan serangan akut.

1. Profilaksis

a. Anak

Klorokuin basa 5 mg/kg/minggu pada hari yang sama disetiap minggunya (tidak lebih dari 300 mg Klorokuin basa/dosis). Pemberian ini dimulai 1-2 minggu sebelum berada di daerah endemik, dilanjutkan 4-6 minggu setelah berada di daerah endemik.

b. Dewasa

Klorokuin basa 300 mg/minggu pada hari yang sama disetiap minggunya. Pemberian ini dimulai 1-2 minggu sebelum berada di daerah endemik, dilanjutkan 4-6 minggu setelah berada di daerah endemik.

2. Serangan Akut

a. Anak

Dosis awal Klorokuin basa 10 mg/kg, dilanjutkan dengan dosis tunggal sebesar 5 mg/Kg yang diberikan setelah 6 jam, kemudian dosis tunggal sebesar 5 mg/Kg/hari selama 2 hari.

b. Dewasa

Dosis awal Klorokuin basa 600 mg, dilanjutkan 6 jam kemudian dengan 300 mg, selanjutkan 300 mg/hari selama 2 hari (dosis kumulatif rata-rata 25 mg/kg Klorokuin basa).

Efek samping yang timbul karena penggunaan Klorokuin adalah gangguan saluran cerna, sakit kepala, kejang, depigmentasi atau rambut rontok, reaksi kulit (ruam, pruritis). Pemberian obat setelah makan dapat mengurangi beberapa efek yang tidak diinginkan seperti gangguan saluran pencernaan. Reaksi yang jarang terjadi meliputi hemolisis pada pasien yang mengalami defisiensi Glucase 6-Phosphate Dehidrogenase (G6PD), dan hipotensi. Pemberian dosis tinggi dalam jangka panjang pada penderita rematik akan menimbulkan ototoksisitas irreversible, retinopati, miopati, dan neuropati perifer. Abnormalitas ini jarang dijumpai bila diberikan dengan dosis standar mingguan untuk profilaksis.

Penggunaan Klorokuin pada penderita gangguan fungsi ginjal sebaiknya dihindari atau dosisnya dikurangi karena Klorokuin diekskresi lewat urin. Dosis bagi pasien gagal ginjal sebesar 50% dari dosis dewasa. Penggunaan Klorokuin pada wanita hamil masuk dalam kategori C. Penggunaan Klorokuin tersebut, dilihat dari rasio risk and benefit. Dosis lazim untuk dewasa dapat diberikan pada wanita hamil yang menderita malaria ringan. Tetapi terapi radikal untuk infeksi P. ovale dan P. vivak dengan menggunakan Primaquin harus ditunda sampai kehamilan berakhir. Sedangkan Klorokuin harus diteruskan dengan dosis 600 mg tiap minggu selama kehamilan. Klorokuin dapat diekskresi ke air susu, sehingga penggunaan Klorokuin pada ibu menyusui tidak direkomendasikan.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2000, Informatorium Obat Nasional Indonesia,Departemen Kesehatan RI, Direktorat Jendral Pengawasan Obat dan Makanan, Jakarta

Anonim, 2005, Drug Information Handbook, Edisi 14, Lexi-Comp, Amerika Serikat

Dipiro, Yoseph, T., Talbert, Robert, L., Yee, C.G., 2005, Pharmacotherapy: A Pathophysiologic Approach, Sixth Edition, McGraw-Hill Companies, Inc, United States of America

Katzung, B.G., 2004, Farmakologi Dasar dan Klinik, Edisi 8, Jilid III, Salemba Medika, Jakarta

About these ads

5 responses to “PENGGUNAAN KLOROKUIN DALAM PENGOBATAN DAN KEMOPROFILAKSIS MALARIA

  1. Bagus juga. Namun, banyak orang (termasuk saya) kadang harus bekerja di daerah yg masih banyak malaria selama beberapa bulan. Sehingga ditakutkan justru efek obat malaria (untuk pencegahan) yg mempengaruhi sistem tubuh. Selain banyak dokter memberikan resep berbeda2 untuk pencegahan malaria.

  2. pada kasus resistensi kloroquin, gimana dengan pengobatan malaria dengan menggunakan artesunat..????

  3. makanan apa yang tidak boleh diwaktu penyakit malaria jenis vivak

  4. Adakah pengaruh pd fungsi renal atapun liver akibat penggunaan klorokuin
    sbg profilaksis dlm jangka waktu lama,misal lbh dr 1th?

  5. farmakoterapi-info

    @eny..adverse drug reaction dari klorokuin sbb :
    CV: Hypotension; ECG changes. CNS: Headache; neuropathy; seizures; psychotic episodes. DERM: Pruritus; pigment changes; skin eruptions. EENT: Visual disturbances; retinal damage and deafness with prolonged high-dose use; tinnitus. GI: Anorexia; nausea; vomiting; diarrhea; abdominal cramps. HEMA: Agranulocytosis; blood dyscrasias; aplastic anemia. HEPA: Hepatitis. OTHER: Muscle weakness

    Special risk patients: Monitor patients with hepatic disease or alcoholism or taking other hepatotoxic medications for evidence of worsening liver function such as bleeding.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s