METABOLIT AKTIF FENILBUTAZON

 TUGAS FARMAKOKINETIKA  KLINIK

METABOLIT AKTIF FENILBUTAZON 

Metabolisme obat adalah proses perubahan struktur kimia obat yang terjadi dalam tubuh dan dikatalisis oleh enzim. Pada proses ini molekul obat diubah menjadi lebih polar artinya lebih mudah larut dalam air dan kurang larut dalam lemak sehingga lebih mudah dieksresi melalui ginjal. Ada obat yang metabolitnya sama aktif, lebih aktif atau lebih toksik. Metabolit aktif akan mengalami biotransformasi lebih lanjut dan dieskresi sehingga kerjanya berakhir. Sebagian besar biotransformasi obat dikatalisis oleh enzim mikrosom hati. Reaksi biokimia yang terjadi dapat dibedakan menjadi reaksi fase I dan fase II. Yang termasuk reaksi fase I meliputi oksidasi, reduksi dan hidrolisis. Reaksi fase I ini mengubah obat menjadi metabolit yang lebih polar, yang dapat inaktif, kurang aktif, atau lebih aktif dari pada bentuk aslinya. Reaksi fase II disebut juga reaksi sintetik, merupakan konjugasi obat atau metabolit hasil reaksi fase I dengan substrat endogen misalnya asam glukuronat, sulfat, asetat atau asam amino. Hasil konjugasi ini bersifat lebih polar dan lebih lebih mudah terionisasi sehingga lebih mudah dieskresi. Metabolit hasil konjugasi biasanya tidak aktif untuk prodrug tertentu. Tidak semua obat dimetabolisme melalui kedua fase reaksi tersebut; ada obat yang mengalami fase I saja (satu atau beberapa macam reaksi) atau reaksi fase II saja (satu atau beberapa macam reaksi). Tetapi, kebanyakan obat dimetabolisme melalui beberapa reaksi sekaligus atau secara berurutan menjadi beberapa macam metabolit.

FENILBUTAZON

Salah satu obat turunan pirazol (fenazon) adalah fenilbutazon. Semula fenilbutazon hanya digunakan untuk melarutkan aminofenazon. Tetapi segera dikenali bahwa senyawa ini sendiri memiliki kerja analgetika, antipiretik dan antiinflamasi. Sebagai garam natrium, fenilbutazon larut baik dan dapat diberikan dengan penyuntikan ataupun secara oral. Pada pemakaian oral senyawa ini diabsorpsi hampir sempurna. Ikatan dengan  protein sangat tinggi (>98%). Waktu paruh fenilbutazon sekitar 70 jam. Metabolit utama dalam plasma adalah oksifenbutazon dan juga masih berkhasiat antinflamasi yang baik dan γ-hidroksi-fenil-butazon. Dalam urin terutama ditemukan C-glukuronida fenilbutazon dan γ-hidroksi-fenil-butazon. Eliminasi terjadi terutama melalui ginjal. Karena efek samping yang sering terjadi dan sebagian parah dengan kadang-kadang proses yang mematikan maka indikasi untuk fenilbutazon sangat dibatasi. Senyawa ini hanya masih boleh diberikan pada serangan pirai akut sebesar 400-800 mg sehari selama tiga hari, pada morbus Bechterew 400-600 mg, dengan jangka waktu pengobatan satu minggu tidak boleh dilewati.  

OKSIFENBUTAZON

Oksifenbutazon merupakan metabolit pokok dari fenilbutazon. Kerja dan efek sampingnya hanya sedikit berbeda dari fenilbutazon. Sesungguhnya senyawa ini berkhasiat lebih lemah. Walaupun memiliki gugus hidroksil fenolik, senyawa ini juga mempunyai waktu paruh yang masih relatif tinggi yaitu sekitar 40 jam.

Efek Samping

Efek samping yang umum adalah ruam, retensi air dan edema serta gangguan gastrointestinal mulai dari iritasi sampai ulserasi sehingga pada manula dosis harus dikurangi dan pemakaian hanya dalam 1 minggu.

 Daftar Pustaka

Mutschler, E., 1999, Dinamika Obat, Ed. V, cetakan ketiga, 203, ITB Press, Bandung

Ganiswarna, S.G., 1995, Farmakologi dan Terapi, Ed. IV, 78, UI Press, Jakarta 

Disusun oleh :

Dina Octovani Wijaya (058114003)

Fetri Rosa Dewi (058114004)

Anni (058114005)

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s