Monthly Archives: March 2010

Minum Obat dengan Teh Bolehkah..??

Minum Obat dengan Teh Bolehkah..??
Sakit adalah hal yang paling tidak disukai oleh semua orang, baik orang tua, dewasa, maupun anak-anak. Salah satu cara untuk mengatasi gejala penyakit adalah istirahat dan minum obat sesuai aturan pakai yang dianjurkan dokter atau apoteker.
Obat yang diresepkan dokter pada umumnya tidak enak rasanya saat diminum, malah rasanya cenderung pahit. Oleh karena itu, kita sering mengkonsumsi obat bersama makanan atau minuman yang mempunyai rasa manis untuk menutupi rasa pahit. Apalagi bila pasiennya adalah anak-anak yang biasanya meminum obat dalam bentuk puyer. Orang tua haruslah pandai mensiasati agar anak mau mengkonsumsi obat yang rasanya tidak enak tersebut, biasanya dengan mencampurkan obat dengan makanan atau minuman kesukaan anak mereka.
Salah satu alternatif meminum obat untuk mengurangi rasa tidak enak obat adalah minumnya dengan teh manis (Hidayat, 2010).
Daun tehTeh merupakan minuman dengan rasa yang khas sekaligus bermanfaat untuk kesehatan. Biasanya teh digunakan oleh masyarakat untuk menjaga kesehatan dan mengkonsumsi obat. Harapannya, selain mendapatkan efek sehat dari obat, juga memperoleh efek sehat dari teh.
Masyarakat umumnya tidak mengetahui bahwa teh mengandung senyawa tanin. Tanin dalam teh dapat mengikat berbagai senyawa aktif obat sehingga sukar diabsorpsi atau diserap dari saluran pencernaan. Hal inil mengakibatkan khasiat dari obat berkurang, karena obat bebas yang dapat diabsorpsi oleh tubuh terbatas jumlahnya (Anonim, 2010). Maka seringkali obat sudah habis diminum, namun gejala sakit tidak segera hilang, karena ternyata efek obat tidak maksimal.
Selain mengganggu absorpsi obat, tanin dapat mengganggu distribusi obat ke jaringan (site of action). Tanin memiliki gugus fenol yang dapat berikatan dengan protein, sehingga jumlah protein bebas dalam tubuh berkurang. Hal ini akan mengakibatkan obat bebas yang berada di sistem sirkulasi tubuh tidak dapat berikatan dengan protein. Akibatnya, jumlah
obat dalam bentuk bebas akan meningkat. Peningkatan ini dapat berefek toksik karena obat dapat langsung menuju membran sel dan menimbulkan efek berlebihan dalam tubuh.
Teh juga mengandung kafein (walaupun konsentrasinya lebih sedikit bila dibandingkan dengan kopi) namun teh juga mempunyai efek stimulan terhadap susunan syaraf pusat. Maka hindari mengkonsumsi bahan-bahan yang mengandung kafein (teh), jika dalam pengobatan menggunakan obat-obat yang juga dapat merangsang susunan syaraf pusat seperti obat-obat asma yang mengandung teofilin atau epinefrin (Anonim, 2010).
Teh memang memberikan efek kesehatan karena di dalam tubuh berfungsi sebagai antioksidan, untuk menangkap radikal bebas sehingga dapat menghambat penuaan (Arief, 2009). Namun ternyata setelah dilakukan penelitian, terdapat efek yang ditimbulkan makanan dan minuman yang diminum bersamaan dengan obat, yaitu interaksi obat dan makanan dapat mengurangi khasiat obat dan dapat membahayakan jiwa pasien (bila menimbulkan reaksi yang berlebihan pada susunan saraf pusat oleh kafein) (Anonim, 2010).
Maka dari itu memang benar pepatah yang mengatakan bahwa, lebih baik mencegah daripada mengobati, namun bila memang sudah sakit, tidak usah aneh-aneh dengan meminum obat dengan minuman berbagai rasa agar dapat mengurangi rasa tidak enak dari obat, karena efek yang ditimbulkan justru sebaliknya, yaitu tidak sembuh. Agar aman minumlah obat dengan air putih, karena air putih bersifat netral dan tidak memberikan efek bila bereaksi dengan obat, hanya melarutkan saja.
Semoga informasi ini bermanfaat bagi kita semua dan lekas sembuh. Tuhan memberkati.
Referensi
Anonim, 2009, Interaksi Obat, http://pharmacyrspuriindah.blogspot.com/2009/02/interaksi-obat-drug-interaction.html, diakses tanggal 28 Maret 2010
Anonim, 2010 , Pengaruh Makanan dan Minuman Terhadap Obat, http://rumahkusorgaku.multiply.com/journal/item/9, diakses tanggal 28 Maret 2010
Hidayat, Arief, 2010, Teh Hitam dan Hijau, http://billyjoeadam.wordpress.com/artikel/, diakses tanggal 29 Maret 2010
Original work by
Ony – Danan – Icha
(07-098, 07-100, 07-115)

BUAH POME, TUNGGU DULU!! (Sari Buah Pome dan Nasib Obat dalam Tubuh)

Oleh :
Yosephine Dian Hendrawati (078114110)
Prima Mustika Ningtyas (078114128)
Yeyen Kristiyana (078114131)
Yuma Pinandita Lingga Dewi (078114137)

Mungkin saat ini telinga kita sangat akrab dengan nama “buah pome”, bukan? Banyak produsen minuman menawarkan buah berwarna merah menyala ini sebagai bahan utama dalam produknya serta menyertakan klaim bahwa buah ini memiliki banyak khasiat bagi kesehatan.
Ibarat artis yang sedang naik daun, buah pome atau yang di Indonesia lebih dikenal dengan nama buah delima ini mulai mencuri perhatian banyak orang. Terlebih karena khasiat yang ditawarkan menyangkut isu kesehatan yang sedang marak yaitu pentingnya mengkonsumsi banyak antioksidan agar tubuh tetap sehat. Akan tetapi, ternyata tidak setiap saat orang boleh mengkonsumsi buah pome maupun sarinya. Untuk tahu lebih jauh, mari kita membahas mengenai buah ini.
Punica granatum atau buah delima atau buah pome (pomegranate) merupakan buah yang konon berasal dari Persia, namun telah lama dibudidayakan di Indonesia, dan banyak digunakan sebagai obat tradisional untuk menyembuhkan berbagai penyakit. Penelitian lebih lanjut menemukan kandungan zat antioksidan, antiviral, dan zat yang berpotensi dikembangkan sebagai antikanker pada buah ini. Oleh karena itu buah ini dapat dengan mudah mendapatkan “penggemar”. Dengan khasiat yang ditawarkan orang menjadi berfikir bahwa mengkonsumsi sari buah pome dapat menjaga kesehatan tubuh dan mempercepat penyembuhan saat sakit.
Meminum sari buah pome untuk menjaga kesehatan tidaklah keliru, akan tetapi, saat sakit dan mengkonsumsi obat-obatan, sari buah pome sebaiknya dijauhi terebih dahulu. Alasan sederhananya adalah karena kandungan dalam sari buah pome mungkin dapat mengganggu metabolisme obat yang kita konsumsi sehingga tidak akan memberikan efek yang diharapkan.
Secara ilmiah, peristiwa tersebut dapat dijelaskan demikian. Saat seseorang mengkonsumsi suatu obat, di dalam tubuh obat tersebut akan mengalami beberapa peristiwa. Pertama, absobsi atau penyerapan, distribusi, metabolisme, dan eksresi. Jika kita meminum obat bersamaan dengan buah pome, maka proses yang akan terganggu adalah pada metabolisme obat. Kandungan dalam buah pome memiliki aktivitas inhibisi atau menghambat kerja suatu enzim yang bertugas memetabolisme obat, yaitu sitokrom P4503A (CYP3A) dan sitorom P4502C9 (CYP2C9). Enzim-enzim ini bertugas memetabolisme obat sehingga nantinya dapat dikeluarkan dari tubuh. Jika aktivitas enzim tersebut dihambat, maka obat akan lebih lambat dikeluarkan dari tubuh, dan dengan demikian akan timbul kemungkinan terjadinya efek toksik akibat kadar obat dalam plasma yang tinggi. Contohnya adalah pada konsumsi obat tolbutamide (obat diabetes). Jika sari buah pome dikonsumsi bersamaan dengan tolbutamide, maka metabolismenya akan terhambat dan dapat menyebabkan hipoglikemia (kadar gula darah di bawah normal). Obat-obat lain yang berpotensi terhambat metabolismenya oleh sari buah pome antara lain : amiodarone, disopramide, quinidine. Felodipin, nicardipin, nifedipin, atorvastatin, lovastatin, simvastatin, cyclosporine, saquinavir, dsb.
Walaupun belum diteliti pengaruhnya pada kinetika semua obat, akan tetapi ebih baik jika sari buah pome ini tidak dikonsumsi bersamaan dengan obat-obatan untuk menghindari hal yang tidak diinginkan. Mengkonsumsi obat adalah paling baik dengan air putih karena tidak potensial menyebabkan gangguan pada nasib obat di dalam tubuh. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua.

Pustaka :

http://dmd.aspetjournals.org/content/35/2/302.full

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/15673597

http://altmedicine.about.com/od/druginteractions/a/pom_interaction.htm

http://www.sciencedirect.com/science?_ob=ArticleURL&_udi=B6T10-4KDBJ1M-1&_user=10&_coverDate=09/01/2006&_rdoc=1&_fmt=high&_orig=search&_sort=d&_docanchor=&view=c&_acct=C000050221&_version=1&_urlVersion=0&_userid=10&md5=299cdf5d95a82478b917f5eef901b8f0

http://one.indoskripsi.com/node/5207

http://www.webmd.com/vitamins-supplements/ingredientmono-392-POMEGRANATE.aspx?activeIngredientId=392&activeIngredientName=POMEGRANATE&source=2

http://level1health.com/pomegranate-juice-extract-supplements-proven-to-help-prevent-or-improve-type-2-diabetes/

http://www.aolhealth.com/conditions/by-the-way-doctor-does-pomegranate-juice-interfere-with-medications

http://personalizedmedicineblog.com/2008/02/26/inhibitory-effects-of-fruit-juices-on-cyp3a-activity/

pomegranate

BUAH POME,, TUNGGU DULU!! (Sari Buah Pome dan Nasib Obat daam Tubuh)

Oleh :
Yosephine Dian Hendrawati (078114110)
Prima Mustika Ningtyas (078114128)
Yeyen Kristiyana (078114131)
Yuma Pinandita Lingga Dewi (078114137)

Mungkin saat ini telinga kita sangat akrab dengan nama “buah pome”, bukan? Banyak produsen minuman menawarkan buah berwarna merah menyala ini sebagai bahan utama dalam produknya serta menyertakan klaim bahwa buah ini memiliki banyak khasiat bagi kesehatan.
Ibarat artis yang sedang naik daun, buah pome atau yang di Indonesia lebih dikenal dengan nama buah delima ini mulai mencuri perhatian banyak orang. Terlebih karena khasiat yang ditawarkan menyangkut isu kesehatan yang sedang marak yaitu pentingnya mengkonsumsi banyak antioksidan agar tubuh tetap sehat. Akan tetapi, ternyata tidak setiap saat orang boleh mengkonsumsi buah pome maupun sarinya. Untuk tahu lebih jauh, mari kita membahas mengenai buah ini.
Punica granatum atau buah delima atau buah pome (pomegranate) merupakan buah yang konon berasal dari Persia, namun telah lama dibudidayakan di Indonesia, dan banyak digunakan sebagai obat tradisional untuk menyembuhkan berbagai penyakit. Penelitian lebih lanjut menemukan kandungan zat antioksidan, antiviral, dan zat yang berpotensi dikembangkan sebagai antikanker pada buah ini. Oleh karena itu buah ini dapat dengan mudah mendapatkan “penggemar”. Dengan khasiat yang ditawarkan orang menjadi berfikir bahwa mengkonsumsi sari buah pome dapat menjaga kesehatan tubuh dan mempercepat penyembuhan saat sakit.
Meminum sari buah pome untuk menjaga kesehatan tidaklah keliru, akan tetapi, saat sakit dan mengkonsumsi obat-obatan, sari buah pome sebaiknya dijauhi terebih dahulu. Alasan sederhananya adalah karena kandungan dalam sari buah pome mungkin dapat mengganggu metabolisme obat yang kita konsumsi sehingga tidak akan memberikan efek yang diharapkan.
Secara ilmiah, peristiwa tersebut dapat dijelaskan demikian. Saat seseorang mengkonsumsi suatu obat, di dalam tubuh obat tersebut akan mengalami beberapa peristiwa. Pertama, absobsi atau penyerapan, distribusi, metabolisme, dan eksresi. Jika kita meminum obat bersamaan dengan buah pome, maka proses yang akan terganggu adalah pada metabolisme obat. Kandungan dalam buah pome memiliki aktivitas inhibisi atau menghambat kerja suatu enzim yang bertugas memetabolisme obat, yaitu sitokrom P4503A (CYP3A) dan sitorom P4502C9 (CYP2C9). Enzim-enzim ini bertugas memetabolisme obat sehingga nantinya dapat dikeluarkan dari tubuh. Jika aktivitas enzim tersebut dihambat, maka obat akan lebih lambat dikeluarkan dari tubuh, dan dengan demikian akan timbul kemungkinan terjadinya efek toksik akibat kadar obat dalam plasma yang tinggi. Contohnya adalah pada konsumsi obat tolbutamide (obat diabetes). Jika sari buah pome dikonsumsi bersamaan dengan tolbutamide, maka metabolismenya akan terhambat dan dapat menyebabkan hipoglikemia (kadar gula darah di bawah normal). Obat-obat lain yang berpotensi terhambat metabolismenya oleh sari buah pome antara lain : amiodarone, disopramide, quinidine. Felodipin, nicardipin, nifedipin, atorvastatin, lovastatin, simvastatin, cyclosporine, saquinavir, dsb.
Walaupun belum diteliti pengaruhnya pada kinetika semua obat, akan tetapi ebih baik jika sari buah pome ini tidak dikonsumsi bersamaan dengan obat-obatan untuk menghindari hal yang tidak diinginkan. Mengkonsumsi obat adalah paling baik dengan air putih karena tidak potensial menyebabkan gangguan pada nasib obat di dalam tubuh. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua.

Pustaka :

http://dmd.aspetjournals.org/content/35/2/302.full

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/15673597

http://altmedicine.about.com/od/druginteractions/a/pom_interaction.htm

http://www.sciencedirect.com/science?_ob=ArticleURL&_udi=B6T10-4KDBJ1M-1&_user=10&_coverDate=09/01/2006&_rdoc=1&_fmt=high&_orig=search&_sort=d&_docanchor=&view=c&_acct=C000050221&_version=1&_urlVersion=0&_userid=10&md5=299cdf5d95a82478b917f5eef901b8f0

http://one.indoskripsi.com/node/5207

http://www.webmd.com/vitamins-supplements/ingredientmono-392-POMEGRANATE.aspx?activeIngredientId=392&activeIngredientName=POMEGRANATE&source=2

http://level1health.com/pomegranate-juice-extract-supplements-proven-to-help-prevent-or-improve-type-2-diabetes/

http://www.aolhealth.com/conditions/by-the-way-doctor-does-pomegranate-juice-interfere-with-medications

http://personalizedmedicineblog.com/2008/02/26/inhibitory-effects-of-fruit-juices-on-cyp3a-activity/

pomegranate

FARMAKOKINETIKA OBAT PADA BAYI

Margareth Christina H. 078114012
Helen 078114024
Margareta Krisantini P.A 078114025
Eva Kristina 078114026
Mikha Pratama Sari 078114029
“ FKK A “

FARMAKOKINETIKA OBAT PADA BAYI
Penggunaan obat pada bayi harus dipertimbangkan secara khusus karena adanya perbedaan laju perkembangan organ, sistem dalam tubuh maupun enzim yang bertanggung jawab terhadap metabolisme dan ekskresi obat. Oleh karena itu, dalam pengobatan, bayi dan anak tidak dapat diperlakukan sebagai orang dewasa berukuran kecil. Dosis, bentuk sediaan maupun rute pemberiannya harus diperhatikan, agar tercapai hasil terapi yang optimum.
Proses fisiologis yang mempengaruhi variabel farmakokinetika pada bayi berubah secara bermakna pada tahun pertama kehidupan, khususnya selama beberapa bulan pertama. Oleh sebab itu, harus diberikan perhatian khusus pada farmakokinetika obat pada usia tersebut.
A. ABSORPSI OBAT
Faktor yang mempengaruhi absorpsi obat meliputi :
1. Aliran Darah pada Tempat Pemberian Obat
Absorpsi setelah suntikan intramuskuler atau sub kutan pada bayi baru lahir seperti pada orang dewasa sangat tergantung pada kecepatan aliran darah ke daerah otot atau daerah sub kutan tempat suntikan.
Bayi preterm yang sakit, memerlukan suntikan intramuskuler namun pada bayi massa otot yang dimiliki sangat sedikit. Kondisi ini diperumit dengan adanya pengurangan perfusi perifer sehingga menyebabkan absorpsi berjalan lambat karena obat tetap tinggal di otot. Apabila perfusi meningkat secara tiba-tiba, akan menyebabkan terjadinya peningkatan jumlah obat yang memasuki sirkulasi sehingga terjadi konsentrasi obat yang tinggi dan menimbulkan ketoksikan.
2. Fungsi Saluran Cerna
Perubahan biokimia dan fisiologis yang bermakna terjadi pada saluran cerna neonatus tidak lama setelah bayi lahir. Pada bayi full-term, sekresi asam lambung terjadi tidak lama setelah kelahiran dan meningkat perlahan setelah beberapa jam. Pada bayi pre-term, sekresi asam lambung terjadi lebih lambat dengan konsentrasi tertinggi terjadi pada usia 4 hari. Oleh karenanya, obat yang dinonaktifkan oleh sekresi asam lambung sebaiknya tidak diberikan secara oral.
Waktu pengosongan lambung diperpanjang (sampai 6 atau 8 jam) pada kurang lebih hari pertama kehidupan. Oleh karena itu, obat dapat diabsorpsi dengan lebih sempurna di dalam lambung terutama untuk obat yang diabsorpsi di dalam lambung. Sedangkan untuk obat yang diabsorpsi di dalam usus, efek terapeutiknya tertunda. Peristaltis pada bayi baru lahir berjalan lambat sehingga jumlah obat yang diabsorbsi lebih banyak sehingga dapat menimbulkan toksisitas.
Aktivitas enzim saluran cerna cenderung lebih rendah pada bayi baru lahir daripada orang dewasa. Bayi baru lahir memiliki konsentrasi asam empedu dan lipase yang rendah yang dapat menurunkan absorpsi obat yang larut lipid.

B. DISTRIBUSI OBAT
Proses distribusi obat dalam tubuh sangat dipengaruhi oleh
1. Komposisi Tubuh
Neonatus memiliki presentase air sebesar 70%-75% sedangkan pada orang dewasa 50%-60%. Presentase air pada neonatus full-term 70% dari berat badannya dan pada neonatus pre-term 85% dari berat badannya. Bayi pre-term memiliki lemak lebih sedikit dibandingkan bayi full-term. 40% dari berat badan neonatus merupakan cairan ekstrasel yang berperan penting untuk menentukan konsentrasi obat pada reseptor. Dengan kata lain, bayi memiliki cairan ekstrasel yang lebih banyak dibanding orang dewasa sehingga konsentrasi obat pada reseptor lebih banyak yang pada akhirnya dapat menimbulkan ketoksikan. Oleh karena itu, diperlukan pengaturan dosis pada bayi.
2. Ikatan Obat pada Protein Plasma
Ikatan obat-protein plasma pada neonatus pada umumnya kurang kuat. Kemampuan ikatan protein yang kurang ini mungkin disebabkan oleh perbedaan kualitatif dan kuantitatif pada protein plasma neonatus dan juga karena adanya substrat-substrat eksogen dan endogen pada plasma. Kurang kuatnya kemampuan ikatan obat-protein ini menyebabkan konsentrasi obat bebas dalam plasma meningkat sehingga dapat meningkatkan timbulnya toksisitas.

3. Permeabilitas Membran
Barrier darah otak pada bayi baru lahir relatif lebih permeabel. Hal ini memungkinkan beberapa obat melintasi aliran darah otak secara mudah. Keadaan ini menguntungkan, misalnya pada pengobatan meningitis dengan antibiotika.

C. METABOLISME OBAT
Aktivitas metabolisme obat pada neonatus lebih rendah daripada orang dewasa. Hal ini menyebabkan laju klirens obat lambat dan waktu paruh eliminasi obat panjang. Suatu obat mungkin saja dieliminasi dalam beberapa hari pada dewasa tetapi memerlukan beberapa minggu untuk dieliminasi pada neonatus. Adanya hal-hal semacam ini menyebabkan perubahan dosis obat pada bayi dan anak.
Pada neonatus dimana si ibu menerima obat yang dapat menginduksi maturitas secara dini pada enzim hepatis janin, maka kemampuan neonatus untuk memetabolisme obat tertentu akan lebih besar daripada neonatus dimana si ibu tidak menerima obat serupa.

D. EKSKRESI OBAT
Eliminasi ginjal merupakan rute utama pada obat-obat antimikrobial. Eliminasi ginjal sangat bergantung pada Glomerolus Filtration Rate (GFR) dan sekresi tubular. Kedua fungsi ini belum berkembang secara sempurna pada neonatus dan akan menjadi sempurna pada usia 2 tahun. GFR pada neonatus sekitar 30% GFR dewasa. Oleh karena itu, pada bayi, obat dan metabolit aktif yang diekskresi lewat urin cenderung terakumulasi. Akibatnya, obat-obat yang diekskresi dengan filtrasi glomerulus (seperti digoksin dan gentamisin) dan obat-obat yang sangat terpengaruh sekresi tubuler (misalnya penisilin) paling lambat diekskresi pada bayi baru lahir.
Renal Blood Flow (RBF) atau aliran darah ginjal akan mempengaruhi laju eliminasi obat oleh ginjal. Klirens suatu obat akan meningkat secara bermakna pada awal masa kanak setelah usia 1 tahun. Hal ini terutama dikarenakan relatif meningkatnya eliminasi renal dan hepatik suatu obat pada anak dibanding dewasa. Karenanya, dosis obat yang akan diberikan pada bayi dan anak harus disesuaikan.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2003, Penggunaan Obat pada Anak, http://piolk.ubaya.ac.id/datanb/piolk/rasional/20070322154542.pdf, diakses tanggal 25 Maret 2010
Anonim, 2010, Terapi Obat pada Penderita Pediatri, http://www.pediatrik.com/isi03.php?page=html&hkategori=Ilmiah%20Popular&direktori=ilmiah_popular&filepdf=0&pdf=&html=20060220-p0fl2yilmiah_popular.htm, diakses tanggal 25 Maret 2010
Gusrukhin, 2008, Farmakoterapi pada Neonatus, Masa Laktasi dan Anak, http://gusrukhin.files.wordpress.com/2008/08/laktasi-2.pdf, diakses tanggal 24 Maret 2010
Katzung, Bertram G., 2004, Farmakologi Dasar dan Klinik, 475-479, Salemba Empat, Jakarta

Anestesi pada Lansia? Gimana ya?

Anestesi pada Lansia?

Gimana ya?

Di Indonesia , persentase orang yang berumur >50 tahun adala h 9,64% dari jumlah penduduk (data Biro Pusat Statistik th. 1975). Para manula ini mempunyai kekhususan yang perlu diperhatikan dalam anestesi dan pembedahan, karena terdapat kemunduran sistem fisiologis dan farmakologi sejalan dengan penambahan usia. Kemunduran ini mulai jelas terlihat setelah usia 40 tahun. Dalam suatu penelitian di Amerika pada tahun 1977, diduga, setelah usia 70 tahun, mortalitas akibat tindakan bedah menjadi 3 kali lipat (dibandingkan dengan usia 18-40 tahun) dan 2% dari mortalitas ini disebabkan oleh anestesi.

Perubahan Fisiologis

Setelah usia 40 tahun terjadi penurunan kekuatan otot-otot pernafasan dan komplaien dinding dada. Perubahan histologis menjadi lebih berat bila manula seorang perokok berat, atau selalu bernafas dalam udara yang tercemar.

Sejalan dengan pertambahan usia di atas 40 tahun, penurunan kemampuan kardiovaskuler sering baru diketahui pada saat terjadi stres anestesia dan pembedahan. Pada pasien manula hipertensi harus diturunkan secara perlahan-lahan sampai tekanan darah 140/90 mmHg. Penurunan kemampuan respon sistem kardiovaskuler dalam menghadapi stress memerlukan pemulihan yang panjang dari anesthesia.

Jumlah glomerulus menjadi 2/3 sampai 1/2 dari orang muda. Perubahan-perubahan menurunkan kemampuan cadangan ginjal, sehingga manula tidak dapat mentoleransi kekurangan cairan dan kelebihan beban zat terlarut. Kemampuan untuk mengekskresi obat menurun, dan kemungkinan terjadi gagal ginjal juga meningkat. Pasien manula lebih mudah mengalami cedera hati akibat obat-obat, hipoksia dan transfusi darah.

Terjadi perubahan-perubahan fungsi kognitif, sensoris, motoris, dan otonom. Kecepatan konduksi saraf sensoris berangsur menurun. Perfusi otak dan konsumsi oksigen otak menurun. Perubahan-perubahan tersebut mengakibatkan manula lebih mudah dipengaruhi oleh efek samping obat terhadap sistem saraf. Dengan demikian konsentrasi alveolar minimum dari anestetika menurun dengan bertambahnya usia.

Pra-anestesia

Penilaian pasien manula prabedah harus dilakukan dengan seksama, mengingat bahwa manula kemungkinan sudah menderita hipertensi, gagal jantung, gangguan ritme jantung, penyakit paru kronik, diabetes, gagal ginjal kronik atau penyakit degenerasi lain. Apabila mungkin, keadaan pasien harus dioptimumkan, bila perlu dengan menunda pembedahan untuk mengurangi morbiditas dan mortalitas. Sering kali manula mendapat obat diuretika, sehingga kita harus waspada tentang kemungkinan hipovolemia atau hipokalemia. Obat lain yang banyak dipakai oleh manula adalah hipnotika-sedativa untuk mengatasi insomia atau gangguan psikiatrik. Obat-obat tersebut mungkin sudah mempengaruhi hati, konduksi jantung dan dapat berinteraksi dengan obat anestetika.

Premedikasi sebaiknya diberikan dengan hati-hati dan dosis sekecil mungkin. Biasanya hanya diperlukan diazepam 5 mg melalui mulut (peroral). Atropin atau alkaloid beladona yang lain biasanya tidak diperlukan.

Selama Anestesia

Apabila dimungkinkan sebaiknya diberikan analgesik regional (non-sistemik). Hal ini dikarena pasien yang sadar pada analgesik regional memungkinkan petugas lebih mudah dan lebih cepat mengenal serangan angina atau perubahan serebral akut. Teknik anestesi yang dipilih hendaknya tidak menyebabkan gejolak peningkatan penurunan tekanan darah dan laju nadi.

Dosis obat anestetika umum maupun lokal pada lansia harus dikurangi, dan diberikan menurut kebutuhan, secara titrasi dengan mengingat bahwa waktu sirkulasi memanjang dan kemungkinan terjadinya interaksi dengan obat-obat yang sudah diminum oleh pasien pra anesthesia.

Pemantauan yang dilakukan disesuaikan dengan keadaan pasien. EKG sebaiknya dipantau secara rutin. Pemasangan kateter intraarterial untuk memantau tekanan darah diperlukan bila: cadangan kordiovaskuler sangat rendah seperti pada penyakit koroner atau katup jantung yang berat, hipertensi, penyakit pembuluh  darah otak, hipertensi pulmonal, dan bila diperlukan pemeriksaan analisis gas darah yang berulang-ulang. Kateter vena sentral perlu dipasang bila diperlukan pemantauan yang ketat terhadap isi cairan intra-vaskuler. Pada pasien dengan keadaan pertukaran gas yang buruk, sebaiknya digunakan kopnograf dan pemantauan saturasi oksigen perkutaneus. Apabila keadaan pasien cukup baik dan tindakan bedah tidak memerlukan pemantauan seperti di atas, pemantauan cukup dengan EKG dan sfigmomanometer disamping pemantauan anestesia yang baku.

Pasca Anestesia

Ada kemungkinan bahwa kesulitan untuk bernafas pasca bedah dini lebih sering terjadi pada manula. Faktor yang meningkatkan kejadian penyakit pernafasan pasca bedah adalah kegemukan, manula perokok, nyeri, pembedahan darah abdomen atas atau toraks, dan distensi abdomen.

Adanya pemantauan di ruang pemulihan dinilai penting untuk dapat segera mengatasi bila terjadi kesulitan bernafas. Hal ini lebih ditekankan bila menggunakan anestesi jenis narkotik ­pelemas otot. Pasien sering kali mengalami ulangan depresi pernafasan di ruang pemulihan. Maka keadan sirkulasi juga harus dipantau dengan ketat. Sering kali adanya perubahan posisi atau pemindahan pasien ke ruang pemulihan, memungkinkan terjadinya hipotensi atau renjatan. Demikian pula suhu ruang pemulihan yang dingin dapat mempengaruhi kondisi pasien.

Daftar Pustaka

Raharjo, K., 2006, Pertimbangan Anastasia untuk Usia Lanjut, http:// 06_PertimbanganAnastasiaUntukUsiaLanjut.html, diakses tanggal 21 Maret 2010

www.lptui.com/artikel.php%3Ffl3n…leDetail

uinews.wordpress.com/2008/09/page/2/

Rosanna Olivia Hartono          (078114-109)

Dita Maria Virginia                   (078114-116)

I Wayan Arditayasa                 (078114-135)

Minum Obat???Sebaiknya sebelum atau sesudah makan???

Obat merupakan sesuatu yang umumnya dikonsumsi saat seseorang sakit, yang bertujuan untuk menyembuhkan, menghilangkan gejala, menghambat kerusakan yang lebih parah, dan sebagai rehabilitasi. Namun sering kita lihat bahwa di aturan pakai obat tidak tertera kapan harus minum obat tersebut (sering terdapat di obat bebas dan obat bebas terbatas), apakah sebelum atau sesudah makan? Disini penulis akan menyampaikan sedikit informasi yang mudah-mudahan berguna bagi pembaca.

Apa sich sebenarnya pengaruh makanan terhadap efek kerja obat? Apa sich bedanya minum obat sebelum atau sesudah makan? Pertanyaan seperti ini tentunya sering timbul dalam benak masyarakat luas. Pada umumnya obat yang diberikan secara oral atau diminum melalui mulut  akan melalui saluran pencernaan termasuk lambung terlebih dahulu. Oleh karena itu efek obat dalam tubuh manusia sangat mungkin dipengaruhi oleh makanan atau minuman yang dikonsumsinya.

Ada 2 kemungkinan interaksi obat dengan makanan. Pertama interaksi obat dan makanan dapat mengurangi atau bahkan menghilangkan khasiat atau manfaat obat. Kedua dapat meningkatkan  efek dari obat itu sendiri. Hal ini dapat berpengaruh terhadap efektifitas dari obat yang digunakan.

Obat biasanya bersifat asam lemah atau basa lemah. Obat asam lemah akan diserap di lambung (jika diberikan secara oral) sementara yang bersifat basa lemah akan diserap di usus yang lingkungannya memang lebih basa dibandingkan lambung.

Berikut sedikit ulasan mengenai pengeritan mengenai konsumsi obat sebelum atau sesudah makan :

  1. Obat yang dikonsumsi setelah makan
  • Obat dikonsumsi setelah makan berarti obat tersebut dikonsumsi sewaktu makan atau segera setelah makan. Pada umumnya obat-obat yang diminum pada waktu ini karena obat-obat ini dapat mengiritasi lambung, sehingga lambung perlu diberikan makanan terlebih dahulu sehingga lambung dalam posisi tidak kosong. Biasanya obat-obat demikian memiliki pH yang rendah (bersifat asam) sehingga dapat mengiritasi lambung kosong.
  • Kecepatan pengosongan lambung juga tak kalah penting untuk absorpsi obat secara oral. Semakin cepat pengosongan lambung, bagi obat bersifat asam akan merugikan karena hanya sejumlah kecil obat yang terserap, namun menguntungkan obat bersifat basa lemah karena segera mencapai tempat absorpsi di usus, segera terjadi proses penyerapan. Oleh karena itu sebaiknya obat yang bersifat asam dikonsumsi bersama makanan agar memperlama waktu pengosongan lambung.

Contohnya : Obat pain killer dan antiinflamasi (anti rematik, anti Gout/asam urat, anti bengkak). Obat golongan ini sebagian besar bersifat asam agak tinggi (ibuprofen, aspirin, aspilet, asam mefenamat) sehingga keasaman yang tinggi tersebut akan menimbulkan efek samping nyeri lambung dan untuk memperlama waktu penyerapan di lambung, maka seharusnya diminum bersama/sesudah makan.

2.   Obat yang dikonsumsi sebelum makan

Obat yang dikonsumsi sebelum makan berarti obat tersebut dikonsumsi 2 jam sebelum makan. Biasanya penyerapan obat ini oleh sistem pencernaan terhambat dengan adanya makanan. Obat pusing biasanya mengandung parasetamol atau metampiron. Zat-zat ini penyerapannya akan terhambat dengan adanya makanan dalam lambung. Jadi dianjurkan untuk minum obat ini saat perut kosong agar didapat efek yang cepat.

Obat-obat antialergi golongan antihistamin (Benadryl, Claritin, CTM, Zyrtec, Incidal, dll) merupakan obat bersifat asam lemah yang absorpsinya terjadi di lambung. Meskipun obat ini bersifat asam tetapi asam lemah ini tidak mengiritasi lambung. Dan penyerapannya di lambung cepat (onset/waktu yang diperlukan untuk menimbulkan efek cepat) sehingga dapat dikonsumsi sebelum makan. Maka seharusnya diminum saat perut kosong atau 2 jam sebelum makan.

Nah setelah membaca sedikit informasi ini diharapkan bagi yang membaca tahu bahwa kenapa kita harus minum obat sebelum/sesudah makan. Bagi yang mau kritik atau memberi saran, kami terima dengan hati yang berbunga-bunga. No body’s perfect…….

Daftar Pustaka :

Anonim,2008,Minum Obat Sebelum Makan,Bolehkah?,http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=5895&post=1,diakses tanggal 28 Maret 2010

Anonim,2009, Minum obat kenapa tidak boleh dengan susu,Kenapa???,http://mirzempe2.multiply.com/journal/item/33,diakses tanggal 28 Maret 2010

Shargel Leon,2005,Biofarmasetika dan Farmakokinetika Terapan,Cetakan ke-2,86-90,Airlangga University Press,Surabaya

Nama kelompok :

Christianus Heru Setiawan     (07 8114 088)

Marvelaos Marvel                   (07 8114 096)

Mahendra Agil Kusuma          (07 8114 133)



Do You Know ‘bout LORAZEPAM????? (If You Don’t Know,,Please Read it Now..!)

Sistem saraf pusat berperan penting dalam pengaturan utama tubuh. Sistem saraf pusat terletak di otak dan medula spinalis. Jika terganggu akan mempengaruhi fungsi tubuh secara umum atau spesifik, misalnya jika nyeri akan mempengaruhi pusat pengaturan suhu dan nyeri pada otak, jika mengalami stress akan mempengaruhi neourotransmitter pada SSP di otak. Kasus-kasus yang terjadi pada SSP dapat diatasi dengan obat yang bekerja pada SSP. Obat susunan syaraf pusat yang bekerja memperlihatkan efek yang sangat luas. Obat tersebut mungkin meragsang atau menghambat aktivitas kerja system syaraf pusat secara spesifik atau umum, misalnya anastetik umum dan hipnotik sedatif merupakan penghambat SSP yang bersifat umum sehingga dosis yang berat selalu disertai koma.

Semua aksi obat SSP mempunyai mekanisme farmakologis yang berbeda sehingga mempunyai keistimewaan tersendiri misalnya dapat dilihat dari waktu paruhnya, durasi yang dihasilkan, dll. Gangguan SSP seperti anxietas dapat diatasi dengan obat antianxietas yang bekerja pada SSP seperti pada golongan benzodiazepin. Golongan benzodiazepin, misalnya Alprazolam, Bromazepam, Chlordiazepoxide, Clorazepate, Diazepam, Halazepam, Kelatlozepam, Lorazepam, Oxazepam, Prazepam. Dari sekian banyak obat anxietas, untuk memilih salah satu obatnya maka harus dilihat dari toksisitasnya sebagai parameter keamanan, selanjutnya waktu paruh, durasi, dan keefektifan terapi. Lorazepam dibanding dengan obat antianxietas lainnya memilki waktu paruh yang singkat dibandingkan temazepam dan golongan benzodiazepin lainnya sehingga keberadaannya dalam tubuh singkat dan tidak menimbulkan resiko terjadinya toksisitas. Metabolit – metabolit lorazepam tidak aktif sehingga dapat diekskresikan lewat ginjal dalam bentuk garam glukoronat

Lorazepam (Ativan® Renaquil® ) : 2-3 x 1 mg/hari

  • Struktur Lorazepam :

Lorazepam sebagai obat anti-anxietas mempunyai rumus kimia,7 chloro-5-(o-chlorophenyl)-1,3-dihydro-3-hydroxy-2H-1,4-benzodiazepin-2-one:

  • Fisikokimia

BM lorazepam : 321,16

Pemerian, berupa serbuk putih yang tidak larut pada air. Tablet lorazepam diminum peroral yang mengandung 0.5 mg, 1 mg, or 2 mg lorazepam. Komposisi inaktif lorazepam adalah lactose monohydrate, magnesium stearate, microcrystalline cellulose, polacriline potassium. Lorazepam tidak larut dalam air dan membutuhkan pelarut seperti polyethylene glycol atau propylene glycol.

  • Farmakokinetik

-          Lorazepam dipercaya diabsorsi secara oral dan intramuskuler

-          Absorbsi pada pemberian lorazepam secara intramuskular berlangsung cepat dan lengkap.

-          Waktu paruh singkat (10-20 jam) dibandingkan diazepam

-          Akumulasi kecil selama pemberian dosis berulang

-          Konsentrasi puncak dalam plasma dicapai dalam waktu 2 – 3 hari. Oleh sebab itu, lorazepam harus dipertimbangkan dengan baik sebelum operasi sehingga obat tersebut memiliki waktu untuk efektif sebelum pasien masuk ke kamar operasi.

-          Eliminasi berlangsung cepat yang diikuti dengan terapi yang tidak berkelanjutan

-          Efek maksimal muncul 30-40 menit setelah injeksi intravena

-          Tidak ada metabolit aktif dari lorazepam; dan karena metabolismenya tidak tergantung dari enzim mikrosomal, ada pengaruh yang kurang pada efeknya dari usia atau penyakit hati. Lorazepam dikinjugasikan ke bentuk glukoronida oleh hati menjadi metabolit yang tidak akif. Metabolitnya dieksresikan melalui urin.

  • Indikasi

-          Terapi anxietas, tetapi tidak digabungkan dengan stress yang dialami setiap hari, sedasi-hipnotik, terapi insomia, memberikan efek antikonvulsan dan amnestic (hanya parenteral), antipanic agent dan antitremor agent ( secara oral), antiemetic pada kemoterapi kanker (hanya parenteral), relaksasi otot.

  • Kontraindikasi

-          Dilihat dari masalah-masalah dalam pengobatan: intoksikasi alkohol dengan gejala vital yang ditekan (depresi CNS), koma, shock (efek hipnotik atau hiposensitif dari pemberian benzodiazepin secara parenteral). Menimbulkan kematian jika dikonsumsi setelah meminum alkohol.

  • Adverse effects (efek samping pada high-dose)

-          Timbul toleransi

-          Amnesia antegrad (Blitt et al menunjukkan ketiadaan ingatan tidak dihasilkan sampai 2 jam setelah injeksi intramuskuler) dihasilkan selama 4-6 jam tanpa sedasi berlebihan. Dosis lebih tinggi menghasilkan sedasi berkepanjangan dan berlebihan tanpa lebih banyak amnesia.

-          Mental depresi

-          Palpitasi (detak jantung tidak teratur)

-          Depresi respirasi yang tidak diinginkan pada dosis pada penyakit paru.

DAFTAR PUSTAKA:

Anonim, 1995, Farmakologi dan Terapi, Edisi 4, 124-126, 131-132, Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta

Anonim, 1995, USP NF, 903, USPC Inc, USA

Anonim, 2005, Drug Information for the Health Care Proffessional, 536-544, 554-556, Thomson Micromedex, Massachusetts

Disusun Oleh :

Pia Rika P. (078114047),,A. Nila Y. (078114053),,Hendrika T. D. (078114059),,Maria Ratri D. (078114062)