Petidin-Madu atau Racun??

RerE  06-167 VIvI  07-060 NanA 07-070

OlivE  07-109 DinAr  07-129

Saat ini banyak terdapat berbagai jenis obat penghilang rasa nyeri. Obat anti nyeri yang sering digunakan dan dijual bebas tanpa resep dokter adalah golongan obat Anti Inflamasi Non Steroid (AINS), misalnya: ibuprofen, natrium diklofenak atau jenis lainnya. Pada kondisi tertentu, dimana rasa nyeri sedemikian hebat, obat golongan AINS tidak lagi cukup untuk dapat menghentikan rasa nyeri tersebut. Dalam kondisi tersebut, dokter dapat menggunakan narkotik, salah satu golongan obat penghilang rasa nyeri yang sangat potensial namun rawan penyalahgunaan.

Salah satu dampak penyalahgunaan obat penghilang rasa nyeri, yaitu pada kasus tewasnya Michael Jackson. Kematian Michael Jackson diduga akibat penggunaan obat-obat secara berlebihan tanpa pengawasan dokter yang berwenang. Di antara obat-obat yang ditenggarai tersebut, termasuk didalamnya adalah obat penghilang rasa nyeri golongan narkotik, meperidin HCl.

Apa itu meperidin HCl?

Meperidin HCl yang biasa dikenal dengan nama petidin, merupakan salah satu obat penghilang rasa sakit golongan narkotik. Obat ini ditemukan pada tahun 1939, oleh dua orang ilmuwan Jerman, yaitu Eisleb and Schaumann. Pada awal kemunculannya, obat ini juga digunakan untuk mengatasi otot yang kaku (spasme). Meperidin HCl termasuk golongan obat sintetik. Secara umum, rumus kimia meperidin hampir sama dengan metadon dan fentanil, yang merupakan dua jenis penghilang nyeri yang sudah cukup dikenal.

Rumus kimia petidin

 

 

 

 

 

Cara kerja dari meperidin HCL atau petidin?

Petidin merupakan narkotika sintetik derivat fenilpiperidinan dan terutama berefek terhadap susunan saraf pusat. Mekanisme kerja petidin menghambat kerja asetilkolin (senyawa yang berperan dalam munculnya rasa nyeri) yaitu pada sistem saraf serta dapat mengaktifkan reseptor, terutama pada reseptor µ, dan sebagian kecil pada reseptor kappa. Penghambatan asetilkolin dilakukan pada saraf pusat dan saraf tepi sehingga rasa nyeri yang terjadi tidak dirasakan oleh pasien

Efeknya terhadap SSP adalah menimbulkan analgesia, sedasi, euphoria, dapresi pernafasan serta efek sentral lain. Efek analgesik petidin timbul aga lebih cepat daripada efek analgetik morfin, yaitu kira-kira 10 menit, setelah suntikan subkutan atau intramuskular, tetapi masa kerjanya lebih pendek, yaitu 2–4 jam. Absorbsi petidin melalui pemberian oral maupun secara suntikan berlangsung dengan baik. Obat ini mengalami metabolism di hati dan diekskresikan melalui urin

 

Kegunaan Petidin Dalam Dunia Medis??

Petidin digunakan sebagai analgesia untuk semua tipe nyeri yang sedang sampai berat. Misalnya sebagai suplemen sedasi sebelum pembedahan, nyeri pada infark miokardium walaupun tidak seefektif morfin sulfat, mengatasi nyeri setelah operasi, atau nyeri lainnya yang tidak dapat diatasi dengan obat biasa,  untuk menghilangkan ansietas  (kecemasan) pada pasien dengan dispnea (sesak nafas) karena acute pulmonary edema & acute left ventricular failure.

Sediaan yang tersedia adalah tablet 50 dan 100 mg ; suntikan 10 mg/ml, 25 mg/ml, 50 mg/ml, 75 mg/ml, 100 mg/ml. ; larutan oral 50 mg/ml. Akan tetapi sebagian besar pasien tertolong dengan dosis parenteral 100 mg. Dosis untuk bayi dan anak ; 1-1,8 mg/kg BB.

Petidin memiliki waktu paruh selama 5 jam. Dan durasi analgesinya pada penggunaan klinis 3-5 jam.

Adapun perbedaan petidin dan morfin:

1. Petidin memiliki kelarutan dalam lemak lebih besar dibandingkan dengan morfin yang larut dalam air.

2. Metabolisme petidin oleh hepar lebih cepat dan menghasilkan normeperidin, asam meperidinat dan asam normeperidinat. Normeperidin merupakan metabolit yang masih aktif memiliki sifat konvulsi dua kali lipat petidin, tetapi efek analgesinya sudah berkurang 50%.

3. Petidin bersifat atropin menyebabkan kekeringan mulut, kekaburan pandangan dan takikardia.

4. Seperti morfin ia menyebabkan konstipasi, tetapi efek terhadap sfingter oddi lebih ringan.

5. Petidin cukup efektif untuk menghilangkan gemetaran pasca bedah yang tidak ada hubungannya dengan hipiotermi dengan dosis 20-25 mg i.v pada dewasa, sedangkan morfin tidak memiliki aksi tersebut.

6. Durasi kerja petidin lebih pendek dibandingkan morfin.

 

Efek Samping Petidin

Petidin sebagai salah satu obat analgesik golongan narkotik tentu memiliki efek samping berupa ketagihan terhadap penggunaan obat. Selain ketagihan, petidin juga memiliki efek samping menekan sistem pernapasan.

Efek samping yang ditimbulkan oleh petidin antara lain sakit kepala ringan, kepala terasa berputar, mual, muntah, gangguan aliran darah, gangguan koordinasi otot serta gangguan jantung. Efek samping yang tidak terlalu parah dapat berupa kesulitan buang air besar (konstipasi), kehilangan nafsu makan, mual, muntah, sakit kepala dan mulut terasa kering serta keringat berlebihan.

Obat ini juga dapat menimbulkan efek alergi berupa kemerahan, gatal danbengkak pada daerah sekitar tempat penyuntikan. Gejala alergi ini dapat bermanifestasi parah, seperti kesulitan bernafas, bengkak pada wajah, bibir dan lidah, serta tenggorokan.

Efek samping yang sangat berbahaya dan dapat menyebabkan kematian adalah menekan sistem pernafasan. Efek samping ini akan semakin berbahaya apabila petidin digunakan secara berlebihan atau dikonsumsi bersamaan dengan obat lain yang juga menekan sistem pernafasan, seperti obat pelemas otot atau obat penenang. Kematian dapat disebabkan laju nafas yang semakin menurun kemudian berhenti. Selain itu, penurunan tekanan darah serta gangguan pada sistem saraf pusat yang ditimbulkan juga dapat mengakibatkan kematian.

Efek samping berupa ketagihan dapat menimbulkan terjadinya overdosis. Gejala overdosis yang timbul berupa perubahan warna pada kulit, kulit menjadi dingin, dan kelemahan otot. Seseorang yang telah menggunakan obat ini dalam jangka waktu yang cukup lama, penghentiannya harus dilakukan secara bertahap dengan cara menurunkan dosis obat secara perlahan-lahan. Hal ini disebabkan adanya efek withdrawal atau gejala putus obat yang dapat terjadi. Apabila penggunaan obat ini dihentikan secara tiba-tiba, maka akan muncul gejala berupa jantung berdebar, denyut nadi meningkat, serta pernafasan tertekan. Selain itu, penderita akan merasa tidak nyaman, merasa nyeri pada seluruh tubuh yang disertai muntah.

 

Sumber:

Windiasari, D., 2010, Golongan Obat Yang Bekerja Mempengaruhi Sistem Saraf Pusat,  http://dinna-windiasari.blogspot.com/2010/09/golongan-obat-yang-bekerja-mempengaruhi.html, diakses tanggal 1 April 2011

Anonim, 2009, Pethidine, http://en.wikipedia.org/wiki/Pethidine, diakses tanggal 2 april 2011

Anonim, 2010, Penghilang Nyeri, Pembawa Maut, http://www.idijembrana.or.id/index.php?module=artikel&kode=8, diakses tanggal 1 April 2011

Anonim, 2010, Penghilang Rasa Sakit Bersalin Paling Aman, https://babyorchestra.wordpress.com/tag/penghilang-rasa-sakit-bersalin-paling-aman/, diakses tanggal 1 April 2011

Biworo, A., 2011, Analgetika, http://www.infogigi.com/dr.-Agung-Biworo,-M.Kes.html, diakses tanggal 2 April 2011

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s