Author Archives: farmakoterapi-info

PENGGUNAAN NNRTIs (NON-NUCLEOSIDE REVERSE TRANSCRIPTASE INHIBITORS)-Based Regimens UNTUK PENGOBATAN HIV (Human Immunodeficiency Virus) PADA PEDIATRI

PENGGUNAAN NNRTIs (NON-NUCLEOSIDE REVERSE TRANSCRIPTASE INHIBITORS)-Based Regimens UNTUK PENGOBATAN HIV (Human Immunodeficiency Virus) PADA PEDIATRI


Bernadus Gallaeh Rama Erga Satria (078115005)

(Download Guideline)

 

PENDAHULUAN

HIV (human immunodeficiency virus) adalah sebuah retrovirus yang menginfeksi sel sistem kekebalan tubuh manusia, terutama CD4+ T cell dan macrophage , komponen vital dari sistem sistem kekebalan tubuh dan menghancurkan atau merusak fungsi mereka. Infeksi HIV menyebabkan pengurangan sistem kekebalan tubuh dengan cepat (pengurangan imun). HIV merupakan penyebab dasar AIDS (Acquired immune Deficiency Syndrome) yang merupakan kumpulan gejala penyakit akibat menurunnya sistem kekebalan tubuh secara bertahap yang disebabkan infeksi HIV. Virus tersebut masuk ketubuh manusia terutama melalui darah, semen dan sekret vagina, serta transmisi dari ibu ke anak.

Salah satu indikator yang digunakan untuk mendeteksi HIV adalah CD4. CD4 adalah reseptor pada limfosit T4 yang menjadi target sel utama HIV. Penurunnya jumlah CD4 akibat HIV adalah sekitar 50-100/mm3/tahun sehingga bila tanpa pengobatan rata-rata masa infeksi HIV sampai menjadi AIDS adalah 8 – 10 tahun, dimana jumlah CD4 akan mencapai kurang dari 200/mm3.

Penurunan sistem kekebalan tubuh ini akan memudahkan tubuh terserang penyakit – penyakit yang lain terutama penyakit yang berhubungan dengan infeksi.

Pada saat ini pasien HIV yang mendapat perhatian cukup besar adalah pasien pediatri. Tidak bisa kita pungkiri bahwa HIV dapat menular melalui transmisi antara ibu dengan anak. Bayi yang dihasilkan dari hubungan sex antara orang tua yang salah satunya atau kedua-duanya mengidap HIV tersebut akan mengidap HIV semenjak bayi tersebut ada dikandungan dan akan terus berlangsung ketika bayi tersebut dilahirkan.

SASARAN TERAPI
Sasaran dari terapi ARV pada pediatri adalah
HIV (human immunodeficiency virus) yang merupakan retrovirus penginfeksi sel sistem kekebalan tubuh manusia

TUJUAN TERAPI

Terapi ARV yang ada pada saat ini belum mampu menghilangkan HIV karena lamanya waktu paro dari sel CD4 yang terinfeksi. Berdasarkan ARV yang ada pada saat ini, tujuan dari terapi ARV pada pediatri adalah untuk menekan perkembangbiakan atau replikasi virus HIV.

STRATEGI TERAPI

A. Kapan terapi dimulai

Masalah yang timbul pertama kali dalam pelaksanaan terapi ARV adalah kapan terapi tersebut dimulai. Ada beberapa pilihan pelaksanaan terapai yaitu memulai terapi sejak dini atau menunggung sampai muncul tanda – tanda atau gejala HIV.

Beberapa faktor yang harus dipertimbangkan saat memulai terapi pada pediatri) adalah:

  • Tingkat HIV RNA

  • Jumlah CD4

  • Simtom / gejala klinis

Berikut adalah tabel kriteria pelaksanaan terapi ARV pada pediatri:

(Lihat ukuran sebenarnya)

Keterangan:

  • Perawatan ditunda: data klinis dan data lab harus dievaluasi setiap 3 – 4 bulan

  • Dipertimbangkan : Karena infeksi HIV berkembang lebih cepat pada anak – anak dibandingkan orang dewasa, maka perlu dipertimbangkan penggunaan ARV berdasarkan parameter klinis, imunologik, dan virologik.

  • Asimtomatik : CDC clinical category N

  • Simtomatik : CDC clinical category A, B, dan C

 

B. Obat apa yang harus digunakan

Sejak September 2006 sudah ada 22 antiretroviral yang dapat digunakan pada pengobatan HIV pada orang dewasa namun hanya 13 antiretroviral yang disetujui untuk digunakan pada anak-anak. Obat – obat tersebut terbagi dalam beberapa golongan: Nucleoside analogue atau nucleotide analogue reverse transcriptase inhibitor (NRTIs, NtRTIs); non-nucleoside reverse transcriptase inhibitor (NNRTIs); protease inhibitor ; dan fusion inhibitor.

Terapi yang dianjurkan pada anak – anak adalah antiretroviral kombinasi yang terdiri dari 3 obat dan minimal berasal dari 2 golongan obat karena terapi dengan ARV kombinasi terbukti dapat menjaga imun (sistem kekebalan tubuh) dan menghambat perkembangan penyakit (HIV).

 

Antiretoviral kombinasi yang digunakan untuk terapi HIV pada pediatri terbagi menjadi tiga golongan: NNRTI-based (2 NRTIs + NNRTI); PI-based (2 NRTIs + PI); dan NRTI-based (3 NRTI drug). NNRTI-based dan PI-based merupakan first line pengobatan HIV pada pediatri sedangkan NRTI-based merupakan second line yang digunakan bila pengobatan first line tidak dapat menunjukkan hasil yang optimal.

NNRTI-Based Regimens (1 NNRTI + 2NRTI backbone):

NNRTI atau non-nucleoside reverse transcriptase inhibitor merupakan salah satu golongan ARV yang bekerja pada tahap replikasi virus. NNRTI akan berikatan dengan enzim reverse transcriptase sehingga dapat memperlambat kecepatan sintesis DNA HIV atau menghambat replikasi (penggandaan) virus. Obat ini merupakan salah satu obat pilihan terapi HIV pada pediatri.

 

Keuntungan NNRTI:

  • Resiko dislipidemia dan fat maldistribution lebih rendah dibandingkan protese inhibitor (PI)

  • Mudah digunakan karena ada dalam bentuk sediaan cair

Kerugian NNRTI:

  • Resiko terjadinya kasus Steven-Johnson syndrome dan hepatic toxicity

  • Potensial terhadap interaksi obat karena NNRTI mempengaruhi hepatic enzim seperti CYP3A4 meskipun pengaruhnya lebih rendah dibandingkan PI

Obat yang dianjurkan:

  • Efavirenz dikombinasikan dengan 2 NRTIs untuk anak – anak usia > 3 tahun

  • Nevirapine dikombinasikan dengan 2 NRTIs untuk anak – anak usia < 3 tahun atau untuk pasien yang membutuhkan bentuk sediaan cair

Obat yang tidak dianjurkan: Delavirdine

Efavirenz

Keuntungan:

  • Dapat diberikan bersamaan dengan makanan tapi hindari makanan berlemak. Lebih baik diberikan saat perut kosong

  • Pemberian dilakukan satu kali sehari (once daily)

  • Aktivitas antireoviral cukup kuat

Kerugian:

  • Neuropsychiatric side effects (dapat diatasi dengan pemberian sebelum tidur)

Nama dagang di Indonesia: Sustiva (Bristol-myers)

Indikasi: HIV Infection

Kontra indikasi: Breast feeding
Bentuk sediaan, dosis, dan aturan pakai:

Bentuk sediaan : kapsul: 50 mg, 100 mg, dan 200 mg. Tablet: 600 mg.

Pediatric dose:

Aturan pakai: Diberikan satu kali sehari (once daily)
Efek samping:

Steven-johnson syndrom, abdominal pain, diarrhea, nausea, vomiting, anxiety, depression, dizziness

Nevirapine

Keuntungan:

  • Dapat diberikan bersamaan dengan makanan tapi hindari makanan berlemak. Lebih baik diberikan saat perut kosong

  • Tersedia dalam bentuk sediaan cair

  • Aktivitas antireoviral cukup kuat

Kerugian:

  • Neuropsychiatric side effects (dapat diatasi dengan pemberian sebelum tidur)

  • Resiko reaksi hipersensitifitas dan rash atau ruam lebih tinggi dibandingakan NNRTIs yang lain

  • Resiko Hepatic toksisitas lebih tinggi dibandingkan efavirenz

  • Dosis awal rendah kemudian ditingkatkan secara bertahap

Nama dagang di Indonesia: Viramune (Bohringer-ingelheim)

Indikasi: HIV Infection

Kontra indikasi: Breast feeding
Bentuk sediaan, dosis, dan aturan pakai:

  • Bentuk sediaan : Tablet: 200 mg. Suspensi: 10 mg/mL.

  • Pediatric dose: 120 – 200 mg per m2 luas permukaan tubuh diberikan dua kali sehari. Dosis awal 120 mg per m2 luas permukaan tubuh diberikan sekali sehari selama 14 hari. Jika tidak terjadi efeksamping seperi rash / ruam dosis dapat ditingkatkan menjadi 200mg per m2 diberikan dua kali sehari atau 7mg/KgBB dua kali sehari untuk anak dengan usia <8 tahun; 4 mg/KgBB untuk anak dengan usia > 8 tahun.

  • Aturan pakai : Diberikan satu kali sehari sebagai dosis awal dan dapat ditingkatkan menjadi dua kali sehari

Efek samping: Steven-johnson syndrom, abdominal pain, diarrhea, nausea, vomiting, anxiety, depression, dizziness

 

NRTI backbone

NRTI atau Nucleoside/Nucleotide Reverse Transcriptase Inhibitors merupakan ARV yang juga bekerja pada tahap replikasi virus. Perbedaan antara NRTI dengan NNRTI terletak pada mekanisme kerjanya. NRTI mengandung nucleotide yang digunakan oleh enzim reverse transcriptase untuk mengubah RNA menjadi DNA. Dengan menggunakan nucleotide dari NRTI, DNA yang dihasilkan oleh reverse transcriptase akan rusak sehingga menghambat replikasi virus. NRTI backbone adalah kombinasi 2 NRTI yang digunakan bersamaan dengan NNRTI yang fungsinya menguatkan kerja antiretroviral. Kombinasi NRTI yang dianjurkan adalah zidovudine + lamivudine; didanosine + lamivudine; dan zidovudine + didanosine.

 

Zidovudine

Nama dagang di Indonesia: Retrovir (GlaxoSmithKline)

Indikasi: Infeksi HIV asimtomatik

Kontra indikasi: Haemoglobin rendah, neutrofil rendah, hyperbilirubinemia
Bentuk sediaan, dosis, dan aturan pakai:

  • Bentuk sediaan : Kapsul: 100 mg. Tablet: 300 mg. Syrup: 10 mg/mL

  • Pediatric dose: 160 mg per m2 luas permukaan tubuh.

  • Aturan pakai : Diberikan diberikan setiap 8 jam

Efek samping: Anemia, neuropathy, dizziness, drowsiness

 

Lamivudine

Nama dagang di Indonesia: 3TC ( GlaxoSmithKline)

Indikasi: Infeksi HIV

Kontra indikasi: Hipersensitifitas, pasien dengan neutrofil yang rendah
Bentuk sediaan, dosis, dan aturan pakai:

  • Bentuk sediaan : Solution: 10mg/mL, Tablet kunyah: 100mg

  • Pediatric dose: 4 mg/KgBB; dosis maksimal 150 mg

  • Aturan pakai : Diberikan diberikan dua kali sehari

Efek samping: Pancreasistis, neuropathy, hipoglikemi, rhabdomyolysis

 

Didanosine

Nama dagang di Indonesia: Videx (Bristol-Myers Squibb)

Indikasi: Terapi pada dewasa dan anak – anak dengan infeksi HIV lanjut

Kontra indikasi: Hipersensitivitas
Bentuk sediaan, dosis, dan aturan pakai:

  • Bentuk sediaan : Solution: 10mg/mL, 5mg/mL. Tablet: 100mg, 150mg, 300mg

  • Pediatric dose: 90 – 150mg per m2 luas permukaan tubuh

  • Aturan pakai : Diberikan diberikan dua kali sehari (setiap 12 jam)

Efek samping: Pancreasistis, neuropathy, hipoglikemi, rhabdomyolysis, diare, mual

DAFTAR PUSTAKA

Anonim 2007, MIMS Indonesia Petunjuk Konsultasi, Edisi 6, 233, Info Master, Jakarta.

Anonim 2006, Guidelines for the use of Antiretroviral Agents in Pediatric HIV Infection, www.aidsinfo.gov

Anonim, 2006, British National Formulary, Edisi 52, 328, British Medical Association, Royal Pharmaceutical Society of Great Britain.

 

Krim Permethrin 5% untuk Pengobatan Scabies

Krim Permethrin 5% untuk Pengobatan Scabies

Disusun oleh :

Liana Yuliawati Sadana, S. Farm.

078115017

Scabies disebabkan oleh mite (tungau), Sarcoptes scabiei. Scabies mites tertarik pada bau dan kehangatan dari manusia. Tungau ini ukurannya cukup besar sehingga dapat dilihat dengan mata telanjang dan sering menular diantara orang-orang yang tidur besama. Kadang tungau ditularkan melalui pakaian, seprei dan benda-benda lainnya yang digunakan secara bersama-sama; masa hidupnya hanya sebentar dan pencucian biasa bisa menghancurkan tungau ini. Tungau betina membuat terowongan di bawah lapisan kulit paling atas dan menyimpan telurnya dalam lubang. Beberapa hari kemudian akan menetas tungau muda (larva). Infeksi menyebabkan gatal-gatal hebat, kemungkinan merupakan suatu reaksi alergi terhadap tungau.

Ciri khas dari scabies adalah gatal-gatal hebat, yang biasanya semakin memburuk pada malam hari. Lubang tungau tampak sebagai garis bergelombang dengan panjang sampai 2,5 cm, kadang pada ujungnya terdapat beruntusan kecil. Lubang/terowongan tungau dan gatal-gatal paling sering ditemukan dan dirasakan di sela-sela jari tangan, pada pergelangan tangan, sikut, ketiak, di sekitar puting payudara wanita, alat kelamin pria (penis dan kantung zakar), di sepanjang garis ikat pinggang dan bokong bagian bawah. Infeksi jarang mengenai wajah, kecuali pada anak-anak dimana lesinya muncul sebagai lepuhan berisi air. Lama-lama terowongan ini sulit untuk dilihat karena tertutup oleh peradangan yang terjadi akibat penggarukan.

Ada banyak infeksi tungau (mite) yang bukan merupakan scabies. Maka dari itu harus dilakukan biopsy untuk memastikan infeksi disebabkan oleh apa. Tungau scabies pada manusia (Human scabies mites) bukan merupakan sarcopic mange mites yang mengenai hewan. Sarcopic mange mites bisa terbawa pada manusia tetapi tidak bisa menggali kulit manusia. Jika hewan terinfeksi tungau mange, maka meraka harus diobati secara terpisah.

Pengobatan ditujukan untuk membunuh tungau scabies dan mengkontrol dermatitis, yang akan bertahan untuk beberapa bulan setelah pemberantasan tungau. Selimut dan baju harus dicuci atau dibersihkan atau disingkirkan selama 14 hari dalam kantong plastic. Apabila pyoderma lanjutan ada, maka harus diobati dengan sistemik antibiotic. Kecuali kalau pengobatan ditujukan kepada semua anggota keluarga yang terkena maka infestasi kembali akan terjadi.

Permethrin 5% cream efektif dan aman digunakan dalam terapi manajemen scabies. Pengobatan terdirei dari aplikasi tunggal selama 8-12 jam. Kemudian bisa diulangi dalam kurun 1 minggu.

Pasien yang hamil harus diobati hanya bila mereka punya riwayat penyakit scabies. Permethrin 5% cream bisa diaplikasikan sekali untuk 12 jam atau sulfur 5% – 6% dalam petrolatum diaplikasikan setiap malam selama 3 malam dari tulang selangkang kebawah bisa digunakan. Pasien akan terus mengalami gatal-gatal selama beberapa minggu setelah pengobatan. Bisa digunakan triamcolone 0,1% cream untuk mengobati dermatitis nya.

Kebanyakan gagalnya pengobatan scabies berhubungan dengan salah pengunaan obat atau pengobatan yang tidak tuntas. Dalam kasus ini, ulangi pengobatan dengan permethrin sekali setiap minggu untuk 2 minggu, dengan disertai edukasi mengenai metode dan luas permukaan yang diaplikasikan. Pada orang-orang immunocompetent, pengobatan menggunakan ivermectin pada dosis 200 mcg/kg efektif pada sekitar 75% kasus dengan dosis tunggal dan 95% dari kasus dengan dua kali dosis setiap 2 minggu sekali. Pada immunosuppressed host dan mereka dengan crusted (hyperkeratotic) scabies, kelipatan dosis dari ivermectin ( setiap 2 minggu untuk 2-3 dosis) ditambah terapi topikal dengan permethrin sekali setiap minggu bisa efektif ketika pengobatan secara topikal dan oral terapi gagal dilakukan. Pruritic papules yang berkepanjangan bisa diobat dengan kortikosteroid berkekuatan sedang-tinggi atau dengan intralesional triamcolone acetonide (2,5-5 mg/mL).

Pengobatan scabies harus dilakukan secara menyeluruh pada semua penderita dalam satu lingkungan seperti semua anggota keluarga dalam satu waktu. Hal yang dapat dilakukan adalah mencuci benda-benda yang kontak langsung dengan penderita pada suhu di atas 50 °C atau menggunakan obat topikal.

 

Obat pilihan yang disarankan untuk terapi Scabies adalah Scabimite cream dengan bahan aktif nya permethrin 5%.

a. Nama dagang di Indonesia

Scabimite cream 5% dari Galenium Pharmacia.

b. Bentuk sediaan

Cream 5% x 10 g, 30 g.

c. Farmakologi

Permethrin bekerja dengan cara mengganggu polarisasi dinding sel syaraf parasit yaitu melalui ikatan dengan Natrium. Hal ini memperlambat repolarisasi dinding sel dan akhirnya terjadi paralise parasit. Permethrin dimetabolisir dengan cepat di kulit, hasil metabolisme yang bersifat tidak aktif akan segera diekskresi melalui urine. Permethrin juga diabsorbsi setelah pengaplikasian secara topikal, tetapi kulit juga merupakan sebuah tempat metabolisme dan konjugasi metabolit.

Pengaplikasian 5% permethrin cream biasanya cukup untuk mebuat hilang ektoparasit dan pengurangan dari simptom (biasanya pruritus). Pengaplikasian berusalng dibutuhkan untuk mengobati penyakit scabies diantara komunitas orang.

d. Indikasi

Permethrin cream 5% digunakan untuk terapi investasi Sarcoptes scabiei.

e. Kontra indikasi

Hipersensitif terhadap Permethrin, Pirethroid sintetis atau Pirethrin.

f. Cara pemakaian

Permethrin cream digunakan untuk sekali pemakaian. Oleskan Permethrin cream merata pada seluruh permukaan kulit mulai dari kepala sampai ke jari-jari kaki, terutama daerah belakang telinga, lipatan bokong dan sela-sela jari kaki. Lama pemakaian selama 8-12 jam. Dianjurkan pengolesan pada malam hari kemudian dicuci pada keesokan harinya.

g. Efek samping

Dapat timbul rasa panas seperti terbakar yang ringan, pedih, gatal, eritema, hipestesi serta ruam kulit. Efek samping ini bersifat sementara dan akan menghilang sendiri.

h. Peringatan

· Infestasi Scabies kadang diikuti dengan adanya pruritus, edema dan erythema. Pengobatan dengan Scabimite bisa secara sementara memperburuk kondisi ini.

· Keamanan dan keefektifan pada anak-anak berumur kurang dari 2 bulan belum diumumkan.

· Penggunaan selama kehamilan dan menyusui harus berdasarkan rekomendasi dokter.

i. Keuntungan

· Aman dan efektif untuk digunakan dalam beberapa tingkat scabies.

· Diaplikasikan secara tunggal (sekali pemakaian)

· Non-neurotoxic scabicide.

j. Resiko khusus

· Neonates

Tidak ada penelitian yang secara spesifik dilakukan untuk pengujian keamanan permethrin pada neonates, tetapi Wellcome mengadakan penelitian spesifik tentang penggunaan perm,ethrin pada anak-anak berumur dibawah 12 tahun.

· Ibu menyusui

Perhatian ditujukan pada ibu yang sedang menyusui apabila menggunakan permethrin cream 5%, level dari permethrin dalam air susu setelah diaplikasikan secara topikal diketahui sangat rendah.

· Anak-anak

Permethrin telah diketahui aman dan efektif bila digunakan pada anak-anak.

· Wanita hamil

Walaupun tidak menunjukkan adanya toksisitas reproduksi pada hewan, permethrin diketahui dapat mencapai janin pada tikus. Karena tidak adanya penelitian tentang penggunaan permethrin pada wanita hamil maka penggunaannya pada saat kehamilan hanya diperbolehkan menurut saran dokter. Akan tetapi efek teratogenik tidak akan diantisipasi.

· Orang tua

Tidak ada precaution spesial yang diindikasikan

 

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2007, MIMS Indonesia Petunjuk Konsultasi, Ed. 6, Info Master, Jakarta.

Dollery, C., 1999, Therapeutic Drug, 2nd edition, Harcourt Brace and company limited, Toronto.

Maxine, A. P., McPhee, J. S., 2007, Current Medical Diagnosis and Treatment, Lange, McGrwaw-Hill.

 

TERAPI KOMBINASI UNTUK ERADIKASI HELICOBACTER PYLORI PADA PEPTIC ULCER DISEASE

TERAPI KOMBINASI UNTUK ERADIKASI HELICOBACTER PYLORI

PADA PEPTIC ULCER DISEASE

 

Penulis : Heribertus Rinto Wibowo (078115053)

Mahasiswa Program Studi Apoteker

Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

 

Apakah Anda sering mengalami nyeri pada saluran cerna? Apakah Anda mempunyai riwayat sakit maag? Ataukah Anda sering merasa mual dan muntah serta sering terbangun di malam hari karena mengalami rasa nyeri yang hebat di bagian lambung atau di ulu hati? Jika iya, sebaiknya Anda perlu lebih waspada mulai dari sekarang. Nyeri merupakan suatu pertanda telah terjadi sesuatu yang tidak beres dalam tubuh Anda. Kemungkinan telah terjadi sesuatu di dalam saluran pencernaan Anda. Jangan pernah menganggap remeh rasa nyeri itu sebelum semuanya menjadi terlambat untuk diatasi.

 

Seringkali kita menganggap sakit atau nyeri yang sering terjadi di saluran cerna sebagai sakit maag yang disebabkan oleh asam lambung yang berlebihan. Asam lambung merupakan salah satu faktor yang biasanya menjadi kambing hitam untuk gangguan pada saluran cerna. Akibatnya, setiap ada nyeri pada bagian lambung atau usus, obat yang diberikan adalah obat antasid (anti acid atau anti asam). Hal tersebut memang tidak sepenuhnya salah, tetapi ada faktor lain yang perlu dicurigai sebagai penyebab sakit di saluran pencernaan, terutama di bagian lambung dan usus. Selain asam lambung yang berlebih, stress dan infeksi bakteri Helicobacter pylori juga memicu terjadinya luka pada mukosa lambung dan usus(3). Luka inilah yang dikenal sebagai tukak lambung dan tukak duodenum (peptic ulcer disease)(2). Faktor-faktor penyebab nyeri pada lambung atau usus harus diketahui untuk menentukan terapi pengobatan yang akan dilakukan.

Apa yang menjadi sasaran utama terapi tukak lambung dan tukak duodenum? Sasaran terapi ini adalah bakteri Helicobacter pylori dan asam lambung. Helicobacter pylori ditetapkan sebagai tersangka utama nomor dua sebagai penyebab utama terjadinya tukak lambung dan tukak duodenum setelah asam lambung. Pada tahun 1982, ketika Barry Marshall dan Robin Warren menemukan bakteri ini, stress dan gaya hidup masih dianggap sebagai penyebab utama tukak. Marshall dan Warren terus menerus meneliti bakteri ini dan akhirnya mendapatkan hubungan antara bakteri ini dengan tukak. Helicobacter pylori ditemukan pada lebih dari 90% pasien yang mengalami tukak duodenum dan 70% pasien yang mengalami tukak lambung(4). H.pylori merupakan bakteri Gram negatif yang berbentuk spiral yang membentuk koloni pada bagian bawah lambung (pada bagian pylorus atau pada daerah perbatasan dengan usus)(4). Berkat jasanya menemukan bakteri H.pylori sebagai penyebab baru tukak lambung dan tukak duodenum, Marshall dan Warren mendapatkan hadiah nobel dalam bidang kesehatan (Noble Prize in Physiology or Medicine) pada tahun 2005.

Bagaimana bakteri ini mampu menyebabkan luka pada dinding lambung? Jawabannya terdapat pada enzim urease yang dihasilkan oleh bakteri ini. Enzim ini akan menghasilkan amonia yang bersifat toksik dan merusak pertahanan mukosa lambung(4). Kerusakan mukosa diperparah dengan hadirnya asam lambung berlebih yang juga ikut ambil bagian untuk menyerang pertahanan di daerah ini. Sel-sel mukosa tak mampu menahan serangan dari asam lambung dan akhirnya sel-sel ini pun mati. Regenerasi sel mukosa tak mampu mengimbangi perlawanan asam lambung dan invasi bakteri H.pylori sehingga semakin lama dinding lambung dan usus akan terus menerus terkikis, dan menipis. Luka menjadi semakin melebar dan dalam, sehingga suatu saat akan terjadi pendarahan pada dinding lambung dan usus (bleeding). Selain pendarahan, jika semakin parah akan terbentuk lubang (dinding lambung mengalami perforasi) sehingga makanan di dalam lambung dapat tumpah ke rongga perut.

Tujuan dari terapi adalah menghilangkan atau mengeradikasi bakteri H.pylori dan mengontrol jumlah asam lambung berlebih yang dapat memperparah tukak. Terapi tunggal antibiotik atau terapi tunggal obat penurun kadar asam telah terbukti tidak optimal untuk mengobati tukak yang disebabkan karena infeksi bakteri H.pylori. Oleh sebab itu, diperlukan suatu kombinasi terapi yang terdiri dari antibiotika ditambah dengan obat-obat yang mampu menurunkan kadar asam lambung (misalnya penghambat pompa proton atau antagonis reseptor H2) untuk pasien yang positif H.pylori(4).

Bagaimana kita mengetahui telah terjadi infeksi bakteri H.pylori? Cara untuk mengetahuinya adalah dengan serangkaian tes di laboratorium. Tes yang dilakukan meliputi tes yang invasif yaitu dengan endoskopi; tes napas untuk mengetahui apakah terdapat urea dalam napas; tes serum darah dan tes feses, keduanya untuk mendeteksi antibodi IgG terhadap bakteri ini(2). Antibodi IgG merupakan zat yang dikeluarkan oleh tubuh sebagai mekanisme pertahanan diri jika terdapat infeksi bakteri. Terdeteksinya antibodi IgG dalam serum darah dan feses menunjukkan terdapat infeksi bakteri H.pylori. Walaupun agak memakan biaya, tetapi tes ini sangat penting dilakukan untuk menentukan strategi terapi yang tepat. Jika tidak terdapat bakteri H.pylori maka cukup digunakan obat penekan jumlah asam lambung dan tidak perlu digunakan antibiotika.

Berikut ini adalah obat-obat yang digunakan untuk eradikasi bakteri H.pylori dan mengobati tukak :

ANTIBIOTIK. H.pylori sensitif dengan antibiotik tertentu misalnya amoxicillin (Amoxillin(R)-Pharos, kapsul 500 mg)(1) dan antibiotik golongan makrolida misalnya clarithromycin (Comtro(R)-Combiphar, tablet salut selaput 250 mg) (1). Antibiotik lini kedua yang digunakan yaitu tetrasiklin (Tetrin(R)-Interbat, kapsul 250 mg dan 500 mg) (1), metronidazole (Farizol(R)-Ifars, kaplet 250 mg dan 500 mg) (1), dan ciprofloxacin (Cetafloxo(R)-Soho, kapsul 250 mg dan kaplet 500 mg) (1). Salah satu indikasi semua obat golongan ini adalah untuk mengeradikasi bakteri H.pylori di saluran cerna. Kontraindikasi : pasien yang mengalami hipersensitivitas terhadap antibiotik, ibu hamil dan menyusui (tetrasikiln) (5). Efek samping yang paling umum terjadi dari penggunaan antibiotik adalah permasalahan di saluran pencernaan misalnya mual, muntah dan diare(5). Reaksi alergi dapat terjadi dengan semua antibiotik tetapi yang paling sering terjadi adalah alergi antibiotik golongan penisilin atau sulfa. Reaksi alergi yang terjadi mulai dari bercak merah pada kulit, biasanya jarang, namun parah dan mengancam jiwa karena menyebabkan shock anafilaksis(5).

OBAT PENEKAN JUMLAH ASAM LAMBUNG. Obat-obat golongan ini meliputi penghambat pompa proton (PPI/ proton pump inhibitor); antagonis reseptor H2 (H2RA/ H2 reseptor antagonist); dan antasid. PPI (Proton Pump Inhibitor) bekerja dengan cara menghambat atau memblok langsung tempat yang menghasilkan asam(3). Beberapa macam obat ini yaitu omeprazole (OMZ(R)-Ferron, kapsul 20 mg)(1), esomeprazole (Nexium(R)-AstraZeneca, tablet salut selaput 20 dan 40 mg)(1), lansoprazole (Nufaprazol(R)-Nufarindo, kapsul 30 mg)(1), rabeprazole (Pariet(R)-Eisai, tablet salut enterik 10 mg dan 20 mg)(1), dan pantoprazole (Pantozol(R)-Pharos, tablet 20 dan 40 mg)(1). Efek samping obat golongan ini jarang, meliputi sakit kepala, diare, konstipasi, muntah, dan ruam merah pada kulit(3). Ibu hamil dan menyusui sebaiknya menghindari penggunaan PPI. Antagonis Reseptor H2 mengurangi sekresi asam lambung dengan cara berkompetisi dengan histamin untuk berikatan dengan reseptor H2 pada sel parietal lambung. Bila histamin berikatan dengan reseptor H2, maka akan dihasilkan asam(3). Dengan diblokirnya tempat ikatan antara histamin dan reseptor, digantikan dengan obat-obat ini, maka asam tidak akan dihasilkan. Beberapa macam obat ini yaitu cimetidine (Corsamet(R)-Corsa, tablet 200 mg dan 400 mg) (1), famotidine (Ifamul(R)-Guardian Pharmatama, tablet 20 mg)(1), ranitidine (Tricker(R)-Meprofarm, tablet salut selaput 150 mg)(1), dan nizatidine (Axid(R)-Eli Lily, kapsul 150 mg)(1). Efek samping obat golongan ini yaitu diare, sakit kepala, kantuk, lesu, sakit pada otot, dan konstipasi.

BISMUT. Bismut biasanya dikombinasikan dengan obat penekan jumlah asam pada terapi tukak yang disertai infeksi bakteri H.pylori. Bismut aktif melawan H.pylori dengan konsentrasi hambat minimal yaitu 16 mg/ml (4). Beberapa macam obat yang mengandung bismut yaitu Diotame(R) dan Pepto-Bismol(R), keduanya dalam bentuk tablet kunyah 262 mg (5). Bismut dikontraindikasikan untuk pasien yang hipersensitif terhadap bismut.

Berikut ini adalah terapi kombinasi beserta dosis obat yang direkomendasikan dan telah disetujui oleh Food And Drugs Association (FDA) untuk melawan bakteri H.pylori dan menjaga agar tidak terjadi sekresi asam berlebih yang dapat memperparah tukak (4):

PPIAC. Kombinasi ini terdiri dari PPI, amoksisilin, dan clarithromycin yang mempunyai keefektifan 90-95% dalam eradikasi H.pylori. Ketika menggunakan terapi ini, PPI diminum dua kali sehari sebelum makan selama 14 hari; amoksisilin 1000 mg dua kali sehari bersama dengan makanan selama 14 hari; dan clarithromycin 500 mg dua kali sehari diminum bersama dengan makanan selama 14 hari. FDA sudah membuktikan bahwa terapi selama 10 hari juga sudah efektif. Terapi 7 hari tidak disarankan oleh FDA karena kurang efektif dibandingkan terapi selama 10-14 hari. Antagonis reseptor H2 sebaiknya tidak ditambahkan pada kombinasi yang menggunakan PPI.

PPIMC. Kombinasi ini terdiri dari PPI, metronidazole, dan clarithromycin. Metronidazole 500 mg dapat digunakan sebagai pengganti amoksisilin karena memiliki daya eradikasi yang sama. Efektivitas kombinasi ini yaitu antara 88-95% untuk memeberantas bakteri H.pylori.

BMT-H2. Kombinasi ini terdiri dari bismut, metronidazole, dan terasiklin, ditambah dengan antagonis reseptor H2. Terapi ini agak rumit karena menggunakan empat macam obat yang diberikan empat kali sehari selama dua minggu dan masih dilanjutkan terapi dengan obat antagonis reseptor H2 selama 16 hari. Bismut yang diberikan adalah bismuth salisilat 262 mg, dua tablet empat kali sehari dengan cara dikunyah selama 14 hari diminum bersama makanan dan sebelum tidur. Metronidazole 250 mg diminum empat kali sehari selama dua minggu diminum bersama makanan dan sebelum tidur. Tetrasiklin 500 mg diberikan empat kali sehari selama 14 hari diminum bersama makanan dan sebelum tidur. Antagonis reseptor H2 diberikan selama 30 hari untuk meningkatkan kesembuhan. PPI yang diminum dua kali sehari dapat digunakan untuk mengganti antagonis reseptor H2.

RBC-C. Kombinasi ini terdiri dari ranitidine, bismut citrat, dan clarithromycin. Ranitidine 150 mg ditambah bismut sitrat 240 mg diminum dua kali sehari selama empat minggu dikombinasikan dengan clarithromycin 500 mg diminum tiga kali sehari untuk dua minggu pertama. Kombinasi ini kurang efektif dibanding kombinasi lainnya di atas. Selain itu, waktu pemberiannya juga agak merepotkan, durasinya lama (empat minggu), ditambah lagi hanya satu antibiotik yang digunakan. RBC merupakan pilihan untuk pasien yang alergi terhadap penisilin.

 

Terapi kombinasi tersebut akan mampu membunuh bakteri H.pylori yang menyebabkan tukak dan memperparah tukak. Mengapa kita harus waspada terhadap bakteri H.pylori? Bakteri ini banyak ditemukan di negara-negara berkembang, dan angka kejadian tukak karena infeksi bakteri ini sangat tinggi di negara berkembang yang padat penduduknya, ekonomi lemah dan sanitasi lingkungannya yang buruk. Kita tinggal di Indonesia, negara yang sanitasi lingkungannya cukup amburadul. Dengan kata lain, kita pun akan mudah terserang infeksi bakteri ini. Satu-satunya cara adalah dengan tetap menjaga kebersihan lingkungan dan perubahan gaya hidup dan pola makan Anda. Jangan abaikan rasa nyeri di dalam tubuh Anda sebelum terjadi sesuatu yang lebih parah dalam tubuh Anda. Jangan sampai masa tua Anda menjadi sengsara karena serangan asam lambung yang berlebihan dan ulah jahat bakteri H.pylori yang tinggal dengan enaknya, membentuk keluarga bakteri yang hidup dengan nyaman di dalam saluran cerna Anda. Bukan bermaksud menakut-nakuti, tetapi harga yang harus dibayar di waktu kemudian bisa tak terhingga mahalnya jika semuanya sudah terlambat untuk diatasi. Obati sebelum terlambat!

 

PUSTAKA

1). Anonim, 2006, MIMS Indonesia Petunjuk Konsultasi 2006/2007, Edisi 6, Info Master, Jakarta.

2). DiPiro, T.J., Talbert, R.L., Yee, G.C., Matzke, G.R., Wells, B.G., Pasey, l.M., 2005, Pharmacotherapy : A Pathophysiological Approach, 6th Ed., The McGraw-Hill Inc., USA.

3). Hardman, J.G., Limbird, L.E., Molinof, P.B., Ruddon, R.w., 2006, The Pharmacological Basic of Therapeutics, 9th Ed., The McGraw-Hill Companies Inc., USA.

4). Kimble, M.A., Young, L.E., Kradjan, W.A., Guglielmo, B.J., Alldredge, B.K., Corelli, R.L., 2005, Applied Therapeutics : The Clinical Use of Drugs, 8th Ed., Lippincot Williams & Wilkins, USA.

5). Lacy, C.F., Armstrong, L.L., Goldman, M.P., dan Lance, L.L., Drug Information Handbook, 14th Ed., Lexicomp Inc., USA.

 

PENGGUNAAN DIURETIK (TIAZID) PADA PENGOBATAN BATU GINJAL

PENGGUNAAN DIURETIK (TIAZID) PADA PENGOBATAN BATU GINJAL

 

Tirza Ixora Veasilia, S.Farm.

(07 8115 066)

Batu ginjal adalah batu yang terdapat dalam saluran urinaria, khusunya di dalam ginjal. Berdasarkan penyebabnya, batu ginjal dibedakan menjadi empat jenis yaitu batu kalsium oksalat, batu asam urat, batu sistin dan batu strufit. Batu ginjal yang sering terjadi adalah batu kalsium oksalat, dimana batu yang ada terbentuk karena urin menjadi jenuh oleh kalsium oksalat. Terjadinya infeksi atau buang air kecil kurang teratur juga dapat mempengaruhi pembentukan batu ginjal. Terkadang munculnya batu ginjal terjadi di saat kadar kalsium dalam darah meninggi secara tidak normal, juga jika kelenjar paratiroid kelebihan memproduksi air seni. Batu tersebut dapat tinggal di ginjal atau hancur dan kemudian keluar melalui saluran urinaria. Batu yang berukuran kecil (kurang dari 4 mm) dapat dengan mudah keluar dari saluran urinaria tanpa terasa sakit. Sedangkan batu yang berukuran besar akan tertahan di ginjal maupun kandung kemih, dan akan menimbulkan rasa sakit. Sekitar 90% batu ginjal dapat keluar melalui saluran urinaria secara spontan dalam waktu tiga sampai enam minggu, dengan bantuan banyak air putih (10 – 12 gelas tiap hari).

Batu ginjal lebih banyak terjadi pada pria. Sekitar 80% pria berusia 20 – 50 tahun diketahui menderita batu ginjal. Pada wanita, batu ginjal umumnya terjadi pada fase-fase akhir kehamilan. Sedangkan pada anak, batu ginjal umumnya disebabkan oleh faktor genetik (keturunan). Seseorang yang memiliki keluarga dengan riwayat batu ginjal mempunyai resiko paling besar untuk terkena batu ginjal. Makanan tertentu juga dapat meningkatkan resiko batu ginjal. Hal lain yang menjadi faktor resiko terjadinya batu ginjal adalah stress, overweight, dan posisi tidur yang selalu tetap. Beberapa penyakit juga menjadi faktor resiko batu ginjal, antara lain gout (reumatik), hipertensi (tekanan darah tinggi), infeksi saluran kencing, dan inflammatory bowel diseases. Selain penyakit, obat-obatan seperti obat-obat AIDS (Indinavir, Zidovudine, Lamivudine, antibiotik kotrimoksazol), obat-obat hormonal, dan antasid (penggunaan jangka panjang), juga dapat menjadi faktor resiko batu ginjal.

Penderita batu ginjal umumnya merasakan nyeri pada bagian pinggang, saluran kencing, perut bagian bawah (daerah sekitar bawah pusar), sakit saat berkemih (anyang-anyangèn – bahasa jawa) dan kehilangan nafsu makan. Pemeriksaan batu ginjal dapat dilakukan melalui beberapa cara, antara lain ultrasound, CT-scans, X-ray dan urin tampung 24 jam untuk memastikan jenis batu penyebab dan bagaiman strategi terapinya.

Terapi batu ginjal dapat dilakukan dengan mengubah pola makan, penggunaan obat-obatan seperti diuretik, kalium sitrat maupun fosfat serta pembedahan. Batu ginjal tidak dapat larut hanya dengan mengatur asupan makanan dan minum obat tertentu. Obat-obatan yang digunakan hanya akan mencegah agar batu tersebut tidak bertambah besar dan membantu pengeluaran batu ginjal secara spontan. Untuk itu dapat dipilih obat-obatan yang dapat menurunkan kadar kalsium dalam urin dan meningkatkan ferkuensi buang air kecil (diuresis). Salah satu obat yang sering digunakan dalam pengobatan batu ginjal adalah diuretik. Diuretik umumnya digunakan pada pengobatan hipertensi dan gangguan lain yang berhubungan dengan pengeluaran cairan dan natrium dari tubuh. Diuretik lemah (golongan tiazid) akan meningkatkan reabsorbsi kalsium di nefron, mencegah pembentukan batu ginjal dengan mengurangi jumlah kalsium di urin. Diuretik juga meningkatkan ekskresi natrium, klorida dan sejumlah air dengan menghambat reabsorbsinya. Hal ini menyebabkan meningkatnya frekuensi pengeluaran urin (beser – bahasa jawa). Tiazid digunakan jika terapi non farmakologis, yaitu mengubah pola makan, yang dilakukan tidak dapat membantu. Penggunaan tiazid akan menurunkan ukuran atau memperkecil ukuran batu ginjal hingga kurang dari setengahnya. Efek samping dari obat-obatan golongan ini adalah hipositraturia (penurunan kadar sitrat dalam darah), memperbesar frekuensi buang air kecil, disfungsi seksual (terutama pada pria), meningkatkan kadar trigliserid dalam darah, serta memperburuk gout dan diabetes. Yang termasuk obat-obat golongan ini antara lain hydrochlorothiazide (HCT), chlorothiazide, chlorthalidone, methychlotiazide, dan polythiazide. Diuretic tiazid yang umum digunakan sebagai pengobatan batu ginjal adalah klortalidon. Di pasaran, klortalidon tersedia dalam bentuk sediaan tablet dengan berbagai merk yaitu Hygroton (Novartis), Tenoret 50* dan Teroretic (Astra Zeneca). Dosis awal klortiadon untuk dewasa yang digunakan adalah 50 – 100 mg/hari dengan dosis maksimal 200 mg/hari. Dosis untuk anak (tidak direkomendasikan) yaitu 2 mg/kgBB/kali, tiga kali seminggu atau 2 mg/kgBB/hari, sedangkan dosis awal untuk lanjut usia (geriatri) adalah 12,5 – 25 mg/hari. Penggunaan diuretik golongan tiazid tidak dianjurkan pada anak-anak dan lanjut usia serta beresiko tinggi pada wanita hamil dan menyusui. Penggunaan tiazid pada geriatri diketahui dapat menyebabkan pusing dan hipositraturia yang parah. Pada wanita hamil, penggunaan tiazid dapat menyebabkan jaundice, pendarahan dan rendahnya kadar kalium pada bayi yang akan dilahirkan. Tiazid dapat melewati sawar susu, sehingga akan mempengaruhi kualitas ASI yang diminum bayi. Oleh karena itu penggunaan tiazid pada bulan-bulan pertama menyusui harus dihindari.

Bagaimanapun, mencegah lebih baik daripada mengobati. Beberapa cara dapat dilakukan untuk mencegah terbentuknya batu ginjal. Antara lain minum banyak air putih, kurang lebih 12 gelas dalam satu hari. Selain air putih, jahe, lemon, jeruk nipis dan jus buah juga dapat dikonsumsi sebagai upaya pencegahan. Namun demikian, air putih tetaplah yang terbaik. Mengkonsumsi makanan berserat seperti gandum, nasi, kedelai serta minyak ikan dapat mencegah resiko terkena batu ginjal. Batasi konsumsi kopi, teh dan cola (1 sampai 2 gelas per hari) karena kafein akan menyebabkan tubuh kehilangan cairan dengan cepat. Batasi juga konsumsi garam karena akan menurunkan efek tiazid. Jika batu ginjal yang ada terbentuk dari kalsium oksalat, perlu dibatai konsumsi makanan dengan kandungan oksalat tinggi seperti lobak, bayam dan coklat.

 

 

PUSTAKA

Anonim, 2003, Kidney Stones, http://www.healthandage.com/html/well_connected/pdf/doc81.pdf. Diakses pada tanggal 14 Desember 2007.

Anonim, 2005, Kidney Stone, http://www.fccj.org/campuses/north/lac/endocrine_system/kidney.html. Diakses pada tanggal 21 Desember 2007.

Anonim, 2007, Adam Healthcare: Kidney Stone-Risk Factor, www.about.com. Diakses pada tanggal 14 Desember 2007.Anonim, 2007, Fact Sheet: Kidney Stone, www.betterhealth.vic.gov.au. Diakses pada tanggal 21 Desember 2007.

Anonim, 2007, Adam Healthcare: Kidney Stone-Medication, www.about.com. Diakses pada tanggal 14 Desember 2007.

Anonim, 2007, What I Need To Know About Kidney Stone, www.kidney.niddk.nih.gov. Diakses pada tanggal 14 Desember 2007.

Anonim, 2007, Thiazides For Kidney Stone, http://www.webmd.com/kidney-stones/thiazides-for-kidney-stones#hw204647. Diakses pada tanggal 21 Desember 2007.

Lacy, C.F., Armstrong, L.L., Goldman, M.P., and Lance, L.L., 2006, Drug Information Handbook, 14th edition, 333, Lexi-Comp Inc., United States.

Sunaryo, 1995, Diuretik dan Antidiuretik, dalam Ganiswara, S.G., Farmakologi dan Terapi, edisi 4, 385-386, Gaya Baru, Jakarta.

Wasserstein, Alan.G., 2004, Nephrolithiasis, http://www.uphs.upenn.edu/renal/renal%20curr%20pdfs/nephrolithiasis.pdf. Diakses pada tanggal 14 Desember 2007.

 

 

 

 

 

 

 

 

Penggunaan Levodopa dan Carbidopa pada Terapi Parkinson’s Desease

Penggunaan Levodopa dan Carbidopa pada Terapi Parkinson’s Desease

I Dewa Gede Kusuma Jaya, S.Farm.

078115014

Parkinson merupakan gangguan neurologik gerakan otot bersifat progresif, dengan tanda-tanda progresif, dengan tanda-tanda tremor, kaku otot, bradykinesia (lambat dalam memulai dan melakukan gerakan), kelainan posisi tubuh dan cara-cara berjalan. Penyebab penyakit Parkinson belum diketahui secara pasti.

Parkinson desease merupakan suatu gangguan yang disebabkan oleh kematian sekelompok sel-sel otak yang bekerja bersama neurotransmitter dopamin. Penyakit ini ada hubungannya dengan penurunan aktivitas inhibitor neuron dopaminergik dalam substansi nigra dan korpus stratum yaitu bagian dari sistem ganglia basalis otak yang berfungsi untuk mengatur gerakan. Banyak gejala Parkinson memperlihatkan ketidakseimbangan antara neuron eksitatif kolinergik dan neuron inhibitory dopaminergik yang menurun.

A. Sasaran, Tujuan, dan Strategi Terapi

Sasaran terapi penyakit parkinson yaitu neuron dopaminergik. Tujuannya adalah untuk mengembalikan dopamin dalam ganglia basalis dan melawan efek eksitasi neuron kolinergik, sehingga terjadi kembali keseimbangan yang baik antara dopamin/asetilkolin. Strategi terapi penyakit Parkinson terdiri dari terapi pembedahan dan terapi farmakologis.

Teknik pembedahan yang paling efektif digunakan adalah dengan Deep Brain Stimulation (DBS) pada substalamik nukleus (STN) yang menurunkan aliran keluar dari substalamik nukleus dan juga mengurangi input pada thalamus. STN DBS secara khusus digunakan untuk tremor, kelainan posisi tubuh, dan cara berjalan. Thalamic DBS dan thalamotomy (menghilangkan lesi pada thalamus) dapat mengurangi tremor. Pallidotomy (menghilangkan lesi pada globus pallidus interna (GPi)) dan GPi DBS dapat membantu dalam dyskinesia  (pergerakan tidak normal misalnya kepala, tangan, dan kaki bergoyang saeperti menari ) namun tidak sepenuhnya membantu untuk bradykinesia . Secara umum teknik pembedahan hanya perlu jika pasien masih belum bisa berjalan sendiri walaupun telah menerima obat dengan dosis tinggi dan biasanya berlaku setelah sekurang-kurangnya lima tahun.

Terapi farmakologi pada penyakit parkinson dapat menggunakan Levodopa, Bromokriptin, Amantadin, Carbidopa, Deprenil (selegiline), dan obat-obat antimuskarinik.

Levodopa adalah prekusor metabolik dopamin. Obat ini mengembalikan kadar dopamin dalam substansia nigra yang atrofik pada penyakit parkinson. Pada awal penyakit, jumlah neuron dopaminergik dalam substansia nigra (biasanya 20% dari normal) yang tersisa, cukup untuk konversi levodopa ke dopamin. Dengan demikian, pada pasien baru respon terapi terhadap levodopa konsisten dan pasien jarang mengeluh bahwa efek obat mengecil. Namun, semakin lama jumlah neuron dan sel-sel yang mampu mengambil levodopa yang diberikan semakin berkurang, semakin sedikit pula yang mampu mengubahnya menjadi dopamin untuk disimpan atau dikeluarkan lebih lanjut. Akibatnya terjadi fluktuasi dalam pengendalian motorik. Efek levodopa dalam SSP dapat diperkuat oleh pemberian bersama carbidopa, suatu inhibitor dekarboksilase dopamin yang tidak menembus sawar otak darah. Carbidopa mengurangi metabolisme levodopa dalam saluran pencernaan dan jaringan perifer sehingga dapat meningkatkan ketersediaan levodopa di SSP. Carbidopa menurunkan dosis levodopa yang diperlukan sampai 4-5 kali dan menurunkan efek samping dopamin yang terbentuk di perifer. Kesembuhan dengan levodopa hanya bersifat simtomatik dan berlangsung selama obat berada dalam tubuh.

B. Obat Pilihan

Nama Generik

Levodopa dan Carbidopa

Nama Dagang

ParcopaTM, Sinemet

Indikasi

Parkinsonisme (bukan karena obat)

Kontra Indikasi

Galukoma sudut sempit, penyakit psikiatrik berat, kehamilan, breast-feeding

Bentuk Sediaan, Dosis, dan Aturan Pakai

Bentuk sediaan:

Tablet immediet release (Sinemet)

10/100: Carbidopa 10 mg dan levodopa 100 mg.

25/100: Carbidopa 25 mg dan levodopa 100 mg.

25/250: Carbidopa 25 mg dan levodopa 250 mg.

Tablet immediet release (tablet kunyah) (ParcopaTM)

10/100: Carbidopa 10 mg dan levodopa 100 mg (mengandung fenilalanin 3.4 mg /tablet; rasa mint).

25/100: Carbidopa 25 mg dan levodopa 100 mg (mengandung fenilalanin 3.4 mg /tablet; rasa mint).

25/250: Carbidopa 25 mg dan levodopa 250 mg (mengandung fenilalanin 8.4 mg /tablet; rasa mint).

Tablet sustained release (Sinemet CR)

Carbidopa 25 mg dan levodopa 100 mg.

Carbidopa 50 mg dan levodopa 200 mg.

Dosis dan aturan pakai:

Dosis awal 125-500 mg/hari dalam dosis terbagi setelah makan, dosis ditingkatkan sesuai dengan respon (tetapi jarang digunakan sendiri)

Tablet immediet release:

Dosis awal: carbidopa 25 mg/levodopa 100 mg 3 kali sehari

Dosis penyesuaian tablet dengan kekuatan lain dapat diganti menurut kebutuhan levodopa/carbidopa individu, ditingkatkan dengan 1 tablet pada hari yang lain jika diperlukan, kecuali ketika menggunakan tablet Carbidopa 25 mg dan levodopa 250 mg dimana peningkatan sebaiknya ½-1 tablet tiap hari. Penggunaan lebih dari 1 kekuatan dosis atau dosis 4 kali sehari mungkin dapat dilakukan (maksimum: 8 tablet tiap kekuatan per hari atau carbidopa 200 mg dan levodopa 2000 mg)

Tablet sustained release:

Dosis awal: carbidopa 50 mg/ levodopa 200mg 2 kali sehari, interval tidak kurang dari 6 jam

Dosis penyesuaian: dosis dapat diatur tiap 3 hari; interval sebaiknya antara 4-6 jam selama pasien terjaga (tidak tidur). Maksimum 8 tablet/hari.

Efek Samping

a. Efek perifer : anoreksia, nausea dan muntah karena stimulasi pusat muntah. Takikardi dan ekstrasistole ventrikular disebabkan oleh gangguan dopamin pada jantung. Hipertensi juga dapat terjadi. Kerja adrenergik pada iris menyebabkan midriasis, diskrasia darah dan reaksi test Coombs positif. Ludah dan urin berwarna agak coklat karena pigmen melanin yang dihasilkan dari oksidasi ketokalamin.

b. Efek SSP : Halusinasi visual dan pendengaran dan gerakan dibawah pengaruh kehendak yang abnormal dapat terjadi (diskinesia). Efek SSP ini berlawanan dengan gejala parkinson dan memperlihatkan aktivitas dopamin berlebihan pada ganglia basalis. Levodova juga dapat menyebabkan perubahan pikiran, depresi dan ansietas.

Resiko Khusus

Faktor resiko C pada kehamilan

Penelitian pada hewan uji menunjukan adanya efek teratogenik pada kehamilan yang disebabkan oleh penggunaan levodopa dan carbidopa, serta ditemukan beberapa kasus pada plasenta manusia.

Daftar Pustaka

Anonim, 2006, British National Formulary, edisi 52, hal 254, British Medical Association, Royal Pharmaceutical Society of Great Britain, London.

Dipiro, 2005, Pharmacotherapy, A Pathophysiologic Approach, sixth edition, 1075-1084, McGraw-Hill.

Lacy, C.F., Amstrong, L.L., Goldman, M.P., Lance, L.L., 2006, Drug Information Handbook, 14th edition, hal 921-922, Lexi Comp Ine, Canada

Neal, Michael J., 2002, Medical Pharmacology at a Glance, fourth edition, 58-59, Blackwell Science Ltd.

Penggunaan hipnotikum pada insomnia

Rumbita Febria Rukmi, S.Farm.

07 8115 027 

Kebutuhan akan tidur dapat dianggap sebagai suatu perlindungan dari organisme untuk menghindari pengaruh yang merugikan tubuh karena kurang tidur. Tidur yang baik, cukup dalam dan lama, adalah mutlak untuk regenerasi sel-sel tubuh dan memungkinkan pelaksaaan aktivitas pada siang hari dengan baik. (Tjay and Rahardja, 2002).

DEFINISI

Insomnia merupakan salah satu penyakit yang sering dikeluhkan oleh pasien selain headache (sakit kepala) dan common cold. Insomnia bukan penyakit yang spesifik, tetapi merupakan penyakit dengan bermacam-macam penyebab dan keluhan. Pasien mungkin mengeluhkan kesulitan memulai tidur, sering terjaga, tidur terlalu singkat, atau tidur yang tidak membuat tubuh menjadi segar (Crismon and Canales, 2004). Jadi bisa dikatakan Insomnia adalah suatu gejala/symptom yang tidak dapat didefinisikan karena tidak memiliki criteria secara tepat/pasti. Secara umum insomnia dapat didefinisikan sebagai suatu keadaan sulit tidur/tidak bisa tidur.

KLASIFIKASI

Insomnia dapat dibedakan menjadi insomnia yang sifatnya sementara, jangka pendek ataupun kronis (jangka panjang). Insomnia yang sifatnya sementara berlangsung kurang dari 1 minggu dan ini dapat hilang dengan sendirinya. Sedangkan insomnia jangka pendek berlangsung kurang lebih 1– 3 minggu. Dan jika tidak ditangani dengan tepat maka insomnia jangka pendek dapat berkembang menjadi insomnia yang sifatnya kronis (jangka panjang). Untuk insomnia kronis (jangka panjang) berlangsung lebih dari 3 minggu sampai tahunan (Crismon and Canales, 2004).

TANDA DAN GEJALA

Pasien insomnia memiliki keluhan seperti sulit tidur, sering terjaga, bangun terlalu pagi dan kesulitan tidur kembali, tidur yang buruk, aktifitas tidur yang terganggu karena mimpi-mimpi yang tidak biasa dan mengganggu, mudah kaget, mudah merasa jengkel dan tersinggung/sensitive, murung/muram/sedih, memiliki masalah ingatan, pernafasan dan denyut jantung tidak normal, mata merah, dan badan lesu /tidak fit.

ETIOLOGI/PENYEBAB

Insomnia atau tidak bisa tidur dapat diakibatkan oleh banyak gangguan fisik, misalnya batuk, rasa nyeri (rematik, encok, migrain, restless legs, keseleo, dsb). Yang sangat penting pula adalah gangguan kejiwaan, seperti emosi, ketegangan, kecemasan, atau depresi (Tjay and Rahardja, 2002).

PENANGANAN INSOMNIA

Ø Tujuan Terapi.

Tujuan terapinya supaya pasien yang menderita insomnia dapat kembali tidur normal, dapat beristirahat tanpa harus terbangun berulang kali, dan supaya pada saat siang hari tidak mengalami rasa kantuk dan kelelahan akibat kesulitan tidur pada malam harinya.

Ø Sasaran Terapi.

Sasaran terapinya meliputi gejala insomnia dan pola hidup yang salah.

Ø Strategi terapi.

Strategi terapinya yaitu mengatasi/menghindari factor penyebab insomnia serta meningkatkan kualitas pola hidup.

Ø Penatalaksanaan.

a. Non-FarmakoterapiPerlu diperbaiki cara hidup yang keliru, misalkan melakukan kegiatan psikis yang melelahkan sebelum tidur. Dianjurkan pula untuk melakukan gerak badan secara teratur, jangan merokok dan minum kopi atau alcohol pada malam hari, karena dapat mengganggu pola tidur. Gerak-jalan, melakukan kegiatan kegiatan yang rileks, mandi air panas, minum segelas susu hangat dengan cereal sebelum tidur, ternyata dapat mempermudah dan memperdalam tidur yang normal. Selain itu juga dianjurkan untuk memperbaiki suasana ruang tidur seperti kualitas kasur dan bantal dipilih yang senyaman mungkin, ruangan tidak berisik, ventilasi udara cukup dan mengembangkan kebiasaan tidur yang tetap dengan waktu tidur tertentu setiap malam (Tjay and Rahardja, 2002). Pasien yang menderita insomnia sebelum melakukan terapi farmakologi (menggunakan obat), sebaiknya melakukan prinsip-prinsip tidur yang sehat, yaitu ikuti pola tidur yang tetap : pergi tidur dan bangun kira-kira pada waktu yang sama setiap hari, buatlah kamar tidur yang nyaman untuk tidur (hindari perbedaan temperatur, kegaduhan/keributan, dan cahaya yang terlalu terang), pastikan tempat tidur nyaman, lakukan aktivitas santai sebelum waktu tidur, olahraga teratur tetapi jangan larut malam, gunakan kamar tidur untuk tidur dan aktivitas seksual saja dan tidak sebagai tempat kerja, ruang bermain atau hal yang lain, jika tegang, lakukan latihan relaksasi, jika lapar, makan snack ringan, tapi hindari makanan atau snack dalam jumlah besar sesaat sebelum tidur, kurangi tidur siang, hindari penggunaan alcohol/nikotin pada larut malam, jangan gelisah apabila tidak bisa tidur, tinggalkan kamar tidur dan lakukan aktivitas santai selama 20-30 menit (Crismon and Canales, 2004).b. FarmakoterapiØ BenzodiazepinHipnotika atau obat tidur adalah zat-zat yang dalam dosis terapi diperuntukkan meningkatkan keinginan faali untuk tidur. Lazimnya obat ini diberikan pada malam hari. Bilama zat-zat ini diberikan pada siang hari dalam dosis yang lebih rendah untuk tujuan menenangkan , maka dinamakan sedativa (obat-obat pereda). Oleh karena itu tidak ada perbedaan yang tajam antara kedua kelompok obat ini. Sedativa berfungsi menurunkan aktivitas, mengurangi ketegangan, dan menenangkan penggunanya. Sedangkan hipnotika menimbulkan rasa kantuk, mempercepat tidur, dan sepanjang malam mempertahankan keadaan tidur yang menyerupai tidur alamiah. Hipnotikum yang ideal sebetulnya tidak ada, tetapi obat-obat yang paling layak digunakan adalah suatu obat dari kelompok benzodiazepin (Tjay and Rahardja, 2002).Benzodiazepin hendaknya jangan diberikan pada anak-anak untuk periode panjang, karena dapat mempengaruhi perkembangan psikisnya. Obat ini efektif untuk mempercepat tidur, memperpanjang waktu tidur dengan mengurangi frekuensi terbangun serta memperbaiki kualitas (dalamnya) tidur. Selain itu, obat tersebut memiliki keberatan-keberatan yang paling ringan dibandingkan hipnotika. Obat-obatan ini pada umumnya kini dianggap sebagai obat tidur pilihan pertama karena toksisitasnya dan efek sampingnya yang relatif paling ringan. (Tjay and Rahardja, 2002).1. Nama generic : EstazolamNama dagang di Indonesia : Esilgan

Bentuk Sediaan : Tablet

Dosis : 1-2 mg/malam

Aturan pakai : Diberikan sewaktu hendak tidur. Dapat diberikan bersama atau tanpa makanan.

Indikasi : Semua gangguan tidur karena gugup, cemas, tegang, psikosis

Kontraindikasi : Miastenia Gravis, pasien yang fungsi pernafasannya sangat tertekan, pasien yanglemah atau lanjut usia.

Efek samping : Letih, lesu, mengantuk, dimana mengantuk dapat dikurangi jika obat diberikan segera sesuadah makan. Efek samping lainnya yaitu pusing, nyeri kepala, mulut kering, rasa pahit di mulut, gangguan lambung usus, dan penglihatan berganda karena otot mata mengendur. Pada penggunaan yang lama dapat menyebabkan rage reaction (perilaku menyerang dan ganas)

Resiko khusus : Untuk wanita hamil. Estazolam termasuk kategori X. Maksudnya, Studi terhadap binatang percobaan atau manusia telah memperlihatkan adanya abnormalitasjanin atau terdapat bukti adanya risiko pada janin, dan risiko penggunaan obat ini jelas melebihi manfaat yang diperoleh. Obat dalam kategori ini dikontraindikasikan pada wanita yang sedang atau memiliki kemungkinan hamil.

2. Nama generic : Triazolam

Nama dagang di Indonesia : Halcion

Bentuk Sediaan : Tablet

Dosis : 0,125 mg dan 0,25 mg

Aturan pakai : Diberikan sewaktu hendak tidur. Dapat diberikan bersama atau tanpa makanan.

Indikasi : Insomnia ringan dan berjangka pendek dan sebagai pengobatan insomnia berjangka panjang

Kontraindikasi : Hipersensitivitas, wanita hamil

Efek Samping : Mengantuk, sakit kepala/pusing, gelisah, kehilangan keseimbangan, mual, muntah.

Resiko khusus : Untuk wanita hamil. Triazolam termasuk kategori X. Maksudnya, Studi terhadap binatang percobaan atau manusia telah memperlihatkan adanya abnormalitasjanin atau terdapat bukti adanya risiko pada janin, dan risiko penggunaan obat ini jelas melebihi manfaat yang diperoleh. Obat dalam kategori ini dikontraindikasikan pada wanita yang sedang atau memiliki kemungkinan hamil.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2007, Informasi Spesialite Obat Indonesia (ISO), Vol 42, ISFI, Jakarta

Crismon, M.L., dan Canales, P.L, 2004, Insomnia dalam Handbook of Nonprescription Drug, 12 th edition, APHA, Washington DC.

Tjay, T.H dan Rahardja, K., 2002, Obat-Obat Penting, Edisi 5, PT. Elex Media Komputindo, Jakarta.                   

Lacy, C.F., Amstrong, L.L., Goldman, M.P., Lance, L.L., 2006, Drug Information Handbook, 14th edition,  Lexi Comp Ine, Canada

Penggunaan Opioid Antagonis pada Nyeri

Penggunaan Opioid Antagonis pada Nyeri

Galuh Nindya Tyas Tusthi, S.Farm.

078115013

Nyeri merupakan respon langsung terhadap kejadian/ peristiwa yang tidak menyenangkan yang berhubungan dengan kerusakan jaringan, seperti, luka, inflamasi, atau kanker. Nyeri juga dapat dikatakan sebagai perasaan sensoris dan emosional yang tidak enak dan yang berkaitan dengan (ancaman) kerusakan jaringan.  Nyeri merupakan suatu perasaan pribadi dimana ambang toleransi nyeri berbeda-beda bagi setiap orang. Ambang nyeri didefinisikan sebagai tingkat (level) dimana nyeri dirasakan untuk pertama kali.

A.       Sasaran, Tujuan, dan Strategi Terapi

Sasaran terapi nyeri dengan menggunakan antagonis opioid yaitu reseptor opioid, dengan cara berikatan dengan reseptor opioid untuk menghalangi pelepasan neurotransmiter sehingga respon nyeri tidak muncul. Tujuannya adalah untuk mengobati nyeri tersebut dengan cara menghilangkan gejala yang muncul. Strategi terapi untuk nyeri terdiri dari terapi non farmakologis dan terapi farmakologis.

Terapi non farmakologis untuk nyeri dapat berupa terapi stimulasi atau dengan intervensi psikologi. Terapi stimulasi dilakukan dengan meggunakan Transcutaneus Electrical Nerve Stimulation (TENS) yang telah terbukti berhasil dalam terapi nyeri akibat pembedahan atau sesudah operasi, traumatik, nyeri oral-facial. Walaupun efek samping akibat pengguanaan obat-obat opioid dapat dicegah dengan metode ini, namun metode ini kurang dapat diterima untuk pengobatan nyeri akut. Intervensi psikologi jarang digunakan secara luas untuk terapi nyeri. Intervensi sederhana seperti memberi informasi kepada pasien mengenai sensasi rasa yang akan muncul, dapat mengurangi stress yang dialami pasien setelah tindakan pengobatan (misal setelah operasi). Teknik psikologi lain yang berhasil dilakukan untuk terapi nyeri antara lain dengan latihan relaksasi, melukis, atau dengan menghipnotis pasien.

Sedangkan terapi farmakologis untuk nyeri yaitu dapat menggunakan obat-obat analgesik baik non-opioid (NSAID) analgesik (golongan salisilat, parasetamol, fenamat, asam piranokarboksilat, asam propionat, asam karboksil pirolizin, serta inhibitor COX-2) maupun opioid analgesik (opioid agonis dan opioid antagonis).

Opioid merupakan senyawa alami atau sintetik yang menghasilkan efek seperti morfin. Semua obat dalam kategori ini bekerja dengan jalan mengikat reseptor opioid spesifik pada susunan saraf pusat untuk meghasilkan efek yang meniru efek neurotransmiter peptida endogen, opiopeptin (misal endorfin dan enkefalin). Opioid analgesik penggunaan utamanya adalah untuk menghilangkan nyeri yang dalam dan ansietas yang menyertainya, baik karena operasi atau sebagai akibat luka atau suatu penyakit misal kanker.

Reseptor opioid secara luas terdistribusi dalam sistem saraf pusat yang dikelompokkan menjdi 3 tipe utama yaitu μ-, κ-, dan σ-reseptor. μ-reseptor memiliki jumlah yang paling banyak di otak dan merupakan reseptor yang paling berinteraksi dengan opioid analgesik untuk mengasilkan efek analgesik. Sedangkan κ- dan σ-reseptor menunjukkan selektivitas terhahap enkefalin dan dinorfin secara respektif. Aktivasi κ-reseptor juga dapat menghasilkan efek analgesik, namun berlawanan dengan  μ-agonis, yang dapat menyebabkan euforia. Beberapa opioid analgesik mengahsilkan efek stimulan dan psikomotorik dengan beraksi pada σ-reseptor. Aktivasi pada μ- dan σ-reseptor dapat menyebabkan hiperpolarisasi pada saraf dengan cara mengaktivasi K+ chanel melalui  proses yang melibatkan G-protein. Sedangkan aktivasi κ-reseptor dapat menghambat membran Ca2+ chanel. Sehingga dapat merintangi peletuoan neuronal dan pelepasan transmitter.

Naloxone dan Naltrexone merupakan antagonis opioid murni yang disintesis melalui perubahan yang relatif minor pada struktur morfin. Alterasi substituen pada piperidin nitrogen dari kelompok metil menjadi ikatan samping yang lebih panjang merubah sifat obat dari agonis menjadi antagonis. Antagonis opioid mengikat reseptor opioid dengan afinitas tinggi. Namun Naloxone tidak memblok efek dari opioid pada μ-reseptor. Semua antagonis opioid akan mempercepat penyembuhan pada pasien ketergantungan opioid.

 B.       Obat Pilihan

Naloxone

Nama Generik

Naloxone

Nama Dagang

Narcan*

Indikasi

Pembalikan sebagian atau keseluruhan overdosis opioid depresion dan acute opioid, termasuk penekanan pernafasan, yang dipicu oleh opioid alami maupun sintetik, termasuk propoxyphene, methadone, dan campuran agonis-antagonis analgesik, nalbuphine, pentazocine, dan butorphanol.

Diagnosis dengan dugaan  opioid tolerance atau overdosis opioid akut.

Agen tambahan untuk meningkatkan tekanan darah pada septic shock (keracunan).

Kontra Indikasi

Hipersensitifitas terhadap naloxone atau komponen pada formulasi.

Bentuk Sediaan, Dosis, dan Aturan Pakai

Bentuk sediaan      : injeksi, larutan (sebagai HCl): 0,4 mg/mL (1 mL, 10 mL)

                                  Narcan* 0,4 mg/mL(1 mL) (DSC)

Dosis dan aturan pakai:

Injeksi I.V., 0.4-2 mg diulang tiap 2-3 menit hingga maksimal 10 mg jika fungsi pernafasan tidak meningkat; anak-anak 10 μg /kg,  dosis berikutnya 100 μg /kg bila tidak ada respon.

Injeksi S.C atau I.M. dosis dewasa dan anak-anak sama seperti dosis I.V, tetapi digunakan jika tidak memungkinkan menggunakan rute I.V (onset lebih lambat).

Infus I.V. menggunakan pompa infus, 4 mg dilarutkan dalam 200 ml larutan infus I.V (tanpa konsentrasi), kecepatan diatur sesuai dengan respon (kecepatan awal diatur pada 60% dosis awal injeksi I.V (lihat atas) dan di infus lebih dari 1 jam)

Efek Samping

Frekuensinya tidak tetap.

Cardiovascular: hiper-hipotensi, takikardi, aritmia ventrikular, cardiac arrest.

Sistem Saraf Pusat: mudah marah, gelisah, penarikan diri terhadap narkotik, resah, seizure.

Gastrointestinal: mual, muntah, diare.

Neuromuscular & skeletal: gemetar

Pernafasan: dispnea, pembangkakan paru-paru, ingusan, bersin-bersin.

Miscellaneous: diaforesis.

Resiko Khusus

Faktor Resiko C pada kehamilan.

Implikasi terhadap kehamilan mempertimbangkan manfaat terhadap si ibu dan resiko terhadap janin sebelum diberikan kepada wanita hamil yang diketahui atau diduga ketergantungan opioid. Dapat mempercepat penarikan diri terhadap narkotik baik pada ibu maupun janin.

 
Naltrexone

Nama Generik

Naltrexone

Nama Dagang

Nalorex

Indikasi

Terapi tambahan untuk mencegah kambuh pada detoksifikasi pasien dengan riwayat ketergantungan  opioid (masih terdapat opioid-free setidaknya selama 7-10 hari).

Kontra Indikasi

Hipersensitifitas terhadap Naltrexone maupun komponen yang ada pada formulasi, ketergantungan narkotik atau sedang menggunakan opioid analgesik; opioid withdrawal akut, kegagalan memberikan Narcan* atau positif mengandung opioid pada urin, hepatitis akut, kerusakan liver.

Bentuk Sediaan, Dosis, dan Aturan Pakai

Bentuk sediaan      : Nalorex: Tablet naltrexon hidroklorida 50 mg.

Dosis dan aturan pakai: tidak diberikan hingga pasien bebas terhadap opioid 7-10 hari melalui analisis urine.

Dosis awal 25 mg kemudian menjadi 50 mg per hari; total dosis mingguan dapat dibagi dan diberikan 3 hari dalam seminggu untuk meningkatkan ketaatan pasien (misal 100 mg pada senin dan rabu,dan 150 mg pada jumat). Naltrexone tidak direkomendasikan untuk anak-anak.

Efek Samping

Mual, muntah, nyeri abdominal; gelisah, gugup, sulit tidur, pusing, pengurangan energi; nyeri otot; diare, konstipasi, peningkatan rasa haus, nyeri dada, peningkatan jumlah keringat dan lakrimasi; mudah marah,ejakulasi dini, abnormalitas fungsi liver; dilaporkan juga terjadi trombositopenia idiopati yang bersifat reversibel.

Daftar Pustaka

Anonim, 2006, British National Formulary, edisi 52, hal 31, 268, British Medical Association, Royal Pharmaceutical Society of Great Britain, London.

 Craig, Charles R., Stitzel, Robert E.,2007, Modern Pharmacology With Clinical Application, 6th edition, 318, 326-327, Lippincott Williams & Wilkins.

 Dipiro, 2005, Pharmacotherapy, A Pathophysiologic Approach, sixth edition, 1093-1099, McGraw-Hill.

 Lacy, C.F., Amstrong, L.L., Goldman, M.P., Lance, L.L., 2006, Drug Information Handbook, 14th edition, hal 1106-1108, Lexi Comp Ine, Canada

 Neal, Michael J., 2002, Medical Pharmacology at a Glance, fourth edition, 60, Blackwell Science Ltd.

 Rang, H.P., Dale, M.M., Ritter, J.M., Moore, P.K., 2003, Pharmacology, edisi V, 232, Churchill Livingstone

 Tjay, T.H., dan Rahardja,K, 2002, Obat-Obat Penting : Khasiat penggunaan dan Efek-Efek Sampingnya, Edisi V, Cetakan ke-2, 295-310, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.

 

PENGGUNAAN ORALIT DAN LOPERAMID PADA DIARE

PENGGUNAAN ORALIT DAN LOPERAMID PADA DIARE

created by : Margaretha Yohani Cahya P., S. Fram (078115056)

Diare merupakan salah satu masalah kesehatan di indonesia. Diare pada umumnya terjadi akibat dari sanitasi lingkungan yang buruk. Diare adalah suatu penyakit yang ditandai dengan meningkatnya frekuensi buang air besar (BAB) lebih dari tiga kali sehari disertai dengan adanya perubahan bentuk dan konsistensi tinja. Menurut lama waktu terjadinya, diare dibagi menjadi dua yaitu diare akut dan diare kronis. Diare akut timbul dengan tiba-tiba dan berlangsung beberapa hari, sedangkan diare kronis berlangsung lebih dari tiga minggu. Apabila seseorang terkena diare, maka ada beberapa gejala yang tampak, seperti sering buang air besar, sakit pada bagian abdominal, sering merasa haus dan kehilangan berat badan. Apabila diare disebabkan karena adanya infeksi bakteri atau virus maka demam dapat menjadi salah satu gejala yang timbul.

Sebagian besar diare akut akan sembuh dengan sendirinya tanpa perawatan khusus, namun apabila diare tidak segera sembuh dalam beberapa hari dan semakin bertambah parah maka diare ini harus diobati. Sasaran dari pengobatan diare yaitu faktor penyebab diare, dehidrasi dan kerja usus. Pengobatan bertujuan untuk mengeliminasi faktor penyebab diare (apabila diare disebabkan karena infeksi), mencegah dehidrasi dan menormalkan kerja usus.

 

Apakah diare berbahaya….?

Bahaya utama diare adalah kematian yang disebabkan karena tubuh banyak kehilangan air dan garam terlarut yang disebut dehidrasi. Dehidrasi terjadi karena usus tidak bekerja sempurna sehingga sebagian besar air dan zat-zat yang terlarut dibuang bersama tinja sampai akhirnya tubuh kekurangan cairan. Pada anak-anak dan orang tua, sangat besar kemungkinan mengalami dehidrasi. Karena bahaya diare terletak pada dehidrasi maka penanggulangan utama penyakit diare adalah mencegah timbulnya dehidrasi dan rehidrasi intensif bila telah terjadi dehidrasi.

Bagaimana mencegah dan mengatasi dehidrasi…?

Terapi non farmakologi dengan menggunakan larutan yang mengandung elektrolit-glukosa sangat efektif dalam mengatasi dehidrasi pada diare, terutama diare akut. Larutan ini sering disebut rehidrasi oral. Larutan ini mempunyai komposisi campuran Natrium klorida, kalium klorida, glukosa anhidrat dan natrium bikarbonat. Larutan rehidrasi oral ini mempunyai nama generik oralit dan larutan ini sekarang dijual dengan berbagai merek dagang seperti Alphatrolit®, Aqualyte®, Bioralit® dan Corsalit®. Oralit tersedia dalam bentuk serbuk untuk dilarutkan dan dalam bentuk larutan diminum perlahan-lahan. Serbuk dilarutkan dalam 200 ml atau 1 (satu) gelas air matang hangat.Takaran pemakaian oralit pada diare dapat dilihat pada tabel 1.

 

 

Tabel 1. takaran pemberian oralit

 

umur                   < 1 tahun     1-4 tahun     5-12 tahun     dewasa

tidak ada dehidrasi      setiap BAB beri oralit

mencegah dehidrasi

                                 100 ml        200 ml          300 ml         400 ml

                             (0,5 gelas)     (1 gelas)     (1,5 gelas)     (2 gelas)

dengan dehidrasi        3 jam pertama beri oralit

mengatasi dehidrasi:

                               300 ml         600 ml         1,2 liter        2,4 liter

                           (1,5 gelas)     (3 gelas)     (6 gelas)     (12 gelas)

                                        selanjutnya setiap BAB beri oralit

                           100 ml         200 ml          300 ml         400 ml

                     (0,5 gelas)     (1 gelas)        (1,5 gelas)     (2 gelas)

 

Antimotilitas

Obat antimotilitas bekerja dengan mengurangi gerakan peristaltik usus sehingga diharapkan akan memperpanjang waktu kontak dan penyerapan di usus. Obat antimotilitas digunakan apabila diare berlangsung terus menerus selama 48 jam. Pada pasien yang mengalami demam dan di dalam tinjanya terdapat darah, maka sangat mungkin sekali diare yang terjadi disebabkan karena adanya infeksi bakteri. Perlu diingat!! bahwa diare sendiri merupakan suatu mekanisme pertahanan tubuh untuk mengeluarkan kontaminasi (termasuk bakteri) dari dalam tubuh. Pada kasus ini, antimotilitas tidak boleh digunakan karena hanya akan memperlama keberadaan bakteri di dalam tubuh.

 

 

Apakah itu loperamid…?

Loperamid hidroklorida merupakan nama generik dari salah satu obat antimotilitas yang sering digunakan untuk terapi diare. Terapi dengan menggunakan obat, disebut juga sebagai terapi farmakologi. Terapi farmakologi ini tidak serta merta menyembuhkan diare namun hanya akan meredakan diare.

Masih banyak kontroversi tentang penggunaan obat loperamid, karena dianggap kurang efektif dalam mengatasi diare dan ada efek samping yang ditimbulkan, terutama penggunaan antimotilitas loperamid pada anak-anak < 2 tahun. Saat ini loperamid banyak dijual dengan berbagai merek dagang, diantaranya Imodium®, Bidium ®, Diadium®, dan Midix®. Loperamid digunakan sebagai tambahan terapi selain rehidrasi pada diare akut dan traveler diarrhea (diare yang terjadi pada saat perjalanan jauh akibat makanan atau minuman yang tidak higienis), obat ini bekerja dengan menghambat gerakan peristaltik usus. Di Indonesia, loperamid dijual dalam dua (2) bentuk sediaan yaitu tablet 2 mg dan kapsul 2 mg.

Dosis. Pengaturan dosis loperamid sebagai berikut :

Untuk anak-anak : diare akut à dosis awal : (2-5 tahun) 1 mg, 3 kali/hari. (6-8 tahun) 2 mg 2 kali/hari; (8-12 tahun) 2 mg 3 kali/hari. Selanjutnya setelah BAB diberikan 0,1 mg/kgBB, tapi tidak boleh mencapai dosis awal. traveler diarrhea à (2-5 tahun) tidak direkomendasikan; dosis awal (6-8 tahun) 2 mg setelah BAB, diikuti 1 mg tiap setelah BAB maksimal 4mg/hari; dosis awal (9-11 tahun) 2 mg setelah BAB, diikuti 1 mg tiap setelah BAB maksimal 6mg/hari; umur 12 tahun mengikuti dosis dewasa.

Untuk orang dewasa : diare akut à dosis awal 4 mg diikuti 2mg setelah tiap BAB, maksimal 16 mg/hari. Diare kronis à dosis awal sama dengan diare akut, selanjutnya maksimal 4-8 mg/hari. Traveler diarrhea à dosis awal 4 mg setelah BAB, diikuti 2 mg setelah tiap BAB, maksimal 8 mg/hari.

Efek samping. Apabila menggunakan loperamid, maka efek samping yang dapat terjadi antara lain kram pada daerah perut, konstipasi, pusing, merasa lelah, mengantuk dan mulut terasa kering. Loperamid dikontraindikasikan untuk pasien yang hipersensitif pada loperamid, anak diusia 2 tahun, diare dengan tinja berdarah, diare dengan suhu tubuh diatas 38oC, diare yang disebabkan oleh bakteri.

Peringatan. Wanita yang sedang menyusui dilarang menggunakan loperamid. Hati-hati penggunaan loperamid pada pasien dengan disfungsi hati.

 

 

Daftar pustaka

Anonim, 2000, Informatorium Obat Nasional Indonesia, 28, Departemen Kesehatan Republik Indonesia Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan, Jakarta.

Diemert, David., J., 2006, Prevention and Self-Treatment of Traveler’s Diarrhea, http://cmr.asm.org/cgi/reprint/19/3/583, diakses tanggal 16 desember 2007

Larson, C., P., Saha., U., R., Islam., R., and Roy., I., 2006, Childhood diarrhoea management practices in Bangladesh: private sector dominance and continued inequities in care,http://www.ncbi.nlm.nih.gov/sites/entrez, diakses tanggal 16 Desember 2007

 

Lacy, Charles. F., dkk, 2006, Drug Informatorium Handbook, 14th ed, 949-951, Lexi-Comp. inc, United States.

Mycek, Mary., J., and Harvey, A., R., 2000, Pharmacology, 2nd ed, 243-244, lippincott Williams & Wilkins, New jersey

Spruill, William, J., and Wade, William, E., Pharmacotherapy: A Pathophysiologic Approach, Sixth Edition, 677-681, Mcgraw-Hill Medical Publishing Division, New York.

 

pemberian antikonvulsan pada komplikasi ensefalitis

Pemberian Antikonvulsan pada Komplikasi Ensefalitis

(Maria Rosa Irma Budi Cahyani, S.Farm/078115020)

Ensefalitis adalah proses inflamasi akibat infeksi pada susunan saraf pusat yang melibatkan parenkim otak yang dapat bermanifestasi sebagai gangguan neurofisiologis difus dan / atau fokal. Secara klinis ensefalitis dapat dijumpai muncul bersamaan dengan meningitis, disebut meningoensefalitis, dengan tanda dan gejala yang menunjukkan adanya inflamasi pada meninges seperti kaku kuduk, nyeri kepala, atau fotofobia. Ensefalitis biasanya timbul sebagai akibat proses inflamasi akut tapi dapat juga berupa reaksi inflamasi pasca infeksi penyakit lain (postinfeksius ensefalomyelitis), penyakit kronik degeneratif, atau akibat infeksi slow virus. Ensefalitis biasanya disebabkan oleh virus secara langsung melalui 2 jalur yakni hematogen atau secara neuronal ( saraf perifer atau saraf kranialis).

Jenis patogen yang paling sering menyerang adalah arbovirus dan enterovirus. Ensefalitis yang disebabkan oleh arbovirus disebut juga arthropode-borne viral encephalitides. Kelompok virus ini menunjukkan gejala neurologis yang berat dan hampir mirip, disebabkan oleh beberapa jenis arbovirus. Enterovirus termasuk dalam family picornavirus. Family picornavirus antara lain virus coxsackie A dan B, poliovirus, echovirus, enterovirus 68 dan 71, hepatitis A virus.Virus herpes simpleks tipe I (VHS tipe I) merupakan penyebab tersering dari ensefalitis sporadik. Sedangkan VHS tipe II lebih sering dijumpai pada neonatus dengan ensefalitis. VHS merupakan virus DNA yang dapat menyebabkan penyakit lokal maupun sistemik. Pada Anak dan bayi, VHS dapat menyebabkan ensefalitis yang dapat memburuk. Infeksi pada neonatus biasanya didapat selama atau sesaat sebelum bayi dilahirkan, bersumber dari organ genitalia eksterna ibu. Infeksi primer VHS tipe II selama proses persalinan memberikan faktor risiko yang lebih besar terhadap ensefalitis. Infeksi juga dapat terjadi melalui rekurensi, namun baik infeksi primer maupun rekurens keduanya dapat terjadi secara asimtomatik sehingga banyak para ibu yang tidak menyadari hal ini. Human herpesvirus 6 merupakan jenis VHS yang menjadi agen pada exanthema subitum, virus ini dihubungkan dengan terjadinya komplikasi neurologikus yang luas, termasuk pada ensefalitis viral (fokal).

Komplikasi jangka panjang dari ensefalitis berupa sekuele neurologikus yang nampak pada 30 % anak dengan berbagai agen penyebab, usia penderita, gejala klinik, dan penanganan selama perawatan. Perawatan jangka panjang dengan terus mengikuti perkembangan penderita dari dekat merupakan hal yang krusial untuk mendeteksi adanya sekuele secara dini. Walaupun sebagian besar penderita mengalami perubahan serius pada susunan saraf pusat (SSP), komplikasi yang berat tidak selalu terjadi. Komplikasi pada SSP meliputi tuli saraf, kebutaan kortikal, hemiparesis, quadriparesis, hipertonia muskulorum, ataksia, epilepsi, retardasi mental dan motorik, gangguan belajar, hidrosefalus obstruktif, dan atrofi serebral.

Dalam kesempatan ini, sasaran, tujuan dan strategi terapi akan lebih ditekankan pada komplikasi ensefalitis khususnya epilepsi. Pada kasus epilepsi, sasaran dan tujuan terapi yang diberikan bukan membuat anak seperti anak normal lainnya, tetapi mengembangkan sisa kemampuan yang ada pada anak tersebut seoptimal mungkin, sehingga diharapkan anak dapat melakukan aktifitas sehari-hari tanpa bantuan atau dengan sedikit bantuan.Strategi terapi yang diberikan meliputi terapi non farmakologis dan terapi farmakologis.

Terapi non farmakologis dapat dilakukan dengan pemberian nasehat (advis) agar penderita dapat hidup dalam keadaan yang senormal mungkin. Penderita baik yang masih sekolah maupun yang sudah bekerja dinasehati supaya melakukan kegiatannya seperti biasa. Penderita tidak diperkenankan untuk menjadi supir mobil dan hendaknya jangan diberikan surat izin mengemudi, karena hal itu dapat membahayakan dirinya, para penumpangnya, dan para pengguna jalan lain. Penderita tidak dilarang berolahraga, tetapi dianjurkan penderita tetap menjaga diri dan sebaiknya jangan sampai kelelahan. Olah raga berenang pun tidak dilarang asal ada yang menjaganya. Psikoterapi memegang peranan yang sangat penting dalam menambah kepercayaan dan membantu mengurangi/ menghilangkan rasa rendah diri pada penderita. Makanan penderita harus teratur, penderita dijaga agar jangan sampai merasa lapar. Bila penderita merasa lapar hendaknya segera makan untuk mencegah terjadinya hipoglikemia. Jika dewasa kelak penderita epilepsi tidak diperbolehkan minum-minuman beralkohol seperti bir dan lain – lainnya. Tidak ada larangan terhadap rokok atau kopi, asal jangan berlebihan. Buang air besar harus teratur, bila ada obstipasi, sebaiknya penderita diberikan laksansia ringan. Tidur harus teratur, penderita tidak diperbolehkan bergadang. Tidak jarang bangkitan epilepsi timbul setelah penderita kurang tidur. Pada penderita epilepsi pasca meningoensefalitis yang kelak dewasa dan gravidae, lebih mudah terjadi bangkitan-bangkitan epilepsi. Hal ini disebabkan karena wanita yang hamil akan mengalami retensi natrium, hidrasi dan berat badan yang bertambah, yang menimbulkan perubahan-perubahan metabolisme dalam tubuh wanita tersebut, yang pada akhirnya menurunkan ambang myokloni.

Terapi farmakologis dapat dilakukan dengan pemberian obat-obat antikonvulsan. Obat-obat antikonvulsan yang dapat diberikan adalah :

  1. Fenobarbital (Luminal)

Generik: Phenobarbital, tablet 30 mg, 50 mg; cairan injeksi 100 mg/ml.

Merek dagang (brand name): -

Indikasi: epilepsy, semua jenis, kecuali petit mal, status epileptikus.

Kontraindikasi: depresi pernapasan berat, porfiria.

Dosis dan aturan pakai: oral : 60-180 mg (malam). Anak 5-8 mg/kg/hari. Injeksi i.m/i.v. 50-200 mg, ulang setelah 6 jam bila perlu, maksimal 600 mg/hari. Encerkan dalam air 1:10 untuk i.v. status epileptikus (tersedia di ICU): i.v kecepatan tidak lebih dari 100 mg/menit, sampai bangkitan teratasi atau sampai maksimal 15 mg/kg/hari tercapai.

Efek samping: mengantuk, letargi, depresi mental, ataksia, nistagmus, irritabel dan hiperaktif pada anak, agitasi, resah dan bingung pada usia lanjut, reaksi alergi pada kulit, hipoprotom bunemia, anemia megaloblastik.

Risiko khusus:

- Kehamilan : faktor risiko D

- Menyusui : dapat memasuki air susu ibu (tidak direkomendasikan/dapat terus diberikan dengan perhatian khusus)

- Penderita dengan ganggan fungsi hati dan ginjal perlu mendapatkan perhatian khusus.

2. Valium

    Generik: Diazepam, tablet 2 mg, 5 mg.

    Merek dagang (brand name):

    · Lovium® (Phapros), tablet 2 mg, 5 mg.

    · Mentalium® (Soho), tablet 2 mg, 5 mg, 10 mg.

    · Paralium® (Prafa), cairan injeksi 5 mg/ml.

    · Stesolid® (Dumex Alpharma indonesia), cairan injeksi 10 mg/2ml; enema 5 mg/2,5 ml, 10 mg/2,5 ml; sirup 2 mg/5 ml; tablet 2 mg, 5 mg.

    · Trankinon® (Combiphar), tablet 2 mg, 5 mg.

    · Valium® (Roche Indonesia), cairan injeksi 5 mg/ml; tablet 2 mg, 5 mg.

    · Validex® (Dexa Medica), tablet 2 mg, 5 mg.

    · Valisanbe® (Sanbe), tablet 2 mg, 5 mg.

    Indikasi: status epileptikus, konvulsi akibat keracunan.

    Kontraindikasi: depresi pernapasan berat, insufisiensi pulmoner akut, status fobi/obsesi, pikosis kronik, porfiria.

    Dosis dan aturan pakai: injeksi i.v. 0,5 mg/kgbb/x i.v. dan pada anak dengan berat badan 10 kg diberikan sebanyak ½ ampul per kali.

    Efek samping: mengantuk, pandangan kabur, bingung, ataksia (pada usia lanjut), amnesia, ketergantungan. Kadang nyeri kepala, vertigo, hipotensi, gangguan salivasi dan saluran cerna, ruam, perubahan libido, retensi urin.

    Risiko khusus:

    - Kehamilan : faktor risiko D

    - Menyusui : dapat memasuki air susu ibu (dapat terus diberikan dengan perhatian khusus)

    3. Clonazepam

      Generik: -

      Merek dagang (brand name):

      · Rivotril® (Roche Indonesia), tablet 2 mg.

      Indikasi: epilepsi, semua jenis, termasuk petit mal, mioklonus, status epileptikus.

      Kontraindikasi: depresi pernapasan berat, insufisiensi pulmoner akut, porfiria.

      Dosis dan aturan pakai: dosis awal 1 mg (Usia Lanjut: 500 mcg) malam hari, selama 4 hari. Bertahap dosis dinaikkan dalam 2-4 minggu sampai dosis pemeliharaan: 4-8 mg/hari dalam dosis terbagi. Anak sampai 1 th 250 mcg, dinaikkan bertahap sampai 0,5-1 mg. 1-5 th 250 mcg, dinaikkan bertahap sampai 1-3 mg. 5-12 th 500 mcg, dinaikkan bertahap sampai 3-6 mg.

      Efek samping: lelah, mengantuk, pusing, hipotoni otot, gangguan koordinasi gerak, hipersalivasi pada bayi, agresi, iritabel dan perubahan mental, jarang gangguan darah, abnormalitas fungsi hati.

      Risiko khusus:

      - Kehamilan : faktor risiko D

      - Menyusui : dapat memasuki air susu ibu (tidak direkomendasikan)

      4. Valproic acid

        Generik: -

        Merek dagang (brand name):

        · Depakote® (Abbott Indonesia), tablet 250 mg.

        · Depakene® (Abbott Indonesia), sirup 250 mg/5 ml.

        · Leptilan® (Novartis Indonesia), tablet Ss150 mg, 300 mg.

        Indikasi: epilepsi, semua jenis epilepsi

        Kontraindikasi: penyakit hati aktif, riwayat disfungsi hati berat dalam keluarga, porfiria.

        Dosis dan aturan pakai: dosis awal 300-600 mg/hari terbagi dalam 2 dosis, setelah makan dinaikkan 200 mg/hari tiap 3 hari, maksimum 2,5 g/hari, dalam dosis terbagi. Dosis pemeliharaan biasanya 1-2 g/hari(20-30 mg/kg/hari). Anak sampai 20 kg (4 th): dosis awal 20 mg/kg/hari dalam dosis terbagi. Dapat bertahap dinaikkan sampai 40 mg/kg/hari. Lebih dari 20 kg: dosis awal 400 mg/hari biasanya 20-30 mg/kg/hari, maksimal 35 mg/kg/hari.

        Efek samping: badan terasa capai, mual, muntah, dan diare, berat badan bertambah, tremor, trombositopenia ringan, dan peningkatan enzim – enzim hepatik. Sewaktu terapi dengan depakene hendaknya dipantau jumlah trombosit dan fungsi hati.

        Risiko khusus:

        - Kehamilan : faktor risiko D

        - Menyusui : dapat memasuki air susu ibu

        - Penderita dengan gangguan ginjal perlu mendapatkan perhatian khusus.

        Referensi:

        Anonim, 2000, Informatorium Obat Nasional Indonesia, 152-155, Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.

        Lacy, C.F, dkk, 2006, Drug Information Handbook, Edisi XIV, 370-372, 451-453, 1252-1254, Lexi-Comp Inc., Hudson, Ohio.

        Tierney, L.M., McPhee, S.J., dan Papadakis, M.A., 2006, Current Medical Diagnosis & Treatment, Edisi 45, 980-986, Lange Medical Books, McGraw-Hill.

        PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA INFEKSI SALURAN KEMIH NON-KOMPLIKASI

        PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA INFEKSI SALURAN KEMIH NON-KOMPLIKASI

        ( Yudi Tri Utomo, NIM : 078115039 )

         

        Pendahuluan

        Infeksi Saluran Kemih (ISK) adalah ditemukannya mikroorganisme dalam urine yang tidak diperhitungkan sebagai kontaminasi, dan potensial untuk menyebar ke jaringan saluran kemih dan jaringan lain yang berdekatan. ISK non-komplikasi adalah infeksi yang terjadi pada saluran kemih yang normal, sedangkan ISK komplikasi adalah infeksi yang terjadi pada saluran kemih yang abnormal ( misal : abnormalitas kongenital, batu saluran kemih, pemakaian kateter, hyperthropy prostat ).

        Beberapa gejala ISK antara lain : rasa ingin berkemih yang sering tetapi urine yang keluar hanya sedikit (istilah jawa : anyang-anyangen) dan rasa nyeri atau rasa terbakar di daerah kandung kemih dan urethra selama berkemih. Adanya warna merah pada urine menunjukkan terdapat darah pada urine. Apabila infeksi sudah mengenai ginjal, gejala yang muncul antara lain : nyeri di daerah panggul, demam, mual dan muntah.

        Penyebab utama ISK non-komplikasi adalah bakteri Escherichia coli (85%), Staphylococcus saphrophyticus (5-15%), Klebsiella pneumoniae, Proteus sp., Pseudomonas aeruginosa dan Enterococcus sp. (5-10%).

         

        Sasaran Terapi

        Sasaran terapi pada Infeksi Saluran Kemih adalah mikroorganisme penyebab infeksi.

         

        Tujuan Terapi

        Tujuan terapi ISK adalah mencegah atau mengobati akibat sistemik dari infeksi, membunuh mikroorganisme penyebab infeksi dan mencegah terjadinya infeksi ulangan.

         

        Strategi Terapi

        Terapi tanpa obat pada ISK adalah minum air dalam jumlah banyak agar urine yang keluar juga meningkat.

        Pengobatan ISK adalah menggunakan antibiotik. Idealnya, antibiotik yang digunakan harus dapat ditoleransi dengan baik, mencapai konsentrasi tinggi dalam urine dan mempunyai spektrum aktivitas terhadap mikroorganisme penyebab infeksi. Pemilihan antibiotik untuk pengobatan didasarkan pada tingkat keparahan, tempat terjadinya infeksi dan jenis mikroorganisme yang menginfeksi.

         

        Antibiotik yang digunakan pada Infeksi Saluran Kemih non-komplikasi

        TRIMETHOPRIM-SULFAMETHOXAZOLE

        Nama Generik : Co-trimoxazole

        Nama Dagang : Bactrim® (Roche), Kaftrim® (Kimia Farma), Inatrim® (Indo Farma), Primadex® (Dexa Medica), Sanprima® (Sanbe), Triminex® (Konimex)

        Indikasi : Infeksi Saluran Kemih, Infeksi Saluran Pencernaa, Infeksi Saluran Pernapasan, Infeksi kulit

        Kontra Indikasi : hipersensitif terhadap komponen obat, anemia megaloblastik

        Bentuk Sediaan :

        • Tablet ( 80 mg Trimethoprim – 400 mg Sulfamethoxazole
        • Kaplet Forte (160 mg Trimethoprim – 800 mg Sulfamethoxazole )
        • Sirup suspensi ( Tiap 5 ml mengandung 40 mg Trimethoprim – 200 mg Sulfamethoxazole )

        Dosis :

        • Anak diatas 2 bulan : 6-12 mg trimethoprim/ kg/ hari, terbagi dalam 2 dosis (tiap 12 jam)
        • Dewasa : 2 x sehari 2 tablet atau 2 x sehari 1 kaplet forte

        Efek Samping : mual, muntah, hilang nafsu makan, kemerahan pada kulit

        Resiko Khusus : defisiensi G6PD, defisiensi asam folat, wanita hamil dan menyusui, gangguan fungsi hati, gangguan fungsi ginjal.

         

        CIPROFLOXACIN

        Nama Generik : Ciprofloxacin

        Nama Dagang : Ciproxin® (Bayer), Interflox® (Interbat), Nilaflox® (Nicholas), Quidex® (Ferron), Renator® (Fahrenheit), Scanax® (Tempo Scan Pasific)

        Indikasi : Infeksi Saluran Kemih, Sinusitis Akut, Infeksi Kulit, Infeksi Tulang dan Sendi, Demam Typhoid, Pneumonia Nosokomial

        Kontra Indikasi : Hipersensitif terhadap Ciprofloxacin atau golongan quinolon lain

        Bentuk Sediaan : Tablet, kaplet (250 mg, 500 mg, 750 mg); Tablet lepas lambat ( 500 mg, 1000 mg )

        Dosis : Dewasa : 250 mg tiap 12 jam

        Efek Samping : ruam kulit, diare, mual, muntah, nyeri perut, sakit kepala, susah tidur, jantung berdebar-debar, halusinasi

        Resiko Khusus : Pasien dengan gangguan ginjal, Wanita hamil dan menyusui.

         

        DAFTAR PUSTAKA

        Anonim, 2000, Informatorium Obat Nasional Indonesia, Departemen Kesehatan RI, Jakarta.

        Anonim, MIMS Indonesia, 100th edition, CMPMedica Asia Pte Ltd, Singapore

        Coyle, E. A., Prince, R. A., 2005, Urinary Tract Infection, in Dipiro J.T., et al, Pharmacotherapy A Pathophysiologic Approach, 6th, Appleton&Lange, Stamford.

        Gupta, K., Stamm, W. E., 2003, Infections of The Urinary Tract, in Infectious Disease : The Clinician’s Guide to Diagnosis, Treatment, and Prevention, Web MD Professional Publishing.

        Lacy, C.F., Armstrong, L.L., Goldman, M.P., and Lance, L.L., 2006, Drug Information Handbook, 14th edition, Lexi-Comp, Inc., USA.

        Stoller, M. L., Carrol, P. R., 2006, Urology, in 2006 Current Medical & Diagnosis Treatment (CMDT), 45th edition, Lange Medical Books/ Mc Graw-Hill.