Category Archives: Infeksi

Informasi obat-obatan yang digunakan untuk pengobatan infeksi

PENGGUNAAN TABLET ACYCLOVIR PADA INFEKSI HERPES SIMPLEX VIRUS (HSV)

PENGGUNAAN TABLET ACYCLOVIR PADA INFEKSI HERPES SIMPLEX VIRUS (HSV)

Disusun oleh : Dumayanti (078115049)

 

Herpes adalah infeksi virus pada kulit. Herpes Simplex Virus merupakan salah satu virus yang menyebabkan penyakit herpes pada manusia. Tercatat ada tujuh jenis virus yang dapat menyebabkan penyakit herpes pada manusia, yaitu Herpes Simplex Virus, Varizolla Zoster Virus (VZV), Cytomegalovirus (CMV), Epstein-Barr Virus (EBV), dan Human Herpes Virus tipe 6 (HHV-6), tipe 7 (HHV-7), tipe 8 (HHV-8). Semua virus herpes memiliki ukuran dan morfologi yang sama dan semuanya melakukan replikasi pada inti sel. Herpes Simplex Virus sendiri dibagi menjadi dua tipe, yaitu Herpes Simplex Virus tipe 1 (HSV-1) yang menyebabkan infeksi pada mulut, mata, dan wajah dan Herpes Simplex Virus tipe 2 (HSV-2) yang menyebabkan infeksi pada alat kelamin (genital). Tetapi, bagaimanapun kedua tipe virus tersebut dapat menyebabkan penyakit dibagian tubuh manapun. HSV-1 menyebabkan munculnya gelembung berisi cairan yang terasa nyeri pada mukosa mulut, wajah, dan sekitar mata. HSV-2 atau herpes genital ditularkan melalui hubungan seksual dan menyebakan gelembung berisi cairan yang terasa nyeri pada membran mukosa alat kelamin. Infeksi pada vagina terlihat seperti bercak dengan luka. Pada pasien mungkin muncul iritasi, penurunan kesadaran yang disertai pusing, dan kekuningan pada kulit (jaundice) dan kesulitan bernapas atau kejang. Lesi biasanya hilang dalam 2 minggu. infeksi . Episode pertama (infeksi pertama) dari infeksi HSV adalah yang paling berat dan dimulai setelah masa inkubasi 4-6 hari. Gelala yang timbul, meliputi nyeri, inflamasi dan kemerahan pada kulit (eritema) dan diikuti dengan pembentukan gelembung-gelembung yang berisi cairan. Cairan bening tersebut selanjutnya dapat berkembang menjadi nanah, diikuti dengan pembentukan keropeng atau kerak (scab). Setelah infeksi pertama, HSV memiliki kemampuan yang unik untuk bermigrasi sampai pada saraf sensorik tepi menuju spinal ganglia, dan berdormansi sampai diaktifasi kembali. Pengaktifan virus yang berdormansi tersebut dapat disebabkan penurunan daya tahan tubuh, stress, depresi, alergi pada makanan, demam, trauma pada mukosa genital, menstruasi, kurang tidur, dan sinar ultraviolet.

 

Sasaran terapi

Sasaran terapi acyclovir adalah Herpes Simplex Virus (HSV).

 

Tujuan terapi

Tujuan terapi acyclovir adalah mencegah dan mengobati infeksi Herpes Simplex Virus (HSV), menyembuhkan gejala yang muncul, seperti kemerahan (eritema), gelembung-gelembung berisi cairan, keropeng atau kerak.

 

Strategi terapi

Strategi terapi farmakologis (terapi dengan obat) dalam pengobatan penyakit herpes adalah dengan menggunakan obat-obat antivirus. Pengobatan baku untuk herpes adalah dengan acyclovir, valacyclovir, famcyclovir, dan pencyclovir yang dapat diberikan dalam bentuk krim, pil atau secara intravena (infus) untuk kasus yang lebih parah. Semua obat ini paling berhasil apabila dimulai dalam tiga hari pertama setelah rasa nyeri akibat herpes mulai terasa. Semua antivirus yang digunakan pada infeksi Herpes Simplex Virus (HSV) bekerja dengan menghambat polimerase DNA virus. Acyclovir, ganciclovir, famciclovir, dan valacyclovir secara selektif di fosforilasi menjadi bentuk monofosfat pada sel yang terinfeksi virus. Bentuk monofosfat tersebut selanjutnya akan diubah oleh enzym seluler menjadi bentuk trifosfat, yang akan menyatu dengan rantai DNA virus. Acyclovir, famciclovir, dan valacyclovir terbukti efektif dalam memperpendek durasi dari gejala dan lesi.

Ayclovir : merupakan agen yang paling banyak digunakan pada infeksi herpes simplex virus, tersedia dalam bentuk sediaan intravena, oral, dan topikal.

Ganciclovir : mempunyai aktivitas terhadap herpes simplex virus tipe 1 dan 2, tetapi lebih toksik daripada acyclovir, famciclovir, dan valacyclovir, karena itu tidak direkomendasikan untuk pengobatan herpes.

Famciclovir : merupakan prodrug dari penciclovir yang secara klinis efektif dalam mengobati herpes simplex virus tipe 1 dan 2.

Valacyclovir : merupakan valyl ester dari acyclovir dan memiliki bioavailabilitas yang lebih besar daripada acyclovir.

Obat Pilihan

Nama Generik

Acyclovir

 

Nama Dagang

Clinovir (Pharos)

 

Indikasi

Untuk mengobati genital Herpes Simplex Virus, herpes labialis, herpes zoster, HSV encephalitis, neonatal HSV, mukokutan HSV pada pasien yang memiliki respon imun yang diperlemah (immunocompromised), varicella-zoster.

 

Kontraindikasi

Hipersensitifitas pada acyclovir, valacyclovir, atau komponen lain dari formula.

 

Bentuk Sediaan

Tablet 200 mg, 400 mg.

 

Dosis dan Aturan Pakai

Pengobatan herpes simplex: 200 mg (400 mg pada pasien yang memiliki respon imun yang diperlemah/immunocompromised atau bila ada gangguan absorbsi) 5 kali sehari, selama 5 hari. Untuk anak dibawah 2 tahun diberikan setengah dosis dewasa. Diatas 2 tahun diberikan dosis dewasa.

Pencegahan herpes simplex kambuhan, 200 mg 4 kali sehari atau 400 mg 2 kali sehari, dapat diturunkan menjadi 200 mg 2atau 3 kali sehari dan interupsi setiap 6-12 bulan.

Pencegahan herpes simplex pada pasien immunocompromised, 200-400 mg 4 kali sehari. Anak dibawah 2 tahun setengah dosis dewasa. Diatas 2 tahun dosis sama dengan dosis orang dewasa.

 

Efek Samping

Pada sistem saraf pusat dilaporakan terjadi malaise (perasaan tidak nyaman) sekitar 12% dan sakit kepala (2%).pada system pencernaan (gastrointestinal) dilaporkan terjadi mual (2-5%), muntah (3%) dan diare (2-3%).

Resiko Khusus

Penggunaan Acyclovir pada wanita hamil masuk dalam kategori B. Efek teratogenik dari Acyclovir tidak diteliti pada studi dengan hewan percobaan. Acyclovir terbukti dapat melewati plasenta manusia.Tidak ada penelitian yang cukup dan terkontrol pada wanita hamil. pada tahun 1984-1999 diadakan pendaftaran bagi wanita hamil, dan dari hasil yang terlihat tidak ada peningkatan kelahiran bayi yang cacat karena penggunaan Acyclovir . tetapi karena tidak semua wanita hamil mendaftarkan diri dan kurangnya data dalam jangka waktu yang panjang, maka direkomendasikan penggunaan acyclovir untuk wanita hamil disertai peringatan dan diberikan jika benar-benar-benar diperlukan. Acyclovir juga dapat masuk ke dalam air susu ibu, karena itu penggunaan pada ibu menyusui harus disertai peringatan.

 

Daftar Pustaka

Anonim, 2000, Informatorium Obat Nasional Indonesia,Departemen Kesehatan RI, Direktorat Jendral Pengawasan Obat dan Makanan, Jakarta

Anonim, 2005, Drug Information Handbook, Edisi 14, Lexi-Comp, Amerika Serikat.

Harrison, et al.,2001, Principle’s Of Internal Medicine, 15th Edition,McGreHill Companies, Inc., USA.

McEvoy, G.K.,2004, AHFS Drug Information,American Society Of Health_Systen Pharmacists, Inc.,USA

Rakel, David.,2003,Integrative Medicine, 1st Edition, Elsevier Science, USA

PENGGUNAAN KLOROKUIN DALAM PENGOBATAN DAN KEMOPROFILAKSIS MALARIA

PENGGUNAAN KLOROKUIN DALAM PENGOBATAN DAN KEMOPROFILAKSIS MALARIA

Disusun oleh: Leni Emiliana (078115055)

Program Profesi Apoteker

Fakultas Farmasi

Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

Malaria merupakan penyebab utama kematian pada Negara berkembang. Malaria adalah penyakit menular yang disebabkan oleh empat spesies plasmodium yaitu plasmodium falcifarum, P. vivak, P. malariae, dan P. ovale. Spesies P. falcifarum yang bertanggung jawab pada sebagian besar kematian karena malaria. Perkembangbiakkan malaria adalah meliputi siklus aseksual dan seksual. Siklus aseksual terjadi dalam tubuh manusia, yang dimulai dengan masuknya sporozoit melalui gigitan nyamuk anofeles betina yang terinfeksi parasit. Selain itu infeksi dapat terjadi melalui transfusi darah yang tercemar parasit. Sporozoit dalam tubuh akan berkembang melalui fase preeritrosit, fase eritrosit, dan fase hepatis. Siklus seksual ini dimulai dengan merozoit yang berdiferensiasi menjadi gamet jantan dan betina bila berpindah ke nyamuk pada saat nyamuk mengigit pasien. Hal ini disebut fase gametosit. Klorokuin adalah obat antimalaria yang bekerja pada fase eritrosit dan tidak efektif pada fase hepatis. Sehingga dalam pengobatan malaria setelah menggunakan Klorokuin dilanjutkan menggunakan Primaquin untuk membasmi P. vivak dan P. ovale dalam hati (fase hepatis).

Sasaran Terapi

Sasaran terapi Klorokuin sebagai antimalaria adalah tahap eritrosit aseksual dari infeksi dalam darah . Tahap aseksual adalah tahap dimana parasit berkembang dari trofozoit menjadi skizon, kemudian akan memecah eritrosit inangnya. Pecahnya eritrosit tersebut akan melepaskan merozoit ke sirkulasi. Merozoit ini memasuki eritrosit lain dan mengulangi fase skizogoni. Penghancuran eritrosit yang terjadi secara periodik inilah yang menimbulkan gejala khas malaria, yaitu demam yang diikuti mengigil.

Tujuan Terapi

Tujuan terapi Klorokuin adalah menyembuhkan demam dan menghilangkan parasetemia dari malaria di dalam tubuh.

Strategi Terapi

Strategi terapi untuk malaria yaitu terapi farmakologis menggunakan obat antimalaria.Terapi farmakologis antara lain meliputi:

1. Klorokuin merupakan obat pilihan untuk pengobatan malaria nonfalcifarum dan falcifarum yang sensitif. Klorokuin hanya efektif terhadap parasit dalam fase eritrosit, tetapi tidak untuk parasit yang ada di jaringan.

2. Quinin dan Quinidin merupakan skizontizida yang sangat efektif terhadap empat spesies parasit malaria. Obat ini adalah gametosida terhadap P. vivak dan P. ovale, akan tetapi obat ini tidak efektif terhadap parasit tahap hepatis.

3. Mefloquin merupakan terapi yang efektif terhadap strain P. falcifarum yang resisten Klorokuin dan spesies lainnya. Klorokuin mempunyai aktivitas skizontisida darah yang kuat terhadap P. falcifarum dan P. vivak, tetapi tidak efektif menghadapi tahap hepatis atau gametosit.

4. Primaquin merupakan obat pilihan untuk penyembuhan radikal malaria yang disebabkan P. vivak dan P. ovale. Primaquine aktif erhadap tahap hepatis dan merupakan gametosida dari semua parasit malaria. Sehingga obat ini dapat digunakan untuk membasmi P. vivak dan P. ovale dalam hati sesudah pengobatan Klorokuin.

Obat Pilihan

Nama generik : KlorokuinNama dagang di Indonesia: Riboquin (Dexa Medica) dan Nivaquine (Rhone Poulenc Rorer Indonesia).

Klorokuin telah menjadi obat pilihan untuk pengobatan dan kemoprofilaksis malaria yang disebabkan P. vivak, P. malaria, P. ovale, dan P. falcifarum yang sensitif (P. falcifarum yang tidak resisten terhadap Klorokuin). Kloroluin dengan depat mengakhiri demam (dlam 24 – 48 jam) dan membersihkan parasitemia (48 – 72 jam) yang disebabkan oleh parasit yang sensitif. Selain untuk pengobatan Klorokuin juga merupakan agen kemoprofilaksis yang lebih disukai pada wilayah malaria tanpa malaria falcifarum yang resisten.Klorokuin merupakan kontraindikasi pada pasien dengan psoriasis atau porfuria, karena berpotensi mencetuskan serangan akut dari penderita tersebut. Secara umum, sebaiknya Klorokuin tidak digunakan pada pasien dengan kelainan retina atau miopati. Agen antidiare kaolin dan antasida yang mengandung kalsium dan magnesium menganggu penyerapan Klorokuin dan sebaiknya tidak diberikan bersama-sama Klorokuin. Klorokuin tersedia dalam bentuk tablet 100 mg dan 150 mg. berikut ini akan dijabarkan mengenai dosis Klorokuin yang digunakan sebagai profilaksis dan serangan akut.

1. Profilaksis

a. Anak

Klorokuin basa 5 mg/kg/minggu pada hari yang sama disetiap minggunya (tidak lebih dari 300 mg Klorokuin basa/dosis). Pemberian ini dimulai 1-2 minggu sebelum berada di daerah endemik, dilanjutkan 4-6 minggu setelah berada di daerah endemik.

b. Dewasa

Klorokuin basa 300 mg/minggu pada hari yang sama disetiap minggunya. Pemberian ini dimulai 1-2 minggu sebelum berada di daerah endemik, dilanjutkan 4-6 minggu setelah berada di daerah endemik.

2. Serangan Akut

a. Anak

Dosis awal Klorokuin basa 10 mg/kg, dilanjutkan dengan dosis tunggal sebesar 5 mg/Kg yang diberikan setelah 6 jam, kemudian dosis tunggal sebesar 5 mg/Kg/hari selama 2 hari.

b. Dewasa

Dosis awal Klorokuin basa 600 mg, dilanjutkan 6 jam kemudian dengan 300 mg, selanjutkan 300 mg/hari selama 2 hari (dosis kumulatif rata-rata 25 mg/kg Klorokuin basa).

Efek samping yang timbul karena penggunaan Klorokuin adalah gangguan saluran cerna, sakit kepala, kejang, depigmentasi atau rambut rontok, reaksi kulit (ruam, pruritis). Pemberian obat setelah makan dapat mengurangi beberapa efek yang tidak diinginkan seperti gangguan saluran pencernaan. Reaksi yang jarang terjadi meliputi hemolisis pada pasien yang mengalami defisiensi Glucase 6-Phosphate Dehidrogenase (G6PD), dan hipotensi. Pemberian dosis tinggi dalam jangka panjang pada penderita rematik akan menimbulkan ototoksisitas irreversible, retinopati, miopati, dan neuropati perifer. Abnormalitas ini jarang dijumpai bila diberikan dengan dosis standar mingguan untuk profilaksis.

Penggunaan Klorokuin pada penderita gangguan fungsi ginjal sebaiknya dihindari atau dosisnya dikurangi karena Klorokuin diekskresi lewat urin. Dosis bagi pasien gagal ginjal sebesar 50% dari dosis dewasa. Penggunaan Klorokuin pada wanita hamil masuk dalam kategori C. Penggunaan Klorokuin tersebut, dilihat dari rasio risk and benefit. Dosis lazim untuk dewasa dapat diberikan pada wanita hamil yang menderita malaria ringan. Tetapi terapi radikal untuk infeksi P. ovale dan P. vivak dengan menggunakan Primaquin harus ditunda sampai kehamilan berakhir. Sedangkan Klorokuin harus diteruskan dengan dosis 600 mg tiap minggu selama kehamilan. Klorokuin dapat diekskresi ke air susu, sehingga penggunaan Klorokuin pada ibu menyusui tidak direkomendasikan.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2000, Informatorium Obat Nasional Indonesia,Departemen Kesehatan RI, Direktorat Jendral Pengawasan Obat dan Makanan, Jakarta

Anonim, 2005, Drug Information Handbook, Edisi 14, Lexi-Comp, Amerika Serikat

Dipiro, Yoseph, T., Talbert, Robert, L., Yee, C.G., 2005, Pharmacotherapy: A Pathophysiologic Approach, Sixth Edition, McGraw-Hill Companies, Inc, United States of America

Katzung, B.G., 2004, Farmakologi Dasar dan Klinik, Edisi 8, Jilid III, Salemba Medika, Jakarta

PENGGUNAAN ANTIBIOTIK KLORAMFENIKOL SEBAGAI TERAPI PENYAKIT TIFUS ( DEMAM TIFOID )

PENGGUNAAN ANTIBIOTIK KLORAMFENIKOL SEBAGAI TERAPI PENYAKIT TIFUS ( DEMAM TIFOID )

Adrianus Arinawa Yulianta ( 07 8115 041 )

  1. Pendahuluan

Demam Tifoid atau Tifus merupakan penyakit infeksi akut pada usus halus yang disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi. Bakteri ini dapat masuk kedalam tubuh manusia melalui makanan dan air yang tercemar. Disebarkan melalui perpindahan dari manusia ke manusia terutama pada keadaan hygiene buruk. Masa inkubasi sampai 18 hari. Sebagian bakteri ini dapat dimusnahkan oleh asam lambung tetapi ada sebagian lagi yang masuk ke usus halus dan mencapai jaringan limfoid dan bersarang di jaringan tersebut, selain itu bakteri ini juga bersarang di limpa, hati dan bagian-bagian lain system retikuloendotelial. Endotoksin atau racun dari Salmonella typhi berperan dalam proses inflamasi lokal pada jaringan tempat bakteri tersebut berkembang biak. Salmonella typhi dan endotoksinnya merangsang sistesis dan pelepasan zat pirogen dan leukosit pada jaringan yang meradangt, sehingga terjadi demam.

Gejala-gejala yang muncul bervariasi, dalam minggu pertama sama dengan penyakit infeksi akut pada umumnya yaitu demam, sakit kepala, pusing, nyeri otot, anoreksia, mual, muntah, konstipasi atau diare, perasaan tidak enak pada perut, batuk dan peningkatan suhu badan. Dalam minggu kedua gejala-gejala menjadi lebih jelas berupa demam, bradikardi relative, lidah tifoid (kotor ditengah, tepid an ujung merah dan tremor), hepatomegali, splenomegali, meteorismus, gangguan kesadaran berupa samnolen sampai koma.

Penatalaksanaan terapi demam tifoid, Penggunaan antibiotik untuk menghentikan dan memusnahkan penyebaran bakteri. Antibiotik yang dapat digunakan adalah klorafenikol ( dosis hari pertama 4 x 250 mg, hari kedua 4 x 500mg, diberikan selama demam dilanjutkan sampai 2 hari bebas demam, kemudian dosis diturunkan menjadi 2 x 250mg selama 5 hari kemudian ), Ampisilin/Amoksisilin ( dosis 50-150 mg/kg BB, diberikan selama 2 minggu), Kotimoksazol 2 x 2 tablet ( 1 tablet mengandung 400mg sulafametoksazol-80mg trimetropin, diberikan selama 2 minggu ), Sefalosporin generasi II dan III biasanya demam mereda pada hari ke-3 atau menjelang hari ke-4 ( obat yang dipakai seftriakson 4 g/hari selama 3 hari, norfloksasin 2 x 400 mg/hari selama 14 hari, siprofloksasin 2 x 500 mg/hari selama 6 hari, ofloksasin 600 mg/hari selama 7 hari, pefloksasin 400 mg/hari selama 7 hari, fleroksasin 400 mg/hari selama 7 hari). Istirahat dan perawatan yang profesional ini bertujuan untuk mencegah komplikasi dan mempercepat penyembuhan. Pasien harus istirahat total sampai minimal 7 hari bebas demam atau kurang lebih selama 14 hari. Aktifitas dilakukan bertahap sesuai dengan pulihnya kekuatan pasien. Selama penyembuhan harus dijaga kebersihan badan, tempat tidur, pakaian, dan peralatan yang dipakai. Diet dan terapi penunjang pertama pasien diberi bubur halus, kemudian bubur kasar, dan akhirnya nasi sesuai dengan tingkat kesembuhan pasien. Juga diperlukan pemberian vitamin dan mineral yang cukup untuk mendukung keadaan umum pasien.

B. Obat

  1. Nama generik : Klorafenikol

Nama dagang Indonesia : Combisetin (Combiphar), Farsycol (Ifars), Kalmicetine (Kalbe Farma), Lanacetine (Landson)

Indikasi : Pengobatan tifus (demam tifoid) dan paratifoid, infeksi berat karena Salmonella sp, H. influenza (terutama meningitis), rickettzia, limfogranuloma, psitakosis, gastroenteristis, bruselosis, disentri.

Kontraindikasi : Hipersensitif, anemia, kehamilan, menyusui, pasien porfiria

Bentuk sediaan : Kapsul 250 mg, 500 mg, suspensi 125 mg/5 ml, sirup 125 ml/5 ml, serbuk injek. 1g/vail.

Dosis dan aturan pakai : Dewasa : 50 mg/kgBB/hari dalam dosis terbagi tiap 6 jam.

Anak : 50-75 mg/kgBB/hari dalam dosis terbagi tiap 6 jam.

Bayi < 2 minggu : 25 mg/kgBB/hari dalam 4 dosis terbagi tiap 6 jam. Berikan dosis lebih tinggi untuk infeksi lebih berat. Setelah umur 2 minggu bayi dapat menerima dosis sampai 50 mg/kgBB/ hari dalam 4 dosis tiap 6 jam.

Efek samping : Kelainan darah reversible dan ireversibel seperti anemia aplastik anemia (dapat berlanjut menjadi leukemia), mual, muntah, diare, neuritis perifer, neuritis optic, eritema multiforme, stomatitis, glositis, hemoglobinuria nocturnal, reaksi hipersensitivitas misalnya anafalitik dan urtikaria, sindrom grey pada bayi premature dan bayi baru lahir, depresi sumsum tulang

Resiko khusus : Anemia aplastik : jarang terjadi, terjadi hanya 1 pada 25.000-40.000 penggunaan klorafenikol, diperkirakan karena pengaruh genetic dan terjadi tidak secara langsung pada saat menggunakan kloramfenikol tetapi muncul setelah beberapa minggu atau beberapa bulan setelah pemakaian

Gray-baby syndrome : terjadi pada bayi yang lahir premature dan pada bayi umur < 2 minggu dengan gangguan hepar dan ginjal. Klorafenikol terakumulasi dalam darah pada bayi khususnya ketika pemberian dalam dosis tinggi ini yang menyebabkan Gray-baby syndrome.

Daftar Pustaka

Anonim, 2000, Informatorium Obat Nasional Indonesia 2000, DepKes RI, Jakarta.

Anonim, 2006, Obat-Obat Penting ”Untuk Pelayanan Kefarmasian, edisis revisi, Fakultas Farmasi Universitas Gajah Mada.

Hayes, C, Peter., Mackay, W, Thomas., 1997, Diagnosis dan Terapi, Penerbit Buku Kedokteran, EGC.

Mansjooer, Arif, dkk., 2001, KAPITA SELEKTA KEDOKTERAN, edisi ketiga jilid pertama, Media Aeculapius FKUI, Jakarta.

Reese, E, Richard., Betts, F, Robert., Gumustop, Bora., 2000, Handbook of Antibiotics, 3rd Edition, Lippncott Williams & Wilkins, Philadelphia, USA.

 

PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA INFEKSI SALURAN KEMIH NON-KOMPLIKASI

PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA INFEKSI SALURAN KEMIH NON-KOMPLIKASI

( Yudi Tri Utomo, NIM : 078115039 )

 

Pendahuluan

Infeksi Saluran Kemih (ISK) adalah ditemukannya mikroorganisme dalam urine yang tidak diperhitungkan sebagai kontaminasi, dan potensial untuk menyebar ke jaringan saluran kemih dan jaringan lain yang berdekatan. ISK non-komplikasi adalah infeksi yang terjadi pada saluran kemih yang normal, sedangkan ISK komplikasi adalah infeksi yang terjadi pada saluran kemih yang abnormal ( misal : abnormalitas kongenital, batu saluran kemih, pemakaian kateter, hyperthropy prostat ).

Beberapa gejala ISK antara lain : rasa ingin berkemih yang sering tetapi urine yang keluar hanya sedikit (istilah jawa : anyang-anyangen) dan rasa nyeri atau rasa terbakar di daerah kandung kemih dan urethra selama berkemih. Adanya warna merah pada urine menunjukkan terdapat darah pada urine. Apabila infeksi sudah mengenai ginjal, gejala yang muncul antara lain : nyeri di daerah panggul, demam, mual dan muntah.

Penyebab utama ISK non-komplikasi adalah bakteri Escherichia coli (85%), Staphylococcus saphrophyticus (5-15%), Klebsiella pneumoniae, Proteus sp., Pseudomonas aeruginosa dan Enterococcus sp. (5-10%).

 

Sasaran Terapi

Sasaran terapi pada Infeksi Saluran Kemih adalah mikroorganisme penyebab infeksi.

 

Tujuan Terapi

Tujuan terapi ISK adalah mencegah atau mengobati akibat sistemik dari infeksi, membunuh mikroorganisme penyebab infeksi dan mencegah terjadinya infeksi ulangan.

 

Strategi Terapi

Terapi tanpa obat pada ISK adalah minum air dalam jumlah banyak agar urine yang keluar juga meningkat.

Pengobatan ISK adalah menggunakan antibiotik. Idealnya, antibiotik yang digunakan harus dapat ditoleransi dengan baik, mencapai konsentrasi tinggi dalam urine dan mempunyai spektrum aktivitas terhadap mikroorganisme penyebab infeksi. Pemilihan antibiotik untuk pengobatan didasarkan pada tingkat keparahan, tempat terjadinya infeksi dan jenis mikroorganisme yang menginfeksi.

 

Antibiotik yang digunakan pada Infeksi Saluran Kemih non-komplikasi

TRIMETHOPRIM-SULFAMETHOXAZOLE

Nama Generik : Co-trimoxazole

Nama Dagang : Bactrim® (Roche), Kaftrim® (Kimia Farma), Inatrim® (Indo Farma), Primadex® (Dexa Medica), Sanprima® (Sanbe), Triminex® (Konimex)

Indikasi : Infeksi Saluran Kemih, Infeksi Saluran Pencernaa, Infeksi Saluran Pernapasan, Infeksi kulit

Kontra Indikasi : hipersensitif terhadap komponen obat, anemia megaloblastik

Bentuk Sediaan :

  • Tablet ( 80 mg Trimethoprim – 400 mg Sulfamethoxazole
  • Kaplet Forte (160 mg Trimethoprim – 800 mg Sulfamethoxazole )
  • Sirup suspensi ( Tiap 5 ml mengandung 40 mg Trimethoprim – 200 mg Sulfamethoxazole )

Dosis :

  • Anak diatas 2 bulan : 6-12 mg trimethoprim/ kg/ hari, terbagi dalam 2 dosis (tiap 12 jam)
  • Dewasa : 2 x sehari 2 tablet atau 2 x sehari 1 kaplet forte

Efek Samping : mual, muntah, hilang nafsu makan, kemerahan pada kulit

Resiko Khusus : defisiensi G6PD, defisiensi asam folat, wanita hamil dan menyusui, gangguan fungsi hati, gangguan fungsi ginjal.

 

CIPROFLOXACIN

Nama Generik : Ciprofloxacin

Nama Dagang : Ciproxin® (Bayer), Interflox® (Interbat), Nilaflox® (Nicholas), Quidex® (Ferron), Renator® (Fahrenheit), Scanax® (Tempo Scan Pasific)

Indikasi : Infeksi Saluran Kemih, Sinusitis Akut, Infeksi Kulit, Infeksi Tulang dan Sendi, Demam Typhoid, Pneumonia Nosokomial

Kontra Indikasi : Hipersensitif terhadap Ciprofloxacin atau golongan quinolon lain

Bentuk Sediaan : Tablet, kaplet (250 mg, 500 mg, 750 mg); Tablet lepas lambat ( 500 mg, 1000 mg )

Dosis : Dewasa : 250 mg tiap 12 jam

Efek Samping : ruam kulit, diare, mual, muntah, nyeri perut, sakit kepala, susah tidur, jantung berdebar-debar, halusinasi

Resiko Khusus : Pasien dengan gangguan ginjal, Wanita hamil dan menyusui.

 

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2000, Informatorium Obat Nasional Indonesia, Departemen Kesehatan RI, Jakarta.

Anonim, MIMS Indonesia, 100th edition, CMPMedica Asia Pte Ltd, Singapore

Coyle, E. A., Prince, R. A., 2005, Urinary Tract Infection, in Dipiro J.T., et al, Pharmacotherapy A Pathophysiologic Approach, 6th, Appleton&Lange, Stamford.

Gupta, K., Stamm, W. E., 2003, Infections of The Urinary Tract, in Infectious Disease : The Clinician’s Guide to Diagnosis, Treatment, and Prevention, Web MD Professional Publishing.

Lacy, C.F., Armstrong, L.L., Goldman, M.P., and Lance, L.L., 2006, Drug Information Handbook, 14th edition, Lexi-Comp, Inc., USA.

Stoller, M. L., Carrol, P. R., 2006, Urology, in 2006 Current Medical & Diagnosis Treatment (CMDT), 45th edition, Lange Medical Books/ Mc Graw-Hill.

 

 

PENGOBATAN TUBERKULOSIS PARU PADA PASIEN DM

PENGOBATAN TUBERKULOSIS PARU PADA PASIEN DM

Oleh : Nugraheni Angger U., S.Farm

078115023

 

 

Tuberkulosis paru merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberkulosis. Pada pengobatan tuberkulosis paru ketepatan pengobatan suatu hal yang penting dalam proses penyembuhan, yang meliputi tepat indikasi, tepat pasien, tepat obat dan pemberian, tepat dosis serta waspada efek samping. Hal tersebut berperan dalam mencegah resistensi bakteri tuberkulosis, menghambat penularan, dan mengurangi angka kematian. Gejala tuberkulosis paru adalah batuk lebih dari 4 minggu dengan atau tanpa sputum (dahak), malaise (berupa anoreksia tidak ada nafsu makan, badan semakin kurus, sakit kepala , nyeri otot, dan keringat malam), demam derajat rendah, nyeri dada dan batuk darah.

Sasaran, Tujuan dan Strategi Terapi

Sasaran pengobatan tuberkulosis paru adalah meringankan tanda dan gejala tuberkulosis paru serta membunuh dan membersihkan Mycobacterium tuberculosis. Pengobatan tuberkulosis paru ini mempunyai tujuan antara lain mengidentifikasi secara cepat kasus baru tuberkulosis paru, mengisolasi pasien yang positif menderita tuberkulosis paru untuk mencegah penyebaran penyakit, mengatasi secara cepat tanda dan gejala yang muncul, meningkatkan kepatuhan pasien selama pengobatan, serta menyembuhkan pasien secepat mungkin (umumnya setelah 6 bulan pengobatan) dengan tidak mempengaruhi penggunaan obat oral anti diabetes. Pasien tuberkulosis paru dapat dikelompokkan menjadi 4 kategori yaitu kategori 1, kategori 2, kategori 3, dan sisipian. Kategori 1 adalah penderita baru tuberkulosis paru dengan hasil test Bakteri Tahan Asam (BTA) positif, penderita tuberkulosis paru BTA negatif rontgen positif sakit berat, dan penderita tuberkulosis ekstra paru berat. Kategori 2 adalah pasien tuberkulosis paru kambuh, penderita gagal, dan penderita dengan pengobatan setelah lalai. Kategori 3 adalah penderita baru BTA negatif dan rontgen positif sakit ringan, serta pada penderita ekstra paru ringan. Pasien yang tergolong kategori sisipan apabila pada akhir tahap intensif pengobatan baik pada penderita kategori 1 atau kategori 2, dimana hasil pemeriksaan BTA masih positif. Agar pengobatan tuberkulosis menjadi optimal maka strategi pengobatan meliputi pengobatan non farmakologis dan pengobatan farmakologis (dengan pemberian kombinasi Obat Anti Tuberkulosis). Pengobatan non farmakologis meliputi minum susu kambing ataupun susu sapi, olah raga secara teratur, menghindari kontak langsung dengan pasien tuberkulosis, istirahat yang cukup, pola makan yang benar, dan rajin mengontrol kadar gula darah. Sedangkan pengobatan farmakologisnya dengan menggunakan kombinasi Obat Anti Tuberkulosis (OAT) yaitu isoniazid, rifampisin, pirazinamid, etambutol dan streptomisin.

Pengobatan tuberkulosis paru diberikan dalam dua tahap, yaitu tahap intensif dan tahap lanjutan. Pada tahap intensif penderita mendapat OAT selama 2 bulan, apabila hasil pemeriksaan BTA pada akhir tahap ini negatif, maka dapat dilanjutkan dengan pengobatan tahap lanjutan tetapi jika hasil pemeriksaan BTA masih positif maka diberikan tahap sisipan terlebih dahulu sebelum masuk ke tahap lanjutan. Pasien dengan kategori 1, pada tahap intensif akan mendapat kombinasi Obat Anti Tuberkulosis yaitu isoniazid, rifampisin, pirazinamid, dan etambutol selama 2 bulan diberikan setiap hari, pada tahap lanjutan yaitu isoniazid, rifampisin diberikan 3 kali dalam seminggu selama 4 bulan. Pasien dengan kategori 2, pada tahap intensif mendapat OAT selama 3 bulan yang terdiri dari 2 bulan dengan isoniazid, rifampisin, pirazinamid, etambutol, dan suntikan streptomisin diberikan setiap hari, serta 1 bulan dengan isoniazid, rifampisin, pirazinamid, dan etambutol diberikan setiap hari. Setelah tahap intensif, diteruskan dengan tahap lanjutan selama 5 bulan dengan kombinasi OAT isoniazid, rifampisin, dan etambutol diberikan 3 kali dalam seminggu. Pasien tuberkulosis paru dengan kategori 3 pada tahap intensif mendapat kombinasi OAT isoniazid, rifampisin, dan pirazinamid diberikan setiap hari selama 2 bulan. Setelah tahap intensif, diteruskan tahap lanjutan dengan kombinasi OAT isoniazid dan rifampisin diberikan 3 kali dalam seminggu selama 4 bulan. Pada tahap sisipan akan mendapat kombinasi OAT isoniazid, rifampisin, pirazinamid, dan etambutol diberikan setiap hari selama 1 bulan.

Pengobatan tuberkulosis paru pada pasien yang menderita Diabetes Mellitus (DM), selama menjalani pengobatan tuberkulosis harus rajin mengontrol kadar gula darahnya karena penggunaan rifampisin sebagai Obat Ant Tuberkulosis (OAT) akan mengurangi efektifitas obat oral anti diabetes (Sulfonil urea) sehingga dosis obat oral anti diabetes perlu ditingkatkan. Pada pasien yang menderita DM dalam penggunaan etambutol harus hati-hati karena penggunaan etambutol mempunyai komplikasi terhadap mata, dimana penglihatan menjadi berkurang. Gangguan penglihatan ini akan kembali normal dalam beberapa minggu setelah OAT dihentikan.

Obat pilihan

  1. isoniazid

    Nama generik : isoniazid

    Nama dagang : inoxin®, kapedoxin®, pulmolin®, suprazid®

    Indikasi : tuberkulosis dalam kombinasi dengan obat lain

    Kontra-indikasi : penyakit hati yang aktif

    Bentuk sediaan : tablet

    Dosis dan aturan pakai : dewasa : 5 mg/kg per hari (dosis yang biasanya 300 mg/hari), 10 mg/kg/hari 3 kali seminggu atau 15 mg/kg 2 kali seminggu (maksimal 900 mg)

    Anak : 10-15 mg/kg/hari dalam 12 dosis terbagi (maksimal 300 mg/hari), 20-30 mg/kg 3 kali seminggu (maksimal 900 mg)

    Efek samping : mual, muntah, konstipasi, neuritis perifer, dengan dosis tinggi, neuritis optic, kejang, episode psikosis, vertigo, reaksi hipersensitif seperti demam, eritema multiforme, purpura, agranulositosis, anemia hemolitik, anemia aplastik, hepatitis (terutama pada usia lebih dari 35 tahun), sindrom Sistemik Lupus Eritema, elagra, hiperrefleksia,hiperglikemia dan ginekomastia

    Resiko khusus : kelainan fungsi hati

    Pemberian Isoniazid selalu disertai dengan pemberian piridoksin (Vitamin B6)

  2. pirazinamid

    Nama generik : pirazinamid

    Nama dagang : corsazinamid®, prazina®, sanazet®, TB Zet®

    Indikasi : tuberkulosis dalam kombinasi dengan obat lain

    Kontra-indikasi : porfiria gangguan fungsi hati berat, hipersensitifitas terhadap pirazinamid

    Bentuk sediaan : tablet

    Dosis dan aturan pakai : dewasa : 15-30 mg/kg/hari, 50 mg/kg dua kali seminggu, 25-30 mg/kg ( maksimal 2,5 g) 3 kali seminggu.

    anak : 15-30 mg/kg/hari (maksimal 2 g/hari), 50 mg/kg/dosis 2 kali seminggu (maksial 4 g/dosis)

    Efek samping : hepatotoksisitas termasuk demam, anoreksia, hepatomegali, splenomegali, jaundice, kerusakan hati, mual, muntah, urtikaria, artralgia, anemia sideroblastik.

    Resiko khusus : kelainan hati kronik

  3. rifampisin

    Nama generik : rifampisin

    Nama dagang : lanarif®, medirif®, rifabiotic®, rimactane®, rifamtibi®, rifacin®

    Indikasi : bruselosis, legionelosis, infeksi berat stafilokokus kombinasi dengan obat lain. Tuberkulosis dalam kombinasi dengan obat lain

    Kontra-indikasi : jaundice

    Bentuk sediaan : kapsul, kaptab

    Dosis dan aturan pakai : 10 mg/kg (8-12 mg/kg) per hari, maksimal 600 mg/hari 2 atau 3 kali seminggu

    Efek samping : gangguan saluran cerna seperti anoeksia, mual, muntah, sakit kepala, pada terapi interminten dapat terjadi sindrom influenza, gangguan respirasi (nafas pendek), kolaps dan syok, anemia hemolitik, gagal ginjal akut, purpura, trobositopenia, gangguan funsgsi hati, jaundice, kemerahan, urtikaria, ruam. Efek samping yang lain : udem, kelemahan otot, miopati, lekopenia, eosinofilia, gangguan menstruasi, warna kemerahan pada urin, saliva dan cairan tubuh lainnya, tromboplebtis pada pemberian per infus jangka panjang

    Resiko khusus : wanita pengguna kontrasepsi, penderita Diabetes Mellitus

  4. etambutol

    Nama generik : etambutol

    Nama dagang : bacbutol®, corsabutol®, parabutol®

    Indikasi : tuberkulosis dalam kombinasi dengan obat lain

    Kontra-indikasi : anak di bawah 6 tahun, neurotis optik, gangguan penglihatan

    Bentuk sediaan : tablet

    Dosis dan aturan pakai : dewasa : 15-25 mg/kg/hari, 50 mg/kg 2 kali seminggu, 25-30 mg/kg 3 kali seminggu

    anak (di atas 6 tahun) : 15-20 mg/kg/hari (maksimal 1 g/hari), 50 mg/kg 3 kali seminggu (maksimal 4 g/dosis)

    Efek samping : neuritis optic, buta warna merah/hijau, neuritis perifer

    Resiko khusus : kelainan ginjal

  5. streptomisin

    Nama generik : streptomisin

    Nama dagang : streptomisin sulfat meiji®

    Indikasi : tuberkulosis dalam kombinasi dengan obat lain

    Kontra-indikasi : hipersensitif terhadap aminoglikosida

    Bentuk sediaan : serbuk injeksi 1g/vial, 5 g/vial

    Dosis dan aturan pakai : dewasa : 15 mg/kg/hari (maksimal 1g), 25-30 mg/kg 2 kali seminggu (maksimal 1,5g), 25-30 mg/kg 3 kali seminggu (maksimal 1g)

    anak : 20-40 mg/kg/hari (maksimal 1 g/hari), 20-40 mg/kg 2 kali seminggu (maksimal 1 g), 25-30 mg/kg 3 kali seminggu)

    Efek samping : ototoksisitas, nefrotoksisitas yang biasanya terjadi pada orang tua atau gangguan fungsi ginjal

    Resiko khusus : wanita hamil, kelainan ginjal

Daftar Pustaka

Anonim, 2001, Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis, Cetakan Ke-6, 1-45, Departemen Kesehatan Replubik Indonesia, Jakarta.

Anonim, 2006, British National Formulary, edisi 52, 303-307, British Medical Association, Royal Pharmaceutical Society of Great Britain, London.

              Anonim, 2007, MIMS, Volume 8, 309-315, PT Info Master, Jakarta.

Lacy, C.F., Armstrong, L.L., Goldman, M.P., and Lance, L.L., 2006, Drug Information Handbook, 14th Ed.,593, 868, 1353, 1394-1397, 1484 , Lexicomp, Inc., USA

 

 

Penggunaan Antibiotik Penisilin Untuk Pengobatan Sifilis

Penggunaan Antibiotik Penisilin Untuk Pengobatan Sifilis

Oleh: Paulina Catur Pipera Sakti, S.Farm

078115024

Sifilis merupakan penyakit menular seksual yang diakibatkan oleh spiroseta jenis Treponema pallidum. Organisme tersebut masuk kedalam tubuh pasangan seksual melalui luka pada kulit atau epitel, dan juga melalui luka darah. Sifilis sendiri terjadi karena sering melakukan hubungan seksual dengan pasangan yang berganti-ganti (kecuali oral seks). Luka pada sifilis terlihat seperti lubang pada kulit dengan tepi yang lebih tinggi. Pada umumnya tidak terasa sakit, luka akan hilang setelah beberapa minggu, tetapi virus akan menetap pada tubuh dan penyakit dapat muncul berupa lecet-lecet pada seluruh tubuh. Lecet-lecet ini akan hilang juga, dan virus akan menyerang bagian tubuh lain. Pada wanita lesi dapat tersembunyi pada vagina Sifilis dapat ditularkan dari ibu yang hamil ke janinnya melalui plasenta. Gambaran klinis dari sifilis adalah:

Sifilis primer, waktu rata-rata inkubasi 3 minggu. Papula yang membentuk ulkus yang tidak nyeri (chancre primer) terbentuk didaerah inokulasi pada penis atau serviks atau labia. Limfadenopati inguinal terjadi, dan juga lesi sembuh secara spontan setelah beberapa minggu.

Sifilis sekunder, terjadi rata-rata 6-8 minggu kemudian dengan ruam makulopapular generalisata (termasuk ditelapak tangan dan kaki), limfadenopati generalisata, dan kondiloma lata (plak yang lembab, lebar, dan sangat infeksius didaerah intertriginosa yang hangat). Gejala sistemik terdiri dari demam, nyeri kepala, dan nyeri tenggorokan.

Sifilis laten, gejala dan tanda menghilang. Satu-satunya manisfetasi infeksi adalah pemeriksaan serologis yang positif. Infeksi SSP asimtomatik pada silifis laten ini umum terjadi.

Sifilis tersier, guma (lesi granulomatosa yang keras) muncul setelah 3-10 tahun diberbagai tempat, termasuk dikulit, dimana terjadi ulkus setelah ada kerusakan jaringan kartilago dan jaringan ikat dibawahnya. Efek dari sifilis tersier ini adalah terjadinya aortitis, terjadi setelah 10-30 tahun dan menyebabkan aneurisma aorta asendens. Neurosilifis menyebabkan penyakit dengan spektrum gejala yang luas termasuk: meningovaskuler (4-7 tahun), general paresis of the insane (10-20 tahun), tabes dorsalis (15-25).

Kemungkinan terburuk dari penyakit sifilis ini adalah kemungkinan terserang PMS lain. Jika tidak dirawat, walaupun secara fisik sudah sembuh, dapat kambuh lagi karena penyakit ini masih bersarang di tubuh. Jika ini terjadi, maka dapat menyebabkan kerusakan orak, hati, system syaraf dan dapat menyebabkan kematian. Sifili dapat mempengaruhi pembentukan fetus pada wanita hamil, sehingga memperbesar resiko keguguran atau bayi mati dalam kandungan. Diagnosis penyakit sifilis ini diidentifikasi dengan adanya Treponema pallidum menggunakan mikroskop lapang gelap pada lesi sifilis primer atau sekunder. Uji serologis, dilakukan dengan memeriksa LCS pada dugaan neurosifilis.

Tujuan terapi pada pengobatan sifilis ini adalah mengobati dan membunuh spiroseta jenis Treponema pallidum agar tidak tumbuh dan berkembang biak lagi, sedangkan sasaran terapi pengobatan sifilis itu sendiri adalah spiroseta jenis Treponema pallidum

Pengobatan silifis ini menggunakan antibiotik Penisilin, regimen dan dosis yang diberikan tergantung pada tahapan penyakit. Obat alternatif lain adalah tetrasiklin dan seftriakson. Steroid diperlukan untuk mencegah reaksi Jarisch-Herxheimer (anafilaksis akibat spiroseta yang mati atau akan mati), dan juga setelah terapi sifilis tahap lanjut. Riwayat kontak harus dicari dan pasangan turut diterapi.

Pengobatan non farmakologi, pada pasien yang terinfeksi sifilis harus berhenti melakukan aktivitas seksualnya sampai sifilisnya benar-benar sembuh (negatif terinfeksi sifilis), dan juga dalam melalukan hubungan seksual hendaknya jangan berganti-ganti pasangan. Pada sekali waktu pasien sifilis harus melakukan tes HIV pada saat didiagnosis sifilis. Pasien harus selalu memeriksakan diri setiap 3-6 bulan sekali setelah diterapi, serta selalu menjaga kebersihan didaerah kelamin. Dalam melalukan hubungan seksual hendaknya yang pria menggunakan kondom, dan setelah melakukan hubungan seksual baik pria maupun wanita mencuci tangan dengan air dan sabun hingga bersih.

Pengobatan secara farmakologi menggunakan antibiotik penisilin, penisilin bersifat bakterisid dan bekerja secara dengan cara menghambat sintesis dinding sel. Obat ini berdifusi dengan baik dijaringan dan cairan tubuh manusia, tapi penetrasi kedalam cairan otak kurang baik kecuali jika selaput otak mengalami infeksi.obat ini diekskresi ke urin dalam kadar terapeutik. Probenesid menghambat ekskresi penisilin oleh tubulus ginjal sehingga kadar dalam darah lebih tinggi dan masa kerjanya lebih panjang. Efek samping yang terpenting adalah reaksi yang dapat menimbulkan urtikaria, dan kadang-kadang reaksi anafilaksis dapat menjadi fatal. Pasien yang alergi terhadap suatu penisilin biasanya alergi terhadap semua turunan penisilin karena hipersensitifitas ditentukan oleh struktur dasar penisilin. Ensefalopati akibat iritasi serebral merupakan efek samping yang jarang namun serius. Hal ini dapat terjadi pada pemberian dosis yang berlebihan atau dosis normal pada pasien gagal ginjal. Penisilin tidak boleh diberikan secara intratekal karena cara ini dapat menimbulkan ensefalopati yang mungkin fatal.

Benzilpenisilin (Penisilin G) Obat ini merupakan first line sifilis, efektif untuk mengobati infeksi streptokokus, pneumokokus, sifilis, tetanus, dan gonokokus, harus diperhatikan bagi pasien yang hipersensitif terhadap penisilin dan gangguan fungsi ginjal. Untuk pasien yang tidak tahan terhadap penisilin dapat menggunakan tetrasiklin oral sebagai pilihan obatnya. Perlu diingat bahwa obat ini dapat rusak jika diberikan secara peroral, karena absorpsi per oral dapat dirusak oleh asam lambung, oleh karena itu sebaiknya obat ini digunakan secara parenteral. Interaksi obat yang dapat terjadi karena penggunaan obat penisilin ini adalah jika digunakan bersamaan dengan obat antasid, antikoagulan, urikosurika, sitotoksika, dan kontrasepsi oral. Efek samping yang sering terjadi reaksi alergi berupa urtikaria, demam, nyeri sendi, angioudem, leukopenia, trombositopenia, syok anafilaksis pada pasien yang alergi, dan diare pada pemberian secara peroral. Untuk pasien yang sedang hamil obat ini termasuk dalam kategori faktor resiko B (studi terhadap sistem reproduksi binatang percobaan tidak memperlihatkan adanya resiko terhadap janin, tetapi belum ada studi terkontrol pada wanita hamil atau sistem reproduksi binatang percobaan yang menunjukkan adanya efek samping pada kehamilan trimester pertama) Pemberian dosis untuk pasien sifilis: injeksi intravena lambat, intramuskular atau infus, 1,2 g/haridalam dosis terbagi 4, jika diperlukan dapat ditingkatkan 2,4 g/hari atau lebih. Bayi prematur dan neonatal 50 mg/kgdalam dosis terbagi 2; bayi 1-4 minggu 75 mg/kg/hr dalam dosis terbagi 4 (dosis lebih tinggi mungkin dibutuhkan). Nama generik obat ini adalah benzatin penisilin G, sedangkan nama dagangnya adalah prokain penisili G, dan penatur LA.

Daftar Pustaka

Anonim, 2000, Informatorium Obat Nasional Indonesia (IONI), Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Lacy, C.F., Armstrong, L.L., Goldman, M.P., and Lance, L.L., 2006, Drug Information Handbook, 14th Ed., 593-595, 868-870, Lexicomp, Inc., USA. Neal, M.J., 2006, At a Galance Farmakologi Medis, Edisi V, Erlangga, Jakarta. Tierney, L.M., McPhee, S.J., dan Papadakis, M.A., 2006, Current Medical Diagnosis & Treatment, Edisi 45, Lange Medical Books, McGraw-Hill.

Penggunaan Obat Antituberculosis Pada Ibu Hamil

PENGGUNAAN OBAT ANTITUBERCULOSIS PADA IBU HAMIL
Bernadeta Mirmayanti (078115044)

PENDAHULUAN
Tuberculosis (TB) merupakan suatu penyakit pada saluran pernafasan yang disebabkan karena adanya infeksi pulmonary oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Bakteri ini sangat mudah berpindah dari orang yang satu ke orang yang lain melalui udara (batuk atau bersin). Oleh karena itu, TB dikategorikan sebagai penyakit menular. TB dapat menyebabkan kerusakan yang progresif pada jaringan paru-paru atau bahkan kematian, terutama jika penyakit ini tidak diobati (Dipiro, et al., 2005).
TB merupakan penyakit yang prevalensinya cukup tinggi di dunia, terutama di negara berkembang. Di Indonesia, TB menjadi masalah kesehatan masyarakat yang cukup penting. Jumlah penduduk Indonesia yang terkena TB menduduki peringkat ke-3 di dunia setelah India dan Cina. Dengan demikian sangatlah penting bagi masyarakat untuk memperluas pengetahuannya mengenai TB dan cara penanggulangannya.
Gejala-gejala yang perlu diwaspasai terkait dengan TB adalah: penurunan berat badan, fatique, batuk produktif, demam, dan night sweats. Gejala ini dapat muncul secara bertahap. Peningkatan keparahan dari TB sangat bergantung pada: jumlah bakteri yang menginfeksi, kemampuan bakteri dalam menginfeksi, serta sistem imun tubuh pasien (Dipiro, et al., 2005).

SASARAN dan TUJUAN TERAPI
Sasaran dari terapi TB adalah Mycobacterium tuberculosis. Sedangkan tujuan dari terapi TB adalah membunuh Mycobacterium tuberculosis dan mencegah penyebaran Mycobacterium tuberculosis.

STRATEGI TERAPI
Non Farmakologis. Terapi non farmakologis untuk TB bertujuan untuk 1). Mencegah penyebaran TB, 2). Melakukan investigasi pada daerah endemik TB, dan 3). Meningkatkan kondisi pasien menjadi well-being (lebih sehat). Tujuan 1 dan 2 dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan, sedangkan tujuan no 3 dapat dicapai dengan terapi nutrisi dan peningkatan sistem imun pasien. Di Rumah Sakit, ruangan rehabilitasi untuk pasien TB harus terpisah, untuk menghindari terjadinya penyebaran Mycobacterium tuberculosis. Selain itu, udara yang berasal dari ruang rehabilitasi tersebut, harus disinari dengan sinar UV terlebih dahulu sebelum dibuang. Penyinaran ini bertujuan untuk membunuh Mycobacterium tuberculosis yang ada. Apabila terjadi kerusakan jaringan akibat TB, maka dapat dilakukan operasi pada jaringan yang telah mengalami kerusakan (Dipiro, et al., 2005).

Farmakologis. Terapi Farmakologis untuk TB adalah dengan penggunaan antibiotika, kortikosteroid, dan Bacille Calmette Guerin Vaccine (BCG Vaksin). Dari ketiga macam obat tersebut, yang paling banyak dan efektif digunakan adalah antibiotika. First line drugs utnuk TB adalah Isoniazid, Ethambutol, Rifampisin dan Pirazinamid. Sedangkan second line drugs- nya adalah Steptomycin, Para Aminosalicylic Acid, Fluoroquinolone, Amoxicillin, Ethionamide, Cycloserin, dan antibiotika golongan makrolida (Dipiro, et al., 2005).

OBAT PILIHAN
TB pada ibu hamil harus diobati, karena jika tidak diobati dapat menyebabkan kecacatan, aborsi dan kematian. Pemilihan obat TB pada ibu hamil harus rasional dan memperhatikan potensial resiko yang dapat terjadi pada ibu dan janin yang dikandung. Oleh karena itu, dalam memilih obat untuk ibu hamil, harus diperhatikan indeks keamanan oabt tersebut pada ibu hamil. Berikut adalah indeks keamanan obat untuk ibu hamil menurut Anonim (2007a):

Kategori dan Keterangannya  
A    Studi terkontrol pada wanita hamil tidak memperlihatkan adanya resiko terhadap janin pada kehamilan trimester 1 (dan juga tidak ada resiko pada trimester selanjutnya), dan sangat kecil kemungkinan untuk membahayakan janin.

B    Studi terhadap sistem reproduksi hewan percobaan tidak memperlihatkan adanya resiko terhadap janin pada kehamilan trimester 1 (dan juga tidak ada resiko pada trimester selanjutnya), akan tetapi belum dilakukan studi terkontrol pada wanita hamil.
C    Studi terhadap hewan percobaan yang telah memperlihatkan adanya efek samping pada janin, tetapi belum dilakukan studi terkontrol pada wanita hamil. Obat ini hanya dapat diberikan jika manfaat yang diperoleh lebih besar daripada resiko yang mungkin terjadi pada janin.

D    Terdapat bukti positif mengenai adanya resiko terhadap janin manusia, tetapi manfaat obat ini pada ibu hamil mungkin lebih besar daripada resiko yang ditimbulkan (misalnya, obat ini diperlukan untuk mengatasi situasi yang mengancam jiwa, dimana obat yang lebih aman tidak tersedia atau tidak efektif).

X    Studi terhadap hewan percobaan atau manusia telah memperlihatkan adanya abnormalitas pada janin atau terdapat bukti resiko pada janin (resiko penggunaan lebih besar daripada manfaat). Obat dalam kategori ini dikontraindikasikan pada wanita hamil.

Obat TB yang relatif aman digunakan pada ibu hamil adalah Ethambutol, Isoniazid, dan Rifampisin, yang digunakan selama 9 bulan (Dipiro, et al., 2005).

Ethambutol (nama generik).
Nama dagang di Indonesia
Cetabutol® (Soho), Ethaxol® (Heroic), Pulna® (Landson), Arsitam® (Meprofarm), Decabutol® (Harsen), Ethinh® (Zenith), Etibi® (Rocella) (Anonim, 2007b).

Indikasi
Antituberkulosis dan infeksi Mycobacterium lain (Lacy, et al., 2006).

Kontraindikasi
Hipersensitivitas Ethambutol dan bahan tambahannya, optic neuritis, penggunaan pada anak-anak, pasien tidak sadar, pasien dengan gangguan penglihatan (Lacy, et al., 2006).

Bentuk sediaan, dosis, aturan pakai
Bentuk sediaan berupa tablet 250 dan 500 mg (Anonim, 2007b).
Dosis Ethambutol untuk dewasa (Lacy, et al., 2006) :
§    Terapi harian : 14-25 mg/kg BB.
40-45 kg = 800mg, 56-75 kg = 1200mg, 76-90 kg = 1600mg (maksimum dosis yang dianjurkan).
§    Dua kali/minggu Directly Observed Therapy (DOT) : 50 mg/kg BB.
40-45 kg = 2000mg, 56-75 kg = 2800mg, 76-90 kg = 4000mg (maksimum dosis yang dianjurkan).
§    Tiga kali/minggu DOT : 25-30 mg/kg BB (maksimum 2,5 g).
40-45 kg = 1200mg, 56-75 kg = 2000mg, 76-90 kg = 2400mg (maksimum dosis yang dianjurkan).

Efek samping
Myocarditis, pericarditis, sakit kepala, malaise, tidak sadar, demam, halusinasi, mata berkunang-kunang, dermatiitis, kulit kemerahan, anoreksia, mual, muntah, gangguan pencernaan, optic neuritis, gangguan penglihatan, nephritis, hepatotiksik,  gejala hipersensitif (Lacy, et al., 2006).

Resiko khusus
Ethambutol relatif aman digunakan pada ibu hamil. Obat ini memiliki indeks keamanan kehamilan yang termasuk dalam kategori B (Anonim, 2007a). Untuk pasien dengan gangguan ginjal perlu dilakukan penyesuaian dosis. Selain itu, obat ini juga dapat menyebabkan hepatotoksik, sehingga perlu dilakukan monitoring untuk pasien dengan gangguan hepar (Lacy, et al., 2006).

Isoniazid (nama generik)
Nama dagang di Indonesia
Sediaan Isoniazid yang diperdagangkan, sebagian besar berisi Isoniazid dan Vit B6. Beberapa nama dagang sediaan tersebut di Indonesia adalah: INH CIBA® (Sandoz), Inoxin® (Dexa Medica), Niacifort-6® (Ikapharmindo), Nufadoxin Forte® (Nufarindo), Pulmolin® (Pharos) (Anonim, 2007a).

Indikasi
Antituberkulosis, baik karena latent tuberculosis infection maupun active TB infection (Lacy, et al., 2006).

Kontraindikasi
Hipersensitivitas Isoniazid dan bahan tambahannya, penyakit liver akut, riwayat kerusakan hepar karena penggunana Isoniazid (Lacy, et al., 2006).

Bentuk sediaan, dosis, aturan pakai
Bentuk sediaan berupa tablet yang mengandung 400 mg Isoniazid dan 10 mg Vitamin B6 (Anonim, 2007a).
Dosis Isoniazid untuk dewasa adalah (Lacy, et al., 2006):
§    Untuk pengobatan latent tuberculosis infection (LTBI): 300 mg/hari atau 900 mg dua kali/minggu selama 6-9 bulan (untuk pasien yang tidak terinfeksi HIV), dan 9 bulan (untuk pasien yang terinveksi HIV). Pengobatan dapat dilanjutkan hingga 12 bulan jika terjadi ketidakteraturan dalam terapi.
§    Untuk pengobatan active TB infection:
Terapi harian : 5 mg/kg BB/hari (biasanya 300 mg/hari), 10 mg/kgBB/hari 1-2 kali sehari dalam dosis terbagi.
Dua kali/minggu DOT: 15 mg/kg BB (maksimum 900 mg).
Tiga kali/minggu : 15 mg/kg BB (maksimum 900 mg).

Efek samping
Hipertensi, palpitasi, takikardi, demam, mata berkunang-kunang, depresi, kejang, kulit kemerahan, lethargi, kulit terasa terbakar, gangguan liver, gangguan hepar, anoreksia, mual, muntah, gangguan penglihatan, gejala hipersensitif (Lacy, et al., 2006).

Resiko khusus
Isoniazid relatif aman digunakan pada ibu hamil. Obat ini memiliki indeks keamanan kehamilan yang termasuk dalam kategori C (Anonim, 2007a). Untuk pasien dengan gangguan ginjal dan liver akut perlu dilakukan penyesuaian dosis. Selain itu, obat ini juga dapat menyebabkan hepatotoksik, sehingga perlu dilakukan monitoring untuk pasien dengan gangguan hepar (Lacy, et al., 2006).

DAFTAR PUSTAKA
Anonim 2007a, MIMS Indonesia Petunjuk Konsultasi, Edisi 6, 131-140, 225-228, Info Master, Jakarta.

Anonim 2007b, Informasi Spesialite Ibat Indonesia, Vol 42, 329-334, Ikrar Mandiri Abadi, Jakarta.

DiPiro, T.J., Talbert, R.L., Yee, G.C., Matzke, G.R., Wells, B.G., Pasey, L.M., 2005, Pharmacoterapy : A Phathophysiologocal Approach, 6th Ed., 2059-2076 Mc Graw-Hill Inc, USA.

Lacy, C.F., Armstrong, L.L., Goldman, M.P., and Lance, L.L., 2006, Drug Information Handbook, 14th Ed., 593-595, 868-870, Lexicomp, Inc., USA.