Category Archives: sistem Kardiovaskular

PENDEKATAN HOLISTIK TERHADAP PENYAKIT DIABETES MELITUS TIPE II DAN KARDIOVASKULER (ATEROSKLEROSIS)

pharmacotherapy-by-william-salim.pdf

PENDEKATAN HOLISTIK TERHADAP PENYAKIT

DIABETES MELITUS TIPE II DAN KARDIOVASKULER (ATEROSKLEROSIS)

William Salim

07 8115 070

Program Profesi Apoteker Universitas Sanata Dharma

LATAR BELAKANG

Faktor risiko utama yang mendasari penyakit kardiovaskuler (aterosklerosis) dan diabetes melitus tipe II adalah obesitas. Salah satu produk jaringan adipose yang dianggap mempunyai peranan terbesar pada proses kardiovaskuler dan telah banyak diteliti adalah adiponektin. Secara eksklusif, adiponektin disintesa dalam jaringan adipose dan diinduksi ketika terjadi diferensiasi jaringan adipose, kemudian disirkulasikan ke dalam aliran darah dengan konsentrasi yang besar. Hormon ini dikenal sebagai kunci dari regulasi sensitifitas insulin dan inflamasi jaringan. Berbeda dengan adipokin lain, kadar adiponektin berhubungan terbalik dengan jumlah lemak tubuh. Pada orang dengan resistensi insulin, obesitas, diabetes, dan penyakit arteri koroner, kadar adiponektin lebih rendah daripada orang lain. Jadi, adiponektin dapat sebagai hormon antidiabetes, antiaterosklerosis, dan meningkatkan sensitifitas insulin.

1. SASARAN TERAPI

Sasaran terapi adalah adiponektin. Peningkatan kadar adiponektin berhubungan dengan menurunnya berat badan akan meningkatkan sensitifitas insulin. Kadar adiponektin rendah berhubungan dengan peningkatan risiko penyakit aterosklerosis.

2. TUJUAN TERAPI

Tujuan terapi adalah menurunkan TNF alfa dan meningkatkan adiponektin, yang pada akhirnya akan menurunkan resistensi insulin.

3. STRATEGI TERAPI

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan adiponektin, diantaranya dengan intervensi gaya hidup dan terapi farmakologi. Intervensi gaya hidup berdasar aktivitas fisik, gaya hidup, dan pola makan meningkatkan adiponektin bersamaan dengan penurunan hCRP dan IL-6 dalam 3 bulan. Diit makanan yang mengandung indeks glikemik rendah dan berserat tinggi dapat meningkatkan konsentrasi plasma adiponektin pada pasien diabetes. Selain itu hindari merokok, kelebihan berat badan, gaya hidup dengan banyak duduk.

Terapi farmakologi menggunakan obat golongan sulfonylurea yaitu glimepiride. Selain memerbaiki sekresi insulin dan kualitas sel beta, glimepiride juga memerbaiki resistensi insulin dengan meningkatkan kadar adiponektin. Pemberian glimepiride selama 12 minggu terhadap pasien usia lanjut dengan diabetes melitus tipe II, menyebabkan perbaikan sensitifitas insulin (penurunan HOMA-IR, peningkatan metabolic clearance rate (MCR) dan penurunan HnA1c, tetapi tidak insulin) dengan penurunan secara signifikan TNF alfa dan meningkatkan serum adiponektin. Keunikan glimepiride dibanding glibenklamid, glipizide, dan glikazid adalah efeknya yang lebih besar pada pankreas. Glimepiride secara mengagumkan memperbaiki resistensi insulin, yang ditunjukkan dengan penurunan HOMA-IR, meningkatkan MCR-g dan menurunkan HbA1c tanpa mengubah fungsi sel beta ekstrapankreas dan CPR dalam urin.

4. OBAT PILIHAN

  • NAMA GENERIK

    Glimepiride.

      • NAMA DAGANG DI INDONESIA

        Amaryl® (Aventis Pharma).

        Metrix® (Kalbe Farma).

          • INDIKASI

            (1) Merupakan obat golongan sulfonylurea untuk pengobatan diabetes melitus tipe II, diresepkan sebagai tambahan pada diet dan olahraga.

            (2) Menurunkan kadar gula darah dengan cara merangsang tubuh memproduksi insulin lebih banyak.

              • KONTRAINDIKASI

                (1) Pasien yang hipersensitif terhadap obat ini, obat-obat golongan sulfonamida lain, atau bahan-bahan tambahan lain (yang menimbulkan resiko hipersensitif).

                (2) Pasien dengan ketoasidosis diabetes, dengan atau tanpa koma. Keadaan seperti ini harus diatasi dengan terapi insulin.

                  • BENTUK SEDIAAN DAN DOSIS BESERTA ATURAN PAKAI

                    Bentuk sediaan glimepiride adalah tablet.

                    Dosis

                    Kadar glukosa darah pasien dan HbA1c harus diukur secara berkala untuk menetapkan dosis minimum yang efektif bagi pasien tersebut dengan tujuan:

                    - Untuk mendeteksi kegagalan primer yaitu tidak adanya penurunan berarti dari gula darah pada pemberian dosis maksimum yang diperbolehkan.

                    - Untuk mendeteksi kegagalan sekunder yaitu hilangnya respon penurunan glukosa darah setelah adanya periode keefektifan inisial.

                    Dosis awal

                    1-2 mg satu kali sehari, diberikan bersamaan makan pagi atau makanan utama yang pertama. Untuk pasien yang lebih sensitif terhadap obat-obat hipoglikemik, dosis awal yang diberikan sebaiknya dimulai dari 1 mg satu kali sehari, kemudian boleh dinaikkan (dititrasi) dengan hati-hati.

                    Dosis pemeliharaan

                    1-4 mg satu kali sehari. Dosis maksimum yang dianjurkan 8 mg satu kali sehari. Pada saat pemberian telah mencapai dosis 2 mg maka kenaikan dosis tidak boleh melebihi 2 mg dengan interval 1-2 minggu tergantung dari respon gula darah pasien. Efikasi jangka panjang harus dimonitor dengan mengukur kadar HbA1c setiap 3-6 bulan.

                      • EFEK SAMPING

                        (1) Gangguan pada saluran cerna seperti muntah, nyeri lambung dan diare.

                        (2) Reaksi alergi seperti pruritus, erythema, urtikaria, erupsi morbiliform atau maculopapular, reaksi ini bersifat sementara dan akan hilang meskipun penggunaan glimepiride harus dihentikan.

                        (3) Gangguan metabolisme berupa hiponatremia.

                        (4) Perubahan pada akomodasi dan/atau kaburnya penglihatan.

                        (5) Reaksi hematologik seperti leukopenia, agranulositosis, trombositopenia, anemia hemolitik, anemia aplastik, dan pansitopenia.

                          • INTERAKSI OBAT

                            (1) Risiko hipoglikemia akan meningkat pada pemberian glimipiride bersama-sama dengan obat-obat tertentu, yaitu NSAID dan obat lain dengan ikatan protein tinggi, seperti salisilat, sulfonamida, kloramfenikol, kumarin, probenesid, MAO inhibitors, β-adrenergic blocking agents.

                            (2) Daya kerja glimepiride dalam menurunkan kadar glukosa darah akan menurun jika diberikan bersamaan dengan obat-obat yang cenderung menimbulkan hiperglikemia, seperti tiazid dan diuretik lain, kortikosteroid, fenotiazin, produk-produk kelenjar tiroid, estrogen, kontrasepsi oral, fenitoin, asam nikotinat, simpatomimetik dan isoniazid.

                            (3) Pemberian propanolol (40 mg tid) dan glimepiride meningkatkan Cmax, AUC, dan T½ dari glimepiride sebesar 23%, 22% dan 15% serta menurunkan CL/f sebesar 18%, pasien perlu diperingatkan akan potensi hipoglikemia yang akan terjadi.

                            (4) Pemberian glimepiride bersamaan dengan warfarin akan menurunkan respon farmakodinamik dari warfarin.

                            (5) Interaksi antara mikonazol oral dan obat hipoglikemia oral dilaporkan dapat menyebabkan hipoglikemia.

                            (6) Glimepiride berpotensi terjadi interaksi dengan fenitoin, diklofenak, ibuprofen, naproksen dan asam mefenamat, karena seluruhnya dimetabolisme oleh sitokrom P450 II C9.

                              • RESIKO KHUSUS

                                Tidak dianjurkan untuk digunakan pada wanita hamil dan menyusui karena glimepiride dapat menembus jaringan payudara sehingga dapat mengkontaminasi nutrisi untuk bayi.

                                KESIMPULAN

                                Dengan melihat prospek klinis mengenai hubungan reseptor-struktur molekuler, adiponektin menjadi target penelitian dalam menurunkan morbiditas dan mortalitas penyakit diabetes melitus tipe II dan aterosklerosis dalam aplikasi klinis sehari-hari.

                                DAFTAR PUSTAKA

                                Anonim, 2006, Ethical Digest: semijurnal farmasi dan kedokteran no. 31, 34, Ethical Digest, Jakarta.

                                Anonim, 2006, Informasi Spesialite Obat (ISO) Indonesia, 181, PT. Anem Kosong Anem (AKA), Jakarta.

                                Anonim, 2006, Surabaya Diabetes Update (SDU), http://www.kalbe.co.id/index.php?mn=news& tipe=detail&detail=18610, diakses tanggal 21 Desember 2007.

                                Anonim 2007, Faktor-Faktor CMR, http://www.sanofi-aventis.co.id/live/id/in/layout.jsp?cnt=B940B265-7DED-400C-B34D-2603764B7D0E, diakses tanggal 21 Desember 2007.

                                Anonim, 2007, Glimepiride, http://www.dexa-medica.com/ourproducts/prescriptionproducts/detail.php?id=43&idc=7, diakses tanggal 21 Desember 2007.

                                Anonim, 2007, Glimepiride, http://www.sanofi-aventis.co.id/live/id/in/layout.jsp?scat=6F241C06-5EE2-42D2-8B8B-8879B15FC80A, diakses tanggal 21 Desember 2007.

                                Anonim, 2007, Glimepiride, http://www.medicinenet.com/glimepiride-oral/article.htm, diakses tanggal 21 Desember 2007.

                                Anonim, 2007, Metrix, http://www.kalbefarma.com/index.php?mn=product&tipe=detail&jenis=adv&detail=105, diakses tanggal 21 Desember 2007.

                                God, bless people in the world

                                Amen

                                SINGKATAN

                                CPR (C-Peptide immuno Reactivity) = peptide yang memroduksi pro-insulin untuk meningkatkan respon insulin terhadap glukosa dalam darah.

                                HbA1c (glycosylated hemoglobin) = suatu molekul dalam sel darah merah yang berikatan dengan glukosa.

                                hCRP (human C-Reactive Protein) = protein plasma yang diproduksi hati saat terjadi inflamasi.

                                HnA1c (Human neutrophil Antigen 1c) = suatu tipe sel darah putih dalam bentuk granulosit dan dapat membantu sel makhluk hidup dalam membunuh dan memakan mikroorganisme (bersifat fagositosis).

                                HOMA-IR (Homeostatis model Assessment of Insulin Resistence) = penilaian sistem homeostatis terhadap resistensi insulin dalam tubuh.

                                IL-6 (Interleukin-6) = sitokinin karena adanya inflamasi yang dilepaskan oleh sel T dan makrofag.

                                MCR-g (Metabolic Clearance Rate ginjal) = kecepatan klirens metabolit dari ginjal.

                                TNF alfa (Tumor Necrosis Factor – alpha) = mediator inflamasi yang disekresi oleh monosit dan dapat menurunkan permeabilitas pembuluh darah.

                                Penggunaan kaptopril Pada Pasien Hipertensi dengan Diabetes Mellitus

                                Penggunaan kaptopril Pada Pasien Hipertensi dengan Diabetes Mellitus

                                (Surya Dwi Ariatma/078115033)

                                Pendahuluan

                                Hipertensi dan Diabetes melitus merupakan dua keadaan yang berhubungan erat dan keduanya merupakan masalah kesehatan yang perlu mendapatkan penanganan yang seksama. Hipertensi pada diabetes mellitus merupakan penyebab utama pada kematian dalam diabetes pada penyakit kardiovaskuler. Kelainan pada mata akibat diabetes melitus yang berupa retinopati diabetik juga dipengaruhi oleh hipertensi.

                                Hipertensi secara umum adalah keadaan dimana tekanan darah sistolik 140 mmHg atau lebih dan tekanan diastolik 90 mmHg atau lebih dan diukur lebih dari satu kali kesempatan, oleh karena itu jika dokter menyatakan tekanan darah anda diatas 140/90 berarti anda menderita hipertensi alias tekanan darah tinggi.

                                 

                                Tabel Klasifikasi Tekanan Darah Untuk Pasien >18 Tahun

                                Menurut Joint National Committee VII

                                Klasifikasi Tekanan Darah

                                Tekanan Darah Sistolik (mmHg)

                                Tekanan Darah Diastolik (mmHg)

                                Normal

                                <120

                                <80

                                Prehipertensi

                                120-139

                                80-89

                                Hipertensi tingkat 1

                                140-159

                                90-99

                                Hipertensi tingkat 2

                                ≥160

                                ≥100

                                 

                                Sasaran dan Tujuan Terapi

                                Penderita tekanan darah tinggi perlu berupaya menormalkan tekanan darahnya. Sasaran pengobatan tekanan darah pada diabetes mellitus adalah mencapai dan mempertahankan tekanan darah dibawah 130/80 mm Hg. Dan tujuan pengobatan dari hipertensi ini, yaitu mencegah terjadinya morbiditas (angka kesakitan) dan mortalitas (angka kematian) kardiovaskuler akibat tekanan darah tinggi.

                                 

                                Strategi Terapi

                                Strategi penatalaksanaan hipertensi meliputi beberapa tahap yaitu, memastikan bahwa tekanan darah benar-benar mengalami kenaikan pada pengukuran berulang kali, menentukan target dalam penurunan tekanan darah, melakukan terapi non farmakologis meliputi pengamatan secara umum terhadap pola hidup pasien, kemudian terapi farmakologis meliputi pengoptimalan penggunaan obat tunggal anti-hipertensi dalam terapi, bila perlu berikan kombinasi penggunaan obat anti-hipertensi, dan melakukan monitoring secara rutin. Terapi hipertensi dapat dilakukan dengan dua cara yaitu terapi non farmakologis (tanpa obat) dan terapi farmakologis (menggunakan obat).

                                 

                                Terapi non farmakologis

                                Terapi non farmakologis dilakukan dengan modifikasi pola hidup yang berguna untuk menurunkan tekanan darah pada penderita hipertensi dengan diabetes mellitus. Modifikasi utama pola hidup yang dapat menurunkan tekanan darah antara lain penurunan berat badan pada kasus obesitas, kurangi asupan kalori, konsumsi buah dan sayur-sayuran, diet rendah lemak, diet rendah garam, menghindari konsumsi alkohol dan memperbanyak aktivitas atau olahraga.

                                 

                                Modifikasi Pola Hidup dalam Penatalaksanaan Hipertensi

                                Modifikasi

                                Rekomendasi

                                Perkiraan penurunan tekanan darah (mmHg)

                                Penurunan berat badan

                                Menjaga berat badan normal (Body Mass Index 18,5-24,9 kg/m2)

                                5-20 per 10 Kg penurunan berat badan

                                 

                                Pola makan

                                Mengkonsumsi buah-buahan, sayuran, dan makanan rendah kadar lemak

                                 

                                8-14

                                Kurangi asupan natrium

                                Kurangi asupan natrium < 2,4 gram perhari

                                 

                                2-8

                                Aktivitas fisik

                                Olahraga teratur seperti aerobik ringan minimal 30 menit per hari

                                4-9

                                Kurangi alkohol

                                Membatasi konsumsi alkohol, pada pria tidak lebih dari 30 ml etanol per hari dan pada wanita tidak lebih dari 15 etanol ml per hari

                                 

                                2-4

                                Terapi farmakologis

                                Ada beberapa golongan obat anti-hipertensi yaitu first line drug : diuretik, Penyekat reseptor beta adrenergic (β-blocker), Penghambat angiotensin-converting enzyme (ACE inhibitor), Penghambat reseptor angiotensin (Angiotensin-receptor blocker,ARB), antagonis kalsium, dan second line drug : penghambat saraf adrenergik, Agonis α-2 sentral dan vasodilator.

                                Pada prinsipnya pengobatan hipertensi pada diabetes melitus tidak berbeda dengan pengobatan pada hipertensi pada penderita tanpa diabetes melitus.Yang perlu mendapatkan perhatian ialah bahwa efek samping obat anti-hipertensi dapat menimbulkan gangguan metabolik pada diabetes melitus. Oleh karena itu pengobatan harus diberikan dengan mengingat kepentingan secara individual dan tingkat kelainan metabolik yang ada.

                                Semua pasien dengan diabetes dan hipertensi dapat diatasi dengan pemberian antihipertensi yang lainnya termasuk ACE Inhibitor atau ARB. Secara farmakologi, kedua golongan obat ini memberikan nephrotection memperlihatkan vasodilatasi oleh karena arteriole pada ginjal. Lebih dari itu inhibitor-inhibitor ACE mempunyai pengurangan resiko yang besar sekali ditunjukkan data pengurangan pada kedua resiko kardiovaskular (kebanyakan dengan ACE inhibitor) dan resiko dari kelainan fungsi tubuh ginjal yang progresif (kebanyakan dengan ARBs) pada pasien-pasien diabetes.

                                Terapi obat pilihan dalam artikel ini adalah kaptopril yang merupakan golongan obat antihipertensi ACE inhibitor.Enzim pengkonversi angiotensin (ACE) memfasilitasi terbentuknya angiotensin II yang mempunyai peran penting dalam pengaturan tekanan darah arteri. Enzim pengkonversi angiotensin (ACE) terdistribusi dalam banyak jaringan dan terdapat dalam beberapa tipe sel yang berbeda, tetapi secara umum ACE terletak pada sel endotelial. Oleh karena itu, produksi utama angiotensin II terletak di pembuluh darah bukan di ginjal. Obat-obat golongan ini diindikasikan untuk hipertensi pada diabetes mellitus dan hipertensi pada diabetes dengan nefropati. Pada beberapa pasien, obat golongan ini menyebabkan penurunan tekanan darah yang sangat cepat.

                                OBAT PILIHAN ► KAPTOPRIL

                                Indikasi : hipertensi ringan sampai sedang (sendiri atau dengan terapi tiazid) dan hipertensi berat yang resisten terhadap pengobatan lain; gagal jantung kongestif (tambahan); setelah infark miokard; nefropati diabetic (mikroalbuminuria lebih dari 30 mg/hari) pada diabetes tergantung insulin.

                                Kontraindikasi : hipersensitif terhadap penghambat ACE (termasuk angiodema); penyakit renovaskuler (pasti atau dugaan); stenosis aortic atau obstruksi keluarnya darah dari jantung; kehamilan; hipertensi dengan gejala hiponatrium; anuria; Laktasi; gagal ginjal.

                                Efek Samping : ruam kulit, pruritus, muka kemerahan, batuk kering; gangguan pengecapan; hipotensi; gangguan gastrointestinal, proteinuria. Jarang, netropenia, takikardi, angiodema.

                                Aturan pakai : Diberikan dalam keadaan perut kosong (1 jam sebelum makan atau 2 jam setelah makan).

                                Dosis : hipertensi ringan sampai dengan sedang awal 12,5 mg 2 x sehari. Pemeliharaan : 25mg 2xsehari, dapat ditingkatkan dengan selang waktu 2-4 minggu. Maksimal 50 mg dua kali sehari. Hipertensi berat awal 12,5 mg 2 x sehari, dapat ditingkatkan bertahap sampai dengan maksimal 50 mg 3 x sehari.

                                Resiko Khusus : pada pasien dengan stenosis arteri ginjal bilateral yang berat, penghambat ACE mengurangi atau meniadakan filtrasi glomerolus sehingga menyebabkan gagal ginjal yang berat dan progresif. Pada wanita hamil dapat mengganggu pengendalian tekanan darah janin dan bayi neonatus, serta mengganggu fungsi ginjalnya; juga bisa mengakibatkan kerusakan tengkorak dan oligohidramnios. Pada ibu menyusi, kaptopril didistribusikan ke air susu sehingga tidak direkomendasikan untuk menyusui saat menggunakan kaptopril

                                Macam-macam obat Kaptopril

                                Kaptopril (Generik) Tablet 12,5 mg, 25 mg, 50 mg.

                                Acepress (Bernofarm) Tablet 12,5 mg, 25 mg.

                                Capoten (Bristol-Myers Squibb) Tablet 12,5 mg, 25 mg, 50 mg.

                                Captensin (Kalbe Farma) Tablet 12,5 mg, 25 mg.Kaptopril Hexparm (Hexparm)

                                Tablet 12,5 mg, 25 mg, 50 mg.

                                Forten (Hexparm) Tablet 25 mg, 50 mg.Casipril (Tunggal Idaman Abadi)

                                Tablet 12,5 mg, 25 mg.

                                Dexacap (Dexa Medica) Tablet 12,5 mg, 25 mg, 50 mg.Farmotten (Fahrenheit)

                                Tablet 12,5 mg, 25 mg.

                                Lotensin (Kimia Farma) Tablet 12,5 mg, 25 mg.Locap (Sandoz)

                                Tablet 25 mg.

                                Tenofax (Sandoz) Tablet 12,5 mg, 25 mg.Metopril (Metiska Farma)

                                Tablet Salut Selaput 12,5 mg, 25 mg, Kaplet Salut Selaput 50 mg.

                                Otoryl (Otto) Tablet 25 mg.Praten (Prafa)

                                Tablet 12,5 mg, 25 mg.

                                Scantesin (Tempo Scan Pacific) Tablet 12,5 mg, 25 mg.Tensobon (Coronet)

                                Tablet 25 mg.

                                 

                                Daftar Pustaka

                                Anonim, 2000, Informatorium Obat Nasional Indonesia, Dep. Kes. RI, JakartaAnonim, 2006, MIMS Indonesia Petunjuk Konsultasi, edisi 6, Info Master, Indonesia Dipiro, J. T., 1997, Pharmacotherapy: A Pathophysiologic Approach, 3rd Edition, Appeton & Lange, Stamford

                                Nafrialdi, 2007, Antihipertensi, dalam Gunawan, S.G (Editor), Farmakologi dan Terapi, Edisi V, Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta

                                PENGGUNAAN KOMBINASI OBAT (GEMFIBROZIL DAN ATORVASTATIN) PADA TERAPI HIPERLIPIDEMIA

                                Veronica Dwi Wijayanti

                                07.8115.068

                                 

                                PENDAHULUAN

                                            Kegemukan merupakan salah satu hal yang mengganggu, dan dapat menjadi pemicu berbagai penyakit seperti kardiovaskuler, vesica biliaris, hiperlipidemia, dan diabetes. Penyakit kardiovaskuler termasuk penyakit jantung koroner (PJK) merupakan salah satu pencetus kematian di Indonesia. Dislipidemia atau hiperlipidemia ditandai dengan peningkatan trigliserida, kolesterol, LDL, dan kolesterol total (total plasma cholesterol) dalam darah.

                                Kondisi hiperlipidemia bila berkelanjutan memicu terbentuknya aterosklerosis (hilangnya elastisitas disertai penyempitan dan pengerasan pembuluh darah arteri). Aterosklerosis menjadi penyebab utama terjadinya PJK. Pada sebagian besar penderita hiperlipidemia dapat dikontrol dengan diet dan olahraga. Namun, bisa juga dengan bantuan obat penurun kadar lipid darah atau antihiperlipidemia

                                 

                                SASARAN TERAPI

                                            Sasaran terapi pada terapi kombinasi ini adalah kolesterol , trigliserida dan LDL (Low Density Lipoprotein).

                                 

                                TUJUAN TERAPI

                                Untuk menurunkan kolesterol dan LDL (Low Density Lipoprotein), meningkatkan HDL (High Density Lipoprotein) terutama pada pasien dengan hiperlipidemia berat yang tidak dapat dikontrol dengan obat tunggal sehingga dapat mencapai kadar lipid yang ditargetkan, serta menurunkan resiko hiperlipidemia seperti infark miokard dan stroke.

                                 

                                SRATEGI TERAPI

                                Non farmakologi

                                Terapi yang pertama kali dianjurkan bagi penderita hiperlipidemia adalah pengaturan gaya hidup atau life style. Diet merupakan salah satu usaha yang paling baik dalam menanggulangi hiperlipidemia adalah mengatur agar susunan  makanan sehari-hari rendah lemak dan kolesterol serta menyesuaikan perbandingan jumlah kalori yang berasal dari lemak, protein dan karbohidrat sesuai dengan kebutuhan tubuh. Individu dengan berat badan berlebih dianjurkan makan makanan rendah kolesterol (< 300 mg/hari), rendah lemak total (< 30% dari kalori) dan rendah lemak jenuh (<10% dari kalori). Selain diet, dianjurkan untuk melakukan aktivitas fisik secara teratur seperti jalan kaki.

                                            Selain terapi dengan diet, individu dengan hiperlipidemia dianjurkan untuk menghindari faktor-faktor yang meningkatkan pembentukan aterosklerosis, yaitu menghentikan rokok, mengobati hipertensi, olahraga cukup dan pengawasan kadar gula darah pada penderita diabetes.

                                 

                                Farmakologi

                                Terapi menggunakan obat dianjurkan untuk beberapa kelainan lipoprotein utama. Terapi hiperlipidemia harus dihindarkan bagi wanita yang hamil dan menyusui. Anak-anak dengan dengan hiperkolesterolemia familial heterozigot dapat diobati dengan resin pengikat asam empedu, biasanya stelah usia 7 atau 8 tahun.

                                Obat penurun lipid dibagi terdiri atas: resin penukar ion, kelompok klofibrat, asam nikotinat, inhibitor HMG KoA Reduktase (statin), dan inhibitor pada absorpsi kolesterol usus. Obat-obat penurun lipid diindikasikan untuk pasien dengan penyakit jantung koroner atau dengan hiperlipidemia berat, yang tidak cukup terkendali dengan diet rendah lemak. Pengobatan juga harus mempertimbangkan berbagai faktor resiko (termasuk merokok, hipertensi, diabetes mellitus, dan riwayat keluarga penyakit jantung koroner prematur). Terapi dengan obat apa pun harus dikombinasi dengan diet yang ketat, menjaga bobot badan mendekati ideal, serta penurunan tekanan darah dan bila merokok dihentikan.

                                Statin merupakan obat pilihan untuk mengobati hiperkolesterolemia, fibrat untuk hipertrigliseridemia, serta dapat digunakan bersama untuk mengobati hiperlipidemia campuran.

                                 

                                OBAT PILIHAN

                                Hiperlipidemia berat tidak selalu dapat dikontrol dengan obat tunggal dan terapi kombinasi banyak digunakan untuk mencapai kadar lipid. Kombinasi harus mencakup obat-obat dengan mekanisme kerja yang berbeda.

                                GEMFIBROZIL

                                Gemfibrozil termasuk dalam obat golongan fibrat. Obat-obat yang tergolong kelompok ini dapat dianggap sebagai hipolipidemik berspektrum luas. Selain menurunkan kadar trigliserida Serum, kelompok fibrat juga cenderung menurunkan kadar kolesterol-LDL dan menaikkan kolesterol-HDL.  Fibrat bekerja sebagai ligan untuk reseptor transisi nukleus, reseptor alfa peroksisom yang diaktivasi proliferator, dan menstimulasi aktivitas lipoprotein lipase.

                                Nama generik       : Gemfibrozil

                                Nama dagang    : Dubrozil (Dumex Alpharma Indonesia), Fenitor (Otto), Fibralip (Tunggal Idaman), Grospid (Gratia Husada), Hypofyl (Sanbe), Inobes (Prafa), Lanaterom (Pertiwi  Agung), Lapibroz (Lapi), Lifibron (Metiska), Lipira (Combiphar), Lopid (Warner Lambert P.D. Indonesia), Nufalemzil (Nufarindo), Scantipid (Tempo), Zenibroz (Zenith).

                                Indikasi             : hiperlipidemia tipe IIa, IIb, III, IV dan V, serta pencegahan penyakit jantung pada pria usia 40-55 tahun yang tidak merespon dengan cukup terhadap diet dan tindakan-tindakan lain yang sesuai. Dislipidemia yang berhubungan dengan diabetes mellitus (DM).  Xanthoma yang berhubungan dengan dislipidemia.

                                Kontraindikasi   : alkoholisme, kerusakan ginjal atau hati berat, penyakit saluran empedu (batu empedu), kehamilan (faktor resiko: C) dan menyusui.

                                Efek samping    : gangguan saluran cerna, juga ruam kulit, dermatitis, pruritus, urtikaria, impotensi, sakit kepala, pusing, pandangan kebur, sakit kuning kolestatik, angiodema, edema larings, fibrilasi atrium, pankreatitis, miastenia, miophaty, rabdomiolisis, mialgia.

                                Dosis                    : 1200mg/hari dalam 2 dosis terbagi, rentang 900-1500 mg sehari. Diminum 30 menit sebelum makan pagi dan makan malam.

                                Bentuk sediaan     : Kapsul 300 mg, Kaplet 600 mg, Tablet salut selaput 600 mg.

                                Peringatan       : profil lipid, angka-angka darah, dan uji fungsi hati sebelum mengawali pengobatan jangka panjang, gangguan ginjal.

                                 

                                ATORVASTATIN

                                Atorvastatin termasuk dalam golongan statin. Obat ini bekerja denan cara menghambat secara kompetitif enzim HMG CoA reduktase, yakni enzim pada sintesis kolesterol, terutama dalam hati. Obat golongan statin ini lebih efektif dibanding resin penukar anion dalam menurunkan kolesterol-LDL tetapi kurang efektif dibanding kelompok fibrat dalam menurunkan kadar trigliserida dan meningkatkan kolesterol-HDL.

                                Statin telah terbukti dapat mengurangi kejadian jantung koroner, semua kejadian kardiovaskuler pada pasien dengan umur sampai dengan 70 tahun dengan penyakit jantung koroner (riwayat angina atau infark miokard akut) dan dengan kolesterol plasma 5,5 mmol/l atau lebih.

                                Nama generik   : Atorvastatin

                                Nama dagang    : Lipitor (Pfizer)

                                Indikasi            : terapi pada dislipidemia atau pencegahan primer pada penyakit kardiovaskuler (aterosklerosis), yaitu:

                                ·  Pencegahan primer pada penyakit kardiovaskuler (high risk CVD): untuk mengurangi resiko MI atau stroke pada pasien tanpa penyakit hati yang mempunyai faktor resiko multipel atau diabetes tipe 2.

                                ·  Terapi pada dislipidemia: untuk mengurangi peningkatan kolesterol total, kolesterol-LDL, apoliporotein B, trigliserida, dan untuk meningkatkan kolesterol-HDL pada dislipidemia Frederickson tipe IIa, IIb, III, dan IV, serta pada hiperkolesterolemia turunan homozigot.

                                ·        Terapi pada hiperkolesterolemia turunan heterozigot pada pasien remaja (10-17 tahun) yang mempunyai kolesterol-LDL ≥ 190 mg/dl atau ≥ 160 mg/dl dengan riwayat keluarga positif beresiko CVD.

                                Kontraindikasi   : hipersensitif terhadap atorvastatin atau komponen lain yang terdapat dalam formula. Penyakit hati aktif, atau kenaikan serum transaminase > 3x batas normal tertinggi. Pada kehamilan (faktor resiko: X) dan menyusui (atorvastatin diekskresi lewat air susu).

                                Efek samping    : gangguan GI, sakit kepala, mialgia, astenia, isomnia, edema angionerutik, kram otot, miositis, miophati, ikterus kolestatik, neuropati perifer, pruritus.

                                Dosis                    :

                                ·      Hiperkolesterolemia primer dan hiperlipidemia campuran : 10 mg sekali sehari.

                                ·     Hiperkolesterolemia turunan : dosis awal 10 mg sehari, tingkatkan dengan interval 4 minggu sampai 40 mg sekali, bila perlu tingkatkan lebih lanjut sampai maksimal 80 mg sekali sehari.

                                Bentuk sediaan     : Tablet salut selaput 10 mg dan 20 mg.

                                Peringatan        : Statin harus digunakan dengan hati-hati pada pasien dengan riwayat penyakit hati atau yang minum banyak alkohol (hindari penggunaan pada penyakit hati yang aktif). Fungsi hati harus diukur sebelum dan sesudah pengobatan. Obat harus dihentikan bila kadar transaminase serum meningkat hingga dan bertahan pada 3 kali batas atas nilai normalnya.

                                 

                                 

                                 

                                PUSTAKA

                                Anonim, 2000, Informasi Obat Nasional Indonesia 2000, 83-87, Departemen Kesehatan RI,  Jakarta.

                                Anonim, 2006, MIMS Indonesia Petunjuk Konsultas, Edisi 6 2006/2007, 259-265, Penerbit PT Infomaster,Jakarta.

                                Katzung, B.G, 2002, Farmakologi Dasar dan Klinik, edisi 8, buku 2, 466-470, Penerbit Salemba Medika, Jakarta.

                                Lacy, C.F., Amstrong, L.L., Goldman, M.P., Lance, L.L., 2006, Drug Information Handbook, 14th Edition, 161-162, 726, AphA, Lexi-Comp Inc, Hudson, Ohio.

                                Neal, M.J, 2006, At Glance Farmakologi Medis, ed.5, 46-47, Penerbit Erlangga, Jakarta.

                                 

                                 

                                 

                                Penggunaan Captopril [Angiotensin Converting Enzyme (ACE) Inhibitor] pada Terapi Hipertensi

                                Penggunaan Captopril [Angiotensin Converting Enzyme (ACE) Inhibitor]

                                pada Terapi Hipertensi

                                 

                                (Willy Hartanto, S. Farm. / 078115071)

                                 

                                Hipertensi merupakan suatu keadaan meningkatnya tekanan darah sistolik di atas 140 mmHg atau tekanan diatolik di atas 90 mmHg serta menjadi faktor resiko utama penyebab coronary artery disease (CAD), gagal jantung, stroke, dan gagal ginjal. Prevalensi terjadinya hipertensi meningkat seiring dengan pertambahan usia.  

                                 

                                Tabel Klasifikasi Tekanan Darah berdasarkan JNC (Joint National Committe on Prevention,

                                Detection, Evaluation, and treatment oh High Blood Pressure) VII

                                Kategori

                                Sistolik (mmHg)

                                Diastolik (mmHg)

                                Normal

                                < 120

                                < 80

                                Prehipertensi

                                120 – 139

                                80 – 89

                                Hipertensi stage 1

                                140 – 159

                                90 – 99

                                Hipertensi stage 2

                                ≥ 160

                                ≥ 100

                                 

                                Secara umum, hipertensi dapat disebabkan oleh makanan; stres; rokok; obat-obatan yang berupa kontrasepsi oral dan kortikosteroid; serta kehamilan. Sebagian besar pasien (70%) tidak menyadari bahwa mereka mengalami hipertensi karena pasien hipertensi terlihat sehat dan tidak menunjukkan gejala yang spesifik. Faktor-faktor yang dapat memperbesar resiko terjadinya hipertensi antara lain pria berusia di atas 55 tahun atau wanita di atas 65 tahun; menderita diabetes melitus dan/atau dislipidemia, mikroalbuminuria, obesitas; mempunyai riwayat keluarga penyakit jantung; jarang beraktivitas (olahraga); perokok; alkoholik.

                                Hipertensi ditandai dengan peningkatan tekanan darah di sekitar kategori prehipertensi dan sebagian besar pasien tidak menunjukkan gejala yang spesifik. Diagnosis hipertensi sejak dini dapat mencegah resiko penyakit kardiovaskuler serta mengurangi resiko morbiditas dan mortalitas. Pemeriksaan dini terhadap hipertensi dapat dilakukan dengan pengukuran tekanan darah secara berkala, pemeriksaan target organ damage akibat hipertensi (otak, mata, jantung, ginjal dan sistem sirkulasi darah perifer).

                                Sasaran terapi dalam pengobatan hipertensi adalah tekanan darah. Tujuan terapi antihipertensi adalah menurunkan tekanan darah ke tekanan darah yang disarankan oleh JNC VII, yaitu di bawah 140/90 mmHg (pasien hipertensi); di bawah 130/80 mmHg (pasien hipertensi dengan komplikasi diabetes melitus); dan di bawah 130/80 mmHg (pasien hipertensi dengan komplikasi gagal ginjal kronis). Strategi terapi dapat dilakukan dengan terapi nonfarmakologi maupun terapi farmakologi.

                                Terapi nonfarmakologi dapat dilakukan dengan mengubah pola hidup pasien hipertensi. Banyak mengkonsumsi buah-buahan, sayuran, dan makanan rendah lemak dapat menurunkan tekanan darah. Pengubahan pola hidup dapat berupa penurunan berat badan jika overweight; membatasi konsumsi alkohol (< 30ml/hari untuk pria dan <15ml/hari untuk wanita); berolahraga teratur (30-45 menit/hari); mengurangi konsumsi garam (< 100 mmol/hari atau 6 gram NaCl); mempertahan konsumsi natrium, kalsium, magnesium yang cukup (± 90 mmol/hari); dan berhenti merokok.

                                Terapi farmakologi dapat dilakukan dengan menggunakan obat-obatan antihipertensi yang berupa golongan diuretik, Angiotensin Converting Enzyme (ACE) Inhibitor, β-adrenergic blockers, Angiotensin Receptor Blockers (ARB), Calcium Channel Blockers (CCB).

                                ACE inhibitor merupakan antihipertensi yang efektif dan efek sampingnya dapat ditoleransi dapat dengan baik. Efek samping penggunaan ACE inhibitor antara lain sakit kepala, takikardi (peningkatan denyut jantung), berkurangnya persepsi pengecapan, dizziness (ketidakseimbangan saat berdiridari posisi duduk atau tidur), nyeri dada, batuk kering, hiperkalemia, angiodema, neutropenia, dan pankreatitis. ACE inhibitor dapat digunakan sebagai obat tunggal maupun dikombinasikan dengan obat lain (biasanya dikombinasikan dengan diuretik). Selain sebagai antihipertensi, ACE inhibitor juga dapat digunakan sebagai vasodilator, terapi congestive heart failure (CHF), left ventricular dysfunction, myocardial infarction, dan diabetes melitus.

                                ACE inhibitor bekerja dengan menghambat perubahan angiotensin I menjadi angiotensin II. Angiotensin II bekerja di ginjal dengan menahan ekskresi cairan (Na+ dan H2O) yang dapat menyebabkan vasokonstriksi dan meningkatkan tahanan perifer. Meningkatnya tahanan perifer akan berefek pada peningkatan tekanan darah. Dengan adanya ACE inhibitor maka tidak akan terbentuk angiotensin II, mengurangi retensi cairan, terjadi vasodilatasi, dan mengurangi kerja jantung.

                                ACE inhibitor dikontraindikasikan untuk wanita hamil karena ACE inhibitor dapat menembus plasenta. ACE inhibitor dihubungkan dengan fetal hypotension, oliguria serta kematian pada manusia, dan fetotoxicity pada hewan uji. Informasi yang perlu diketahui pasien hipertensi terhadap ACE inhibitor antara lain tetap menggunakan ACE inhibitor walau sudah mencapai tekanan darah normal karena hipertensi tidak mempunyai gejala yang spesifik. ACE inhibitor tidak dapat menyembuhkan hipertensi, akan tetapi hanya dapat mengontrol hipertensi dengan terapi jangka panjang. Pasien dianjurkan untuk tidak menggunakan obat-obatan lain khususnya OWA simpatomimetik, kecuali atas rekomendasi dokter. Pasien harus segera menghubungi dokter jika pasien mengalami kehamilan selama menggunakan ACE inhibitor.

                                Jenis ACE inhibitor yang dapat digunakan sebagai antihipertensi antara lain Benazepril, Captopril, Enalapril, Fosinopril, Lisinopril, Moexipril, Perindropil, Quinapril, Ramipril, Trandolapril. Salah satu golongan ACE inhibitor yang paling banyak digunakan sebagai antihipertensi adalah Captopril. Captopril sebagai dosis tunggal mempunyai durasi selama 6-12 jam dengan onset 1 jam. Captopril diabsorpsi sebanyak 60-75% dan berkurang menjadi 33-40% dengan adanya makanan serta  25-30% Captopril akan terikat protein. Waktu paruh Captopril dipengaruhi oleh fungi ginjal dan jantung di mana waktu paruh Captopril pada volunteers sehat dewasa 1,9 jam; pasien CHF 2,06 jam; dan pasien anuria 20-40 jam. Captopril diekskresikan melalui urin (95%) dalam waktu 24 jam.

                                Captopril

                                Nama generik                     : Kaptopril tablet 12,5 mg; 25 mg; 50 mg

                                Nama dagang di Indonesia   :

                                ·         Acendril® (Harsen) tablet 12,5 mg; 25 mg

                                ·         Acepress® (Bernofarm) tablet 12,5; 25 mg

                                ·         Capoten® (Bristol-Myers Squibb Indonesia) tablet 12,5 mg; 25 mg; 50 mg

                                ·         Captensin® (Kalbe Farma) tablet 12,5; 25 mg

                                ·         Captopril Hexpharm® (Hexpharm) tablet 12,5; 25 mg; 50 mg

                                ·         Casipril® (Tunggal Idaman Abdi) tablet 12,5 mg; 25 mg

                                ·         Dexacap® (Dexa Medica) tablet 12,5 mg; 25 mg; 50 mg

                                ·         Farmoten® (Fahrenheit) tablet 12,5 mg; 25 mg

                                ·         Forten® (Hexpharm Jaya) kaplet 25 mg; tablet 50 mg

                                ·         Locap® (Sandoz) tablet 25 mg

                                ·         Lotensin® (Kimia Farma) kaplet 12,5 mg; tablet 25 mg

                                ·         Inapril® (Indofarma) tablet 25 mg

                                ·         Metopril® (Metiska) tablet salut selaput 12,5 mg; 25 mg; kaplet salut selaput 50 mg

                                ·         Otoryl® (Otto) tablet 25 mg; kapsul-tablet 50 mg

                                ·         Praten® (Prafa) kaplet 12,5 mg; 25 mg

                                ·         Prix® (Rama) tablet 12,5 mg; 25 mg

                                ·         Scantensin® (Tempo Scan Pacific) tablet 12,5 mg; 25 mg; 50 mg

                                ·         Stablon® (Combiphar) tablet salut gula 12,5 mg

                                ·         Tenofax® (Prima Hexal) tablet 12,5; 25 mg

                                ·         Tensicap® (Sanbe Farma) tablet 12,5 mg; 25 mg; 50 mg

                                ·         Tensobon® (Coronet Crown) tablet 25 mg

                                ·         Vapril® (Phapros) tablet 12,5 mg; 25 mg

                                Indikasi                               : antihipertensi, left ventricular disfunction yang disertai myocardial infarction, diabetes nefropati, vasodilator, CHF

                                Kontrindikasi                       : hipersensitivitas terhadap Captopril, angiodema yang disebabkan oleh penggunaan ACE inhibitor sebelumnya, wanita hamil dan menyusui

                                Bentuk sediaan                    : tablet, tablet salut selaput, tablet salut gula, kaplet, kaplet salut selaput, kapsul-tablet

                                Dosis                                  : sebagai antihipertensi pada orang dewasa (oral)

                                ·         Dosis awal                 : 12,5-25 mg 2-3 kali/hari yang dapat ditingkatkan 12,5-25 mg dalam 1-2 minggu menjadi 50 mg 3 kali/hari

                                ·         Dosis perawatan        : 50 mg 3 kali/hari

                                ·         Dosis maksimum        : 150 mg 3 kali/hari

                                Aturan pakai                       :

                                ·         Diberikan dalam keadaan perut kosong (1 jam sebelum makan atau 2 jam setelah makan)

                                ·         Captopril digunakan setelah penggunaan antihipertensi lain dihentikan selama 1 minggu, kecuali pada pasien dengan accelerated or malignant hypertension atau hipertensi yang sulit dikontrol

                                ·         Pasien yang tidak dapat menggunakan sediaan padat secara oral dapat dibuat larutan oral Captopril dengan cara menyerbuk 25 mg tablet Captopril yang dilarutkan dalam 25 atau 100 ml air dan diaduk hingga bercampur lalu segera diminum tidak lebih dari 10 menit karena sifat Captopril yang tidak stabil dalam bentuk larutan

                                Efek samping                      : ruam, berkurangnya persepsi pengecapan, sakit kepala, batuk kering, hipotensi sementara, neutropenia, proteinurea

                                Resiko khusus                     :

                                ·         Kehamilan                 : faktor resiko C pada trimester pertama (penelitian dengan hewan uji terbukti terjadi teratogenik pada janin tetapi tidak ada kontrol penelitian pada wanita atau penelitian pada hewan uji dan wanita pada saat yang bersamaan dan obat dapat diberikan jika terdapat kepastian bahwa pertimbangan manfaat lebih besar daripada resiko pada janin) dan faktor resiko D pada trimester kedua dan ketiga (potensial terjadi resiko teratogenik pada janin manusia)

                                ·         Menyusui                   : Captopril didistribusikan ke air susu sehingga tidak direkomendasikan untuk menyusui saat menggunakan Captopril

                                 

                                Daftar Pustaka

                                Anderson, P.O., Knoben, J.E., and Troutman, W.G., 2002, Handbook of Clinical Drug Data, 10th edition, 326-327, McGraw-Hill Companies, Inc., USA

                                Anonim, 2000, Informatorium Obat Nasional Indonesia, 47-53, Departemen Kesehatan Republik Indonesia Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan, Jakarta

                                Anonim, 2005, USP DI-Volume I : Drug Information for the Health Care Professional, 25th edition, 195-197, Thomson Micromedex, USA

                                Anonim, 2006, Informasi Spesialite Obat Indonesia, volume 41, 39, 270-277, Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia, Jakarta

                                Anonim, 2006, MIMS Indonesia Petunjuk Konsultasi, edisi 2006-2007, 39-43, PT InfoMaster lisensi dari CMPMedica, Jakarta

                                Chan, P.D., and Johnson, M.T., 2004, Treatment Guidelines for Medicine and Primary Care, 2004 edition, 20-24, Current Clinical Strategies Publishing, USA

                                Lacy, C.F., Armstrong, L.L., Goldman, M.P., and Lance, L.L., 2006, Drug Information Handbook, 14th edition, 262-264, Lexi-Comp, Inc., USA

                                Massie, B.M., 2002, Systemic Hypertension, in Tierney, L.M., McPhee, S.J., and Papadakis, M.A., (Eds.), Current Medical Diagnosis & Treatment, 41th edition, 460, 464-473, McGraw-Hill Companies, Inc., USA

                                Warfield, C., 1996, Everything You Need to Know about Medical Treatments, 3-5, Springhouse, Corp., USA

                                Penggunaan Inhibitor Platelet Pada Stroke Iskemik

                                PENGGUNAAN INHIBITOR PLATELET PADA STROKE ISKEMIK

                                Oleh : Agustina Wira Paribasa, S.Farm. (078115001)

                                Stroke iskemik merupakan suatu penyakit yang diawali dengan terjadinya serangkaian perubahan dalam otak yang terserang apabila tidak ditangani dengan segera berakhir dengan kematian bagian otak tersebut. Stroke iskemik terjadi karena adanya sumbatan atau hambatan aliran darah ke otak, yaitu apabila aliran darah ke otak kurang dari 20 ml per 100 gram otak per menit. Sumbatan tersebut disebabkan oleh trombosis atau emboli karena terbentuknya plak atau ateroma pada proses aterosklerosis. Walaupun berat otak hanya sekitar 1400 gram, namun menuntut suplai darah yang relatif sangat besar yaitu sekitar 20 % dari seluruh curah jantung. Kegagalan dalam memasok darah dalam jumlah yang mencukupi akan menyebabkan gangguan fungsi bagian otak atau yang terserang atau nekrosis dan kejadian inilah yang lazimnya disebut stroke (Junaidi, 2004).

                                Sasaran terapi stroke iskemik adalah penyebab yaitu penyakit pembuluh darah besar (emboli pada arteri), emboli pada arteri ke jantung, penyakit pembuluh darah kecil (infark lakuner), penyebab yang jarang terjadi misalnya infark vena, vaskulopati, penggunaan obat, migrain, dan lain-lain (Fagan dan Hess, 2005).Tujuan terapi dari stroke iskemik yaitu mengurangi kerusakan neurologis, mengurangi mortalitas dan kecacatan dalam waktu yang lama, mencegah komplikasi dengan cara mencegah terbentuknya trombus karena penggumpalan trombosit darah.

                                Adapun strategi terapi stroke iskemik meliputi terapi nonfarmakologi dan terapi farmakologi. Terapi non farmakologi dapat dilakukan dengan modifikasi pola hidup dengan cara menghindari konsumsi alkohol dan rokok, konsumsi makanan sehat dan seimbang, mengurangi berat badan bila kegemukan, sikap hidup rileks dan menghindari stres (Junaidi, 2004).Terapi farmakologi stroke iskemik dapat dilakukan dengan reperfusi dan neuroproteksi. Dalam paper ini akan dibahas mengenai inhibitor platelet yang merupakan salah satu cara untuk reperfusi. Reperfusi yaitu mengembalikan aliran darah ke otak secara adekuat sehingga perfusi meningkat, obat-obat yang dapat diberikan antara lain : thrombolytic agent, inhibitor platelet dan antikoagulan (Junaidi, 2004).

                                Inhibitor platelet merupakan pilihan utama dalam penanganan stroke iskemik. Inhibitor platelet mencegah terbentuknya trombus karena penggumpalan trombosit darah. Beberapa contoh obat ini adalah asam asetil salisilat (asetosal) atau aspirin, tiklopidin, pentoksiflin, clopidogrel, kombinasi asetosal dengan dipiridamol, dan cilostazol.   

                                Adapun obat-obat pilihan sebagai berikut :

                                ASETOSAL

                                Nama generik : Asetosal

                                Nama dagang di Indonesia : Restor (Prima Adimulia Sejati), Ascardia (Pharos), Procardin (Medikon Prima), Trombo Aspilet (Medifarma), Aspimec (Mecosin), Cardio Aspirin (Bayer).

                                Indikasi : Terapi antiagregasi platelet (trombosit) pada kondisi patologis dimana hiperaktivasi atau aktivasi trombosit mungkin menjadi faktor penentu dalam proses terbentuknya trombus.

                                Kontraindikasi : Tukak peptik atau dispepsia, hemofilia dan gangguan perdarahan lain, asma, anak dibawah 12 tahun dan yang menyusui (sindrom reye), polip nasal.

                                Bentuk sediaan : Tablet 80 mg dan 100 mg, tablet salut enterik 80 mg dan 100 mg.

                                Dosis dan aturan pakai : 75- 300 mg sehari untuk pencegahan sekunder penyakit serebrovaskuler atau kardiovaskuler trombotik. Asetosal 150-300 mg sehari digunakan untuk mengurangi kematian setelah infark miokard. Asetosal dosis rendah (misal 75 atau 100 mg sehari) juga diberikan setelah pembedahan bypass (Anonim, 2000). Stroke akut : 160-325 mg/hari dimulai dalam 48 jam  (pada pasien yang tidak mengalami trombolisis dan tidak menerima antikoagulan sistemik). Pencegahan stroke : 30-325 mg/hari (dosis dinaikkan sampai 1300 mg/hari terbagi dalam 2-4 dosis (2-4 x sehari) yang telah digunakan dalam percobaan klinis) (Lacy, et al, 2006)

                                Efek samping : Bronkospasme; perdarahan saluran cerna (kadang-kadang parah), juga perdarahan lain (misal subkonjugtiva).

                                Resiko khusus : Gangguan hati dan ginjal.

                                TIKLOPIDIN

                                Nama generik : Tiklopidin

                                Nama dagang di Indonesia : Cartrilet (Fahreinheit), Klobitor (Varia Sekata), Nufaclapide (Nufarindo), Piclodin (Pharos), Ticard (Sanbe Farma), Ticuring (Lapi), Agulan (Darya Varia)

                                Indikasi : Inhibitor agregasi platelet yang mengurangi resiko dari stroke trombotik pada pasien stroke atau prekursor stroke, mengurangi resiko trombogenik pada pasien intoleransi aspirin.

                                Kontraindikasi : Hipersentivitas terhadap tiklopidin, disfungsi liver parah, diastesis hemopati dan hemoragik, lesi organik dengan kemungkinan perdarahan, stroke hemoragik akut, alergi kulit, leukopenia, trombopenia atau agranulositosis.

                                Bentuk sediaan : Tablet 250 mg, tablet salut selaput 250 mg

                                Dosis dan aturan pakai : Pencegahan stroke : 250 mg 2 x sehari pada waktu makan.

                                Efek samping : Gangguan gastrointestinal, urtikaria, ruam kulit, eritema, agranulositosis, trombopenia, aplasia medulla, ikterus kolestatik atau tanpa kenikan transaminase.

                                Resiko khusus : Pasien dengan resiko perdarahan akibat trauma; pembedahan atau kondisi patologik; hamil; laktasi; jangan digunakan bersama dengan aspirin, antikoagulan, kortikosteroid.

                                PENTOKSIFILIN

                                Nama generik : Pentoksifilin

                                Nama dagang di Indonesia : Erypent (Sunthi Sepuri), Erytal (Medikon Prima), Lentrin (Metiska Farma), Platof (Sanbe), Tarontal (Bernofarm), Trental (Hoest Marion Roussel Indonesia), Trentox (Dexa Medica), Trenxy (Ikapharmindo)

                                Indikasi : Klaudikasi intermiten akibat oklusi arteri perifer kronis

                                Kontraindikasi : Hipersensitif terhadap pentoksifilin, xantin (cafein, teofilin), perdarahan serebral dan atau retina.

                                Bentuk sediaan : Tablet salut enterik 100 mg, tablet lepas lambat 400 mg, kabtab salut gula 400 mg, cairan injeksi 20 mg/ml

                                Dosis dan aturan pakai : 400 mg 2-3 x sehari setelah makan; jika dalam 1-2 minggu tidak ada perbaikan sebaiknya dihentikan; jika terjadi efek samping saluran cerna atau sistem saraf pusat berkembang sebaiknya dosis dikurangi menjadi 400 mg 1-2 x sehari

                                Efek samping : lazim terjadi mual dan dispepsia; kurang lazim kembung, anoreksia, muntah; pusing, sakit kepala, muka merah; kadang-kadang insomnia, mengantuk,cemas, bingung; jarang terjadi palpitasi, angina, aritmia, hipotensi, dispnea, edema; juga pernah dilaporkan kolesistitis, hepatitis, pansitopenia, trombositopenia, purpura, anemia aplastik; kadang-kadang juga terjadi penglihatan kabur, ruam kulit, urtikaria, mulut kering, sumbatan nasal.

                                Resiko khusus : Hipotensi, laktasi, penyakit jantung koroner berat, pasien yang alergi terhadap turunan xantin; mungkin mengurangi aras fibrinogen plasma; pada pasien yang juga menerima obat antihipertensi sebaiknya tekanan darahnya dipantau; pasien yang menerima terapi antikoagulan atau yang beresiko terjadi perdarahan; pasien lanjut usia dimulai dengan dosis rendah dan pantau fungsi ginjalnya; pasien dengan penurunan fungsi ginjal dan hepar.

                                CLOPIDOGREL

                                Nama generik : Clopidogrel

                                Nama dagang di Indonesia : Plavix (Sanofi Aventis)

                                Indikasi : Mengurangi terjadinya aterosklerotik (infark miokard, stroke dan kematian vaskular) pada pasien dengan aterosklerosis yang disebabkan oleh stroke sebelumnya, infark miokard atau penyakit arteri perifer.

                                Kontraindikasi : Hipersensitif terhadap clopidogrel, perdarahan patologi aktif (seperti ulkus peptik aktif, perdarahan intrakranial), gangguan koagulasi.

                                Bentuk sediaan : Tablet salut selaput 75 mg

                                Dosis dan aturan pakai : 75 mg 1 x sehari dapat diberikan tanpa makanan.

                                Efek samping : Perdarahan gastrointestinal, purpura, memar, hematoma, anemia, epistaksis, hematuria, perdarahan okular, perdarahan intra kranial, nyeri perut, dispepsia, gastritis dan konstipasi, ruam, pruritus.

                                Resiko khusus : Pasien yang mungkin mengalami peningkatan resiko perdarahan akibat, pembedahan atau kondisi patologik lain. Pasien dengan penyakit liver parah. Pasien sedang diberikan terapi NSAID. Hentikan terapi 1 minggu sebelum operasi. Kehamilan.

                                KOMBINASI ASETOSAL dan DIPIRIDAMOL

                                Nama generik : Asetosal dan Dipiridamol

                                Nama dagang di Indonesia : Aggrenox (Boehringer Ingelheim)

                                Indikasi : Mengurangi resiko stroke iskemik dan serangan iskemik sementara.

                                Kontraindikasi : Hipersensitif terhadap dipiridamol dan asetosal, atau salah satu komponen obat, penggunaan bersama ketorolac, alergi terhadap NSAID, pasien dengan asma, rinitis, dan polip nasal, gangguan perdarahan, anak-anak dibawah 16 tahun dengan infeksi viral, kehamilan dan laktasi, penyakit ginjal berat, ulkus gaster atau duodenum atau perdarahan gastrointestinal.

                                Bentuk sediaan : Kapsul lepas lambat (dipiridamol 200 mg, asetosal 25 mg)

                                Dosis dan aturan pakai : 1 kapsul 2 x sehari, pagi dan malam, dapat diberikan dengan atau tanpa makanan.

                                Efek samping : Sakit kepala, mual, muntah, diare, pusing, nyeri otot, nyeri lambung, reaksi hipersensitif, perdarahan.

                                Resiko khusus : Penyakit jantung koroner berat (angina tidak stabil atau infark miokard), disfungsi hepar, pasien dengan hipotensi, miastenia gravis, asma, rinitis alergi, polip nasal, gangguan lambung atau duodenum kronis atau berulang, gangguan fungsi ginjal, defisiensi G6PD. Hentikan terapi 1 minggu sebelum operasi. Hentikan terapi bila terjadi kepeningan (dizziness), tinnitus atau berkurangnya pendengaran.

                                CILOSTAZOL

                                Nama generik : Cilostazol

                                Nama dagang di Indonesia : Pletaal (Otsuka), Stazol (Bernofarm), Naletal (Guardian Pharmatama), Qital (Ethica), Aggravan (Ferron), Agrezol (Meprofarm), Citaz (Kalbe Farma).

                                Indikasi : Terapi gejala iskemik, misalnya ulserasi, nyeri dan rasa dingin pada ekstremitas pada oklusi arteri kronik, pencegahan infark serebral rekuren.

                                Kontraindikasi : Hipersensitif terhadap cilostazol, perdarahan, gagal jantung kongestif, hamil dan laktasi

                                Bentuk sediaan : Tablet 50 mg dan 100 mg

                                Dosis dan aturan pakai : Dewasa : Oral : 100 mg 2 x sehari diminum 1,5 jam sebelum atau 2 jam setelah makan pagi dan makan malam, dosis seharusnya dikurangi menjadi 50 mg 2 x sehari selama terapi bersamaan dengan inhibitor CYP3A4 atau CYP2C19. Cilostazol paling baik dikonsumsi 30 menit sebelum atau 2 jam setelah makan.

                                Efek samping : Ruam, palpitasi, takikardi, muka merah dan panas, sakit kepala, pusing; sakit perut, mual muntah, anoreksia, diare, pendarahan subkutan; peningkatan SGPT, SGOT, A-1P dan LDH; berkeringat dan edema.

                                Resiko khusus : Menstruasi, kecenderungan untuk terjadi perdarahan, diastesis hemoragik, gangguan hati atau ginjal berat, pasien dalam terapi antikoagulan, antitrombotik atau antiplatelet, prostaglandin E1 atau derivatnya. 

                                DAFTAR PUSTAKA 

                                Anonim, 2000, Informatorium Obat NasionalIndonesia (IONI), Direktorat Pengawasan Obat dan Makanan Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta. 

                                Anonim, 2004, Drug Fact and Comparison 2004, 58th edition, Fact and Comparison St. Louis Missouri, USA.

                                 Anonim, 2005, MIMS Annual Indonesia 2005/2006, Medimedia Asia pte, Ltd, Singapura. 

                                Anonim, 2006, MIMS Indonesia Petunjuk Konsultasi 2006/2007, PT IndoMaster lisensi dari CMP Medica, Jakarta.

                                 Anonim, 2007, Informasi Spesialite Obat Indonesia (ISO), Volume 42, Ikatan Sarjana Farmasi, Jakarta. 

                                Fagan, S. C., and Hess, D. C., dalam Dipiro, J. T., Talbert, R. L., Matzke, B. R., Wells, B. G., dan Posey, M. L., 2005, Pharmacotherapy a Pathophysiologic Approach, 3rd edition, Appleton and Lange Stampord Conecticut, USA.

                                 Junaidi, I., 2004, Panduan Praktis Pencegahan dan Pengobatan Stroke, PT Bhuana Ilmu Populer Kelompok Gramedia, Jakarta. 

                                Lacy, C.F., Amstrong, L.L., Goldman, M.P., and Lance, L.L., 2006, Drug Information Handbook, 14th edition, AphA. Lexi-Comp’s. 

                                Intercollegiate Stroke Working Party (ISWP), 2004, National Clinical Guidelines for Stroke, 2nd edition, Royal College of Physicians, London. 

                                Terapi Angiotensin II Receptor Blocker pada Hipertensi

                                Terapi Angiotensin II Receptor Blocker pada Hipertensi

                                Shinta Dewi Akhirnawati (078115064)

                                Pendahuluan

                                Darah dibawa dari jantung ke seluruh tubuh melalui pembuluh yang disebut arteri. Tekanan darah merupakan tekanan dari darah yang menekan dinding arteri pada saat darah bersirkulasi. Setiap jantung berdetak maka ia akan memompa darah ke arteri. Saat jantung berkontraksi akan didapatkan tekanan sistolik, sedangkan saat jantung berelaksasi didapatkan tekanan diastolik. Hasil pengukuran tekanan darah ditulis sebagai tekanan sistolik garis miring tekanan diastolik, misalnya 120/80 mmHg. Tekanan darah turun ketika kita tidur dan meningkat saat kita bangun, namun peningkatan juga dapat terjadi ketika kita senang, gugup atau sedang melakukan aktivitas.

                                Hipertensi merupakan suatu keadaan dimana terjadi peningkatan pada tekanan darah hingga melebihi 140/90 mmHg. Hipertensi biasanya terjadi tanpa adanya gejala, sehingga pengecekkan tekanan darah secara rutin menjadi sangat penting bagi penderita hipertensi dan juga bagi orang yang mempunyai faktor resiko hipertensi. Orang yang dapat terkena hipertensi antara lain adalah perokok, berumur lebih dari 65 tahun (wanita) dan lebih dari 55 tahun (pria), mengalami obesitas, diabetes, jarang bergerak, peminum alkohol, dan keluarga mempunyai riwayat hipertensi.

                                Klasifikasi hipertensi pada orang dewasa

                                Klasifikasi tekanan darah Sistolik (mmHg) Diastolik(mmHg)
                                Normal <120 < 80
                                Pre hipertensi 120-139 80-89
                                Hipertensi tingkat I 140-159 90-99
                                Hipertensi tingkat II ≥160 ≥100

                                Terapi Hipertensi

                                Terapi dengan obat antihipertensi ditujukan untuk menurunkan tekanan darah hingga mencapai nilai normal. Terapi antihipertensi bertujuan untuk memperlambat laju penyakit, menurunkan tekanan darah hingga mencapai nilai optimal, dan mencegah komplikasi serebrovaskular, kardiovaskular, mata dan ginjal.

                                Terapi dapat dilakukan dengan nonfarmakologis (tanpa menggunakan obat) dan farmakologis (menggunakan obat).

                                § Non farmakologis

                                Pada terapi ini pasien dianjurkan untuk melakukan perubahan gaya hidup, antara lain dengan penurunan berat badan hingga tercapai berat badan ideal, rajin berolahraga, mengurangi konsumsi alkohol dan rokok (bagi yang mengkonsumsi), memperbaiki pola makan yaitu dengan diet garam, banyak mengkonsumsi sayuran dan buah-buahan, mengurangi konsumsi makanan berlemak terutama lemak jenuh. Perubahan pola hidup ini wajib untuk orang hipertensi dan prehipertensi namun tidak menggantikan terapi.

                                § Farmakologis

                                Obat yang biasa digunakan antara lain adalah golongan diuretik, beta blocker, calcium channel blocker, ACE inhibitor, angiotensin II receptor blocker, alfa blocker, adrenergic inhibitor dan juga vasodilator.

                                Terapi mengunakan ACE inhibitor merupakan terapi yang aman dan konvensional. Walaupun obat ini efektif dan dijadikan pilahan utama, namun obat ini sering menimbulkan efek samping batuk yang sangat mengganggu. Hal ini menyebabkan pemilihan obat golongan angiotensin II receptor blocker sebagai terapi alternatif.

                                Berikut ini merupakan beberapa contoh obat golongan angiotensin II receptor blocker :

                                1. Valsartan (nama generik)

                                Nama dagang di Indonesia

                                Diovan ® dari Novartis

                                Indikasi

                                Pengobatan hipertensi, gagal jantung, dan pasca infark miokard

                                Kontraindikasi

                                Hamil dan laktasi, kerusakan hati yang berat, hipersensitif terhadap valsartan atau komponen penyusunnya

                                Bentuk sediaan, dosis dan aturan pakai

                                Bentuk sediaan Diovan berupa tablet 40 mg, 80 mg, 160 mg, dan 320 mg.

                                § Dosis untuk orang hipertensi adalah 80 mg satu kali sehari dan dapat ditingkatkan sampai 160 mg/hari atau dapat ditambah diuretik jika tekanan darah belum dapat terkontrol.

                                § Dosis awal untuk orang gagal jantung adalah 40 mg 2x sehari, dan dosis maksimal 320 mg/hari.

                                § Dosis untuk pasca infark miokard, dosis awal 20 mg 2x sehari.

                                Efek samping

                                Obat dapat menyebabkan efek yang tidak diinginkan dan merugikan meskipun tidak semua efek samping ini terjadi. Jika ada efek samping yang terjadi maka harus langsung memeriksakan diri ke dokter. Berikut ini adalah beberapa efek samping yang mungkin terjadi pada penggunaan Valsartan sebagai antihipertensi :

                                pusing (7%), lelah (19%), fatigue (3%), sakit kepala, vertigo (1%), diare (5%), nyeri perut (2%), mual (1%), neutropenia (2%), hyperkalemia (2%), batuk dan infeksi saluran pernafasan bagian atas (1%)

                                Resiko khusus

                                § Pada wanita hamil : berbahaya pada trimester ke 2 dan 3 dan dapat menyebabkan kematian janin.

                                § Pada gagal ginjal obat ini harus digunakan secara hati-hati, fungsi ginjal dan konsentrasi kalium harus selalu dimonitor khususnya penggunaan pada pasien lanjut usia. Dan juga perlu penyesuaian dosis.

                                § Pada kelainan hepar obat ini harus digunakan secara hati-hati karena dapat meningkatkan efek valsartan. Hal ini disebabkan karena eliminasi yang lama, sehingga penggunaan pada kelainan hepar harus dilakukan penyesuaian dosis.

                                2. Irbesartan (nama generik)

                                Nama dagang di Indonesia

                                Aprovel ® dari Sanofi Aventis, Iretensa ® dari Fahrenheit

                                Indikasi

                                Hipertensi esensial (hipertensi yang tidak diketahui penyebabnya)

                                 

                                Kontraindikasi

                                Hamil dan laktasi, hipersensitif terhadap irbesartan atau komponen penyusunnya

                                Bentuk sediaan, dosis dan aturan pakai

                                Bentuk sediaan dari Aprovel ® adalah tablet 150 mg dan 300 mg sedangkan pada Iretensa ® tablet 150 mg

                                § Dosis awal dan pemeliharaan untuk hipertensi 150 mg satu kali sehari, dapat ditingkatkan hingga 300 mg atau ditambah obat antihipertensi golongan lain.

                                § Dosis awal untuk gangguan ginjal dengan hemodialisa 75 mg

                                Efek samping

                                Obat dapat menyebabkan efek yang tidak diinginkan dan merugikan meskipun tidak semua efek samping ini terjadi. Jika ada efek samping yang terjadi maka harus langsung memeriksakan diri ke dokter. Berikut ini adalah beberapa efek samping yang mungkin terjadi pada penggunaan Irbesartan sebagai antihipertensi :

                                Hiperkalemia (19%), hipotensi (5%), fatigue (4%), lelah (10%), diare (3%), infeksi saluran nafas bagian atas (9%), batuk (2,8%)

                                Resiko khusus

                                § Pada wanita hamil : berbahaya pada trimester ke 2 dan 3 dan dapat menyebabkan kematian janin.

                                § Pada gagal ginjal obat ini harus digunakan secara hati-hati, fungsi ginjal dan konsentrasi kalium harus selalu dimonitor khususnya penggunaan pada pasien lanjut usia. Dan juga perlu penyesuaian dosis.

                                § Pada kelainan hepar obat ini harus digunakans ecara hati-hati karena dapat meningkatkan efek irbesartan. Hal ini disebabkan karena eliminasi yang lama, sehingga penggunaan pada kelainan hepar harus dilakukan penyesuaian dosis

                                Daftar pustaka

                                Anonim, 2000, Informatorium Obat Nasional Indonesia, Departemen Kesehatan RI, Jakarta.

                                Anonim, 2004, AHFS Drug Information, American Society of Health System Pharmacist Inc., USA

                                Anonim, 2004, JNC 7 Express : Prevention, Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure, Department of health and human services, USA

                                Anonim, 2006, British National Formulary Ed. 52nd, BMJ Publish Group, Ltd., United Kingdom.

                                Anonim, 2006, MIMS Annual, Indonesia, PT. InfoMaster lisensi dari CMP Medica, Jakarta.

                                Dipiro, 2005, Pharmacotherapy: A Pathophysiologic Approach, Sixth Edition, The McGraw-Hill Companies, Inc.,USA.

                                Lacy, C.F., Amstrong, L.L., Goldman, M.P., Lance, L.L., 2006, Drug Information Handbook, 14th Edition, AphA, Lexi-Comp Inc, Hudson, Ohio.

                                Penggunaan Alteplase (Recombinant Tissue Plasminogen Activator (rt-PA)) pada terapi Acute Ischemic Stroke

                                UJIAN TAKE HOME
                                FARMAKOTERAPI DAN TERMINOLOGI MEDIK

                                Pengampu : dr. Luciana Kuswibawati, M.Kes.

                                Disusun Oleh :
                                Ema Nillafita Puri Kusuma (068115097)

                                PROGRAM PROFESI APOTEKER
                                FAKULTAS FARMASI
                                UNIVERSITAS SANATA DHARMA
                                YOGYAKARTA
                                2007

                                Penggunaan Alteplase (Recombinant Tissue Plasminogen Activator (rt-PA))
                                pada terapi Acute Ischemic Stroke

                                Stroke merupakan penyebab kematian terbesar di seluruh dunia, setelah penyakit kardiovaskuler dan kanker. Secara umum, stroke dapat dibedakan menjadi ischemic dan hemorrhage. Penanganan stroke ischemic pada reperfusi awal (onset simptom kurang dari tiga jam) dengan tissue plasminogen activator (tPA) telah terbukti dapat menurunkan resiko kecatatan akibat stroke ischemic. Sedangkan penggunaan antiplatelet digunakan sebagai pencegahan sekunder pada stroke ischemic. Penurunan tekanan darah pada periode stroke akut (tujuh hari pertama) dapat menurunkan aliran darah pada serebral dan menurunkan perburukan simptom.

                                sasaran terapi :
                                Pembuluh darah yang mengalami sumbatan (stroke ischemic) dan menghentikan pendarahan yang terjadi pada pembuluh darah (stroke hemorrhage).

                                Tujuan terapi :
                                Tujuan terapi pada ischemic stroke akut adalah mengurangi terjadinya kerusakan neurologi dan menurunkan resiko kematian serta kecacatan seumur hidup. Mencegah terjadinya komplikasi sekunder pada organ gerak dan cacat neurologic serta untuk mencegah terjadinya stroke berulang.

                                Strategi terapi :
                                Pendekatan pertama yang dilakukan pada pasien yang diduga mengalami stroke akut adalah memastikan bahwa pasien telah mendapatkan bantuan pada pernafasan dan kerja jantung serta segera lakukan determinasi dengan menggunkan CT scan untuk menentukan penyebabnya. Pasien yang mengalami peningkatan tekanan darah, tidak perlu diterapi terlabih dahulu asalkan tekanan darah tidak mencapai 200/120mmHg atau mempunyai riwayat acute myocardial infarction (AMI), pulmonary edema, hypertensive encephalopathy. Jika tekanan darah diterapi, maka gunakan senyawa parenteral , short-acting (labetalol, niordipine, dan nitroprusside).

                                NON-FARMAKOLOGIS :
                                Jika terjadi infarction yang lebar, bias digunakan craniectomy untuk membebaskan (menurunkan) peningkatam tekanan. Pada beberapa kasus cerebral infraction dengan peningkatan yang cukup signifikan, maka dapat dilakukan operasi decompressi.

                                FARMAKOLOGIS :
                                Pada dasarnya hanya ada dua jenis senyawa farmakologis (obat) yang direkomendasikan dengan level rekomendasi A, yaitu recombinant tissue plasminogen activator (rtPA) pada 3 jam onset dan aspirin ada 48 jam.
                                1. Alteplase (recombinant tissue plasminogen activator (rt-PA))
                                Indikasi : terapi trombolitik pada myocardial infraction akut dan pada massive pulmonary embolism akut dengan haemodynamic instability. Terapi pada ischemic stroke akut. Terapi harus dilakukan selama tiga (3) jam onset terjadinya simptom dan setelah dipastikan tidak mengalami intracranial hemorrage stroke dengan CT scan.
                                Kontra Indikasi : sama halnya dengan senyawa trombolitik, rtPA tidak boleh digunakan pada pasien yang mengalami resiko tinggi haemorhage, pasien yang menerima antikoagulan oral (warfarin), menunjukkan atau mengalami perburukan pendarahan, punya riwayat stroke atau kerusakan susunan saraf pusat, Haemorhage retinopathy, sedang mengalami trauma pada external jantung (<10 hari), arterial hipertensi yang tidak terkontrol, adanya infeksi bakteri endocarditis, pericarditis, pancreatitis akut, punya riwayat ulcerative gastrointestinal disease selama 3 bulan terakhir, oesophageal varicosis, arterial aneurisms, arterial/venous malformation, neoplasm dengan peningkatan resiko pendarahan, pasien gangguan hati parah termasuk sirosis hati, portal hypertension (oesophageal varices) dan hepatitis aktif, setelah operasi besar atau mengalami trauma yang signifikan pada 10 hari, pendarahan cerebral, punya riwayat cerebrovascular disease, intracranial neoplasm, arteriovenous malformation, pendarahan internal aktif.
                                Dosis : dosis yang direkomendasikan 0,9mg/kg (dosis maksimal 90 mg) secara infusi selama 60 menit dan 10% dari total dosis diberikan secara bolus selama 1 menit. Pemasukan dosis 0,09 mg/kg (10% dari dosis 0,9mg/kg) secara iv bolus selama 1 menit, diikuti dengan 0,81 mg/kg (90% dari dosis 0,9mg/kg) sebagai kelanjutan infus selama lebih dari 60 menit. Heparin tidak boleh dimulai selama 24 jam atau lebih setelah penggunaan alteplase pada terapi stroke.
                                Aturan Pakai : diberikan sesegera mungkin dalam 3 jam onset simptom.
                                Efek Samping :
                                1% sampai 10% : kardiovaskular (hipotensi), susunan saraf pusat (demam), dermatologi (memerah(1%)), gastrointestinal (GI hemorrhage (5%), nausea, vomiting), hemotologi (pendarahan mayor (0,5%), pendarahan minor (7%)), reaksi alergi (anaphylaxis, urticaria(0,02%), intracranial haemorrhage (0,4% sampai 0,87%, jika dosis ≤ 100mg)
                                Faktor Resiko :
                                a. Kehamilan; Berdasarkan Drug Information Handbook menyatakan Alteplase termasuk dalam kategori C. Maksudnya adalah pada penelitian dengan hewan uji terbukti terjadi adverse event pada fetus ( teratogenik atau efek embriocidal) tetapi tidak ada kontrol penelitian pada wanita atau penelitian pada hewan uji dan wanita pada saat yang bersamaan. Obat dapat diberikan jika terdapat kepastian bahwa pertimbangan manfaat lebih besar daripada resiko pada janin.
                                Pada BNF disebutkan bahwa Alteplase berpeluang menyebabkan pemisahan prematur plasenta pada 18 minggu pertama. Secara teoritis bisa menyebabkan fetal haemorrhage selama kehamilan, dan hindarkan penggunaannya selama postpartum.
                                b. Gangguan hati; hindari penggunaannya pada pasien gangguan hati parah.
                                Bentuk Sediaan : injeksi, serbuk kering.
                                Nama Generik : Alteplase.
                                Nama Dagang : Actylise® (Boehringer Ingelheim) serbuk injeksi 50mg/vial
                                Catatan : karakteristik pasien yang dapat diterapi dengan Alteplase (rt-PA) :
                                1. Terdiagnosis ischemic stroke.
                                2. Tanda-tanda neurologis tidak bisa terlihat jelas secara spontan.
                                3. Simptom stroke tidak mengarah pada subarachnoid hemorrhage.
                                4. Onset simptom kurang dari 3 jam sebelum dimulai terapi dengan Alteplase.
                                5. Tidak mengalami trauma kepala dalam 3 bulan terakhir.
                                6. Tidak mengalami myocardial infarction dalam 3 bulan terakhir.
                                7. Tidak terjadi gastrointestinal hemorrhage atau hemorrhage pada saluran kencing dalam 21 hari terakhir.
                                8. Tidak melakukan operasi besar dalam 14 hari terakhir.
                                9. Tidak mengalami arterial puncture pada tempat-tempat tertentu dalam 7 hari terakhir.
                                10. Tidak mempunyai riwayat intracranial hemorrhage.
                                11. Tidak terjadi peningkatan tekanan darah (sistolik kurang dari 185 mmHg dan diastolik kurang dari 110 mmHg).
                                12. Tidak terbukti mengalami pendarahan aktif atau trauma akut selama pemeriksaan.
                                13. Tidak sedang atau pernah mengkonsumsi antikoagulan oral, INR 100 000 mm3.
                                16. Kadar glukosa darah >50 mg/dL (2.7 mmol/L).
                                17. Tidak mengalami kejang yang disertai dengan gangguan neurologi postictal residual.
                                18. Hasil CT scan tidak menunjukkan terjadinya multilobar infarction (hypodensity kurang dari 1/3 cerebral hemisphere).

                                2. Acetylsalicylic Acid
                                Indikasi : analgesik antipiretik, antiinflamasi, myocardial infraction, stroke akut, pencegahan pre-eklamsia dan stroke.
                                Kontra Indikasi : hipersensitif pada salisilat ataupun NSAIDs, asthma, rhinitis, nasal polyps, mempunyai riwayat pendarahan (kelainan bawaan), penggunaan pada anak (<16 tahun) dengan infeksi viral dan kehamilan (khususnya trimester ketiga).
                                Dosis : khusus untuk stroke akut
                                Drug Information Handbook : 160-325 mg/hari dimulai dalam 48 jam (pada pasien yang tidak terdiagnosis thrombolitik atau tidak menerima antikoagulan sistemik).
                                Aturan Pakai : digunakan satu kali sehari dimulai dalam 48 jam setelah onset stroke dan dilanjutkan selama 2 minggu atau sampai dihentikan (kurang lebih 6 bulan, dengan maksud untuk mencegah terjadinya stroke berulang). Asetosal dapat diberikan 24 jam setelah pemberian Alteplase.
                                Efek Samping : bronchospasm; gastro-intestinal haemorrhage dan haemorrhage di tempat lain.
                                Faktor Resiko :
                                a. Ibu Menyusui, hindari penggunaannya – beresiko menyebabkan Reye’s syndrome; penggunaan berulang dengan dosis tinggi dapat mengganggu fungsi platelet dan pembentukan hypoprothrombinaemia pada bayi jika saat lahir mengalami kekurangan vitamin K.
                                b. Kehamilan; penggunaannya berbahaya pada trimester ketiga karena dapat menyebabkan kerusakan fungsi platelet dan beresiko menimbulkan haemorrhage, penundaan onset dan durasi proses melahirkan dengan peningkatan kehilangan darah; penggunaan dosis tinggi dapat menyebabkan penutupan fetal ductus arteriosus in utero dan memungkinkan terjadinya hipertensi pulmonary menetap pada bayi baru lahir, dan menyebabkan kernicterus pada neonates.
                                c. Gagal ginjal; hindari; dapat memicu terjadinya retensi natrium dan air, memperbukur kerja ginjal, meningkatkan resiko pendarahan gastro-intestinal.
                                d. Gangguan fungsi hati; hindari penggunaannya pada kondisi gangguan hati parah, karena dapat meningkatkan resiko pendarahan gastro-intestinal.
                                Bentuk Sediaan : tablet dan tablet kunyah
                                Nama Generik : Asetosal
                                Nama Dagang : Ascardia® (tablet), Restor® (tablet), Trombo Aspilet® (tablet), Aptor® (tablet), Aspimec® (tablet), Aspilet® (tablet kunyah), Cardio Aspirin® (tablet), Astika® (tablet), Procardin® (tablet).

                                DAFTAR PUSTAKA
                                Adam, H. P., et.al., 2007, Guidelines for the Early Management of Adults With Ischemic Stroke: A Guideline From the American Heart Association/ American Stroke Association Stroke Council, Clinical Cardiology Council, Cardiovascular Radiology and Intervention Council, and the Atherosclerotic Peripheral Vascular Disease and Quality of Care Outcomes in Research Interdisciplinary Working Groups: The American Academy of Neurology affirms the value of this guideline as an educational tool for neurologists, http://www.stroke.ahajournal.org. diakses tanggal 7 Desember 2007.

                                Anonim, 2000, Informatorium Obat Nasional Indonesia, Departemen Kesehatan RI, Jakarta.

                                Anonim, 2005, MIMS Indonesia: Petunjuk Konsultasi, 2005/2006, PT. InfoMaster lisensi dari CMPMedica, Jakarta.

                                Anonim, 2006, British National Formulary Ed. 52nd, BMJ Publish Group, Ltd., United Kingdom.

                                Anonim, 2006, MIMS Annual, Indonesia, PT. InfoMaster lisensi dari CMP Medica, Jakarta.

                                Lacy, C.F., Amstrong, L.L., Goldman, M.P., Lance, L.L., 2006, Drug Information Handbook, 14th Edition, AphA, Lexi-Comp Inc, Hudson, Ohio.

                                Dipiro, 2005, Pharmacotherapy: A Pathophysiologic Approach, Sixth Edition, p. 415-421, The McGraw-Hill Companies, Inc.,USA.

                                Worp.,H.B., et.al., 2007, Acute Ischemic Stroke, http://www.nejm.org. diakses tanggal 7 Desember 2007.

                                Penggunaan Obat Golongan Nitrat pada Angina Pektoris

                                Penggunaan Obat Golongan Nitrat pada Angina Pektoris

                                (Ni Komang Trisna Dewi, S. Farm/ 078115022)

                                Angina pektoris adalah deskripsi dari sekumpulan gejala khas yang berkaitan dengan iskemia miokard dan biasanya diakibatkan oleh penyempitan ateromatosa arteri koroner. Gejala ini termasuk rasa terikat pada dada, biasanya retrosternal dan sering menjalar ke lengan, dispresipitasi oleh aktivitas, dan membaik dengan istirahat serta pemberian nitrat. Angina pektoris terjadi dimulai dari arteri koroner yang mengalirkan darah ke jantung. Dengan meningkatnya usia, plak ateromatosa secara progresif mempersempit arteri, dan obstruksi pada aliran darah pada suatu saat bisa menjadi sangat parah. Pada saat aktivitas meningkatkan konsumsi oksigen jantung, darah yang melalui arteri tidak cukup untuk memberi darah pada jantung. Otot yang mengalami iskemia kemudian memberikan gejala khas angina pektoris, kemungkinan karena produk-produk sisa yang dilepaskan selama kontraksi otot tertumpuk dalam jaringan yang perfusinya buruk.

                                Secara klinis dikenal tiga jenis angina pektoris, yaitu angina klasik (angina stabil kronik, effort-induced angina) terjadi karena adanya sumbatan anatomik berupa aterosklerosis koroner sehingga aliran koroner tidak dapat memenuhi kebutuhan jantung yang meningkat (paling umum ditemui setelah kerja fisik, emosi atau makan); angina varian (angina Prinzmetal) terjadi karena vasospasme koroner (sumbatan fungsional) dan timbul sewaktu istirahat, yang mengakibatkan berkurangnya suplai oksigen pada jaringan jantung; angina tidak stabil ditandai dengan meningkatnya frekuensi dan lama serangan angina (crescendo), diinduksi oleh adanya stimulus ringan dan terjadi baik sewaktu istirahat maupun kerja fisik. Angina tidak stabil meliputi: kelompok penderita yang baru (dalam 6 minggu) mengalami serangan angina yang berat dan sering; yang mengalami angina sewaktu istirahat; angina stabil yang bertambah berat, lebih sering dan lebih lama; dan angina yang mengalami infark jantung akut atau infark yang semakin memburuk

                                Sasaran terapi untuk angina pektoris meliputi relaksasi otot polos jantung, dilatasi pembuluh vena besar, dan melebarkan pembuluh darah koroner. Pemberian terapi antiangina bertujuan untuk mengatasi atau mencegah serangan akut angina pektoris, pencegahan jangka panjang serangan angina. Tujuan ini dapat tercapai dengan mengembalikan imbangan dan mencegah terjadinya ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen miokard, dengan cara meningkatkan suplai oksigen (meningkatkan aliran darah koroner) ke bagian miokard yang iskemik dan/atau mengurangi kebutuhan oksigen jantung (mengurangi kerja jantung).

                                Strategi terapi yang dapat digunakan untuk mengatasi angina pektoris meliputi terapi non farmakologis dan terapi farmakologis. Terapi non farmakologis dapat dilakukan dengan mengontrol emosi, mengurangi kerja yang berat dimana membutuhkan banyak oksigen dalam aktivitasnya, mengurangi konsumsi makanan berlemak, dan istirahat yang cukup. Terapi farmakologis untuk angina pektoris meliputi penggunaan obat golongan nitrat, obat golongan antagonis adrenoreseptor β dan antagonis kalsium.

                                Obat golongan nitrat merupakan lini (pilihan) pertama dalam pengobatan angina pektoris. Mekanisme kerja obat golongan nitrat dimulai ketika metabolisme obat pertama kali melepaskan ion nitit (NO2-), suatu proses yang membutuhkan tiol jaringan. Di dalam sel, NO2- diubah menjadi nitrat oksida (NO), yang kemudian mengaktivasi guanilat siklase, yang menyebabkan peningkatan konsentrasi guanosin monofosfat siklik (cGMP) intraseluler pada sel otot polos vaskular. Bagaimana cGMP menyebabkan relaksasi, belum diketahui secara jelas, tetapi hal tersebut akhirnya menyebabkan defosforisasi miosin rantai pendek (MCL), kemungkinan dengan menurunkan konsentrasi ion Ca2+ bebas dalam sitosol. Hal tersebut akan menimbulkan relaksasi otot polos, termasuk arteri dan vena. Nitrat organik menurunkan kerja jantung melalui efek dilatasi pembuluh darah sistemik. Venodilatasi menyebabkan penurunan aliran darah balik ke jantung, sehingga tekanan akhir diastolik ventrikel (beban hulu) dan volume ventrikel menurun. Beban hulu yang menurun juga memperbaiki perfusi sub endokard. Vasodilatasi menyebabkan penurunan resistensi perifer sehingga tegangan dinding ventrikel sewaktu sistole (beban hilir) berkurang. Akibatnya, kerja jantung dan konsumsi oksigen menjadi berkurang. Ini merupakan mekanisme antiangina yang utama dari nitrat organik.

                                Dilihat dari farmakokinetiknya, nitrat organik mengalami denitrasi oleh enzim glutation-nitrat organik reduktase dalam hati. Golongan nitrat lebih mudah larut dalam lemak, sedangkan metabolitnya bersifat lebih larut dalam air sehingga efek vasodilatasi dari metabolitnya lebih lemah atau hilang. Eritritil tetranitrat (berat molekul tinggi, bentuk padat) mengalami degradasi tiga kali lebih cepat daripada nitrogliserin (berat molekul rendah, bentuk seperti minyak). Sedangkan isosorbid dinitrat dan pentaeritritol tetranitrat (berat molekul tinggi, bentuk padat) mengalami denitrasi 1/6 dan 1/10 kali dari nitrogliserin. Kadar puncak nitrogliserin terjadi dalam 4 menit setelah pemberian sublingual dengan waktu paruh 1-3 menit. Metabolitnya berefek sepuluh kali lebih lemah, tetapi waktu paruhnya lebih panjang, yaitu kira-kira 40 menit. Isosorbid dinitrat paling banyak digunakan, tetapi cepat dimetabolisme oleh hati. Penggunaan isosorbid mononitrat yang merupakan metabolit aktif utama dari dinitrat bertujuan untuk mencegah variasi absorpsi dan metabolisme lintas pertama dari dinitrat yang dapat diperkirakan.

                                Dalam mengatasi serangan angina, maka yang terpenting adalah memilih nitrat organik dengan mula kerja obat yang cepat. Sebaliknya, untuk pencegahan timbulnya angina, maka yang terpenting adalah lama kerja obat. Mula kerja (onset) dan lama kerja (durasi) obat tergantung dari cara pemberian dan formulasi farmasi. Pemberian nitrat organik sublingual efektif untuk mengobati serangan angina akut. Dengan cara ini absorpsi berlangsung cepat dan obat terhindar dari metabolisme lintas pertama di hati, sehingga bioavailabilitasnya sangat meningkat (isosorbid dinitrat 30% dan nitrogliserin 38%). Mula kerja obat tampak dalam 1-2 menit, tetapi efeknya dengan cepat akan menurun sehingga setelah 1 jam hilang sama sekali. Nitrat organik dapat diberikan secara oral (p.o) untuk tujuan pencegahan timbulnya serangan angina. Dalam hal ini, obat tersebut harus diberikan dalam dosis cukup besar agar kemampuan metabolisme hati untuk obat ini menjadi jenuh. Mula kerja nitrat organik oral adalah lambat, puncaknya tercapai dalam 60-90 menit dan lama kerja berkisar 3-6 jam. Nitrat organik dapat juga diberikan intravena (i.v) agar kadar obat dalam sirkulasi sistemik yang tinggi cepat tercapai. Nitrogliserin i.v bermanfaat untuk pengobatan vasospasme koroner dan angina pektoris tidak stabil dan mungkin merupakan cara terbaik untuk mengobati segera angina akut. Pemberian nitrogliserin dalam bentuk salep atau disk dimaksudkan untuk tujuan profilaksis karena obat diabsorpsi secara perlahan lewat kulit. Efek terapi tampak dalam 60 menit dan berakhir dalam 4-8 jam. Pada sediaan disk, nitrogliserin terdapat sebagai depot dengan reservoir suatu polimer pada plester. Mula kerja lambat dan puncak efek tercapai setelah 1-2 jam.

                                Secara umum efek samping yang timbul akibat penggunaan obat golongan nitrat untuk antiangina, antara lain: dilatasi arteri akibat nitrat menyebabkan sakit kepala (30-60% dari pasien yang menerima terapi nitrat), sehingga seringkali dosisnya dibatasi. Efek samping yang lebih serius adalah hipotensi dan pingsan. Refleks takikardia seringkali terjadi. Dosis tinggi yang diberikan jangka panjang bisa menyebabkan methemoglobinemia sebagai akibat oksidasi hemoglobin. Sesekali juga dapat menyebabkan rash. Penggunaan nitrat yang berkelanjutan dapat menyebabkan terjadinya toleransi, bukan saja pada efek samping, tapi juga pada efek antiangina dari nitrat kerja lama. Ketergantungan pada nitrat terjadi pada pemberian nitrat kerja lama (oral maupun topikal). Penghentian terapi kronik harus dilakukan secara bertahap untuk menghindari timbulnya fenomena rebound berupa vasospasme yang berlebihan dengan akibat memburuknya angina sampai terjadinya infark miokard dan kematian mendadak. Udem perifer juga kadang-kadang terjadi pada pemberian nitrat kerja lama (oral maupun topikal). Nitrat yang diberikan secara oral dapat menimbulkan terjadinya dermatitis kontak.

                                Beberapa contoh obat antiangina dari golongan nitrat:

                                1. Isosorbid mononitrat
                                Generik: -

                                Merek dagang (brand name):

                                • Distributor dari Indonesia: Elantan® (Pharos) tablet 20 mg, 40 mg; Monecta* (Pratama Nirmala) tablet 10 mg, 20 mg; Pentacad® (Darya Varia) tablet 20 mg.
                                • Distributor dari luar negeri: Imdur® ( Astra pharmaceuticals-Australia) tablet pelepasan lambat 60 mg; Mono Mack® (Heinrich Mack Nachf-Jerman) tablet 40 mg dan tablet pelepasan lambat 50 mg; Mono Mack® 50 D (Heinrich Mack Nachf-Jerman) tablet pelepasan lambat 50 mg dan Drops 40 mg.

                                Indikasi: profilaksis angina, tambahan pada gagal jantung kongestif.
                                Kontraindikasi: hipersensitif terhadap nitrat, hipotensi dan hipovolemia, kardiopati obstruktif hipertrofik, stenosis aorta, tamponade jantung, perikarditis konstriktif, stenosis mitral, anemia berat, trauma kepala, pendarahan otak, dan glaukoma sudut sempit.

                                Dosis dan aturan pakai: dosis awal 20 mg, 2-3 kali sehari atau 40 mg, 2 kali sehari (10 mg, 2 kali sehari pada pasien yang belum pernah menerima nitrat sebelumnya), bila perlu sampai 120 mg sehari dalam dosis terbagi.

                                Efek samping: sakit kepala berdenyut, muka merah, pusing hipotensi postural, takikardi (dapat terjadi bradikardi paradoksial).

                                Risiko khusus:
                                - Kehamilan : faktor risiko C

                                - Menyusui : ekskresi melalui air susu tidak diketahui

                                - Gagal ginjal : obat dapat memperparah kerusakan ginjal karena obat selain diekskresi melalui feses juga dieksresi melalui urin, akantetapi pengubahan dosis obat tidak dibutuhkan pada pasien usia lanjut yang mengalami gangguan fungsi ginjal.

                                - Kelainan hepar : obat dapat memperparah kerusakan hati karena obat dimetabolisme di hati, akantetapi pengubahan dosis obat tidak dibutuhkan pada pasien usia lanjut yang mengalami gangguan fungsi hepar.

                                2. Isosorbid dinitrat
                                Generik: Isosorbid Dinitrat tablet sublingual 5 mg, 10 mg.

                                Merek dagang (brand name):

                                • Distributor dari Indonesia: Isoket® (Pharos) tablet 5 mg, 10 mg; Isoket Retard® (Pharos) tablet pelepasan lambat 20 mg, 40 mg, cairan injeksi 1 mg/ml, aerosol 25 mg/ml, krim 100 mg/g; Farsorbid® (Pratama Nirmala) tablet sublingual 5 mg, 10 mg; Cedocard® (Darya Varia) tablet 5 mg, 10 mg, 20 mg; Cedocard Retard® (Darya Varia) tablet pelepasan lambat 20 mg.
                                • Distributor dari luar negeri: Isomack Retard® (Heinrich Mack Nachf-Jerman) kapsul 20 mg; Isomack Spray® (Heinrich Mack Nachf-Jerman) buccal spray 13,9 mg/ml; Td. Spray Iso Mack (Heinrich Mack Nachf-Jerman) spray transdermal 96,7 mg/ml; Vascardin (Nicholas) tablet 5 mg, 10 mg.

                                Indikasi: profilaksis dan pengobatan angina, gagal jantung kiri.

                                Kontraindikasi: lihat Isosorbid mononitrat.

                                Dosis dan aturan pakai: oral, sehari dalam dosis terbagi, angina 30-120 mg; gagal jantung kiri 40-160 mg sampai 240 mg bila perlu. Infus intravena 2-10 mg/jam, dosis lebih tinggi sampai 20 mg/ jam mungkin diperlukan.

                                Efek samping: lihat isosorbid mononitrat

                                Risiko khusus:
                                - Kehamilan : faktor risiko C

                                - Menyusui : ekskresi melalui air susu tidak diketahui

                                - Gagal ginjal : obat dapat memperparah kerusakan ginjal karena obat selain diekskresi melalui feses juga dieksresi melalui urin, sehingga dosis obat perlu diturunkan.

                                - Kelainan hepar : obat dapat memperparah kerusakan hati karena obat dimetabolisme di hati, sehingga dosis obat perlu diturunkan.

                                3. Gliseril trinitrat

                                Generik: -
                                Merek dagang (brand name):

                                • Distributor dari Indonesia: -
                                • Distributor dari luar negeri: Glyceryl Trinitrate® (Davil Bull Lab-Australia) cairan injeksi 5 mg/ml; Nitro Mack Retard® (Heinrich Mack Nachf-Jerman) kapsul pelepasan lambat 2,5 mg, 5 mg; Minitran® (3M Pharmaceutical Pty Ltd-Australia) tansdermal 0,2 mg/jam, 0,4 mg/jam; Nitradisc® (Searle Pharmaceutical Inc-U.S.A) transdermal 16 mg, 32 mg; Nitro-Dur® (Key-U.S.A) transdermal 2,5 mg/24 jam, 5 mg/24 jam, 7,5 mg/24 jam, 10 mg/24 jam; Nitrocin® (Schwarz-West Germany) cairan injeksi 1 mg/ml; Nitroderm Tts® (Novartis-Switzerland) transdermal 250 mg, 500 mg, 750 mg; Nitrodisc® (Novartis-Switzerland) 160 mg; Nitrostat (Parke Davis-Australia) tablet 0,3 mg, 0,6 mg.

                                Indikasi: profilaksis dan pengobatan angina, gagal jantung kiri.

                                Kontraindikasi: lihat Isosorbid mononitrat.

                                Dosis dan aturan pakai: sublingual, 0,3-1 mg, bila perlu diulang; oral profilaksis angina, 2,6-2,8 mg 3 kali sehari atau 10 mg 2-3 kali sehari; infus intravena 10-200 mcg/menit.

                                Efek samping: lihat isosorbid mononitrat

                                Risiko khusus:
                                - Kehamilan : faktor risiko C

                                - Menyusui : ekskresi melalui air susu tidak diketahui

                                - Gagal ginjal : obat dapat memperparah kerusakan ginjal karena obat selain diekskresi melalui feses juga dieksresi melalui urin, sehingga dosis obat perlu diturunkan.

                                - Kelainan hepar : obat dapat memperparah kerusakan hati karena obat dimetabolisme di hati, sehingga dosis obat perlu diturunkan.

                                Referensi:

                                Anonim, 2000, Informatorium Obat Nasional Indonesia, 58-68, Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.

                                Anonim, 2005, British National Formulary, Edisi 50, 104-108, British Medical Association, Royal Pharmaceutical Society of Great Britain.

                                Anonim, 2007, MIMS Indonesia: Petunjuk dan Konsultasi, Edisi VI, 37-38, PT. InfoMaster Lisensi dari CMPMedica.

                                Lacy, C.F, dkk, 2006, Drug Information Handbook, Edisi XIV, 871-874,1909, Lexi-Comp Inc., Hudson, Ohio.

                                Neal, M.J., 2006, At a Galance Farmakologi Medis, Edisi V, 38-39, Erlangga, Jakarta.

                                Setiawati, A. dan Suyatna, F.D., 2001, Farmakologi dan Terapi: Obat Antiangina, Edisi IV, 343-363, Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta.

                                Tierney, L.M., McPhee, S.J., dan Papadakis, M.A., 2006, Current Medical Diagnosis & Treatment, Edisi 45, 343-350, Lange Medical Books, McGraw-Hill.