Category Archives: sistem Kardiovaskular

PENGGUNAAN CAPTOPRIL PADA PASIEN HIPERTENSI DENGAN GAGAL JANTUNG

PENGGUNAAN CAPTOPRIL PADA PASIEN HIPERTENSI DENGAN GAGAL JANTUNG

Oleh : Eunike Sandjaja (078115011)

Hipertensi merupakan salah satu penyakit yang banyak diderita oleh masyarakat Indonesia bahkan masyarakat dunia. Hipertensi didefinisikan sebagai keadaan dimana kenaikan tekanan darah sistolik 140mmHg atau lebih dan tekanan diastolik 90mmHg atau lebih dan diukur lebih dari satu kali kesempatan. Hipertensi yang tidak ditangani dengan benar dapat menyebabkan komplikasi. Komplikasi tersebut berkaitan dengan kenaikan tekanan darah yang tetap (dengan konsekuensi terjadinya perubahan pada sistem vaskular tubuh dan jantung) atau berkaitan dengan artherosclerosis yang menyertai dan dipercepat karena adanya hipertensi yang lama (long-standing hypertension).

Salah satu komplikasi yang dapat terjadi adalah penyakit kardiovaskular yang ditandai dengan adanya kenaikan tekanan darah yang abnormal. Komplikasi yang berkaitan dengan jantung adalah penyebab utama morbiditas dan mortalitas dalam hipertensi esensial, dan mencegahnya merupakan tujuan utama dari terapi. Hipertrofi pada ventrikular jantung bagian kiri dapat menyebabkan congestive heart failure (CHF), myocardial ischemia (MI), aritmia ventrikular, dan kematian mendadak.

Gagal jantung (Heart Failure) merupakan suatu kondisi dimana cardiac output tidak mencukupi kebutuhan sirkulasi tubuh (pada saat istirahat maupun beraktivitas) atau dengan kata lain, jantung tidak mampu memompa darah ke seluruh bagian tubuh. Gagal jantung dapat terjadi dari berbagai penyakit yang menurunkan pengisian pembuluh (disfungsi diastolik) dan/atau kontraktilitas miokardial (disfungsi sistolik). Jantung dapat gagal memompa darah dikarenakan preload yang berlebihan seperti pada aliran balik darah (valvular regurgitation) atau afterload yang berlebihan seperti pada penyempitan aorta dekat jantung (aortic stenosis) atau pada hipertensi yang parah. Fungsi pompa dapat juga menjadi tidak memadai saat jantung tidak dapat beradaptasi dengan baik terhadap variasi yang terjadi pada preload, afterload, maupun tempo jantung seperti pada layaknya jantung yang berfungsi dengan normal.

Sasaran dari terapi pada pasien hipertensi dengan gagal jantung adalah mengurangi/menghilangkan tanda dan gejala dari gagal jantung. Tujuan terapi ini adalah untuk memperlambat laju keparahan, mengurangi frekuensi perawatan intensif (hospitalization), dan mengurangi/mencegah mortalitas (memperpanjang usia pasien). Strategi terapi yang dilakukan adalah meningkatkan perfusi jaringan, menurunkan tekanan pada venous sentral, dan mencegah terjadinya udem.

Obat pilihan yang digunakan dalam terapi farmakologi pasien hipertensi dengan gagal jantung adalah Angiotensin Converting Enzyme (ACE) inhibitor. ACE inhibitor direkomendasikan sebagai obat pilihan pertama didasarkan pada sejumlah studi yang menunjukkan penurunan morbiditas dan mortalitas. Akan tetapi, diuretik juga menjadi bagian dari terapi lini pertama (first line therapy) karena dapat memberikan penghilangan gejala udem dengan menginduksi diuresis.

ACE inhibitor memiliki mekanisme aksi menghambat sistem renin-angiotensin-aldosteron dengan menghambat perubahan Angiotensin I menjadi Angiotensin II sehingga menyebabkan vasodilatasi dan mengurangi retensi sodium dengan mengurangi sekresi aldosteron. Oleh karena ACE juga terlibat dalam degradasi bradikinin maka ACE inhibitor menyebabkan peningkatan bradikinin, suatu vasodilator kuat dan menstimulus pelepasan prostaglandin dan nitric oxide. Peningkatan bradikinin meningkatkan efek penurunan tekanan darah dari ACE inhibitor, tetapi juga bertanggungjawab terhadap efek samping berupa batuk kering. ACE inhibitor mengurangi mortalitas hampir 20% pada pasien dengan gagal jantung yang simtomatik dan telah terbukti mencegah pasien harus dirawat di rumah sakit (hospitalization), meningkatkan ketahanan tubuh dalam beraktivitas, dan mengurangi gejala.

ACE inhibitor harus diberikan pertama kali dalam dosis yang rendah untuk menghindari resiko hipotensi dan ketidakmampuan ginjal. Fungsi ginjal dan serum potassium harus diawasi dalam 1-2 minggu setelah terapi dilaksanakan terutama setelah dilakukan peningkatan dosis. Salah satu obat yang tergolong dalam ACE inhibitor adalah Captopril yang merupakan ACE inhibitor pertama yang digunakan secara klinis.

Nama Generik : Captopril

Nama Dagang :

Acepress : Tab 12,5mg, 25mg

Capoten : Tab 12,5mg, 25mg

Captensin : Tab 12,5mg, 25mg

Captopril Hexpharm : Tab 12,5mg, 25mg, 50mg

Casipril : Tab 12,5mg, 25mg

Dexacap : Tab 12,5mg, 25mg, 50mg

Farmoten : Tab 12,5mg, 25mg

Forten : Tab 12,5mg, 25mg, 50mg

Locap : Tab 25mg

Lotensin : Kapl 12,5mg, 25mg

Metopril : Tab salut selaput 12,5mg, 25mg; Kapl salut selaput 50mg

Otoryl : Tab 25mg

Praten : Kapl 12,5mg

Scantensin : Tab 12,5mg, 25mg

Tenofax : Tab 12,5mg, 25mg

Tensicap : Tab 12,5mg, 25mg

Tensobon : Tab 25mg

Indikasi :

  1. Hipertensi esensial (ringan sampai sedang) dan hipertensi yang parah.
  2. Hipertensi berkaitan dengan gangguan ginjal (renal hypertension).
  3. Diabetic nephropathy dan albuminuria.
  4. Gagal jantung (Congestive Heart Failure).
  5. Postmyocardial infarction
  6. Terapi pada krisis scleroderma renal.

    Kontraindikasi :

  7. Hipersensitif terhadap ACE inhibitor.
  8. Kehamilan.
  9. Wanita menyusui.
  10. Angioneurotic edema yang berkaitan dengan penggunaan ACE inhibitor sebelumnya.
  11. Penyempitan arteri pada salah satu atau kedua ginjal.

    Bentuk sediaan : Tablet, Tablet salut selaput, Kaplet, Kaplet salut selaput.

    Dosis dan aturan pakai captopril pada pasien hipertensi dengan gagal jantung :

    Dosis inisial : 6,25-12,5mg 2-3 kali/hari dan diberikan dengan pengawasan yang tepat. Dosis ini perlu ditingkatkan secara bertingkat sampai tercapai target dosis.

Target dosis : 50mg 3 kali/hari (150mg sehari)

Aturan pakai : captopril diberikan 3 kali sehari dan pada saat perut kosong yaitu setengah jam sebelum makan atau 2 jam setelah makan. Hal ini dikarenakan absorbsi captopril akan berkurang 30%-40% apabila diberikan bersamaan dengan makanan.

Efek samping :

  1. Batuk kering
  2. Hipotensi
  3. Pusing
  4. Disfungsi ginjal
  5. Hiperkalemia
  6. Angioedema
  7. Ruam kulit
  8. Takikardi
  9. Proteinuria

    Resiko khusus :

  10. Wanita hamil.

    Captopril tidak disarankan untuk digunakan pada wanita yang sedang hamil karena dapat menembus plasenta dan dapat mengakibatkan teratogenik. Hal ini juga dapat menyebabkan kematian janin. Morbiditas fetal berkaitan dengan penggunaan ACE inhibitor pada seluruh masa trisemester kehamilan. Captopril beresiko pada kehamilan yaitu pada level C (semester pertama) dan D (semester kedua dan ketiga).

  11. Wanita menyusui.

    Captopril tidak direkomendasikan untuk wanita yang sedang menyusui karena bentuk awal captopril dapat menembus masuk dalam ASI sekitar 1% dari konsentrasi plasma. Akan tetapi tidak diketahui apakah metabolit dari captopril juga dapat menembus masuk dalam ASI.

  12. Penyakit ginjal.

    Penggunaan captopril (ACE inhibitor) pada pasien dengan gangguan ginjal akan memperparah kerusakan ginjal karena hampir 85% diekskresikan lewat ginjal (hampir 45% dalam bentuk yang tidak berubah) sehingga akan memperparah kerja ginjal dan meningkatkan resiko neutropenia. Apabila captopril digunakan pada pasien dengan gangguan ginjal maka perlu dilakukan penyesuaian dosis dimana berfungsi untuk menurunkan klirens kreatininnya.

     

     

     

     

    DAFTAR PUSTAKA

     

    Dipiro, D. C., Talbert, R. M., Yee, G. C., Matzke, G. R., Welles, B. G., Posey, L. M., 2005, Pharmacotherapy : A Pathophysiologic Approach, Sixth Edition, 219-257, The McGraw-Hill Companies Inc, USA.

    Dollery, C., 1999, Therapeutic Drugs, 2nd Edition, volume 1 (A-H), C38-C42, Churchill Livingstone, USA.

    Konsil Kedokteran Indonesia, 2007, MIMS edisi Bahasa Indonesia, volume 8, 51-56, CMP Medika, Jakarta.

    Lacy, C. F., Armstrong, L. L., Goldman, M. P., Lance, L. L., 2006, Drug Information Handbook, 14th Edition, 262-264, Lexi-Comp Inc, Ohio.

    Poppy, K., Komala, S., Santoso, A. H., Sulaiman, J. R., Rienita, Y., Nuswantari, D., 1998, Kamus Saku Kedokteran Dorland, Edisi 25, EGC, Jakarta.

    Rang, H. P., Dale, M. M., Ritter, J. M., Moore, P. K., 2003, Pharmacology, Fifth Edition, 269, 300-302, Churchill Livingstone, USA.

    Tierney, L. M., Mcphee, S. J., Papadakis, M. A., Current Medical Diagnosis & Treatment, 45th Edition, 385-340, 419, 424-425, 434, 440, McGraw-Hill Inc, USA.

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

 

MAKALAH UJIAN AKHIR SEMESTER

FARMAKOTERAPI DAN TERMINOLOGI MEDIK

 

PENGGUNAAN CAPTOPRIL PADA PASIEN HIPERTENSI DENGAN GAGAL JANTUNG


 

 

 

 

 

 

 

 

Disusun oleh:

Eunike Sandjaja, S. Farm. (078115011)

 

Dosen: Luciana Kuswibawati, dr., M.Kes.

Yosef Wijoyo, M.Si., Apt

PROGRAM PROFESI APOTEKER

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

2007

PENGGUNAAN β-BLOCKER PADA ANGINA PECTORIS

oleh : Alfonsia Purnamasari, S.Farm / 078115002

Angina pectoris merupakan gejala kompleks yang dikarenakan myocardial ischemia. Gejala yang umum muncul sejenis sakit dada pada pasien dengan penyakit jantung koroner atau dalam istilah medis untuk nyeri dada atau ketidaknyamanan karena penyakit jantung koroner, yang merupakan suatu gejala pada sebuah kondisi yang disebut miokardial iskemik yaitu ketidakseimbagnan antara suplai darah ke otot jantung (miokardial) dan kebutuhan oksigen.Penyebab angina biasanya dikarenakan kerusakan arteri koroner yang diakibatkan atherosclerosis. Kejang (idiopatik atau yang diakibatkan oleh kokain) atau emboli koroner mungkin juga bias menjadi faktor penyebab namun jarang. Angina pectoris merupakan manifestasi klinis yang paling umum dari myocardial ischemia. Angina pectoris terjadi saat kerja jantung dan kebutuhan oksigen di miokardial melebihi kemampuan arteri koroner untuk mensuplai oksigen darah. Adanya peningkatan dari detak jantung, tekanan sistolik atau tekanan arteri mengakibatkan berkurangnya aliran darah koroner sehingga memicu terjadinya angina.Angina merupakan gejala atau gabungan gejala-gejala dan bukan suatu penyakit. Ciri khas angina adalah adanya tekanan yang tidak nyaman (uncomfortable pressure), squeezing (diremas-remas) atau nyeri pada dada bagian tengah, mersa sesak, terbakar atau terasa berat. Ketidaknyamanan juga terasa pada leher, rahang, bahu, punggung atau lengan. Intensitas rasa sakit yang dirasakan dari ringan sampai berat. Hal ini disebabkan karena penurunan suplai darah miokardial, peningkatan gerakan ekstravaskuler seperti pembengkakan ventrikel kiri yang dikarenakan hipertensi, aortic stenosis atau hypertropic cardiomyopathy atau meningkatkan tekanan diastolic, penurunan kapasitas darah dalam membawa oksigen (seperti anemia), kelainan congenital dari arteri koroner epikardial utama, kelainan structural dari arteri koroner.

Secara umum beberapa penyakit ischemia tidak menyebabkan gejala angina (silent ischemia), pasien sering mengalami nyeri berulang atau gejala lainnya yang tampak setelah beraktivitas, peningkatan frekuensi rasa sakit yang hebat, durasi dan gejala pada saat beristirahat (unsable angina). Gejala-gejala klinik seperti rasa ditekan/terbakar melewati tulang dada, sering tapi tidak selalu menjalar ke rahang kiri, bahu, lengan, dada kencang dan nafas pendek, nyeri biasanya berlangsung 30 menit. Faktor lain yang dapat memacu timbulnya gejala yaitu olahraga, lingkungan yang dingin, emosi meningkat, berkelahi, marah dan hubungan seksual. Tanda-tanda klinik yaitu precordial tidak normal, pembengkakan sistolik dan irama jantung tidak normal. Tes fisik angina meliputi tes jantung, evaluasi hiperlipidemia, hipertensi, penyakit vascular peripheral, CHF (congestive heart failure), anemia dan penyakit tiroid. Tes laboratorium meliputi elektrokardiogram dan tes profil lipid. Penelitian lebih lanjut mencakup chest films, hemoglobin dan tes untuk diabetes, fungsi tiroid dan fungsi ginjal. Angina pectoris dapat diobati dengan obat yang dapat mempengaruhi suplai darah ke otot jantung atau yang dapat memenuhi kebutuhan oksigen di jantung dan keduanya. Obat yang dapat mensuplai darah sebagai vasodilator koroner, menyebabkan pembuluh darah relaksasi. Nitrogliserin adalah obat yang paling sering digunakan. Obat β-bloker dan calcium antagonis digunakan untuk efek menurunkan tekanan darah, yaitu dengan mengurangi kerja jantung dan kebutuhan oksigen. Outcome terapi ini adalah mengurangi atau mencegah terjadinya gejala angina.

Tujuan terapinya adalah menghilangkan rasa nyeri dan sesak pada dada, menurunkan heart rate, kontraktilitas jantung, mencegah terjadinya CHD (coronary heart disease) seperti MI (myocardiac infrac), aritmia, gagal jantung, dan meningkatkan kualitas hidup. Sasaran terapi ini adalah heart rate. Strategi terapi farmakologis untuk angina pectoris secara umum adalah aspirin, β-bloker dengan prioritas MI, inhibitor ACE untuk pasien dengan CAD (penyakit arteri koroner) dan diabetes atau disfungsi sistole LV, terapi untuk menurunkan LDL dengan CAD dan LDL konsentrasi >130 mg/dl (catatan: diturunkan sampai kurang dari 100 mg/dl), nitrogliserin sublingual untuk pertolongan cepat untuk angina, calcium antagonist / long-acting nitrat untuk mengurangi gejala jika kontraindikasi β-bloker, calcium antagonist / long-acting nitrat dikombinasikan dengan β-bloker jika pengobatan utama dengan β-bloker tidak berhasil, calcium antagonist / long-acting nitrat sebagai pengganti β-bloker jika pengobatan utama dengan β-bloker mempunyai efek samping yang tidak dapat diterima. Sedangkan terapi nno farmakologisnya adalah melakukan olahraga secara teratur dan menghindarkan atau mengurangi faktor resiko seperti merokok. β-bloker merupakan satu-satunya obat antiangina untuk memperpanjang hidup pasien dengan penyakit koroner (post myocardial infrac) dan digunakan sebagai first line pada pasien dengan choric angina.Obat pilihan β-bloker memiliki indikasi yaitu hipertensi, angina dan aritmia. Mekanisme β-bloker adalah β-bloker (beta-adrenoreseptor blocking agent) menghambat secara kompetitif aksi dari katekolamin pada bagian reseptor β1-adrenergik, dimana berperan sebagai mediator dalam sirkulasi katekolamin. Penghambatan secara kompetitif ada aksi katekolamin akan meminimalkan pengaruh pada tingkat kronotropik (kontraksi otot) dan inotropik dari miokardium. Efek yang menguntungkan dengan β-bloker yaitu meningkatkan ventrikular volume dan waktu pengeluaran. Efek β-bloker secara keseluruhan pada pasien angina adalah mengurangi kebutuhan akan oksigen. Salah satu alasan tidak dilanjutkan terapi dengan β-bloker berhubungan dengan adverse effect pada susunan saraf pusat, misalnya fatigue (kurang tenaga/kurang responsif), malaise (rasa gelisah), dan depresi. Farmakokinetika yang berhubungan dengan β-bloker meliputi waktu paro (half-life time) dan rute eliminasi. Obat yang memiliki waktu paro lebih panjang membutuhkan frekuensi dosis yang lebih kecil dibanding obat dengan waktu paro lebih pendek, bagaimanapun juga adanya perbedaan antara waktu paro dan durasi dari aksi β-bloker (contoh metoprolol). Disfungsi pada renal dan hepar mempengaruhi disposisi dari β-bloker, tetapi β-bloker berefek sebagai haemodinamik atau simptomatik, selain itu rute eliminasi bukan pertimbangan utama dalam pemilihan obat. Adanya resiko timbulnya gagal jantung, hipotensi berat, asistol bila β-bloker dan verapamil (antiaritmia) digunakan bersama pada penyakit jantung iskemik, kecuali jika fungsi miokardium terpelihara dengan baik. β-bloker dihindarkan pada pasien dengan riwayat asma / penyakit paru obstruktif menahun, hipoglikemia yang sering, IDDM (insulin-dependent diabetes melitus). Tidak boleh diberikan pada pasien yang baru mulai gagal jantung atau pasien dengan blok AV derajat dua atau tiga (non-selective beta-blocker). Putus obat yang mendadak dapat menyebabkan memburuknya angina. Karena itu bila β-bloker akan dihentikan lebih baik dilakukan dengan cara pengurangan dosis sedikit demi sedikit.β-bloker dibagi menjadi 2 jenis yaitu non selektif β-bloker dan cardioselektif β-bloker. Berikut adalah contoh obat non selektif β-bloker dan cardioselektif β-bloker:

Non selektif β-bloker§

Propanolol

Nama Generik: Propanolol tablet 10mg, 40mg.

Nama Dagang: Farmadral ® (Fahrenheit) tablet 10mg, Inderal® (Astra Zaneca) tablet 10mg, 40mg.

Indikasi: Hipertensi, feokromositoma, angina, aritmia, kardiomiopati obstruktif hipertropik, takikardi ansietas dan tirotoksikosis (tambahan), profilaksis setelah IM, profilaksis migran dan tremor esensial.

Kontraindikasi: Asma atau riwayat penyakit paru obstruktif, gagal jantung yang tidak terkendali, bradikardi yang nyata, sindrom penyakit sinus, blok AV 2 atau 3, syok karsinogenik, feokromositoma.

Efek samping: Bradikardi, gagal jantung, gangguan konduksi, bronkospasme, vasokontriksi perifer, gangguan saluran cerna, fatigue, gangguan tidur, jarang ruam kulit dan mata kering (reversible bila obat dihentikan), eksaserbasi psoriasis.

Peringatan: Faktor resiko kehamilan C dan D (untuk trimeseter 2 dan 3), menyusui, hindari putus obat yang mendadak apda angina, kurangi dosis oral propanolol pada penyakit hati, memburuknya fungsi hati pada hipertensi portal, kurangi dosis awal pada gangguan ginjal, diabetes, miastemia grais, pada anafilaksis respons terhadap adrenalin berkurang.

Dosis dan aturan pakai: Angina dosis awal 40mg 2-3 kali sehari, dosis pemeliharaan 120-240mg sehari. Bentuk sediaan obat : Tablet.

Asebutolol

Nama Generik: —-

Nama Dagang: Sectral® (Aventis) tablet 400mg, Sectrazide® (Aventis).

Indikasi : Hipertensi, angina, aritmia.

Kontraindikasi: Asma atau riwayat penyakit paru obstruktif, gagal jantung yang tidak terkendali, bradikardi yang nyata, sindrom penyakit sinus, blok AV 2 atau 3, syok karsinogenik, feokromositoma.

Efek samping:Bradikardi, gagal jantung, gangguan konduksi, bronkospasme, vasokontriksi perifer, gangguan saluran cerna, fatigue, gangguan tidur, jarang ruam kulit dan mata kering (reversible bila obat dihentikan), eksaserbasi psoriasis.

Peringatan: Faktor resiko kehamilan C dan D (untuk trimeseter 2 dan 3), menyusui.

Dosis dan aturan pakai: Angina dosis awal 400mg 1 kali sehari atau 200mg 2 kali sehari, 300mg 3 kali sehari pada angina berat sampai 1,2g sehari.

Bentuk sediaan obat: Tablet.

Cardioselektif β-bloker

Metoprolol

Nama Generik: ——

Nama Dagang: Seloken ® (Sastra Zaneca) 50mg, 100mg, Lopresor ® (Sandos) 100mg.

Indikasi: Hipertensi, angina, aritmia, profilaksis migran, tiroroksikosis.

Kontraindikasi: Asma atau riwayat penyakit paru obstruktif, gagal jantung yang tidak terkendali, bradikardi yang nyata, sindrom penyakit sinus, blok AV 2 atau 3, syok karsinogenik, feokromositoma.

Efek samping: Bradikardi, gagal jantung, gangguan konduksi, bronkospasme, vasokontriksi perifer, gangguan saluran cerna, fatigue, gangguan tidur, jarang ruam kulit dan mata kering (reversible bila obat dihentikan), eksaserbasi psoriasis.

Peringatan: Faktor resiko kehamilan C dan D (untuk trimeseter 2 dan 3), menyusui, kurangi dosis pada gangguan hati.

Dosis dan aturan pakai: Angina 50-100mg 2-3 kali sehari.

Bentuk sediaan obat: Tablet.

Atenolol

Nama Generik: —-

Nama Dagang: Betablok ® (Kalbe Farma) 50mg, 100mg, Farnomin ® (Fahrenheit) 50mg, Hiblok ® (Nufarindo) 50mg, Internolol ® (Interbat) 50mg, 100mg, Tenormin ® (Sastra Zaneca) 50mg, 100mg, Tensinorm ® (Medicon Prima) 50mg, 100mg, Zumablok ® (Sando) 50mg, 100mg.

Indikasi : Hipertensi, angina, aritmia.

Kontraindikasi: Asma atau riwayat penyakit paru obstruktif, gagal jantung yang tidak terkendali, bradikardi yang nyata, sindrom penyakit sinus, blok AV 2 atau 3, syok karsinogenik, feokromositoma.

Efek samping: Bradikardi, gagal jantung, gangguan konduksi, bronkospasme, vasokontriksi perifer, gangguan saluran cerna, fatigue, gangguan tidur, jarang ruam kulit dan mata kering (reversible bila obat dihentikan), eksaserbasi psoriasis.

Peringatan: Faktor resiko kehamilan C dan D (untuk trimeseter 2 dan 3), menyusui, kurangi dosis pada gangguan ginjal.

Dosis dan aturan pakai: Angina 100mg sehari dalam 1 atau 2 dosis.

Bentuk sediaan obat: Tablet.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2000, IONI (Informatorium Obat Nasional Indonesia) 2000, DepKes RI, Direktorat Jendral Pengawasan Obat dan Makanan, Sagung Seto: Jakarta.

Anonim, 2007, ISO (Informasi Spesialite Obat Indonesia) Volume 42, Penerbit Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia, PT Ikrar Mandiri: Jakarta.

Chan, Paul., et.all., 2005, Out Patient and Primary Care Medicine 2005 edition, ALguna Hills: California.

Lacy, Charles.F., et all, 2006, Drug Information Hanbook 14th edition, Lexi Company: USA.

Tierney, Lawrence M., et all, 2006, Current Medical Diagnosis and Treatment 45th edition, Mc Graw-Hill Companies: USA.

Penggunaan Amlodipin Sebagai Antihipertensi

PENGGUNAAN AMLODIPIN SEBAGAI ANTIHIPERTENSI   

St. Layli Prasojo, S.Farm.(078115065)                

I. SASARAN TERAPI

Secara umum, yang menjadi sasaran terapi pada penyakit hipertensi adalah tekanan darah. Berdasarkan mekanisme penurunan tekanan darah, sasaran terapi hipertensi secara khusus terbagi menjadi:

1.       Sasaran pada tubula ginjal.Anti hipertensi yang bekerja di tubula ginjal bekerja dengan cara mendeplesi (mengosongkan) natrium tubuh dan menurunkan volume darah.

2.       Sasaran pada saraf simpatis.Pengaruh anti hipertensi pada saraf simpatis yaitu menurunkan tahanan vaskuler perifer, menghambat fungsi jantung, dan meningkatkan pengumpulan vena di dalam pembuluh darah kapasitans.

3.       Sasaran pada otot polos vaskuler.Anti hipertensi menurunkan tekanan darah dengan cara merelaksasi otot polos vaskular sehingga mendilatasi pembuluh darah resistans.

4.       Sasaran pada angiotensinAnti hipertensi menyakat produksi angiotensin atau menghambat ikatan angiotensin dengan reseptornya, sehingga menyebabkan penurunan tahanan vaskular perifer dan volume darah.

Sasaran terapi hipertensi dengan menggunakan amlodipin adalah pada otot polos vaskular. Hal ini berdasarkan mekanisme kerja dari amlodipin, yaitu sebagai inhibitor influks kalsium (slow chanel blocker atau antagonis ion kalsium), dan menghambat masuknya ion-ion kalsium transmembran ke dalam jantung dan otot polos vaskular. Ion kalsium berperan dalam kontraksi otot polos. Jadi dengan terhambatnya pemasukan ion kalsium mengakibatkan otot polos vaskuler mengalami relaksasi. Dengan demikian menurunkan tahanan perifer dan menurunkan tekanan darah.

II.                TUJUAN TERAPI

Tujuan terapi hipertensi adalah menurunkan tekanan darah hingga taraf yang direkomendasikan. Tekanan darah yang disarankan oleh JNC7, yaitu :

1.       Di bawah 140/90 mmHg

2.       Untuk pasien dengan diabetes, di bawah 130/80 mmHg

3.       Untuk pasien dengan penyakit gagal ginjal kronis, di bawah 130/80 mmHg (GFR < 60 ml/menit, serum kreatinin > 1,3 mg/dL untuk wanita dan > 1,5 mg/mL untuk pria, atau albuminuria > 300 mg/hari atau ≥ 200 mg/g kreatinin). 

III.             STRATEGI TERAPI

Terapi hipertensi dapat dibagi menjadi dua cara, yaitu:

1.      Terapi non farmakologi. Terapi non farmakologi yaitu pengobatan tanpa menggunakan obat. Terapi non farmakologi pada hipertensi lebih ditekankan pada gaya hidup. Gaya hidup yang disarankan untuk penderita hipertensi antara lain: mengurangi asupan natrium (garam), mengurangi makan makanan berlemak, jangan merokok, hindari minuman beralkohol, olah raga secara teratur, dan hindari aktivitas fisik yang berat.

2.      Terapi farmakologi. Terapi farmakologi yaitu penanganan penyakit menggunakan obat. Obat-obat yang biasa digunakan pada terapi hipertensi adalah:

a.       Diuretik. Diuretik bekerja dengan meningkatkan ekskresi natrium, klorida dan air, sehingga mengurangi volume plasma dan cairan ekstrasel, sehingga tekanan darah menurun. Ada tiga golongan obat diuretik, yaitu:  tiazid (cth: Hidroklortiazid), diuretik kuat (cth: furosemid), dan diuretik hemat kalium (cth: Spironolakton).

b.       β-blocker (Misal : propanolol, bisoprolol). Merupakan obat utama pada penderita hipertensi ringan sampai moderat dengan penyakit jantung koroner atau dengan aritmia. Bekerja dengan menghambat reseptor β1 di otak, ginjal dan neuron adrenergik perifer, di mana β1 merupakan reseptor yang bertanggung jawab untuk menstimulasi produksi katekolamin yang akan menstimulasi produksi renin. Dengan berkurangnya produksi renin, maka cardiac output akan berkurang yang disertai dengan turunnya tekanan darah.

c.       α-blocker (Misal : Doxazosin, Prazosin). Bekerja dengan menghambat reseptor α­1 di pembuluh darah sehingga terjadi dilatasi arteriol dan vena. Dilatasi arteriol akan menurunkan resistensi perifer.

d.       Penghambat Renin Angiotensin System1). Angiotensin Converting Enzyme Inhibitor/ACEI (Cth: Captopril, Enalapril)Bekerja dengan menghambat enzim peptidil dipeptidase yang mengkatalisis pembentukan angiotensin II dan pelepasan bradikinin (suatu senyawa vasodilator). Dengan demikian, akan  terjadi vasodilatasi dan penurunan sekresi aldosteron yang menyebabkan terjadinya ekskresi natrium dan air, serta retensi kalium. Akibatnya terjadi penurunan TD.2). Angiotensin II Reseptor Antagonist/AIIRA (Cth: Losartan)Bekerja dengan bertindak sebagai antagonis reseptor angiotensin II yang terdapat di otot jantung, dinding pembuluh darah, sistem syaraf pusat, ginjal, anak ginjal, dan hepar sehingga efek sekresi aldosteron yang disebabkan oleh angiotensin II tidak terjadi. Akibatnya akan terjadi penurunan tekanan darah.Digunakan sebagai obat kombinasi dengan ACEI sebagai penurun TD yang efektif, karena kerja kedua kelas obat ini saling sinergi.

e.  Calcium channel blocker (Cth: Nifedipin, Amlodipin). Bekerja dengan menghambat masuknya kalsium ke dalam otot polos pembuluh darah sehingga mengurangi tahanan perifer. Merupakan antihipertensi yang dapat bekerja pula sebagai obat angina dan antiaritmia, sehingga merupakan obat utama bagi penderita hipertensi yang juga penderita angina.

IV.              OBAT PILIHAN

  1. Nama Generik

      Amlodipin; sebagai garam amlodipin besilat atau amlodipin asetat.

  1. Nama Dagang di Indonesia

            Tensivask® (Pfizer), Norvask® (Dexa Medica), Divask® (Kalbe Farma)

  1. Indikasi

            Amlodipin diindikasikan untuk pengobatan hipertensi, dapat digunakan sebagai agen tunggal untuk mengontrol tekanan darah pada sebagian besar penderita hipertensi. Penderita hipertensi yang tidak cukup terkontrol jika hanya menggunakan anti hipertensi tunggal akan sangat menguntungkan dengan pemberian amlodipin yang dikombinasikan dengan diuretik thiazida, inhibitor β-adrenoreseptor, atau inhibitor angiotensin converting enzyme. Amlodipin juga diindikasikan untuk pengobatan iskemia myokardial, baik karena obstruksi fixed (angina stabil), maupun karena vasokonstriksi (angina varian) dari pembuluh darah koroner. Amlodipin dapat digunankan sebagai monoterapi atau kombinasi dengan obat-obat anti angina lain, terutama pada penderita angina yang sukar disembuhkan dengan nitrat dan atau dengan β-blocker pada dosis yang memadai.

  1. Kontraindikasi

            Amlodipin dikontraindikasikan pada pasien yang sensitif terhadap dihidropiridin.    

  1. Bentuk sediaan

      Amlodipin yang beredar di pasaran semuanya berada dalam bentuk sediaan tablet per oral dengan kekuatan 5 mg dan 10 mg.  

  1. Dosis dan Aturan Pakai

            Untuk hipertensi dan angina, dosis awal yang biasa digunakan adalah 5 mg satu kali sehari. Dosis dapat ditingkatkan hingga maksimum 10 mg tergantung respon pasien secara individual dan tingkat keparahan penyakitnya. Untuk anak-anak, pasien lemah, dan usia lanjut atau pasien dengan gangguan fungsi hati dapat dimulai dengan dosis 2,5 mg amlodipin satu kali sehari. Dosis ini juga dapat digunakan ketika amlodipin diberikan bersama anti hipertansi lain.

  1. Efek Samping

            Efek samping pada kardiovaskular: Palpitasi; peripheral edema; syncope; takikardi, bradikardi, dan aritmia. Pada SSP: sakit kepala, pusing, dan kelelahan.  Pada kulit: dermatitis, rash, pruritus, dan urtikaria. Efek pada Saluran pencernaan: mual, nyeri perut, kram, dan tidak nafsu makan. Efek pada saluran pernafasan: nafas menjadi pendek-pendek, dyspnea, dan wheezing. Efek samping lain: Flushing, nyeri otot, dan nyeri atau inflamasi. Pada penelitian klinis dengan kontrol plasebo yang mencakup penderita hipertensi dan angina, efek samping yang umum terjadi adalah sakit kepala, edema, lelah, flushing, dan pusing.

  1. Resiko Khusus

a.       Penggunaan pada pasien dengan kegagalan fungsi hatiWaktu paruh eliminasi amlodipin lebih panjang pada pasien dengan kegagalan fungsi hati dan rekomendasi dosis pada pasien ini belum ditetapkan. Sebaiknya perlu diberikan perhatian khusus penggunaan amlodipin pada penderita dengan kegagalan fungsi hati

b.       Penggunaan pada wanita hamil dan menyusuiKeamanan penggunaan amlodipin pada wanita hamil dan menyusui belum dibuktikan. Amlodipin tidak menunjukan toksisitas pada penelitian reproduktif pada hewan uji selain memperpanjang parturisi (proses melahirkan) pada tikus percobaan yang diberi amlodipin 50 kali dosis maksimum yang direkomendasikan pada manusia. Berdasarkan hal itu, penggunaan pada wanita hamil dan menyusui hanya direkomendasikan bila tidak ada alternatif lain yang lebih aman dan bila penyakitnya itu sendiri membawa resiko yang lebih besar terhadap ibu dan anak.

V.                 PUSTAKA         

Dipiro, J.T., 2005, Pharmacotherapy : A Pathophysiologic Approach, 6th edition, The McGraw-Hill   Company, USA         

Katzung, G. dan Bertram, M., 2007, Basic and Clinical Pharmacology, 10th edition, The                           McGraw-Hill Company, USA         

Tatro, David S., Pharm D, 2004, A to Z Drug Facts, 5th edition, 80-82, Wolters Kluwer                               Health, Inc., USA

PENDEKATAN HOLISTIK TERHADAP PENYAKIT DIABETES MELITUS TIPE II DAN KARDIOVASKULER (ATEROSKLEROSIS)

pharmacotherapy-by-william-salim.pdf

PENDEKATAN HOLISTIK TERHADAP PENYAKIT

DIABETES MELITUS TIPE II DAN KARDIOVASKULER (ATEROSKLEROSIS)

William Salim

07 8115 070

Program Profesi Apoteker Universitas Sanata Dharma

LATAR BELAKANG

Faktor risiko utama yang mendasari penyakit kardiovaskuler (aterosklerosis) dan diabetes melitus tipe II adalah obesitas. Salah satu produk jaringan adipose yang dianggap mempunyai peranan terbesar pada proses kardiovaskuler dan telah banyak diteliti adalah adiponektin. Secara eksklusif, adiponektin disintesa dalam jaringan adipose dan diinduksi ketika terjadi diferensiasi jaringan adipose, kemudian disirkulasikan ke dalam aliran darah dengan konsentrasi yang besar. Hormon ini dikenal sebagai kunci dari regulasi sensitifitas insulin dan inflamasi jaringan. Berbeda dengan adipokin lain, kadar adiponektin berhubungan terbalik dengan jumlah lemak tubuh. Pada orang dengan resistensi insulin, obesitas, diabetes, dan penyakit arteri koroner, kadar adiponektin lebih rendah daripada orang lain. Jadi, adiponektin dapat sebagai hormon antidiabetes, antiaterosklerosis, dan meningkatkan sensitifitas insulin.

1. SASARAN TERAPI

Sasaran terapi adalah adiponektin. Peningkatan kadar adiponektin berhubungan dengan menurunnya berat badan akan meningkatkan sensitifitas insulin. Kadar adiponektin rendah berhubungan dengan peningkatan risiko penyakit aterosklerosis.

2. TUJUAN TERAPI

Tujuan terapi adalah menurunkan TNF alfa dan meningkatkan adiponektin, yang pada akhirnya akan menurunkan resistensi insulin.

3. STRATEGI TERAPI

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan adiponektin, diantaranya dengan intervensi gaya hidup dan terapi farmakologi. Intervensi gaya hidup berdasar aktivitas fisik, gaya hidup, dan pola makan meningkatkan adiponektin bersamaan dengan penurunan hCRP dan IL-6 dalam 3 bulan. Diit makanan yang mengandung indeks glikemik rendah dan berserat tinggi dapat meningkatkan konsentrasi plasma adiponektin pada pasien diabetes. Selain itu hindari merokok, kelebihan berat badan, gaya hidup dengan banyak duduk.

Terapi farmakologi menggunakan obat golongan sulfonylurea yaitu glimepiride. Selain memerbaiki sekresi insulin dan kualitas sel beta, glimepiride juga memerbaiki resistensi insulin dengan meningkatkan kadar adiponektin. Pemberian glimepiride selama 12 minggu terhadap pasien usia lanjut dengan diabetes melitus tipe II, menyebabkan perbaikan sensitifitas insulin (penurunan HOMA-IR, peningkatan metabolic clearance rate (MCR) dan penurunan HnA1c, tetapi tidak insulin) dengan penurunan secara signifikan TNF alfa dan meningkatkan serum adiponektin. Keunikan glimepiride dibanding glibenklamid, glipizide, dan glikazid adalah efeknya yang lebih besar pada pankreas. Glimepiride secara mengagumkan memperbaiki resistensi insulin, yang ditunjukkan dengan penurunan HOMA-IR, meningkatkan MCR-g dan menurunkan HbA1c tanpa mengubah fungsi sel beta ekstrapankreas dan CPR dalam urin.

4. OBAT PILIHAN

  • NAMA GENERIK

    Glimepiride.

      • NAMA DAGANG DI INDONESIA

        Amaryl® (Aventis Pharma).

        Metrix® (Kalbe Farma).

          • INDIKASI

            (1) Merupakan obat golongan sulfonylurea untuk pengobatan diabetes melitus tipe II, diresepkan sebagai tambahan pada diet dan olahraga.

            (2) Menurunkan kadar gula darah dengan cara merangsang tubuh memproduksi insulin lebih banyak.

              • KONTRAINDIKASI

                (1) Pasien yang hipersensitif terhadap obat ini, obat-obat golongan sulfonamida lain, atau bahan-bahan tambahan lain (yang menimbulkan resiko hipersensitif).

                (2) Pasien dengan ketoasidosis diabetes, dengan atau tanpa koma. Keadaan seperti ini harus diatasi dengan terapi insulin.

                  • BENTUK SEDIAAN DAN DOSIS BESERTA ATURAN PAKAI

                    Bentuk sediaan glimepiride adalah tablet.

                    Dosis

                    Kadar glukosa darah pasien dan HbA1c harus diukur secara berkala untuk menetapkan dosis minimum yang efektif bagi pasien tersebut dengan tujuan:

                    - Untuk mendeteksi kegagalan primer yaitu tidak adanya penurunan berarti dari gula darah pada pemberian dosis maksimum yang diperbolehkan.

                    - Untuk mendeteksi kegagalan sekunder yaitu hilangnya respon penurunan glukosa darah setelah adanya periode keefektifan inisial.

                    Dosis awal

                    1-2 mg satu kali sehari, diberikan bersamaan makan pagi atau makanan utama yang pertama. Untuk pasien yang lebih sensitif terhadap obat-obat hipoglikemik, dosis awal yang diberikan sebaiknya dimulai dari 1 mg satu kali sehari, kemudian boleh dinaikkan (dititrasi) dengan hati-hati.

                    Dosis pemeliharaan

                    1-4 mg satu kali sehari. Dosis maksimum yang dianjurkan 8 mg satu kali sehari. Pada saat pemberian telah mencapai dosis 2 mg maka kenaikan dosis tidak boleh melebihi 2 mg dengan interval 1-2 minggu tergantung dari respon gula darah pasien. Efikasi jangka panjang harus dimonitor dengan mengukur kadar HbA1c setiap 3-6 bulan.

                      • EFEK SAMPING

                        (1) Gangguan pada saluran cerna seperti muntah, nyeri lambung dan diare.

                        (2) Reaksi alergi seperti pruritus, erythema, urtikaria, erupsi morbiliform atau maculopapular, reaksi ini bersifat sementara dan akan hilang meskipun penggunaan glimepiride harus dihentikan.

                        (3) Gangguan metabolisme berupa hiponatremia.

                        (4) Perubahan pada akomodasi dan/atau kaburnya penglihatan.

                        (5) Reaksi hematologik seperti leukopenia, agranulositosis, trombositopenia, anemia hemolitik, anemia aplastik, dan pansitopenia.

                          • INTERAKSI OBAT

                            (1) Risiko hipoglikemia akan meningkat pada pemberian glimipiride bersama-sama dengan obat-obat tertentu, yaitu NSAID dan obat lain dengan ikatan protein tinggi, seperti salisilat, sulfonamida, kloramfenikol, kumarin, probenesid, MAO inhibitors, β-adrenergic blocking agents.

                            (2) Daya kerja glimepiride dalam menurunkan kadar glukosa darah akan menurun jika diberikan bersamaan dengan obat-obat yang cenderung menimbulkan hiperglikemia, seperti tiazid dan diuretik lain, kortikosteroid, fenotiazin, produk-produk kelenjar tiroid, estrogen, kontrasepsi oral, fenitoin, asam nikotinat, simpatomimetik dan isoniazid.

                            (3) Pemberian propanolol (40 mg tid) dan glimepiride meningkatkan Cmax, AUC, dan T½ dari glimepiride sebesar 23%, 22% dan 15% serta menurunkan CL/f sebesar 18%, pasien perlu diperingatkan akan potensi hipoglikemia yang akan terjadi.

                            (4) Pemberian glimepiride bersamaan dengan warfarin akan menurunkan respon farmakodinamik dari warfarin.

                            (5) Interaksi antara mikonazol oral dan obat hipoglikemia oral dilaporkan dapat menyebabkan hipoglikemia.

                            (6) Glimepiride berpotensi terjadi interaksi dengan fenitoin, diklofenak, ibuprofen, naproksen dan asam mefenamat, karena seluruhnya dimetabolisme oleh sitokrom P450 II C9.

                              • RESIKO KHUSUS

                                Tidak dianjurkan untuk digunakan pada wanita hamil dan menyusui karena glimepiride dapat menembus jaringan payudara sehingga dapat mengkontaminasi nutrisi untuk bayi.

                                KESIMPULAN

                                Dengan melihat prospek klinis mengenai hubungan reseptor-struktur molekuler, adiponektin menjadi target penelitian dalam menurunkan morbiditas dan mortalitas penyakit diabetes melitus tipe II dan aterosklerosis dalam aplikasi klinis sehari-hari.

                                DAFTAR PUSTAKA

                                Anonim, 2006, Ethical Digest: semijurnal farmasi dan kedokteran no. 31, 34, Ethical Digest, Jakarta.

                                Anonim, 2006, Informasi Spesialite Obat (ISO) Indonesia, 181, PT. Anem Kosong Anem (AKA), Jakarta.

                                Anonim, 2006, Surabaya Diabetes Update (SDU), http://www.kalbe.co.id/index.php?mn=news& tipe=detail&detail=18610, diakses tanggal 21 Desember 2007.

                                Anonim 2007, Faktor-Faktor CMR, http://www.sanofi-aventis.co.id/live/id/in/layout.jsp?cnt=B940B265-7DED-400C-B34D-2603764B7D0E, diakses tanggal 21 Desember 2007.

                                Anonim, 2007, Glimepiride, http://www.dexa-medica.com/ourproducts/prescriptionproducts/detail.php?id=43&idc=7, diakses tanggal 21 Desember 2007.

                                Anonim, 2007, Glimepiride, http://www.sanofi-aventis.co.id/live/id/in/layout.jsp?scat=6F241C06-5EE2-42D2-8B8B-8879B15FC80A, diakses tanggal 21 Desember 2007.

                                Anonim, 2007, Glimepiride, http://www.medicinenet.com/glimepiride-oral/article.htm, diakses tanggal 21 Desember 2007.

                                Anonim, 2007, Metrix, http://www.kalbefarma.com/index.php?mn=product&tipe=detail&jenis=adv&detail=105, diakses tanggal 21 Desember 2007.

                                God, bless people in the world

                                Amen

                                SINGKATAN

                                CPR (C-Peptide immuno Reactivity) = peptide yang memroduksi pro-insulin untuk meningkatkan respon insulin terhadap glukosa dalam darah.

                                HbA1c (glycosylated hemoglobin) = suatu molekul dalam sel darah merah yang berikatan dengan glukosa.

                                hCRP (human C-Reactive Protein) = protein plasma yang diproduksi hati saat terjadi inflamasi.

                                HnA1c (Human neutrophil Antigen 1c) = suatu tipe sel darah putih dalam bentuk granulosit dan dapat membantu sel makhluk hidup dalam membunuh dan memakan mikroorganisme (bersifat fagositosis).

                                HOMA-IR (Homeostatis model Assessment of Insulin Resistence) = penilaian sistem homeostatis terhadap resistensi insulin dalam tubuh.

                                IL-6 (Interleukin-6) = sitokinin karena adanya inflamasi yang dilepaskan oleh sel T dan makrofag.

                                MCR-g (Metabolic Clearance Rate ginjal) = kecepatan klirens metabolit dari ginjal.

                                TNF alfa (Tumor Necrosis Factor – alpha) = mediator inflamasi yang disekresi oleh monosit dan dapat menurunkan permeabilitas pembuluh darah.

                                Penggunaan kaptopril Pada Pasien Hipertensi dengan Diabetes Mellitus

                                Penggunaan kaptopril Pada Pasien Hipertensi dengan Diabetes Mellitus

                                (Surya Dwi Ariatma/078115033)

                                Pendahuluan

                                Hipertensi dan Diabetes melitus merupakan dua keadaan yang berhubungan erat dan keduanya merupakan masalah kesehatan yang perlu mendapatkan penanganan yang seksama. Hipertensi pada diabetes mellitus merupakan penyebab utama pada kematian dalam diabetes pada penyakit kardiovaskuler. Kelainan pada mata akibat diabetes melitus yang berupa retinopati diabetik juga dipengaruhi oleh hipertensi.

                                Hipertensi secara umum adalah keadaan dimana tekanan darah sistolik 140 mmHg atau lebih dan tekanan diastolik 90 mmHg atau lebih dan diukur lebih dari satu kali kesempatan, oleh karena itu jika dokter menyatakan tekanan darah anda diatas 140/90 berarti anda menderita hipertensi alias tekanan darah tinggi.

                                 

                                Tabel Klasifikasi Tekanan Darah Untuk Pasien >18 Tahun

                                Menurut Joint National Committee VII

                                Klasifikasi Tekanan Darah

                                Tekanan Darah Sistolik (mmHg)

                                Tekanan Darah Diastolik (mmHg)

                                Normal

                                <120

                                <80

                                Prehipertensi

                                120-139

                                80-89

                                Hipertensi tingkat 1

                                140-159

                                90-99

                                Hipertensi tingkat 2

                                ≥160

                                ≥100

                                 

                                Sasaran dan Tujuan Terapi

                                Penderita tekanan darah tinggi perlu berupaya menormalkan tekanan darahnya. Sasaran pengobatan tekanan darah pada diabetes mellitus adalah mencapai dan mempertahankan tekanan darah dibawah 130/80 mm Hg. Dan tujuan pengobatan dari hipertensi ini, yaitu mencegah terjadinya morbiditas (angka kesakitan) dan mortalitas (angka kematian) kardiovaskuler akibat tekanan darah tinggi.

                                 

                                Strategi Terapi

                                Strategi penatalaksanaan hipertensi meliputi beberapa tahap yaitu, memastikan bahwa tekanan darah benar-benar mengalami kenaikan pada pengukuran berulang kali, menentukan target dalam penurunan tekanan darah, melakukan terapi non farmakologis meliputi pengamatan secara umum terhadap pola hidup pasien, kemudian terapi farmakologis meliputi pengoptimalan penggunaan obat tunggal anti-hipertensi dalam terapi, bila perlu berikan kombinasi penggunaan obat anti-hipertensi, dan melakukan monitoring secara rutin. Terapi hipertensi dapat dilakukan dengan dua cara yaitu terapi non farmakologis (tanpa obat) dan terapi farmakologis (menggunakan obat).

                                 

                                Terapi non farmakologis

                                Terapi non farmakologis dilakukan dengan modifikasi pola hidup yang berguna untuk menurunkan tekanan darah pada penderita hipertensi dengan diabetes mellitus. Modifikasi utama pola hidup yang dapat menurunkan tekanan darah antara lain penurunan berat badan pada kasus obesitas, kurangi asupan kalori, konsumsi buah dan sayur-sayuran, diet rendah lemak, diet rendah garam, menghindari konsumsi alkohol dan memperbanyak aktivitas atau olahraga.

                                 

                                Modifikasi Pola Hidup dalam Penatalaksanaan Hipertensi

                                Modifikasi

                                Rekomendasi

                                Perkiraan penurunan tekanan darah (mmHg)

                                Penurunan berat badan

                                Menjaga berat badan normal (Body Mass Index 18,5-24,9 kg/m2)

                                5-20 per 10 Kg penurunan berat badan

                                 

                                Pola makan

                                Mengkonsumsi buah-buahan, sayuran, dan makanan rendah kadar lemak

                                 

                                8-14

                                Kurangi asupan natrium

                                Kurangi asupan natrium < 2,4 gram perhari

                                 

                                2-8

                                Aktivitas fisik

                                Olahraga teratur seperti aerobik ringan minimal 30 menit per hari

                                4-9

                                Kurangi alkohol

                                Membatasi konsumsi alkohol, pada pria tidak lebih dari 30 ml etanol per hari dan pada wanita tidak lebih dari 15 etanol ml per hari

                                 

                                2-4

                                Terapi farmakologis

                                Ada beberapa golongan obat anti-hipertensi yaitu first line drug : diuretik, Penyekat reseptor beta adrenergic (β-blocker), Penghambat angiotensin-converting enzyme (ACE inhibitor), Penghambat reseptor angiotensin (Angiotensin-receptor blocker,ARB), antagonis kalsium, dan second line drug : penghambat saraf adrenergik, Agonis α-2 sentral dan vasodilator.

                                Pada prinsipnya pengobatan hipertensi pada diabetes melitus tidak berbeda dengan pengobatan pada hipertensi pada penderita tanpa diabetes melitus.Yang perlu mendapatkan perhatian ialah bahwa efek samping obat anti-hipertensi dapat menimbulkan gangguan metabolik pada diabetes melitus. Oleh karena itu pengobatan harus diberikan dengan mengingat kepentingan secara individual dan tingkat kelainan metabolik yang ada.

                                Semua pasien dengan diabetes dan hipertensi dapat diatasi dengan pemberian antihipertensi yang lainnya termasuk ACE Inhibitor atau ARB. Secara farmakologi, kedua golongan obat ini memberikan nephrotection memperlihatkan vasodilatasi oleh karena arteriole pada ginjal. Lebih dari itu inhibitor-inhibitor ACE mempunyai pengurangan resiko yang besar sekali ditunjukkan data pengurangan pada kedua resiko kardiovaskular (kebanyakan dengan ACE inhibitor) dan resiko dari kelainan fungsi tubuh ginjal yang progresif (kebanyakan dengan ARBs) pada pasien-pasien diabetes.

                                Terapi obat pilihan dalam artikel ini adalah kaptopril yang merupakan golongan obat antihipertensi ACE inhibitor.Enzim pengkonversi angiotensin (ACE) memfasilitasi terbentuknya angiotensin II yang mempunyai peran penting dalam pengaturan tekanan darah arteri. Enzim pengkonversi angiotensin (ACE) terdistribusi dalam banyak jaringan dan terdapat dalam beberapa tipe sel yang berbeda, tetapi secara umum ACE terletak pada sel endotelial. Oleh karena itu, produksi utama angiotensin II terletak di pembuluh darah bukan di ginjal. Obat-obat golongan ini diindikasikan untuk hipertensi pada diabetes mellitus dan hipertensi pada diabetes dengan nefropati. Pada beberapa pasien, obat golongan ini menyebabkan penurunan tekanan darah yang sangat cepat.

                                OBAT PILIHAN ► KAPTOPRIL

                                Indikasi : hipertensi ringan sampai sedang (sendiri atau dengan terapi tiazid) dan hipertensi berat yang resisten terhadap pengobatan lain; gagal jantung kongestif (tambahan); setelah infark miokard; nefropati diabetic (mikroalbuminuria lebih dari 30 mg/hari) pada diabetes tergantung insulin.

                                Kontraindikasi : hipersensitif terhadap penghambat ACE (termasuk angiodema); penyakit renovaskuler (pasti atau dugaan); stenosis aortic atau obstruksi keluarnya darah dari jantung; kehamilan; hipertensi dengan gejala hiponatrium; anuria; Laktasi; gagal ginjal.

                                Efek Samping : ruam kulit, pruritus, muka kemerahan, batuk kering; gangguan pengecapan; hipotensi; gangguan gastrointestinal, proteinuria. Jarang, netropenia, takikardi, angiodema.

                                Aturan pakai : Diberikan dalam keadaan perut kosong (1 jam sebelum makan atau 2 jam setelah makan).

                                Dosis : hipertensi ringan sampai dengan sedang awal 12,5 mg 2 x sehari. Pemeliharaan : 25mg 2xsehari, dapat ditingkatkan dengan selang waktu 2-4 minggu. Maksimal 50 mg dua kali sehari. Hipertensi berat awal 12,5 mg 2 x sehari, dapat ditingkatkan bertahap sampai dengan maksimal 50 mg 3 x sehari.

                                Resiko Khusus : pada pasien dengan stenosis arteri ginjal bilateral yang berat, penghambat ACE mengurangi atau meniadakan filtrasi glomerolus sehingga menyebabkan gagal ginjal yang berat dan progresif. Pada wanita hamil dapat mengganggu pengendalian tekanan darah janin dan bayi neonatus, serta mengganggu fungsi ginjalnya; juga bisa mengakibatkan kerusakan tengkorak dan oligohidramnios. Pada ibu menyusi, kaptopril didistribusikan ke air susu sehingga tidak direkomendasikan untuk menyusui saat menggunakan kaptopril

                                Macam-macam obat Kaptopril

                                Kaptopril (Generik) Tablet 12,5 mg, 25 mg, 50 mg.

                                Acepress (Bernofarm) Tablet 12,5 mg, 25 mg.

                                Capoten (Bristol-Myers Squibb) Tablet 12,5 mg, 25 mg, 50 mg.

                                Captensin (Kalbe Farma) Tablet 12,5 mg, 25 mg.Kaptopril Hexparm (Hexparm)

                                Tablet 12,5 mg, 25 mg, 50 mg.

                                Forten (Hexparm) Tablet 25 mg, 50 mg.Casipril (Tunggal Idaman Abadi)

                                Tablet 12,5 mg, 25 mg.

                                Dexacap (Dexa Medica) Tablet 12,5 mg, 25 mg, 50 mg.Farmotten (Fahrenheit)

                                Tablet 12,5 mg, 25 mg.

                                Lotensin (Kimia Farma) Tablet 12,5 mg, 25 mg.Locap (Sandoz)

                                Tablet 25 mg.

                                Tenofax (Sandoz) Tablet 12,5 mg, 25 mg.Metopril (Metiska Farma)

                                Tablet Salut Selaput 12,5 mg, 25 mg, Kaplet Salut Selaput 50 mg.

                                Otoryl (Otto) Tablet 25 mg.Praten (Prafa)

                                Tablet 12,5 mg, 25 mg.

                                Scantesin (Tempo Scan Pacific) Tablet 12,5 mg, 25 mg.Tensobon (Coronet)

                                Tablet 25 mg.

                                 

                                Daftar Pustaka

                                Anonim, 2000, Informatorium Obat Nasional Indonesia, Dep. Kes. RI, JakartaAnonim, 2006, MIMS Indonesia Petunjuk Konsultasi, edisi 6, Info Master, Indonesia Dipiro, J. T., 1997, Pharmacotherapy: A Pathophysiologic Approach, 3rd Edition, Appeton & Lange, Stamford

                                Nafrialdi, 2007, Antihipertensi, dalam Gunawan, S.G (Editor), Farmakologi dan Terapi, Edisi V, Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta

                                PENGGUNAAN KOMBINASI OBAT (GEMFIBROZIL DAN ATORVASTATIN) PADA TERAPI HIPERLIPIDEMIA

                                Veronica Dwi Wijayanti

                                07.8115.068

                                 

                                PENDAHULUAN

                                            Kegemukan merupakan salah satu hal yang mengganggu, dan dapat menjadi pemicu berbagai penyakit seperti kardiovaskuler, vesica biliaris, hiperlipidemia, dan diabetes. Penyakit kardiovaskuler termasuk penyakit jantung koroner (PJK) merupakan salah satu pencetus kematian di Indonesia. Dislipidemia atau hiperlipidemia ditandai dengan peningkatan trigliserida, kolesterol, LDL, dan kolesterol total (total plasma cholesterol) dalam darah.

                                Kondisi hiperlipidemia bila berkelanjutan memicu terbentuknya aterosklerosis (hilangnya elastisitas disertai penyempitan dan pengerasan pembuluh darah arteri). Aterosklerosis menjadi penyebab utama terjadinya PJK. Pada sebagian besar penderita hiperlipidemia dapat dikontrol dengan diet dan olahraga. Namun, bisa juga dengan bantuan obat penurun kadar lipid darah atau antihiperlipidemia

                                 

                                SASARAN TERAPI

                                            Sasaran terapi pada terapi kombinasi ini adalah kolesterol , trigliserida dan LDL (Low Density Lipoprotein).

                                 

                                TUJUAN TERAPI

                                Untuk menurunkan kolesterol dan LDL (Low Density Lipoprotein), meningkatkan HDL (High Density Lipoprotein) terutama pada pasien dengan hiperlipidemia berat yang tidak dapat dikontrol dengan obat tunggal sehingga dapat mencapai kadar lipid yang ditargetkan, serta menurunkan resiko hiperlipidemia seperti infark miokard dan stroke.

                                 

                                SRATEGI TERAPI

                                Non farmakologi

                                Terapi yang pertama kali dianjurkan bagi penderita hiperlipidemia adalah pengaturan gaya hidup atau life style. Diet merupakan salah satu usaha yang paling baik dalam menanggulangi hiperlipidemia adalah mengatur agar susunan  makanan sehari-hari rendah lemak dan kolesterol serta menyesuaikan perbandingan jumlah kalori yang berasal dari lemak, protein dan karbohidrat sesuai dengan kebutuhan tubuh. Individu dengan berat badan berlebih dianjurkan makan makanan rendah kolesterol (< 300 mg/hari), rendah lemak total (< 30% dari kalori) dan rendah lemak jenuh (<10% dari kalori). Selain diet, dianjurkan untuk melakukan aktivitas fisik secara teratur seperti jalan kaki.

                                            Selain terapi dengan diet, individu dengan hiperlipidemia dianjurkan untuk menghindari faktor-faktor yang meningkatkan pembentukan aterosklerosis, yaitu menghentikan rokok, mengobati hipertensi, olahraga cukup dan pengawasan kadar gula darah pada penderita diabetes.

                                 

                                Farmakologi

                                Terapi menggunakan obat dianjurkan untuk beberapa kelainan lipoprotein utama. Terapi hiperlipidemia harus dihindarkan bagi wanita yang hamil dan menyusui. Anak-anak dengan dengan hiperkolesterolemia familial heterozigot dapat diobati dengan resin pengikat asam empedu, biasanya stelah usia 7 atau 8 tahun.

                                Obat penurun lipid dibagi terdiri atas: resin penukar ion, kelompok klofibrat, asam nikotinat, inhibitor HMG KoA Reduktase (statin), dan inhibitor pada absorpsi kolesterol usus. Obat-obat penurun lipid diindikasikan untuk pasien dengan penyakit jantung koroner atau dengan hiperlipidemia berat, yang tidak cukup terkendali dengan diet rendah lemak. Pengobatan juga harus mempertimbangkan berbagai faktor resiko (termasuk merokok, hipertensi, diabetes mellitus, dan riwayat keluarga penyakit jantung koroner prematur). Terapi dengan obat apa pun harus dikombinasi dengan diet yang ketat, menjaga bobot badan mendekati ideal, serta penurunan tekanan darah dan bila merokok dihentikan.

                                Statin merupakan obat pilihan untuk mengobati hiperkolesterolemia, fibrat untuk hipertrigliseridemia, serta dapat digunakan bersama untuk mengobati hiperlipidemia campuran.

                                 

                                OBAT PILIHAN

                                Hiperlipidemia berat tidak selalu dapat dikontrol dengan obat tunggal dan terapi kombinasi banyak digunakan untuk mencapai kadar lipid. Kombinasi harus mencakup obat-obat dengan mekanisme kerja yang berbeda.

                                GEMFIBROZIL

                                Gemfibrozil termasuk dalam obat golongan fibrat. Obat-obat yang tergolong kelompok ini dapat dianggap sebagai hipolipidemik berspektrum luas. Selain menurunkan kadar trigliserida Serum, kelompok fibrat juga cenderung menurunkan kadar kolesterol-LDL dan menaikkan kolesterol-HDL.  Fibrat bekerja sebagai ligan untuk reseptor transisi nukleus, reseptor alfa peroksisom yang diaktivasi proliferator, dan menstimulasi aktivitas lipoprotein lipase.

                                Nama generik       : Gemfibrozil

                                Nama dagang    : Dubrozil (Dumex Alpharma Indonesia), Fenitor (Otto), Fibralip (Tunggal Idaman), Grospid (Gratia Husada), Hypofyl (Sanbe), Inobes (Prafa), Lanaterom (Pertiwi  Agung), Lapibroz (Lapi), Lifibron (Metiska), Lipira (Combiphar), Lopid (Warner Lambert P.D. Indonesia), Nufalemzil (Nufarindo), Scantipid (Tempo), Zenibroz (Zenith).

                                Indikasi             : hiperlipidemia tipe IIa, IIb, III, IV dan V, serta pencegahan penyakit jantung pada pria usia 40-55 tahun yang tidak merespon dengan cukup terhadap diet dan tindakan-tindakan lain yang sesuai. Dislipidemia yang berhubungan dengan diabetes mellitus (DM).  Xanthoma yang berhubungan dengan dislipidemia.

                                Kontraindikasi   : alkoholisme, kerusakan ginjal atau hati berat, penyakit saluran empedu (batu empedu), kehamilan (faktor resiko: C) dan menyusui.

                                Efek samping    : gangguan saluran cerna, juga ruam kulit, dermatitis, pruritus, urtikaria, impotensi, sakit kepala, pusing, pandangan kebur, sakit kuning kolestatik, angiodema, edema larings, fibrilasi atrium, pankreatitis, miastenia, miophaty, rabdomiolisis, mialgia.

                                Dosis                    : 1200mg/hari dalam 2 dosis terbagi, rentang 900-1500 mg sehari. Diminum 30 menit sebelum makan pagi dan makan malam.

                                Bentuk sediaan     : Kapsul 300 mg, Kaplet 600 mg, Tablet salut selaput 600 mg.

                                Peringatan       : profil lipid, angka-angka darah, dan uji fungsi hati sebelum mengawali pengobatan jangka panjang, gangguan ginjal.

                                 

                                ATORVASTATIN

                                Atorvastatin termasuk dalam golongan statin. Obat ini bekerja denan cara menghambat secara kompetitif enzim HMG CoA reduktase, yakni enzim pada sintesis kolesterol, terutama dalam hati. Obat golongan statin ini lebih efektif dibanding resin penukar anion dalam menurunkan kolesterol-LDL tetapi kurang efektif dibanding kelompok fibrat dalam menurunkan kadar trigliserida dan meningkatkan kolesterol-HDL.

                                Statin telah terbukti dapat mengurangi kejadian jantung koroner, semua kejadian kardiovaskuler pada pasien dengan umur sampai dengan 70 tahun dengan penyakit jantung koroner (riwayat angina atau infark miokard akut) dan dengan kolesterol plasma 5,5 mmol/l atau lebih.

                                Nama generik   : Atorvastatin

                                Nama dagang    : Lipitor (Pfizer)

                                Indikasi            : terapi pada dislipidemia atau pencegahan primer pada penyakit kardiovaskuler (aterosklerosis), yaitu:

                                ·  Pencegahan primer pada penyakit kardiovaskuler (high risk CVD): untuk mengurangi resiko MI atau stroke pada pasien tanpa penyakit hati yang mempunyai faktor resiko multipel atau diabetes tipe 2.

                                ·  Terapi pada dislipidemia: untuk mengurangi peningkatan kolesterol total, kolesterol-LDL, apoliporotein B, trigliserida, dan untuk meningkatkan kolesterol-HDL pada dislipidemia Frederickson tipe IIa, IIb, III, dan IV, serta pada hiperkolesterolemia turunan homozigot.

                                ·        Terapi pada hiperkolesterolemia turunan heterozigot pada pasien remaja (10-17 tahun) yang mempunyai kolesterol-LDL ≥ 190 mg/dl atau ≥ 160 mg/dl dengan riwayat keluarga positif beresiko CVD.

                                Kontraindikasi   : hipersensitif terhadap atorvastatin atau komponen lain yang terdapat dalam formula. Penyakit hati aktif, atau kenaikan serum transaminase > 3x batas normal tertinggi. Pada kehamilan (faktor resiko: X) dan menyusui (atorvastatin diekskresi lewat air susu).

                                Efek samping    : gangguan GI, sakit kepala, mialgia, astenia, isomnia, edema angionerutik, kram otot, miositis, miophati, ikterus kolestatik, neuropati perifer, pruritus.

                                Dosis                    :

                                ·      Hiperkolesterolemia primer dan hiperlipidemia campuran : 10 mg sekali sehari.

                                ·     Hiperkolesterolemia turunan : dosis awal 10 mg sehari, tingkatkan dengan interval 4 minggu sampai 40 mg sekali, bila perlu tingkatkan lebih lanjut sampai maksimal 80 mg sekali sehari.

                                Bentuk sediaan     : Tablet salut selaput 10 mg dan 20 mg.

                                Peringatan        : Statin harus digunakan dengan hati-hati pada pasien dengan riwayat penyakit hati atau yang minum banyak alkohol (hindari penggunaan pada penyakit hati yang aktif). Fungsi hati harus diukur sebelum dan sesudah pengobatan. Obat harus dihentikan bila kadar transaminase serum meningkat hingga dan bertahan pada 3 kali batas atas nilai normalnya.

                                 

                                 

                                 

                                PUSTAKA

                                Anonim, 2000, Informasi Obat Nasional Indonesia 2000, 83-87, Departemen Kesehatan RI,  Jakarta.

                                Anonim, 2006, MIMS Indonesia Petunjuk Konsultas, Edisi 6 2006/2007, 259-265, Penerbit PT Infomaster,Jakarta.

                                Katzung, B.G, 2002, Farmakologi Dasar dan Klinik, edisi 8, buku 2, 466-470, Penerbit Salemba Medika, Jakarta.

                                Lacy, C.F., Amstrong, L.L., Goldman, M.P., Lance, L.L., 2006, Drug Information Handbook, 14th Edition, 161-162, 726, AphA, Lexi-Comp Inc, Hudson, Ohio.

                                Neal, M.J, 2006, At Glance Farmakologi Medis, ed.5, 46-47, Penerbit Erlangga, Jakarta.

                                 

                                 

                                 

                                Penggunaan Captopril [Angiotensin Converting Enzyme (ACE) Inhibitor] pada Terapi Hipertensi

                                Penggunaan Captopril [Angiotensin Converting Enzyme (ACE) Inhibitor]

                                pada Terapi Hipertensi

                                 

                                (Willy Hartanto, S. Farm. / 078115071)

                                 

                                Hipertensi merupakan suatu keadaan meningkatnya tekanan darah sistolik di atas 140 mmHg atau tekanan diatolik di atas 90 mmHg serta menjadi faktor resiko utama penyebab coronary artery disease (CAD), gagal jantung, stroke, dan gagal ginjal. Prevalensi terjadinya hipertensi meningkat seiring dengan pertambahan usia.  

                                 

                                Tabel Klasifikasi Tekanan Darah berdasarkan JNC (Joint National Committe on Prevention,

                                Detection, Evaluation, and treatment oh High Blood Pressure) VII

                                Kategori

                                Sistolik (mmHg)

                                Diastolik (mmHg)

                                Normal

                                < 120

                                < 80

                                Prehipertensi

                                120 – 139

                                80 – 89

                                Hipertensi stage 1

                                140 – 159

                                90 – 99

                                Hipertensi stage 2

                                ≥ 160

                                ≥ 100

                                 

                                Secara umum, hipertensi dapat disebabkan oleh makanan; stres; rokok; obat-obatan yang berupa kontrasepsi oral dan kortikosteroid; serta kehamilan. Sebagian besar pasien (70%) tidak menyadari bahwa mereka mengalami hipertensi karena pasien hipertensi terlihat sehat dan tidak menunjukkan gejala yang spesifik. Faktor-faktor yang dapat memperbesar resiko terjadinya hipertensi antara lain pria berusia di atas 55 tahun atau wanita di atas 65 tahun; menderita diabetes melitus dan/atau dislipidemia, mikroalbuminuria, obesitas; mempunyai riwayat keluarga penyakit jantung; jarang beraktivitas (olahraga); perokok; alkoholik.

                                Hipertensi ditandai dengan peningkatan tekanan darah di sekitar kategori prehipertensi dan sebagian besar pasien tidak menunjukkan gejala yang spesifik. Diagnosis hipertensi sejak dini dapat mencegah resiko penyakit kardiovaskuler serta mengurangi resiko morbiditas dan mortalitas. Pemeriksaan dini terhadap hipertensi dapat dilakukan dengan pengukuran tekanan darah secara berkala, pemeriksaan target organ damage akibat hipertensi (otak, mata, jantung, ginjal dan sistem sirkulasi darah perifer).

                                Sasaran terapi dalam pengobatan hipertensi adalah tekanan darah. Tujuan terapi antihipertensi adalah menurunkan tekanan darah ke tekanan darah yang disarankan oleh JNC VII, yaitu di bawah 140/90 mmHg (pasien hipertensi); di bawah 130/80 mmHg (pasien hipertensi dengan komplikasi diabetes melitus); dan di bawah 130/80 mmHg (pasien hipertensi dengan komplikasi gagal ginjal kronis). Strategi terapi dapat dilakukan dengan terapi nonfarmakologi maupun terapi farmakologi.

                                Terapi nonfarmakologi dapat dilakukan dengan mengubah pola hidup pasien hipertensi. Banyak mengkonsumsi buah-buahan, sayuran, dan makanan rendah lemak dapat menurunkan tekanan darah. Pengubahan pola hidup dapat berupa penurunan berat badan jika overweight; membatasi konsumsi alkohol (< 30ml/hari untuk pria dan <15ml/hari untuk wanita); berolahraga teratur (30-45 menit/hari); mengurangi konsumsi garam (< 100 mmol/hari atau 6 gram NaCl); mempertahan konsumsi natrium, kalsium, magnesium yang cukup (± 90 mmol/hari); dan berhenti merokok.

                                Terapi farmakologi dapat dilakukan dengan menggunakan obat-obatan antihipertensi yang berupa golongan diuretik, Angiotensin Converting Enzyme (ACE) Inhibitor, β-adrenergic blockers, Angiotensin Receptor Blockers (ARB), Calcium Channel Blockers (CCB).

                                ACE inhibitor merupakan antihipertensi yang efektif dan efek sampingnya dapat ditoleransi dapat dengan baik. Efek samping penggunaan ACE inhibitor antara lain sakit kepala, takikardi (peningkatan denyut jantung), berkurangnya persepsi pengecapan, dizziness (ketidakseimbangan saat berdiridari posisi duduk atau tidur), nyeri dada, batuk kering, hiperkalemia, angiodema, neutropenia, dan pankreatitis. ACE inhibitor dapat digunakan sebagai obat tunggal maupun dikombinasikan dengan obat lain (biasanya dikombinasikan dengan diuretik). Selain sebagai antihipertensi, ACE inhibitor juga dapat digunakan sebagai vasodilator, terapi congestive heart failure (CHF), left ventricular dysfunction, myocardial infarction, dan diabetes melitus.

                                ACE inhibitor bekerja dengan menghambat perubahan angiotensin I menjadi angiotensin II. Angiotensin II bekerja di ginjal dengan menahan ekskresi cairan (Na+ dan H2O) yang dapat menyebabkan vasokonstriksi dan meningkatkan tahanan perifer. Meningkatnya tahanan perifer akan berefek pada peningkatan tekanan darah. Dengan adanya ACE inhibitor maka tidak akan terbentuk angiotensin II, mengurangi retensi cairan, terjadi vasodilatasi, dan mengurangi kerja jantung.

                                ACE inhibitor dikontraindikasikan untuk wanita hamil karena ACE inhibitor dapat menembus plasenta. ACE inhibitor dihubungkan dengan fetal hypotension, oliguria serta kematian pada manusia, dan fetotoxicity pada hewan uji. Informasi yang perlu diketahui pasien hipertensi terhadap ACE inhibitor antara lain tetap menggunakan ACE inhibitor walau sudah mencapai tekanan darah normal karena hipertensi tidak mempunyai gejala yang spesifik. ACE inhibitor tidak dapat menyembuhkan hipertensi, akan tetapi hanya dapat mengontrol hipertensi dengan terapi jangka panjang. Pasien dianjurkan untuk tidak menggunakan obat-obatan lain khususnya OWA simpatomimetik, kecuali atas rekomendasi dokter. Pasien harus segera menghubungi dokter jika pasien mengalami kehamilan selama menggunakan ACE inhibitor.

                                Jenis ACE inhibitor yang dapat digunakan sebagai antihipertensi antara lain Benazepril, Captopril, Enalapril, Fosinopril, Lisinopril, Moexipril, Perindropil, Quinapril, Ramipril, Trandolapril. Salah satu golongan ACE inhibitor yang paling banyak digunakan sebagai antihipertensi adalah Captopril. Captopril sebagai dosis tunggal mempunyai durasi selama 6-12 jam dengan onset 1 jam. Captopril diabsorpsi sebanyak 60-75% dan berkurang menjadi 33-40% dengan adanya makanan serta  25-30% Captopril akan terikat protein. Waktu paruh Captopril dipengaruhi oleh fungi ginjal dan jantung di mana waktu paruh Captopril pada volunteers sehat dewasa 1,9 jam; pasien CHF 2,06 jam; dan pasien anuria 20-40 jam. Captopril diekskresikan melalui urin (95%) dalam waktu 24 jam.

                                Captopril

                                Nama generik                     : Kaptopril tablet 12,5 mg; 25 mg; 50 mg

                                Nama dagang di Indonesia   :

                                ·         Acendril® (Harsen) tablet 12,5 mg; 25 mg

                                ·         Acepress® (Bernofarm) tablet 12,5; 25 mg

                                ·         Capoten® (Bristol-Myers Squibb Indonesia) tablet 12,5 mg; 25 mg; 50 mg

                                ·         Captensin® (Kalbe Farma) tablet 12,5; 25 mg

                                ·         Captopril Hexpharm® (Hexpharm) tablet 12,5; 25 mg; 50 mg

                                ·         Casipril® (Tunggal Idaman Abdi) tablet 12,5 mg; 25 mg

                                ·         Dexacap® (Dexa Medica) tablet 12,5 mg; 25 mg; 50 mg

                                ·         Farmoten® (Fahrenheit) tablet 12,5 mg; 25 mg

                                ·         Forten® (Hexpharm Jaya) kaplet 25 mg; tablet 50 mg

                                ·         Locap® (Sandoz) tablet 25 mg

                                ·         Lotensin® (Kimia Farma) kaplet 12,5 mg; tablet 25 mg

                                ·         Inapril® (Indofarma) tablet 25 mg

                                ·         Metopril® (Metiska) tablet salut selaput 12,5 mg; 25 mg; kaplet salut selaput 50 mg

                                ·         Otoryl® (Otto) tablet 25 mg; kapsul-tablet 50 mg

                                ·         Praten® (Prafa) kaplet 12,5 mg; 25 mg

                                ·         Prix® (Rama) tablet 12,5 mg; 25 mg

                                ·         Scantensin® (Tempo Scan Pacific) tablet 12,5 mg; 25 mg; 50 mg

                                ·         Stablon® (Combiphar) tablet salut gula 12,5 mg

                                ·         Tenofax® (Prima Hexal) tablet 12,5; 25 mg

                                ·         Tensicap® (Sanbe Farma) tablet 12,5 mg; 25 mg; 50 mg

                                ·         Tensobon® (Coronet Crown) tablet 25 mg

                                ·         Vapril® (Phapros) tablet 12,5 mg; 25 mg

                                Indikasi                               : antihipertensi, left ventricular disfunction yang disertai myocardial infarction, diabetes nefropati, vasodilator, CHF

                                Kontrindikasi                       : hipersensitivitas terhadap Captopril, angiodema yang disebabkan oleh penggunaan ACE inhibitor sebelumnya, wanita hamil dan menyusui

                                Bentuk sediaan                    : tablet, tablet salut selaput, tablet salut gula, kaplet, kaplet salut selaput, kapsul-tablet

                                Dosis                                  : sebagai antihipertensi pada orang dewasa (oral)

                                ·         Dosis awal                 : 12,5-25 mg 2-3 kali/hari yang dapat ditingkatkan 12,5-25 mg dalam 1-2 minggu menjadi 50 mg 3 kali/hari

                                ·         Dosis perawatan        : 50 mg 3 kali/hari

                                ·         Dosis maksimum        : 150 mg 3 kali/hari

                                Aturan pakai                       :

                                ·         Diberikan dalam keadaan perut kosong (1 jam sebelum makan atau 2 jam setelah makan)

                                ·         Captopril digunakan setelah penggunaan antihipertensi lain dihentikan selama 1 minggu, kecuali pada pasien dengan accelerated or malignant hypertension atau hipertensi yang sulit dikontrol

                                ·         Pasien yang tidak dapat menggunakan sediaan padat secara oral dapat dibuat larutan oral Captopril dengan cara menyerbuk 25 mg tablet Captopril yang dilarutkan dalam 25 atau 100 ml air dan diaduk hingga bercampur lalu segera diminum tidak lebih dari 10 menit karena sifat Captopril yang tidak stabil dalam bentuk larutan

                                Efek samping                      : ruam, berkurangnya persepsi pengecapan, sakit kepala, batuk kering, hipotensi sementara, neutropenia, proteinurea

                                Resiko khusus                     :

                                ·         Kehamilan                 : faktor resiko C pada trimester pertama (penelitian dengan hewan uji terbukti terjadi teratogenik pada janin tetapi tidak ada kontrol penelitian pada wanita atau penelitian pada hewan uji dan wanita pada saat yang bersamaan dan obat dapat diberikan jika terdapat kepastian bahwa pertimbangan manfaat lebih besar daripada resiko pada janin) dan faktor resiko D pada trimester kedua dan ketiga (potensial terjadi resiko teratogenik pada janin manusia)

                                ·         Menyusui                   : Captopril didistribusikan ke air susu sehingga tidak direkomendasikan untuk menyusui saat menggunakan Captopril

                                 

                                Daftar Pustaka

                                Anderson, P.O., Knoben, J.E., and Troutman, W.G., 2002, Handbook of Clinical Drug Data, 10th edition, 326-327, McGraw-Hill Companies, Inc., USA

                                Anonim, 2000, Informatorium Obat Nasional Indonesia, 47-53, Departemen Kesehatan Republik Indonesia Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan, Jakarta

                                Anonim, 2005, USP DI-Volume I : Drug Information for the Health Care Professional, 25th edition, 195-197, Thomson Micromedex, USA

                                Anonim, 2006, Informasi Spesialite Obat Indonesia, volume 41, 39, 270-277, Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia, Jakarta

                                Anonim, 2006, MIMS Indonesia Petunjuk Konsultasi, edisi 2006-2007, 39-43, PT InfoMaster lisensi dari CMPMedica, Jakarta

                                Chan, P.D., and Johnson, M.T., 2004, Treatment Guidelines for Medicine and Primary Care, 2004 edition, 20-24, Current Clinical Strategies Publishing, USA

                                Lacy, C.F., Armstrong, L.L., Goldman, M.P., and Lance, L.L., 2006, Drug Information Handbook, 14th edition, 262-264, Lexi-Comp, Inc., USA

                                Massie, B.M., 2002, Systemic Hypertension, in Tierney, L.M., McPhee, S.J., and Papadakis, M.A., (Eds.), Current Medical Diagnosis & Treatment, 41th edition, 460, 464-473, McGraw-Hill Companies, Inc., USA

                                Warfield, C., 1996, Everything You Need to Know about Medical Treatments, 3-5, Springhouse, Corp., USA