Do You Know About

Nasib Parasetamol Dalam Tubuh ????

 

 

Disusun Oleh:

Elisabeth Kartika T.  (058114146)

Tiara Pranasita         (068114141)

Y. Md. Dwi Mayawati(068114147)

 

Apa yang terlintas dalam pikiran anda ketika mendengar kata parasetamol??? Anda pasti langsung berkata parasetamol itu adalah obat. Jika anda menjawab seperti ini, anda menjawab dengan sangat benar. Ketika pertanyaan dikembangkan lagi menjadi apakah khasiat dari parasetamol itu, anda mungkin juga langsung menjawab bahwa parasetamol adalah obat yang biasa digunakan untuk menurunkan panas. Jawaban anda tidak salah, hanya kurang lengkap. Parasetamol adalah obat dari golongan analgesik-antipiretik yaitu obat yang dapat menghilangkan rasa sakit (analgesik) dan dapat juga sebagai penurun panas (antipiretik). Tapi tahukah anda bagaimana nasib parasetamol setelah masuk ke dalam tubuh? Apa yang terjadi pada parasetamol sehingga bisa berefek? Apa saja yang mempengaruhi keberadaan parasetamol dalam tubuh? Serta apakah efek samping dari penggunaan prasetamol? Untuk mengetahui jawabannya, anda dapat mencoba memahami hal-hal di atas dari artikel yang kami susun.

 

PARASETAMOL

Parasetamol adalah derivat para amino fenol. Asetaminofen (parasetamol) merupakan metabolit fenasetin dengan efek antipiretik yang sama dan telah digunakan sejak tahun 1893. efek antipiretik ditimbulkan oleh gugus aminobenzen. Asetaminofen di Indonesia lebih dikenal dengan nama parasetamol, dan tersedia dalam bentuk obat bebas (obat yang dapat dibeli tanpa resep dokter). 

 

INDIKASI

Di Indonesia, penggunaan parasetamol yaitu sebagai analgesik dan antipiretik, telah menggantikan penggunaan salisilat. Sebagai analgesik, parasetamol sebaiknya tidak diberikan terlalu lama karena kemungkinan menimbulkan nefropati analgesik (kerusakan pada ginjal). Jika dosis terapi tidak memberi manfaat, biasanya dosis lebih besar tidak menolong. Penggunaannya untuk meredakan demam tidak seluas penggunaannya sebagai analgesik.

 

FARMAKOKINETIKA

Farmakokinetika adalah ilmu yang mempelajari tentang nasib obat dalam tubuh yang meliputi absorbsi, distribusi, metabolisme, dan eliminasi (ekskresi). Absorpsi merupakan proses penyerapan  obat dari tempat pemberian, menyangkut kelengkapan dan kecepatan proses. Setelah diabsorpsi obat akan didistribusi keseluruh tubuh melalui sirkulasi darah, karena selain tergantung dari aliran darah, distribusi obat juga ditentukan oleh sifat fisikokimianya. Biotransformasi atau lebih dikenal dengan metabolisme obat, adalah proses perubahan struktur kimia obat yang terjadi dalam tubuh dan dikatalisis oleh enzim. Pada proses ini molekul obat diubah menjadi lebih polar atau lebih mudah larut dalam air dan kurang larut dalam lemak, sehigga lebih mudah diekskresi melalui ginjal. Eliminasi obat dikeluarkan dari tubuh melalui berbagai organ ekskresi dalam bentuk metabolit hasil biotransformasi (dalam bentuk asalnya). Obat (metabolit polar) lebih cepat diekskresi daripada obat larut lemak, kecuali yang melalui paru. Ginjal merupakan organ ekskresi yang terpenting dimana sebagian besar obat diekskresikan melalui ginjal. Maka, setelah masuk ke dalam tubuh, parasetamol juga akan mengalami absorbsi, distribusi, metabolisme, dan eliminasi (ekskresi).

Parasetamol dan fenasetin diabsorpsi cepat dan sempurna melalui saluran cerna. Konsentrasi tertinggi dalam plasma dicapai dalam waktu ½ jam dan massa paruh plasma antara 1-3 jam. Obat ini tersebar keseluruh cairan tubuh. Dalam plasma 25% parasetamol dan 30% fenasetin terikat protein plasma. Kedua obat ini dimetabolisme oleh enzim mikrosom hati. Sebagian asetaminofen (80%) dikonjugasikan dengan asam glukoronat dan sebagian kecil lainnya dengan dengan asam sulfat. Selain itu kedua obat ini dapat mengalami hidroksilasi. Metabolit hasil hidroksilasi ini dapat menimbulkan methemoglobinemia dan hemolisis eritrosit. Keduaobat ini diekskresi melalui ginjal, sebagian kecil sebagai parasetamol (3%) dan sebagian besar dalam bentuk terkonjugasi. 

 

FARMAKODINAMIKA

Farmakodinamika mempelajari kegiatan obat terhadap organisme hidup, terutama cara dan mekanisme kerjanya, reaksi fisiologi, serta efek teraupetik yang ditimbulkannya. Singkatnya farmakodinamika mencakup semua efek yang dilakukan obat terhadap tubuh. Untuk dapat menimbulkan efek, suatu obat harus berada dalam konsentrasi puncak dalam plasma.  Setelah obat mencapai tempat aksinya, obat akan berikatan dengan reseptornya, dimana obat yang bersifat agonis (zat yang dapat memberikan efek yang sama seperti saraf pacuannya) akan dapat menimbulkan efek. Dengan merancang pengaturan dosis mencoba untuk mencapai konsentrasi spesifik obat pada reseptor untuk menghasilkan respon optimal dengan efek samping yang minimal.

 Efek analgesik parasetamol dan fenasetin serupa dengan salisilat yaitu menghilangkan atau mengurangi nyeri ringan sampai sedang. Parasetamol merupakan penghambat biosintesis PG yang lemah. Efek iritasi, erosi dan perdarahan lambung tidak terlihat pada kedua obat ini, demikian juga gangguan pernafasan dan keseimbangan asam basa.

 

EFEK SAMPING

Efek samping adalah efek yang tidak diinginkan dari pemberian suatu obat dalam dosis terapi. Pengaturan dosis yang tepat dan penggunaan obat sesuai aturan dapat meminimalkan terjadinya efek samping.

Efek samping parasetamol jarang kecuali ruam kulit, kelainan darah, pankreatitis akut dilaporkan setelah pengunaan jangka panjang kerusakan hati (dan lebih jarang kerusakan ginjal).

Fenasetin dapat menyebabkan anemia hemolitik, terutama pada pemakaian kronik. Anemia hemolitik dapat terjadi berdasakan mekanisme autoimun, defisiensi enzim GSPD dan adanya metabolit yang abnormal.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2000, IONI (Informatorium Obat Nasional Indonesia) 2000, 185, DepKes RI, Jakarta.

Ganiswarna, S.G., 1995, Farmakologi dan Terapi, Ed. IV, 214, UI Press, Jakarta 

Moko, 2008, Aplikasi Farmakokinetika pada Klinik, http://apoteker.web.id, diakses tanggal 18 Maret 2009.

Raharja, Kirana, Drs, 1997, Obat-Obat Penting, ed 5,  Penerbit Elex Media Computindo, Jakarta

 

 

<!–[if !mso]> <! st1\:*{behavior:url(#ieooui) } –>

Flora Srisusanti (068114042)

Denok Hafsari (058114152)

FARMAKOKINETIKA DAN FARMAKODINAMIKA

GOLONGAN

ANTIBIOTIKA DOSE DEPENDENT

Farmakologi antibiotik dibagi menjadi farmakokinetika dan farmakodinamika. Farmakodinamika antibiotik digambarkan konsentrasi-waktu obat dalam tubuh makhluk hidup yang menghasilkan respon antimikrobial, yaitu apakah mikrobia tereradikasi atau tidak. Sedangkan secara farmakikinetika hanya digambarkan dari profil konsentrasi dan waktu obat dalam tubuh mahkluk hidup.

Secara prinsip, pemilihan antibiotika yang tepat harus mempertimbangkan aktivitas mikrobiologik dan farmakodinamik masing-masing terhadap pola sensitivitas kuman setempat. Dosis efektif antimikroba merupakan fungsi dari kadar hambat minimal (minimum inhibitory concentration/MIC) kemampuan pertahanan tubuh individu, lokasi infeksi, dan farmakokinetika antimikroba.

The International Society for Anti-Infective Pharmalogy (ISAP) mengawali studi farmakokinetik dan farmakodinamik antibiotic untuk memperbaiki dosis regiment. Sejak itu studi dan penggunaan prinsip farmakokinetik dan farmakodinamik dalam terapi antibiotik ditingkatkan secara besar-besaran. Berdasarkan mekanisme aksinya, obat antibakterial dibagi menjadi time-dependent antibiotic dan concentration-dependent antibiotic.

Gambar 1. Pharmalogical index Cmax/MIC dan AUC/MIC

Untuk antibiotik concentration-dependent killing digunakan parameter AUC, Cmax, dan MIC. Pada gambar 1 menunjukkan kurva concentration-dependent killing. Aminoglikosida (sebagai contoh Paromomisin, Gentamisin) dan Quinolon merupakan antibiotik yang menunjukkan mekanisme antibiotik concentration-dependent killing. Pada antibiotik kelas ini akan menunjukkan peningkatan aktivitas pada konsentrasi. Puncak aktivitas bakteriostatik yang dikembangkan menjadi indeks farmkologi berdasarkan Cmax/MIC (Gambar 1). Berdasarkan penelitian pada tahun 1974 diujikan aktivitas bakteriostatik dan bakterisidal pada serum dan urin dai 317 pasien kanker dengan infeksi. Diketahui bahwa ketika puncak aktivitas bakteriostatik dalam serum Cmax/MIC 1:8 penyembuhan infeksi mencapai 80%. Respon terapi pasien dengan infeksi saluran kemih berkorelasi dengan level penghambatan bakteri pada urin, di mana penyembuhan klinis mencapai 90% pada pasien dengan aktivitas bakteriostatik Cmax/MIC 1:4. Dari penelitian tersebut dapat diketahui bahwa antibiotik yang termasuk concentration-dependent killing akan memberikan peningkatan efek antimikrobial dengan semakin meningkatnya konsentrasi antibiotik.

Indeks farmakokinetik AUC/MIC (gambar 2) digunakan untuk memprediksi efek antibiotik concentration-dependent killing (bisa dilihat dari Cmax/MIC). AUC/MIC biasa disebut juga dengan AUIC (Area Inder Inhibitory Curve) yaitu area pada kurva yang menunjukkan penghambatan terhadap mikrobia, yang dinyatakan sebagai hasil bagi AUC (konsentrasi yang berada di atas MIC) dengan MIC itu sendiri.

Optimalisasi Farmakoterapi

Untuk antimikroba yang bersifat tergantung kadar, peningkatan kadar antimkroba dalam darah akan meningkatkan pula kecepatan bunuhnya. Penurunan densitas bakteri ditentukan oleh berapa lama konsentrasi obat dalam darah melebihi MIC. Bagi antibiotika yang bersifat tergantung kadar, penurunan densitas bakteri tergantung pada rasio antara kadar maksimum obat dalam darah (Cmax) dan MIC atau AUC terhadap MIC. Terhadap antibiotika golongan ini dianjurkan untuk meningkatkan dosis yang besarnya diperhitungkan berdasarkan. MIC untuk bakteri patogen yang dicurigai. Interval waktu pemberian antibiotika juga harus panjang dan disesuaikan dengan waktu paruh obat dalam tubuh.

Atas dasar konsep tersebut aminoglikosida umumnya diberikan sekali sehari. Hal ini berkaitan dengan tujuan terapi dengan aminoglikosida, yaitu mencapai kadar puncak dalam serum minimal setara dengan 10-12 kali MIC. Untuk memprediksi outcome klinik hasil terapi pada pemberian fluoroquinolon, konsep yang digunakan adalah area di bawah kadar hambat (AUIC) yang setara dengan AUC/MIC. Sebagai contoh, infeksi akibat bakteri usus gram negatif, outcome klinik terbaik umumnya diperoleh jika fluoroquinolon diberikan pada AUIC yang setara atau lebih besar dari 125, sedangkan untuk bakteri Gram positif angka ini harus mencapai sekitar 40 atau lebih.

Rasio antara kadar puncak antibiotika (Cmax) dan MIC juga telah diteliti pada levofloxacin. Jika ingin mendapatkan outcome klinik dan repons mikrobiologik sekitar 80-100% maka ratio Cmax terhadap MIC untuk levofloxacin haruslah mencapai minimal 12,2 dan tergantung pada lokasi infeksi. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa untuk mencapai tujuan terapi yang diharapkan maka pemberian fluoroquinolon selain harus mencapai AUIC = 125 (untuk bakteri Gram negatif) atau = 40 (untuk bakteri Gram positif) juga ratio Cmax/MIC hendaknya mencapai = 12,2

BEBERAPA ISTILAH :

1. Time > MIC (ditulis T>MIC)

Definisi : presentase kumulatif waktu 24 jam periode dimana konsentrasi obat melampaui MIC

  1. Puncak/MIC (Cmax/MIC)

Definisi : puncak level dibagi MIC

Pada literatur Cmax/MIC juga dinotasikan dengan puncak/MIC, inhinbitory qoutient (IQ) or inhibitory rate (IR). Indeks ini digunakan untuk memprediksi atau menggambarkan efek concentration-dependent antibiotik.

  1. AUC/MIC

Definisi : area di bawah kurva konsentrasi-waktu 24 jam dibagi dengan MIC.

Catatan : AUC/MIC digunakan untuk menunjukkan hubungan PK/PD antara AUC dan MIC.

Sumber :

1. Journal of Antimicrobial Chemotherapy (2003) 52, 893-898 Ó 2003 The British Society for Antimicrobial Chemotherapy

Judul : PHARMACOLOGICAL INDICES IN ANTIBIOTIC THERAPY

Penulis : Antina Barger, Christine Fuhst and Bernd Wiedemann

2. JMPK Vol. 08/No.04/Desember/2005

Judul : KEBIJAKAN UNTUK MEMINIMALKAN RISIKO TERJADINYA RESISTENSI BAKTERI DI UNIT PERAWATAN INTENSIF RUMAH SAKIT

Penulis : Iwan Dwiprahasto

Bagian Farmakologi & Toksikologi/Clinical Epidemiology & Biostatics Unit, Fakultas Kedokteran UGM, Yogyakarta

Obat Disfungsi Ereksi Sildenafil

OBAT DISFUNGSI EREKSI SILDENAFIL

(Dewi Pristiana-068114007; Dewi Prasetyaningrum-068114057)


MEKANISME

Sildenafil termasuk dalam golongan obat phosphodiesterase inhibitor. Saat ada stimulasi sexual, nitric oxide dilepaskan oleh neuron2 atau sel-sel endotelial penis. Ini meningkatkan aktivitas guanylate cyclase. Gaunylate cyclase merupakan enzim yang responsible mengkonversi gunylate triphosphat menjadi cGMP. cGMP adalah neurotransmitter vasodilator dalam tubuh. Pada keadaan normal, keseimbangan ini adalah baik yaitu darah dapat mengalir ke dalam penis tetapi tidak bisa keluar lagi. Baru selesai orgasme, phosphodiesterase melaksanakan daya kerjanya dan ereksinya berlalu.

Selektif inhibitor PHOSPHODIESTERASE isoenzyme tipe 5 yang dijumpai pada jaringan genital mengurangi katabolisme cGMP. Sehingga dapat dikatakan sildenafil tidak menstimulasi pembentukan cGMP, hanya memperkuat dan memperpanjang daya kerjanya. Sildenafil tidak efektif jika belum terdapat stimulasi atau eksitasi seksual. Artinya, sildenafil tidak untuk menimbulkan syahwat.

Sildenafil lebih dianjurkan karena sudah beredar lebih lama dan sudah banyak diteliti dengan hasil lebih baik dibanding obat-obat golongan phosphodiesterase inhibitor lainnya.

PROFIL FARMAKOKINETIK


Sildenafil cepat diabsorpsi. Namun, absorpsi sildenafil oral dapat terhambat oleh makanan berlemak sehingga onsetnya menjadi lebih lama. Kadar puncak dicapai setelah 0,5-2 jam. Oleh sebab itu, dianjurkan untuk menggunakan sildenafil ±1 jam sebelum aktivitas seksual. Plasma T 1/2 nya 3-5 jam. First pass metabolism dalam hati menjadi metabolit aktif oleh enzim sitokrom P450, terutama oleh enzyme CYP3A4 menjadi N-desmetilsildenafil dengan aktivitas 50% dan masa paruh 4 jam. Metabolisme 3 obat di hati dapat dihambat oleh simetidin, eritromisin, clarithromycin,ketoconazole, itraconazole, ritonavir, dan saquinavir. Pada pasien yang harus mengonsumsi ini, dosis awal dikurangi.Sildenafil terutama dieksresikan di feses dan bagian lainnya di urine.

EFEK SAMPING

PHOSPHODIESTERASE isoenzyme tipe 5 juga terdapat dijaringan lain seperti di jaringan perifer, otot halus trakea, dan platelets. Inhibisi PHOSPHODIESTERASE isoenzyme tipe 5 pada jaringan non-genital tersebut menyebabkan terjadinya efek yang tidak diinginkan.

Efek samping yang paling sering timbul adalah sakit kepala (10%), muka merah (flushing), dan mual. Selain itu, sildenafil dapat menurunkan 8-10 mm sistolik dan 5-6mm diastolic sejam setelah pemakaian hingga 4 jam. Meskipun banyak pasien yang tidak mengalami gejala gejala akibat perubahan tekanan darah, pasien yang menggunakan antihipertensi atau nitrat, atau antihipotensi, ini akan meingkatkan adverse effect sebagai konsekuensi efek pembuluh darah perifer.

Sildenafil meningkatkan sensitivitas terhadap cahaya, penglihatan kabur, buta warna (hijau-biru) pada 3-10%pasien. Ini akibat inhibisi PHOSPHODIESTERASE isoenzyme tipe6 di sel2 fotoreseptor retina, pada pemakaian lebih dari 100mg. Meskipun efek ini ringan dan reversible, ini menjadi perhaian bagi pilot pesawat yang harus dapat membedakan warna biru atau hijau saat berencana mendarat.

Sildenafil menginhibisi PHOSPHODIESTERASE isoenzyme tipe5 di platelets, secara teori berarti menginhibisi agregasi platelet. Meskipun sildenafil tidak menyebabkan perdarahan pada pasien sehat, ini harus menjadi perhatian bagi pasien yang menggunakan aspirin atau antiplatelet lain dan pada pasien yang rentan mengalami perdarahan.

INTERAKSI OBAT

Pasien yang menggunakan nitrat organic dapat meningkatkan resiko hipotensi bersamaan dengan inhibitor PHOSPHODIESTERASE. Ini akibat dari 2 faktor yang dominan, yaitu :

· Organic nitrat sendiri mampu mengakibatkan hipotensi

· Organic nitrat mensuplai nitric acid yang menstimulasi aktivitas guanilate cyclase dan meningkatkan cGMP pada tingkat jaringan.

Pada penggunaan bersamaan dengan obat-obat dengan obat yang juga dirombak oleh enzim CYP3A4 akan meningkatkan kadarnya dalam darah, seperti: simetidin, ketokonazol, eritromisin, itrakonazol, dan obat anti-HIV penghambat protease (AZT, DDI, dll). Sementara itu, penggunaan bersama dengan ritonavir akan meningkatkan kadar sildenafil dalam darah sampai dengan 300%, maka perlu ditakarkan 1X25mg/48jam.

Yang menarik, diet asupan nitrat, nitrit, atau L-arginin (precursor nitrat) tidak dapat dihubungkan dengan inhibitor PHOSPHODIESTERASE. Karena diet ini tidak meningkatkan sirkulasi nitrit okside dalam tubuh manusia.

Sildenafil tidak menunjukkan interaksi dengan obat2 antihipersensitif. Pemakaian sildenafil bersamaan dengan α-adrenergik blocking agents, β-adrenergik blocking agents, diuretic, ACE inhibitor, bloker kanal kalsium menunjukan insidensi yang sama dengan pemakaian sildenafil saja. Bagaimana pun juga, dianjurkan pemakaian diselang 4 jam pada pasien yang sama.

PERHATIAN

Pria di mana aktivitas seksual tidak dianjurkan karena status kardiovaskulernya. Pasien yang menderita infark iokard, stroke, aritmia yang mengancam, dalam kurun waktu 6 bulan sebelumnya. Pasien-pasien dengan hipotensi atau hipertensi dalam keadaan istirahat. Payah jantun atau penyakit koroner yang menimbulkan angina tidak stabil. Retinitis pigmentosa, deformasi penis, predisposisi priapismus. Penggunaan bersama ritonavir. Pasien dengan gangguan penglihatan. Sildenafil dikontraindikasikan untuk pasien dengan masalah mata dan diabetes.

DOSIS

Dewasa: 50 mg; diminum1 jam sebelum aktivitas seksual. Dosis dapat dinaikkan sampai maksimal 100 mg atau dikurangi sampai 25 mg. Dosis maksimal biasanya sekali sehari. Tentukan dosis awal 25 mg bagi pria >65 tahun, kerusakan hati, kerusakan ginjal parah, dan penggunaan bersama penghambat sitokrom P450 3A4 yang kuat. Pada pasien yang mendapat ritonavir, dosis tunggal maksimal jangan > 25 mg/48 jam.

DAFTAR PUSTAKA

Coyle & Prince, 2005, Erectile Disfunction, in Dipiro J.T., et al, Pharmacotherapy A Pathophysiologic Approach, 6th , Apleton & Lange, Stamford

Hardjosaputra, Purwanto, dkk, 2008, DOI, 701, PT Muliapurna Jayaterbit, Jakarta

Tjay, Tan Hoan & Kirana Rahardja, 2007, Obat-Obat Penting, 685-687, Gramedia, Jakarta

Farmakokinetika dari Levofloxacin

Disusun oleh :

Febrina Henny Anggraeni (068114125)

Maria Fransisca Shinta (068114139)

 

Farmakokinetik adalah aspek farmakologi yang mencakup nasib obat dalam tubuh, yaitu absorpsi, distribusi, metabolisme, dan eliminasinya.

 

v     Absorpsi adalah perpindahan obat dari tempat pemberian menuju ke sirkulasi darah dan target aksinya.

v     Distribusi adalah ikatan suatu obat dengan suatu bagian tidak aktif, seperti albumin (pada darah), otot, tulang, lemak, atau liver.

v     Metabolisme adalah suatu proses kimia di mana suatu obat diubah menjadi suatu metabolitnya.

v     kemudian obat akan dieliminasi dari dalam tubuh dalam bentuk metabolitnya atau bentuk tidak berubah.

 

Levofloksasin adalah bentuk (S)-enansiomer yang murni dari campuran rasemat ofloksasin. Levofloksasin memiliki spektrum antibakteri yang luas. Levofloksasin aktif terhadap bakteri gram positif dan negatif, termasuk bakteri anaerob. Selain itu, levofloksasin juga memperlihatkan aktivitas antibakteri terhadap Chlamydia pneumonia dan Mycoplasma pneumonia. Levofloksasin seringkali bersifat bakterisidal pada kadar yang sama dengan atau sedikit lebih tinggi dari kadar hambat minimal. Mekanisme kerja levofloksasin yang utama adalah melalui penghambatan DNA gyrase bakteri (DNA topoisomerase II), sehingga terjadi penghambatan replikasi dan transkripsi DNA.

 

Profil konsentrasi plasma dan AUC levofloksasin setelah pemberian IV dan oral adalah serupa, sehingga pemberian parenteral dapat dipertimbangkan untuk menggantikan pemberian secara oral, begitu pula sebaliknya.

Setelah pemberian dosis 500 mg sekali sehari secara multipel, konsentrasi plasma maksimum dan minimum levofloksasin berturut-turut 6,4 μg/mL dan 0,6 μg/mL. Levofloksasin terikat pada protein serum kira-kira 24-38%. Levofloksasin didistribusikan secara cepat dan luas dalam blister fluid. Levofloksasin juga mempunyai penetrasi yang baik ke dalam jaringan paru. Kadar levofloksasin di dalam jaringan paru pada umumnya 2 sampai 5 kali lebih tinggi dibandingkan dengan kadar dalam plasma. Levofloksasin dimetabolisme dalam jumlah kecil dan sebagian besar diekskresi melalui urin dalam bentuk utuh dan sisanya melalui feses. Rata-rata waktu paruh eliminasi plasma setelah pemberian levofloksasin dosis multipel adalah 6-8 jam.

 

Mekanisme kerja dari Levofloxacin adalah melalui penghambatan topoisomerase type II DNA gyrase, yang menghasilkan penghambatan replikasi dan transkripsi DNA bakteri.
Levofloxacin didistribusikan ke seluruh tubuh dalam konsentrasi yang tinggi dan berpenetrasi ke dalam jaringan paru-paru dengan baik. Konsentrasi dalam jaringan paru-paru biasanya lebih tinggi 2-5 kali dari konsentrasi dalam plasma, dan berkisar antara 2,4 sampai 11,3 µg/g selama 24 jam setelah pemberian tunggal dosis oral 500 mg.

 

Dafpus

Anonim, 2009, Prolevox Tablet, http://www.meprofarm.com/products/product%20prolevox.html, diakses pada tanggal 19 Januari 2009.

Anonim, 2009, Volequin Infus, http://www.dexa-medica.com/ourproducts/prescriptionproducts/detail.php?id=25&idc=7, diakses pada tanggal 19 Januari 2009.

PENGATURAN MANAJEMEN TERAPI UNTUK MENDAPATKAN TERAPI YANG RASIONAL

Amelia kristina 06 8114 014

Anastasia Noveni 06 8114 015


PENGATURAN MANAJEMEN TERAPI UNTUK MENDAPATKAN TERAPI YANG RASIONAL

Untuk penanggulangan penyakit secara tepat, diperlukan farmakoterapi yang rasional. Untuk dapat melakukan pengobatan secara rasional, pertama kali harus dilakukan penegakan diagnosa yang rasional.

Evaluasi terapi diperlukan untuk membuktikan bahwa terapi itu tepat, artinya dapat menyembuhkan dan tidak menyebabkan efek samping yang merugikan. Beberapa hal tidak rasional dapat terjadi seperti dalam penentuan obat dan regimen terapi, serta cara pemberian obat.

a. Penentuan obat dan regimen terapi

Penentuan obat secara rasional harus mempertimbangkan hubungan antara indikasi, farmakologi klinik, dan sifat obat. Selain itu, harus dapat mengevaluasi hasil terapi termasuk mengetahui stabilitas obat, ketersediaan hayati (bioavailability), dan efek samping. Patofisiologi penyakit juga perlu diketahui agar dapat disesuaikan dengan jenis obat, formulasi, dosis, frekuensi pemberian, dan cara pemberian.

Pengurangan dosis atau frekuensi pemberian obat perlu dilakukan jika terdapat pada gangguan ekskresi renal dan gangguan hepar. Pada keadaan hipoproteinemia, dosis perlu diturunkan karena albumin yang mengikat obat berkurang sehingga konsentrasi obat bebas (unbound) meningkat.

Jika penderita memerlukan lebih dari satu macam obat, maka perlu dipikirkan kemungkinan terjadinya interaksi antara obat, fungsional, atau kimiawi maupun fisika-kimiawi atau secara tidak langsung melalui pendesakan ikatan pada albumin serta melalui pemacuan atau penghambatan enzim-enzim metabolisme obat.

Farmakoterapi harus dilakukan secara individual dengan pertimbangan :

· Umur

· Sifat-sifat genetik

· Lingkungan hidup (kebiasaan merokok, minum alkohol, dan sebagainya)

· Riwayat sakit dan riwayat pengobatan sebelumnya : derajat sakit setelah diobati, keberhasilan terapi, efek samping yang merugikan, alergi, interaksi, pengobatan mandiri, dan sebagainya

Ø Umur

Semakin muda umur, dosis yang dibutuhkan semakin besar karena kapasitas metabolisme lebih besar (per kgBB) Semakin tinggi temperatur tubuh, metabolisme semakin meningkat (tiap kenaikan 1oC, metabolisme meningkat sebesar 10%). Pada anak yang mengalami obesitas relatif memerlukan lebih sedikit obat, karena jaringan lemak relatif kurang berpengaruh dalam metabolisme. Untuk bayi yang baru lahir (neonatus) penetapan dosis belum ditetapkan secara tepat (akurat) karena enzim-enzim detoksifikasi, fungsi renal, pengikatan pada protein serum dan barier darah (otak) belum sempurna.

Respon pasien usia tua (lansia) terhadap banyak obat berbeda dengan pasien muda karena profil ADME juga berbeda. Pada pasien tua, terdapat penambahan jaringan lemak, sedangkan cairan badan total, volume plasma, cairan intersisial, dan massa badan tanpa lemak berkurang. Hal ini dapat mengurangi volume distribusi dari obat yang larut dalam air, dan menambah volume distribusi dari obat yang larut dalam lemak. Dosis standar dari obat yang larut dalam air pada keadaan ini akan menimbulkan intoksikasi. Berkurangnya albumin pada orang tua menyebabkan kadar obat bebas (unbound) menjadi lebih banyak sehingga dapat menyebabkan intoksikasi. Pengurangan cardiac output dan penambahan tahanan perifer dapat juga mengurangi aliran darah renal dan hepatik. Ini juga dapat menyebabkan intoksikasi dari obat dengan dosis standar, karena eliminasi dan kemampuan untuk transformasi enzimatik obat berkurang.

Penentuan konsentrasi obat di dalam plasma darah penting untuk monitoring terapi. Therapeutic range adalah jarak antara konsentrasi efektif minimal dan konsentrasi efektif maksimal dari obat di dalam plasma darah pada sebagian besar dari populasi. Intoksikasi terjadi jika konsentrasi obat didalam plasma darah melebihi therapeutic range.

Volume distribusi dari obat yang satu berbeda dengan obat yang lain, karena kelarutan didalam cairan badan dan ikatan pada jaringan tubuh juga berbeda. Misalnya :

· Prokainamid (antiaritmia, memiliki “terapeutic windows” yang sempit)

Vd = 2 L/kgBB

Cp = 5 µg/ml = 5 mg/L

Berapa dosis obat untuk pasien 50 kg dan 75 kg ?

Dosis obat = Volume distribusi x Konsentrasi obat dalam plasma darah

= 2 L/kgBB x 5 mg/L

= 10 mg/kgBB

Untuk pasien 50 kg = D x BB

= 10 mg/kg x 50 kg = 500mg/50kg

Untuk pasien 75 kg = D x BB

= 10 mg/kg x 75 kg = 750mg/75kg

Jadi, dosis obat yang akan diberikan kepada masing-masing individu berbeda tergantung dari berat badan pasien yang akan menerima terapi.

Ø Eliminasi Renal

Untuk mempertahankan konsentrasi plasma darah terapeutik suatu obat dapat dilakukan dengan memberikan obat dalam dosis yang equivalen dengan eliminasinya. Akumulasi dapat terjadi jika frekuensi pemberian obat itu lebih cepat dari waktu paruh sehingga interval pemberian obat harus dilakukan sesuai waktu paruh obat agar kondisi “steady state” dapat tercapai.

Ø Eliminasi hepatik

Untuk menentukan dosis dari obat-obat yang dimetabolisme didalam hepar harus berhati-hati karena hepar mempunyai kapasitas metabolisme yang terbatas sehingga ada kemungkinan suatu ketika pemberian multiple dose tidak dimetabolisime dan konsentrasi obat dalam plasma darah akan naik dengan cepat. Jika hal ini tidak dikontrol dengan penentuan konsentrasi obat di dalam plasma darah, maka akan terjadi akumulasi.

Contoh :

Seorang anak mempunyai BB = 20 kg. Anak itu mendapat fenitoin tiap 24 jam. Sesudah 4 jam, Cp = 18 mg/L. Sebelum diberikan dosis yang kedua, ternyata Cp = 10 mg/L. Ini berarti bahwa dalam 20 jam terjadi penurunan konsentrasi obat karena metabolisme sebanyak 8 mg/L. (Vd fenitoin = 0,75 L/kg)

Vd fenitoin untuk anak 20 kg = 0,75 L/kg x 20 kg = 15 L

Dosis = Vd x Cp

= 15 L x 8 mg/L

= 120mg/20kg

Jika dosis obat dalam 20 jam adalah 120 mg, maka dalam 24 jam :

Jadi, dosis maintenance untuk anak dari 20 kg = (144mg/20kg) = 7,2 mg/kg tiap 24 jam.

Resorpsi fenitoin diusus cukup baik, presentase pengikatan pada protein tinggi, lebih kurang 90%. Fenitoin dieliminasi melalui hidroksilasi dihati dan metabolit yang terbentuk tidak berkhasiat antiaritmia. Metabolisme berlangsung lambat dan tidak dipengaruhi oleh perubahan aliran darah hati. Sistem enzim yang memetabolisme fenitoin menjadi jenuh pada rentang kadar terapi. Karenanya waktu paruh eliminasi tergantung dosis dan toksisitas yang dapat muncul secara tidak terduga. Plasma waktu paruh eliminasi rata-rata 20 jam sangat variabel.

Ø Sifat-sifat Genetik

Farmakoterapi terhadap penderita yang mempunyai dasar genetik tertentu harus disesuaikan, antara lain :

· Regimen terapi INH disesuaikan dengan adanya asetilator cepat atau lambat

· Jangan memberi terapi dengan kinin, kinidin, sulfonamida, kloramfenikol, acetosal dan sebagainya pada penderita dengan defisiensi glukosa-6-fosfat dehidrogenase, karena dapat menyebabkan hemolisis

Ø Lingkungan hidup

Pola hidup seorang pasien dapat menyebabkan respon yang berubah terhadap obat. Misalnya pengobatan terhadap pecandu alkohol perlu didasari pengetahuan tentang kemungkinan adanya sinergisme dengan depresansia umum (alkoholisme akut), atau adanya toleransi farmakodinamika dan farmakokinetika (alkoholisme kronik). Juga perlu disadari bahwa karena adanya gangguan absorpsi, maka dosis obat harus ditingkatkan.

Selain itu, perlu juga dipertimbangkan riwayat sakit serta pengobatannya yang lalu, karena mungkin dapat berpengaruh baik ataupun buruk terhadap pengobatan yang akan diberikan sekarang. Riwayat sakit yang lalu perlu diketahui karena kemungkinan berhubungan dengan penyakit sekarang. Apalagi jika penyakit yang lalu dapat diperkirakan belum sembuh benar atau meninggalkan bekas kelainan yang memudahkan terjadinya penyakit sekarang. Riwayat pengobatan yang lalu juga penting untuk diketahui, sehingga memudahkan dokter memberi pengobatan yang tepat.

b. Cara pemberian obat

Cara pemberian obat juga ditentukan sesuai dengan situasi dan kondisi medis penderita. Jika tidak ada keperluan khusus dan tidak ada halangan, maka pemberian obat secara oral paling banyak dilakukan. Pada pemberian obat secara oral ini terdapat variabel-variabel antar penderita yaitu perbedaan sifat obat, komposisi dari cairan lambung dan usus, kecepatan pengosongan lambung, ada atau tidak adanya zat makanan, keadaan patologis dari saluran pencernaan dan sebagainya.

KESIMPULAN

1. Setelah berusaha menegakkan diagnosis penyakit secara rasional melalui anamnesis, pemeriksaan fisik dan laboratorium, maka perlu mengetahui patologi dan patofisiologi penyakitnya, serta menentukan pengobatan rasional terkait mengembalikan homeostasis badan.

2. Jika farmakoterapi diperlukan, maka melalui penyesuaian secara rasional, menurut prinsip-prinsip farmakologi serta parameter farmakokinetika klinik diharapkan penyakit dapat disembuhkan atau dapat dikurangi secara tidak berlebihan.

Daftar Pustaka

Ganiswarna, Sulistia G., 1995, Farmakologi dan Terapi, UI Press, Jakarta

Tjay, Drs. Tan Hoan dan Drs. Kirana Rahardja, 2007, Obat-Obat Penting : Khasiat, Penggunaan dan Efek-Efek Sampingnya, PT. Gramedia, Jakarta

Yudono, dr. R.H., 1985, Farmakoterapi Rasional, Dalam Majalah Cermin Dunia Kedokteran, Vol. 37, 32-36

MONITORING TERAPI PROKAINAMID

Priska Firstya 06 8114 016

Fransisca Desiana 06 8114 017

MONITORING TERAPI PROKAINAMID

Yang dimaksud dengan monitoring kadar terapeutik obat adalah pemeriksaan secara berkala terkait kadar obat dalam darah. Dengan demikian, monitoring kadar terapeutik obat bermanfaat untuk menentukan dosis dari obat-obat yang :

· Kecepatan metabolismenya berbeda nyata secara individual

· Mempunyai “therapeutic window” yang sempit

· Efek terapeutiknya sukar atau tidak segera dapat diukur

· Gejala penyakit sukar dibedakan dengan efek samping obat

· Kecepatan metabolisme mudah jenuh

a. Individualisasi dosis dalam farmakoterapi

Pemberian obat pada umumnya didasarkan atas dosis rata-rata, yaitu dosis yang diperkirakan memberikan efek terapeutik dengan efek samping minimal. Bila dosis rata-rata itu tidak menimbulkan efek atau menimbulkan efek yang berlebihan, maka akan dilakukan penghentian obat tanpa perlu mempertimbangkan apakah dosis yang diberikan sudah sesuai dengan kebutuhan penderita.

Jika “therapeutic window” dari obat cukup besar, maka perbedaan individual kadar obat dalam keadaan “steady state” tidak akan menimbulkan masalah dalam penentuan dosis. Tetapi jika “therapeutic window” suatu obat sempit, individualisasi dosis menjadi penting, karena perbedaan dosis yang kecil saja (dalam mg/kgBB) sudah dapat menimbulkan perbedaan nyata dalam respons.

b. Contoh obat yang perlu dimonitoring

Salah satu contoh obat yang perlu dimonitoring terapi adalah prokainamid. Prokainamid merupakan obat antiaritmia kelas I-A. Umumnya obat-obat antiaritmia memiliki “terapeutic windows” yang sempit.

Prokainamid diabsorpsi dengan cepat dan hampir sempurna setelah pemberian per oral pada orang normal. Kadar puncak dicapai 45-70 menit setelah pemberian dengan bentuk kapsul, tetapi sedikit lebih lambat jika diberikan dalam bentuk tablet. Dalam minggu pertama setelah infark miokard akut, absorpsi oral mungkin buruk, tercapainya kadar puncak mungkin sangat terlambat dan kadar obat mungkin cukup untuk mengontrol aritmia.

Sekitar 20% prokainamid terikat protein dalam plasma. Obat ini dengan cepat di distribusi keseluruh jaringan tubuh, kecuali ke otak. Volume distribusi prokainamid (Vd) adalah 2 Liter/kgBB. Prokainamid dieliminasi melalui ekskresi ginjal dan metabolisme dihati. Jalur metabolisme utama adalah melalui n-asetilasi oleh enzim n-asetil transferase. Sampai sekitar 70% dari dosis prokainamid dieliminasi dalam bentuk yang tidak berubah dalam urine. Prokainamid adalah basa lemah yang mengalami filtrasi, sekresi, dan reabsorpsi diginjal. Peningkatan pH urine menyebabkan penurunan ekskresi prokainamid.

Kadar plasma yang diperlukan untuk memperoleh efek terapeutik antara 3-10µg/ml dan kadang-kadang lebih tinggi. Kemungkinan toksisitas menjadi lebih besar bila kadar plasma meningkat di atas 8 µg/ml. Efek prokainnamid terhadap jantung diperkuat bila kadar K+ plasma meningkat. Cara yang cepat dan aman untuk memperoleh kadar efektif dalam plasma adalah pemberian intravena, yaitu 100 mg disuntikkan selama 2-4 menit, tiap 5 menit sampai aritmia terkontrol, atau efek samping terlihat, atau sampai dosis total (1 gram tercapai tanpa ada perbaikan). Untuk terapi oral jangka lama biasanya diperlukan dosis total 3-6 gram/hari, karena waktu paruh eliminasinya pendek (3 jam pada orang normal dan 5-8 jam pada penderita penyakit jantung). Pemberian prokainamid tiap 6-8 jam biasanya memadai, kadar puncak tercapai dalam satu hari, karena waktu eliminasinya pendek. Efek samping yang sering ditimbulkan adalah efek samping yang berhubungan dengan kardiovaskular, selain itu dapat menimbulkan efek samping pada SSP berupa pusing, psikosis, halusinasi dan depresi.

c. Interpretasi hasil pemeriksaan kadar

Pemeriksaan kadar obat dalam cairan hayati merupakan dari “pharmaco-therapeutic audit” yang bertujuan untuk memperbaiki kualitas terapi obat. Tujuan dari monitoring akan tercapai dengan baik bila permintaan itu dilengkapi dengan data klinis yang diperlukan untuk interpretasi dan pemeriksaan dilakukan secara berulang selama terapi pemeliharaan. Interpretasi hasil pemeriksaan kadar obat dalam plasma memerlukan berbagai macam data klinis yang lebih banyak dari data klinis yang diperlukan untuk menginterpretasikan hasil pemeriksaan kimia klinik untuk diagnostik. Kecuali untuk tolerasi glukosa, pemeriksaan kimia klinik bila perlu hanya memerlukan puasa malam hari. Waktu untuk pengambilan sampel darah tidak perlu ketat sekali, karena zat yang hendak di periksa kadarnya relatif stabil dari jam ke jam berkat adanya peranan hemeostasis tubuh. Selain itu, interpretasi pemeriksaan kadar terapeutik obat memerlukan data klinis yang berguna untuk memperhitungkan secara matematis besarnya dosis dan aturan pemberian, jika regimen dosis harus diubah agar mencapai kadar terapeutik.

d. Sumber kekeliruan dalam monitoring kadar obat

Sumber keliruan dapat terjadi pada tahap-tahap awal dalam analisis laboratorik, misalnya pemberian obat yang waktunya tidak sesuai dengan yang diintruksikan, pengambilan sampel darah yang tidak tepat waktunya, sampel darah yang tidak cukup, dan terjadinya hemolisis.

Perbedaan individual dalam ikatan obat dengan protein plasma juga harus diperhatikan dalam menginterpretasikan hasil pemeriksaan kadar obat dalam plasma. Seringkali dikemukakan bahwa yang penting untuk diukur adalah kadar obat bebas (unbound), karena jumlahnya lebih mencerminkan kadar obat pada reseptor. Perbedaan individual dalam kadar obat bebas dalam plasma seringkali terjadi karena adanya perbedaan sifat protein, pengaruh obat lain yang diberikan bersama, pengaruh penyakit, serta sifat fisik dari obat yang diberikan. Metabolit aktif dapat mempersulit interpretasi kadar obat dalam darah, karena sifat farmakokinetika dan farmakodinamika metabolit tidak diketahui sehingga tidak semuanya dapat diukur serentak dengan mengukur kadar zat asalnya.

Daftar Pustaka

Ganiswarna, Sulistia G., 1995, Farmakologi dan Terapi, UI Press, Jakarta

Muchtar, dr. Armen, 1985, Monitoring Kadar Terapeutik Obat, Dalam Majalah Cermin Dunia Kedokteran, Vol. 37, 13-17

Tjay, Drs. Tan Hoan dan Drs. Kirana Rahardja, 2007, Obat-Obat Penting : Khasiat, Penggunaan dan Efek-Efek Sampingnya, PT. Gramedia, Jakarta

SERBA-SERBI TENTANG MORFIN (Maret 2009)

SERBA-SERBI TENTANG MORFIN

Disusun Oleh :
1. Floriberta Yoaquin Intan    (068114033)
2. Heny Sulistyaningsih        (068114034)

Periode : Maret 2009

Morfin pertama kali diisolasi pada 1804 oleh ahli farmasi Jerman  Friedrich Wilhelm Adam Sertürner. Tapi morfin belum digunakan hingga dikembangkan hypodermic needle (1853). Morfin digunakan untuk mengurangi nyeri dan sebagai cara penyembuhan dari ketagihan alkohol dan opium.

Meskipun morfin dapat dibuat secara sintetik, tetapi secara komersial lebih mudah dan menguntungkan, yang dibuat dari bahan getah papaver somniferum. Morfin paling mudah larut dalam air dibandingkan golongan opioid lain dan kerja analgesinya cukup panjang (long acting).(Latief dkk, 2001; Sarjono dkk, 1995).

Efek kerja dari morfin (dan juga opioid pada umumnya) relatife selektif, yakni tidak begitu mempengaruhi unsur sensoris lain, yaitu rasa raba, rasa getar (vibrasi), penglihatan dan pendengaran ; bahakan persepsi nyeripun tidak selalu hilang setelah pemberian morfin dosis terapi.

Efek analgesik morfin timbul berdasarkan 3 mekanisme ; (1) morfin meninggikan ambang rangsang nyeri ; (2) morfin dapat mempengaharui emosi, artinya morfin dapat mengubah reaksi yang timbul di korteks serebri pada waktu persepsi nyeri diterima oleh korteks serebri dari thalamus ; (3) morfin memudahkan tidur dan pada waktu tidur ambang rangsang nyeri meningkat.

Morfin merupakan agonis reseptor opioid, dengan efek utama mengikat dan mengaktivasi reseptor µ-opioid pada sistem saraf pusat. Aktivasi reseptor ini terkait dengan analgesia, sedasi, euforia, physical dependence dan respiratory depression. Morfin juga bertindak sebagai agonis reseptor κ-opioid yang terkait dengan analgesia spinal dan miosis

Gambar morfin(serbuk)          Gambar struktur morfin

Farmakodinamik
Efek morfin terjadi pada susunan syaraf pusat dan organ yang mengandung otot polos. Efek morfin pada system syaraf pusat mempunyai dua sifat yaitu depresi dan stimulasi. Digolongkan depresi yaitu analgesia, sedasi, perubahan emosi, hipoventilasi alveolar. Stimulasi termasuk stimulasi parasimpatis, miosis, mual muntah, hiperaktif reflek spinal, konvulsi dan sekresi hormon anti diuretika (ADH). .(Latief dkk, 2001; Sarjono dkk, 1995; Wibowo S dan Gopur A., 1995; Omorgui, 1997).

Farmakokinetik
Morfin tidak dapat menembus kulit utuh, tetapi dapat menembus kulit yang luka. Morfin juga dapat menembus mukosa. Morfin dapat diabsorsi usus, tetapi efek analgesik setelah pemberian oral jauh lebih rendah daripada efek analgesik yang timbul setelah pemberian parenteral dengan dosis yang sama. Morfin dapat melewati sawar uri dan mempengaruhi janin. Ekskresi morfin terutama melalui ginjal. Sebagian kecil morfin bebas ditemukan dalam tinja dan keringat.

Indikasi
Morfin dan opioid lain terutama diidentifikasikan untuk meredakan atau menghilangkan nyeri hebat yang tidak dapat diobati dengan analgesik non-opioid. Lebih hebat nyerinya makin besar dosis yang diperlukan. Morfin sering diperlukan untuk nyeri yang menyertai ; (1) Infark miokard ; (2) Neoplasma ; (3) Kolik renal atau kolik empedu ; (4) Oklusi akut pembuluh darah perifer, pulmonal atau koroner ; (5) Perikarditis akut, pleuritis dan pneumotorak spontan ; (6) Nyeri akibat trauma misalnya luka bakar, fraktur dan nyeri pasca bedah.

Dosis dan sediaan
Morfin tersedia dalam tablet, injeksi, supositoria. Morfin oral dalam bentuk larutan diberikan teratur dalam tiap 4 jam. Dosis anjuran untuk menghilangkan atau mengurangi nyeri sedang adalah 0,1-0,2 mg/ kg BB. Untuk nyeri hebat pada dewasa 1-2 mg intravena dan dapat diulang sesuai yamg diperlukan.

Morfin diperdagangkan secara bebas dalam bentuk :

  1. Bubuk atau serbuk. Berwarna putih dan mudah larut dalam air. Dapat disalahgunakan dengan jalan menyuntikkan, merokok atau mencampur dalam minuman, adakalanya ditaburkan begitu saja pada luka-luka bekas disilet sendiri oleh para korban.
  2. Cairan Berwarna putih disimpan dalam ampul atau botol, pemakaiannya hanya dilakukan dengan jalan menyuntik.
  3. Balokan. Dibuat dalam bentuk balok-balok kecil dengan ukuran dan warna yang berbeda-beda
  4. Tablet. Dibuat dalam bentuk tablet kecil putih. Morfin diabsorbsi dengan baik setelah pemberian subkutan (dibawah kulit) atau intra muskuler, tetapi tidak diabsorbsi dengan baik di saluran pencernaan. Oleh sebab itu morfin tidak pernah tersedia dalam bentuk obat minum. Efek subyektif yang dialami oleh individu pengguna morfin antara lain merasa gembira, santai, mengantuk, dan kadang diakhiri dengan mimpi yang menyenangkan. Pengguna morfin umumnya terlihat apatis, daya konsentrasinya menurun, dan pikirannya sering terganggu pada saat tidak menggunakan morfin. Efek tersebut yang selanjutnya menyebabkan penggunanya merasa ketagihan. Disamping memberi manfaat klinis, morfin dapat memberikan resiko efek samping yang cukup beragam, antara lain efek terhadap sistema pernafasan, saluran pencernaan, dan sistema urinarius. Efek pada sistema pernafasan berupa depresi pernafasan, yang sering fatal dan menyebabkan kematian. Efek ini umumnya terjadi beberapa saat setelah pemberian intravenosa atau sekitar satu jam setelah disuntikkan intramuskuler. Efek ini meningkat pada penderita asma, karena morfin juga menyebabakan terjadinya penyempitan saluran pernafasan. Efek pada sistema saluran pencernaan umumnya berupa konstipasi, yang terjadi karena morfin mampu meningkatkan tonus otot saluran pencernaan dan menurunkan motilitas usus. Pada sistema urinarius, morfin dapat menyebabkan kesulitan kencing. Efek ini timbul karena morfin mampu menurunkan persepsi terhadap rangsang kencing serta menyebabkan kontraksi ureter dan otot- otot kandung kencing. Tanda- tanda pemakaian obat bervariasi menurut jenis obat, jumlah yang dipakai, dan kepribadian sipemakai serta harapannya.

Gejala kelebihan dosis :
Pupil mata sangat kecil (pinpoint), pernafasan satu- satu dan coma (tiga gejala klasik). Bila sangat hebat, dapat terjadi dilatasi (pelebaran pupil). Sering disertai juga nausea (mual). Kadang-kadang timbul edema paru (paru-paru basah). Gejala–gejala lepas obat : Agitasi, nyeri otot dan tulang, insomnia, nyeri kepala. Bila pemakaian sangat banyak (dosis sangat tinggi) dapat terjadi konvulsi(kejang) dan koma, keluar airmata (lakrimasi), keluar air dari hidung(rhinorhea), berkeringat banyak, cold turkey, pupil dilatasi, tekanan darah meninggi, nadi bertambah cepat, hiperpirexia (suhu tubuh sangat meninggi), gelisah dan cemas, tremor, kadang-kadang psikosis toksik.

Diagnosis Ketergantungan Narkotika
Diagnosis ketergantungan penderita opiat ditegakkan dengan pemeriksaan klinis (medik psikiatrik) dan ditunjang dengan pemeriksaan urine. Pada penyalahgunaan narkotika jenis opiat, seringkali dijumpai komplikasi medis, misalnya kelainan pada organ paru-paru dan lever. Penyalahgunaan narkotika merupakan suatu pola penggunaan zat yang bersifat patologik paling sedikit satu bulan lamanya. Opioida termasuk salah satu yang sering disalahgunakan manusia. Menurut ICD 10 (International Classification Diseases), berbagai gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan zat dikelompokkan dalam berbagai keadaan klinis, seperti intoksikasi akut, sindroma ketergantungan, sindroma putus zat, dan gangguan mental serta perilaku lainnya.
Sindroma putus obat adalah sekumpulan gejala klinis yang terjadi sebagai akibat menghentikan zat atau mengurangi dosis obat yang persisten digunakan sebelumnya. Keadaan putus heroin tidak begitu membahayakan. Di kalangan remaja disebut “sakau” dan untuk mengatasinya pecandu berusaha mendapatkan heroin walaupun dengan cara merugikan orang lain seperti melakukan tindakan kriminal. Gejala objektif sindroma putus opioid, yaitu mual/muntah, nyeri otot lakrimasi, rinorea, dilatasi pupil, diare, menguap/sneezing, demam, dan insomnia. Untuk mengatasinya, diberikan simptomatik. Misalnya, untuk mengurangi rasa sakit dapat diberi analgetik, untuk menghilangkan muntah diberi antiemetik, dan sebagainya. Pengobatan sindroma putus opioid harus diikuti dengan program terapi detoksifikasi dan terapi rumatan. Kematian akibat overdosis disebabkan komplikasi medis berupa gangguan pernapasan, yaitu oedema paru akut (Banks dan Waller). Sementara, Mc Donald (1984) dalam penelitiannya menyatakan bahwa penyalahgunaan narkotika mempunyai kaitan erat dengan kematian dan disabilitas yang diakibatkan oleh kecelakaan, bunuh diri, dan pembunuhan.
Penyalahgunaan obat- obatan sangat beragam, tetapi yang paling banyak digunakan adalah obat yang memiliki tempat aksi utama di susunan saraf pusat dan dapat menimbulkan gangguan- gangguan persepsi, perasaan, pikiran, dan tingkah laku serta pergerakan otot- otot orang ynag menggunakannya. Tujuan penyalahgunaan pada umumnya adalah untuk mendapatkan perubahan mental sesaat yang menyenangkan. Efek menenangkan sering dipergunakan untuk mengatasi kegelisahan, kekecewaan, kecemasan, dorongan- dorongan yang terlalu berlebihan oleh orang yang lemah mentalnya atau belum matang kepribadiannya. Sedangkan efek merangsang sering dipakai untuk melancarkan pergaulan, atau untuk suatu tugas, menambah gairah sex, meningkatkan daya tahan jasmani. Penyalahgunaan obat dapat diketahui dari hal-hal sebagai berikut :

  1. tanda- tanda pemakai obat
  2. keadaan lepas obat
  3. kelebihan dosis akut
  4. komplikasi medik ( penyulit kedoktearn )
  5. komplikasi lainnya ( sosial, legal, dsb)

DAFTAR PUSTAKA
Andra, 2006, Analgesik untuk Nyeri Kanker, http://www.majalah-farmacia.com/rubrik/one_news.asp, diakses 10 Maret 2009

Anonim, 2008, Pemeriksaan Barang Bukti pada Kasus Pemakaian Narkoba, http://medlinux.blogspot.com/2007/11/pemeriksaan-barang-bukti-hidup-pada.html, diakses tanggal 10 Maret 2009

Omorgui, s, Buku Saku Obat-obatan Anastesi, Edisi II, EGC, Jakarta, 1997, hal ; 203-207.

Latief. S. A, Suryadi K. A, dan Dachlan M. R, Petunjuk Praktis Anestesiologi, Edisi II, Bagian Anestesiologi dan Terapi Intensif FK-UI, Jakarta, Juni, 2001, hal ; 77-83, 161.

Sardjono, Santoso dan Hadi rosmiati D, Farmakologi dan Terapi, bagian farmakologi FK-UI, Jakarta, 1995 ; hal ; 189-206.

Samekto wibowo dan Abdul gopur, Farmakoterapi dalam Neuorologi, penerbit salemba medika, 1995; hal : 138-143.