Ganja, kawan atau lawan?

GANJA, KAWAN ATAU LAWAN ?

Hai, pembaca yang budiman, apakah Anda saat ini sedang memiliki dilema tentang ganja ? Mungkin Anda atau teman Anda saat ini sedang terjerumus dalam kenikmatan ganja ? Atau mungkin baru akan terjerumus alias Anda sedang berdiri di pinggir jurang nan terjal ? Kalau jawabannya adalah IYA, maka Anda sedang membuka blog yang tepat. Namun, jika jawabannya TIDAK, maka pasti Anda sedang tidak ada kerjaan membuka blog ini. Tapi itu lebih baik, daripada Anda membuka website lain yang sudah diblokir. Hehe..

Jika Anda membaca di situs-situs internet, tanaman ganja atau sejenisnya (misalnya : ganja) sekarang sedang ramai dipergunjingkan. Masalah utama yang dibahas adalah apakah ganja memiliki kegunaan positif atau tidak? Berbahaya atau tidak ? Dan kalau pun memiliki kegunaan positif, apakah ganja bisa dilegalkan di Indonesia, negara kita tercinta ini.

Banyak pro dan kontra dalam membicarakan masalah ganja ini. Ada yang pro bahwa ganja banyak memiliki kegunaan positif dan di lain pihak, banyak kalangan yang kontra dengan ganja dan memiliki paradigma bahwa ganja berefek sangat negatif. Di Indonesia, ganja digolongkan dalam golongan 1 alias zat yang paling berbahaya seperti yang tertulis dalam UU no 22 tahun 97 (jangan sekali-sekali Anda membuka buku UU ini, kalau memang Anda tidak memilikinya).

Nah, dari artikel-artikel yang didapat dari internet, kami mencoba menyusunnya menjadi suatu bahan pertimbangan bagi Anda yang sedang memikirkan do’i (ganja) atau hanya sekedar penambah wawasan bagi para pembaca yang budiman, terlepas dari segala paradigma Anda tentang ganja.

Sebelum Anda membaca artikel, mungkin Anda bingung menentukan sikap. Namun, kami yakin bahwa dengan Anda membaca ini, maka Anda akan semakin bingung (walaupun kami tidak mengharapkan itu).

Jadi, supaya Anda memahami artikel ini dengan baik, maka bacalah artikel ini dengan pikiran yang sehat, hati yang bersih, dan jiwa yang teguh. Namun, hal ini tidak berlaku bila TANGAN KANAN ANDA SEDANG MENJEPIT SELINTING GANJA.

Di bawah ini, kami uraikan manfaat positif dan negatif ganja. Silakan menikmatinya.

A. MANFAAT POSITIF GANJA

Ganja, ternyata memiliki banyak manfaat yang dapat diambil. Selama ini, ganja hanya dikenal karena penyalahgunaannya (abuse) yaitu dengan menghisap daun ganja kering saja. Padahal, ganja memiliki banyak kegunaan mulai dari akar, pohon, dahan, ranting hingga daun yang dapat diolah menjadi tas, souvenir, obat dan aneka fungsi lain.

Menurut informasi dari dunia maya, ganja memiliki potensi medis dalam pengobatan. Selain untuk meringankan rasa sakit, obat-obatan dari ganja juga digunakan untuk menambah nafsu makan bagi penderita anorexia, dan untuk melawan efek samping kemoterapi pada penderita kanker.

Setelah mengadakan seminar pada 2 Juni 2007 lalu, Indonesia National Institute on Drug Abuse (INIDA) menemukan efek positif dari penggunaan ganja berdasarkan beberapa riset di berbagai negara yang telah melegalkan penggunaan ganja.

Di dalam tanaman ganja, terdapat suatu zat yang disebut Tetrahydrocannabinol (THC). Sosiolog Universitas Katholik Atma Jaya Jakarta, Irwanto menyatakan THC merupakan salah satu zat yang dapat menghilangkan rasa sakit, misalnya pada  penderita glukoma. THC memiliki efek analgesik, yang dalam dosis rendahnya saja bisa bikin “tinggi”. Bila kadar THC diperkaya, bisa menjadi lebih potensial untuk tujuan pengobatan. Selain itu di dalam masyarakat tradisonal, opium, cocaina, dan ganja, dipakai sebagai obat herbal. Di masyarakat Aceh, ganja digunakan sebagai penyedap masakan. Tanaman ganja yang selama ini lekat dengan nilai negatif justru mempunyai lebih banyak nilai positif sehingga dapat memberikan nilai tambah bagi masyarakat.

Senyawa bernama delta-9-tetrahydrocannabinol (THC) ini melawan penyakit pembuluh darah atherosclerosis pada tikus. Atherosclerosis muncul bila adanya masalah pada pembuluh darah – misalnya akibat nikotin pada rokok – menyebabkan munculnya reaksi kekebalan dari tubuh yang memicu penimbunan lemak di pembuluh arteri.

Kepala Bidang Riset Indonesian National Institute on Drug Abuse (Inida), Tomi Hardjatno di Jakarta, Kamis mengatakan, ganja selama ini lekat dengan nilai negatif karena tidak ada upaya untuk mengembangkan ke arah positif.

Selama ini, sesuai dengan kriminalisasi penggunanya, ganja berkonotasi buruk. Menurut Tomi, ganja harus dilihat secara proporsional, jangan langsung dibasmi. Harus kita lihat apakah ganja seburuk yang digambarkan. Secara umum ganja tidak menimbulkan ketagihan (withdrawal) seperti halnya morfin. Bila seorang pecandu morfin memutuskan untuk berhenti, dia akan merasakan rasa sakit di tubuh, lazim disebut sakaw. Dari studi literatur, jelas Tomi, ganja hampir sama dengan rokok. Ganja tidak pernah menimbulkan overdosis dan tidak menimbulkan sifat agresif. “Tetapi semua itu harus dibuktikan lewat penelitian” pungkasnya.

NAH, para pembaca yang budiman, sekarang Anda sudah tahu manfaat positif ganja. NAMUN, MENGAPA GANJA DILARANG DI INDONESIA ??? Untuk mengetahuinya, silakan Anda membaca terus halaman ini sampai habis. Ingat !!! Harus sampai habis. Karena kalau tidak, kami tidak bertanggung jawab atas efek-efek yang tidak diharapkan.

B. MANFAAT NEGATIF GANJA

Dalam penelitian meta analisis yang dilakukan para ahli dari Universitas Cardiff dan Universitas Bristol, Inggris, terungkap adanya kaitan antara pencandu ganja dengan meningkatkan risiko schizophrenia, yakni adanya peningkatan gejala seperti paranoid, mendengar suara-suara dan melihat sesuatu yang sebenarnya tidak ada.

Selain faktor kecanduan ganja, para ahli juga mempertimbangkan faktor adanya kelainan jiwa, seperti depresi.

THC diduga memiliki sifat menurunkan reaksi kekebalan, menurut François Mach dari University Hospital Jenewa, Swiss. Senyawa itu mengikat protein yang disebut CB2 yang ada di permukaan sel-sel kekebalan tubuh.Dikatakan para peneliti, keuntungan penggunaan THC bagi penderita atherosclerosis hanya didapatkan dalam dosis tertentu saja. Pada dosis yang terlalu tinggi atau terlalu rendah, THC tidak memiliki efek pengobatan bagi penyumbatan pembuluh darah. Ini serupa dengan manfaat minuman anggur untuk mencegah serangan jantung, dimana segelas Bordeaux bisa mengurangi resiko, namun meminumnya dalam jumlah terlalu banyak justru akan meningkatkan resiko.

THC juga mengikat reseptor anandamide dan menekan kegiatan pada hipokampus, daerah otak yang terutama dipakai untuk belajar, ingatan dan emosi. Penelitian menunjukkan bahwa perilaku yang dipelajari dirusak oleh penggunaan ganja. Ini mengambil wujud kesulitan dalam perhatian, daya ingat dan belajar–semua dirusak pada para mahasiswa yang memakai banyak ganja, bahkan setelah mereka berhenti memakainya selama 24 jam.

Efek ganja yang terberat adalah di otak. Kerusakan otak yang terjadi merupakan kerusakan yang irreversible atau tak dapat diubah. Efek ganja di otak tergantung dari lama, jumlah dan cara pemakaian. Efek yang terjadi ialah euforia, rasa santai, mengantuk dan berkurangnya interaksi sosial. Pada kasus-kasus keracunan (pemakaian dalam jumlah sangat banyak) dapat muncul perasaan curiga yang berlebihan (paranoid), halusinasi visual. Sepanjang pengetahuan kami, sampai saat ini belum ada teknik transplantasi untuk menggantikan bagian-bagian otak yang telah rusak.

Menurut Tomi, karena sifatnya sebagai halusinogen dan dapat menimbulkan euforia, efek negatif ganja adalah membuat orang menjadi malas. Efek paling buruk dari ganja karena menjadikan reaksi pemakai lebih lambat, dan peganja cenderung kurang waspada.

Pemakai ganja mudah kehilangan konsentrasi,denyut nadi cenderung meningkat, keseimbangan dan koordinasi tubuh menjadi buruk, ketakutan, mudah panik, depresi, kebingungan dan berhalusinasi. Dampak fisik lain, dalam paru, ganja membuat banyak dampak pada kesehatan seperti asap tembakau-batuk harian, dahak, bronkitis dan kerentanan yang lebih tinggi terhadap selesma dahak. Pemakaian ganja jangka panjang merusak paru.

Karena penghisap ganja menghirup dan menahan asap dalam-dalam di paru-paru, tampaknya mereka terpejan pada tingkat karbon monoksida tiga sampai lima kali lebih tinggi daripada penghisap tembakau. Ganja meningkatkan denyut jantung dan tekanan darah. Seperti hampir semua narkoba, ganja tidak baik pada kehamilan. Penggunaan ganja oleh wanita hamil meningkatkan risiko melahirkan bayi dengan berat badan rendah dan lebih rentan terhadap beberapa masalah kesehatan.

Ibu menyusui yang menghisap ganja menyebarkan THC pada bayinya melalui ASI, dengan risiko pada pengembangan gerak si bayi. Anak-anak yang menghisap ganja secara pasif menunjukkan lebih banyak tabiat yang buruk, pengisapan ibu jari, dan kemarahan dibanding anak yang tidak terpajan.

NAH, APA YANG ANDA RASAKAN, PIKIRKAN, DAN ANDA LAKUKAN SETELAH MEMBACA ARTIKEL INI ??? Apakah Anda masih menjepit selinting ganja ? Atau, sekarang Anda langsung berlari menjauh dari………rumah menuju rumah bandar ganja ? Atau, Anda langsung berhenti seketika dan tidak lagi mengkonsumsinya ?

You have your own life. Hidup Anda adalah hidup Anda. Maka, Andalah yang menentukan sikap terhadap hidup Anda. Anda mau memakai ganja atau tidak, itu terserah Anda. Artikel ini hanya dapat menjadi bahan pertimbangan bagi Anda maupun hanya sebagai pengisi waktu luang Anda (sekali lagi, daripada membuka situs yang sudah diblokir).

Ganja bisa menjadi kawan dan lawan. Tinggal bagaimana tingkat kedewasaan dan tanggung jawab kita dalam menyikapinya.

Semoga, artikel ini dapat bermanfaat bagi Anda. Jika ada kekurangan mohon dimaafkan. Namun, jika ada kelebihannya, mohon dikembalikan.

JR. Filian Perdana 058114055

Debrina P.W. 058114119

V. Hendra S.N. 058114123

I Putu Agus W. 058114138

Bahasa gaul narkoba

A

Abes : salah tusuk urat / bengak
Abses : benjolan karena heroin yang disuntik tidak masuk ke dalam urat
Acid : LSD, salah satu zat halusinogenika, bila dikonsumsi akan timbul halusinasi
Afo : alumunium foil
Alfo; foil; alumunium foil : tempat untuk memakai / bakar shabu
Amp/amplop : kemasan untuk membungkus ganja
Amphet : amphetamin
Analgesic : substansi untuk meredakan rasa sakit berhubungan
Antibiotik : sejenis zat antimikroba yang berasal dari pengembangbiakan mikroorganisme dan dibentuk secara semi-sintetis. Zat ini bekerja untuk mematikan atau menghambat perkembangan bakteri dan digunakan untuk mengatasi infeksi.

B
Badai : teler atau mabok
Badai; pedaw; high : tinggi
Bahlul : mabuk
Bajing : bunga ganja
Bakaydu : bakar ganja; dibakar dulu
Barcon; tester : barang contoh (gratis)
Basi-an : setengah sadar saat reaksi drug menurun
BB : barang bukti
BD : bandar narkoba
Bedak etep putih : sebutan lain putauw atau heroin
Beler : mabuk
Berhitung : urunan / patungan untuk beli ganja
Betrik : dicolong / nyolong
Bhang : ganja
Bhironk : orang Nigeria atau pesuruh
BK (Bung Karno) : pil koplo paling murah
BK : sedatin, nama obat tidur, isinya Nitrazepam 5 mgr
Black Heart : merk ectasy
Blue ice (BI) : salah satu jenis shabu yang paling bagus (no.1)
Boat : obat
Bokauw : bau
Bokul : beli barang
Bokul (bok’s) : beli
Bong : sejenis pipa yang didalamnya berisi air untuk menghisap shabu
Bopeng/bogep : minuman alkohol buatan lokal yang dikemas dalam bentuk botol pipih (botol gepeng) misalnya jenis vodka atau wiski
Boti : obat
BT : Bad trip ( halusinasi yang serem)
BT (Bad trip) : rasa kesal karena terganggu pada saat fly/mabuk
Buprenorphine : suatu pengobatan yang efektif untuk ketergantungan opioid
Buddha stick : ganja
Buterfly : merk ectasy

C
Camp’s : campuran (tembakau) untuk ganja pada saat melinting
Cannabis : ganja, daun ganja; kependekan dari Canabis Sativa
Chasing the dragon : pencandu heroin
Chasra : ganja
Chimenk : ganja/kanabis
Cimeng : ganja
CMD : cuaca mendukung (untuk ngeganja)
Coke : kokain
CS (sobat) : istilah sesama pemakai

D
Dagga : ganja
Dinsemilla : ganja
Dum-dum titik : dumolid

F
Fly : mabuk

G
Gantung : setengah mabok
Gauw : gram
Gaw : gram
Gele : ganja
Gepang : punya putauw atau heroin
Giber : mabok atau teler
Giberway (giting berat way) : mabuk ganja
Ginting : mabok atau teler
girl : kokain
Gitber (ginting berat) : mabok berat
Glass : shabu-shabu
Gocapan : gocip; paketan 50 ribu/0.1 gram.
Gonjes : mabok atau teler
Grass : daun ganja

H
Haluasi (halusinasi) : khayalan / imajinasi yang berlebihan
Halusinogen : Obat yang dapat mengubah perasaan dan pikiran, sering kali dengan menciptakan daya pandang yang berbeda, meskipun seluruh perasaan dapat terganggu.
Harm reduction : Suatu upaya untuk mengurangi beban dan penderitaan penyalagunaan zat, seperti memberikan jarum suntik baru agar mereka bisa terhindar dari penyebaran virus yang ditularkan melalui darah.
Hashish : daun ganja (biasanya juga disebut hash)
Hawi : ganja
Hemp : ganja
Hirropon : shabu-shabu

I
I : Ekstasi
Ice Cream : shabu-shabu
inex : Ekstasi
Inex : ecstasy
Insul/spidol : alat suntik
Iv (ngive) : intravena, memasukan obat ke urat darah (vena)
J
Jackpot : tumbang/muntah
Jayus : ganja
Joints : daun ganja yang dipotong, dikeringkan, dirajang halus dan digulung menjadi rokok
Jokul : jual
Junkies : pencandu

K
Kamput : kambing putih, gambar pada label salah satu minuman beralkohol
Kancing : ekstasi
Kar : alat untuk menggerus Putaw
Kartim : kertas timah
KD (kode) : kodein
Kentang : kena tanggung/gantung /kurang mabuk
Kentang kurus : kena tanggung kurang terus
Kipe : nyuntik atau memasukan obat ketubuh
Kipean : insulin, suntikan
Kompor : untuk bakar shabu di alumunium foil
Koncian : simpanan barang
Kotak kaset/CD : digunakan sebagai alat pengerus putaw
Kurus : kurang terus
KW : kualitas

L
Lady dan crack : kokain dalam bentuk yang paling murni dan bebas basa untuk mendapatkan efek yang lebih kuat
Lates : getah tanaman candu (papaver somniferum) yang didapat dengan menyadap (menggores) buah yang mulai masak.
Lexo : lexotan (obat penenang yang isinya bromazepam 12 mgr)
LL (double L) : artan

M
Marijuana : daun ganja
Mary Jane : daun ganja
Metadon : obat narkotik yang dipakai sebagai pengganti heroin dalam pengobatan pecandunya. Dengan memakai metadon, pecandu dapat menghentikan penggunaan heroin tanpa ada efek samping yang parah.
MG : megadon
Mixing drugs : mencampur jenis drug yang berlawanan jenis untuk mendapatkan efek yang berbeda
Mupeng : muka pengen

N
Narkoba : narkotik dan bahan berbahaya.
Ngebaks (nyimenk/ngegele) : ngebakar ganja
Ngeblenk : kelebihan takaran pemakaian putaw
Ngecak : memisahkan barang
Ngecam : nyuntik atau memasukan obat ketubuh
Ngedarag : bakar putauw diatas timah
Ngedreg : cheasing the dragon, menggunakan heroin dengan cara dibakar dan asapnya dihirup melalui hidung
Ngedrop (low bed) : gejala berakhirnya rasa nikmatnya mabuk
Ngejel : mampet /beku pada saat ngepam/mompa
Ngepam (pamping) : memompa insulin secara berkali-kali
Ngupas : memakai shabu-shabu
NP (nipam) : Nitrazepam
Nugi (numpang giting) : mabuk tanpa duit
Nutup : sekedar menghilangkan sakaw/nagih
Nyabu : memakai shabu-shabu
Nyipet : nyuntik atau memasukan obat ketubuh

O
OD : ogah ngedrop perasaan/kemauan untuk tetap mabuk.
OD (over dosis) : kelebihan takaran pemakaian putaw
On (naik) : proses pada saat fly/mabuk untuk pemakai shabu/ecstacy

P
P.T-P.T : patungan untuk membeli drug
Pahe : pembelian heroin atau putauw dalam jumlah terkecil
PA-HE : paket hemat (paket 20 ribu/10 ribu)
Pakauw : pakai putauw
Paket : pembelian heroin atau putauw dalam jumlah terkecil
Paketan (tekapan) : paket / bungkusan untuk putaw
Papir : kertas untuk melinting ganja
Papir (pap’s;paspor;tissue : kertas untuk melinting ganja
Parno : paranoid karena ngedrungs
Parno : paranoid/rasa takut berlebihan karena pemakaian shabu yang sangat banyak
Pasang badan : menahan sakaw tanpa obat / pengobatan dokter
Pasien : pembeli
Pedauw : teler atau mabok
Per 1/per 2, ost : 1 atau 2, ost gram
Pil koplo (bo’at; boti; dados) : obat daftar ‘G’
Pil Gedek : ecstacy
Polydrug use : menambah dosis dan menggunakan jenis narkoba yang berbeda
Pot : daun ganja
PS (pasien) : pembeli narkoba
Psikedelik : berhubungan dengan/berciri halusinasi visual persepsi meningkat.
PT : putauw (heroin)
Pyur : murni

Q
Quartz : shabu-shabu

R
R (rohip) : rohypnol
Rasta : ganja
Relaps : kembali lagi ngedrugs karena `kangen`
Rivot /R /rhivotril : Klonazepam

S
Sakaw : sakit karena ketagihan atau gejala putus obat
Scale (Sekil) : timbangan untuk menimbang putaw, shabu, cocain (biasanya digunakan timbangan emas yang berbentuk timbangan digital)
Se’empel (seamplop) : satu amplop untuk ganja
Segaw : 1 gram
Se-lap : dua kali bolak-balik / 2 kali hisap
Selinting : 1 batang rokok atau gaja
Semata : setetes air yang sudah dicampur heroin
Semprit : dari kata syringe; sejenis alat suntik yang terdiri dari tabung dilengkapi penghisap, naf jarum dan jarum.
Sendok : tempat mencampur/melarutkan/meracik putaw dengan air yang dimasukan kedalam insulin
Sepapan (setrip) : satu baris di dalam jajaran obat
Separdu : sepaket berdua
Seperempi : ¼ gram
Sepotek : satu butir obat dibagi 2
Setangki : 1/2 gram
Set-du (seting dua) : dibagi untuk 2 orang
Setengki : ½ gram
Seting (ngeset) : proses mencampurkan heroin dengan air
Se-track : sekali hisap / sekali bakar
Shabu-shabu (ubas/basu) : metamfetamin
Snip : pakai putauw lewat hidung ( dihisap)
snow : kokain
Snuk : pusing / buntu
speedball : campuran heroin-kokain
Sperempi : 1/4 gram
Spirdu : sepaket berdua
Stag : shabu yang sedang dibakar di alumunium foil berhenti /mampet
Stock (STB/stock badai) : sisa heroin yang disimpan untuk dipakai pada saat nagih
Stone : mabuk
stokun : mabuk
Stengky : setengah gram
Sugest /sugesti : kemauan / keinginan untuk memakai narkoba

T
Tea : daun ganja
Teken : minum obat / pil / kapsul
Tokipan : minuman
Trigger : sugesti/ingin
TU : ngutang

U
Ubas : shabu

V
Val : valium (cair & tablet)

W
Wakas : ketagihan
Wangi : menunjukkan kualitas putaw yang baik yang terasa beraroma bila di dragon/disuntikkan
Weed : daun ganja

 dikutip dari www.kapanlagi.com

 

Informasi ini penting untuk diketahui para orang tua

LOOP DIRETICS pada gagal ginjal akut: prerenal azotemia

LOOP DIURETICS PADA GAGAL GINJAL AKUT:

PRERENAL AZOTEMIA

ROBERTUS HENGKY SUNGKIT (078115025)

A. PENDAHULUAN

Gagal ginjal akut (GGA) merupakan penurunan fungsi ginjal secara tiba-tiba yang ditandai dengan ketidakmampuan renal (ginjal) untuk mengeluarkan ’sampah’ sisa metabolit (air dan ’sampah’ nitrogen) dan menjaga keseimbangan asam basa. Peningkatan ’sampah’ nitrogen dalam darah (misalnya kreatinin dan nitrogen urea) disebut azotemia. Seseorang dikatakan mengalami GGA bila terjadi peningkatan kadar kreatinin (SrCr) >0,5 mg/dL (untuk SrCr dasar <2,5 mg/dL) dan peningkatan SrCr >1 mg/dL (untuk SrCr dasar >2,5 mg/dL). (Kimble & Anne, 2005)

GGA biasanya dialami oleh pasien rawat inap di RS dan jumlahnya hampir 2 per 3 dari seluruh keluhan yang berkaitan dengan ginjal. GGA yang terjadi sebelum masuk RS (community acquired acute renal failure) sekitar 1% dan ± 75% diantaranya disebabkan berkurangnya aliran darah ginjal (prerenal azotemia). Dari semua pasien GGA, 20-60% memerlukan dialisis sebagai terapi pertama dan 25% diantaranya memerlukan terapi dialisis jangka panjang karena penyakit ginjalnya bertambah parah.

Berdasarkan perkembangan penyakitnya (patogenesis), GGA dipengaruhi oleh beberapa keadaan fisiologis produksi dan eliminasi urin diantaranya:

  1. Darah yang mengalir ke glomeruli.
  2. Pembentukan dan pengolahan ultrafiltrat oleh glomeruli dan sel tubular.
  3. Pengeluran urin melalui ureter, kandung kemih, dan uretra.

Berdasarkan faktor-faktor diatas, GGA dapat dikelompokkan menjadi prerenal azotemia, gagal ginjal akut intrinsik, gagal ginjal akut fungsional dan obstruksi postrenal. Artikel ini hanya membahas GGA bagian prerenal azotemia.

B. PRERENAL AZOTEMIA

Prerenal azotemia disebabkan kurangnya aliran darah ke ginjal (hipoperfusi) dengan atau tanpa hipotensi (tekanan darah kurang dari normal). Hipoperfusi renal disertai hipotensi dapat disebabkan penurunan jumlah cairan tubuh (misalnya dehidrasi) atau penurunan volume darah efektif. Contoh penyakit dimana terjadi penurunan volume darah efektif tanpa pengurangan jumlah cairan tubuh adalah gagal ginjal kongestif dan gagal hati. Hipoperfusi renal tanpa hipotensi umumnya dikarenakan tersumbatnya kedua pembuluh arteri ginjal atau satu pembuluh arteri pada pasien dengan satu ginjal yang berfungsi. Sumbatan ini dapat diakibatkan oleh kolesterol maupun maupun thrombus (sumbatan karena ada darah yang membeku).

Keadaan diatas tidak menyebabkan kerusakan pada ginjal. Akan tetapi, kondisi hipoperfusi yang terus menerus menyebabkan ginjal kekurangan darah (iskemik) yang berakhir pada kematian sel tubulus (acute tubular necrosis). Sel tubulus berfungsi untuk menjaga keadaan normal tubuh dengan cara reabsorbsi (penyerapan kembali). Hal tersebut akan memperparah penyakit ginjal.

C. SASARAN, TUJUAN DAN STRATEGI TERAPI

Sasaran dari terapi GGA adalah penyebabnya. Penyebab dari prerenal azotemia adalah hipoperfusi renal. Dengan demikian, tujuan terapinya adalah menghilangkan hipoperfusi renal sembari menunggu ginjal pulih dan berfungsi dengan baik serta mencegah keparahan yang mungkin terjadi. Strategi yang diterapkan untuk menghadapinya adalah terapi tanpa obat (non farmakologis) dan terapi obat (terapi farmakologis). Terapi non farmakologis berupa terapi hidrasi. Terapi ini merupakan terapi pertama yang harus dilakukan dan cairan yang digunakan adalah NaCl 0,45% atau 0,9%. Terapi hidrasi yang cukup dapat meningkatkan perfusi renal dan menurunkan kerja dari sel tubulus. Harus diperhatikan agar pasien tidak mengalami over hidrasi khususnya pasien yang mengalami disfungsi ventrikular kiri atau preexisting liver. Hindari juga penggunaan obat-obat yang bersifat nefrotoksik (racun bagi ginjal) yaitu penisilin, ciprofloksasin, amfoterisin B, golongan aminoglikosida dan sulfonamid. Terapi farmakologis akan dibahas pada bagian selanjutnya.

D. OBAT PILIHAN : Diuretika Kuat (Loop Diuretic)

1. Nama generik: Furosemid

Nama dagang di Indonesia: Afrosic (produksi Heroic), Arsiret (Meprofarm), Diurefo (Pyridam), Farsiretic (Ifars), Farsix (Fahrenheit), Furosix (Landson), Gralixa (Graha Farma), Husamid (Gratia Husada Farma), Impugan (Alpharma), Lasix (Aventis), Laveric (Harsen), Mediresix (First Medipharma), Uresix (Sanbe Farma), Yekasix (Yekatria Farma)

Indikasi: edema, oliguria (urin yang dihasilkan < 400 ml/hari) karena gagal ginjal

Kontraindikasi: keadaan prakoma karena sirosis (pengerasan) hati, gagal ginjal dengan anuria (urin yang dihasilkan < 50 ml/hari)

Bentuk sediaan: Tablet 40 mg; Injeksi 10 mg/ml

Dosis, aturan pakai:

Dosis oral (tablet) pada oliguria

Dosis awal : 250 mg sehari; jika diperlukan dosis lebih besar, tingkatkan bertahap dengan 250 mg, dapat diberikan setiap 4-6 jam sampai dosis maksimal tunggal 2 g (jarang digunakan).

Dosis (injeksi) intramuscular atau intravena lepas lambat

Dosis awal 20-50 mg; Anak-anak 0,5 -1,5 mg/kg dengan dosis harian maksimal 20 mg

Dosis (injeksi) intravena pada oliguria

Dosis awal 250 mg selama 1 jam (kecepatan tidak lebih dari 4 mg/menit), jika tidak tercapai output urin yang diinginkan lanjutkan dengan dosis 500 mg selama 2 jam. Jika belum tercapai, lanjutkan lagi dengan dosis 1 g selama 4 jam; jika respon masih tidak memuaskan, mungkin diperlukan dialisis; dosis efektif (sampai dengan 1 g) dapat diulang setiap 24 jam

Efek samping: hiponatremia, hipomagnesia, hipokalemia (kekurangan ion natrium, kalium dan magnesium), alkalosis hipokloremik, ekskresi kalsium meningkat; jarang terjadi mual, gangguan pencernaan, hiperuricemia dan gout (penyakit asam urat); hiperglikemia (jarang terjadi jika dibandingkan golongan thiazid), kadar kolesterol dan trigliserid meningkat yang bersifat sementara; jarang terjadi ruam kulit, fotosensitivitas dan depresi sumsum tulang (hentikan pengobatan), pankreatitis (terjadi pada dosis besar injeksi), tinitus dan ketulian (biasanya karena pemberian dosis injeksi yang besar dan cepat, serta pada gangguan ginjal)

Resiko khusus (harus diperhatikan pada pasien dengan kondisi berikut): Hipotensi; kehamilan dan menyusui; dapat menyebabkan hipokalemia dan hiponatremia; memperburuk Diabetes Mellitus; gagal hati, pembesaran prostat

2. Nama generik: Bumetanid

Nama dagang di Indonesia: Burinex (Leo Pharmaceutical)

Indikasi: edema, oliguria (urin yang dihasilkan < 400 ml/hari) karena gagal ginjal

Kontraindikasi: keadaan prakoma karena sirosis (pengerasan) hati, gagal ginjal dengan anuria (urin yang dihasilkan < 50 ml/hari)

Bentuk sediaan: Tablet 1 mg; Injeksi 0,5 mg/2 ml

Dosis, aturan pakai:

Dosis oral (tablet) Satu mg pada pagi hari, ulangi setelah 6-8 jam jika perlu; kasus yang parah 5 mg sehari dengan pilihan meningkatkan sejumlah 5 mg setiap 12-24 jam tergantung respon; Usia Lanjut, 0,5 mg sehari mungkin cukup

Dosis (injeksi) intravena 1-2 mg, ulangi setelah 20 menit; Usia Lanjut, 0,5 mg sehari mungkin cukup

Dosis (infus) intravena 2-5 mg selama 30-60 menit; Usia Lanjut, 0,5 mg sehari mungkin cukup

Dosis (infus) intravena Dosis awal 1 mg kemudian disesuaikan terhadap respon; Usia Lanjut, 0,5 mg sehari mungkin cukup

Efek samping: lihat pada Furosemid; sakit kepala, lelah, myalgia (nyeri otot)

Resiko khusus (harus diperhatikan pada pasien dengan riwayat berikut): Hipotensi; kehamilan dan menyusui; dapat menyebabkan hipokalemia dan hiponatremia; memperburuk Diabetes Mellitus; gagal hati, pembesaran prostat

3. Nama generik: Torasemid

Nama dagang di Indonesia: Unat (Boehringer Mannheim)

Indikasi: edema, hipertensi

Kontraindikasi: keadaan prakoma karena sirosis (pengerasan) hati, gagal ginjal dengan anuria (urin yang dihasilkan < 50 ml/hari)

Bentuk sediaan: Tablet 2,5 mg, 5 mg, 10 mg; Injeksi 5 mg/ml

Dosis, aturan pakai:

Edema Lima mg sekali sehari, lebih baik pada pagi hari, tingkatkan jika diperlukan sampai 20 mg sekali sehari; maksimal 40 mg sehari

Hipertensi 2,5 mg sehari, tingkatkan jika diperlukan sampai 5 mg sekali sehari

Efek samping: lihat pada Furosemid; mulut kering

Resiko khusus (harus diperhatikan pada pasien dengan riwayat berikut): Hipotensi; hindarkan pada kehamilan dan menyusui; dapat menyebabkan hipokalemia dan hiponatremia; memperburuk Diabetes Mellitus; gagal hati, pembesaran prostat

DAFTAR PUSTAKA

_______, 2000, Informatorium Obat Nasional Indonesia 2000, Departemen Kesehatan RI, Jakarta

_______, 2006, British National Formulary, BMJ Publishing Group Ltd and RPS Publishing 2006, London

_______, 2006, Informasi Spesialite Obat Indonesia Volume 41, PT Anem Kosong Anem (AKA), Jakarta

Dipiro, Joseph T., 1997, Pharmacotherapy: A Pathophysiologic Approach 3rd edition, Apleton & Lange, London

Kimble K., dkk., 2005, Applied Therapeutics: The Clinical Use of Drugs 8th edition, Lippincott Williams & Wilkins, USA

What’s the matter with therapeutic respon and toxicity……..????

Ada apa dibalik respon terapetik dan toksisitas…??? Sebuah pertanyaan yang mungkin bagi sebagian orang awam diluar angan dan bayangan, tetapi bagi seorang farmasis hal tersebut kiranya menjadi suatu hal yang patut untuk diperbincangkan dan dipelajari lebih lanjut. Suatu pergeseran paradigma farmasis yang semula drug oriented menjadi patient oriented sangat terkait dengan hal ini, seorang farmasis tidak hanya dituntut untuk memberikan suatu pertimbangan obat yang berefek baik tetapi juga aman bagi pasien.

RESPON TERAPETIK

Interaksi antara molekul obat dengan reseptor menyebabkan serangkaian reaksi molekuler yang menghasilkan respon farmakologis. Respon terapetik dipengaruhi oleh aktivitas farmakokinetik dan farmakodinamik dimana aktivitas farmakodinamik merupakan hubungan antara konsentrasi obat pada sisi aktif reseptor dan respon farmakologis, dimana respon farmakologis mencakup efek biokimia dan fisiologis yang mempengaruhi obat dan reseptor. Sedangkan aktivitas farmakokinetik menggambarkan proses yang dialami obat dalam tubuh yang meliputi adsorbs, distribusi, biotransformasi, dan ekskresi.

TOKSISITAS

Suatu obat dapat menimbulkan efek terapi apabila kadar obat dalam plasma masuk dalam rentang jendela terapi dan suatu obat dapat menjadi racun.

Seperti yang dapat dilihat pada grafik dosis vs konsentrasi plasma yang menggambarkan rentang jendela terapi jika konsentrasi obat dalam plasma dibawah jendela terapi maka obat tersebut tidak akan menimbulkan efek begitu pula sebaliknya jika konsentrasi obat dalam plasma melebihi daerah jendela terapi maka obat tersebut bersifat toksik.

RESPON TERAPI DAN TOKSISITAS

Keberhasilan terapi sangat tergantung pada pemilihan obat dan dosis yang digunakan. Pemberian dosis pada pasien harus disesuaikan dengan keadaan pasien. Variasi profil farmakokinetik dan farmakodinamik pada tiap individu mengakibatkan pengaturan / pemberian dosis yang sesuai sulit untuk dilakukan. Penentuan dosis pada pasien dipengaruhi oleh beberapa factor, yaitu :

1. Aktivitas toksisitas

a. Jendela terapi

Banyak obat yang mempunyai jendela terapi luas, dalam artian selisih antara dosis toxic dan dosis efektif besar, tidak memerlukan regiment dosis tersendiri. Berdasarkan FDA (Food and Drug Administration), obat-obat ini digolongkan sebagai OTC (Over The Counter). Obat-obatan ini juga dapat diberikan tanpa resep dokter. Contohnya penicillin, sefalosporin, tetrasiklin, dll.

Selain itu, terdapat pula obat dengan jendela terapi yang sempit, dalam artian selisih antara dosis toxic dan dosis efektif kecil, yang memerlukan regiment dosis. Contohnya digoxin, aminoglikosida, antiaritmik, antikonvulsan, dan beberapa anti asma seperti theofilin.

b. Efek samping

Efek samping yang dimaksudkan di sini adalah efek samping yang tidak diinginkan dari penggunaan suatu obat. Dengan adanya efek samping ini, maka penentuan obat untuk terapi harus mempertimbangkan ratio antara manfaat dan risiko (risk-benefit ratio) penggunaannya.

c. Toksisitas

Dalam hal pemilihan obat tidak hanya dilihat apakah obat yang akan diberikan mempunyai efek terapi atau tidak, tetapi harus dipertimbangakan juga tentang keamanan pasien dalam mengkonsumsi obat ini. Yang dimaksud keamanan dalam hal ini apakah obat bersifat toksik dalam jangka pendek atau jangka panjang.

d. Hubungan antara konsentrasi-respon

Monitoring konsentrasi obat dalam plasma akan berharga penting hanya jika tetap berhubungan antara konsentrasi obat dalam plasma dengan efek terapi yang diinginkan atau antara konsentrasi obat dalam plasma dengan efek keterbalikan (adverse effects). Untuk itu jika konsentrasi obat dalam plasma dan efek terapi tidak berhubungan maka monitoring konsentrasi obat dalam plasma dapat diukur dengan parameter farmakodinamik yang lain

2. Farmakokinetik

Berdasarkan gambaran profil farmakokinetika secara umum maka secara umum didalam tubuh obat mengalami absorbsi, distribusi dan eliminasi. Proses tersebut sangat mempengaruhi kadar obat dalam plasma. Misalnya, suatu obat dapat terabsorbsi dengan cepat maka obat tersebut kadarnya akan lebih cepat menjadi tinggi di dalam plasma dibandingkan dengan obat yang absorbsinya lebih lambat. Tetapi juga harus dilihat dari segi eliminasi, jika obat cepat tereliminasi maka kadar obat dalam plasma akan cepat turun. Sehingga profil farmakokinetik tersebut dapat dilihat dari parameternya yaitu klirens, biavailabilitas dan t ½ eliminasi obat.

3. Factor klinik

a. Status pasien

1) Umur, berat badan

Regiment dosis harus dilakukan terutama pada anank-anak dan orang tua karena pada anak-anak fungsi organnya masih belum berfungsi dngan maksimal sedangkan pada orang tua fungsi organnya sudah menurun. Perubahan dan belum maksimalnya fungsi organ inilah yang menyebabkan adanya perbedaan pada profil farmakokinetik sehingga respon terapi juga berbeda.

2) Pengaruh adanya penyakit lain

Perlu dipertimbangkan adanya regimen dosis, misalnya untuk pasien dengan gangguan fungsi ginjal, hati, dll. Misalnya salah satu kasusnya jika obat yang akan digunakan merupakan pro-drug atau metabolitnya yang aktif dan proses metabolisme ini terjadi di hati sedangkan pasien tersebut menderita gangguan fungsi hati. Maka perlu dipertimbangkan pemilihan obat lain.

b. Terapi

Pemberian macam obat dan frekuensi penggunaan yang terlalu banyak, akan berpengaruh pada ketaatan pasien untuk mengkonsumsi obat. Selain itu, bentuk sediaan yang tidak sesuai akan berpengaruh pada kenyamanan penggunaan obat. Hal ini tentunya akan membuat pasien tidak taat dalam mengkonsumsinya obat. Jika pasien tidak taat dalam mengkonsumsi obat, tentunya akan berpengaruh pada efektivitas dari obat karena kadar obat dalam plasma tidak terpenuhi.

4. Factor-faktor lain

a. Rute pemberian

Kecepatan absorpsi obat dipengaruhi oleh rute pemberian. Obat yang tidak stabil pada saluran pencernaran atau obat yang mengalami first pass metabolism tidak tepat untuk digunakan secara peroral. Pemberian secara intravena merupakan rute pemberian yang paling cepat untuk mengantarkan obat kedalam system sirkulasi dan juga lebih cepat tereliminasi sehingga pemberian harus diberikan secara intensif.

Jika obat cepat terdistribusi maka konsentrasi pada plasma lebih cepat tercapai juga sehingga efek yang ditimbulkan lebih cepat. Dan dapat dipastikan bahwa respon terapy juga cepat tercapai.

b. Bentuk sediaan obat

Bentuk sediaan obat lebih terkait dengan proses absobsi, dimana jika suatu obat lebih cepat terabsorbsi maka efek yang ditimbulkan akan lebih cepat. Misalnya obat yang diberikan secara i.v akan lebih cepat berefek daripada diberikan secara oral.

c. Pharmacogenetics

Perbedaan genetic antara orang yang satu dengan orang yang lain menyebabkan adanya perbedaan fungsi fisiologis tiap orang. Secara tidak langsung hal itu akan berpengaruh pada respon terapi dan toksisitas.

Adanya perbedaan genetic pada masing-masing ras menyebabkan perbedaan fungsi fisilogis dari tubuh. Misalnya orang-orang Indonesia lambungnya lebih tahan asam daripada orang-orang Jepang, sehingga obat-obat yang bersifat asam lebih mudah terabsorbsi pada orang Indonesia.

d. Interaksi obat

Jika diberikan lebih dari satu obat maka ada kemungkinan obat yang satu akan meningkatkan atau menurunkan efektifitas dari obat yang lain. Misalnya pemberian warfarin dengan fenobarbital secara bersamaan, dimana metabolit dari warfarin bersifat kurang aktif dan proses metabolism ini terjadi pada sitokrom P-450. Sedangkan fenobarbital merupakan inductor enzim pemetabolisme pada sitokrom P-450. Hal ini akan menyebabkan metabolit yang kurang aktif dari warfarin akan lebih cepat terbentuk sehingga menjadi kurang efektif.

e. Biaya

Faktor biaya juga harus dipertimbangkan dalam pemilihan obat untuk pasien. Jangan sampai pasien menjadi sangat terbebani oleh biaya obat saja, karena harus dipikirkan selain obat pasien juga masih harus mengeluarkan biaya dokter, terapi non-obat, dan lain-lain.

DAFTAR PUSTAKA

Shargel, L. , 2005, Applied Biopharmaceutics & Pharmacokinetics, , Edisi V, Mc Graw Hill, New York

Disusun oleh :

Akursius Rony                 058114110

Wisely                              058114111

Tara Asie                         058114112

Francisca Tri W              058114133

Stella Maxda Juwita        058114135

 

 

Respon Terapetik dan Toksisitas (tugas 1)

Maria Corazon 058114065 Yosephin Dyah S.P. 058114113
Ika Marlinah 058114129 Donald Tandiose 058114130
Bernadetta T.K. 058114144
Respon Terapetik dan Toksisitas
Dari judul diatas apa yang terlintas di benak kita??? Apa itu respon terapetik dan apa itu toksisitas? Apa kaitan antara tema diatas dengan mata kuliah farmakokinetika klinik?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut hendaknya kita paham tentang pengertian dari farmakokinetika klinik, respon terapetik dan toksisitas serta kaitan atau hubungan ketiganya. Farmakokinetika klinik merupakan penerapan prinsip farmakologi dalam penanganan suatu penyakit. Adapun prinsip farmakologi berkaitan dengan farmakokinetik dan farmakodinamik. Farmakokinetik dapat diartikan sebagai nasib obat didalam tubuh atau hal-hal yang dialami obat hingga mencapai cairan plasma, sedangkan farmakodinamik menyatakan pengaruh kerja obat dalam tubuh hingga memberikan efek tertentu. Respon terapeutik dapat diartikan sebagai hasil kerja obat hingga mencapai efek yang diinginkan dari penggunaan obat tersebut. Sedangkan toksisitas dapat diartikan sebagai suatu efek yang tidak diinginkan dari suatu penggunaan obat yang digunakan dengan dosis yang lazim digunakan.
Diketahui bahwa intensitas efek farmakologik suatu obat tergantung pada kadar obat tersebut dalam cairan tubuh yang berada disekitar tempat aksi. Dengan demikian timbul pemikiran bahwa mestinya efek farmakologik dapat dioptimalkan dengan mengatur kadar obat di tempat aksinya, selama periode waktu tertentu. Lebih lanjut, dengan mengetahui tempat aksi obat dan mengetahui perubahan-perubahan yang dilakukan oleh tubuh terhadap obat (absorpsi, distribusi obat ke tempat aksi dan eliminasinya), maka dapat dilakukan penelitian-penelitian untuk mencari dosis optimal, berdasarkan kadar obat yang terukur dalam darah.
Berdasarkan pernyataan diatas dapat diketahui bahwa efek suatu obat (onset dan durasi) sangat dipengaruhi oleh kecepatan untuk mencapai kadar maksimum (Cm) dan waktu obat dieliminasi. Terdapat 4 kemungkinan yang terjadi yaitu, jika :
1. Distribusi cepat dan eliminasi lambat.
2. Distribusi lambat dan eliminasi cepat
3. Distribusi cepat dan eliminasi juga cepat
4. Distribusi lambat dan eliminasi juga lambat
Therapeutic Drug Monitoring (TDR)
Pada penjelasan diatas sangat ditekankan bahwa untuk memberikan suatu efek, obat harus mencapai kadar maksimumnya pada cairan tubuh. Pernyataan ini dapat kita anggap benar, namun kita harus ingat bahwa belum tentu dengan kadar yang maksimum (sangat pekat) dalam darah, suatu obat memberikan efek terapetik (menyembuhkan), ada kemungkinan bahwa kadar yang maksimum tersebut malah dapat memberikan suatu efek yang toksik. Oleh karena itu pada penjelasan selanjutnya penulis akan mencoba menjelaskan rentang efek terapi dan efek toksik suatu obat.
Setiap obat mempunyai batas / range konsentrasi untuk memberikan efek terapi dan efek toksik. Range ini disebut sebagai jendela terapi/therapeutic drug monitoring (TDM). Ada tiga daerah yang harus diperhatikan pada TDM, yaitu:
 KEM (Konsentrasi Efektif Minimum), menyatakan batas terendah suatu obat untuk memberikan efek. Jika konsentrasi obat dalam plasma dibawah KEM maka obat tersebut tidak akan memberikan efek terapi.
 Jendela terapi, merupakan daerah suatu obat untuk memberikan efek terapi
 KTM, menyatakan batas atas penggunaan suatu obat. Jika suatu konsentrasi suatu obat diatas KTM maka yang akan muncul adalah efek toksik.
TDR sangat diperlukan untuk menjamin keamanan penggunaan suatu obat seperti,
a) Bila obat mempunyai lingkup terapi sempit, misalnya aminoglikosida,fenitoin
b) Bila obat dipakai dalam jangka waktu lama sehingga ada kekhawatiran akumulasi, misalnya fenitoin dan fenobarbital pada pasien epilepsi,
c). Bila variasi antar individu dalam proses kinetik besar sekali, sehingga meskipun pada dosis lazim mungkin efek terapetik yang terjadi tidak adekuat, atau mungkin malah terlalu besar. Sebagai contoh adalah teofilin untuk bronkodilator pada asma.
Agar tetap masuk dalam jendela terapi, ada beberapa hal yang harus diperhatikan yaitu pemberian dosis atau konsentrasi obat berdasarkan berat badan dan luas tubuh pasien (farmakokinetika), kondisi patofisiologi pasien dan melihat daftar medis penggunaan obat pasien selain itu juga penting dalam melihat lama waktu pengunaan obat, atau sudah penggunaan dosis ke berapa, ada tidaknya perubahan dosis.
Adapun TDR sangat berperan dalam penentuan “how much ; how often :how long” seperti :
 Pemilihan obat
 Desain aturan pemakaian obat
 Mengevaluasi respon pasien terhadap obat
 Penentuan kadar obat yang dibutuhkan oleh pasien
 Menunjukkan profil farmakokinetika obat

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI ATURAN DOSIS
Adapun factor yang mempengaruhi pemberian dosis obat, adalah :
1. Potensi ketoksikan, antara lain :
a. Jendela terapi, merupakan range daerah batas aman ( antara KEM dan KTM ). Ada beberapa obat yang memiliki jendela terapi yang sempit, sehingga memiliki potensi ketosikan. Untuk mengatasi permasaahan ini, kita harus mengatur antara dosis dan waktu pemberian, sehingga obat tersebut masuk dalam jendela terapi.
b. Adverse drug reaction (ADR), merupakan efek yang tidak diinginkan, yang timbul pada penggunaan obat pada dosis terapi. Untuk meminimalkan ADR yang muncul, maka perlu mengatur dosis dan lama masa serta frekuensi pemberian obat.
c. Efek toksik, merupakan efek yang tidak diinginkan pada penggunaan obat dengan dosis berlebih ( dosis toksik). Contoh : penggunaan parasetamol, bila digunakan pada dosis berlebih, maka salah satunya akan menimbulkan kanker hati atau kerusakan hati. Maka kita harus menggunakan parasetamol dalam dosis terapi.
d. Hubungan antara konsentrasi dan respon
Pada rentang dosis tertentu hubungan antara konsentrasi dan respon dapat menimbulkan efek terapi, tetapi dapat juga menimbulkan efek toksik. Di mana semakin tinggi konsentrasi, maka respon yang ditimbulkan semakin besar ( respon terapetik dan respo toksik ). Contoh : Loading dose, dengan dosis yang tinggi pada awal pemakaian dapat meingkatkan konsentrasi obat dalam darah dan dapat mempercepat timbulnya respon.
2. Farmakokinetika
a. Absorbsi, merupakan proses penyerapan obat dari tempat pemberian sampai ke system sistemik. Banyak factor yang mempengaruhi absorbsi, salah satunya yaitu kecepatan pengosongan lambung.
Obat yang absorbsinya tidak dipengaruhi oleh makanan maka dosisnya tidak perlu diubah, tetapi obat yang absorbsinya dipengaruhi oleh makanan maka dalam penggunaannya digunakan sebelum makan atau dapat digunakan setelah makan.
b. Distribusi, merupakan perpindahan obat dari saluran sistemik ke tempat aksinya. Apabila suatu obat memilki waktu paruh yang lama, maka kecepatan distribusi obat semakin cepat dan akan semakin cepat terjadi akumulasi (terjadinya efek toksik). Untuk mengatasi hal tersebut, maka dosis dan cara pemakaiannya harus dikurangi.
c. Metabolisme, merupakan proses perubahan obat menjadi metabolitnya ( aktif dan non aktif). Semakin besar dosis suatu obat, maka kemungkinan metaboilit aktif semakin banyak, maka respon yang dihasilkan juga akan semakin besar.
d. Ekskresi, berkaitan dengan eliminasi. Dimana semakin cepat eliminasi suatu obat, maka durasinya juga semakin cepat. Untuk mengatasinya maka frekuensi penggunaan obat perlu ditingkatkan agar tetap masuk dalam jendela terapi.
3. Factor klinik
a. Keadaan pasien
– Umur dan berat badan, pengaturan suatu dosis obat dipengaruhi oleh umur ini berkaitan dengan fungsi organ. Fungsi organ pada bayi belum dapat berfungsi secara optimal, sedangkan pada manula fungsi organnya sudah mengalami penurunan., Berat badan juga mempengaruhi pengaturan dosis, maka sebaiknya pengaturan dosis berdasarkan berat badan pasien.
– Kondisi pasien yang diterapi ,sebagai contoh, pada pasien geriatric dan pediatric, maka pengaturan dosis harus diperhitungkan.
– Adanya penyakit lain, adanya penyakit lain selain penyakit utama berupa kelainan fungsi organ ekskresi. Sebagai contoh: mengobati penyakit DM disertai gangguan ginjal, maka karena obat sukar di ekskresi, penggunaan dosis obat harus diturunkan, tetapi masih dalam dosis terapi.
b. Manajemen terapi
– Multiple drug therapy, berkaitan dengan penggunaan obat yang lebih dari satu. Maka kita harus mengatur banyaknya dosis, frekuensi pemberian selama sehari dan lama penggunaan obat. Hal ini untuk mencegah adanya efek toksik dan untuk mengatur ketaatan pasien dalam penggunaan obat.
– Pemakaian yang praktis, hal ini berkaitan dengan kondisi pasien dan kenyamanan penggunaan. Misalnya pada pasien yang tidak sadar, sebaiknya pemilihan obat disesuaikan, tidak mungkin diberikan secara oral, melainkan secara injeksi. Selain itu, yang berkaitan dengan kenyamanan pasien pada penggunaan sirup lebih nyaman pada anak-anak daripada penggunaan tablet.
– Ketaatan pasien, berkaitan dengan frekuensi dan lama penggunaan obat. Jika frekuensi penggunaan obat terlalu sering dan waktu penggunaannnya sangat lama, maka akan timbul ketidaktaatan pada pasien. Untuk mengatasi hal ini, dipilih obat yang memilki durasi yang lama, untuk meminimalkan frekuensi penggunaan obat.
4. Faktor lain
a. Rute pemberian dan bentuk sediaan, rute pemberian berkaitan dengan besarnya dosis dan seberapa sering penggunaan obat. Dosis pemberian secara i.v lebih kecil dibandingkan p.o. hal ini karena pada i.v tidak terjadi proses absorbsi, karena pada proses absorbsi juga terjadi proses eliminasi, dan frekuensi i.v lebih sedikit. Selain itu frekuensi penggunaan i.v lebih sedikit dibandingkan oral. Hal ini, karena pada pemberian i.v langsung masuk dalam sirkulasi sistemik, sedangkan pada p.o membutuhkan waktu yang lama untuk mencapai tujuan terapi.
b. Toleransi, berkaitan dengan peningkatan dosis untuk mnecapai efek yang diinginkan. Toleransi dilakukan, ketika suatu dosis belum mencapai efek yang diinginkan. Contoh; antibiotik
c. Farmakogenetika-idiosinkrasi, berkaitan dengan pengaruh gen terhadap suatu obat. Sebagai contoh : seseorang yang menderita kelainan gen sitokrom P-450.
d. Interaksi obat, pemberian obat secara bersama, dapat menimbulkan efek yang meningkatkan atau menurunkan. Sebagai contoh penggunaan fenobarbital dan simetidin. Dimana fenobarbtal bila diberikan bersamaan dengan simetidin, maka fenobarbital dapat meningkatkan efek dari simetidin.
e. Biaya, biaya sangat berpengaruh terhadap frekuensi penggunaan obat dan lama penggunaan. Apabila suatu obat harus diberikan dalam jangka waktu yang sangat panjang maka kita harus memperhitungkan faktor sosio-ekonomi pasien. Sebagai contoh pasien dengan penyakit TBC yang harus meminum banyak obat. Jika pasiennya kurang mampu, maka sebaiknya kita menyarankan untuk memberikan obat generik daripada obat paten.

DAFTAR PUSTAKA
http://www.google.com “Bagian Farmakologi Klinik Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada”
diakses tanggal 21 february 2008.
http://en.wikipedia.org/wiki/Adverse_drug_reaction, diakses tanggal 21 februari 2007
Shargel, Leon dkk, 2005, Applied Biopharmaceutics and Pharmacokinetics fifth edition, America, the McGraw-Hill companies.
Lee, Anne, 2006, Adverse Drug Reaction, USA, pharmaceutical press
Anonim, 2003, farmakologi dan terapi edisi 4, bagian farmakologi fakultas kedokteran gigi universitas Indonesia, Jakarta

TUGAS FARMAKOKINETIKA KLINIK 1

RESPON TERAPEUTIK VS TOKSISITAS ASPIRIN

 

Efek terapeutik obat tergantung dari banyak faktor, antara lain dari cara dan bentuk pemberiannya, sifat fisikokimiawinya yang menentukan resorpsi, biotransformasi dan ekskresinya dalam tubuh. Begitu pula dari kondisi fisiologis pemakai (fungsi hati, ginjal, usus, dan peredaran darah). Faktor – faktor individual lainnya, misalnya etnik, kelamin, luas permukaan badan dan kebiasaan makan juga sangat penting. Setiap obat dalam dosis yang cukup tinggi dapat mengakibatkan efek toksis. Pada umumnya, reaksi toksis berhubungan langsung dengan tingginya dosis, bila dosis diturunkan, efek toksis dapat dikurangi pula.

Sifat dan intensitas efek suatu bahan kimia bergantung pada kadarnya di tempat kerja, yaitu dosis efektifnya. Umumnya, kadarnya di dalam organ sasaran merupakan fungsi kadar darah. Namun, peningkatan toksikan dalam jaringan akan menambah kadarnya, sementara sawar jaringan cenderung mengurangi kadarnya. Karena kadar darah lebih mudah diukur, terutama pada jangka waktu tertentu, inilah parameter yang sering digunakan dalam penelitian toksikokinetik.

Artikel ini akan membahas berbagai bentuk dan mekanisme interaksi obat dan dampaknya secara klinik serta bagaimana menghindari kemungkinan-kemungkinan dampak yang merugikan. Interaksi obat adalah peristiwa di mana aksi suatu obat diubah atau dipengaruhi oleh obat lain yang diberikan bersamaan. Kemungkinan terjadinya peristiwa interaksi harus selalu dipertimbangkan dalam klinik, manakala dua obat atau lebih diberikan secara bersamaan atau hampir bersamaan.. Interaksi dapat membawa dampak yang merugikan kalau terjadinya interaksi tersebut sampai tidak dikenali sehingga tidak dapat dilakukan upaya-upaya optimalisasi. Secara ringkas dampak negatif dari interaksi ini kemungkinan akan timbul efek samping dan tidak tercapainya efek terapetik yang diinginkan.

Interaksi obat berdasarkan mekanismenya dapat dibagi menjadi 3 golongan besar, yaitu :

1.      Interaksi farmasetik

Adalah interaksi fisiko-kimia yang terjadi pada saat obat diformulasikan/disiapkan sebelum obat di gunakan oleh penderita. Misalnya dua obat yang dicampur pada larutan yang sama dapat terjadi reaksi kimia atau terjadi pengendapan salah satu senyawa, atau terjadi pengkristalan salah satu senyawa. Bentuk interaksi:

a. Interaksi secara fisik

Misalnya : Terjadi perubahan kelarutan dan penurunan titik beku

b. Interaksi secara khemis

Misalnya : Terjadinya reaksi satu dengan yang lain atau terhidrolisisnya suatu obat selama dalam proses pembuatan ataupun selama dalam penyimpanan.

2.      Interaksi farmakokinetik

Pada interaksi ini obat mengalami perubahan pada proses ADME yang disebabkan karena obat/senyawa lain. Hal ini umumnya diukur dari perubahan pada satu atau lebih parameter farmakokinetika, seperti konsentrasi serum maksimum, luas area dibawah kurva, waktu, waktu paruh, jumlah total obat yang diekskresi melalui urine, dsb.

3.  Interaksi farmakodinamik.

Adalah obat yang menyebabkan perubahan pada respon pasien disebabkan karena berubahnya farmakokinetika dari obat tersebut karena obat lain yang terlihat sebagai perubahan aksi obat tanpa mengalami perubahan konsentrasi plasma. Misalnya naiknya toksisitas dari digoksin yang disebabkan karena pemberian secara bersamaan dengan diuretic boros kalium misalnya furosemid

 

METABOLISME OBAT

Hepar adalah organ utama dalam metabolisme obat, terutama obat-obat per oral. Pada dasarnya enzim hepar merubah obat menjadi bahan yang lebih polar dan mudah larut dalam air sehingga, mudah diekskresi melalui ginjal dan empedu. Metabolisme obat dalam hepar ada 2 tahap. Pada tahap I, terjadi reduksi hidrolisa dan oksidasi. Pada tahap ini belum terjadi proses detoksikasi, karenanya kadang-kadang terbentuk suatu bahan metabolit yang justru bersifat toksik. Pada tahap ke II, terjadi reaksi konjugasi dengan asam glukoronat, sulfat glisin, sehingga terbentuk bahan yang kurang toksik, mudah larut dalam air dan secara biologis kurang aktif. Metabolisme ini terjadi dalam mikrosom sel hati, dan yang berperan: NADPH C Reduktase dan Sitokrom p 450.

Salah satu obat yang kami bahas dalam artikel ini yang memiliki efek terapetik dan toksisitas adalah Aspirin. Aspirin/asam asetil salisilat/asetosal merupakan obat hepatotoksik (obat yang dapat menyebabkan kelainan pada hepar dan tergantung pada besarnya dosis (Predictable)). Gejala hepatotoksik timbul bila kadar salisilat serum lebih dari 25 mg/dl (dosis : 3 – 5 g/hari). Keadaan ini nampaknya sangat erat hubungannya dengan kadar albumin darah, karena bentuk salisilat yang bebas inilah dapat merusak hepar. Pemilihan obat pada anak terbatas pada NSAID yang sudah diuji penggunaannya pada anak, yaitu: aspirin, naproksen atau tolmetin, kecuali pemberian aspirin pada kemungkinan terjadinya Reye’s Syndrome, aspirin untuk menurunkan panas dapat diganti dengan asetaminofen, nimesulide, seperti halnya NSAID lain, tidak dianjurkan untuk anak dibawah 12 tahun karena aspirin bersifat iritatif terhadap lambung sehingga meningkatkan risiko ulkus (luka) lambung, perdarahan, hingga perforasi (kebocoran akibat terbentuknya lubang di dinding lambung), serta menghambat aktivitas trombosit (berfungsi dalam pembekuan darah) sehingga dapat memicu resiko perdarahan).

 

ASPIRIN

MEKANISME KERJA

®    Mengasetilasi enzim siklooksigenase dan menghambat pembentukan enzim cyclic endoperoxides.

®    Menghambat sintesa tromboksan A-2 (TXA-2) di dalarn trombosit, sehingga akhirnya menghambat agregasi trombosit.

®    Menginaktivasi enzim-enzim pada trombosit tersebut  secara permanen. Penghambatan inilah yang mempakan cara kerja aspirin dalam pencegahan stroke dan TIA (Transient Ischemic Attack).

®    Pada endotel pembuluh darah, menghambat pembentukan prostasiklin. Hal ini membantu mengurangi agregasi trombosit pada pembuluh darah yang rusak.

FARMAKOKINETIKA

Mula kerja : 20 menit -2 jam.

Kadar puncak dalam plasma: kadar salisilat dalam plasma tidak berbanding lurus dengan besamya dosis.

Waktu paruh : asam asetil salisilat 15-20 rnenit ; asarn salisilat 2-20 jam tergantung besar dosis yang diberikan.

Bioavailabilitas : tergantung pada dosis, bentuk, waktu pengosongan lambung, pH lambung, obat antasida dan ukuran partikelnya.

Metabolisme : sebagian dihidrolisa rnenjadi asarn salisilat selarna absorbsi dan didistribusikan ke seluruh jaringan dan cairan tubuh dengan kadar tertinggi pada plasma, hati, korteks ginjal , jantung dan paru-paru.

Ekskresi : dieliminasi oleh ginjal dalam bentuk asam salisilat dan oksidasi serta konyugasi metabolitnya.

FARMAKODINAMIK

Adanya makanan dalam lambung memperlambat absorbsinya ; pemberian bersama antasida dapat mengurangi iritasi lambung tetapi meningkatkan kelarutan dan absorbsinya. Sekitar 70-90 % asam salisilat bentuk aktif terikat pada protein plasma.

EFEK TERAPEUTIK

Menurunkan resiko TIA atau stroke berulang pada penderita yang pernah menderita iskemi otak yang diakibatkan embolus. Menurunkan resiko menderita stroke pada penderita resiko tinggi seperti pada penderita tibrilasi atrium non valvular yang tidak bisa diberikan anti koagulan.

KONTRAINDIKASI

Hipersensitif terhadap salisilat, asma bronkial, hay fever, polip hidung, anemi berat, riwayat gangguan pembekuan darah.

INTERAKSI OBAT

Obat anti koagulan, heparin, insulin, natrium bikarbonat, alkohol clan, angiotensin converting enzymes.

EFEK SAMPING

Nyeri epigastrium, mual, muntah , perdarahan lambung.

EFEK TOKSIK

Tidak dianjurkan dipakai untuk pengobatan stroke pada anak di bawah usia 12 tahun karena resiko terjadinya sindrom Reye. Pada orang tua harus hati- hati karena lebih sering menimbulkan efek samping kardiovaskular. Obat ini tidak dianjurkan pada trimester terakhir kehamilan karena dapat menyebabkan  gangguan pada janin atau menimbulkan komplikasi pada saat partus. Tidak dianjurkan pula pada wanita menyusui karena disekresi melalui air susu.

DOSIS

FDA merekomendasikan dosis: oral 1300 mg/hari dibagi 2 atau 4 kali pemberian. Sebagai anti trombosit dosis 325 mg/hari cukup efektif dan efek sampingnya lebih sedikit.

 

UPAYA MENGHINDARI DAMPAK NEGATIF

1. Hindari pemakaian obat gabungan (polifarmasi), kecuali jika memang kondisi penyakit yang diobati memerlukan gabungan obat dan pengobatan gabungan tersebut sudah diterima dan terbukti secara ilmiah manfaatnya.

2. Kenali sebanyak mungkin kemungkinan interaksi yang timbul pada obat-obat yang sering diberikan bersamaan dalam praktek polifarmasi.

3. Jika ada interaksi, perlu dilakukan tindakan-tindakan, misal pengurangan dosis atau mengganti obat lain yang memiliki efek terapetik yang sama tapi tidak menimbulkan interaksi yang  merugikan.

4. Evaluasi efek sesudah pemberian obat-obat secara bersamaan untuk menilai ada tidaknya efek samping/toksik dari salah satu atau kedua obat.

 

DAFTAR PUSTAKA

Anonim 2008, http://209.85.175.104/search?q=cache:aH4ba3H8RPIJ:library.usu.

ac.id, Diakses tanggal 21 Februari 2008

Lu, Frank C,1995, Toksikologi Dasar, ed 2, 25-27, UI Press, Jakarta

Raharja, Kirana, Drs, 1997, Obat-Obat Penting, ed 5, 35, 39, Penerbit Elex Media Computindo, Jakarta

 

Disusun oleh:

Arif Eka Santoso (048114138)

Rosye Octavyani (058114058)

Maria Widiastuti Dwi Nugraha (058114067)

Linna Ferawati Gunawan (058114070)


 

 

Sinergi