Prevent and Treat High Blood Pressure! (Ubah gaya hidup anda maka anda akan merasakan perubahan yang besar! Dan jauh dari obat-obatan

Hal ini akan berlaku baik bagi yang sudah terdiagnosa hipertensi (HT) maupun yang belum terdiagnosa, tapi memiliki kepedulian akan faktor resiko yang mengacu pada terjadinya HT. satu hal yang perlu diingat bahwa tekanan darah yang tinggi tidak dapat disembuhkan, namun dapat dikendalikan.
Hal-hal positif dengan melakukan perubahan gaya hidup:
• Menekan terjadinya kenaikan tekanan darah
• Mencegah maupun “menghambat” terjadinya HT
• Meningkatkan efektivitas dari penggunaan obat-obat antihipertensi
• Menurunkan resiko terkena serangan jantung, stroke maupun penyakit jantung (kardiovaskular) lainnya

Kenali!
Dari orang-orang yang menderita HT, sebesar 20% diantaranya tidak menyadari kondisi mereka masing-masing. Kita adalah pihak yang paling mengenali dan bertanggungjawab atas tubuh kita sendiri, karena itu, kenalilah gejala-gejala yang tubuh kita coba tunjukkan kepada kita, bahwa “something’s wrong inside” supaya kita bisa melakukan treatment yang tepat pula! Karena itu, tidak ada salahnya bila kita merasa ada yang aneh dengan tubuh kita, segeralah menemui pakar kesehatan (dalam hal ini bisa Dokter maupun Apoteker) untuk sekedar berkonsultasi dan mencari second opinion.

Ubah gaya hidup = kurangi resiko!
Meskipun tekanan darah anda masih dinyatakan normal (yaitu sistolik kurang dari 120 mm Hg dan diastolik kurang dari 80 mm Hg) dan tujuan anda adalah untuk pencegahan modifikasi gaya hidup seolah-olah menjadi resep menuju hidup sehat. Namun bagi yang sudah terdiagnosa HT, maka modifikasi gaya hidup yang esensial antara lain:
• Mengurangi asupan garam
• Mengatur berat badan
• Melakukan aktivitas fisik normal, sesuai kemampuan
• Kendalikan stress
• Mengurangi asupan alkohol dan rokok

Lakukan pengobatan dengan baik bila setelah menerima resep dari dokter!
Bagi penderita HT dengan tekanan darah diatas 140/90 mm Hg, maka jelas dibutuhkan obat dalam terapi. Terapi untuk HT biasanya merupakan terapi jangka panjang, bahkan seringkali disebutkan lifetime therapy. Berikut ini merupakan golongan obat yang biasa digunakan dalam terapi HT:
Diuretics

Beta-blockers

ACE inhibitors

Angiotensin II receptor blockers

Calcium channel blockers

Namun yang akan saya beritahukan disini bukanlah mengenai mekanisme pengobatan, namu mengenai efek samping yang kemungkinan muncul akibat penggunaannya.
Diuretik
Kemungkinan terbesar adalah menurunkan suplai mineral potassium pada tubuh. Gejala yang umumnya ditunjukkan adalah tubuh mudah lemah, maupun kram pada bagian kaki. Untuk mengatasinya, anda dapat mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung potassium, atau bisa juga dengan mengkonsumsi tablet potassium bersamaan dengan konsumsi diuretik. Beberapa orang bahkan terkena gout setelah mengonsumsi diuretik dalam jangka panjang.
Orang dengan Diabetes Mellitus tipe 2 (DM2) harus mewaspadai penggunaan diuretik ini karena dapat menyebabkan peningkatan kadar gula darah. Namun para dokter biasanya sudah mewaspadai adanya peresepand diuretik ini pada pasien DM2.

Beta-blockers
Penggunaan golongan ini harus diperhatikan terutama pada wanita yang sedang merencanakan kehamilan, atau pada saat sedang menjalani terapi diketahui pasien wanita tersebut hamil. Untuk hal ini perlu dikonsultasikan ke dokter untuk mendapatkan pengubahan dosis atau mungkin penggantian golongan obat untuk terapi HT. namun, efek samping yang lebih umum terjadi antara lain adalah insomnia, detak jantung yang melambat, gejala seperti asma, tangan dan kaki terasa dingin.

ACE inhibitors
Pasien wanita yang sedang mengonsumsi obat golongan ini sangat tidak diharapkan untuk hamil pada saat terapi! Hal ini karena obat-obat golongan ACE inhibitor ini dapat menyebabkan hipotensi yang mengacu pada kegagalan ginjal sehingga dapat membahayakan terutama nyawa bayi (neonates). Efek samping yang lebih umum terjadi adalah ruam pada kulit, namun untuk konsumsi jangka panjang dapat juga menyebabkan kerusakan ginjal.

ARB
Terkadang menyebabkan pusing. Hampir seperti golongan-golongan sebelumnya, kehamilan tidak diharapkan selama terapi dengan obat antihipertensi. Khusus untuk ARB, konsumsi obat golongan ARB pada masa kehamilan dapat menyebabkan terhambatnya perkembangan janin sehingga terkadang menyebabkan terjadinya malformasi pada janin. Perlu konsultasi lebih lanjut pada dokter mengenai penggunaan obat ini pada wanita hamil.

Calcium Channel Blocker (CCB)
Efek samping yang umumnya ditemui adalah palpitasi, persendian kaki membengkak, konstipasi, pusing.

C.A.Rosita Indah A.
068114170

–Berapa seh Vitamin C yang kita butuhkan ?????–

Akhir-akhir ini peredaran vitamin di pasaran semakin meningkat, bukan hanya di apotek, dan sekarang terdapat di supermarket bahkan di warung-warung kecilpun menjual vitamin. Iklan-iklan mengenai vitamin baik di media cetak maupun elektronik, serta perusahaan-perusahaan multilevel yang menawarkan vitamin juga semakin banyak. Peningkatan peredaran vitamin di pasaran tidak lepas dari meningkatnya tingkat konsumsi dari masyarakat kita. Kesadaran untuk menjaga kesehatan dan pola hidup sehat yang mendorong untuk mengkonsumsi vitamin. Tetapi tidak kita sadari bahwa penggunaan vitamin harus dibatasi atau kita perlu magetahui waktu yang tepat untuk mengkonsumsinya. Masyarakat kita sering tidak mengetahiu efek samping dari penggunaan vitamin jangka panjang atau penggunaan vitamin yang tidak terkontrol
Dari sebuah penelitian yang dilakukan, dari berbagai jenis vitamin yang ada, masyarakat paling banyak mengkonsumsi vitamin C, baik dalam bentuk tunggal maupun kombinasi multivitamin.
Vitamin C merupakan vitamin yang larut air. Vitamin ini dieksresikan dari dalam tubuh melalui ginjal dan tidak disimpan dalam tubuh dalam jumlah besar, sehingga terdapat kemungkinan untuk defisiensi vitamin ini. Dalam sehari vitamin C yang diperlukan tubuh kira- kira 100 mg.


Berapa Dosis vitamin C yang ideal ????? (How Much)


Dosis konsumsi vitamin C yang ideal adalah 75-100 miligram per hari. Untuk wanita hamil dan ibu menyusui dianjurkan mengonsumsi vitamin C lebih besar dari jumlah tadi. Ada juga yang berpendapat cukup mengonsumsi 200 miligram sehari. Untuk anak usia 5 tahun sebesar 45 miligram per hari. Untuk orang yang hidup dengan stres atau mereka yang tinggal di kota besar yang penuh polusi, seperti Jakarta, dosis 500 miligram adalah dosis yang cukup baik, dalam hal ini vitamin C bertindak sebagai antioksidan untuk mengatasi radikal bebas. Dari beberapa penelitian diperoleh t ½ dari vitamin C yaitu 10 jam, dengan diketahui waktu paruhnya penggunaan vitamin C dapat kita kontrol baik dari segi frekuensi maupun lama pemberian.
Teman-teman pasti sudah pernah menonton atau melihat iklan salah satu produk vitamin C, yang mengatakan bahwa tubuh kita memerlukan 1000 miligram vitamin C agar tidak sakit. Sebenarnya 1000 miligram dari vitamin itu mubazir karena tidak sampai 1000 miligram vitamin C yang diperlukan tubuh, kelebihan vitamin C ini akan dibuang lewat urine kita. Betapa mubazir dan rugi kita??? Oleh karena itu sangat penting sekali kita mengetahui dosis vitamin C yang kita butuhkan sebab asupan vitamin C juga sudah kita dapat dari makanan atau buah-buahan bergizi.

Banyak sekali efek samping yang ditimbulkan jika mengkonsumsi vitamin C dalam jumlah berlebih antara lain untuk balita jangan mengkonsumsi vitamin C lebih dari 400 miligram karena bisa menyebabkan diare sedangkan untuk orang dewasa tidak boleh mengkonsumsi lebih dari 2000 miligram sehari karena dapat menyebabkan maag juga dapat menyebabkan gangguan kerja ginjal. Efek samping yang paling berbahaya dari konsumsi vitamin C yang berlebih dan tidak terkontrol adalh terjadinya batu ginjal. Untuk penderita maag juga hati-hati dalam konsumsi vitamin C karena vitamin C bersifat asam, oleh karena itu sebaiknya makan terlebih dahulu untuk menghindari rasa perih di daerah lambung.
Banyak manfaat yang dapat diambil bila mengkonsumsi vitamin C, tapi yang harus perlu diingat bahwa mengkonsumsi vitamin C bukan merupakan terapi utama tetapi merupakan terapi penunjang (tujuan terapinya yaitu mencegah). Harus berhati-hati mengkonsumsi vitamin C bila mempunyai riwayat penyakit maag dan batu ginjal karena dapat memperparah penyakit ini.

Pustaka :
Anonim, 2010, Clinical pharmacokinetics of antioxidants and their impact on systemic oxidative stress, http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/12739983, diakses tgl 27 Maret 2010
Anonim, 2010, Vitamin C, http://health.detik.com/read/berapa-dosis-vitamin-c, diakses tgl 27 Maret 2010
Oleh :
Fetri Anastasia (078114101)-Ridho Prayogie (078114103) -

Maretta Putri (078114 104) –Paulus Febrianto Silor (078114130)

Minum Amoxicillin??? Hati-hati lhow!!!

MINUM AMOXICILLIN??? HATI-HATI LHOW!!!

Amoxicillin merupakan antibiotika golongan penisilin yang paling sering digunakan oleh masyarakat di Indonesia hingga mencapai 71%. Beberapa nama dagang/paten dari antibiotika ini ialah Penmox, Intermoxyl, Ospamox, Amoxsan, Hufanoxyl, dan Yusimox. Amoxicillin digunakan untuk mengobati infeksi pada telinga tengah, radang tonsil, radang tenggorokan, radang pada laring, bronchitis, pneumonia, infeksi saluran kemih, infeksi pada kulit dan dapat digunakan untuk mengobati gonorrhea.

Obat ini tersedia di pasaran dalam bentuk Kapsul : 250 dan 500 mg. Tablet : 500 mg. Sirop kering : 125mg/5ml dan 250mg/5ml. Vial untuk injeksi : 1000mg dan 500mg.

Untuk menjaga khasiat obat ini, maka harus pula diperhatikan cara penyimpanannya. Amoxicillin sebaiknya disimpan dalam suhu kamar yaitu antara 20 sampai 25 derajat Celcius. Untuk sirop kering yang telah dicampur dengan air sebaiknya tidak digunakan lagi setelah 14 hari atau 2 minggu.

Dosis therapi untuk Amoxicillin pada orang dewasa adalah 250 mg setiap 8 jam, 500 mg setiap 8 jam, 500 mg setiap 12 jam, terggantung dari derajat keparahan dari penyakit yang di derita. Untuk pengobatan gonorrhea pada orang dewasa, diberikan Amoxicillin sebanyak 3 g sekali minum. Dosis untuk anak anak diatas 3 bulan adalah 25 mg/kg/hari terbagi setiap 12 jam, 20 mg/kg/hari terbagi setiap 8 jam, 40 mg/kg/hari terbagi setiap 8 jam atau 45 mg/kg/hari terbagi dalam 12 jam terggantung dari derajat keparahan penyakit.

Amoxicillin bisa diminum baik sebelum maupun setelah makan dan obat ini sangat jarang ditemukan berinteraksi dengan obat obat yang lain. Amoxicillin juga aman diberikan untuk ibu hamil dan menyusui walaupun ada beberapa kasus diare yang terjadi pada bayi yang disusui oleh ibu yang minum Amoxicillin.

Mekanisme kerja dari amoxicillin adalah mencegah pembentukan membran sel bakteri sehingga semua materi genetik yang ada di dalamnya terurai keluar dan menyebabkan bakteri mati. Bakteri yang menjadi target sasaran dari amoxicillin antara lain N. gonorrhoea, E. coli, Pneumococci, Streptococci, dan beberapa strain dari Staphylococci.

Berdasarkan mekanisme kerja dan penggunaannya yang luas di Indonesia maka perlu ada perhatian khusus dalam penggunaannya di dalam pengobatan. Selain itu, efek samping dari Amoxicillin yang ada seperti: diare, gangguan tidur, rasa terbakar di dada, mual, gatal, muntah, gelisah, nyeri perut, perdarahan dan reaksi alergi berlebih yang dapat menyebabkan syok anafilaksis dan mengakibatkan kematian membuat antibiotik ini perlu mendapat perhatian lebih.

Berdasarkan data yang diperoleh dari survey, dari 2996 individu yang diwawancara, 486 (16%) menggunakan antibiotik. Hampir semua penderita (99%) yang menggunakan antibiotik mempunyai keluhan yang berhubungan dengan kesehatan, bila dibandingkan dengan yang tidak menggunakan antibiotik  (62%). Pemberian antibiotik yang tidak tepat dapat mengakibatkan resistensi bakteri sehingga perlu penyesuaian dalam dosis pemberian, frekuensi pemberian, dan lamanya pemberian obat antibiotik tersebut (how much, how often, dan how long).

Dosis yang diberikan haruslah tepat agar kadarnya di dalam darah dapat mencapai jendela terapi sehingga dapat menghasilkan efek terapi yang diharapkan. Pemilihan dosis yang tepat akan membantu tercapainya kadar obat dalam darah mencapai jendela tercapai. Penggunaan antibiotik sangatlah rentan terhadap resistensi yang mungkin dapat terjadi. Resistensi ini dapat terjadi jika dosis yang digunakan terlalu rendah atau  ketidakpatuhan pasien dalam menggunakan antibiotik ini. Maka dalam penggunaannya, perlu diinformasikan kepada pasien mengenai interval waktu saat minum obat sehingga saat pasien minum obat yang kedua, kadar obat dalam darah belum berada di bawah Kadar Efektivitas Minimum (KEM). Dengan demikian, kadar obat yang ada di dalam darah tetap berada di dalam jendela terapi. Proses penyembuhan penyakit akibat bakteri membutuhkan waktu yang cukup lama dibandingkan penyembuhan penyakit simptomatik seperti pusing, inflamasi, dan flu. Untuk itu perlu adanya batasan pemberian obat kepada pasien. Lamanya pemberian antibiotik kepada pasien berpengaruh pada tingkat kesembuhan penyakit pasien. Biasanya pemberian antibiotik untuk menyembuhkan penyakit tertentu adalah 5-7 hari. Ini dimaksudkan agar bakteri yang ada di dalam tubuh pasien sudah benar-benar mati. Walaupun pasien merasa sudah membaik pada hari kedua maupun ketiga, antibiotik yang diberikan harus tetap diminum agar tidak terjadi resistensi akibat tidak sempurnanya proses pembunuhan bakteri yang ada di dalam tubuh.

Dari uraian di atas maka perlu adanya penyampian informasi kepada pasien mengenai pentingnya ketaatan minum obat antibiotik terhadap kesembuhan pasien.

DAFTAR PUSTAKA

http://www.medicastore.com/apotik_online/antibiotika/penisilin.htm

http://www.sehatgroup.web.id/?p=818

http://dokteriko.com/?p=242

Disusun oleh:

Frissa Kurniawan         078114117

Paulina Maya               078114126

Devi Nathania              078114127

Minum Obat dengan Teh Bolehkah..??

Minum Obat dengan Teh Bolehkah..??
Sakit adalah hal yang paling tidak disukai oleh semua orang, baik orang tua, dewasa, maupun anak-anak. Salah satu cara untuk mengatasi gejala penyakit adalah istirahat dan minum obat sesuai aturan pakai yang dianjurkan dokter atau apoteker.
Obat yang diresepkan dokter pada umumnya tidak enak rasanya saat diminum, malah rasanya cenderung pahit. Oleh karena itu, kita sering mengkonsumsi obat bersama makanan atau minuman yang mempunyai rasa manis untuk menutupi rasa pahit. Apalagi bila pasiennya adalah anak-anak yang biasanya meminum obat dalam bentuk puyer. Orang tua haruslah pandai mensiasati agar anak mau mengkonsumsi obat yang rasanya tidak enak tersebut, biasanya dengan mencampurkan obat dengan makanan atau minuman kesukaan anak mereka.
Salah satu alternatif meminum obat untuk mengurangi rasa tidak enak obat adalah minumnya dengan teh manis (Hidayat, 2010).
Daun tehTeh merupakan minuman dengan rasa yang khas sekaligus bermanfaat untuk kesehatan. Biasanya teh digunakan oleh masyarakat untuk menjaga kesehatan dan mengkonsumsi obat. Harapannya, selain mendapatkan efek sehat dari obat, juga memperoleh efek sehat dari teh.
Masyarakat umumnya tidak mengetahui bahwa teh mengandung senyawa tanin. Tanin dalam teh dapat mengikat berbagai senyawa aktif obat sehingga sukar diabsorpsi atau diserap dari saluran pencernaan. Hal inil mengakibatkan khasiat dari obat berkurang, karena obat bebas yang dapat diabsorpsi oleh tubuh terbatas jumlahnya (Anonim, 2010). Maka seringkali obat sudah habis diminum, namun gejala sakit tidak segera hilang, karena ternyata efek obat tidak maksimal.
Selain mengganggu absorpsi obat, tanin dapat mengganggu distribusi obat ke jaringan (site of action). Tanin memiliki gugus fenol yang dapat berikatan dengan protein, sehingga jumlah protein bebas dalam tubuh berkurang. Hal ini akan mengakibatkan obat bebas yang berada di sistem sirkulasi tubuh tidak dapat berikatan dengan protein. Akibatnya, jumlah
obat dalam bentuk bebas akan meningkat. Peningkatan ini dapat berefek toksik karena obat dapat langsung menuju membran sel dan menimbulkan efek berlebihan dalam tubuh.
Teh juga mengandung kafein (walaupun konsentrasinya lebih sedikit bila dibandingkan dengan kopi) namun teh juga mempunyai efek stimulan terhadap susunan syaraf pusat. Maka hindari mengkonsumsi bahan-bahan yang mengandung kafein (teh), jika dalam pengobatan menggunakan obat-obat yang juga dapat merangsang susunan syaraf pusat seperti obat-obat asma yang mengandung teofilin atau epinefrin (Anonim, 2010).
Teh memang memberikan efek kesehatan karena di dalam tubuh berfungsi sebagai antioksidan, untuk menangkap radikal bebas sehingga dapat menghambat penuaan (Arief, 2009). Namun ternyata setelah dilakukan penelitian, terdapat efek yang ditimbulkan makanan dan minuman yang diminum bersamaan dengan obat, yaitu interaksi obat dan makanan dapat mengurangi khasiat obat dan dapat membahayakan jiwa pasien (bila menimbulkan reaksi yang berlebihan pada susunan saraf pusat oleh kafein) (Anonim, 2010).
Maka dari itu memang benar pepatah yang mengatakan bahwa, lebih baik mencegah daripada mengobati, namun bila memang sudah sakit, tidak usah aneh-aneh dengan meminum obat dengan minuman berbagai rasa agar dapat mengurangi rasa tidak enak dari obat, karena efek yang ditimbulkan justru sebaliknya, yaitu tidak sembuh. Agar aman minumlah obat dengan air putih, karena air putih bersifat netral dan tidak memberikan efek bila bereaksi dengan obat, hanya melarutkan saja.
Semoga informasi ini bermanfaat bagi kita semua dan lekas sembuh. Tuhan memberkati.
Referensi
Anonim, 2009, Interaksi Obat, http://pharmacyrspuriindah.blogspot.com/2009/02/interaksi-obat-drug-interaction.html, diakses tanggal 28 Maret 2010
Anonim, 2010 , Pengaruh Makanan dan Minuman Terhadap Obat, http://rumahkusorgaku.multiply.com/journal/item/9, diakses tanggal 28 Maret 2010
Hidayat, Arief, 2010, Teh Hitam dan Hijau, http://billyjoeadam.wordpress.com/artikel/, diakses tanggal 29 Maret 2010
Original work by
Ony – Danan – Icha
(07-098, 07-100, 07-115)

BUAH POME, TUNGGU DULU!! (Sari Buah Pome dan Nasib Obat dalam Tubuh)

Oleh :
Yosephine Dian Hendrawati (078114110)
Prima Mustika Ningtyas (078114128)
Yeyen Kristiyana (078114131)
Yuma Pinandita Lingga Dewi (078114137)

Mungkin saat ini telinga kita sangat akrab dengan nama “buah pome”, bukan? Banyak produsen minuman menawarkan buah berwarna merah menyala ini sebagai bahan utama dalam produknya serta menyertakan klaim bahwa buah ini memiliki banyak khasiat bagi kesehatan.
Ibarat artis yang sedang naik daun, buah pome atau yang di Indonesia lebih dikenal dengan nama buah delima ini mulai mencuri perhatian banyak orang. Terlebih karena khasiat yang ditawarkan menyangkut isu kesehatan yang sedang marak yaitu pentingnya mengkonsumsi banyak antioksidan agar tubuh tetap sehat. Akan tetapi, ternyata tidak setiap saat orang boleh mengkonsumsi buah pome maupun sarinya. Untuk tahu lebih jauh, mari kita membahas mengenai buah ini.
Punica granatum atau buah delima atau buah pome (pomegranate) merupakan buah yang konon berasal dari Persia, namun telah lama dibudidayakan di Indonesia, dan banyak digunakan sebagai obat tradisional untuk menyembuhkan berbagai penyakit. Penelitian lebih lanjut menemukan kandungan zat antioksidan, antiviral, dan zat yang berpotensi dikembangkan sebagai antikanker pada buah ini. Oleh karena itu buah ini dapat dengan mudah mendapatkan “penggemar”. Dengan khasiat yang ditawarkan orang menjadi berfikir bahwa mengkonsumsi sari buah pome dapat menjaga kesehatan tubuh dan mempercepat penyembuhan saat sakit.
Meminum sari buah pome untuk menjaga kesehatan tidaklah keliru, akan tetapi, saat sakit dan mengkonsumsi obat-obatan, sari buah pome sebaiknya dijauhi terebih dahulu. Alasan sederhananya adalah karena kandungan dalam sari buah pome mungkin dapat mengganggu metabolisme obat yang kita konsumsi sehingga tidak akan memberikan efek yang diharapkan.
Secara ilmiah, peristiwa tersebut dapat dijelaskan demikian. Saat seseorang mengkonsumsi suatu obat, di dalam tubuh obat tersebut akan mengalami beberapa peristiwa. Pertama, absobsi atau penyerapan, distribusi, metabolisme, dan eksresi. Jika kita meminum obat bersamaan dengan buah pome, maka proses yang akan terganggu adalah pada metabolisme obat. Kandungan dalam buah pome memiliki aktivitas inhibisi atau menghambat kerja suatu enzim yang bertugas memetabolisme obat, yaitu sitokrom P4503A (CYP3A) dan sitorom P4502C9 (CYP2C9). Enzim-enzim ini bertugas memetabolisme obat sehingga nantinya dapat dikeluarkan dari tubuh. Jika aktivitas enzim tersebut dihambat, maka obat akan lebih lambat dikeluarkan dari tubuh, dan dengan demikian akan timbul kemungkinan terjadinya efek toksik akibat kadar obat dalam plasma yang tinggi. Contohnya adalah pada konsumsi obat tolbutamide (obat diabetes). Jika sari buah pome dikonsumsi bersamaan dengan tolbutamide, maka metabolismenya akan terhambat dan dapat menyebabkan hipoglikemia (kadar gula darah di bawah normal). Obat-obat lain yang berpotensi terhambat metabolismenya oleh sari buah pome antara lain : amiodarone, disopramide, quinidine. Felodipin, nicardipin, nifedipin, atorvastatin, lovastatin, simvastatin, cyclosporine, saquinavir, dsb.
Walaupun belum diteliti pengaruhnya pada kinetika semua obat, akan tetapi ebih baik jika sari buah pome ini tidak dikonsumsi bersamaan dengan obat-obatan untuk menghindari hal yang tidak diinginkan. Mengkonsumsi obat adalah paling baik dengan air putih karena tidak potensial menyebabkan gangguan pada nasib obat di dalam tubuh. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua.

Pustaka :

http://dmd.aspetjournals.org/content/35/2/302.full

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/15673597

http://altmedicine.about.com/od/druginteractions/a/pom_interaction.htm

http://www.sciencedirect.com/science?_ob=ArticleURL&_udi=B6T10-4KDBJ1M-1&_user=10&_coverDate=09/01/2006&_rdoc=1&_fmt=high&_orig=search&_sort=d&_docanchor=&view=c&_acct=C000050221&_version=1&_urlVersion=0&_userid=10&md5=299cdf5d95a82478b917f5eef901b8f0

http://one.indoskripsi.com/node/5207

http://www.webmd.com/vitamins-supplements/ingredientmono-392-POMEGRANATE.aspx?activeIngredientId=392&activeIngredientName=POMEGRANATE&source=2

http://level1health.com/pomegranate-juice-extract-supplements-proven-to-help-prevent-or-improve-type-2-diabetes/

http://www.aolhealth.com/conditions/by-the-way-doctor-does-pomegranate-juice-interfere-with-medications

http://personalizedmedicineblog.com/2008/02/26/inhibitory-effects-of-fruit-juices-on-cyp3a-activity/

pomegranate

BUAH POME,, TUNGGU DULU!! (Sari Buah Pome dan Nasib Obat daam Tubuh)

Oleh :
Yosephine Dian Hendrawati (078114110)
Prima Mustika Ningtyas (078114128)
Yeyen Kristiyana (078114131)
Yuma Pinandita Lingga Dewi (078114137)

Mungkin saat ini telinga kita sangat akrab dengan nama “buah pome”, bukan? Banyak produsen minuman menawarkan buah berwarna merah menyala ini sebagai bahan utama dalam produknya serta menyertakan klaim bahwa buah ini memiliki banyak khasiat bagi kesehatan.
Ibarat artis yang sedang naik daun, buah pome atau yang di Indonesia lebih dikenal dengan nama buah delima ini mulai mencuri perhatian banyak orang. Terlebih karena khasiat yang ditawarkan menyangkut isu kesehatan yang sedang marak yaitu pentingnya mengkonsumsi banyak antioksidan agar tubuh tetap sehat. Akan tetapi, ternyata tidak setiap saat orang boleh mengkonsumsi buah pome maupun sarinya. Untuk tahu lebih jauh, mari kita membahas mengenai buah ini.
Punica granatum atau buah delima atau buah pome (pomegranate) merupakan buah yang konon berasal dari Persia, namun telah lama dibudidayakan di Indonesia, dan banyak digunakan sebagai obat tradisional untuk menyembuhkan berbagai penyakit. Penelitian lebih lanjut menemukan kandungan zat antioksidan, antiviral, dan zat yang berpotensi dikembangkan sebagai antikanker pada buah ini. Oleh karena itu buah ini dapat dengan mudah mendapatkan “penggemar”. Dengan khasiat yang ditawarkan orang menjadi berfikir bahwa mengkonsumsi sari buah pome dapat menjaga kesehatan tubuh dan mempercepat penyembuhan saat sakit.
Meminum sari buah pome untuk menjaga kesehatan tidaklah keliru, akan tetapi, saat sakit dan mengkonsumsi obat-obatan, sari buah pome sebaiknya dijauhi terebih dahulu. Alasan sederhananya adalah karena kandungan dalam sari buah pome mungkin dapat mengganggu metabolisme obat yang kita konsumsi sehingga tidak akan memberikan efek yang diharapkan.
Secara ilmiah, peristiwa tersebut dapat dijelaskan demikian. Saat seseorang mengkonsumsi suatu obat, di dalam tubuh obat tersebut akan mengalami beberapa peristiwa. Pertama, absobsi atau penyerapan, distribusi, metabolisme, dan eksresi. Jika kita meminum obat bersamaan dengan buah pome, maka proses yang akan terganggu adalah pada metabolisme obat. Kandungan dalam buah pome memiliki aktivitas inhibisi atau menghambat kerja suatu enzim yang bertugas memetabolisme obat, yaitu sitokrom P4503A (CYP3A) dan sitorom P4502C9 (CYP2C9). Enzim-enzim ini bertugas memetabolisme obat sehingga nantinya dapat dikeluarkan dari tubuh. Jika aktivitas enzim tersebut dihambat, maka obat akan lebih lambat dikeluarkan dari tubuh, dan dengan demikian akan timbul kemungkinan terjadinya efek toksik akibat kadar obat dalam plasma yang tinggi. Contohnya adalah pada konsumsi obat tolbutamide (obat diabetes). Jika sari buah pome dikonsumsi bersamaan dengan tolbutamide, maka metabolismenya akan terhambat dan dapat menyebabkan hipoglikemia (kadar gula darah di bawah normal). Obat-obat lain yang berpotensi terhambat metabolismenya oleh sari buah pome antara lain : amiodarone, disopramide, quinidine. Felodipin, nicardipin, nifedipin, atorvastatin, lovastatin, simvastatin, cyclosporine, saquinavir, dsb.
Walaupun belum diteliti pengaruhnya pada kinetika semua obat, akan tetapi ebih baik jika sari buah pome ini tidak dikonsumsi bersamaan dengan obat-obatan untuk menghindari hal yang tidak diinginkan. Mengkonsumsi obat adalah paling baik dengan air putih karena tidak potensial menyebabkan gangguan pada nasib obat di dalam tubuh. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua.

Pustaka :

http://dmd.aspetjournals.org/content/35/2/302.full

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/15673597

http://altmedicine.about.com/od/druginteractions/a/pom_interaction.htm

http://www.sciencedirect.com/science?_ob=ArticleURL&_udi=B6T10-4KDBJ1M-1&_user=10&_coverDate=09/01/2006&_rdoc=1&_fmt=high&_orig=search&_sort=d&_docanchor=&view=c&_acct=C000050221&_version=1&_urlVersion=0&_userid=10&md5=299cdf5d95a82478b917f5eef901b8f0

http://one.indoskripsi.com/node/5207

http://www.webmd.com/vitamins-supplements/ingredientmono-392-POMEGRANATE.aspx?activeIngredientId=392&activeIngredientName=POMEGRANATE&source=2

http://level1health.com/pomegranate-juice-extract-supplements-proven-to-help-prevent-or-improve-type-2-diabetes/

http://www.aolhealth.com/conditions/by-the-way-doctor-does-pomegranate-juice-interfere-with-medications

http://personalizedmedicineblog.com/2008/02/26/inhibitory-effects-of-fruit-juices-on-cyp3a-activity/

pomegranate

FARMAKOKINETIKA OBAT PADA BAYI

Margareth Christina H. 078114012
Helen 078114024
Margareta Krisantini P.A 078114025
Eva Kristina 078114026
Mikha Pratama Sari 078114029
“ FKK A “

FARMAKOKINETIKA OBAT PADA BAYI
Penggunaan obat pada bayi harus dipertimbangkan secara khusus karena adanya perbedaan laju perkembangan organ, sistem dalam tubuh maupun enzim yang bertanggung jawab terhadap metabolisme dan ekskresi obat. Oleh karena itu, dalam pengobatan, bayi dan anak tidak dapat diperlakukan sebagai orang dewasa berukuran kecil. Dosis, bentuk sediaan maupun rute pemberiannya harus diperhatikan, agar tercapai hasil terapi yang optimum.
Proses fisiologis yang mempengaruhi variabel farmakokinetika pada bayi berubah secara bermakna pada tahun pertama kehidupan, khususnya selama beberapa bulan pertama. Oleh sebab itu, harus diberikan perhatian khusus pada farmakokinetika obat pada usia tersebut.
A. ABSORPSI OBAT
Faktor yang mempengaruhi absorpsi obat meliputi :
1. Aliran Darah pada Tempat Pemberian Obat
Absorpsi setelah suntikan intramuskuler atau sub kutan pada bayi baru lahir seperti pada orang dewasa sangat tergantung pada kecepatan aliran darah ke daerah otot atau daerah sub kutan tempat suntikan.
Bayi preterm yang sakit, memerlukan suntikan intramuskuler namun pada bayi massa otot yang dimiliki sangat sedikit. Kondisi ini diperumit dengan adanya pengurangan perfusi perifer sehingga menyebabkan absorpsi berjalan lambat karena obat tetap tinggal di otot. Apabila perfusi meningkat secara tiba-tiba, akan menyebabkan terjadinya peningkatan jumlah obat yang memasuki sirkulasi sehingga terjadi konsentrasi obat yang tinggi dan menimbulkan ketoksikan.
2. Fungsi Saluran Cerna
Perubahan biokimia dan fisiologis yang bermakna terjadi pada saluran cerna neonatus tidak lama setelah bayi lahir. Pada bayi full-term, sekresi asam lambung terjadi tidak lama setelah kelahiran dan meningkat perlahan setelah beberapa jam. Pada bayi pre-term, sekresi asam lambung terjadi lebih lambat dengan konsentrasi tertinggi terjadi pada usia 4 hari. Oleh karenanya, obat yang dinonaktifkan oleh sekresi asam lambung sebaiknya tidak diberikan secara oral.
Waktu pengosongan lambung diperpanjang (sampai 6 atau 8 jam) pada kurang lebih hari pertama kehidupan. Oleh karena itu, obat dapat diabsorpsi dengan lebih sempurna di dalam lambung terutama untuk obat yang diabsorpsi di dalam lambung. Sedangkan untuk obat yang diabsorpsi di dalam usus, efek terapeutiknya tertunda. Peristaltis pada bayi baru lahir berjalan lambat sehingga jumlah obat yang diabsorbsi lebih banyak sehingga dapat menimbulkan toksisitas.
Aktivitas enzim saluran cerna cenderung lebih rendah pada bayi baru lahir daripada orang dewasa. Bayi baru lahir memiliki konsentrasi asam empedu dan lipase yang rendah yang dapat menurunkan absorpsi obat yang larut lipid.

B. DISTRIBUSI OBAT
Proses distribusi obat dalam tubuh sangat dipengaruhi oleh
1. Komposisi Tubuh
Neonatus memiliki presentase air sebesar 70%-75% sedangkan pada orang dewasa 50%-60%. Presentase air pada neonatus full-term 70% dari berat badannya dan pada neonatus pre-term 85% dari berat badannya. Bayi pre-term memiliki lemak lebih sedikit dibandingkan bayi full-term. 40% dari berat badan neonatus merupakan cairan ekstrasel yang berperan penting untuk menentukan konsentrasi obat pada reseptor. Dengan kata lain, bayi memiliki cairan ekstrasel yang lebih banyak dibanding orang dewasa sehingga konsentrasi obat pada reseptor lebih banyak yang pada akhirnya dapat menimbulkan ketoksikan. Oleh karena itu, diperlukan pengaturan dosis pada bayi.
2. Ikatan Obat pada Protein Plasma
Ikatan obat-protein plasma pada neonatus pada umumnya kurang kuat. Kemampuan ikatan protein yang kurang ini mungkin disebabkan oleh perbedaan kualitatif dan kuantitatif pada protein plasma neonatus dan juga karena adanya substrat-substrat eksogen dan endogen pada plasma. Kurang kuatnya kemampuan ikatan obat-protein ini menyebabkan konsentrasi obat bebas dalam plasma meningkat sehingga dapat meningkatkan timbulnya toksisitas.

3. Permeabilitas Membran
Barrier darah otak pada bayi baru lahir relatif lebih permeabel. Hal ini memungkinkan beberapa obat melintasi aliran darah otak secara mudah. Keadaan ini menguntungkan, misalnya pada pengobatan meningitis dengan antibiotika.

C. METABOLISME OBAT
Aktivitas metabolisme obat pada neonatus lebih rendah daripada orang dewasa. Hal ini menyebabkan laju klirens obat lambat dan waktu paruh eliminasi obat panjang. Suatu obat mungkin saja dieliminasi dalam beberapa hari pada dewasa tetapi memerlukan beberapa minggu untuk dieliminasi pada neonatus. Adanya hal-hal semacam ini menyebabkan perubahan dosis obat pada bayi dan anak.
Pada neonatus dimana si ibu menerima obat yang dapat menginduksi maturitas secara dini pada enzim hepatis janin, maka kemampuan neonatus untuk memetabolisme obat tertentu akan lebih besar daripada neonatus dimana si ibu tidak menerima obat serupa.

D. EKSKRESI OBAT
Eliminasi ginjal merupakan rute utama pada obat-obat antimikrobial. Eliminasi ginjal sangat bergantung pada Glomerolus Filtration Rate (GFR) dan sekresi tubular. Kedua fungsi ini belum berkembang secara sempurna pada neonatus dan akan menjadi sempurna pada usia 2 tahun. GFR pada neonatus sekitar 30% GFR dewasa. Oleh karena itu, pada bayi, obat dan metabolit aktif yang diekskresi lewat urin cenderung terakumulasi. Akibatnya, obat-obat yang diekskresi dengan filtrasi glomerulus (seperti digoksin dan gentamisin) dan obat-obat yang sangat terpengaruh sekresi tubuler (misalnya penisilin) paling lambat diekskresi pada bayi baru lahir.
Renal Blood Flow (RBF) atau aliran darah ginjal akan mempengaruhi laju eliminasi obat oleh ginjal. Klirens suatu obat akan meningkat secara bermakna pada awal masa kanak setelah usia 1 tahun. Hal ini terutama dikarenakan relatif meningkatnya eliminasi renal dan hepatik suatu obat pada anak dibanding dewasa. Karenanya, dosis obat yang akan diberikan pada bayi dan anak harus disesuaikan.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2003, Penggunaan Obat pada Anak, http://piolk.ubaya.ac.id/datanb/piolk/rasional/20070322154542.pdf, diakses tanggal 25 Maret 2010
Anonim, 2010, Terapi Obat pada Penderita Pediatri, http://www.pediatrik.com/isi03.php?page=html&hkategori=Ilmiah%20Popular&direktori=ilmiah_popular&filepdf=0&pdf=&html=20060220-p0fl2yilmiah_popular.htm, diakses tanggal 25 Maret 2010
Gusrukhin, 2008, Farmakoterapi pada Neonatus, Masa Laktasi dan Anak, http://gusrukhin.files.wordpress.com/2008/08/laktasi-2.pdf, diakses tanggal 24 Maret 2010
Katzung, Bertram G., 2004, Farmakologi Dasar dan Klinik, 475-479, Salemba Empat, Jakarta