Peminatan dalam Pendidikan Tinggi Farmasi

Lulusan farmasi yang sifatnya polivalen sudah lama diperdebatkan di dunia farmasi. Baru pada sekitar tahun 2002, mulai terdapat perguruan tinggi yang membuka minat dalam pendidikan farmasi. Minat yang muncul pertama adalah minat farmasi klinik dan farmasi industri. Namun demikian, sebenarnya dalam hati para mahasiswa dan dosen sendiri, apakah dengan peminatan ini akan semakin meningkatkan kompetensi yang berujung pada kemudahan dalam mendapatkan pekerjaan ATAUKAH

 

peningkatan kompetensi yang berujung pada makin sulitnya mencari pekerjaan mengingat sudah semakin spesifik ilmu yang dipelajari. Berdasarkan informasi yang penulis peroleh, trend di dunia internasional , untuk tingkat sarjana (S1) peminatan masih bersifat umum. Materi yang dimasukkan dalam kurikulum meliputi : komunikasi, etika dan perundang-undangan, componding dan dispensing, teknologi farmasi dan farmakoterapi. Ilmu yang didapat dari model peminatan umum ini masih sangat basic, sehingga diperlukan pendidian lanjutan (bisa spesialisasi atau S2) sehingga menghasilkan farmasis2 yang spesialis di bidang obat (misal pernapasan, kardiovaskular) atau ahli obat pediatri, geriatri bahkan sudah ada yang berani mengambil spesialisasi di bidang onkologi. Apakah kecnderungan ini yang akan diikuti oleh Indonesia, terkait dengan Seminar tentang peminatan ini yang dilakukan di Yogyakarta dgn penyelenggara APTFI ini ? Kita sama sekali belum tahu jawabannya mengingat seminar ini belumlah berjalan. Namun demikian menurut hemat penulis, ISFI yang mempunyai program pemurnian profesi memang harus didukung, terkait dengan program No PharmacistNo Service. Program ini kalau memang berjalan akan sangat meningkatkan kepercayaan masyarakat kepada para apoteker yang memang gaungnya relatif sampai sekarang masih biasa saja. Namun apabila ditelisik lebih jauh, program ini lebih ditujukan bagi para apoteker yang bekerja di apotek. apakah memang selama ini hanya apoteker yang di apotek-kah yang paling lemah sehingga perlu mendapatkan program yang sangat keras ini. Ataukah kita perlu untuk memandang secara komprehensif tentang peta kebutuhan apoteker di Indonesia ini ! Pada seminar tentang apotek rakyat pada bulan Juni 2007 di UGM juga disinggung bahwa program Apotek Rakyat selain memudahkan para apoteker baru untuk membuka sarana pelayanan kefarmasian, juga sebagai sarana untuk menampung mereka di dunia kerja, termasuk kebijakan Permenkes terakhir yang mengatur adanya kewajiban sebuah apotek untuk memiliki apoteker pendamping selama jam buka apotek. Terdapat hal yang kontradiktif, di mana seminar yad akan berusaha membangun arah minat pendidikan tinggi farmasi dalam menghasilkan lulusan apoteker yang amat diperlukan, namun di sisi lain kebijakan apotek rakyat dan permenkes bisa pula dipandang sebagai suatu sarana untuk memudahkan apoteker mendapatkan pekerjaan. atau dengan kata lain sebenarnya jumlah apoteker sudah terlalu banyak sehingga sulit untuk mendapatkan pekerjaan. Data di Dinkes Yogya juga menyebutkan bahwa di DIY terdapat 800 apoteker ! Sangat banyak sekali, menurut pendapat penulis. Urun rembug penulis untuk seminar di Yogya mendatang, kita semua para apoteker dapat melihat secara utuh, kebutuhan apoteker di Indonesia, terutama terkait dengan bidang pekerjaan yang memang menjadi kompetensi kita para apoteker. HAl ini sangat perlu, mengingat ilmu para apoteker ini bukanlah suatu ilmu yang sangat spesifik karena kita terkait erat dengan bidang biologi, kedokteran, ilmu pangan dll. Alangkah lebih baik apabila kitamampu mengembangkan bidang Pharmaceutical yang notabene itu merupakan kekhasan kita. Untuk bidang2 ujung tombak seperti farmakoterapi, kita harus berani memberikan bekal bagi lulusan kita kemampuan untuk berkomunikasi secara lisan dan tulisan serta menguasai Information technology unuk menunjang kompetensi bidang farmakoterapi. Dan kemudian jangan lupakan bahwa kita perlu continuing education yang sifatnya progresif sesuai dengan kemajuan pengetahuan tapi tentunya dengan dana yang relatif terjangkau. Apakah itu bisa ??? Itu tugas kita semua. tetap semangat  

2 responses to “Peminatan dalam Pendidikan Tinggi Farmasi

  1. Saya ingin menanyakan apakah sudah ditanyakan kepada masyarakat umum bahwa peran apoteker sebenarnya dibutuhkan apa tidak…

    ini menjadi suatu kendala karena peran apoteker belum dikenal oleh orang banya dan ketidakpercayaan diri apoteker menghadapi masalah di masyarakat..

    peminatan harus juga disesuaikan dengan kenyataan di masyarakat, perlu diadakan studi lebih khusus dan evaluasi jangan hanya mengambil peminatan dari budaya luar

    rahmat riyadi, S.Farm

    mahasiswa apoteker Unpad

  2. farmakoterapi-info

    Pro Rahmat
    setiap apotek yang didirikan dan apoteker rajin untuk standby di sana termasuk adanya apoteker pendamping, yang harapannya mau ‘aktif’ jelas memberi kontribusi kepada seluruh konsumen yang datang ke apotek tersebut.
    Lulusan apoteker pada masa lalu mendapatkan bekal keilmuan bidang sains-teknologi farmasi yang luar biasa, sehingga semua juga jago2 secara scientific, namun disadari bahwa apoteker yang bekerja di komunitas sangat besar yaitu 65%, di mana interaksi dengan pasien menjadi suatu hal mutlak yang pasti terjadi. Nah inilah yang selama ini tidak pas, sehingga apoteker tidak -pede- dalam bertemu dengan masyarakat sehingga tidak hadir di apotek. Mengapa demikian ? Bekal tentang farmakoterapi sangat sedikit, ilmu komunikasi juga ga ada dan organisasi profesi juga belum rutin dalam menggelar CEP. Nah pembuatan peminatan, harapannya supaya apoteker menjadi profesional di bidang kerjanya..dan itu baru bisa kita nikmati paling cepat 10 tahun lagi sejak peminatan pertama kali dilakukan pada tahun 2002, yang dipelopori oleh UGM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s