Terapi Angiotensin II Receptor Blocker pada Hipertensi

Terapi Angiotensin II Receptor Blocker pada Hipertensi

Shinta Dewi Akhirnawati (078115064)

Pendahuluan

Darah dibawa dari jantung ke seluruh tubuh melalui pembuluh yang disebut arteri. Tekanan darah merupakan tekanan dari darah yang menekan dinding arteri pada saat darah bersirkulasi. Setiap jantung berdetak maka ia akan memompa darah ke arteri. Saat jantung berkontraksi akan didapatkan tekanan sistolik, sedangkan saat jantung berelaksasi didapatkan tekanan diastolik. Hasil pengukuran tekanan darah ditulis sebagai tekanan sistolik garis miring tekanan diastolik, misalnya 120/80 mmHg. Tekanan darah turun ketika kita tidur dan meningkat saat kita bangun, namun peningkatan juga dapat terjadi ketika kita senang, gugup atau sedang melakukan aktivitas.

Hipertensi merupakan suatu keadaan dimana terjadi peningkatan pada tekanan darah hingga melebihi 140/90 mmHg. Hipertensi biasanya terjadi tanpa adanya gejala, sehingga pengecekkan tekanan darah secara rutin menjadi sangat penting bagi penderita hipertensi dan juga bagi orang yang mempunyai faktor resiko hipertensi. Orang yang dapat terkena hipertensi antara lain adalah perokok, berumur lebih dari 65 tahun (wanita) dan lebih dari 55 tahun (pria), mengalami obesitas, diabetes, jarang bergerak, peminum alkohol, dan keluarga mempunyai riwayat hipertensi.

Klasifikasi hipertensi pada orang dewasa

Klasifikasi tekanan darah Sistolik (mmHg) Diastolik(mmHg)
Normal <120 < 80
Pre hipertensi 120-139 80-89
Hipertensi tingkat I 140-159 90-99
Hipertensi tingkat II ≥160 ≥100

Terapi Hipertensi

Terapi dengan obat antihipertensi ditujukan untuk menurunkan tekanan darah hingga mencapai nilai normal. Terapi antihipertensi bertujuan untuk memperlambat laju penyakit, menurunkan tekanan darah hingga mencapai nilai optimal, dan mencegah komplikasi serebrovaskular, kardiovaskular, mata dan ginjal.

Terapi dapat dilakukan dengan nonfarmakologis (tanpa menggunakan obat) dan farmakologis (menggunakan obat).

§ Non farmakologis

Pada terapi ini pasien dianjurkan untuk melakukan perubahan gaya hidup, antara lain dengan penurunan berat badan hingga tercapai berat badan ideal, rajin berolahraga, mengurangi konsumsi alkohol dan rokok (bagi yang mengkonsumsi), memperbaiki pola makan yaitu dengan diet garam, banyak mengkonsumsi sayuran dan buah-buahan, mengurangi konsumsi makanan berlemak terutama lemak jenuh. Perubahan pola hidup ini wajib untuk orang hipertensi dan prehipertensi namun tidak menggantikan terapi.

§ Farmakologis

Obat yang biasa digunakan antara lain adalah golongan diuretik, beta blocker, calcium channel blocker, ACE inhibitor, angiotensin II receptor blocker, alfa blocker, adrenergic inhibitor dan juga vasodilator.

Terapi mengunakan ACE inhibitor merupakan terapi yang aman dan konvensional. Walaupun obat ini efektif dan dijadikan pilahan utama, namun obat ini sering menimbulkan efek samping batuk yang sangat mengganggu. Hal ini menyebabkan pemilihan obat golongan angiotensin II receptor blocker sebagai terapi alternatif.

Berikut ini merupakan beberapa contoh obat golongan angiotensin II receptor blocker :

1. Valsartan (nama generik)

Nama dagang di Indonesia

Diovan ® dari Novartis

Indikasi

Pengobatan hipertensi, gagal jantung, dan pasca infark miokard

Kontraindikasi

Hamil dan laktasi, kerusakan hati yang berat, hipersensitif terhadap valsartan atau komponen penyusunnya

Bentuk sediaan, dosis dan aturan pakai

Bentuk sediaan Diovan berupa tablet 40 mg, 80 mg, 160 mg, dan 320 mg.

§ Dosis untuk orang hipertensi adalah 80 mg satu kali sehari dan dapat ditingkatkan sampai 160 mg/hari atau dapat ditambah diuretik jika tekanan darah belum dapat terkontrol.

§ Dosis awal untuk orang gagal jantung adalah 40 mg 2x sehari, dan dosis maksimal 320 mg/hari.

§ Dosis untuk pasca infark miokard, dosis awal 20 mg 2x sehari.

Efek samping

Obat dapat menyebabkan efek yang tidak diinginkan dan merugikan meskipun tidak semua efek samping ini terjadi. Jika ada efek samping yang terjadi maka harus langsung memeriksakan diri ke dokter. Berikut ini adalah beberapa efek samping yang mungkin terjadi pada penggunaan Valsartan sebagai antihipertensi :

pusing (7%), lelah (19%), fatigue (3%), sakit kepala, vertigo (1%), diare (5%), nyeri perut (2%), mual (1%), neutropenia (2%), hyperkalemia (2%), batuk dan infeksi saluran pernafasan bagian atas (1%)

Resiko khusus

§ Pada wanita hamil : berbahaya pada trimester ke 2 dan 3 dan dapat menyebabkan kematian janin.

§ Pada gagal ginjal obat ini harus digunakan secara hati-hati, fungsi ginjal dan konsentrasi kalium harus selalu dimonitor khususnya penggunaan pada pasien lanjut usia. Dan juga perlu penyesuaian dosis.

§ Pada kelainan hepar obat ini harus digunakan secara hati-hati karena dapat meningkatkan efek valsartan. Hal ini disebabkan karena eliminasi yang lama, sehingga penggunaan pada kelainan hepar harus dilakukan penyesuaian dosis.

2. Irbesartan (nama generik)

Nama dagang di Indonesia

Aprovel ® dari Sanofi Aventis, Iretensa ® dari Fahrenheit

Indikasi

Hipertensi esensial (hipertensi yang tidak diketahui penyebabnya)

 

Kontraindikasi

Hamil dan laktasi, hipersensitif terhadap irbesartan atau komponen penyusunnya

Bentuk sediaan, dosis dan aturan pakai

Bentuk sediaan dari Aprovel ® adalah tablet 150 mg dan 300 mg sedangkan pada Iretensa ® tablet 150 mg

§ Dosis awal dan pemeliharaan untuk hipertensi 150 mg satu kali sehari, dapat ditingkatkan hingga 300 mg atau ditambah obat antihipertensi golongan lain.

§ Dosis awal untuk gangguan ginjal dengan hemodialisa 75 mg

Efek samping

Obat dapat menyebabkan efek yang tidak diinginkan dan merugikan meskipun tidak semua efek samping ini terjadi. Jika ada efek samping yang terjadi maka harus langsung memeriksakan diri ke dokter. Berikut ini adalah beberapa efek samping yang mungkin terjadi pada penggunaan Irbesartan sebagai antihipertensi :

Hiperkalemia (19%), hipotensi (5%), fatigue (4%), lelah (10%), diare (3%), infeksi saluran nafas bagian atas (9%), batuk (2,8%)

Resiko khusus

§ Pada wanita hamil : berbahaya pada trimester ke 2 dan 3 dan dapat menyebabkan kematian janin.

§ Pada gagal ginjal obat ini harus digunakan secara hati-hati, fungsi ginjal dan konsentrasi kalium harus selalu dimonitor khususnya penggunaan pada pasien lanjut usia. Dan juga perlu penyesuaian dosis.

§ Pada kelainan hepar obat ini harus digunakans ecara hati-hati karena dapat meningkatkan efek irbesartan. Hal ini disebabkan karena eliminasi yang lama, sehingga penggunaan pada kelainan hepar harus dilakukan penyesuaian dosis

Daftar pustaka

Anonim, 2000, Informatorium Obat Nasional Indonesia, Departemen Kesehatan RI, Jakarta.

Anonim, 2004, AHFS Drug Information, American Society of Health System Pharmacist Inc., USA

Anonim, 2004, JNC 7 Express : Prevention, Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure, Department of health and human services, USA

Anonim, 2006, British National Formulary Ed. 52nd, BMJ Publish Group, Ltd., United Kingdom.

Anonim, 2006, MIMS Annual, Indonesia, PT. InfoMaster lisensi dari CMP Medica, Jakarta.

Dipiro, 2005, Pharmacotherapy: A Pathophysiologic Approach, Sixth Edition, The McGraw-Hill Companies, Inc.,USA.

Lacy, C.F., Amstrong, L.L., Goldman, M.P., Lance, L.L., 2006, Drug Information Handbook, 14th Edition, AphA, Lexi-Comp Inc, Hudson, Ohio.

One response to “Terapi Angiotensin II Receptor Blocker pada Hipertensi

  1. Saya menderita mitral valve prolapse grade 1. Umur 24th.. Tinggi: 170cm/50kg. Tensi 120/80. Sering mengalami nyeri dada, detak jantung tiba2 kencang… Mau nanya: olah raga dan diet apa apa yg cocok untuk saya… Obat apa yg paling efektif utk MVP ??
    Terima kasih atas jawabannya…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s