PENDEKATAN HOLISTIK TERHADAP PENYAKIT DIABETES MELITUS TIPE II DAN KARDIOVASKULER (ATEROSKLEROSIS)

pharmacotherapy-by-william-salim.pdf

PENDEKATAN HOLISTIK TERHADAP PENYAKIT

DIABETES MELITUS TIPE II DAN KARDIOVASKULER (ATEROSKLEROSIS)

William Salim

07 8115 070

Program Profesi Apoteker Universitas Sanata Dharma

LATAR BELAKANG

Faktor risiko utama yang mendasari penyakit kardiovaskuler (aterosklerosis) dan diabetes melitus tipe II adalah obesitas. Salah satu produk jaringan adipose yang dianggap mempunyai peranan terbesar pada proses kardiovaskuler dan telah banyak diteliti adalah adiponektin. Secara eksklusif, adiponektin disintesa dalam jaringan adipose dan diinduksi ketika terjadi diferensiasi jaringan adipose, kemudian disirkulasikan ke dalam aliran darah dengan konsentrasi yang besar. Hormon ini dikenal sebagai kunci dari regulasi sensitifitas insulin dan inflamasi jaringan. Berbeda dengan adipokin lain, kadar adiponektin berhubungan terbalik dengan jumlah lemak tubuh. Pada orang dengan resistensi insulin, obesitas, diabetes, dan penyakit arteri koroner, kadar adiponektin lebih rendah daripada orang lain. Jadi, adiponektin dapat sebagai hormon antidiabetes, antiaterosklerosis, dan meningkatkan sensitifitas insulin.

1. SASARAN TERAPI

Sasaran terapi adalah adiponektin. Peningkatan kadar adiponektin berhubungan dengan menurunnya berat badan akan meningkatkan sensitifitas insulin. Kadar adiponektin rendah berhubungan dengan peningkatan risiko penyakit aterosklerosis.

2. TUJUAN TERAPI

Tujuan terapi adalah menurunkan TNF alfa dan meningkatkan adiponektin, yang pada akhirnya akan menurunkan resistensi insulin.

3. STRATEGI TERAPI

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan adiponektin, diantaranya dengan intervensi gaya hidup dan terapi farmakologi. Intervensi gaya hidup berdasar aktivitas fisik, gaya hidup, dan pola makan meningkatkan adiponektin bersamaan dengan penurunan hCRP dan IL-6 dalam 3 bulan. Diit makanan yang mengandung indeks glikemik rendah dan berserat tinggi dapat meningkatkan konsentrasi plasma adiponektin pada pasien diabetes. Selain itu hindari merokok, kelebihan berat badan, gaya hidup dengan banyak duduk.

Terapi farmakologi menggunakan obat golongan sulfonylurea yaitu glimepiride. Selain memerbaiki sekresi insulin dan kualitas sel beta, glimepiride juga memerbaiki resistensi insulin dengan meningkatkan kadar adiponektin. Pemberian glimepiride selama 12 minggu terhadap pasien usia lanjut dengan diabetes melitus tipe II, menyebabkan perbaikan sensitifitas insulin (penurunan HOMA-IR, peningkatan metabolic clearance rate (MCR) dan penurunan HnA1c, tetapi tidak insulin) dengan penurunan secara signifikan TNF alfa dan meningkatkan serum adiponektin. Keunikan glimepiride dibanding glibenklamid, glipizide, dan glikazid adalah efeknya yang lebih besar pada pankreas. Glimepiride secara mengagumkan memperbaiki resistensi insulin, yang ditunjukkan dengan penurunan HOMA-IR, meningkatkan MCR-g dan menurunkan HbA1c tanpa mengubah fungsi sel beta ekstrapankreas dan CPR dalam urin.

4. OBAT PILIHAN

  • NAMA GENERIK

    Glimepiride.

      • NAMA DAGANG DI INDONESIA

        Amaryl® (Aventis Pharma).

        Metrix® (Kalbe Farma).

          • INDIKASI

            (1) Merupakan obat golongan sulfonylurea untuk pengobatan diabetes melitus tipe II, diresepkan sebagai tambahan pada diet dan olahraga.

            (2) Menurunkan kadar gula darah dengan cara merangsang tubuh memproduksi insulin lebih banyak.

              • KONTRAINDIKASI

                (1) Pasien yang hipersensitif terhadap obat ini, obat-obat golongan sulfonamida lain, atau bahan-bahan tambahan lain (yang menimbulkan resiko hipersensitif).

                (2) Pasien dengan ketoasidosis diabetes, dengan atau tanpa koma. Keadaan seperti ini harus diatasi dengan terapi insulin.

                  • BENTUK SEDIAAN DAN DOSIS BESERTA ATURAN PAKAI

                    Bentuk sediaan glimepiride adalah tablet.

                    Dosis

                    Kadar glukosa darah pasien dan HbA1c harus diukur secara berkala untuk menetapkan dosis minimum yang efektif bagi pasien tersebut dengan tujuan:

                    – Untuk mendeteksi kegagalan primer yaitu tidak adanya penurunan berarti dari gula darah pada pemberian dosis maksimum yang diperbolehkan.

                    – Untuk mendeteksi kegagalan sekunder yaitu hilangnya respon penurunan glukosa darah setelah adanya periode keefektifan inisial.

                    Dosis awal

                    1-2 mg satu kali sehari, diberikan bersamaan makan pagi atau makanan utama yang pertama. Untuk pasien yang lebih sensitif terhadap obat-obat hipoglikemik, dosis awal yang diberikan sebaiknya dimulai dari 1 mg satu kali sehari, kemudian boleh dinaikkan (dititrasi) dengan hati-hati.

                    Dosis pemeliharaan

                    1-4 mg satu kali sehari. Dosis maksimum yang dianjurkan 8 mg satu kali sehari. Pada saat pemberian telah mencapai dosis 2 mg maka kenaikan dosis tidak boleh melebihi 2 mg dengan interval 1-2 minggu tergantung dari respon gula darah pasien. Efikasi jangka panjang harus dimonitor dengan mengukur kadar HbA1c setiap 3-6 bulan.

                      • EFEK SAMPING

                        (1) Gangguan pada saluran cerna seperti muntah, nyeri lambung dan diare.

                        (2) Reaksi alergi seperti pruritus, erythema, urtikaria, erupsi morbiliform atau maculopapular, reaksi ini bersifat sementara dan akan hilang meskipun penggunaan glimepiride harus dihentikan.

                        (3) Gangguan metabolisme berupa hiponatremia.

                        (4) Perubahan pada akomodasi dan/atau kaburnya penglihatan.

                        (5) Reaksi hematologik seperti leukopenia, agranulositosis, trombositopenia, anemia hemolitik, anemia aplastik, dan pansitopenia.

                          • INTERAKSI OBAT

                            (1) Risiko hipoglikemia akan meningkat pada pemberian glimipiride bersama-sama dengan obat-obat tertentu, yaitu NSAID dan obat lain dengan ikatan protein tinggi, seperti salisilat, sulfonamida, kloramfenikol, kumarin, probenesid, MAO inhibitors, β-adrenergic blocking agents.

                            (2) Daya kerja glimepiride dalam menurunkan kadar glukosa darah akan menurun jika diberikan bersamaan dengan obat-obat yang cenderung menimbulkan hiperglikemia, seperti tiazid dan diuretik lain, kortikosteroid, fenotiazin, produk-produk kelenjar tiroid, estrogen, kontrasepsi oral, fenitoin, asam nikotinat, simpatomimetik dan isoniazid.

                            (3) Pemberian propanolol (40 mg tid) dan glimepiride meningkatkan Cmax, AUC, dan T½ dari glimepiride sebesar 23%, 22% dan 15% serta menurunkan CL/f sebesar 18%, pasien perlu diperingatkan akan potensi hipoglikemia yang akan terjadi.

                            (4) Pemberian glimepiride bersamaan dengan warfarin akan menurunkan respon farmakodinamik dari warfarin.

                            (5) Interaksi antara mikonazol oral dan obat hipoglikemia oral dilaporkan dapat menyebabkan hipoglikemia.

                            (6) Glimepiride berpotensi terjadi interaksi dengan fenitoin, diklofenak, ibuprofen, naproksen dan asam mefenamat, karena seluruhnya dimetabolisme oleh sitokrom P450 II C9.

                              • RESIKO KHUSUS

                                Tidak dianjurkan untuk digunakan pada wanita hamil dan menyusui karena glimepiride dapat menembus jaringan payudara sehingga dapat mengkontaminasi nutrisi untuk bayi.

                                KESIMPULAN

                                Dengan melihat prospek klinis mengenai hubungan reseptor-struktur molekuler, adiponektin menjadi target penelitian dalam menurunkan morbiditas dan mortalitas penyakit diabetes melitus tipe II dan aterosklerosis dalam aplikasi klinis sehari-hari.

                                DAFTAR PUSTAKA

                                Anonim, 2006, Ethical Digest: semijurnal farmasi dan kedokteran no. 31, 34, Ethical Digest, Jakarta.

                                Anonim, 2006, Informasi Spesialite Obat (ISO) Indonesia, 181, PT. Anem Kosong Anem (AKA), Jakarta.

                                Anonim, 2006, Surabaya Diabetes Update (SDU), http://www.kalbe.co.id/index.php?mn=news& tipe=detail&detail=18610, diakses tanggal 21 Desember 2007.

                                Anonim 2007, Faktor-Faktor CMR, http://www.sanofi-aventis.co.id/live/id/in/layout.jsp?cnt=B940B265-7DED-400C-B34D-2603764B7D0E, diakses tanggal 21 Desember 2007.

                                Anonim, 2007, Glimepiride, http://www.dexa-medica.com/ourproducts/prescriptionproducts/detail.php?id=43&idc=7, diakses tanggal 21 Desember 2007.

                                Anonim, 2007, Glimepiride, http://www.sanofi-aventis.co.id/live/id/in/layout.jsp?scat=6F241C06-5EE2-42D2-8B8B-8879B15FC80A, diakses tanggal 21 Desember 2007.

                                Anonim, 2007, Glimepiride, http://www.medicinenet.com/glimepiride-oral/article.htm, diakses tanggal 21 Desember 2007.

                                Anonim, 2007, Metrix, http://www.kalbefarma.com/index.php?mn=product&tipe=detail&jenis=adv&detail=105, diakses tanggal 21 Desember 2007.

                                God, bless people in the world

                                Amen

                                SINGKATAN

                                CPR (C-Peptide immuno Reactivity) = peptide yang memroduksi pro-insulin untuk meningkatkan respon insulin terhadap glukosa dalam darah.

                                HbA1c (glycosylated hemoglobin) = suatu molekul dalam sel darah merah yang berikatan dengan glukosa.

                                hCRP (human C-Reactive Protein) = protein plasma yang diproduksi hati saat terjadi inflamasi.

                                HnA1c (Human neutrophil Antigen 1c) = suatu tipe sel darah putih dalam bentuk granulosit dan dapat membantu sel makhluk hidup dalam membunuh dan memakan mikroorganisme (bersifat fagositosis).

                                HOMA-IR (Homeostatis model Assessment of Insulin Resistence) = penilaian sistem homeostatis terhadap resistensi insulin dalam tubuh.

                                IL-6 (Interleukin-6) = sitokinin karena adanya inflamasi yang dilepaskan oleh sel T dan makrofag.

                                MCR-g (Metabolic Clearance Rate ginjal) = kecepatan klirens metabolit dari ginjal.

                                TNF alfa (Tumor Necrosis Factor – alpha) = mediator inflamasi yang disekresi oleh monosit dan dapat menurunkan permeabilitas pembuluh darah.

                                Leave a Reply

                                Fill in your details below or click an icon to log in:

                                WordPress.com Logo

                                You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

                                Twitter picture

                                You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

                                Facebook photo

                                You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

                                Google+ photo

                                You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

                                Connecting to %s