Penggunaan hipnotikum pada insomnia

Rumbita Febria Rukmi, S.Farm.

07 8115 027 

Kebutuhan akan tidur dapat dianggap sebagai suatu perlindungan dari organisme untuk menghindari pengaruh yang merugikan tubuh karena kurang tidur. Tidur yang baik, cukup dalam dan lama, adalah mutlak untuk regenerasi sel-sel tubuh dan memungkinkan pelaksaaan aktivitas pada siang hari dengan baik. (Tjay and Rahardja, 2002).

DEFINISI

Insomnia merupakan salah satu penyakit yang sering dikeluhkan oleh pasien selain headache (sakit kepala) dan common cold. Insomnia bukan penyakit yang spesifik, tetapi merupakan penyakit dengan bermacam-macam penyebab dan keluhan. Pasien mungkin mengeluhkan kesulitan memulai tidur, sering terjaga, tidur terlalu singkat, atau tidur yang tidak membuat tubuh menjadi segar (Crismon and Canales, 2004). Jadi bisa dikatakan Insomnia adalah suatu gejala/symptom yang tidak dapat didefinisikan karena tidak memiliki criteria secara tepat/pasti. Secara umum insomnia dapat didefinisikan sebagai suatu keadaan sulit tidur/tidak bisa tidur.

KLASIFIKASI

Insomnia dapat dibedakan menjadi insomnia yang sifatnya sementara, jangka pendek ataupun kronis (jangka panjang). Insomnia yang sifatnya sementara berlangsung kurang dari 1 minggu dan ini dapat hilang dengan sendirinya. Sedangkan insomnia jangka pendek berlangsung kurang lebih 1– 3 minggu. Dan jika tidak ditangani dengan tepat maka insomnia jangka pendek dapat berkembang menjadi insomnia yang sifatnya kronis (jangka panjang). Untuk insomnia kronis (jangka panjang) berlangsung lebih dari 3 minggu sampai tahunan (Crismon and Canales, 2004).

TANDA DAN GEJALA

Pasien insomnia memiliki keluhan seperti sulit tidur, sering terjaga, bangun terlalu pagi dan kesulitan tidur kembali, tidur yang buruk, aktifitas tidur yang terganggu karena mimpi-mimpi yang tidak biasa dan mengganggu, mudah kaget, mudah merasa jengkel dan tersinggung/sensitive, murung/muram/sedih, memiliki masalah ingatan, pernafasan dan denyut jantung tidak normal, mata merah, dan badan lesu /tidak fit.

ETIOLOGI/PENYEBAB

Insomnia atau tidak bisa tidur dapat diakibatkan oleh banyak gangguan fisik, misalnya batuk, rasa nyeri (rematik, encok, migrain, restless legs, keseleo, dsb). Yang sangat penting pula adalah gangguan kejiwaan, seperti emosi, ketegangan, kecemasan, atau depresi (Tjay and Rahardja, 2002).

PENANGANAN INSOMNIA

Ø Tujuan Terapi.

Tujuan terapinya supaya pasien yang menderita insomnia dapat kembali tidur normal, dapat beristirahat tanpa harus terbangun berulang kali, dan supaya pada saat siang hari tidak mengalami rasa kantuk dan kelelahan akibat kesulitan tidur pada malam harinya.

Ø Sasaran Terapi.

Sasaran terapinya meliputi gejala insomnia dan pola hidup yang salah.

Ø Strategi terapi.

Strategi terapinya yaitu mengatasi/menghindari factor penyebab insomnia serta meningkatkan kualitas pola hidup.

Ø Penatalaksanaan.

a. Non-FarmakoterapiPerlu diperbaiki cara hidup yang keliru, misalkan melakukan kegiatan psikis yang melelahkan sebelum tidur. Dianjurkan pula untuk melakukan gerak badan secara teratur, jangan merokok dan minum kopi atau alcohol pada malam hari, karena dapat mengganggu pola tidur. Gerak-jalan, melakukan kegiatan kegiatan yang rileks, mandi air panas, minum segelas susu hangat dengan cereal sebelum tidur, ternyata dapat mempermudah dan memperdalam tidur yang normal. Selain itu juga dianjurkan untuk memperbaiki suasana ruang tidur seperti kualitas kasur dan bantal dipilih yang senyaman mungkin, ruangan tidak berisik, ventilasi udara cukup dan mengembangkan kebiasaan tidur yang tetap dengan waktu tidur tertentu setiap malam (Tjay and Rahardja, 2002). Pasien yang menderita insomnia sebelum melakukan terapi farmakologi (menggunakan obat), sebaiknya melakukan prinsip-prinsip tidur yang sehat, yaitu ikuti pola tidur yang tetap : pergi tidur dan bangun kira-kira pada waktu yang sama setiap hari, buatlah kamar tidur yang nyaman untuk tidur (hindari perbedaan temperatur, kegaduhan/keributan, dan cahaya yang terlalu terang), pastikan tempat tidur nyaman, lakukan aktivitas santai sebelum waktu tidur, olahraga teratur tetapi jangan larut malam, gunakan kamar tidur untuk tidur dan aktivitas seksual saja dan tidak sebagai tempat kerja, ruang bermain atau hal yang lain, jika tegang, lakukan latihan relaksasi, jika lapar, makan snack ringan, tapi hindari makanan atau snack dalam jumlah besar sesaat sebelum tidur, kurangi tidur siang, hindari penggunaan alcohol/nikotin pada larut malam, jangan gelisah apabila tidak bisa tidur, tinggalkan kamar tidur dan lakukan aktivitas santai selama 20-30 menit (Crismon and Canales, 2004).b. FarmakoterapiØ BenzodiazepinHipnotika atau obat tidur adalah zat-zat yang dalam dosis terapi diperuntukkan meningkatkan keinginan faali untuk tidur. Lazimnya obat ini diberikan pada malam hari. Bilama zat-zat ini diberikan pada siang hari dalam dosis yang lebih rendah untuk tujuan menenangkan , maka dinamakan sedativa (obat-obat pereda). Oleh karena itu tidak ada perbedaan yang tajam antara kedua kelompok obat ini. Sedativa berfungsi menurunkan aktivitas, mengurangi ketegangan, dan menenangkan penggunanya. Sedangkan hipnotika menimbulkan rasa kantuk, mempercepat tidur, dan sepanjang malam mempertahankan keadaan tidur yang menyerupai tidur alamiah. Hipnotikum yang ideal sebetulnya tidak ada, tetapi obat-obat yang paling layak digunakan adalah suatu obat dari kelompok benzodiazepin (Tjay and Rahardja, 2002).Benzodiazepin hendaknya jangan diberikan pada anak-anak untuk periode panjang, karena dapat mempengaruhi perkembangan psikisnya. Obat ini efektif untuk mempercepat tidur, memperpanjang waktu tidur dengan mengurangi frekuensi terbangun serta memperbaiki kualitas (dalamnya) tidur. Selain itu, obat tersebut memiliki keberatan-keberatan yang paling ringan dibandingkan hipnotika. Obat-obatan ini pada umumnya kini dianggap sebagai obat tidur pilihan pertama karena toksisitasnya dan efek sampingnya yang relatif paling ringan. (Tjay and Rahardja, 2002).1. Nama generic : EstazolamNama dagang di Indonesia : Esilgan

Bentuk Sediaan : Tablet

Dosis : 1-2 mg/malam

Aturan pakai : Diberikan sewaktu hendak tidur. Dapat diberikan bersama atau tanpa makanan.

Indikasi : Semua gangguan tidur karena gugup, cemas, tegang, psikosis

Kontraindikasi : Miastenia Gravis, pasien yang fungsi pernafasannya sangat tertekan, pasien yanglemah atau lanjut usia.

Efek samping : Letih, lesu, mengantuk, dimana mengantuk dapat dikurangi jika obat diberikan segera sesuadah makan. Efek samping lainnya yaitu pusing, nyeri kepala, mulut kering, rasa pahit di mulut, gangguan lambung usus, dan penglihatan berganda karena otot mata mengendur. Pada penggunaan yang lama dapat menyebabkan rage reaction (perilaku menyerang dan ganas)

Resiko khusus : Untuk wanita hamil. Estazolam termasuk kategori X. Maksudnya, Studi terhadap binatang percobaan atau manusia telah memperlihatkan adanya abnormalitasjanin atau terdapat bukti adanya risiko pada janin, dan risiko penggunaan obat ini jelas melebihi manfaat yang diperoleh. Obat dalam kategori ini dikontraindikasikan pada wanita yang sedang atau memiliki kemungkinan hamil.

2. Nama generic : Triazolam

Nama dagang di Indonesia : Halcion

Bentuk Sediaan : Tablet

Dosis : 0,125 mg dan 0,25 mg

Aturan pakai : Diberikan sewaktu hendak tidur. Dapat diberikan bersama atau tanpa makanan.

Indikasi : Insomnia ringan dan berjangka pendek dan sebagai pengobatan insomnia berjangka panjang

Kontraindikasi : Hipersensitivitas, wanita hamil

Efek Samping : Mengantuk, sakit kepala/pusing, gelisah, kehilangan keseimbangan, mual, muntah.

Resiko khusus : Untuk wanita hamil. Triazolam termasuk kategori X. Maksudnya, Studi terhadap binatang percobaan atau manusia telah memperlihatkan adanya abnormalitasjanin atau terdapat bukti adanya risiko pada janin, dan risiko penggunaan obat ini jelas melebihi manfaat yang diperoleh. Obat dalam kategori ini dikontraindikasikan pada wanita yang sedang atau memiliki kemungkinan hamil.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2007, Informasi Spesialite Obat Indonesia (ISO), Vol 42, ISFI, Jakarta

Crismon, M.L., dan Canales, P.L, 2004, Insomnia dalam Handbook of Nonprescription Drug, 12 th edition, APHA, Washington DC.

Tjay, T.H dan Rahardja, K., 2002, Obat-Obat Penting, Edisi 5, PT. Elex Media Komputindo, Jakarta.                   

Lacy, C.F., Amstrong, L.L., Goldman, M.P., Lance, L.L., 2006, Drug Information Handbook, 14th edition,  Lexi Comp Ine, Canada

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s