Monthly Archives: January 2008

Endometriosis

ENDOMETRIOSIS

Disusun oleh Hartono (078115052)

A. Pendahuluan

Endometriosis merupakan salah satu penyebab nyeri pelvis (dysmenorrhea, dyspareunia) dan ketidaksuburan pada lebih dari 35% wanita usia produktif, akan tetapi prevalensi nyata untuk penyakit ini tidak diketahui.

Secara umum, diperkirakan 1 dari 10 orang wanita menderita endometriosis. Sekitar 71-87% wanita yang mengalami nyeri pelvis dan sekitar 38% wanita yang mengalami masalah kesuburan didiagnosis endometriosis. Biasanya dialami oleh wanita usia produktif, dengan kemajuan penyembuhan penyakit sangat lambat, bahkan cenderung stabil/tidak mengalami kemajuan dalam upaya penyembuhan. Pada remaja beranjak dewasa, endometriosis yang dialami adalah endometriosis sekunder, namun rasa nyeri yang ditimbulkan jauh lebih hebat dibanding endometriosis primer yang dialami oleh wanita dewasa.

 

 

B. Penyebab

Penyebab endometriosis tidak diketahui, akan tetapi diduga terkait dengan siklus menstruasi yang tidak teratur, coelomic metaplasia, dan abnormalitas sistem imun.

Meskipun penyebab pasti tidak diketahui, beberapa faktor yang terkait dengan terjadinya endometriosis adalah siklus menstruasi yang tidak teratur, menstruasi yang terlalu lama, abnormalitas saluran genital, kadar estrogen terlalu tinggi, dan tertimbunnya lemak perifer. Namun ada pula endometriosis yang disebabkan karena kelainan genetik.

Turunnya kadar estrogen karena penggunaan obat kontrasepsi oral, menopause, olahraga telah terbukti dapat mengurangi gejala nyeri pada endometriosis.

C. Patofisiologi

Nyeri yang dialami penderita endometriosis terjadi karena lesi pada ovarium mengenai ujung saraf, sehingga dinding ovarium melepaskan prostaglandin. Bila lesi yang muncul berupa kista/endometriomas, maka akan terjadi dyspareunia. Gejala nyeri muncul terkait dengan pelepasan hormon estrogen dan progesteron sepanjang siklus menstruasi.

D. Penampakan klinis

Endometriosis pada hakikatnya adalah asimtomatis, namun pada penderita dapat tampak gejala dysmenorrhea, dyspareunia, nyeri pelvis, gangguan saluran cerna, dysuria, hematuria, nyeri punggung bagian bawah, dan defekasi yang disertai nyeri.

E. Terapi

Berdasarkan gejala yang dialami oleh penderita, maka sasaran terapi endometriosis adalah untuk mengurangi/menghilangkan lesi ovarium, mencegah keparahan penyebaran lesi, mengurangi rasa nyeri yang dialami, dan mencegah terjadinya masalah ketidaksuburan.

 

 

1. Terapi non-farmakologis (pembedahan)

Tindakan pembedahan pada penderita endometriosis dapat digunakan baik sebagai penegak diagnosis maupun sebagai terapi. Tujuan pembedahan meliputi perusakan implan ovarium, mengangkat lesi, dan mengembalikan struktur pelvis menjadi normal untuk mengatasi masalah ketidaksuburan dan nyeri yang ditimbulkan. Bila penderita tidak menginginkan kesuburan di masa mendatang, maka pilihan pembedahan untuk mengangkat rahim bisa dipertimbangkan.

Teknik pembedahan pada penderita endometriosis adalah laparostomi, karena memiliki kemungkinan komplikasi yang paling rendah. Akan tetapi sekitar 60-100% pasien yang dilaparostomi mengalami nyeri hebat pasca-operasi, dan sekitar lebih 44% pasien kembali mengalami nyeri endometriosis setahun pasca-operasi. Hal ini dapat disebabkan kekurangmampuan untuk melihat letak lesi secara visual dan mengangkatnya hingga tuntas.

2. Terapi farmakologi

a. Obat pilihan utama
Obat pilihan utama untuk penderita endometriosis adalah NSAIDs, kontrasepsi oral, atau kombinasi keduanya. Pemilihannya berdasarkan karakteristik pasien misalnya penggunaan kontrasepsi pada pasien, pola timbulnya nyeri, dan kontraindikasi untuk pasien tertentu. Bila pasien memberikan respon positif terhadap terapi, maka perlu diberikan terapi untuk jangka panjang/terus-menerus karena penderita umumnya tidak mengalami kemajuan dalam upaya penyembuhan.

Efikasi NSAIDs untuk pasien endometriosis belum pernah dievaluasi dalam uji klinik. Akan tetapi efikasinya yang tinggi dalam terapi untuk dysmenorrhea telah terbukti, maka diduga memiliki efikasi yang sama untuk pasien endometriosis.

Pengunaan kontrasepsi oral dapat dipilih karena dapat digunakan untuk jangka panjang dengan efek samping yang tidak begitu signifikan. Contoh :


b.
Obat alternatif

Obat alternatif yang dapat digunakan adalah progestin, danazol, dan GnRH-antagonis.

c. c. Obat untuk pasien khusus (remaja beranjak dewasa)

Tujuan terapi endometriosis untuk pasien khusus ini fokus untuk mengatasi nyeri yang ditimbulkan. Terapi yang utama dilakukan adalah terapi farmakologis dibanding non-farmakologis karena terkait kemampuan produktivitas memasuki masa subur wanita. Obat pilihan utama yang diberikan adalah kontrasepsi oral karena kemampuan tubuh yang tinggi untuk mentoleransi efek samping yang mungkin ditimbulkan. Selain itu, penggunaan progestin juga sangat direkomendasi, meskipun penggunaannya untuk jangka panjang dapat mengurangi densitas mineral tulang dan mengganggu profil lipid normal dalam tubuh.

Tabel 1. Terapi farmakologis untuk pasien nyeri pelvis yang disebabkan endometriosis.

Golongan obat

& nama generik

Dosis

Keterangan

Contoh branded

Kontrasepsi oral

1 tablet sehari

Pemberian terus menerus dapat mengurangi dysmenorrhea

Kontraindikasi untuk pasien dengan riwayat tromboemboli atau umur >35 tahun dan merokok

Semua jenis kontrasepsi oral

NSAIDs

· Ibuprofen

· Naproxen

400 mg oral tiap 4-6 jam

250 mg oral tiap 6-8 jam

Perlu perhatian khusus pada pasien dengan gangguan saluran nafas, ginjal, dan memiliki riwayat ulser saluran cerna

Ibufen, Proris

Inflaksen, Naxen

Progestin

· MPA

· Norethindrone

10 mg oral selama 3 bln

15 mg oral 1x sehari

Mudah ditoleransi dan lebih murah dibanding GnRH-a dan Nadazol

Menghambat kesuburan

Provera

GnRH-a

· Leuprolide

· Goserelin

· Nafarelin

11,25 mg IM tiap 3 bln

3,6 mg SC tiap bulan

200 mcg intranasal 2x sehari

Mengurangi massa tulang

Perlu terapi ulang

Jangan diberikan untuk pasien beranjak dewasa

Zoladex

Danazol

600-800 mg oral tiap hari dosis terbagi

Efek samping adrenergik harus diperhatikan

Azol, Danocrine

Keterangan :

NSAIDs = Obat antiinflamasi non steroid

MPA = Medroksiprogesteron asetat

GnRH-a = Gonadotropine Releasing Hormone antagonist

IM = intramuskular

SC = subkutan

TERMINOLOGI MEDIS

Coelomic metaplasia = perubahan jenis sel dewasa pada jaringan di rongga tubuh menjadi bentuk abnormal

Dysmenorrhea = nyeri pada saat menstruasi

Dyspareunia = nyeri pada saat berhubungan badan

Dysuria = nyeri pada saat berkemih

Hematuria = adanya darah dalam urin

Intramuskular = pemberian suntikan ke dalam otot

Laparostomi = pembedahan melalui pinggang/melalui setiap bagian dinding perut

Menopause = berhentinya menstruasi

Pelvis = bagian bawah tubuh yang dibatasi oleh tulang panggul di depan dan tulang ekor di belakang

Subkutan = pemberian suntikan ke bawah kulit

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 1996, Kamus Saku Kedokteran Dorland, edisi 25, 241, 352, 353, 356, 496, 565, 590, 662,835,1028, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.

Anonim, 2000, Informatorium Obat Nasional Indonesia, 357, 361, 281-282, 317, 291-292, DepKes RI, Jakarta.

Braude, P., and Taylor, A., 2003, ABC of Subfertility, 5, 21, BMJ, USA.

Dipiro, J.T., 2005, Pharmacotherapy : A Pathophysiologic Approach, 6th edition, 1485-1490, The McGraw-Hill Companies, Inc., USA.

 

 

Advertisements

Penggunaan Obat Golongan Proton Pump Inhibitor (Omeprazol) Pada Terapi Tukak Lambung

Penggunaan Obat Golongan Proton Pump Inhibitor (Omeprazol)

Pada Terapi Tukak Lambung

Disusun oleh : Renny Yuliani Santoso (068115125)

Tukak lambung merupakan salah satu penyakit yang mengganggu sistem gastrointestinal. Tukak lambung disebabkan oleh adanya ketidak seimbangan antara mekanisme pertahanan dan perbaikan mukosa lambung dengan asam lambung dan pepsin.

Asam lambung disekresi oleh sel parietal lambung. Pepsinogen disekresi oleh sel shief pada fundus lambung.Pertahanan mukosa lambung dimaksudkan untuk melindungi lambung dari bahan dari dalam maupun bahan dari luar tubuh yang berbahaya. Perbaikan mukosa lambung terjadi saat timbul luka pada lambung akibat penggantian sel epitel.

Gangguan pertahanan dan perbaikan mukosa lambung terutama disebabkan oleh infeksi Hellicobacter pylori (HP) dan penggunaan NSAIDs. HP merupakan bakteri gram negatif, berbentuk spiral, sensitif terhadap pH, dan merupakan mikroaerofilik yang terletak antara lapisan mukus dan permukaan sel epitel lambung. HP berpengaruh pada kerusakan langsung mukosa dan perubahan imunitas host.

NSAIDs atau obat anti inflamasi non-steroid, menyebabkan kerusakan mukosa dengan 2 mekanisme, yaitu: mengiritasi langsung pada epitel lambung dan menghambat pembentukan prostaglandin. Prostaglandin berguna untuk mempertahankan mukosa gastrointestinal.

Sebelum dilakukan terapi penyembuhan tukak lambung maka perlu ditentukan penatalaksanaan terapi yang meliputi sasaran terapi, tujuan terapi, dan strategi terapi. Dalam terapi tukak lambung yang menjadi sasaran terapi adalah menetralkan asam lambung, melindungi pertahanan mukosa, dan membunuh HP (hal ini dilakukan jika tukak lambung disebabkan oleh infeksi HP). Tujuan terapi tukak lambung adalah menyembuhkan tukak, mencegah tukak kambuh, menghilangkan nyeri tukak, dan menghindari terjadinya komplikasi. Strategi terapi untuk tukak lambung meliputi terapi non-farmakologis dan farmakologis. Terapi non-farmakologis dapat dilakukan dengan menghentikan penggunaan NSAIDs dan obat-obat lain yang memiliki efek samping tukak lambung, menghindari stress yang berlebihan, menghindari makanan dan minuman yang dapat memperburuk gejala tukak lambung dan menjaga sanitas baik diri sendiri maupun lingkungan.

Terapi farmakologi untuk tukak lambung :

1. H2 reseptor antagonis

    Mekanisme kerja : mengurangi sekresi asam dengan cara memblok reseptor histamin dalam sel-sel parietal lambung.

    Contoh : simetidin, ranitidin.

    2. Proton pump inhibitor

      Mekanisme kerja : mengontrol sekresi asam lambung dengan cara menghambat pompa proton yang mentranspor ion H+ keluar dari sel parietal lambung.

      Contoh : omeprazol, lansoprazol, esomeprazol, pantoprazol, dan rabeprazol.

      3. Bismuth chelate

        Mekanisme kerja : membasmi organisme karena bersifat racun terhadap HP.

        Kombinasi bismuth dengan ranitidin yang dikenal sebagai ranitidin bismuth sitrat jika dikombinasikan dengan 1 atau 2 antibiotik dapat ampuh membasmi HP.

        Efek samping obat ini dapat terakumulasi pada pasien yang memiliki gangguan fungsi ginjal.

        4. Sukralfat

          Mekanisme kerja : melindungi mukosa dengan cara membentuk gel yang sangat lengket dan dapat melekat kuat pada dasar tukak sehingga menutupi tukak.

          5. Antasida

            Mekanisme kerja : menetralkan asam lambung dengan cara meningkatkan pH lumen lambung.

            Obat ini hanya menetralkan asam lambung tetapi tidak dapat menyembuhkan tukak.

            Contoh : Natrium bikarbonat, Mg(OH)2, Al(OH)3.

            6. Misoprostol

              Misoprostol merupakan analog prostaglandin yang mendukung penyembuhan tukak dengan menstimulasi mekanisme proteksi pada mukosa lambung dan menurunkan sekresi asam. Misoprostol digunakan pada pasien yang mengkonsumsi NSAIDs untuk mencegah timbulnya tukak.

              7. Antibiotik

                Antibiotik digunakan untuk membasmi HP. Dalam pengobatan tukak lambung, antibiotik yang digunakan biasanya kombinasi 2 antibiotik. Hal ini bertujuan untuk menghindari resistensi antibiotik.

                Contoh kombinasi antibiotik : klaritomisin-amoksisilin, klaritomisin-metronidazol, metronidazol-amoksisilin, metronidazol-tetrasiklin.

                Dalam menentukan pilihan obat untuk terapi farmakologis tukak lambung, perlu dilakukan penyesuaian dengan mempertimbangkan sasaran terapi dan faktor-faktor penyebab terjadinya tukak lambung. Misalnya: jika tukak lambung disebabkan karena infeksi HP maka dalam terapi digunakan obat golongan H2 reseptor antagonis atau proton pump inhibitor untuk mengurangi sekresi asam lambung dan perlu ditambahkan antibiotik untuk membasmi HP. Namun jika tukak lambung tidak disebabkan oleh HP maka terapi tukak lambung tidak perlu menggunakan antibiotik, terapi yang diberikan cukup dengan obat yang dapat menetralkan asam lambung atau dengan obat yang dapat mengurangi sekresi asam lambung.

                Obat pilihan untuk terapi tukak lambung tanpa infeksi HP salah satunya yaitu omeprazol, yang merupakan obat golongan proton pump inhibitor.

                Nama generik : Omeprazol

                Nama dagang : Protop®, Pumpitor®, Norsec®, Lambuzole®, Loklor®, Losec®, OMZ®, Prilos®, Socid®, Contral®, Dudencer®, Opm®, Onic®, Promezol®, Stomacer®, Prohibit®, Ulzol®, Zollocid®, Zepral®, Lokev®, Meisec®, Omevell®, Ozid®

                Indikasi : Tukak lambung, tukak duodenum, tukak esofagus, refluk esofagus, sindrom Zollinger-Ellison, tukak yang resisten, pembasmian HP saat dikombinasi dengan antibiotik, pendarahan gastrointestinal bagian atas, tukak karena NSAIDs. Omeprazol digunakan untuk terapi jangka pendek dan jangka panjang.

                Kontraindikasi : Pasien yang hipersensitif terhadap omeprasol, atau obat turunan benzimidazol seperti lansoprazol, pantoprazol, esomeprazol, dan rabeprazol.

                Bentuk sedian dan kekuatan :

                · Kapsul lepas lambat berisi granul bersalut enterik (10 mg, 20 mg, 40 mg).

                · Tablet lepas lambat (20 mg).

                Dosis dan aturan pakai : 20-40 mg sekali sehari selama 4-8 minggu. Omeprazol diminum 15-30 menit sebelum makan pagi. Tablet atau kapsul omeprazol diminum dengan cara langsung ditelan menggunakan air. Jangan menguyah atau menghancurkan tablet omeprazol dan jangan membuka kapsul omeprazol karena obat ini didesain untuk lepas lambat.

                Efek samping : Diare, sakit kepala, konstipasi, mual, muntah, nyeri perut, batuk, rasa letih, nyeri punggung, gejala flu, ruam kulit.

                Resiko khusus :

                · Anak usia < 18 th : nyeri kepala

                · Wanita hamil : terdapat laporan omeprazol menyebabkan kelainan kongenital pada bayi yang dilahirkan oleh wanita yang mengkonsumsi omeprazol selama hamil. Omeprazol diberikan pada wanita hamil apabila manfaat lebih besar daripada resiko pada janin.

                · Wanita menyusui : omeprazol didistribusikan ke air susu maka sebaiknya omeprazol tidak digunakan pada wanita menyusui, penggunaan omeprazol pada wanita menyusui dapat diganti dengan obat golongan antasida.

                · Pasien cirrhosis à : jumlah obat di dalam tubuh akan meningkat jika dibandingkan dengan pasien tanpa penyakit tambahan.

                Pustaka

                Berardi, R.R., dkk., 2004, Handbook of Nonprescreption Drugs, 14th ed., American Pharmacist Association, Washington.

                Dollery, C.,1999, Therapeutic Drugs, 2nd ed., vol. 2 (I-Z), Churcill Livingstone, United Kingdom.

                Dipiro, J.T., 1997, Pharmacotherapy : A Pathophysiologic Approach, 3rd ed., 629-646, A Simon and Schuster Company, USA.

                Evoy, G.K.M., 2005, AHFS Drug Information, American Society of Health-System Pharmacists, USA.

                Neal, M.J., 2005, At A Glance Farmakologi Medis, 5th ed., 30-31, diterjemahkan oleh Juwalita Surapsari, Penerbit Erlangga, Jakarta.

                PENGGGUNAAN TOPIKAL IMUNOSUPRESI (PIMECROLIMUS) PADA ATOPIC DERMATITIS

                Eunike, S. Farm.

                (07 8115 010)

                Atopic Dermatitis

                Merupakan penyakit yang kronik, kambuhan, gatal dan radang yang juga dikenal dengan nama atopic eczema.

                Pengobatan (Treatment)

                1.       Sasaran terapi

                AD merupakan penyakit kulit akibat gangguan autoimun. Peningkat IgE dan eosinofilia ditemukan pada hampir semua pasien dengan AD. Karena AD penyakit yang dimediasi oleh sel T, eosinofil, sel Langerhans, dan sel mast, maka sangat logis bila digunakan imunosurpresan agent sebagai treatment atau pengobatan. Namun harus diingat adanya adverse effect reaction.

                2.       Tujuan terapi

                Saat ini AD tidak dapat disembuhkan. Kondisi ini membutuhkan rencana manajemen termasuk mengidentifikasi dan menghindari pemicu luar, memelihara kulit dan menggunakan beberapa pilihan terapetik untuk mengurangi gejala. Tetapi harus secara individual dan pendekatan secara multipronged harus dilakukan.

                3.       Strategi terapi

                Mengurangi gejala, mencegah terjadinya falres dan modifikasi dari pemicu AD merupakan strategi jangka panjang dalam manajemen penanganan AD.

                Terapi nonfarmakologi

                Rekomendasi terapi nonfarmakologi bisa termasuk menghindari kontak dengan parfum, sabun berwarna dan detergen. Menggunakan cara 2 kali bilas untuk cucian, menghindari fluktuasi temperatur yang ekstrim, dsb. Tabir surya harus digunakan pada pasien dengan AD, tapi penggunaan agen nonkimia seperti tabir surya, titanium atau zinc oxide mungkin bisa menyebabkan iritasi lebih lanjut atau kontak dermatitis.

                Pengobatan nonfarmakologi atopic dermatitis adalah sebagai berikut : mengidentifikasi dan mengeliminasi allergen yang potensial, mengurang frekuensi mandi (mandi setiap 2 hari sekali), gunakan air mengalir saat mandi, menghindari iritasi dengan sabun (pewarna, pewangi, bahan pengawet), Menghindari detergen dan scrub yang mengiritasi, Keringkan kulit dengan handuk kering yang halus, gunakan pelembab atau emollien (salep atau krim dengan memperhatikan pewarna, pewngi dan bahan pengawet) 3 menit setelah mandi, menjaga kuku tetap pendek dan bersih, menggunakan sarung tangan berbahan katun untuk mengindari penggarukan, menggunakan baju berbahan katun, menghindari detergen laundry karena dapat mengandung allergen, berikan pelembab untuk menjaga kulit tetap lembut.

                      Terapi farmakologi

                Kortikosteroid Topikal

                         Merupakan obat yang biasa digunakan dalam menangani inflamasi dan pruritus yang disebabkan oleh AD. Digunakan untuk pengobatan reaktif dalam jangka pendek untuk flare-ups akut. Kortikosteroid topikal harus ditambah dengan emollients.

                Antihistamin

                         Antihistamin digunakan untuk memotong siklus garuk-garuk yang disebabkan oleh pruritus dari AD. Karena pruritus lebih parah pada malam hari, antihistamin yang sedatif contohnya hydroxyzine atau dyphenhidramin bisa menyediakan keunggulan dalam memfasilitasi tidur.

                Topikal imunosupresi

                         Topical calcineurin inhibitor, termasuk tacrolimus dan pimecrolimus, sudah masuk dalam dimensi pengobatan AD. Tidak seperti kortikosteroid, agen ini menawarkan pilihan pengobatan dalam jangka panjang karena obat tersebut dapat digunakan pada seluruh bagian tubuh untuk periode lama tanpa takut adanya efek samping. Agen ini membutuhkan sebuah kompleks yang menghasilka inhibisi calcineurin yang secara normal mengakifkan set T.

                Sediaan Tar

                         Sediaan coal dapat mengurangi gatal dan radang pada kulit. Produk ini dapat dikombinasikan dengan topikal kortikosteroid sebagai tambahan sehingga mengurangi kekuatan kortikosteroid dan berhubungan dengan terapi sinar UV. Sediaan berbentuk crude coal tar (1%-3%) atau liquor carbonis detergen (5%-20%).

                Obat Pilihan

                Topikal imunosupresi, Pimecrolimus

                Nama generik

                      Pimecrolimus ointment (1%)

                Nama dagang

                      Elidel®  

                Indikasi

                Sebagai obat imunosupresi yang menghambat mediator sel dan respon imun humoral. Obat ini biasa digunakan untuk mencegah penolakan organ transplantasi dan juga digunakan untuk gangguan sistem autoimun termasuk kondisi dermatologis (psoriasis, dystrophic epidermylysis bullosa dan atopic dermatitis

                Pada atopic dermatitis Pimecrolimus ointment digunakan pada pasien anak-anak dan dewasa dengan AD tingkat sedang dan parah dalam jangka lama. Juga efektif untuk alergi dan iritasi karena dermatitis kontak. Cocok untuk anak-anak dan bayi  usia 3 bulan.

                Kontraindikasi

                Untuk oral Pimecrolimus dikontraindikasikan untuk wanita hamil karena potensial mengakibatkan keguguran, namun untuk topikal Pimecrolimus tidak dilaporkan adanya kontraindikasi pada wanita hamil. Hal ini dikarenakan pimecrolimus topikal tidak memiliki efek sistemik dan dapat ditoleransi secara lokal.

                Bentuk sediaan

                ointment Pimecrolimus 1%

                Dosis dan aturan pakai

                Pada pengobatan atopic dermatitis digunakan sediaan topikal Pimecrolimus 1% berdasarkan rekomendasi FDA. Pada pasien AD, anak-anak dan dewasa. Jika digunakan 2 kali sehari, Pimecrolimus signifikan mengurang pruritus dan flares.

                Efek samping

                Efek samping dari penggunaan pimecrolimus sistemik adalah sakit kepala, insomnia, ansietas, amnesia, dan halusinasi. Efek toksik nya meliputi nefrotoksisitas, neurotoksisitas, hiperglikemi, dan disfungsi gastrointestinal. Efek merugikan sistemik dari pimecrolimus didokumentasikan secara lengkap dengan terapi oral, namun tidak disebutkan pada penggunaan salep topikal untuk AD. Hanya sensasi gatal dan panas atau terbakar pada daerah yang diaplikasikan namun lebih ringan daripada sensasi panas yang ditimbulkan oleh tacrolimus.

                Resiko khusus

                Resiko khusus pada  penggunaan pimecrolimus sistemik adalah wanita hamil yang secara khusus belum diketahui mekanismenya namun dapat menyebabkan keguguran. Pasien geriatri yang kemungkinan fungsi hati dan ginjalnya sudah menurun karena dapat memicu terjadinya disfungsi renal dan kerusakan ginjal. Namun pada penggunaan topikal tidak dilaporkan adanya resiko khusus dalam penggunaan pimecrolimus ointment tersebut.

                Daftar Pustaka

                Anonim, 1999, Therapeutic Drug, second Edition, Volume 2, Edited by: Collin Dollery, Churchill Livingstone, Inc., USA

                 

                Dipiro, J. T., Talbert, R. L., Yee, G. C., Matzke, G. R., Wells, B. G., Posey, L. M., 2005, Pharmacotherapy: A Pathophysiologic Approach, Sixth Edition, 1741-1752, 1769-1781, 1785-1791, The McGraw-Hill Companies, Inc., USA

                 

                PENGGUNAAN PENCAHAR STIMULAN UNTUK MENGOBATI KONSTIPASI

                PENGGUNAAN PENCAHAR STIMULAN UNTUK MENGOBATI KONSTIPASI

                Miliandani Widyastuti (07 8115 057)

                Makanan yang masuk ke dalam tubuh akan melalui lambung, usus halus, dan akhirnya menuju usus besar/kolon. Di dalam kolon inilah terjadi penyerapan cairan dan pembentukan massa feses. Bila massa feses berada terlalu lama dalam kolon, jumlah cairan yang diserap juga banyak, akibatnya konsistensi feses menjadi keras dan kering sehingga dapat menyulitkan pada saat pengeluaran feses. Konstipasi merupakan suatu kondisi di mana seseorang mengalami kesulitan defekasi akibat tinja yang mengeras, otot polos usus yang lumpuh maupun gangguan refleks defekasi (Arif & Sjamsudin, 1995) yang mengakibatkan frekuensi maupun proses pengeluaran feses terganggu. Frekuensi defekasi/buang air besar (BAB) yang normal adalah 3 sampai 12 kali dalam seminggu. Namun, seseorang baru dapat dikatakan konstipasi jika ia mengalami frekuensi BAB kurang dari 3 kali dalam seminggu, disertai konsistensi feses yang keras, kesulitan mengeluarkan feses (akibat ukuran feses besar-besar maupun akibat terjadinya gangguan refleks defekasi), serta mengalami sensasi rasa tidak puas pada saat BAB (McQuaid, 2006). Orang yang frekuensi defekasi/BAB-nya kurang dari normal belum tentu menderita konstipasi jika ukuran maupun konsistensi fesesnya masih normal. Konstipasi juga dapat disertai rasa tidak nyaman pada bagian perut dan hilangnya nafsu makan.

                Konstipasi sendiri sebenarnya bukanlah suatu penyakit, tetapi lebih tepat disebut gejala yang dapat menandai adanya suatu penyakit atau masalah dalam tubuh (Dipiro, et al, 2005), misalnya terjadi gangguan pada saluran pencernaan (irritable bowel syndrome), gangguan metabolisme (diabetes), maupun gangguan pada sistem endokrin (hipertiroidisme).

                TREATMENT KONSTIPASI

                Sasaran Terapi Konstipasi yaitu: (1) massa feses, (2) refleks peristaltik dinding kolon. Tujuan Terapinya adalah menghilangkan gejala, artinya pasien tidak lagi mengalami konstipasi atau proses defekasi/BAB (meliputi frekuensi dan konsistensi feses) kembali normal. Strategi Terapi dapat menggunakan terapi farmakologis maupun non-farmakologis. Terapi non-farmakologis digunakan untuk meningkatkan frekuensi BAB pada pasien konstipasi, yaitu dengan menambah asupan serat sebanyak 10-12 gram per hari dan meningkatkan volume cairan yang diminum, serta meningkatkan aktivitas fisik/olah raga. Sumber makanan yang kaya akan serat, antara lain: sayuran, buah, dan gandum. Serat dapat menambah volume feses (karena dalam saluran pencernaan manusia ia tidak dicerna), mengurangi penyerapan air dari feses, dan membantu mempercepat feses melewati usus sehingga frekuensi defekasi/BAB meningkat (Dipiro, et al, 2005).

                Sedangkan terapi farmakologis dengan obat laksatif/pencahar digunakan untuk meningkatkan frekuensi BAB dan untuk mengurangi konsistensi feses yang kering dan keras. Secara umum, mekanisme kerja obat pencahar meliputi pengurangan absorpsi air dan elektrolit, meningkatkan osmolalitas dalam lumen, dan meningkatkan tekanan hidrostatik dalam usus. Obat pencahar ini mengubah kolon, yang normalnya merupakan organ tempat terjadinya penyerapan cairan menjadi organ yang mensekresikan air dan elektrolit (Dipiro, et al, 2005). Obat pencahar sendiri dapat dibedakan menjadi 3 golongan, yaitu: (1) pencahar yang melunakkan feses dalam waktu 1-3 hari (pencahar bulk-forming, docusates, dan laktulosa); (2) pencahar yang mampu menghasilkan feses yang lunak atau semi-cair dalam waktu 6-12 jam (derivat difenilmetan dan derivat antrakuinon), serta (3) pencahar yang mampu menghasilkan pengluaran feses yang cair dalam waktu 1-6 jam (saline cathartics, minyak castor, larutan elektrolit polietilenglikol).

                Pencahar yang melunakkan feses secara umum merupakan senyawa yang tidak diabsorpsi dalam saluran pencernaan dan beraksi dengan meningkatkan volume padatan feses dan melunakkan feses supaya lebih mudah dikeluarkan. Pencahar bulk-forming meningkatkan volume feses dengan menarik air dan membentuk suatu hidrogel sehingga terjadi peregangan dinding saluran cerna dan merangsang gerak peristaltik. Penggunaan obat pencahar ini perlu memperhatikan asupan cairan kedalam tubuh harus mencukupi, jika tidah bahaya terjadi dehidrasi.

                Derivat difenilmetan yang biasa digunakan adalah bisakodil dan fenolptalein. Senyawa-senyawa ini merangsang sekresi cairan dan saraf pada mukosa kolon yang mengakibatkan kontraksi kolon sehingga terjadi pergerakan usus (peristaltik) dalam waktu 6-12 jam setelah diminum, atau 15-60 menit setelah diberikan melalui rektal. Namun penggunaan fenilptalein sudah dilarang karena bersifat karsinogen. Senyawa ini tidak direkomendasikan untuk digunakan tiap hari. Jarak antara setiap kali penggunaan harus cukup lama, sekitar beberapa minggu, untuk mengobati konstipasi ataupun untuk mempersiapkan pengosongan kolon jika diperlukan untuk pembedahan.

                Saline cathartics merupakan garam anorganik yang mengandung ion-ion seperti Mg, S, P, dan sitrat, yang bekerja dengan mempertahankan air tetap dalam saluran cerna sehingga terjadi peregangan pada dinding usus, yang kemudian merangsang pergerakan usus (peristaltik). Selain itu, Mg juga merangsang sekresi kolesitokinin, suatu hormon yang merangsang pergerakan usus besar dan sekresi cairan. Senyawa ini dapat diminum ataupun diberikan secara rektal. Pencahar saline ini juga dapat digunakan untuk mengosongkan kolon dengan cepat sebagai persiapan sebelum pemeriksaan radiologi, endoskopi, dan pembedahan pada bagian perut (Gangarosa & Seibertin, 2003).

                Secara umum, penggunaan pencahar untuk mengatasi konstipasi sebaiknya dihindari. Namun, jika konstipasi yang terjadi dapat menimbulkan keparahan kondisi pasien, misalnya pada pasien wasir atau pasien yang baru menjalani pembedahan perut, penggunaan obat pencahar sangat diperlukan. Berikut adalah obat yang dipilih untuk digunakan mengatasi konstipasi yang tidak cukup jika diatasi hanya dengan fiber:

                NAMA GENERIK : Bisacodyl.

                NAMA DAGANG DI INDONESIA : Dulcolax®, Bicolax®, Codylax®, Laxacod®, Laxamex®, Melaxan®, Prolaxan®, Stolax®, Toilax®.

                INDIKASI

                Konstipasi; sebelum prosedur radiologi dan bedah. Semua bentuk sembelit, memudahkan buang air besar pada kondisi dengan rasa sakit seperti pada hemorrhoid (wasir), pengosongan lambung-usus sebelum & sesudah operasi.

                KONTRA INDIKASI

                Obat ini tidak boleh diberikan pada pasien yang mengalami sumbatan pada usus (ileus), kondisi pembedahan perut akut, maupun dalam kondisi dehidrasi berat.

                PERHATIAN

                Penggunaan senyawa ini dalam jangka lama dapat mengakibatkan kram perut yang parah dan ketidakseimbangan cairan dan elektrolit, juga tidak boleh digunakan untuk pasien hamil dan menyusui.

                EFEK SAMPING

                Jarang: rasa tidak enak pada perut, diare.

                BENTUK SEDIAAN

                Tablet 5 mg (Bicolax®, Codylax®, Laxacod®, Laxamex®, Melaxan®, Prolaxan®, Toilax®) dan 10 mg (Dulcolax®, Stolax®).

                DOSIS

                Untuk konstipasi, dewasa: 5-10 mg malam hari; kadang-kadang perlu dinaikkan menjadi 15-20 mg. Anak kurang dari 10 tahun : 5 mg.

                Pemeriksaan radiografik, sebelum dan sesudah operasi :

                – dewasa : 2-4 tablet pada malam sebelum pemeriksaan dan 1 suppositoria pada pagi harinya (di hari pemeriksaan).

                – anak-anak berusia 4 tahun atau lebih : 1 tablet pada sore hari sebelum pemeriksaan dan 1 suppositoria pada pagi harinya (di hari pemeriksaan).

                PUSTAKA

                Anonim, 2000, Informatorium Obat Nasional Indonesia, hal. 32-33, Sagung Seto, Jakarta

                Arif, A., Sjamsudin, U., 1995, Obat Lokal dalam Farmakologi dan Terapi, Edisi 4, hal. 509, Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta

                Dipiro, J.T., Talbert, R.L., Yee, G.C., Matzke, G.R., Wells, B.G., Posey, L.M. (editors), 2005, Pharmacotherapy: A Phatophysiologic Approach, 6th Edition, p.684-689, McGraw-Hill, United States of America.

                Gangarosa, L.M., Seibert, D.G., 2003, E-book: Modern Pharmacology With Clinical Application, 6th Edition, p.474-476

                McQuaid, K.R, 2006, E-book: Current Medical Diagnosis & Treatment: Allimentary Tract, 45th Edition, p.541-544, McGraw-Hill, United States of America

                Penggunaan Vaksin BCG untuk Pencegahan Tuberculosis

                Penggunaan Vaksin BCG untuk Pencegahan Tuberculosis

                (Indah Setiarini, S.Farm / 078115054)

                 

                Tuberculosis atau lebih sering disebut dengan TBC adalah infeksi kronis bakteri yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. Sebagian besar orang yang terinfeksi oleh bakteri tuberculosis menderita TBC tanpa mengalami gejala, hal ini yang disebut dengan latent tuberculosis. Jika daya tahan tubuh mengalami penurunan karena usia, malnutrisi, infeksi seperti HIV, atau karena faktor lain, bakteri akan aktif dan menyebabkan active tuberculosis.

                Berdasarkan data WHO, setiap tahun, sekitar 8 juta orang di seluruh dunia mengalami active tuberculosis dan hampir 2 juta diantaranya meninggal dunia.

                TBC seperti telah disebutkan sebelumnya disebabkan oleh bakteri yang disebut Mycobacterium tuberculosis. Bakteri ini biasanya menyerang paru-paru. Akan tetapi, bakteri tuberculosis juga dapat menyerang bagian lain tubuh seperti ginjal, spine, dan otak.

                TBC menyebar melalui udara dari satu orang ke orang lainnya. Bakteri tuberculosis terdapat pada udara ketika orang dengan active tuberculosis mengalami batuk atau bersin. Orang-orang yang ada di sekitarnya mungkin menghirup udara yang mengandung bakteri ini dan selanjutnya menjadi terinfeksi.

                Pada orang yang terinfeksi oleh bakteri tuberculosis, secara alamiah tubuh memiliki mekanisme pertahanan untuk melawan perkembangan bakteri. Akibatnya bakteri menjadi inaktif, tetapi masih tetap tinggal di dalam tubuh. Inilah yang disebut dengan latent tuberculosis. Pasien yang mengalami latent tuberculosis memiliki ciri-ciri:

                1. Tidak mengalami gejala TBC.

                2. Tidak merasa sakit.

                3. Tidak dapat menyebarkan bakteri tuberculosis.

                4. Biasanya pada PPD test (tuberculosis skin test reaction) memberikan hasil positif.

                5. Pada beberapa kasus, dapat mengalami perkembangan menjadi active tuberculosis jika tidak menerima terapi.

                Apabila pasien yang tidak menerima pengobatan, mengalami penurunan daya tahan tubuh maka latent tuberculosis akan berkembang menjadi active tuberculosis. Active tuberculosis adalah kondisi di mana sistem imun tubuh tidak mampu untuk melawan bakteri tuberculosis yang terdapat dalam tubuh, sehingga menimbulkan infeksi terutama pada bagian paru-paru. Gejala untuk active tuberculosis meliputi :

                1. Batuk berkepanjangan selama 3 minggu atau lebih.

                2. Nyeri pada bagian dada.

                3. Batuk berdahak atau berdarah.

                4. Penurunan berat badan.

                5. Demam, menggigil, dan berkeringat pada malam hari.

                6. Kelelahan dan kehilangan selera makan.

                Diagnosis untuk TBC dapat dilakukan dengan Tuberculin test dan Uji mikrobiologi.

                Sasaran untuk terapi TBC adalah pada bakteri Mycobaterium tuberculosis dan pada sistem imun tubuh. Tujuan terapi untuk TBC adalah sedapat mungkin bersifat preventif atau pencegahan timbulnya infeksi oleh Mycobacterium tuberculosis dan bila telah terjadi infeksi maka menghilangkan gejala TBC, mencegah keparahan, dan sembuh. Beberapa cara yang dapat digunakan untuk terapi TBC adalah :

                1. Penggunaan vaksin BCG (bacille Calmette -Guerin).

                2. Pengobatan pada pasien latent tuberculosis.

                3. Pengobatan pada pasien active tuberculosis dengan menggunakan antibiotik (isoniazid, rifampin, dsb) selama kurang         lebih 6 bulan.

                Selanjutnya yang akan dibahas lebih lanjut adalah tentang penggunaan vaksin BCG untuk pencegahan TBC.

                Vaksin merupakan suspensi mikroorganisme yang dilemahkan atau dimatikan (bakteri, virus, atau riketsia) yang diberikan untuk mencegah, meringankan, atau mengobati penyakit yang menular. Vaksin BCG merupakan suatu attenuated vaksin1 yang mengandung kultur strain Mycobacterium bovis dan digunakan sebagai agen imunisasi aktif terhadap TBC dan telah digunakan sejak tahun 1921. Walaupun telah digunakan sejak lama, akan tetapi efikasinya menunjukkan hasil yang bervariasi yaitu antara 0 – 80% di seluruh dunia. Vaksin BCG secara signifikan mengurangi resiko terjadinya active tuberculosis dan kematian. Efikasi dari vaksin tergantung pada beberapa faktor termasuk diantaranya umur, cara/teknik vaksinasi, jalur vaksinasi, dan beberapa dipengaruhi oleh faktor lingkungan.

                Vaksin BCG sebaiknya digunakan pada infants, dan anak-anak yang hasil uji tuberculinnya negatif dan yang berada dalam lingkungan orang dewasa dengan kondisi terinfeksi TBC dan tidak menerima terapi atau menerima terapi tetapi resisten terhadap isoniazid atau rifampin. Selain itu, vaksin BCG juga harus diberikan kepada tenaga kesehatan yang bekerja di lingkungan dengan pasien infeksi TBC tinggi. Sebelum dilakukan pemberian vaksin BCG (selain bayi sampai dengan usia 3 bulan) setiap pasien harus terlebih dahulu menjalani skin test. Vaksin BCG tidak diindikasikan untuk pasien yang hasil uji tuberculinnya posistif atau telah menderita active tuberculosis, karena pemberian vaksin BCG tidak memiliki efek untuk pasien yang telah terinfeksi TBC.

                Vaksin BCG merupakan serbuk yang dikering-bekukan untuk injeksi berupa suspensi. Sebelum digunakan serbuk vaksin BCG harus dilarutkan dalam pelarut khusus yang telah disediakan secara terpisah. Penyimpanan sediaan vaksin BCG diletakkan pada ruang atau tempat bersuhu 2 – 8oC serta terlindung dari cahaya. Pemberian vaksin BCG biasanya dilakukan secara injeksi intradermal/intrakutan (tidak secara subkutan) pada lengan bagian atas atau injeksi perkutan sebagai alternatif bagi bayi usia muda yang mungkin sulit menerima injeksi intradermal. Dosis yang digunakan adalah sebagai berikut:

                1. Untuk infants atau anak-anak kurang dari 12 bulan diberikan 1 dosis vaksin BCG sebanyak 0,05ml (0,05mg).

                2. Untuk anak-anak di atas 12 bulan dan dewasa diberikan 1 dosis vaksin BCG sebanyak 0,1 ml (0,1mg).

                Perlindungan yang diberikan oleh vaksin BCG dapat bertahan untuk 10 – 15 tahun. Sehingga re-vaksinasi pada anak-anak umumnya dilakukan pada usia 12 -15 tahun.

                Vaksin BCG dikontra-indikasikan untuk pasien yang mengalami gangguan pada kulit seperti atopic dermatitis, serta baru saja menerima vaksinasi lain (perlu ada interval waktu setidaknya 3 minggu). Vaksin BCG juga tidak diberikan untuk :

                1. Pasien dengan gangguan imunitas (immunosuppressed) seperti pasien HIV, pasien yang mengkonsumsi obat-obat                 kortikosteroid (immunosuppressan), atau baru saja menerima transplantasi organ.

                2. Wanita hamil dan menyusui, walaupun belum ada data yang menunjukkan efek bahaya dari pemberian vaksin BCG             terhadap wanita hamil dan menyusui.

                Beberapa adverse reaction yang mungkin terjadi setelah pemberian vaksin BCG antara lain:

                • Nyeri pada tempat injeksi, terjadi ulcer atau keloid karena kesalahan pada saat injeksi.
                • Kelebihan dosis dan pemberian vaksin pada pasien dengan tuberculin positif.
                • Sakit kepala, demam, dan timbul reaksi alergi

                Beberapa contoh vaksin BCG yang tersedia di Indonesia adalah : Vaksin BCG kering (Bio Farma) dan BCG Vaccine SSI (Statent Serum Institut – Denmark).

                1 Attenuated vaksin : vaksin yang disiapkan dari mikroorganisme atau virus hidup yang dibiakkan di bawah kondisi yang         tidak sesuai agar kehilangan virulensinya tetapi tetap mempunyai kemampuan untuk menginduksi kekebalan.

                Daftar Pustaka

                Anonim, 1998, Kamus Saku Kedokteran Dorland, Edisi 25, ECG, Jakarta

                Anonim, 2000, Informatorium Obat Nasional Indonesia, 431, 432, Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.

                Simon, Harvey E., 2002, Infections due to Mycobacteria, in Infectious Disease: The Clinician’s Guide to Diagnosis, Treatment, and Prevention, WebMD Profesional Publishing

                http://0-www.cdc.gov.pugwash.lib.warwick.ac.uk/mmwr/PDF/rr/rr4504.PDF diakses tanggal 20 Desember 2007

                http://www.immunisation.nhs.uk/files/GB_32_tb.pdf diakses tanggal 16 Desember 2007

                http://www.rxmed.com/b.main/b2.pharmaceutical/b2.1.monographs/CPS-%20Monographs/CPS-%20(General%20Monographs-%20B)/BCG%20Vaccine.html diakses 20 Desember 2007

                 

                PENGGUNAAN ISOSORBID DINITRAT PADA PENYAKIT JANTUNG ISKEMIK

                (Reni Waradhika, NIM : 078115063)

                A.     Pendahuluan

                Penyakit jantung iskemik adalah keadaan berbagai etiologi, yang menyebabkan ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen miokard. Penyebab paling umum iskemia miokard adalah aterosklerosis. Keberadaan aterosklerosis menyebabkan penyempitan pada lumen pembuluh arteri koronaria epikardial sehingga suplai oksigen miokard berkurang. Iskemia miokard juga dapat terjadi karena kebutuhan oksigen miokard meningkat secara tidak normal seperti pada hipertrofi ventrikel atau stenosis aorta. Jika kejadian iskemik bersifat sementara maka berhubungan dengan angina pektoris, jika berkepanjangan maka dapat menyebabkan nekrosis miokard dan pembentukan parut dengan atau tanpa gambaran klinis infark miokard (Isselbacher, 2000).

                Obat yang umum digunakan yaitu antiangina (senyawa nitrat, penghambat beta, penghambat kanal kalsium) dan asetosal (Isselbacher, 2000). Senyawa nitrat bekerja melalui dua mekanisme. Secara in vivo senyawa nitrat merupakan pro drug yaitu menjadi aktif setelah dimetabolisme dan menghasilkan nitrogen monoksida (NO). Biotransformasi senyawa nitrat yang berlangsung intraseluler ini dipengaruhi oleh adanya reduktase ekstrasel dan reduced tiol (glutation) intrasel. Nitrogen monoksida akan membentuk kompleks nitrosoheme dengan guanilat siklase dan menstimulasi enzim ini sehingga kadar cGMP meningkat. Selanjutnya cGMP akan menyebabkan defosforilasi miosin, sehingga terjadi relaksasi otot polos. Mekanisme kerja yang kedua yaitu akibat pemberian senyawa nitrat, endotelium akan melepaskan prostasiklin (PGI2) yang bersifat vasodilator. Berdasarkan kedua mekanisme ini, senyawa nitrat dapat menimbulkan vasodilatasi, dan pada akhirnya menyebabkan penurunan kebutuhan dan peningkatan suplai oksigen (Gunawan, 2007).

                B.     Sasaran Terapi

                Vasodilatasi pembuluh arteri koronaria epikardial.

                C.     Tujuan Terapi

                Mengatasi nyeri angina dengan menyeimbangkan suplai dan kebutuhan oksigen miokard.

                D.     Strategi Terapi

                Pada serangan akut angina diberikan kombinasi dua macam antiangina (dengan tujuan meningkatkan efektivitas dan mengurangi efek samping) dan asetosal. Jika serangan angina tidak membaik pada pemberian kombinasi dua macam antiangina, maka dapat diberikan kombinasi tiga macam antiangina. Antiangina digunakan karena dapat menurunkan kebutuhan oksigen miokard dan meningkatkan suplai oksigen miokard sehingga keseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen tercapai. Asetosal digunakan karena dapat mencegah atau mengurangi agregasi trombosit, dengan demikian aliran darah tidak semakin terhambat (Isselbacher, 2000).

                E.     Obat Pilihan

                Pada artikel ini, isosorbid dinitrat digunakan sebagai obat pilihan.

                1.      Nama generik       : Isosorbid Dinitrat, tablet sublingual 5 mg, 10 mg

                2.      Nama dagang        

                • Cedocard, tablet 5 mg, 10 mg, 20 mg
                • Cedocard Retard, tablet lmb 20 mg
                • Farsorbid, tablet sub 5 mg, 10 mg
                • Isoket, tablet 5 mg, 10 mg
                • Isoket Retard, tablet lmb 20 mg, 40 mg; cairan injeksi 1 mg/ml; aerosol 25 mg/ml; krim 100 mg/g
                • Isomack Retard, kapsul 20 mg
                • Isomack Spray, buccal spray 13,9 mg/ml
                • Td Spray Iso Mack, spray transdermal 96,7 mg/ml
                • Vascardin, tablet 5 mg, 10 mg

                3.      Indikasi                 : Profilaksis dan pengobatan angina; gagal jantung kiri

                4.      Kontra-indikasi

                Hipersensitivitas terhadap nitrat, hipotensi dan hipovolemia, kardiopati obstruktif hipertrofik, stenosis aorta, tamponade jantung, perikarditis konstriktif, stenosis mitral, anemia berat, trauma kepala, perdarahan otak, glaukoma sudut sempit.

                5.      Bentuk sediaan 

                Tablet, tablet sublingual, tablet lepas lambat, kapsul, cairan injeksi, aerosol, krim, buccal spray, dan spray transdermal.

                6.      Dosis dan Aturan pakai

                • Sublingual : 5-10 mg
                • Oral : sehari dalam dosis terbagi, angina 30-120 mg
                • Infus Intravena : 2-10 mg/jam; dosis lebih tinggi sampai 20 mg/jam mungkin diperlukan

                7.      Efek samping

                Sakit kepala berdenyut, muka merah, pusing, hipotensi postural, takikardi (dapat terjadi bradikardi paradoksikal). Efek samping yang khas setelah injeksi meliputi hipotensi berat, mual dan muntah, diaforesis, kuatir, gelisah, kedutan otot, palpitasi, nyeri perut, sinkop, pemberian jangka panjang disertai dengan methemoglobinemia.

                8.   Peringatan          

                • Gangguan hepar atau ginjal berat; hipotiroidisme, malnutrisi, atau hipotermia; infark miokard yang masih baru; sistem transdermal yang mengandung logam harus diambil sebelum kardioversi atau diatermi.
                • Senyawa nitrat kerja panjang atau transdermal dapat mengakibatkan toleransi (efek terapi berkurang). Jika toleransi diperkirakan setelah penggunaan sediaan transdermal, sediaan tersebut harus dilepas selama beberapa jam berurutan dalam setiap kurun waktu 24 jam.     

                                                                                                                   (Anonim, 2000) 

                Daftar Pustaka

                Anonim, 2000, Informatorium Obat Nasional Indonesia, Depkes RI Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan, Jakarta. 

                Gunawan, S.G. (Ed.), dkk., 2007, Farmakologi dan Terapi, Edisi 5, Departemen Farmakologi dan Terapeutik FKUI, Jakarta.  

                Isselbacher, K.J. (Ed.), et al., 2000, Harrison Prinsip-Prinsip Ilmu Penyakit Dalam, Edisi 13, Volume 3, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta. 

                PENGGUNAAN TABLET ACYCLOVIR PADA INFEKSI HERPES SIMPLEX VIRUS (HSV)

                PENGGUNAAN TABLET ACYCLOVIR PADA INFEKSI HERPES SIMPLEX VIRUS (HSV)

                Disusun oleh : Dumayanti (078115049)

                 

                Herpes adalah infeksi virus pada kulit. Herpes Simplex Virus merupakan salah satu virus yang menyebabkan penyakit herpes pada manusia. Tercatat ada tujuh jenis virus yang dapat menyebabkan penyakit herpes pada manusia, yaitu Herpes Simplex Virus, Varizolla Zoster Virus (VZV), Cytomegalovirus (CMV), Epstein-Barr Virus (EBV), dan Human Herpes Virus tipe 6 (HHV-6), tipe 7 (HHV-7), tipe 8 (HHV-8). Semua virus herpes memiliki ukuran dan morfologi yang sama dan semuanya melakukan replikasi pada inti sel. Herpes Simplex Virus sendiri dibagi menjadi dua tipe, yaitu Herpes Simplex Virus tipe 1 (HSV1) yang menyebabkan infeksi pada mulut, mata, dan wajah dan Herpes Simplex Virus tipe 2 (HSV-2) yang menyebabkan infeksi pada alat kelamin (genital). Tetapi, bagaimanapun kedua tipe virus tersebut dapat menyebabkan penyakit dibagian tubuh manapun. HSV-1 menyebabkan munculnya gelembung berisi cairan yang terasa nyeri pada mukosa mulut, wajah, dan sekitar mata. HSV-2 atau herpes genital ditularkan melalui hubungan seksual dan menyebakan gelembung berisi cairan yang terasa nyeri pada membran mukosa alat kelamin. Infeksi pada vagina terlihat seperti bercak dengan luka. Pada pasien mungkin muncul iritasi, penurunan kesadaran yang disertai pusing, dan kekuningan pada kulit (jaundice) dan kesulitan bernapas atau kejang. Lesi biasanya hilang dalam 2 minggu. infeksi . Episode pertama (infeksi pertama) dari infeksi HSV adalah yang paling berat dan dimulai setelah masa inkubasi 4-6 hari. Gelala yang timbul, meliputi nyeri, inflamasi dan kemerahan pada kulit (eritema) dan diikuti dengan pembentukan gelembung-gelembung yang berisi cairan. Cairan bening tersebut selanjutnya dapat berkembang menjadi nanah, diikuti dengan pembentukan keropeng atau kerak (scab). Setelah infeksi pertama, HSV memiliki kemampuan yang unik untuk bermigrasi sampai pada saraf sensorik tepi menuju spinal ganglia, dan berdormansi sampai diaktifasi kembali. Pengaktifan virus yang berdormansi tersebut dapat disebabkan penurunan daya tahan tubuh, stress, depresi, alergi pada makanan, demam, trauma pada mukosa genital, menstruasi, kurang tidur, dan sinar ultraviolet.

                 

                Sasaran terapi

                Sasaran terapi acyclovir adalah Herpes Simplex Virus (HSV).

                 

                Tujuan terapi

                Tujuan terapi acyclovir adalah mencegah dan mengobati infeksi Herpes Simplex Virus (HSV), menyembuhkan gejala yang muncul, seperti kemerahan (eritema), gelembung-gelembung berisi cairan, keropeng atau kerak.

                 

                Strategi terapi

                Strategi terapi farmakologis (terapi dengan obat) dalam pengobatan penyakit herpes adalah dengan menggunakan obat-obat antivirus. Pengobatan baku untuk herpes adalah dengan acyclovir, valacyclovir, famcyclovir, dan pencyclovir yang dapat diberikan dalam bentuk krim, pil atau secara intravena (infus) untuk kasus yang lebih parah. Semua obat ini paling berhasil apabila dimulai dalam tiga hari pertama setelah rasa nyeri akibat herpes mulai terasa. Semua antivirus yang digunakan pada infeksi Herpes Simplex Virus (HSV) bekerja dengan menghambat polimerase DNA virus. Acyclovir, ganciclovir, famciclovir, dan valacyclovir secara selektif di fosforilasi menjadi bentuk monofosfat pada sel yang terinfeksi virus. Bentuk monofosfat tersebut selanjutnya akan diubah oleh enzym seluler menjadi bentuk trifosfat, yang akan menyatu dengan rantai DNA virus. Acyclovir, famciclovir, dan valacyclovir terbukti efektif dalam memperpendek durasi dari gejala dan lesi.

                Ayclovir : merupakan agen yang paling banyak digunakan pada infeksi herpes simplex virus, tersedia dalam bentuk sediaan intravena, oral, dan topikal.

                Ganciclovir : mempunyai aktivitas terhadap herpes simplex virus tipe 1 dan 2, tetapi lebih toksik daripada acyclovir, famciclovir, dan valacyclovir, karena itu tidak direkomendasikan untuk pengobatan herpes.

                Famciclovir : merupakan prodrug dari penciclovir yang secara klinis efektif dalam mengobati herpes simplex virus tipe 1 dan 2.

                Valacyclovir : merupakan valyl ester dari acyclovir dan memiliki bioavailabilitas yang lebih besar daripada acyclovir.

                Obat Pilihan

                Nama Generik

                Acyclovir

                 

                Nama Dagang

                Clinovir (Pharos)

                 

                Indikasi

                Untuk mengobati genital Herpes Simplex Virus, herpes labialis, herpes zoster, HSV encephalitis, neonatal HSV, mukokutan HSV pada pasien yang memiliki respon imun yang diperlemah (immunocompromised), varicella-zoster.

                 

                Kontraindikasi

                Hipersensitifitas pada acyclovir, valacyclovir, atau komponen lain dari formula.

                 

                Bentuk Sediaan

                Tablet 200 mg, 400 mg.

                 

                Dosis dan Aturan Pakai

                Pengobatan herpes simplex: 200 mg (400 mg pada pasien yang memiliki respon imun yang diperlemah/immunocompromised atau bila ada gangguan absorbsi) 5 kali sehari, selama 5 hari. Untuk anak dibawah 2 tahun diberikan setengah dosis dewasa. Diatas 2 tahun diberikan dosis dewasa.

                Pencegahan herpes simplex kambuhan, 200 mg 4 kali sehari atau 400 mg 2 kali sehari, dapat diturunkan menjadi 200 mg 2atau 3 kali sehari dan interupsi setiap 6-12 bulan.

                Pencegahan herpes simplex pada pasien immunocompromised, 200-400 mg 4 kali sehari. Anak dibawah 2 tahun setengah dosis dewasa. Diatas 2 tahun dosis sama dengan dosis orang dewasa.

                 

                Efek Samping

                Pada sistem saraf pusat dilaporakan terjadi malaise (perasaan tidak nyaman) sekitar 12% dan sakit kepala (2%).pada system pencernaan (gastrointestinal) dilaporkan terjadi mual (2-5%), muntah (3%) dan diare (2-3%).

                Resiko Khusus

                Penggunaan Acyclovir pada wanita hamil masuk dalam kategori B. Efek teratogenik dari Acyclovir tidak diteliti pada studi dengan hewan percobaan. Acyclovir terbukti dapat melewati plasenta manusia.Tidak ada penelitian yang cukup dan terkontrol pada wanita hamil. pada tahun 1984-1999 diadakan pendaftaran bagi wanita hamil, dan dari hasil yang terlihat tidak ada peningkatan kelahiran bayi yang cacat karena penggunaan Acyclovir . tetapi karena tidak semua wanita hamil mendaftarkan diri dan kurangnya data dalam jangka waktu yang panjang, maka direkomendasikan penggunaan acyclovir untuk wanita hamil disertai peringatan dan diberikan jika benar-benar-benar diperlukan. Acyclovir juga dapat masuk ke dalam air susu ibu, karena itu penggunaan pada ibu menyusui harus disertai peringatan.

                 

                Daftar Pustaka

                Anonim, 2000, Informatorium Obat Nasional Indonesia,Departemen Kesehatan RI, Direktorat Jendral Pengawasan Obat dan Makanan, Jakarta

                Anonim, 2005, Drug Information Handbook, Edisi 14, Lexi-Comp, Amerika Serikat.

                Harrison, et al.,2001, Principle’s Of Internal Medicine, 15th Edition,McGreHill Companies, Inc., USA.

                McEvoy, G.K.,2004, AHFS Drug Information,American Society Of Health_Systen Pharmacists, Inc.,USA

                Rakel, David.,2003,Integrative Medicine, 1st Edition, Elsevier Science, USA