PENGARUH SEDIAAN LEPAS LAMBAT (Time Delays) TEOFILIN TERHADAP KADAR OBAT DALAM PLASMA

PENGARUH SEDIAAN LEPAS LAMBAT (Time Delays) TEOFILIN TERHADAP KADAR OBAT DALAM PLASMA

Siska Suryanto (058114002), Maria Gratia Noviani (058114020), Andina Paramita (058114021), Fajarini Wibondari J. (058114032)

 

PENDAHULUAN

Suatu terapi yang optimal memerlukan penentuan obat secara tepat, yang dapat dilakukan dengan dukungan diagnosis yang akurat, pengetahuan tentang kondisi klinis pasien dan penguasaan farmakoterapi. Setelah obat ditentukan, kemudian pertanyaan yang timbul adalah: How Much, How Often, dan How Long obat tersebut dibutuhkan?. How Much perlu dijawab karena intensitas efek obat (terapetik maupun toksik) umumnya tergantung pada dosis. How Often perlu dipertanyakan karena respon terapetik akan menurun setelah minum obat sehingga pemberian obat mungkin perlu berulang, dan pertanyaan How Long perlu dijawab agar dapat dicapai keseimbangan antara keberhasilan (kesembuhan) dengan risiko pengobatan (toksisitas, efek samping maupun ekonomik).Dahulu, pertanyaanpertanyaan di atas dijawab dengan “trial and error. Dengan cara ini, kemudian didapatkan suatu aturan pemakaian (dosage regimen) obat yang dianggap optimal. Akan tetapi, masih banyak pertanyaan yang tetap belum terjawab.Dalam perkembangan ilmu selanjutnya, dapat diketahui dari penelitian in vitro maupun in vivo, bahwa ternyata intensitas efek farmakologik suatu obat tergantung pada kadar obat tersebut dalam cairan tubuh yang berada di sekitar tempat aksi. Oleh karena itu, timbul pemikiran bahwa suatu efek farmakologik dapat dioptimalkan dengan mengatur kadar obat di tempat aksinya, pada periode waktu tertentu. Faktor-faktor yang mempengaruhi kadar obat di tempat aksi pada periode waktu tertentu adalah adanya metabolit aktif, kiralitas struktur suatu obat, toleransi dan resistensi yang didapat, terapi dosis tunggal, durasi dan intensitas pemberian obat, serta waktu yang tertunda sedangkan salah satu faktor yang mempengaruhi kemanfaatan klinik suatu sediaan obat adalah mutu sediaan obat. Mutu sediaan obat tidak hanya cukup dinilai dari pemeriksaan ketepatan kandungan bahan aktif atau kestabilan sediaan, tetapi juga memerlukan pemeriksaan yang dapat menunjukkan bahwa sediaan tersebut dapat diabsorpsi dengan baik pada waktu diberikan kepada pasien. Pemeriksaan yang dianggap baku untuk kebutuhan ini adalah uji ketersediaan hayati. Uji ketersediaan hayati adalah studi yang menilai seberapa banyak dan seberapa cepat bahan aktif suatu obat diabsorpsi oleh tubuh. Dengan demikian, ketersediaan hayati suatu obat menunjukkan jumlah/fraksi (extent) dari dosis yang diberikan dan kecepatan (rate) yang masuk ke dalam sirkulasi sistemik. Jumlah obat yang masuk ke sirkulasi sitemik dan kecepatannya akan menentukan saat mulainya obat menunjukkan efek (onset), derajat (intensitas), dan lama (durasi) efek farmakologis obat.Metode formulasi dapat mempengaruhi ketersediaan hayati suatu obat dan dapat diketahui bahwa sering dijumpai adanya ketersediaan hayati yang tidak sempurna (incomplete), dan juga adanya keanekaragaman yang besar (variability) antar produk obat. Dengan demikian, nilai ketersediaan hayati mempunyai arti penting dalam menilai mutu (performance) suatu produk obat secara in vivo. Oleh karena itu, penelitian untuk mengevaluasi ketersediaan hayati merupakan tahap penting dalam upaya peningkatan kualitas suatu obat. Sediaan lepas lambat (time delays) dibuat dengan tujuan untuk melepaskan obat secara “lambat” dan konstan sehingga diharapkan absorpsinya juga akan konstan. Pada pola absorpsi time delays, kadar puncak yang dicapai sediaan obat lepas lambat tidak setinggi sediaan konvensionalnya. Sediaan konvensional seperti tablet dan kapsul pada umumnya diabsorpsi secara cepat.

PENGARUH TIME DELAYS TEOFILIN

Dengan adanya perkembangan ilmu dan teknologi farmasi, beberapa jenis obat ternyata akan lebih menguntungkan jika diformulasikan dalam bentuk sediaan lepas lambat (time delays). Tujuan utama pengembangan sediaan lepas lambat (time delays) ini adalah agar ketersediaan hayati (kadar obat di dalam plasma) lebih baik dibandingkan dengan sediaan konvensional.

Pada sediaan konvensional, absorpsi Teofilin sangat cepat (10-20 menit) mencapai kadar maksimum yaitu > 15µg/ml, padahal efek bronkhodilator hanya memerlukan kadar terapi 5-15µg/ml. Tingginya kadar puncak > 15µg/ml berkaitan sangat erat dengan gejala toksisitas teofilin, misalnya palpitasi. Dengan pola absorpsi seperti ini, ada kebutuhan untuk menghilangkan fluktuasi pada fase absorpsi dan mempertahankan agar kadar teofilin bertahan lebih lama dalam plasma. Persoalan yang kemudian timbul adalah bagaimana cara membuktikan bahwa formulasi sediaan lepas lambat (time delays) benar-benar bisa melepaskan obat secara lambat karena kegagalan formulasi akan membawa risiko toksisitas yang lebih besar, yaitu terlepasnya teofilin secara serentak, padahal dosis sediaan lepas lambat adalah beberapa dosis yang dijadikan satu.

Dengan adanya metode formulasi time delays maka kadar teofilin di dalam plasma dapat terkontrol sehingga berada pada range terapi yaitu 5-15µg/ml dan efektif sebagai bronkhodilator.

 

PEMAKAIAN KLINIK SEDIAAN LEPAS LAMBAT TEOFILIN

Pemakaian teofilin sering digunakan pada pencegahan serangan maupun untuk pengobatan serangan asma. Akhir-akhir ini, pemakaian teofilin cenderung digantikan oleh salbutamol. Namun demikian, teofilin masih merupakan pilihan yang direkomendasikan, meskipun banyak mempunyai efek samping. Keunggulan pemakaian teofilin terutama karena efek samping atau efek toksiknya sudah dikenali, sehingga dapat segera diantisipasi oleh dokter, selain itu teofilin memiliki kemanfaatan klinik sebagai bronkhodilator yang memuaskan. Teofilin dapat menimbulkan gejala efek samping yang berupa gangguan gastrointestinal, takikardi, palpitasi, aritmia, nyeri kepala, gangguan konsentrasi, insomnia, dan kejang. Telah diketahui bahwa gejala efek samping ini berkaitan dengan kadar teofilin dalam plasma. Sediaan lepas lambat teofilin diformulasikan untuk mencegah terjadinya kenaikan kadar teofilin dengan cepat setelah pemberian peroral. Kenaikan kadar yang cepat ini sering mencapai kadar di atas kadar efektif minimal (KEM). Sediaan lepas lambat teofilin yang baik harus menunjukkan kadar yang selalu berada di dalam jendela terapi, agar tercapai kemanfatan klinik yang maksimal dengan efek toksik minimal (KTM).

 

KESIMPULAN

Dengan adanya metode formulasi time delays maka kadar teofilin di dalam plasma dapat terkontrol sehingga berada pada range terapi yaitu 5-15µg/ml dan efektif sebagai bronkhodilator.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 1998, British National Formulary, 38th edition, 132, British Medical Association, London

Anonim, 2000, Drug Information for the Health Care Professional, 2th edition, 684-698 Unites States Pharmacopeial Convention, Rockville

Gibaldi, M., 1977, Biopharmaceutics and Clinical Pharmacokinetics, 2th edition, Lea & Febiger, Philadelphia.

Tierny, L., 1998, Current Medical Diagnosis and Treatment, 37th edition, Appleton and Lange, Stamford.

Williu, 1988, Pharmacokinetics and Regulatory Industrial, Academic Perspective, 308-336, Marcel Dekker Inc. New York

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s