Monthly Archives: April 2008

Bahasa gaul narkoba

A

Abes : salah tusuk urat / bengak
Abses : benjolan karena heroin yang disuntik tidak masuk ke dalam urat
Acid : LSD, salah satu zat halusinogenika, bila dikonsumsi akan timbul halusinasi
Afo : alumunium foil
Alfo; foil; alumunium foil : tempat untuk memakai / bakar shabu
Amp/amplop : kemasan untuk membungkus ganja
Amphet : amphetamin
Analgesic : substansi untuk meredakan rasa sakit berhubungan
Antibiotik : sejenis zat antimikroba yang berasal dari pengembangbiakan mikroorganisme dan dibentuk secara semi-sintetis. Zat ini bekerja untuk mematikan atau menghambat perkembangan bakteri dan digunakan untuk mengatasi infeksi.

B
Badai : teler atau mabok
Badai; pedaw; high : tinggi
Bahlul : mabuk
Bajing : bunga ganja
Bakaydu : bakar ganja; dibakar dulu
Barcon; tester : barang contoh (gratis)
Basi-an : setengah sadar saat reaksi drug menurun
BB : barang bukti
BD : bandar narkoba
Bedak etep putih : sebutan lain putauw atau heroin
Beler : mabuk
Berhitung : urunan / patungan untuk beli ganja
Betrik : dicolong / nyolong
Bhang : ganja
Bhironk : orang Nigeria atau pesuruh
BK (Bung Karno) : pil koplo paling murah
BK : sedatin, nama obat tidur, isinya Nitrazepam 5 mgr
Black Heart : merk ectasy
Blue ice (BI) : salah satu jenis shabu yang paling bagus (no.1)
Boat : obat
Bokauw : bau
Bokul : beli barang
Bokul (bok’s) : beli
Bong : sejenis pipa yang didalamnya berisi air untuk menghisap shabu
Bopeng/bogep : minuman alkohol buatan lokal yang dikemas dalam bentuk botol pipih (botol gepeng) misalnya jenis vodka atau wiski
Boti : obat
BT : Bad trip ( halusinasi yang serem)
BT (Bad trip) : rasa kesal karena terganggu pada saat fly/mabuk
Buprenorphine : suatu pengobatan yang efektif untuk ketergantungan opioid
Buddha stick : ganja
Buterfly : merk ectasy

C
Camp’s : campuran (tembakau) untuk ganja pada saat melinting
Cannabis : ganja, daun ganja; kependekan dari Canabis Sativa
Chasing the dragon : pencandu heroin
Chasra : ganja
Chimenk : ganja/kanabis
Cimeng : ganja
CMD : cuaca mendukung (untuk ngeganja)
Coke : kokain
CS (sobat) : istilah sesama pemakai

D
Dagga : ganja
Dinsemilla : ganja
Dum-dum titik : dumolid

F
Fly : mabuk

G
Gantung : setengah mabok
Gauw : gram
Gaw : gram
Gele : ganja
Gepang : punya putauw atau heroin
Giber : mabok atau teler
Giberway (giting berat way) : mabuk ganja
Ginting : mabok atau teler
girl : kokain
Gitber (ginting berat) : mabok berat
Glass : shabu-shabu
Gocapan : gocip; paketan 50 ribu/0.1 gram.
Gonjes : mabok atau teler
Grass : daun ganja

H
Haluasi (halusinasi) : khayalan / imajinasi yang berlebihan
Halusinogen : Obat yang dapat mengubah perasaan dan pikiran, sering kali dengan menciptakan daya pandang yang berbeda, meskipun seluruh perasaan dapat terganggu.
Harm reduction : Suatu upaya untuk mengurangi beban dan penderitaan penyalagunaan zat, seperti memberikan jarum suntik baru agar mereka bisa terhindar dari penyebaran virus yang ditularkan melalui darah.
Hashish : daun ganja (biasanya juga disebut hash)
Hawi : ganja
Hemp : ganja
Hirropon : shabu-shabu

I
I : Ekstasi
Ice Cream : shabu-shabu
inex : Ekstasi
Inex : ecstasy
Insul/spidol : alat suntik
Iv (ngive) : intravena, memasukan obat ke urat darah (vena)
J
Jackpot : tumbang/muntah
Jayus : ganja
Joints : daun ganja yang dipotong, dikeringkan, dirajang halus dan digulung menjadi rokok
Jokul : jual
Junkies : pencandu

K
Kamput : kambing putih, gambar pada label salah satu minuman beralkohol
Kancing : ekstasi
Kar : alat untuk menggerus Putaw
Kartim : kertas timah
KD (kode) : kodein
Kentang : kena tanggung/gantung /kurang mabuk
Kentang kurus : kena tanggung kurang terus
Kipe : nyuntik atau memasukan obat ketubuh
Kipean : insulin, suntikan
Kompor : untuk bakar shabu di alumunium foil
Koncian : simpanan barang
Kotak kaset/CD : digunakan sebagai alat pengerus putaw
Kurus : kurang terus
KW : kualitas

L
Lady dan crack : kokain dalam bentuk yang paling murni dan bebas basa untuk mendapatkan efek yang lebih kuat
Lates : getah tanaman candu (papaver somniferum) yang didapat dengan menyadap (menggores) buah yang mulai masak.
Lexo : lexotan (obat penenang yang isinya bromazepam 12 mgr)
LL (double L) : artan

M
Marijuana : daun ganja
Mary Jane : daun ganja
Metadon : obat narkotik yang dipakai sebagai pengganti heroin dalam pengobatan pecandunya. Dengan memakai metadon, pecandu dapat menghentikan penggunaan heroin tanpa ada efek samping yang parah.
MG : megadon
Mixing drugs : mencampur jenis drug yang berlawanan jenis untuk mendapatkan efek yang berbeda
Mupeng : muka pengen

N
Narkoba : narkotik dan bahan berbahaya.
Ngebaks (nyimenk/ngegele) : ngebakar ganja
Ngeblenk : kelebihan takaran pemakaian putaw
Ngecak : memisahkan barang
Ngecam : nyuntik atau memasukan obat ketubuh
Ngedarag : bakar putauw diatas timah
Ngedreg : cheasing the dragon, menggunakan heroin dengan cara dibakar dan asapnya dihirup melalui hidung
Ngedrop (low bed) : gejala berakhirnya rasa nikmatnya mabuk
Ngejel : mampet /beku pada saat ngepam/mompa
Ngepam (pamping) : memompa insulin secara berkali-kali
Ngupas : memakai shabu-shabu
NP (nipam) : Nitrazepam
Nugi (numpang giting) : mabuk tanpa duit
Nutup : sekedar menghilangkan sakaw/nagih
Nyabu : memakai shabu-shabu
Nyipet : nyuntik atau memasukan obat ketubuh

O
OD : ogah ngedrop perasaan/kemauan untuk tetap mabuk.
OD (over dosis) : kelebihan takaran pemakaian putaw
On (naik) : proses pada saat fly/mabuk untuk pemakai shabu/ecstacy

P
P.T-P.T : patungan untuk membeli drug
Pahe : pembelian heroin atau putauw dalam jumlah terkecil
PA-HE : paket hemat (paket 20 ribu/10 ribu)
Pakauw : pakai putauw
Paket : pembelian heroin atau putauw dalam jumlah terkecil
Paketan (tekapan) : paket / bungkusan untuk putaw
Papir : kertas untuk melinting ganja
Papir (pap’s;paspor;tissue : kertas untuk melinting ganja
Parno : paranoid karena ngedrungs
Parno : paranoid/rasa takut berlebihan karena pemakaian shabu yang sangat banyak
Pasang badan : menahan sakaw tanpa obat / pengobatan dokter
Pasien : pembeli
Pedauw : teler atau mabok
Per 1/per 2, ost : 1 atau 2, ost gram
Pil koplo (bo’at; boti; dados) : obat daftar ‘G’
Pil Gedek : ecstacy
Polydrug use : menambah dosis dan menggunakan jenis narkoba yang berbeda
Pot : daun ganja
PS (pasien) : pembeli narkoba
Psikedelik : berhubungan dengan/berciri halusinasi visual persepsi meningkat.
PT : putauw (heroin)
Pyur : murni

Q
Quartz : shabu-shabu

R
R (rohip) : rohypnol
Rasta : ganja
Relaps : kembali lagi ngedrugs karena `kangen`
Rivot /R /rhivotril : Klonazepam

S
Sakaw : sakit karena ketagihan atau gejala putus obat
Scale (Sekil) : timbangan untuk menimbang putaw, shabu, cocain (biasanya digunakan timbangan emas yang berbentuk timbangan digital)
Se’empel (seamplop) : satu amplop untuk ganja
Segaw : 1 gram
Se-lap : dua kali bolak-balik / 2 kali hisap
Selinting : 1 batang rokok atau gaja
Semata : setetes air yang sudah dicampur heroin
Semprit : dari kata syringe; sejenis alat suntik yang terdiri dari tabung dilengkapi penghisap, naf jarum dan jarum.
Sendok : tempat mencampur/melarutkan/meracik putaw dengan air yang dimasukan kedalam insulin
Sepapan (setrip) : satu baris di dalam jajaran obat
Separdu : sepaket berdua
Seperempi : ¼ gram
Sepotek : satu butir obat dibagi 2
Setangki : 1/2 gram
Set-du (seting dua) : dibagi untuk 2 orang
Setengki : ½ gram
Seting (ngeset) : proses mencampurkan heroin dengan air
Se-track : sekali hisap / sekali bakar
Shabu-shabu (ubas/basu) : metamfetamin
Snip : pakai putauw lewat hidung ( dihisap)
snow : kokain
Snuk : pusing / buntu
speedball : campuran heroin-kokain
Sperempi : 1/4 gram
Spirdu : sepaket berdua
Stag : shabu yang sedang dibakar di alumunium foil berhenti /mampet
Stock (STB/stock badai) : sisa heroin yang disimpan untuk dipakai pada saat nagih
Stone : mabuk
stokun : mabuk
Stengky : setengah gram
Sugest /sugesti : kemauan / keinginan untuk memakai narkoba

T
Tea : daun ganja
Teken : minum obat / pil / kapsul
Tokipan : minuman
Trigger : sugesti/ingin
TU : ngutang

U
Ubas : shabu

V
Val : valium (cair & tablet)

W
Wakas : ketagihan
Wangi : menunjukkan kualitas putaw yang baik yang terasa beraroma bila di dragon/disuntikkan
Weed : daun ganja

 dikutip dari www.kapanlagi.com

 

Informasi ini penting untuk diketahui para orang tua

LOOP DIRETICS pada gagal ginjal akut: prerenal azotemia

LOOP DIURETICS PADA GAGAL GINJAL AKUT:

PRERENAL AZOTEMIA

ROBERTUS HENGKY SUNGKIT (078115025)

A. PENDAHULUAN

Gagal ginjal akut (GGA) merupakan penurunan fungsi ginjal secara tiba-tiba yang ditandai dengan ketidakmampuan renal (ginjal) untuk mengeluarkan ’sampah’ sisa metabolit (air dan ’sampah’ nitrogen) dan menjaga keseimbangan asam basa. Peningkatan ’sampah’ nitrogen dalam darah (misalnya kreatinin dan nitrogen urea) disebut azotemia. Seseorang dikatakan mengalami GGA bila terjadi peningkatan kadar kreatinin (SrCr) >0,5 mg/dL (untuk SrCr dasar <2,5 mg/dL) dan peningkatan SrCr >1 mg/dL (untuk SrCr dasar >2,5 mg/dL). (Kimble & Anne, 2005)

GGA biasanya dialami oleh pasien rawat inap di RS dan jumlahnya hampir 2 per 3 dari seluruh keluhan yang berkaitan dengan ginjal. GGA yang terjadi sebelum masuk RS (community acquired acute renal failure) sekitar 1% dan ± 75% diantaranya disebabkan berkurangnya aliran darah ginjal (prerenal azotemia). Dari semua pasien GGA, 20-60% memerlukan dialisis sebagai terapi pertama dan 25% diantaranya memerlukan terapi dialisis jangka panjang karena penyakit ginjalnya bertambah parah.

Berdasarkan perkembangan penyakitnya (patogenesis), GGA dipengaruhi oleh beberapa keadaan fisiologis produksi dan eliminasi urin diantaranya:

  1. Darah yang mengalir ke glomeruli.
  2. Pembentukan dan pengolahan ultrafiltrat oleh glomeruli dan sel tubular.
  3. Pengeluran urin melalui ureter, kandung kemih, dan uretra.

Berdasarkan faktor-faktor diatas, GGA dapat dikelompokkan menjadi prerenal azotemia, gagal ginjal akut intrinsik, gagal ginjal akut fungsional dan obstruksi postrenal. Artikel ini hanya membahas GGA bagian prerenal azotemia.

B. PRERENAL AZOTEMIA

Prerenal azotemia disebabkan kurangnya aliran darah ke ginjal (hipoperfusi) dengan atau tanpa hipotensi (tekanan darah kurang dari normal). Hipoperfusi renal disertai hipotensi dapat disebabkan penurunan jumlah cairan tubuh (misalnya dehidrasi) atau penurunan volume darah efektif. Contoh penyakit dimana terjadi penurunan volume darah efektif tanpa pengurangan jumlah cairan tubuh adalah gagal ginjal kongestif dan gagal hati. Hipoperfusi renal tanpa hipotensi umumnya dikarenakan tersumbatnya kedua pembuluh arteri ginjal atau satu pembuluh arteri pada pasien dengan satu ginjal yang berfungsi. Sumbatan ini dapat diakibatkan oleh kolesterol maupun maupun thrombus (sumbatan karena ada darah yang membeku).

Keadaan diatas tidak menyebabkan kerusakan pada ginjal. Akan tetapi, kondisi hipoperfusi yang terus menerus menyebabkan ginjal kekurangan darah (iskemik) yang berakhir pada kematian sel tubulus (acute tubular necrosis). Sel tubulus berfungsi untuk menjaga keadaan normal tubuh dengan cara reabsorbsi (penyerapan kembali). Hal tersebut akan memperparah penyakit ginjal.

C. SASARAN, TUJUAN DAN STRATEGI TERAPI

Sasaran dari terapi GGA adalah penyebabnya. Penyebab dari prerenal azotemia adalah hipoperfusi renal. Dengan demikian, tujuan terapinya adalah menghilangkan hipoperfusi renal sembari menunggu ginjal pulih dan berfungsi dengan baik serta mencegah keparahan yang mungkin terjadi. Strategi yang diterapkan untuk menghadapinya adalah terapi tanpa obat (non farmakologis) dan terapi obat (terapi farmakologis). Terapi non farmakologis berupa terapi hidrasi. Terapi ini merupakan terapi pertama yang harus dilakukan dan cairan yang digunakan adalah NaCl 0,45% atau 0,9%. Terapi hidrasi yang cukup dapat meningkatkan perfusi renal dan menurunkan kerja dari sel tubulus. Harus diperhatikan agar pasien tidak mengalami over hidrasi khususnya pasien yang mengalami disfungsi ventrikular kiri atau preexisting liver. Hindari juga penggunaan obat-obat yang bersifat nefrotoksik (racun bagi ginjal) yaitu penisilin, ciprofloksasin, amfoterisin B, golongan aminoglikosida dan sulfonamid. Terapi farmakologis akan dibahas pada bagian selanjutnya.

D. OBAT PILIHAN : Diuretika Kuat (Loop Diuretic)

1. Nama generik: Furosemid

Nama dagang di Indonesia: Afrosic (produksi Heroic), Arsiret (Meprofarm), Diurefo (Pyridam), Farsiretic (Ifars), Farsix (Fahrenheit), Furosix (Landson), Gralixa (Graha Farma), Husamid (Gratia Husada Farma), Impugan (Alpharma), Lasix (Aventis), Laveric (Harsen), Mediresix (First Medipharma), Uresix (Sanbe Farma), Yekasix (Yekatria Farma)

Indikasi: edema, oliguria (urin yang dihasilkan < 400 ml/hari) karena gagal ginjal

Kontraindikasi: keadaan prakoma karena sirosis (pengerasan) hati, gagal ginjal dengan anuria (urin yang dihasilkan < 50 ml/hari)

Bentuk sediaan: Tablet 40 mg; Injeksi 10 mg/ml

Dosis, aturan pakai:

Dosis oral (tablet) pada oliguria

Dosis awal : 250 mg sehari; jika diperlukan dosis lebih besar, tingkatkan bertahap dengan 250 mg, dapat diberikan setiap 4-6 jam sampai dosis maksimal tunggal 2 g (jarang digunakan).

Dosis (injeksi) intramuscular atau intravena lepas lambat

Dosis awal 20-50 mg; Anak-anak 0,5 -1,5 mg/kg dengan dosis harian maksimal 20 mg

Dosis (injeksi) intravena pada oliguria

Dosis awal 250 mg selama 1 jam (kecepatan tidak lebih dari 4 mg/menit), jika tidak tercapai output urin yang diinginkan lanjutkan dengan dosis 500 mg selama 2 jam. Jika belum tercapai, lanjutkan lagi dengan dosis 1 g selama 4 jam; jika respon masih tidak memuaskan, mungkin diperlukan dialisis; dosis efektif (sampai dengan 1 g) dapat diulang setiap 24 jam

Efek samping: hiponatremia, hipomagnesia, hipokalemia (kekurangan ion natrium, kalium dan magnesium), alkalosis hipokloremik, ekskresi kalsium meningkat; jarang terjadi mual, gangguan pencernaan, hiperuricemia dan gout (penyakit asam urat); hiperglikemia (jarang terjadi jika dibandingkan golongan thiazid), kadar kolesterol dan trigliserid meningkat yang bersifat sementara; jarang terjadi ruam kulit, fotosensitivitas dan depresi sumsum tulang (hentikan pengobatan), pankreatitis (terjadi pada dosis besar injeksi), tinitus dan ketulian (biasanya karena pemberian dosis injeksi yang besar dan cepat, serta pada gangguan ginjal)

Resiko khusus (harus diperhatikan pada pasien dengan kondisi berikut): Hipotensi; kehamilan dan menyusui; dapat menyebabkan hipokalemia dan hiponatremia; memperburuk Diabetes Mellitus; gagal hati, pembesaran prostat

2. Nama generik: Bumetanid

Nama dagang di Indonesia: Burinex (Leo Pharmaceutical)

Indikasi: edema, oliguria (urin yang dihasilkan < 400 ml/hari) karena gagal ginjal

Kontraindikasi: keadaan prakoma karena sirosis (pengerasan) hati, gagal ginjal dengan anuria (urin yang dihasilkan < 50 ml/hari)

Bentuk sediaan: Tablet 1 mg; Injeksi 0,5 mg/2 ml

Dosis, aturan pakai:

Dosis oral (tablet) Satu mg pada pagi hari, ulangi setelah 6-8 jam jika perlu; kasus yang parah 5 mg sehari dengan pilihan meningkatkan sejumlah 5 mg setiap 12-24 jam tergantung respon; Usia Lanjut, 0,5 mg sehari mungkin cukup

Dosis (injeksi) intravena 1-2 mg, ulangi setelah 20 menit; Usia Lanjut, 0,5 mg sehari mungkin cukup

Dosis (infus) intravena 2-5 mg selama 30-60 menit; Usia Lanjut, 0,5 mg sehari mungkin cukup

Dosis (infus) intravena Dosis awal 1 mg kemudian disesuaikan terhadap respon; Usia Lanjut, 0,5 mg sehari mungkin cukup

Efek samping: lihat pada Furosemid; sakit kepala, lelah, myalgia (nyeri otot)

Resiko khusus (harus diperhatikan pada pasien dengan riwayat berikut): Hipotensi; kehamilan dan menyusui; dapat menyebabkan hipokalemia dan hiponatremia; memperburuk Diabetes Mellitus; gagal hati, pembesaran prostat

3. Nama generik: Torasemid

Nama dagang di Indonesia: Unat (Boehringer Mannheim)

Indikasi: edema, hipertensi

Kontraindikasi: keadaan prakoma karena sirosis (pengerasan) hati, gagal ginjal dengan anuria (urin yang dihasilkan < 50 ml/hari)

Bentuk sediaan: Tablet 2,5 mg, 5 mg, 10 mg; Injeksi 5 mg/ml

Dosis, aturan pakai:

Edema Lima mg sekali sehari, lebih baik pada pagi hari, tingkatkan jika diperlukan sampai 20 mg sekali sehari; maksimal 40 mg sehari

Hipertensi 2,5 mg sehari, tingkatkan jika diperlukan sampai 5 mg sekali sehari

Efek samping: lihat pada Furosemid; mulut kering

Resiko khusus (harus diperhatikan pada pasien dengan riwayat berikut): Hipotensi; hindarkan pada kehamilan dan menyusui; dapat menyebabkan hipokalemia dan hiponatremia; memperburuk Diabetes Mellitus; gagal hati, pembesaran prostat

DAFTAR PUSTAKA

_______, 2000, Informatorium Obat Nasional Indonesia 2000, Departemen Kesehatan RI, Jakarta

_______, 2006, British National Formulary, BMJ Publishing Group Ltd and RPS Publishing 2006, London

_______, 2006, Informasi Spesialite Obat Indonesia Volume 41, PT Anem Kosong Anem (AKA), Jakarta

Dipiro, Joseph T., 1997, Pharmacotherapy: A Pathophysiologic Approach 3rd edition, Apleton & Lange, London

Kimble K., dkk., 2005, Applied Therapeutics: The Clinical Use of Drugs 8th edition, Lippincott Williams & Wilkins, USA