Monthly Archives: May 2008

Kafein, Stimulan yang beracun dan bermanfaat

Kafein, Stimulan yang beracun dan bermanfaat

Pendahuluan

Kafein merupakan alkaloid xantin berwarna putih dan berasa pahit yang berfungsi sebagai stimulan psikoaktif dan dapat mempercepat produksi urin pada manusia dan hewan. Pada tanaman, kafein berfungsi sebagai pestisida alam yang dapat melindunginya dari serangan serangga dan menyebabkan paralisis (kelumpuhan) terhadap serangga tersebut. Dalam kehidupan sehari-hari, kafein pada tanaman paling banyak terdapat pada kopi, teh dan coklat yang kita konsumsi setiap hari. Sehingga kita tidak mengetahui resiko apa yang mungkin timbul akibat konsumsi kafein yang berlebihan.

Mekanisme Aksi

Gambar1. Kafein sebagai antagonis adenosin

Kafein mengurung reseptor adenosin di otak. Adenosin ialah senyawa nukleotida yang berfungsi mengurangi aktivitas sel saraf saat tertambat pada sel tersebut. Seperti adenosin, molekul kafein juga tertambat pada reseptor yang sama, tetapi akibatnya berbeda. Kafein tidak akan memperlambat aktivitas sel saraf/otak sebaliknya menghalang adesonin untuk berfungsi. Dampaknya aktivitas otak meningkat dan mengakibatkan hormon epinefrin dirembes. Hormon tersebut akan menaikkan detak jantung, meninggikan tekanan darah, menambah penyaluran darah ke otot-otot, mengurangi penyaluran darah ke kulit dan organ dalam, dan mengeluarkan glukosa dari hati. Tambahan, kafein juga menaikkan permukaan neurotransmitter dopamine di otak.

Kafein dapat dikeluarkan dari otak dengan cepat, tidak seperti alkohol atau perangsang sistem saraf pusat yang lain. Pengambilan kafein secara berkelanjutan akan menyebabkan badan menjadi toleran dengan kehadiran kafein. Oleh itu, jika pengambilan kafein diberhentikan (proses ini dinamakan “penarikan” atau “tarikan”), badan menjadi terlalu sensitif terhadap adenosin menyebabkan tekanan darah turun secara mendadak yang seterusnya mengakibatkan sakit kepala dan sebagainya.

Efek Farmakologis (Manfaat)

Kafein merupakan suatu stimulant (memicu terbentuknya) sistem saraf pusat dan metabolit, yang keduanya dikeluarkan dan secara medis dapat mengurangi rasa capek dan mengembalikan mental saat lemah. Kafein untuk stimulat pada system saraf pusat terjadi pada saat konsentrasi tinggi, sehingga meningkatkan kewaspadaan / kesiapan dan kemampuan jelajah, kecepatan, fokus serta koordinasi terhadap tubuh yang baik. Dalam tubuh, kafein dimetabolisme menjadi beberapa senyawa yang dapat dilihat pada gambit dibawah ini:

Gambar 2. Metabolism kafein dalam tubuh

Kafein dimetabolisme dalam hati menjadi tiga metabolit primer, yaitu: paraxanthine (84%), theobromine (12%), and theophylline (4%). Kafein diabsorbsi (diserap) oleh lambung dan usus halus 45 menit setelah pemberian. Fungsi ketiga metabolit tersebut didalam tubuh adalah sebagai berikut:

1. Paraxanthine (84%): untuk meningkatkan lipolisis (lisis terhadap lemak), dan meningkatkan gliserol dan asam lemak bebas dalam plasma darah.

2. Theobromine (12%): memperlebar pembuluh darah dan meningkatkan volume urin.

3. Theophylline (4%): relaksasi otot halus pada bronkus, dan digunakan untuk mengobati penyakit asma.

Kebutuhan kafein yang tepat untuk menghasilkan efek, bervariasi terhadap masing-masing orang tergantung pada ukuran tubuh dan derajat toleransinya terhadap kafein. Mengkonsumsi kafein tidak mengurangi keperluan untuk tidur, tetapi hanya untuk mengurangi rasa capek.

Kafein dapat dikeluarkan dari otak dengan cepat, tidak seperti alkohol atau perangsang sistem saraf pusat yang lain. Pengambilan kafein secara berkelanjutan akan menyebabkan badan menjadi toleran dengan kehadiran kafein. Oleh itu, jika pengambilan kafein diberhentikan (proses ini dinamakan “penarikan” atau “tarikan”), badan menjadi terlalu sensitif terhadap adenosin menyebabkan tekanan darah turun secara mendadak yang seterusnya mengakibatkan sakit kepala dan sebagainya.

Efek Negatif ( Racun)

Terlalu banyak kafein dapat menyebabkan intoksikasi kafein. Gejala penyakit inii ialah keresahan, kerisauan, insomnia, keriangan, muka merah, kerap kencing (diuresis), dan masalah gastrointestial. Gejala-gejala ini bisa terjadi walaupun hanya 250 mg kafein yang diambil. Jika lebih 1 g kafeina diambil dalam satu hari, gejala seperti kejangan otot (muscle twitching), kekusutan pikiran dan perkataan, aritmia kardium (gangguan pada denyutan jantung) dan bergejolaknya psikomotor (psychomotor agitation) bisa terjadi. Intoksikasi kafein juga bisa mengakibatkan kepanikan dan penyakit kerisauan.

Pengambilan kafein secara berkelanjutan akan menyebabkan badan menjadi toleran dengan kehadiran kafein. Oleh itu, jika pengambilan kafein diberhentikan (proses ini dinamakan “penarikan” atau “tarikan”), badan menjadi terlalu sensitif terhadap adenosin menyebabkan tekanan darah turun secara mendadak yang seterusnya mengakibatkan sakit kepala dan sebagainya.

jadi sebagai penggemar kopi anda bisa simpulkan sendiri kafein bermanfaat atau malah berbahaya?????

(disusun oleh: Budiarto, Andreas Bob, Edvansius Sarani)

Advertisements

MENGAPA ANDA TIDAK PERLU PENASARAN BERLEBIHAN TERHADAP KOKAIN?

Sudah bukan hal yang baru lagi ketika kita bicara mengenai penyalahgunaan narkoba. Sebab sudah terlalu luas sekaligus terlalu dekat pula kasus ini dengan kehidupan kita. Berita ini bukan lagi cuma kita jumpai di televisi atau media informasi, tapi sungguh-sungguh di sekitar kita. Bahkan data dari International Criminal Police Organization (ICPO)-Interpol menyebutkan tahun 1999 saja, jumlah pengguna narkotika di tingkat global mencapai 200 juta orang, baik pengguna rutin maupun yang sekedar coba-coba. Dari jumlah itu, 140 juta diantaranya pengguna cannabis (ganja/cimeng), 13 juta pengguna kokain, 8 juta pengguna heroin, dan 30 juta pengguna amphetamine jenis stimulans.

Dan yang membuat kita harusnya lebih prihatin lagi adalah menurut data yang berhasil dihimpun, jumlah pengguna narkoba di Indonesia sekarang ini diperkirakan mencapai sebanyak 3,2 juta orang yang terdiri atas 69 persen kelompok teratur pakai, dan 31 persen lainnya merupakan kelompok pecandu dengan proporsi pria sebesar 79 persen dan perempuan 21 persen. Sebanyak 20 persen diantaranya termasuk kategori anak-anak karena berusia dibawah 18 tahun.

Pada pembahasan ini penulis akan menyoroti lebih pada penyalahgunaan kokain. Karena kokain adalah zat adiktif yang sangat berbahaya dan sering disalahgunakan. Kokain disukai dan disalahgunakan karena efeknya menyebabkan elasi, euforia (keduanya ini intinya artinya kesenangan atau kegembiraan yang berlebihan), peningkatan harga diri dan perasan perbaikan pada tugas mental dan fisik. Efek kokain hanya berlangsung selama 30 menit, karena itu pecandu mengulang-ulang pemakaiannya.

Tanpa bermaksud mengajari, tapi hanya bermaksud memberikan informasi bahwa kokain yang sering disalahgunakan biasanya dicampuri zat lain seperti gula atau lidokain. Dan penyalahgunaannya bisa melalui berbagai cara: ditelan, disedot melalui hidung, dirokok, atau disuntikan.

Untul mengurangi rasa penarasan kita tentang kokain, ada baiknya kita sedikit mengenal apa itu kokain. Kokain merupakan alkaloid yang didapatkan dari tanaman belukar Erythroxylon coca, yang berasal dari Amerika Selatan, di mana daun dari tanaman ini biasanya dikunyah oleh penduduk setempat untuk mendapatkan efek stimulan, menghilangkan lapar dan rasa penat. Ternyata kokain juga punya nama yang unik lho, di dunianya kokain dikenal dengan nama snow, coke, girl, lady dan crack (kokain dalam bentuk paling murni dan bebas basa untuk mendapatkan efek yang lebih kuat).

Dengan sedikit berbau ilmiah, kokain dapat dijelaskan sebagai suatu golongan stimulansia susunan saraf pusat, tetapi kokain juga bekerja pasa saraf tepi dan sistem kardiovaskuler. Pengaruh kokain terhadap sitsem motorik dan sistem kordiovaskuler bersifat bifasik. Pada pemberian kokain dosis rendah penampilan motorik meningkat tetapi pada dosis tinggi menimbulkan kejang dan tremor.

Kokain dalam dosis rendah dapat disertai dengan perbaikan kinerja pada beberapa tugas kognitif. Kadang-kadang timbul perforasi septumnasi pada pemakaian secara intranasal. Pada keadaan kelebihan dosis, timbul eksitasi, kesadaran yang “berkabut”, pernafasan yang tak teratur, tremor, pupil melebar, nadi bertambah cepat, tekanan darah naik, suhu badan naik, rasa cemas, dan ketakutan. Kematian biasa disebabkan karena pernafasan berhenti. Pemakaian yang lama dapat menimbulkan penurunan berat badan dan anemia karena anoreksia.

Hingga saat ini terdapat beberapa fakta yang patut diwaspadai terkait dengan penyalahgunaan kokain. Beberapa diantaranya adalah wanita yang hamil selama ketagihan kokain lebih mudah mengalami keguguran. Jika tidak terjadi keguguran, maka janinnya bisa mengalami kecacatan karena kokain, yang dengan mudah dapat dipindahkan dari darah ibu ke darah janin melalui plasenta. Bayi yang lahir dari pecandu kokain bisa memiliki pola tidur yang abnormal dan memiliki koordinasi sistem organ yang buruk. Perkembangan merangkak, berjalan dan berbicara bisa terhambat.

Pada pemakaian dengan suntikan, berbagai penyakit infeksi (misalnya hepatitis dan AIDS) bisa ditularkan, jika para pecandu menggunakan jarum yang tidak steril secara bergantian. Gejala putus Kokain juga dapat disertai dengan kecenderungan untuk bunuh diri. Setelah beberapa hari, ketika kekuatan jiwa dan fisiknya telah kembali, pecandu bisa mencoba melakukan usaha bunuh diri. Orang yang mengalami putus Kokain seringkali berusaha mengobati sendiri gejalanya dengan alkohol, sedatif, hipnotik, atau obat antiensietas seperti diazepam (Valium).

Dan yang lebih mengerikan lagi, suatu sumber menyatakan adanya analisis atas 27 otak para pengguna zat adiktif kokain telah membuat tim ahli pimpinan Dr. Hans C. Breiter dari Massachusetts General Hospital Boston (AS) berkesimpulan bahwa volume otak pengguna zat adiktif kokain menjadi sangat kecil dan itu berpengaruh pada aktifitas pemakainya. Hasil penelitian Volume otak ke-27 pengguna zat adiktif kokain itu dibandingkan dengan volume otak 27 orang yang sehat dan tidak pernah menyentuh kokain, hasilnya volume otak dan struktur yang disebut dengan amygdala pada 27 pengguna zat adiktif lebih kecil dibandingkan dengan ukuran yang normal.

Meski belum secara jelas bagaimana penyusutan terjadi namun kecilnya ukuran amygdala kemungkinan besar akibat penggunaan zat adiktif seperti kokain. Amygdala sendiri seperti sebuah kumpulan kecil syaraf pada otak yang juga berpengaruh pada proses terbentuknya emosi. Maka dampak buruk pemakainya adalah ketidakstabilan dari emosi.

Breiter memberikan penjelasan singkat bahwa volume amygdala pada orang normal akan berkembang lebih besar pada sisi kiri otak dan pada pengguna zat adiktif keseimbangan ukuran itu menjadi tidak simetris. Dalam waktu singkat penggunaan zat adiktif akan membuat proses degenerasi pertumbuhan otak. Dalam waktu panjang, penggunaan zat adiktif akan membuat ketidaknormalan pada aksi kehidupan sehari-hari.

Secara luas, kokain meningkatkan tekanan darah dan detak jantung dan dapat menyebabkan serangan jantung yang fatal, bahkan pada atlit muda yang sehat. Efek lainnya adalah sembelit, gangguan pencernaan, kegugupan yang berlebihan, perasaan bahwa sesuatu bergerak di bawah kulit (cocaine bugs) yang kemungkinan merupakan pertanda adanya kerusakan saraf kejang, halusinasi, delusi paranoia, dan membuat seseorang berperilaku kasar.

Nah sekarang jelas sekali bukan, kalo “azab” nya menyalahgunakan kokain itu sama sekali tidak sebanding dengan enaknya? Cuma untuk rasa gembira sesaat, dan masalah yang ada tidak juga lenyap, malah masalah baru yang lebih kompleks muncul akibat keputusan beresiko tinggi yaitu menyalahgunakan kokain.

Untuk itu bagi anda yang belum kenal dengan kokain, jangan sekali-kali anda punya rasa penasaran berlebihan terhadap barang yang satu ini, karena akan fatal akibatnya untuk hidup anda yang cuma sekali ini. Dan bagi anda yang sudah terlanjur menjadi bagian dari gelapnya dunia akibat pemakaian kokain, bertekatlah untuk berhenti sekarang juga. Dengan penuh kesadaran dari diri anda sendiri, cari tempat rehabilitasi dan yakinlah hidup anda akan jauh lebih indah setelah anda kembali normal. Dan bagi anda yang melihat gejala penyalahgunaan kokain disekitar anda, pastikan anda tidak akan diam saja. Setelah anda mengetahui bahwa resiko yang akan anda terima tidak sebanding dengan efek sesaatnya, pastikan bahwa anda tidak perlu merasa penasaran berlebihan terhadap kokain. Oke?!

Oleh :

Ade Entyna (058114051)

Ragil Sediyaning Utami (058114052)

Raden Pradipta Satriyajati (058114086)

OPIOID FOR AROMATHERAPY???

Membaca sepenggal judul di atas mungkin kita langsung bertanya-tanya, koq bisa ya opioid dipakai untuk aromaterapi? Padahal kan itu termasuk golongan narkotika. Pasti kalian pada penasaran kan mengapa bisa seperti itu? Yuk sebelumnya kita intip dulu tentang opioid dahulu.

OPIOID

Opioid atau opiat berasal dari kata opium, jus dari bunga opium, Papaver somniverum, yang mengandung kira-kira 20 alkaloid opium, termasuk morfin. Nama Opioid juga digunakan untuk opiat, yaitu suatu preparat atau derivat dari opium dan narkotik sintetik yang kerjanya menyerupai opiat tetapi tidak didapatkan dari opium. opiat alami lain atau opiat yang disintesis dari opiat alami adalah heroin (diacethylmorphine), kodein (3-methoxymorphine), dan hydromorphone (Dilaudid).

EFEK SAMPING YANG DITIMBULKAN :

Mengalami pelambatan dan kekacauan pada saat berbicara, kerusakan penglihatan pada malam hari, mengalami kerusakan pada liver dan ginjal, peningkatan resiko terkena virus HIV dan hepatitis dan penyakit infeksi lainnya melalui jarum suntik dan penurunan hasrat dalam hubungan sex, kebingungan dalam identitas seksual, kematian karena overdosis.

GEJALA INTOKSITASI (KERACUNAN) OPIOID :

Konstraksi pupil (atau dilatasi pupil karena anoksia akibat overdosis berat) dan satu (atau lebih) tanda berikut, yang berkembang selama , atau segera setelah pemakaian opioid, yaitu mengantuk atau koma bicara cadel ,gangguan atensi atau daya ingat.

Perilaku maladaptif atau perubahan psikologis yang bermakna secara klinis misalnya: euforia awal diikuti oleh apatis, disforia, agitasi atau retardasi psikomotor, gangguan pertimbangaan, atau gangguan fungsi sosial atau pekerjaan yang berkembang selama, atau segera setelah pemakaian opioid.

GEJALA PUTUS OBAT :

Gejala putus obat dimulai dalam 6 – 8 jam setelah dosis terakhir. Biasanya setelah suatu periode satu sampai dua minggu pemakaian kontinu atau pemberian antagonis narkotik. Sindroma putus obat mencapai puncak intensitasnya selama hari kedua atau ketiga dan menghilang selama 7 sampai 10 hari setelahnya. Tetapi beberapa gejala mungkin menetap selama enam bulan atau lebih lama.

GEJALA PUTUS OBAT DARI KETERGANTUNGAN OPIOID ADALAH :

Kram otot parah dan nyeri tulang, diare berat, kram perut, rinorea lakrimasipiloereksi, menguap, demam, dilatasi pupil, hipertensi takikardia disregulasi temperatur, termasuk pipotermia dan hipertermia. Seseorang dengan ketergantungan opioid jarang meninggal akibat putus opioid, kecuali orang tersebut memiliki penyakit fisik dasar yang parah, seperti penyakit jantung.

Gejala residual seperti insomnia, bradikardia, disregulasi temperatur, dan kecanduan opiat mungkin menetap selama sebulan setelah putus zat. Pada tiap waktu selama sindroma abstinensi, suatu suntikan tunggal morfin atau heroin menghilangkan semua gejala. Gejala penyerta putus opioid adalah kegelisahan, iritabilitas, depresi, tremor, kelemahan, mual, dan muntah.

OPIOID SEBAGAI AROMATERAPI

Jika kita melihat penjelasan tentang opioid di atas sepertinya hanya ada kerugian-kerugian saja yang ditimbulkan oleh opioid, namun seiring dengan berjalannya waktu kini opioid banyak dimanfaatkan untuk hal lain yang lebih positif tanpa memberikan dampak buruk yang merugikan. Seperti yang sedang menjadi trend di Indonesia beberapa tahun terakhir ini, aromaterapi banyak diminati oleh berbagai kalangan menengah ke atas khususnya para kaum hawa.

Aromaterapi adalah terapi menggunakan essential oil atau sari minyak murni untuk membantu memperbaiki atau menjaga kesehatan, membangkitkan semangat, gairah, menyegarkan serta menenangkan jiwa, dan merangsang proses penyembuhan agar tubuh terasa fit dan fresh.

Aromaterapi awalnya dikenalkan di salon-salon kecantikan sebagai salah satu menu untuk menarik para pelanggannya. Sembari melakukan perawatan tubuh, biasanya kita akan dimanjakan dengan wewangian yang sesuai dengan selera kita. Salah satuya adalah opioid atau opium yang dapat dijadikan alternatif pilihan untuk relaksasi. Selain itu ada berbagai macam aroma lain seperti, Sandalwood, Lavender, Green Tea, Jasmine, Eucaliptus, Peppermint, Samsara, Chamomile, Frangipan, Musk, Ylang-ylang, Lotus, Lemon, Orange, Rose, Apple dan Strawberry.

Aroma-aroma di atas ternyata dibuat dalam berbagai bentuk sediaan antara lain, Burner (Anglo Pemanas), Essential Oil (Minyak Esensial), & Lilinnya; Stick Essence & Stick Holder; Massage Oil; Bath Salt; dan Sabun Aromatik.

Wah…asyik juga yah ngomongin yang namanya aromaterapi, seolah-olah tubuh kita dimanjakan dengan berbagai bau-bauan yang membuat pikiran juga menjadi rileks. Kita serasa menghilang sejenak dari rutinitas yang begitu melelahkan. Ngomong-ngomong soal opioid, apa sih manfaatnya bagi kita sampai-sampai bisa dijadikan aromaterapi segala? Kira-kira bisa menimbulkan ketergantungan seperti mengkonsumsi narkoba gak ya?? Yuk mari kita intip lagi….

Minyak opium yang digunakan sebagai aromaterapi harus memiliki kwalitas yang baik agar dapat membuat badan, pikiran dan roh menjadi lebih rileks. Minyak opium tersebut biasanya dibuat dalam bentuk lilin yang berbau harum, sabun, minyak untuk pijatan, minyak untuk berendam, dan parfum. Opium untuk aromaterapi dapat menghangatkan, membuat pikiran menjadi rileks dan tenang serta menyegarkan tubuh.

Ada satu hal lagi yang menarik dari aromaterapi opium ini, ternyata dapat menimbulkan euforia seperti opium yang digunakan dalam narkotik, tapi tentunya efek ini tidak sebesar narkotik. Apakah dapat menimbulkan ketergantungan atau tidak, sejauh ini belum ada penelitian tentang hal ini. Mungkin efek ketergantungannya tidak terlalu bermakna lagipula tidak semua orang suka menggunakan aroma ini. Jadi semuanya tergantung selera masing-masing.

Nah..itu tadi sepenggal kisah dari si opium dalam aromaterapi. Apakah anda tertarik untuk mencobanya? Siapa tahu dapat membuat kita melayang sejenak. Toh mumpung ini narkotik yang dilegalkan jadi kita gak usah takut ditangkap polisi karena penyalahgunaan narkotik, terutama buat kalian yang suka mencoba hal yang “aneh-aneh”.

(oleh : Ayu Paramita, Aprilia Susanti D, Ika Wulandari)

METADON??? EFEKTIF UNTUK MENANGANI DRUG ABUSE…

Apa Metadon Itu?
Metadon adalah opiat (narkotik) sintetis yang kuat seperti heroin (putaw) atau morfin, tetapi tidak menimbulkan efek sedatif yang kuat. Metadon biasanya disediakan pada program pengalihan narkoba, yaitu program yang mengganti heroin yang dipakai oleh pecandu dengan obat lain yang lebih aman.
Metadon bukan penyembuh untuk ketergantungan opiat: selama memakai metadon, penggunanya tetap tergantung pada opiat secara fisik. Tetapi metadon menawarkan kesempatan pada penggunanya untuk mengubah hidupnya menjadi lebih stabil dan mengurangi risiko penggunaan narkoba suntikan, dan juga mengurangi kejahatan yang terkait dengan kecanduan. Dan karena diminum, penggunaan metadon mengurangi penggunaan jarum suntik bergantian.
Program metadon sering mempunyai dua tujuan pilihan. Tujuan pertama adalah untuk membantu pengguna berhenti memakai heroin (detoksifikasi), diganti dengan takaran metadon yang dikurangi tahap-demi-tahap selama jangka waktu tertentu. Tujuan kedua adalah untuk menyediakan terapi rumatan (pemeliharaan), yang memberikan metadon secara terus-menerus dengan dosis yang disesuaikan agar pengguna tidak mengalami gejala putus zat (sakaw).

Bagaimana Metadon Dipakai?
Metadon biasanya diberikan pada klien program dalam bentuk sirop yang diminum di bawah pengawasan di klinik setiap hari. Setiap klien membutuhkan takaran yang berbeda, karena adanya perbedaan metabolisme, berat badan dan toleransi terhadap opiat. Beberapa waktu dibutuhkan untuk menentukan takaran metadon yang tepat untuk setiap klien. Pada awalnya, klien harus diamati setiap hari dan reaksi terhadap dosisnya dinilai. Jika klien menunjukkan gejala putus zat, takaran harus ditingkatkan. Umumnya program mulai dengan takaran 20mg metadon dan kemudian ditingkatkan 5-10mg per hari. Biasanya klien bertahan dalam terapi dan mampu menghentikan penggunaan heroin dengan takaran metadon sedang hingga tinggi (60-100mg).

Apa Efek Samping Metadon?

Walaupun metadon biasanya ditoleransi dengan baik, kadang klien mengalami efek samping:
• mual, muntah: 10-15 persen mengalami efek samping ini, yang biasanya hilang setelah beberapa hari
• sembelit: seperti opiat lain, gizi dan olahraga dapat membantu
• keringat: dapat muncul sebagai efek samping
• amenore: masa haid terlambat, atau kadang kala lebih teratur
• libido: metadon dapat menurunkan gairah seksual
• kelelahan: dapat dikurangi dengan mengurangi takaran

Apakah Metadon Berinteraksi dengan Obat Lain?
Tetapi beberapa obat dapat mempengaruhi efek metadon. Jadi petugas klinik metadon seharusnya selalu memantau penggunaan obat lain oleh kliennya. Bila setelah mulai memakai obat lain klien mengalami sakaw atau sedasi, sebaiknya takaran metadon disesuaikan. Sebaliknya, setelah obat tersebut dihentikan, takaran metadon harus disesuaikan lagi.

Garis Dasar
Metadon adalah opiat sintetis yang dapat dipakai untuk mengganti heroin. Terapi rumatan metadon merupakan program harm reduction atau pengurangan dampak buruk penularan HIV/AIDS melalui penggunaan narkotik suntik.
Karena ada interaksi antara metadon dengan beberapa obat yang dipakai oleh Odha (Orang dengan HIV AIDs), petugas klinik metadon harus mengetahui bila klien mulai memakai obat baru, atau berhenti memakainya, agar takaran metadon dapat disesuaikan bila dibutuhkan.

Menurut beberapa orang yang telah menjalani program terapi rumatan, bila sudah memakai Metadon, keinginan memakai putaw jadi berkurang. Kalau dipaksa tetap memakai putauw, malah menjadi hambar, karena ada sistem blocking yang membuat reaksi putaw tak terjadi. Harga Metadon itu sendiri pada takaran 95 mililiter hanya berharga Rp 7.000. Paling mahal, harga Metadon berkisar Rp 15.000. Sebuah nilai yang rasanya pantas menjadi obat pengalih kecanduan heroin seperti putaw.

Pustaka :
http://spiritia.or.id/li/bacali.php?lino=670
http://www.sinarharapan.co.id/berita/0703/30/ipt01.html
http://satudunia.oneworld.net/article/view/154939/1/
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=AvantGo&file=print&sid=508
http://www.aidsindonesia.or.id/index.php?Itemid=2&id=537&option=com_content&task=view
http://www.jangkar.org/index.php?option=com_content&task=view&id=222&Itemid=50

Disusun oleh:
• Ratna Utami Lukitaningtyas 058114118
• Ester Caroline 058114120
• Silvia Sugiarto 058114124

TERAPI PASIEN PECANDU HEROIN

TERAPI PASIEN PECANDU HEROIN

Disusun oleh: Febrian (058114131)

Giovanni R. (058114136)

Ferri Ariya (058114163)

Heroin (diasetilmorfin) adalah golongan opioid agonis dan merupakan derivat morfin yang mengalami asetilasi pada gugus hidroksil pada ikatan C3 dan C6. Nama lain dari heroin: smack, junk, china ehirte, chiva, black tar, speed balling, brown, dog, negra, nod, white hores, stuff.

JENIS HEROIN

Jenis heroin yang sering diperdagangkan adalah :

  1. Bes Heroin

Bes heroin merupakan diasetil morfin sebelum ia diproses menjadi diasetil morfin hidroklorid yang dicampurkan dengan bahan-bahan campuran seperti kafein, striknin, kuinin, dan skopolamin. Bes heroin merupakan heroin yang belum siap dikeluarkan .

  1. Heroin No. 3

Berwarna pink, biasa disebut fit, fun, tepung, penang pink. Heroin no. 3 mengandung diasetil morfin antara 25% sampai 45%. Kandungan kafeinnya antara 30-60%. Heroin jenis ini dipakai dengan cara menyuntik, menghisap (dengan rokok), dan chasing the dragon.

  1. Heroin No. 4

Heroin No. 4 berbentuk serbuk berwana putih kuning dengan kandungan sampai 98% diasetil morfin hidroklorid. Heroin ini digunakan dengan cara disuntikan.

  1. Brown Heroin

Heroin ini dikeluarkan melalui proses pengeluaran tanpa pembersihan. Heroin ini berwarna coklat dan memiliki bau seperti cuka yang kuat. Jika heroin ini dicampur dengan bahan-bahan lain, biasanya disebut stree level heroin.

  1. Heroin Black Tar

Heroin ini terdapat di Amerika Serikat dan menyerupai tar dari segi warna dan kepekatan. Heroin ini mengandung 90% diasetil morfin. Heroin ini larut air jika dipanaskan dan digunakan dengan cara disuntik / dihirup.

CARA PENGGUNAAN

1. Injeksi

Injeksi secara intravena, subkutan atau intra muscular. Kerugian dari injeksi selain dapat menyebabkan hepatitis, juga dapat merusak vena dan trombosis dan abses jika digunakan berulang kali.

2. Dihirup

Bubuk heroin ditaruh di aluminium foil dan dipanaskan diatas api, kemudian asapnya dihirup melalui hidung. Efek puncak dengan penggunaan secara dihirup biasanya dirasakan dalam 10-15 menit

3. Dihisap melalui pipa atau sebagai lintingan rokok

Penggunaan heroin dengan kadar tinggi biasanya dengan cara dihirup atau dihisap. Penggunaan secara dihisap lebih aman dibandingkan dihirup, oleh karena masuk ke dalam tubuh secara bertahap sehingga lebih mudah dikontrol.

Efek yang Timbul Akibat Penggunaan Heroin

Menurut national Institute Drug Abuse (NIDA), dibagi menjadi dua, yaitu :

  1. Efek segera (short term)

Gelisah; depresi pernafasan; fungsi mental berkabut; mual dan muntah; menekan nyeri; kesadaran menurun, koma, simetris dan reaktif; memburuk dan terjadi syok; kulit terasa dingin; kejang

  1. Efek jangka panjang (long term)

Adiksi; HIV; hepatitis; kolaps vena; infeksi bakteri; penyakit paru (pneumonia, tbc); infeksi jantung dan katupnya, komplikasi neurologis (Edema serebri; myelitis; postanoxia encephalopathy; crush injury; gangguan koordinasi; kesulitan untuk berbicara)

Pengaruh heroin terhadap wanita hamil:

  • Menimbulkan komplikasi serius, abortus spontan, lahir prematur

  • Bayi yang lahir dari ibu pecandu narkotik memiliki resiko tinggi untuk terjadinya SIDS (Sudden Infant Death Syndrome)

  • Bayi yang lahir dari ibu pecandu narkotik dapat mengalami gejala with drawl dalam 24-36 jam setelah lahir. Gejalanya bayi tambah gelisah, agitasi, sering menguap, bersin dan menangis, gemetar, muntah, diare dan pada beberapa kasus terjadi kejang umum

Adiksi heroin menyebabkan terjadinya beberapa keadaan, yaitu:

1. Habituasi, yaitu perubahan psikis emosional sehingga penderita ketagihan akan obat tersebut.

2. Ketergantungan fisik, yaitu kebutuhan akan obat tersebut oleh karena faal dan biokimia badan tidak dapat berfungsi lagi tanpa obat tersebut

3. Toleransi, yaitu meningkatnya kebutuhan obat tersebut untuk mendapat efek yang sama. Walaupun toleransi timbul pada saat pertama penggunaan opioid, tetapi manifes setelah 2-3 minggu penggunaan opioid dosis terapi. Toleransi silang merupakan karakteristik opioid yang penting, dimana bila penderita telah toleran dengan morfin, dia juga akan toleran terhadap opioid agonis lainnya, seperti metadon, meperidin dan sebagainya.

Mekanisme Terjadinya Toleransi dan Ketergantungan Obat

Adaptasi seluler menyebabkan perubahan aktivitas enzim, pelepasan biogenic amin tertentu atau beberapa respon imun. Nukleus locus ceruleus bertanggung jawab dalam menimbulkan gejala withdrawl. Nukleus ini tempat reseptor opioid, αadrenergic dan reseptor lainnya. Stimulasi reseptor oleh agonis opioid (morfin) akan menekan aktivitas adenilsiklase pada siklik AMP. Bila diberikan secara terus menerus, akan terjadi adaptasi fisiologik di dalam neuron yang membuat level normal dari adeniliklase walaupun berikatan dengan opiat. Bila ikatan opiat ini dihentikan dengan mendadak atau diganti dengan obat yang bersifat antagonis opioid, maka akan terjadi peningkatan efek adenilsilase pada siklik AMP secara mendadak dan berhubungan dengan gejala pasien berupa gejala hiperaktivitas.

Gejala putus obat (gejala abstinensi atau withdrawl syndrome) terjadi bila pecandu obat tersebut menghentikan penggunaan obat secara tiba-tiba. Withdrawl dapat terjadi secara spontan akibat penghentian obat secara tibatiba atau dapat pula dipresipitasi dengan pemberian antagonis opioid seperti naloxono, naltrexone. Dalam 3 menit setelah injeksi antagonis opioid, timbul gejala withdrawl, mencapai puncaknya dalam 10-20 menit, kemudian menghilang setelah 1 jam.

Gejala putus obat:

  • 6 – 12 jam , lakrimasi, rhinorrhea, bertingkat, sering menguap, gelisah

  • 12 – 24 jam, tidur gelisah, iritabel, tremor, pupil dilatasi (midriasi), anoreksia

  • 24-72 jam, intensitasnya bertambah disertai adanya kelemahan, depresi, nausea, kedinginan dan kepanasan yang bergantian, peningkatan tekanan darah dan denyut jantung, dan dehidrasi.

  • Selanjutnya, gejala hiperaktivitas otonom mulai berkurang secara berangsurangsur dalam 7-10 hari, tetapi penderita masih tergantung kuat pada obat.

Beberapa gejala ringan masih dapat terdeteksi dalam 6 bulan. Pada bayi dengan ibu pecandu obat akan terjadi keterlambatan dalam perkembangan dan pertumbuhan yang dapat terdeteksi setelah usia 1 tahun.

DIAGNOSA DAN PENATALAKSANAAN

  1. Intoksikasi akut (over dosis)

  • Perbaiki dan pertahankan jalan nafas sebaik mungkin

  • Oksigenasi yang mencukupi

  • Naloxone injeksi, dosis awal 0,4 – 2,0 mg IV (anak-anak 0,01 mg/kgBB)

  1. Intoksikasi kronis

Terapi dalam Rumah Sakit

Pasien yang masuk ke rumah sakit pertama kali perlu dilakukan pemeriksaan urine drug screen, pemeriksaan laboratorium rutin (termasuk fungsi faal hati, ginjal, dan jantung), dan juga foto thorak. Terapi detoksifikasi bertujuan agar pasien memutuskan penggunaan zatnya dan mengembalikan kemampuan kognitifnya. Selain itu untuk membantu pasien dapat mengenali konsekuensi yang diperoleh akibat penggunaan heroin dan memahami resikonya bila terjadi relaps. Dari segi mental, terapi membantu mengendalikan depresi, paranoid, quality feeling karena penyesalan perbuatannya, destruksi diri dan tindak kekerasan.

  1. Terapi withdrawl opioid

  • Withdrawl opioid tidak mengancam jiwa, tetapi berhubungan dengan gangguan psikologis dan stress fisik yang cukup berat.

  • Kebanyakan pasien dengan gejala putus obat yang ringan hanya membutuhkan lingkungan yang mendukung mereka tanpa memerlukan obat

  • Klonidin dapat digunakan untuk mengurangi gejala putus obat dengan menekan perasaan gelisah, lakrimasi, rhinorrhea dan keringat berlebihan. Dosis awal diberikan 0,1-0,2 mg tiap 8 jam. Kemudian dapat dinaikkan bila diperlukan hingga 0,8 –1,2 mg/hari, selanjutnya dapat ditappering off setelah 10-14 hari.

  • Gangguan tidur (insomnia) dapat diberikan hipnotik sedatif

  • Nyeri dapat diberikan analgetik; gelisah dapat diberikan antiansietas

  • Mual dan muntah dapat diberikan golongan metoklopamide

  1. Terapi detoksifikasi adiksi opioid

  • Metadon adalah drug of choice pada terapi detoksifikasi adiksi heroin. Dosis metadon yang dianjurkan untuk terapi detoksifikasi heroin (morfin) adalah 2-3 x 5-10 mg perhari peroral. Setelah 2-3 hari stabil dosis mulai ditappering off dalam 1-3 minggu.

  • Buprenorphine dosis rendah (1,5-5 mg sublingual setiap 2-3 x seminggu) dilaporkan lebih efektif dan efek withdrawl lebih ringan dibandingkan metadon.

  • Terapi alternatif lain yang disarankan adalah rapid detoxification yang mempersingkat waktu terapi deteksifikasi dan memudahkan pasien untuk segera masuk dalam terapi opiat antagonis.

  1. Terapi rumatan (maintenance) adiksi opioid

  • Metadon dan Levo alfa acetyl methadol (LAAM) merupakan standar terapi rumatan adiksi opioid. Metadon diberikan setiap hari, sedangkan LAAM hanya 3 kali seminggu. Pemberian metadon dan LAAM pada terapi rumatan membantu menekan perilaku kriminal. Untuk terapi ini, dosis metadon ditingkatkan menjadi 40–100 mg/hari.

  • Buprenorphine dapat digunakan pada terapi ini dengan dosis antara 2 mg-20mg/hari.

  • Naltrexone digunakan untuk adiksi opioid yang mempunyai motivasi tinggi untuk berhenti. Naltrexone diberikan setiap hari 50-100 mg peroral untuk 2 – 3 kali seminggu

  1. Terapi after care

Meliputi upaya pemantapan dalam bidang fisik, mental, keagamaan, komunikasi-interaksi sosial,edukasional, bertujuan untuk mencapai kondisi prilaku yang lebih baik dan fungsi yang lebih baik dari seorang mantan penyalahguna zat. Peranan keluarga pada saat ini sangat diperlukan.

PENUTUP

Dalam undang – undang, heroin merupakan narkotika golongan I yang mempunyai potensi ketergantungan sangat kuat terhadap fisik dan psikis. Oleh karena itu, heroin bukan termasuk obat yang beredar di pasaran. Efek penyalahgunaan heroin, selain jangka pendek berupa intoksikasi akut, tetapi juga efek jangka panjang. Penghentian penggunaan heroin secara tiba-tiba dapat menimbulkan gejala abstinesia (putus obat). Untuk terapi pasien pecandu heroin sangat diperlukan penanganan yang terpadu antara dokter, pasien dan keluarga pasien karena memerlukan waktu yang cukup lama untuk memulihkan fisik dan psikis pasien.

Daftar Pustaka

http://www.lrckesehatan.net/serba.htm

http://www.library.usu.ac.id/download/fk/bedah-iskandar%20japardi9.pdf

Tugas NAPZA

ANDA STRESS ??? ….diazepam AJA !

Menurut Thurstone, Louis., dkk sikap adalah suatu bentuk evaluasi atau reaksi perasaan. Faktor faktor biologis (somatis), psikis dan lingkungan masing-masing mempunyai interrelasi dan interaksi yang dinamis dan terus menerus, yang dalam keadaan normal atau sehat keduanya dalam keadaan seimbang. Jika ada gangguan dalam satu segi, maka akan mempengaruhi pada segi atau lingkungan yang lainnya dan sebaliknya.

Stres adalah kondisi yang diakibatkan karena kegagalan beradaptasi terhadap perubahan yang terjadi. Banyak yang mengartikan ketika menghadapi banyak tekanan yang baik disadari maupun tidak, stres akan dialami. Stres juga merupakan respon fisiologis, psikologis, dan perilaku dari seseorang untuk mencari penyesuaian terhadap tekanan yang sifatnya internal maupun eksternal. Dalam terminologi medis, stres adalah “disruption” dari sistem homeostasis melewati rangsangan psikologis atau fisik. Stres memiliki tiga sisi. yaitu baik, buruk, dan akut

Tiga sisi stres meliputi :

1. Sisi baik

Kegembiraan , kreativitas, keberhasilan, prestasi, dan produkstivitas meningkat.

2. Sisi buruk

Kebosanan, frustasi, kesedihan, tekanan, kinerja buruk, produktivitas merosot, kegagalan, pusing-pusing, gangguan pencernaan, masuk angina, hubungan yang tidak harmonis, dan tidak bahagia.

3. Sisi akut

Stres akan menurunkan daya tahan tubuh terhadap serangan penyakit dengan cara menurunkan jumlah fighting disease cells. Akibatnya, orang tersebut cenderung sering dan mudah terserang penyakit yang cenderung lama masa penyembuhannya karena tubuh tidak banyak memproduksi sel-sel kekebalan tubuh, ataupun sel-sel antibodi banyak yang kalah. Penyakit yang ditimbulkan antara lain seperti seperti : usus buntu, serangan jantung, kanker, kerusakan saraf. Selain itu sisi akut yang lain seperti : kecemasan, depressi, sampai bunuh diri.

Kategori penyebab atau pemicu stres meliputi :

1. Job stress ialah stres yang disebabkan oleh faktor pekerjaan, antara lain seperti date line  yang  menipis, tumpukan pekerjaan yang menggunung, tugas yang bertubi – tubi, gaji atau nilai yang rendah atau tidak sesuai dengan tuntutan pekerjaan/ tugas, guru/dosen/bos yang semena – mena.

2. Bioechological stress, terdiri atas dua stres yaitu :

· Ecological stres, merupakan stres yang disebabkan oleh kondisi lingkungan. Belakangan ini mungkin banyak dari kita yang mengalami stres karena cuaca yang berubah – ubah tidak menentu, asap knalpot angkutan umum yang menderu tanpa ragu di jalan – jalan, panas terik akibat global warming, atau bahkan polusi suara dari peraduan antara bunyi deru motor atau bajaj dengan peluit petugas polisi jalan raya, tanpa kita sadari hal – hal ini juga dapat menyebabkan stres.

· Biological stres, ialah stres yang disebabkan oleh kondisi fisik tubuh kita. Bagi para wanita pre menstruation syndrome atau yang dikenal dengan PMS mungkin merupakan contoh yang paling baik dalam menggambarkan biological stres. Kondisi mood dan hormon yang naik turun pada periode ini terkadang membawa stres tersendiri. Contoh lainnya seperti proses penuaan yang secara alami kita alami seperti munculnya keriput, alergi, jerawat, asma, atau penyakit bawaan lainnya yang dapat mempengaruhi performa terbaik kita terkadang juga dapat menyebabkan stres bagi kita.

3. Psychosocial stress, ialah stres yang disebabkan oleh tekanan dari segi hubungan kita dengan kondisi sosial disekitar kita. Hal – hal yang dapat menimbulkan stres secara psikososial ialah perubahan dalam hidup, memasuki jenjang pendidikan baru (SD ke SMP, SMP ke SMA, SMA ke kuliah), pernikahan, pindah rumah, punya pacar, putus dari pacar, perceraian, kantor baru, frustrasi karena kemacetan yang ditemui di setiap sudut Jakarta (yang juga dapat menyebabkan overload), diskriminasi karena perbedaan etnis atau karena kondisi ekonomi, atau birokrasi yang berbelit – belit seperti saat ditilang dan kita memutuskan untuk tidak “berdamai”, kesendirian dan kebosanan juga dapat menyebabkan stres.

4. Personality stress, stres ini disebabkan oleh permasalahan yang dialami dalam diri sendiri. Stres ini dapat muncul disebabkan oleh bagaimana kita memandang segala sesuatu yang ada di sekitar kita (persepsi kita tentang stres bebankah atau tantangan?), komponen – komponen dari persepsi itu sendiri ialah harga diri, penghormatan terhadap diri sendiri, kecintaan akan diri kita sendiri, serta kepercayaan pada diri kita sendiri. Semakin positif kita memandang diri dan segala tekanan yang ada disekitar kita semakin kecil kemungkinan kita mengalami stres jenis ini.

Gejala-gejala stres :

Gejala-gejala ini sering berkembang selama waktu tertentu hingga cukup sulit untuk dibedakan dari keadaan (tingkah laku) normal. Gejala stres kerja dapat di bagi dalam 3 (tiga) aspek, yaitu gejala psikologis, gejala psikis dan perilaku.

a. Gejala Psikologis, meliputi : kecemasan, ketegangan, bingung, marah, sensitif, memendam perasaan, komunikasi tidak efektif, mengurung diri, depresi, merasa terasing dan mengasingkan diri, kebosanan,,etidakpuasan kerja, lelah mental, menurunnya fungsi intelektual,kehilangan daya konsentrasi, kehilangan spontanitas dan kreativitas, kehilangan semangat hidup, menurunnya harga diri dan rasa percaya iri.

b. Gejala Fisik, meliputi : meningkatnya detak jantung dan tekanan darah, meningkatnya sekresi adrenalin dan noradrenalin, gangguan gastrointestinal, misalnya gangguan lambung, mudah terluka, mudah lelah secara fisik , kematian, gangguan kardiovaskuler, gangguan pernafasan, lebih sering berkeringat, gangguan pada kulit, kepala pusing, migrain, Kanker ketegangan otot, probem tidur (sulit tidur, terlalu banyak tidur)

c. Gejala Perilaku, meliputi : menunda ataupun menghindari pekerjaan/tugas, penurunan prestasi dan produktivitas, meningkatnya penggunaan minuman keras dan mabuk, perilaku sabotase, meningkatnya frekuensi absensi, perilaku makan yang tidak normal (kebanyakan atau kekurangan), kehilangan nafsu makan dan penurunan drastis berat badan, meningkatnya kecenderungan perilaku beresiko tinggi, seperti ngebut, berjudi, meningkatnya agresivitas, dan kriminalitas, penurunan kualitas hubungan interpersonal dengan keluarga dan teman, dan kecenderungan bunuh diri.

Gejala stres dapat saja kita anggap remeh karena akibat atau kenampakan yang muncul hanya ketegangan, kelelahan yang sangat, maupun hilangnya gairah namun sebenarnya akibat yang nampak di permukaan tersebut menyimpan banyak dampak di dalamnya seperti rusaknya hubungan personal, menurunnya konsentrasi, menurunnya efektivitas dan kreativitas kinerja, memicu banyak penyakit, dan dapat menimbulkan depresi yang kemungkinan diakhiri dengan bunuh diri.

Penanganan gejala stres dapat dilakukan baik dengan non-farmakologi maupun farmakologi, yaitu sebagai berikut :

Ø Terapi tanpa obat (non-farmakologi) yaitu dengan konseling, melaksanakan manajemen stres, terapi kognitif, meditasi, terapi supotif, dan berolahraga.

Ø Terapi dengan obat (farmakologi) adalah dengan obat golongan benzodiazepin misalnya Diazepam.

DIAZEPAM

Indikasi : antiansietas

Kontraindikasi : hipersensitivitas benzodiasepin, myasthenia gravis, infant

Dosis : oral (2-10 mg 2-4 kali sehari); i.v. (2-10 mg, dapat diulang dal 3-4 jam jika diperlukan)

Mekanisme : berikatan dengan reseptor stereospesifik benzodiasepin pada saraf GABA postsinaptik di beberapa tempat CNS. Termasuk sistem limbik, bentuk retikular. Peningkatan efek penghambatan GABA pada saraf yang dapat dirangsang oleh peningkatan permeabilitas membran saraf terhadap ion klorida sehingga terjadi hiperpolarisasi dan stabil.

Efek samping : frekuensi tidak dapat ditentukan

  • Kardiovaskuler : hipotensi, vasodilatasi
  • CNS : agitasi, amnesia, ansietas, ataksia, gangguan ingatan, depresi, sakit kepala, , emosi tidak stabil, bingung, cemas, pusing, euforia, gagap, halusinasi, vertigo.
  • Dermatologi : ruam kulit
  • Gastrointestinal : konstipasi, perubahan saliva, mual, diare.
  • Genitourinary : retensi urin
  • Gangguan hati : jaundis
  • Local : phlebitis, nyeri dengan injeksi
  • Okuler : pandangan kabur, diplopia
  • Pernapasan : apnea, asma, penurunan kecepatan napas

Peringatan :

  • Diazepam dapat meningkatkan frekuensi grand mal.
  • Perhatian untuk orang tua atau pasien debilitated, pasien dengan penyakit hepatik (termasuk yang mengkonsumsi alkohol) atau gangguan ginjal.
  • Pemberian secara parenteral dapat menyebabkan hipotensi akut, lemah otot, apnea, dan tahanan jantung.
  • Perhatian untuk pasien depresi karena dapat terjadi resiko bunuh diri

Kelebihan : absorpsi Diazepam paling cepat dibandingkan golongan benzodiazepine yang lain.

Kekurangan : dapat menyebabkan ketergantungan

Edukasi untuk pasien : Pada penggunaan yang tepat tidak meningkatkan dosis dan frekuensi pemberian. Diazepam dapat menyebabkan ketergantungan fisik dan/ atau psikis. Pada saat menggunakan diazepam, tidak sedang mengkonsumsi alcohol atau resep yang lain atau obat-obat tanpa resep (khususnya obat-obat antinyeri, sedative, antihistamin, atau hipnotik) tanpa konsultasi dokter.

Perhatian

Mengalami stres adalah hal yang wajar. Stress dapat berdampak baik, buruk, atau bahkan tidak berdampak sama sekali, tergantung dari pengelolaan tiap pribadi.

Waspadai

Stres yang berlebihan (selama 2 minggu atau lebih) akan menjadi depresi yang mengakibatkan menurunnya respon sistem kekebalan tubuh sehingga membuka kemungkinan besar terjadi infeksi oleh virus dan bakteri. Selain itu akan berdampak memicu penyakit jantung, kegemukan,common cold, kanker, gangguan gastrointestinal, asma, dan penyakit lain yang berhubungan dengan autoimmune yang jika tidak ditangani dengan benar dapat menyebabkan kematian.

Acuan :

Azwar S, 2007, Sikap Manusia : Teori dan Pengukurannya, 5, Pustaka Pelajar Offset, Yogyakarta.

Dipiro, J.T., Wells, Barbara G., Schwinghammer, terry L., Hamilton, and Cindy W., 1998, Pharmacotherapy Handbook, Edisi II, 769, Appleton & Lange, United States of America.

Lacy, Charles F., Armstrong, Lora L., Goldman, Morton P., dan Lance, Leonard L., 2006, Drug Infoemation Handbook : A Comprehensive Resource for all Clinicians and Healthcare Professionals, 14th Edition, Lexi-Comp, Ohlo.

Looker T, Olga,Gregson, 2005, Managing Stres : Mengatasi Stres secara mandiri, 9,150, BACA !: Baca Buku, Buku Baik, Yogyakarta.

Mudjadid E. , 2001, Permasalahan Gangguan psikomatik Dalam Ruang Lingkup Penyakit Dalam, Simposium Gangguan Psikomatik di Bidang Penyakit Dalam, 1 – 8, Medan.

http://www.rsgm.co.id/index.php?option=com_content&task=view&id=31

http://en.wikipedia.org/wiki/stres_(medicine).

http://www.e-psikologi.com/masalah/stres.html

http://all-about-stres.com/2008/03/22/guide-to-a-better-stres/

http://images.google.co.id/images?hl=id&q=pekerjaan+menumpuk&btnG=Cari+Gambar&gbv=2

http://www.merck.com/mmpe/lexicomp/diazepam.html

by :

Agustina Kurniari Kusuma (048114050)

Fransiska Indah Pratiwi (048114073)

TH. Avi Hardhiani (048114091)

LYSERGIC ACID DIETHYLAMIDE

Lem Aica aibon merupakan NAPZA yang sangat mudah didapat karena keberadaannya legal (sebagai lem). Hal ini yang menyebabkan penyalahgunaan pemakaian lem ini sangat cepat perkembangannya terutama di dunia anak jalanan. Jika kita sering melihat anak-anak jalanan yang sedang memasukkan salah satu tangannya ke dalam baju, serta mendekatkannya ke hidung, berarti anak tersebut sedang menghirup lem Aica aibon. Keberadaan anak-anak yang sedang teler akibat lem ini dapat kita jumpai di bawah jembatan, pojokan-pojokan perempatan lampu merah. Anak-anak yang cenderung tidak tahu akibat negatif dari lem ini, merasa senang setelah menggunakannya. Sesaat setelah pemakaian mereka akan merasa “fly”, happy, bebas dari masalah mereka. (Yesi & Wely) USD

NAPZA adalah zat-zat kimiawi yang dimasukkan ke dalam tubuh manusia, baik ditelan melalui mulut, dihirup melalui hidung maupun disuntikkan melalui urat darah. Zat-zat kimia itu dapat mengubah pikiran suasana hati atau perasaan, dan perilaku seseorang. Pemakaian terus menerus akan mengakibatkan ketergantungan fisik dan atau psikologis. Resiko yang pasti terjadi adalah kerusakan pada sistem syaraf dan organ-organ penting lainnya seperti jantung, paru-paru, dan hati.

Istilah teler biasa disematkan bagi mereka yang lagi mabuk. Tapi anak jalanan menyebutnya ngelem, karena sarana teler mereka adalah lem aica aibon. Untuk kawannya yang keranjingan mabuk, akan disapa dengan mabal, beler, atau giteng, yang berarti minuman keras. Kalau telernya karena ganja, disebut dengan cimeng atau nggelek.

Anak jalanan meniti nasib berdasarkan dua nilai yaitu kebebasan dan pengakuan. Tapi kebanyakan masyarakat dan pemerintah melihatnya dari sisi yang terlalu naif. Bahwa kehadiran “bunga-bunga trotoar” itu merusak keindahan kota dan menebarkan kejahatan di lampu-lampu merah. Rasanya, hanya sedikit saja yang mau mengerti bahwa mereka juga rindu diakui eksistensinya.

Karena keberadaan mereka yang cenderung diremehkan, mereka harus berusaha untuk mencari kekuasaan sendiri, serta merebut kebebasan mereka yang telah dibatasi kemiskinan mereka. Untuk menjaga keeksistensian mereka di dunia jalanan, mereka harus mengeikuti peraturan yang beredar dijalanan, dimana yang kuat yang berkuasa, jika ingin aman lebih baik mengikuti aturan penguasa jalanan. Karena kehidupan yang miskin ini menyebabkan anak-anak jalanan memilih lem Aica aibon sebagai penghilang ke-stres-an mereka. Bagi anak-anak yang ingin menolak memakai pun cenderung akan ikut-ikutan karena tertekan oleh yang diatas mereka, atau karena tidak mau terlihat “lemah” di mata teman-teman sesama anak jalanan.

Alasan-alasan yang biasanya berasal dari diri sendiri sebagai penyebab penyalahgunaan NAPZA antara lain :

1. keingintahuan yang besar untuk mencoba, tanpa sadar atau berpikir panjang mengenai akibatnya.

2. keinginan untuk bersenang-senang.

3. keinginan untuk mengikuti trend atau gaya.

4. keinginan untuk diterima oleh lingkungan atau kelompok.

5. lari dari kebosanan, masalah atau kesusahan hidup.

6. Pengertian yang salah bahwa penggunaan sekali-kali tidak menimbulkan ketagihan.

7. Tidak mampu atau tidak berani menghadapi tekanan dari lingkungan atau kelompok pergaulan untuk menggunakan NAPZA.

8. tidak dapat berkata tidakterhadap NAPZA.

Inhalansia adalah zat yang dihirup. Salah satu contohnya lem Aica aibon yang banyak dipakai anak dan remaja karena harganya murah dan memabukkan. Zat yang ada dalam lem Aica aibon adalah zat kimia yang bisa merusak sel-sel otak dan membuat kita menjadi tidak normal, sakit bahkan bisa meninggal. Salah satu zat yang terdapat di dalam lem Aica aibon adalah Lysergic Acid Diethyilamide (LSD).

Pertama kali dibuat secara sintetis pada 1940-an untuk menghilangkan hambatan yang merintangi pada kasus kejiwaan. Halusinogen yang diperoleh dari tumbuh-tumbuhan, seperti kaktus peyote, telah dipakai golongan pribumi Meksiko selama beberapa ratus tahun untuk kegiatan keagamaan dan hiburan.

Halusinogen juga di kenal sebagai psikedelik, bertindak pada susunan saraf pusat untuk membuat perubahan yang bermakna dan sering radikal pada keadaan kesadaran pengguna; juga dapat mengacaukan perasaan kenyataan, waktu dan emosi para pengguna.

Lysergic acid diethylamide (LSD) merupakan zat semisintetik psychedelik dari family ergoline. LSD sensitif terhadap udara, sinar ultraviolet, dan klorine,terutama dalam bentuk solutio, dimana zat ini akan bertahan selama 1 tahan jika dijauhkan dari cahaya dan dijaga agar suhunya tetap berada dibawah temperature. Alam bentuk aslinya warna, bau, sangat khas. LSD dapat didistribusi ke dalam tubuh secara intramuskular atau injeksi intravena. Dosis yang dapat menyebabkan efek psikoaktif pada manusia yaitu 20-30 mg (mikrogram). LSD dapat digunakan sebagai agen therapeutik yang menjanjikan.

Lysergic acid diethylamide (LSD) adalah halusinigen yang paling terkenal. Ini adalah narkoba sintetis yang di sarikan dari jamur kering (dikenal sebagai ergot) yang tumbuh pada rumput gandum. Proses pembuatan LSD dari bahan baku membutuhkan pengetahuan dan keahlian tehnik yang tinggi.

LSD mempengaruhi sejumlah besar reseptor pasangan protein-G, termasuk semua reseptor dopamin, semua subtipe adrenoreseptor sama seperti lainnya. Ikatan LSD pada sebagian besar subtipe reseptor serotonin kecuali 5-HT3 dan 5-HT4. bagaimanapun juga, hampir semua reseptor mempengaruhi pada afinitas rendah menjadi aktif pada otak dengan konsentrasi 10-20 nm.

LSD adalah cairan tawar, yang tidak berwarna dan tidak berbau yang sering di serap ke dalam zat apa saja yang cocok seperti kertas pengisap dan gula blok, atau dapat dipadukan dalam tablet, kapsul atau kadang-kadang gula-gula. Bentuk LSD yang paling popular adalah kertas pengisap yang terbagi menjadi persegi dan dipakai dengan cara ditelan.

Halusinogen lain termasuk meskalin (tanaman alami yang berasal dari kaktus peyote), pala, jamur-jamur tertentu (yang mengandung zat psilosin dan psilosibin), dimetiltriptamin (DPT), fensiklidin (PCP) dan ketamin hidroklorid.

Tak serupa dengan narkoba lain, pengguna LSD mendapat sedikit gagasan apa yang mereka pakai dan efeknya dapat berubah-ubah dari orang ke orang, dari peristiwa ke peristiwa dan dari dosis ke dosis. Efeknya dapat mulai dalam satu jam setelah memakai dosis bertambah antara 2-8 jam dan berangsur hilang secara perlahan-lahan setelah kurang lebih 12 jam.

Untuk penggunaan LSD efeknya dapat menjadi nikmat yang luar biasa, sangat tenang dan mendorong perasaan nyaman. Sering kali ada perubahan pada persepsi, pada penglihatan, suara, penciuman, perasaan dan tempat. Efek negatif LSD dapat termasuk hilangnya kendali emosi, disorientasi, depresi, kepeningan, perasaan panik yang akut dan perasaan tak terkalahkan, yang dapat mengakibatkan pengguna menempatkan diri dalam bahaya fisik.

Pengguna jangka panjang dapat mengakibatkan sorot balik pada efek halusinogenik, yang dapat terjadi berhari-hari, berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan setelah memakai LSD. Tidak ada bukti atau adanya ketergantungan fisik dan tidak ada gejala putus zat yang telah diamati bahkan setelah dipakai secara berkesinambungan. Namun, ketergantungan kejiwaan dapat terjadi.

Efek LSD normalnya 6-12 jam setelah menggunakan, tergantung pada dosis, toleransi, berat badan dan umur. Keberadaan LSD tidak lebih lama keberadaannya daripad obat-obat dengan level signifikan di dalam darah.

Oleh karena itu cara termudah mencegah kematian akibat penggunaan NAPZA (khususnya dalam hal ini lem Aica aibon) adalah tidak mulai menggunakannya sama sekali. Sekali pemakai kecanduan, ia akan memiliki ketergantungan fisik dan psikologis (yang bisa berlangsung seumur hidup).

Keberadaan anak-anak jalanan ini tidak dapat kita hindari, tapi kita bisa menguranginya dengan mengadakan pendekatan holistik. Akan tetapi pendekatan ini tidak akan berhasil untuk jangka panjang, jika dari pihak pemerintah masih memandang cuek terhadap permasalahan anak-anak jalanan ini. Semakin hari, maka semakin rusak juga intelegensi, serta moral anak bangsa…entah berapa tahun lagi bangsa kita akan hancur, tapi jika kondisi bangsa kita terus seperti ini, maka tidak usah diragukan lagi bangsa ini akan menjadi bangsa yang terbelakang dari segala sisi, dan generasi Anda akan termasuk salah satunya…terima kasih pemerintahku…

Sumber :

http://hermansaksono.com/2007/12/anak-ngelem.html

http://www.hamline.edu/apakabar/basisdata/1998/11/21/0032.html

http://www.unicef.org/indonesia/id/HIV-AIDSbooklet_part4.pdf

http://en.wikipedia.org/wiki/LSD

http://www.yakita.or.id/halusinogen.htm

by :
YESIKA FADELI (058114096)
WELINDA T SIMANJUNTAK (058114103)