Penyalangunaan Amfetamin Sebagai Pelangsing

FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SANATA DHARMA

PENYALAHGUNAAN AMFETAMIN SEBAGAI OBAT PELANGSING

TUGAS MATA KULIAH NAPZA

Widya Adhitama (058114069) Bernadetta Ayu W (058114071) Sukma Paramita C (058114073)

19 Mei 2008


AMFETAMIN SEBAGAI OBAT PELANGSING

”Sial!!!”. Tiba-tiba saja kata itu keluar dari mulut Odeth, tentu saja kaget yang duduk di sebelahnya kaget setengah mati.

”Emang kenapa sih??”, langsung saja kutanyai dia.

”Semalam cowokku dateng ke kos-kosan, tau gak dia bilang apa? Dia bilang pengin mutusin aku”, jawabnya dengan muka yang sedih.

”Emang knapa? Kalian berdua ada masalah?”, selidikku.

”Gak ada sih sebenarnya, justru alasan yang semalam dia sampaikan itulah yang gak masuk akal. Dia bilang dia pengin mutusin aku gara-gara di mata dia aku tuh uda gak menarik lagi. Aku mulai tambah gemuk lah, tambah bulet lah, tambah tembem lah…. Pokoknya enggak masuk akal!!!.”

Memang sie kalau dilihat-lihat, temenku satu ini memang tergolong anak yang subur. Tapi lebih daripada itu dia adalah seorang temen yang baik, lucu dan enak diajak ngobrol. Gila aja kalau sampai ada orang yang begitu menyia-nyiakannya.

”Sudahlah, gak usah dipikirin. Cowok kaya gitu berarti bukan cowok yang baek, secara dia cuma liat luarnya aja. Udah tinggalin aja, masih banyak kok cowok yang lebih baik dari dia diluar sana ”, kataku mencoba menghibur.

”Iya sie… Tapi aku tuch saayaaaang banget ama dia. Susah buat bilang enggak ama dia. Dia bahkan ngasih aku ini buat nurunin berat badanku”, begitu katanya sambil menunjukkan sebuah tablet kecil berwarna merah jambu.

”Ih, lucu banget sie tabletnya. Udah warnanya pink, ada gambar bunganya lagi. Eiits, tapi kamu tau gak ni apa?”

”Enggak tau. Kata cowokku kalau aku pake ini aku bisa tahan gak makan sehari meskipun aku banyak melakukan aktivitas. Trus dengan tablet ini aku gak akan ngerasa capek. Kayaknya hebat banget ya.”

”Emang ada ya obat kaya gitu?? Udah lah mendingan jangan dipake dulu daripada nanti kenapa-kenapa. Simpen aja dulu sampai kita dapat informasi yang jelas tentang tablet itu.”

”Tapi entar kalau cowokku nanyain gimana?”

”Aduh.. Pliiss deh. Kamu kan bisa bo’ong, bilang aja udah minum. Trus kalau dia ngasih lagi ya diterima dulu aja. Tapi satu yang harus diingat jangan pernah minum obat ini dulu, sebelum kita tau ini obat apa, oke??”

”Oke deh, tapi kamu bantu aku ya cari tau ini obat apa.”

Langsung saja aku menganggukkan kepala dengan mantap. Meski tablet itu sangat menarik, tapi jelas saja aku enggak mau sahabatku ini celaka. Lagian aku juga punya teman yang bisa ditanyai tentang berbagai macam obat kok, tapi dia mau bantu enggak ya? Batinku dalam hati.

************************************

Keesokan harinya aku mengajak Odeth ke rumah temanku, Citra, yang merupakan mahasiswi di fakultas farmasi.

”Permisi Tante, maaf mengganggu. Citra-nya ada?”’ tanyaku kepada Ibu Mita sesampainya disana.

”Eh, Mbak Ita, mari Mbak masuk, duduk dulu. Udah lama ya Mbak Ita gak maen ke sini. Bentar ya, Tante panggilin dulu Citranya. Citra, ada Ita nie!!!”

”Eh, Ita akhirnya kesini juga loe. Lama banget sie gak pernah ke sini. Pasti ada apa-apa nie kalau sampe ke sini, iya gak??”

”Wah tau aja sie loe Cit. Sorry banget gak pernah maen ke sini, maklum orang sibuk, whehehe…. Sebelumnya kenalin dulu, ini Odeth. Kemarin dia dapat obat gitu deh dari cowoknya. Katanya sie bisa bikin kurus. Ini obatnya tak bawain”, langsung saja kusampaikan maksud kedatanganku sekaligus menyerahkan obat berwarna merah muda tersebut.

”Waduh obat apa ya, mana gak ada bungkusnya lagi. Jadi makin susah nie ngenalinnya. Emang dapat darimana?”, tanya Citra kepada Odeth.

”Cowokku yang kasih. Katanya kalau aku pake ini aku bisa tahan gak makan sehari dan aku gak akan ngrasa capek meskipun aku banyak melakukan aktivitas”, jawab Odeth polos.

”Kalau dari penjelasanmu barusan kayaknya ini obat gak bener deh. Sejauh yang aku tau obat yang bisa bikin kamu kaya gitu ya cuma ekstasi. Dan kalau cowokmu bilang obat ini bisa bikin kurus dia enggak salah.”

Dengan segera Citra menularkan ilmunya kepada kami berdua. Dia mengatakan bahwa ekstasi atau yang menurut istilah kefarmasiannya adalah amfetamin, dapat menurunkan nafsu makan karena bekerja secara langsung pada pusat kenyang di otak sehingga dianggap dapat mengatasi kegemukan dan menurunkan berat badan. Selain itu amfetamin juga termasuk obat yang tergolong tidak berbahaya bila digunakan sesuai dengan anjuran, bahkan efeknya dapat langsung dirasakan dan hasilnya cepat terlihat pada hari-hari pertama. Padahal sebenarnya efek tersebut palsu dan bersifat sementara.

Lebih buruk lagi, pada kenyataannya amfetamin dapat menimbulkan berbagai macam gangguan meliputi :

· Munculnya perilaku yang tidak semestinya atau perubahan psikologis yang signifikan misalnya, euforia, hypervigilance (kewaspadaan yang berlebihan), penilaian yang terhambat, maupun fungsi yang terhambat, yang muncul selama atau tidak lama setelah menggunakan amfetamin.

· Terdapat dua atau lebih dari tanda tanda berikut ini : detak jantung yang meningkat atau berkurang, dilatasi (pembesaran) pupil, mual, berat badan turun secara signifikan, agitasi atau perlambatan psikomotorik, kelemahan otot, kebingungan, kejang-kejang atau koma.

Efek ketergantungan atau ketagihan terhadap amfetamin yang terjadi dalam jangka lama akan menyebabkan timbulnya toleransi sehingga untuk mendapatkan efek yang diharapkan maka dosisnya harus ditambah.

************************************

”Tuch kan Deth. Jadi mendingan jangan diterusin lagi deh hubunganmu ama cowokmu, daripada kamu kenapa-kenapa”, kata Ita memecah keheningan yang sejenak tercipta karena penjelasan Citra.

”Jangan-jangan Aji udah sering make’ ya, trus sekarang dia jadi ngajakin aku. Duh, kurang ajar banget tuh orang. Awas ya kalau ketemu lagi bakalan langsung aku putusin. Gak peduli dia bakal protes atau enggak. Huh..!!!!”

Kata-kata itu keluar dengan begitu saja dari mulut Odeth. Aku dan Citra hanya bisa bengong mendengarnya.

”Sabar..Sabar.. Cowokmu itu sebenarnya tau ga sie kalau obat yang dia pake itu termasuk Narkoba?”, tanya Citra kepada Odeth.

”Wah kalau masalah itu aku gak tau pasti. Tapi selama aku pacaran ama dia emang dia itu gak terlalu banyak punya temen sie. Temen-temen kosnya juga enggak begitu dekat dengan dia. Kata temennya di kos dia emang suka menyendiri di kamar. Tiap aku suruh ikut kegiatan bareng mereka Aji pasti enggak mau”, curhat Odeth pada aku dan Citra.

”Wah bisa bahaya tuh. Jangan-jangan Aji menyalahgunakan obat. Maksudnya dia menggunakan obat bukan untuk tujuan medis maupun pengobatan atau tidak sesuai dengan indikasinya. Hal itu bisa berbahaya tidak hanya bagi dirinya sendiri tapi juga bagi lingkungan sekitarnya, termasuk keluarganya”, Citra memberi penjelasan.

“Memang lebih cepat kamu putus dengan Aji makin baik, tapi kamu juga enggak bisa ninggalin dia begitu aja. Dia butuh seseorang yang memperhatikan dia”, lanjutnya lagi.

“Oke deh kalau begitu. Besok aku akan ngomong baik-baik dengan dia, dan kuharap dia mau cerita apa yang terjadi dengan dirinya sampai-sampai dia menjadi penyalahguna”, jawab Odeth pasrah.

“Bagus lah Det kalau kamu berpikiran begitu. Kami akan selalu mendukungmu dan kalau kamu butuh bantuan kami jangan sungkan yah”, kata Ita menenangkan.

“Terima kasih ya teman-teman…”

This story presented by :

Widya Adhitama (058114069)

Bernadetta Ayu Wulandari (058114071)

Sukma Paramita Citraningtyas (058114073)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s