TERAPI PASIEN PECANDU HEROIN

TERAPI PASIEN PECANDU HEROIN

Disusun oleh: Febrian (058114131)

Giovanni R. (058114136)

Ferri Ariya (058114163)

Heroin (diasetilmorfin) adalah golongan opioid agonis dan merupakan derivat morfin yang mengalami asetilasi pada gugus hidroksil pada ikatan C3 dan C6. Nama lain dari heroin: smack, junk, china ehirte, chiva, black tar, speed balling, brown, dog, negra, nod, white hores, stuff.

JENIS HEROIN

Jenis heroin yang sering diperdagangkan adalah :

  1. Bes Heroin

Bes heroin merupakan diasetil morfin sebelum ia diproses menjadi diasetil morfin hidroklorid yang dicampurkan dengan bahan-bahan campuran seperti kafein, striknin, kuinin, dan skopolamin. Bes heroin merupakan heroin yang belum siap dikeluarkan .

  1. Heroin No. 3

Berwarna pink, biasa disebut fit, fun, tepung, penang pink. Heroin no. 3 mengandung diasetil morfin antara 25% sampai 45%. Kandungan kafeinnya antara 30-60%. Heroin jenis ini dipakai dengan cara menyuntik, menghisap (dengan rokok), dan chasing the dragon.

  1. Heroin No. 4

Heroin No. 4 berbentuk serbuk berwana putih kuning dengan kandungan sampai 98% diasetil morfin hidroklorid. Heroin ini digunakan dengan cara disuntikan.

  1. Brown Heroin

Heroin ini dikeluarkan melalui proses pengeluaran tanpa pembersihan. Heroin ini berwarna coklat dan memiliki bau seperti cuka yang kuat. Jika heroin ini dicampur dengan bahan-bahan lain, biasanya disebut stree level heroin.

  1. Heroin Black Tar

Heroin ini terdapat di Amerika Serikat dan menyerupai tar dari segi warna dan kepekatan. Heroin ini mengandung 90% diasetil morfin. Heroin ini larut air jika dipanaskan dan digunakan dengan cara disuntik / dihirup.

CARA PENGGUNAAN

1. Injeksi

Injeksi secara intravena, subkutan atau intra muscular. Kerugian dari injeksi selain dapat menyebabkan hepatitis, juga dapat merusak vena dan trombosis dan abses jika digunakan berulang kali.

2. Dihirup

Bubuk heroin ditaruh di aluminium foil dan dipanaskan diatas api, kemudian asapnya dihirup melalui hidung. Efek puncak dengan penggunaan secara dihirup biasanya dirasakan dalam 10-15 menit

3. Dihisap melalui pipa atau sebagai lintingan rokok

Penggunaan heroin dengan kadar tinggi biasanya dengan cara dihirup atau dihisap. Penggunaan secara dihisap lebih aman dibandingkan dihirup, oleh karena masuk ke dalam tubuh secara bertahap sehingga lebih mudah dikontrol.

Efek yang Timbul Akibat Penggunaan Heroin

Menurut national Institute Drug Abuse (NIDA), dibagi menjadi dua, yaitu :

  1. Efek segera (short term)

Gelisah; depresi pernafasan; fungsi mental berkabut; mual dan muntah; menekan nyeri; kesadaran menurun, koma, simetris dan reaktif; memburuk dan terjadi syok; kulit terasa dingin; kejang

  1. Efek jangka panjang (long term)

Adiksi; HIV; hepatitis; kolaps vena; infeksi bakteri; penyakit paru (pneumonia, tbc); infeksi jantung dan katupnya, komplikasi neurologis (Edema serebri; myelitis; postanoxia encephalopathy; crush injury; gangguan koordinasi; kesulitan untuk berbicara)

Pengaruh heroin terhadap wanita hamil:

  • Menimbulkan komplikasi serius, abortus spontan, lahir prematur

  • Bayi yang lahir dari ibu pecandu narkotik memiliki resiko tinggi untuk terjadinya SIDS (Sudden Infant Death Syndrome)

  • Bayi yang lahir dari ibu pecandu narkotik dapat mengalami gejala with drawl dalam 24-36 jam setelah lahir. Gejalanya bayi tambah gelisah, agitasi, sering menguap, bersin dan menangis, gemetar, muntah, diare dan pada beberapa kasus terjadi kejang umum

Adiksi heroin menyebabkan terjadinya beberapa keadaan, yaitu:

1. Habituasi, yaitu perubahan psikis emosional sehingga penderita ketagihan akan obat tersebut.

2. Ketergantungan fisik, yaitu kebutuhan akan obat tersebut oleh karena faal dan biokimia badan tidak dapat berfungsi lagi tanpa obat tersebut

3. Toleransi, yaitu meningkatnya kebutuhan obat tersebut untuk mendapat efek yang sama. Walaupun toleransi timbul pada saat pertama penggunaan opioid, tetapi manifes setelah 2-3 minggu penggunaan opioid dosis terapi. Toleransi silang merupakan karakteristik opioid yang penting, dimana bila penderita telah toleran dengan morfin, dia juga akan toleran terhadap opioid agonis lainnya, seperti metadon, meperidin dan sebagainya.

Mekanisme Terjadinya Toleransi dan Ketergantungan Obat

Adaptasi seluler menyebabkan perubahan aktivitas enzim, pelepasan biogenic amin tertentu atau beberapa respon imun. Nukleus locus ceruleus bertanggung jawab dalam menimbulkan gejala withdrawl. Nukleus ini tempat reseptor opioid, αadrenergic dan reseptor lainnya. Stimulasi reseptor oleh agonis opioid (morfin) akan menekan aktivitas adenilsiklase pada siklik AMP. Bila diberikan secara terus menerus, akan terjadi adaptasi fisiologik di dalam neuron yang membuat level normal dari adeniliklase walaupun berikatan dengan opiat. Bila ikatan opiat ini dihentikan dengan mendadak atau diganti dengan obat yang bersifat antagonis opioid, maka akan terjadi peningkatan efek adenilsilase pada siklik AMP secara mendadak dan berhubungan dengan gejala pasien berupa gejala hiperaktivitas.

Gejala putus obat (gejala abstinensi atau withdrawl syndrome) terjadi bila pecandu obat tersebut menghentikan penggunaan obat secara tiba-tiba. Withdrawl dapat terjadi secara spontan akibat penghentian obat secara tibatiba atau dapat pula dipresipitasi dengan pemberian antagonis opioid seperti naloxono, naltrexone. Dalam 3 menit setelah injeksi antagonis opioid, timbul gejala withdrawl, mencapai puncaknya dalam 10-20 menit, kemudian menghilang setelah 1 jam.

Gejala putus obat:

  • 6 – 12 jam , lakrimasi, rhinorrhea, bertingkat, sering menguap, gelisah

  • 12 – 24 jam, tidur gelisah, iritabel, tremor, pupil dilatasi (midriasi), anoreksia

  • 24-72 jam, intensitasnya bertambah disertai adanya kelemahan, depresi, nausea, kedinginan dan kepanasan yang bergantian, peningkatan tekanan darah dan denyut jantung, dan dehidrasi.

  • Selanjutnya, gejala hiperaktivitas otonom mulai berkurang secara berangsurangsur dalam 7-10 hari, tetapi penderita masih tergantung kuat pada obat.

Beberapa gejala ringan masih dapat terdeteksi dalam 6 bulan. Pada bayi dengan ibu pecandu obat akan terjadi keterlambatan dalam perkembangan dan pertumbuhan yang dapat terdeteksi setelah usia 1 tahun.

DIAGNOSA DAN PENATALAKSANAAN

  1. Intoksikasi akut (over dosis)

  • Perbaiki dan pertahankan jalan nafas sebaik mungkin

  • Oksigenasi yang mencukupi

  • Naloxone injeksi, dosis awal 0,4 – 2,0 mg IV (anak-anak 0,01 mg/kgBB)

  1. Intoksikasi kronis

Terapi dalam Rumah Sakit

Pasien yang masuk ke rumah sakit pertama kali perlu dilakukan pemeriksaan urine drug screen, pemeriksaan laboratorium rutin (termasuk fungsi faal hati, ginjal, dan jantung), dan juga foto thorak. Terapi detoksifikasi bertujuan agar pasien memutuskan penggunaan zatnya dan mengembalikan kemampuan kognitifnya. Selain itu untuk membantu pasien dapat mengenali konsekuensi yang diperoleh akibat penggunaan heroin dan memahami resikonya bila terjadi relaps. Dari segi mental, terapi membantu mengendalikan depresi, paranoid, quality feeling karena penyesalan perbuatannya, destruksi diri dan tindak kekerasan.

  1. Terapi withdrawl opioid

  • Withdrawl opioid tidak mengancam jiwa, tetapi berhubungan dengan gangguan psikologis dan stress fisik yang cukup berat.

  • Kebanyakan pasien dengan gejala putus obat yang ringan hanya membutuhkan lingkungan yang mendukung mereka tanpa memerlukan obat

  • Klonidin dapat digunakan untuk mengurangi gejala putus obat dengan menekan perasaan gelisah, lakrimasi, rhinorrhea dan keringat berlebihan. Dosis awal diberikan 0,1-0,2 mg tiap 8 jam. Kemudian dapat dinaikkan bila diperlukan hingga 0,8 –1,2 mg/hari, selanjutnya dapat ditappering off setelah 10-14 hari.

  • Gangguan tidur (insomnia) dapat diberikan hipnotik sedatif

  • Nyeri dapat diberikan analgetik; gelisah dapat diberikan antiansietas

  • Mual dan muntah dapat diberikan golongan metoklopamide

  1. Terapi detoksifikasi adiksi opioid

  • Metadon adalah drug of choice pada terapi detoksifikasi adiksi heroin. Dosis metadon yang dianjurkan untuk terapi detoksifikasi heroin (morfin) adalah 2-3 x 5-10 mg perhari peroral. Setelah 2-3 hari stabil dosis mulai ditappering off dalam 1-3 minggu.

  • Buprenorphine dosis rendah (1,5-5 mg sublingual setiap 2-3 x seminggu) dilaporkan lebih efektif dan efek withdrawl lebih ringan dibandingkan metadon.

  • Terapi alternatif lain yang disarankan adalah rapid detoxification yang mempersingkat waktu terapi deteksifikasi dan memudahkan pasien untuk segera masuk dalam terapi opiat antagonis.

  1. Terapi rumatan (maintenance) adiksi opioid

  • Metadon dan Levo alfa acetyl methadol (LAAM) merupakan standar terapi rumatan adiksi opioid. Metadon diberikan setiap hari, sedangkan LAAM hanya 3 kali seminggu. Pemberian metadon dan LAAM pada terapi rumatan membantu menekan perilaku kriminal. Untuk terapi ini, dosis metadon ditingkatkan menjadi 40–100 mg/hari.

  • Buprenorphine dapat digunakan pada terapi ini dengan dosis antara 2 mg-20mg/hari.

  • Naltrexone digunakan untuk adiksi opioid yang mempunyai motivasi tinggi untuk berhenti. Naltrexone diberikan setiap hari 50-100 mg peroral untuk 2 – 3 kali seminggu

  1. Terapi after care

Meliputi upaya pemantapan dalam bidang fisik, mental, keagamaan, komunikasi-interaksi sosial,edukasional, bertujuan untuk mencapai kondisi prilaku yang lebih baik dan fungsi yang lebih baik dari seorang mantan penyalahguna zat. Peranan keluarga pada saat ini sangat diperlukan.

PENUTUP

Dalam undang – undang, heroin merupakan narkotika golongan I yang mempunyai potensi ketergantungan sangat kuat terhadap fisik dan psikis. Oleh karena itu, heroin bukan termasuk obat yang beredar di pasaran. Efek penyalahgunaan heroin, selain jangka pendek berupa intoksikasi akut, tetapi juga efek jangka panjang. Penghentian penggunaan heroin secara tiba-tiba dapat menimbulkan gejala abstinesia (putus obat). Untuk terapi pasien pecandu heroin sangat diperlukan penanganan yang terpadu antara dokter, pasien dan keluarga pasien karena memerlukan waktu yang cukup lama untuk memulihkan fisik dan psikis pasien.

Daftar Pustaka

http://www.lrckesehatan.net/serba.htm

http://www.library.usu.ac.id/download/fk/bedah-iskandar%20japardi9.pdf

3 responses to “TERAPI PASIEN PECANDU HEROIN

  1. saya seorang penguna putaw tapi saya sudah berhenti selama 3 tahun kemudian saya menggunakan lagi, selama 2 bulan saya sekarang mengunakan nitrozon obat buatan jerman yang dapat membuang/menutup penggunaan putaw, saya menggunakan nitrozon tapi sangat sakit pada tubuh saya, obat itu membuat gejala adiksi menjadi 24 jam dan pada saat itu saya merasakan sakit yg tak tertahanka, setelah 24jam merasakan sakit tubuh saya menjadi normal tapi sugesti yang tersisa masih ada, apa ada obat yang di jual bebas yang dapat membuat sugesti saya hilang mohon bantuan ke eamil saya trimakasih

  2. farmakoterapi-info

    dear Charles,
    Obat yang dijual bebas untuk menghilangkan sugesti tidak ada. Silakan hubungi dokter terkait saja yach..memang sugesti lama ilangnya, jadi lebih baik konsul ke profesional kesehatan aja or pusat2 rehabilitasi supaya lebih pas….

  3. Hello charles…
    saya jg mantan pengguna napza, saat ini tahun yg ke 8 saya berhenti dari adiksi napza terutama putauw tanpa pengalihan. di awal-awal recovery sugesti adalah musuh terberat yg selalu menjadi masalah..berusaha kembali ke masyarakat adalah salah satu jalan meredam suges, atau ceritakan sugesti itu ke kelompok dukungan, jgn menganggap sugesti adalah hal yg mudah hingga mengabaikan orang lain di sekitar kita. konsultasikan ke teman terdekat, keluarga, tetangga, orang ahli dan yang pasti ceritakan segala hambatan ke Tuhan mu.

    http://www.methadone-indonesia.com/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s