MENGAPA ANDA TIDAK PERLU PENASARAN BERLEBIHAN TERHADAP KOKAIN?

Sudah bukan hal yang baru lagi ketika kita bicara mengenai penyalahgunaan narkoba. Sebab sudah terlalu luas sekaligus terlalu dekat pula kasus ini dengan kehidupan kita. Berita ini bukan lagi cuma kita jumpai di televisi atau media informasi, tapi sungguh-sungguh di sekitar kita. Bahkan data dari International Criminal Police Organization (ICPO)-Interpol menyebutkan tahun 1999 saja, jumlah pengguna narkotika di tingkat global mencapai 200 juta orang, baik pengguna rutin maupun yang sekedar coba-coba. Dari jumlah itu, 140 juta diantaranya pengguna cannabis (ganja/cimeng), 13 juta pengguna kokain, 8 juta pengguna heroin, dan 30 juta pengguna amphetamine jenis stimulans.

Dan yang membuat kita harusnya lebih prihatin lagi adalah menurut data yang berhasil dihimpun, jumlah pengguna narkoba di Indonesia sekarang ini diperkirakan mencapai sebanyak 3,2 juta orang yang terdiri atas 69 persen kelompok teratur pakai, dan 31 persen lainnya merupakan kelompok pecandu dengan proporsi pria sebesar 79 persen dan perempuan 21 persen. Sebanyak 20 persen diantaranya termasuk kategori anak-anak karena berusia dibawah 18 tahun.

Pada pembahasan ini penulis akan menyoroti lebih pada penyalahgunaan kokain. Karena kokain adalah zat adiktif yang sangat berbahaya dan sering disalahgunakan. Kokain disukai dan disalahgunakan karena efeknya menyebabkan elasi, euforia (keduanya ini intinya artinya kesenangan atau kegembiraan yang berlebihan), peningkatan harga diri dan perasan perbaikan pada tugas mental dan fisik. Efek kokain hanya berlangsung selama 30 menit, karena itu pecandu mengulang-ulang pemakaiannya.

Tanpa bermaksud mengajari, tapi hanya bermaksud memberikan informasi bahwa kokain yang sering disalahgunakan biasanya dicampuri zat lain seperti gula atau lidokain. Dan penyalahgunaannya bisa melalui berbagai cara: ditelan, disedot melalui hidung, dirokok, atau disuntikan.

Untul mengurangi rasa penarasan kita tentang kokain, ada baiknya kita sedikit mengenal apa itu kokain. Kokain merupakan alkaloid yang didapatkan dari tanaman belukar Erythroxylon coca, yang berasal dari Amerika Selatan, di mana daun dari tanaman ini biasanya dikunyah oleh penduduk setempat untuk mendapatkan efek stimulan, menghilangkan lapar dan rasa penat. Ternyata kokain juga punya nama yang unik lho, di dunianya kokain dikenal dengan nama snow, coke, girl, lady dan crack (kokain dalam bentuk paling murni dan bebas basa untuk mendapatkan efek yang lebih kuat).

Dengan sedikit berbau ilmiah, kokain dapat dijelaskan sebagai suatu golongan stimulansia susunan saraf pusat, tetapi kokain juga bekerja pasa saraf tepi dan sistem kardiovaskuler. Pengaruh kokain terhadap sitsem motorik dan sistem kordiovaskuler bersifat bifasik. Pada pemberian kokain dosis rendah penampilan motorik meningkat tetapi pada dosis tinggi menimbulkan kejang dan tremor.

Kokain dalam dosis rendah dapat disertai dengan perbaikan kinerja pada beberapa tugas kognitif. Kadang-kadang timbul perforasi septumnasi pada pemakaian secara intranasal. Pada keadaan kelebihan dosis, timbul eksitasi, kesadaran yang “berkabut”, pernafasan yang tak teratur, tremor, pupil melebar, nadi bertambah cepat, tekanan darah naik, suhu badan naik, rasa cemas, dan ketakutan. Kematian biasa disebabkan karena pernafasan berhenti. Pemakaian yang lama dapat menimbulkan penurunan berat badan dan anemia karena anoreksia.

Hingga saat ini terdapat beberapa fakta yang patut diwaspadai terkait dengan penyalahgunaan kokain. Beberapa diantaranya adalah wanita yang hamil selama ketagihan kokain lebih mudah mengalami keguguran. Jika tidak terjadi keguguran, maka janinnya bisa mengalami kecacatan karena kokain, yang dengan mudah dapat dipindahkan dari darah ibu ke darah janin melalui plasenta. Bayi yang lahir dari pecandu kokain bisa memiliki pola tidur yang abnormal dan memiliki koordinasi sistem organ yang buruk. Perkembangan merangkak, berjalan dan berbicara bisa terhambat.

Pada pemakaian dengan suntikan, berbagai penyakit infeksi (misalnya hepatitis dan AIDS) bisa ditularkan, jika para pecandu menggunakan jarum yang tidak steril secara bergantian. Gejala putus Kokain juga dapat disertai dengan kecenderungan untuk bunuh diri. Setelah beberapa hari, ketika kekuatan jiwa dan fisiknya telah kembali, pecandu bisa mencoba melakukan usaha bunuh diri. Orang yang mengalami putus Kokain seringkali berusaha mengobati sendiri gejalanya dengan alkohol, sedatif, hipnotik, atau obat antiensietas seperti diazepam (Valium).

Dan yang lebih mengerikan lagi, suatu sumber menyatakan adanya analisis atas 27 otak para pengguna zat adiktif kokain telah membuat tim ahli pimpinan Dr. Hans C. Breiter dari Massachusetts General Hospital Boston (AS) berkesimpulan bahwa volume otak pengguna zat adiktif kokain menjadi sangat kecil dan itu berpengaruh pada aktifitas pemakainya. Hasil penelitian Volume otak ke-27 pengguna zat adiktif kokain itu dibandingkan dengan volume otak 27 orang yang sehat dan tidak pernah menyentuh kokain, hasilnya volume otak dan struktur yang disebut dengan amygdala pada 27 pengguna zat adiktif lebih kecil dibandingkan dengan ukuran yang normal.

Meski belum secara jelas bagaimana penyusutan terjadi namun kecilnya ukuran amygdala kemungkinan besar akibat penggunaan zat adiktif seperti kokain. Amygdala sendiri seperti sebuah kumpulan kecil syaraf pada otak yang juga berpengaruh pada proses terbentuknya emosi. Maka dampak buruk pemakainya adalah ketidakstabilan dari emosi.

Breiter memberikan penjelasan singkat bahwa volume amygdala pada orang normal akan berkembang lebih besar pada sisi kiri otak dan pada pengguna zat adiktif keseimbangan ukuran itu menjadi tidak simetris. Dalam waktu singkat penggunaan zat adiktif akan membuat proses degenerasi pertumbuhan otak. Dalam waktu panjang, penggunaan zat adiktif akan membuat ketidaknormalan pada aksi kehidupan sehari-hari.

Secara luas, kokain meningkatkan tekanan darah dan detak jantung dan dapat menyebabkan serangan jantung yang fatal, bahkan pada atlit muda yang sehat. Efek lainnya adalah sembelit, gangguan pencernaan, kegugupan yang berlebihan, perasaan bahwa sesuatu bergerak di bawah kulit (cocaine bugs) yang kemungkinan merupakan pertanda adanya kerusakan saraf kejang, halusinasi, delusi paranoia, dan membuat seseorang berperilaku kasar.

Nah sekarang jelas sekali bukan, kalo “azab” nya menyalahgunakan kokain itu sama sekali tidak sebanding dengan enaknya? Cuma untuk rasa gembira sesaat, dan masalah yang ada tidak juga lenyap, malah masalah baru yang lebih kompleks muncul akibat keputusan beresiko tinggi yaitu menyalahgunakan kokain.

Untuk itu bagi anda yang belum kenal dengan kokain, jangan sekali-kali anda punya rasa penasaran berlebihan terhadap barang yang satu ini, karena akan fatal akibatnya untuk hidup anda yang cuma sekali ini. Dan bagi anda yang sudah terlanjur menjadi bagian dari gelapnya dunia akibat pemakaian kokain, bertekatlah untuk berhenti sekarang juga. Dengan penuh kesadaran dari diri anda sendiri, cari tempat rehabilitasi dan yakinlah hidup anda akan jauh lebih indah setelah anda kembali normal. Dan bagi anda yang melihat gejala penyalahgunaan kokain disekitar anda, pastikan anda tidak akan diam saja. Setelah anda mengetahui bahwa resiko yang akan anda terima tidak sebanding dengan efek sesaatnya, pastikan bahwa anda tidak perlu merasa penasaran berlebihan terhadap kokain. Oke?!

Oleh :

Ade Entyna (058114051)

Ragil Sediyaning Utami (058114052)

Raden Pradipta Satriyajati (058114086)

One response to “MENGAPA ANDA TIDAK PERLU PENASARAN BERLEBIHAN TERHADAP KOKAIN?

  1. betulll…pak jangan sampai generasi kita jadi korban

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s