Monthly Archives: November 2008

PENGARUH KAFEIN DALAM TEH

(NaPZA angkatan 2008)

Kelompok:

  • Elysabeth Frederika Yulia Jayani (068114081)
  • Paula Cyndia Pramaningtyas (068114082)
  • Mariana Esti Rahmaroswita (068114083)
  • Nyoman Valida Lendra (068114086)
  • Fitriana Annisa (068114095)



Hampir kebanyakan orang menyukai dan memiliki kebiasaan minum teh baik pada pagi, siang maupun sore hari. Teh memang berasa enak dan benar-benar nikmat. Bahkan di iklan-iklan TV pun menyebutkan bahwa dengan meminum teh pikiran menjadi tenang. Banyak pula produk teh yang memang diperuntukkan bagi kesehatan seperti teh hijau misalnya bisa untuk menurunkan berat badan. Dengan adanya iklan-iklan itu maka timbul pikiran awam mengenai suatu pandangan dimana teh memang menyehatkan dan tidak memiliki efek samping.

Teh memang dapat memberikan manfaat bagi para peminumnya, tetapi ada juga beberapa orang tertentu yang dianjurkan untuk tidak mengkonsumsi teh terlalu banyak karena bisa menjadi bumerang bagi kesehatannya.

Untuk mengetahui apakah teh itu bermanfaat atau berbahaya maka dapat dilihat dari kandungan teh itu sendiri. Daun teh mengandung kafein (2 – 3%), theobromin, theofilin, tanin, xan-thine, adenine minyak asiri, kuersetin, naringenin, dan natural fluoride. Kandungan kafein inilah yang menjadi masalah utama manfaat dari the. Di dalam minuman teh mengandung kurang lebih 40 mg kafein.

Untuk lebih jelasnya, yukz…kita lihat mengenai kafein itu sendiri:

Struktur kafein:


Kafein ialah alkaloid yang tergolong dalam famili methylxanthine bersama-sama senyawa teofilin dan teobromin. Kafein ialah serbuk putih yang pahit. Kafein memiliki berat molekul 194.19 dengan rumus kimia C8H10N8O2 dan pH 6.9 (larutan kafein 1% dalam air). Nama sistematik kafein ialah:

o 1,3,7-trimetilxanthine

o 3,7-dihidro-1,3,7-trimetil-1 H-purin-2,6-dione

Kafein mempunyai daya kerja sebagai stimulan sistem syaraf pusat, stimulan otot jantung, meningkatkan aliran darah melalui arteri koroner, relaksasi otot polos bronki, dan aktif sebagai diuretika, dengan tingkatan yang berbeda. Dan, tidak sama dengan yang lain, daya kerja sebagai stimulan sistem syaraf pusat dari kafein sangat menonjol sehingga umumnya digunakan sebagai stimulan sentral.

Kafein biasanya aman dikonsumsi dalam jumlah yang tidak berlebihan. Para ahli menyarankan 200-300 miligram konsumsi kafein dalam sehari merupakan jumlah yang cukup untuk orang dewasa. Tapi, mengonsumsi kafein sebanyak 100 miligram tiap hari dapat menyebabkan individu tersebut tergantung pada kafein. Maksudnya, seseorang dapat mengalami gejala seperti rasa lelah, perasaan terganggu atau sakit kepala jika ia tiba-tiba berhenti mengonsumsi kafein.

Terlalu banyak kafein dapat menyebabkan intoksikasi kafein (yaitu mabuk akibat kafein). Antara gejala penyakit ini ialah keresahan, kerisauan, insomnia, keriangan, muka merah, kerap kencing (diuresis), dan masalah gastrointestial. Gejala-gejala ini bisa terjadi walaupun hanya 250 mg kafein yang diambil. Jika lebih 1 g kafeina diambil dalam satu hari, gejala seperti kejangan otot (muscle twitching), kekusutan pikiran dan perkataan, aritmia kardium (gangguan pada denyutan jantung) dan bergejolaknya psikomotor (psychomotor agitation) bisa terjadi. Intoksikasi kafein juga bisa mengakibatkan kepanikan dan penyakit kerisauan.

Setiap orang berbeda kadar kepekaannya terhadap kafein. Beberapa kepekaan terhadap pengaruh kafein terhadap ibu yang sedang hamil telah diungkapkan, yaitu dapat menyebabkan kelahiran bayi yang cacat. Penelitian terhadap manusia dan hewan belum konklusif hasilnya; apakah benar dengan konsumsi normal sehari-hari dapat mengakibatkan kelahiran bayi yang cacat. Walaupun demikian karena adanya ketidakpastian dalam penelitian terhadap manusia dan telah adanya bukti yang nyata bahwa beberapa bayi cacat terjadi pada hewan percobaan, maka dapat disarankan untuk perempuan yang sedang hamil untuk mengurangi konsumsi kafeinnya perhari.

Bagi orang yang mempunyai tekanan darah tinggi, teh memang dapat membantu melindungi jantung. Akan tetapi bagi yang telah terlanjur menderita penyakit jantung, mereka harus menghindari minum teh kental, karena kadar kafein dalam teh bisa merangsang orang dan menaikkan tekanan darahnya. Bila mereka tetap minum teh maka jantungnya akan berdetak cepat, merasa sangat gelisah bahkan mengalami arrhythmia atau tidak adanya irama jantung.

Konsumsi teh bagi masyarakat Indonesia, seperti telah menjadi tradisi yang mengakar dan sulit untuk ditinggalkan. Disatu sisi, kafein merupakan senyawa yang bermanfaat bagi manusia, yang telah memberikan banyak keuntungan terutama untuk meningkatkan daya konsentrasi dan menambah kenikmatan dalam mengkonsumsi suatu minuman. Tetapi di sisi lain, kafein juga diketahui merupakan senyawa beracun, yang dapat menganggu kesehatan manusia dan keturunannya. Walaupun teh mempunyai manfaat bagi kesehatan tetapi juga ada pengaruh negative yang didapatkan dari teh dengan adanya kandungan kafein seperti yang telah dijelaskan diatas. Maka sebaiknya teh diminum secara teratur dan dengan takaran yang tepat.

DAFTAR PUSTAKA

Putra, S.E., 2008, Kafein, Senyawa Bermanfaat atau Beracunkah?, http://www.chem-is-try.org, diakses tanggal 20 November 2008

Siswono, 2007, Kafein, http://www.gizi.net, diakses tanggal 20    November 2008

Advertisements

Kaktus Juga Bisa Bikin Halusinasi Lho…

Kaktus Juga Bisa Bikin Halusinasi Lho…

(NAPZA Agustus 2008)

Anggota Kelompok :

Melissa (068114093)

Esti Nugraheni (068114124)

Fidela Antonisca N. (068114131)

Helen Tanujaya (068114133)

Charoline Ayem N. (068114149)



Kaktus yang bisa bikin halusinasi yaitu Kaktus Peyote (Lophophora williamsi).

Mau tau lebih lengkapnya apa itu “Kaktus Peyot”??

Kaktus Peyot termasuk dalam regnum : Plantae, divisio : Magnoliophyta, class : Magnoliopsida, ordo : Caryophyllales, famili : Cactaceae, genus : Lophophora, spesies : L. williamsii

Tanaman kaktus ini lebih dikenal di seluruh dunia sebagai Peyote Kaktus atau Kaktus Peyot.

Kenapa ya kok disebut Kaktus Peyot??

Mungkin karena bentuknya yang tidak seperti kaktus biasanya. Peyote kaktus bentuknya bulat kecil, warnanya sedikit biru / hijau. Bijinya kecil dan hitam, dan memerlukan kondisi panas dan lembab untuk tumbuh. Ia memiliki tufts kecil dari wol merah muda dan bunga .Peyote tidak akan berbunga sebelum tingginya mencapai 3 cm. Bunganya akan mekar sekitar bulan Maret sampe Mei. Di alam bunganya hanya akan “blossom” setelah 10 tahun, dan kaktus ini tidak tumbuh lebih besar dari 6 sampai 7 inci. Kaktus ini tumbuh di daratan Meksiko dan barat daya Amerika Serikat. Habitatnya adalah terutama di gurun semak belukar, terutama dalam semak duri Tamaulipas, atau di dekat bukit kapur. terutama ditemukan di ketinggian 100 m ke 1500 dan hingga 1.900 meter di gurun Chihuahuan.

Bagi Suku India Amerika (Meksiko), tanaman ini dianggap sakral, dan digunakan untuk keperluan religius dan budaya setempat selama ribuan tahun. Tanaman ini digunakan untuk “obat” psikoaktif. Suku Tarahuma di Meksiko utara malah menggunakan peyote ini untuk meningkatkan kemampuan berlari hingga 72 jam .

Penggunaan peyote ini bisa dalam bentuk segar (langsung dimakan/dikunyah) atau dikeringkan dulu (“bubuk” bisa dipake untuk campuran teh atau dibuat jadi kapsul). Saat pendatang Eropa datang ke benua Amerika dan menemukan penggunaan kaktus ini, mereka menganggap penggunaan kaktus ini adalah sebuah “elemen dari setan” alias berbahaya dan dilarang, sehingga orang-orang Indian berusaha menyembunyikan penggunaan kaktus ini dalam upacara keagamaan biar bisa tetap digunakan. Hal ini juga dilakukan oleh penduduk pribumi di Kolombia yang menggunakan campuran peyote dalam upacara keagamaan dan tradisi ini terus berlanjut pada upacara keagamaan pada masa sekarang. Tapi bagi kaum Native American Church penggunaan peyote ini masih diiijinkan dan dianggap sah untuk keperluan upacara keagamaan.

Itu tadi sejarahnya, mau tau ga kandungan apa yang bisa bikin halusinasi?

Di dalam Kaktus peyote ini terkandung bahan kimia yang dikenali sebagai meskalin. Kandungan meskalin dalam kaktus peyote kering sekitar 3-6%, sedang dalam kaktus peyote yang masih basah/segar hanya sekitar 0,4%.

Mescaline (3,4,5-kimia Trimethoxyphenyl-2-ethylamine) adalah hallucinogenic alkaloid dengan struktur Phenethylamine. Mescaline, larut dalam air dan alkohol, diperoleh melalui proses ekstraksi, juga dapat diproduksi sintetisnya. Meskalin pertama kalinya ditemukan oleh Athur Heffter taon 1896; dan berhasil disintesis dan ditemukan strukturnya pada taon 1919 oleh Ernst Spath.

Efek Penggunaannya akan mengalami halusinasi pendengaran dan penglihatan pada perilaku tertentu tampak seperti keracunan obat, juga menimbulkan sesak napas. schizophrenia dan psikosis lainnya bahkan sampai menimbulkan “hasrat” ingin bunuh diri.

Peyote ini termasuk salah satu dari tiga spesies kaktus yang mengandung meskalin selain San Pedro, dan, the Peruvian Torch cactus. Tapi dari ketiga ini yang dianggap terlarang cuma yang peyote ini, kalo yang San Pedro dan the Peruvian Torch cactus masih boleh dipunyai asal dengan tujuan untuk bidang hortikultural (ada izin khusus).

Makanya peyote ini sekarang dimasukkan dalam golongan obat terlarang. Malah menurut UU No. 5 tahun 1997, meskalin tergolong Psikotropika Golongan I. Efek dari meskalin terjadi setelah sekitar 1 hingga 2 jam dan berlangsung sekitar 6 sampai 12 jam. LD 50 pada tikus adalah sekitar 880 mg per kilogram.

Dosis meskalin mulai efektif pada 2 milligram per kg berat badan. Pada dosis 3 milligrams per kg berat badan timbul efek hiperaktif dan gejolak batin serta diikuti sedikit perubahan persepsi penglihatan khususnya warna, efek halusinasi mungkin saja terjadi. Pada dosis 4 milligrams per kg berat badan timbul efek hiperaktif dan gejolak batin diikuti peningkatan yang signifikan terhadap perubahan persepsi penglihatan khususnya warna efek halusinasi mimpi dan gambar-gambar. Sedang pada dosis 5 milligrams per kilogram terjadi perubahan persepsi yang sangat, intens warna terang dipahami. Persepsi dengan semua indera sangat ketat. Halusinasi dengan perasaan euforia juga terjadi.

Daftar Pustaka

www.lumrix.net/health/Peyote.html

www.sladsmktt.tripod.com/halusinogen.htm

www.kaktus.cc

www.kemanusiaan.wordpress.com

www.ganja.co.uk

www.kompas.com/ver1/Kesehatan

www.wikimedia.org

www.faktanarkoba.blogspot.com

www.suchtmittel.de/info/meskalin

Morfin… Sang Dewa Mimpi (Napza Agustus 2008)

Morfin???? Mungkin hampir semua orang sudah tahu itu termasuk obat terlarang… Tapi bagaimana sejarah morfin??? Benarkah morfin sama sekali tidak boleh digunakan??? Mengapa morfin menjadi obat terlarang???? Mau tahu lebih banyak??? Simak artikel ini dulu… ^^

Morfin berasal dari perkataan “Morpheus” yaitu dewa mimpi dalam mitologi Yunani. Morfin adalah sejenis bahan yang terdapat di dalam cecair candu dan digunakan oleh dokter untuk meringankan rasa sakit. Morfin juga dikenali sebagai “M”, “White Stuff”, “White Powder”, “Monkey”, “Dreamer”, “Morpho”, “Tab”, “Morb”, “Cubes”, “Emsel” dan “Melter”. Biasanya morfin didapati di dalam bentuk ketulan atau debu dan biasanya berwarna cokelat atau putih kelabu. Terdapat juga morfin dalam bentuk tablet putih kecil atau kapsul. Biasanya tanda-tanda yang terdapat pada ketulan-ketulan morfin ialah cap gajah, cap kupu-kupu dan cap 999 atau 999. Morfin adalah komponen utama dari opium/candu yang diperoleh tumbuhan Papaver Somniferum.

poppy 180px-morphine-2d-skeletal1

Morfin bekerja langsung pada sistem saraf pusat untuk menghilangkan sakit. Efek samping morfin antara lain adalah penurunan kesadaran, euforia, rasa kantuk, lesu, dan penglihatan kabur. Morfin juga mengurangi rasa lapar, merangsang batuk, dan meyebabkan konstipasi. Morfin menimbulkan ketergantungan tinggi dibandingkan zat-zat lainnya.

Terdapat beberapa jenis morfin, antara lain :

· Morfin Mentah / Kasar

Morfin mentah atau morfin kasar ini didapati dalam bentuk blok atau serbuk. Warna blok berbeda-beda dari putih ke cokelat gelap dan kebanyakkannya mempunyai tanda ‘999’. Blok-blok ini biasanya mengandungi 70 % hingga 90 % morfin hidroklorid.

· Bes Morfin

Bes morfin adalah sejenis alkaloid yang diperolehi secara langsung dari candu. Bahan ini kadangkala mempunyai bau seperti opium dan berupa seperti serbuk kopi halus. Kandungan morfin yang terdapat di dalamnya adalah antara 60 % hingga 70 %.

· Pil Morfin

Pil-pil morfin ini mengandungi morfin sulfat atau morfin hidroklorid yang dikeluarkan secara sah atau legal, namun seringkali disalahgunakan ke pasaran gelap. pil-pil ini berukuran kecil dan berwarna putih atau cokelat pucat.

Kesan-kesan Penggunaan Morfin

  • Mata hitam mengecil
  • Tekanan darah turun
  • Peredaran darah lambat
  • Kurang selera makan
  • Sentiasa khayal
  • Pertuturan tidak nyata

Morfin pertama kali diisolasi pada 1804 oleh ahli farmasi Jerman  Friedrich Wilhelm Adam Sertürner. Tapi morfin belum digunakan hingga dikembangkan hypodermic needle (1853). Morfin digunakan untuk mengurangi nyeri dan sebagai cara penyembuhan dari ketagihan alkohol dan opium.

Morfin bekerja langsung pada sistem saraf pusat untuk menghilangkan sakit. Efek samping morfin antara lain adalah penurunan kesadaran, euforia, rasa kantuk, lesu, dan penglihatan kabur. Morfin juga mengurangi rasa lapar, merangsang batuk, dan meyebabkan konstipasi. Morfin menimbulkan ketergantungan tinggi dibandingkan zat-zat lainnya. Pasien morfin juga dilaporkan menderita insomnia dan mimpi buruk.

Morfin merupakan agonis reseptor opioid, dengan efek utama mengikat dan mengaktivasi reseptor µ-opioid pada sistem saraf pusat. Aktivasi reseptor ini terkait dengan analgesia, sedasi, euforia, physical dependence dan respiratory depression. Morfin juga bertindak sebagai agonis reseptor κ-opioid yang terkait dengan analgesia spinal dan miosis.

Di dalam tubuh, morfin terutama dimetabolisme menjadi morphine-3-glucuronide dan morphine-6-glucuronide (M6G). Pada hewan pengerat, M6G tampak memiliki efek analgesia lebih potensial ketimbang morfin sendiri. Sedang pada manusia M6G juga tampak sebagai analgesia. Perihal signifikansi pembentukan M6G terhadap efek yang diamati dari suatu dosis morfin, masih jadi perdebatan diantara ahli farmakologi.

Morfin diberikan secara parenteral dengan injeksi subkutan, intravena, maupun epidural. Saat diinjeksikan, terutama intravena, morfin menimbulkan suatu sensasi kontraksi yang intensif pada otot. Oleh karena itu bisa menimbulkan semangat luar biasa. Tak heran bila dikalangan militer  terkadang menggunakan autoinjector untuk memperoleh manfaat tersebut.

Pemberian secara oral, biasa dalam sediaan eliksir, solusio, serbuk, atau tablet. Morfin jarang disuplai dalam bentuk suppositoria. Potensi pemberian oral hanya seperenam hingga sepertiga dari parenteral. Hal ini dikarenakan bioavailabitasnya yang kurang baik. Saat ini morfin juga tersedia dalam bentuk kapsul extended-release untuk pemberian kronik dan juga formulasi immediate-release.

Sebuah review dilakukan oleh Wiffen PJ dkk tentang penggunaan morfin oral untuk nyeri kanker. Review yang dilaporkan dalam  The Cochrane Database of Systematic Reviews 2006 Issue 3 ini mengikutkan 55 studi (3061 subjek) yang memenuhi kriteria. Empat belas studi membandingkan preparat oral sustained release morphine (MSR) dengan immediate release morphine (MIR). Delapan studi membandingkan MSR dengan kekuatan yang berbeda. Sembilan studi membandingkan MSR oral dengan MSR rectal. Satu studi masing-masing membandingkan: MSR tablet dengan MSR suspensi; MSR dengan frekuensi dosis yang berbeda; MSR dengan non-opioid; MIR dengan non opioid; morfin oral dengan morfin epidural; dan MIR dengan rute pemberian yang berbeda.

Hasil review memperlihatkan, morfin merupakan analgesik efektif untuk mengatasi nyeri kanker. Pengurangan nyeri tidak berbeda untuk sediaan MSR dan MIR. MSR efektif untuk dosis 12 atau 24 jam tergantung pada formulasinya. Efek samping umum dijumpai, namun hanya 4% pasien yang menghentikan pengobatan karena tidak bisa menolerir.

Morfin bekerja langsung pada sistem saraf pusat untuk menghilangkan sakit. Efek samping morfin antara lain adalah penurunan kesadaran, euforia, rasa kantuk, lesu, dan penglihatan kabur. Morfin juga mengurangi rasa lapar, merangsang batuk, dan meyebabkan konstipasi. Morfin menimbulkan ketergantungan tinggi dibandingkan zat-zat lainnya. Pasien morfin juga dilaporkan menderita insomnia dan mimpi buruk.

Morfin merupakan agonis reseptor opioid, dengan efek utama mengikat dan mengaktivasi reseptor µ-opioid pada sistem saraf pusat. Aktivasi reseptor ini terkait dengan analgesia, sedasi, euforia, physical dependence dan respiratory depression. Morfin juga bertindak sebagai agonis reseptor κ-opioid yang terkait dengan analgesia spinal dan miosis.

Di dalam tubuh, morfin terutama dimetabolisme menjadi morphine-3-glucuronide dan morphine-6-glucuronide (M6G). Pada hewan pengerat, M6G tampak memiliki efek analgesia lebih potensial ketimbang morfin sendiri. Sedang pada manusia M6G juga tampak sebagai analgesia. Perihal signifikansi pembentukan M6G terhadap efek yang diamati dari suatu dosis morfin, masih jadi perdebatan diantara ahli farmakologi.

Morfin diberikan secara parenteral dengan injeksi subkutan, intravena, maupun epidural. Saat diinjeksikan, terutama intravena, morfin menimbulkan suatu sensasi kontraksi yang intensif pada otot. Oleh karena itu bisa menimbulkan semangat luar biasa. Tak heran bila dikalangan militer  terkadang menggunakan autoinjector untuk memperoleh manfaat tersebut.

Pemberian secara oral, biasa dalam sediaan eliksir, solusio, serbuk, atau tablet. Morfin jarang disuplai dalam bentuk suppositoria. Potensi pemberian oral hanya seperenam hingga sepertiga dari parenteral. Hal ini dikarenakan bioavailabitasnya yang kurang baik. Saat ini morfin juga tersedia dalam bentuk kapsul extended-release untuk pemberian kronik dan juga formulasi immediate-release.

Sebuah review dilakukan oleh Wiffen PJ dkk tentang penggunaan morfin oral untuk nyeri kanker. Review yang dilaporkan dalam  The Cochrane Database of Systematic Reviews 2006 Issue 3 ini mengikutkan 55 studi (3061 subjek) yang memenuhi kriteria. Empat belas studi membandingkan preparat oral sustained release morphine (MSR) dengan immediate release morphine (MIR). Delapan studi membandingkan MSR dengan kekuatan yang berbeda. Sembilan studi membandingkan MSR oral dengan MSR rectal. Satu studi masing-masing membandingkan: MSR tablet dengan MSR suspensi; MSR dengan frekuensi dosis yang berbeda; MSR dengan non-opioid; MIR dengan non opioid; morfin oral dengan morfin epidural; dan MIR dengan rute pemberian yang berbeda.

Hasil review memperlihatkan, morfin merupakan analgesik efektif untuk mengatasi nyeri kanker. Pengurangan nyeri tidak berbeda untuk sediaan MSR dan MIR. MSR efektif untuk dosis 12 atau 24 jam tergantung pada formulasinya. Efek samping umum dijumpai, namun hanya 4% pasien yang menghentikan pengobatan karena tidak bisa menolerir.

Keracunan morfin dapat terjadi secara akut dan secara kronis. Keracunan akut biasanya terjadi akibat percobaan bunuh diri atau dosis yang berlebihan. Keracunan kronis terjadi akibat pemakaian berulang-ulang dan inilah yang sering terjadi. Adiksi (kecanduan) atau “morfinisme” tidak lain dari pada suatu keadaan keracunan kronis. Adiksi morfin ditandai dengan adanya habituasi, ketergantungan fisik dan toleransi. Gejalanya antara lain merasa sakit, iratabilitas, tremor, lakrimasi, berkeringat, menguap, bersin-bersin, anoreksia, midriasis, deman, pernafasan cepat, muntah-muntah, kolik, diare dan pada akhirnya penderita mengalami dehidrasi, ketosis, asidosis, kolaps kardiovackuler yang bisa berakhir dengan kematian.

Morfin dapat diabsorpsi oleh usus, tetapi efek analgetik yang tinggi diperoleh melalui parentral. Dari satu dosis morfin, sebanyak 10 % tidak diketahui nasibnya, sebagian mengalami konjugasi dengan asam glukoronat di hepar dan sebagian dikeluarkan dalam bentuk bebas.

Ekskresi morfin terutama melalui ginjal. Urine mengandung bentuk bebas dan bentuk konjugasi. Berdasarkan hal ini, dapat dilakukan identifikasi morfin dalam urine dari penderita yang diduga keracunan morfin.

Adiksi (kecanduan) atau “morfinisme” tidak lain dari pada suatu keadaan keracunan kronis. Adiksi morfin ditandai dengan adanya habituasi, ketergantungan fisik dan toleransi. Gejalanya antara lain merasa sakit, iratabilitas, tremor, lakrimasi, berkeringat, menguap, bersin-bersin, anoreksia, midriasis, deman, pernafasan cepat, muntah-muntah, kolik, diare dan pada akhirnya penderita mengalami dehidrasi, ketosis, asidosis, kolaps kardiovackuler yang bisa berakhir dengan kematian.

Daftar Pustaka

Budavari, Susan. The Merck Index, 12th edition. Merck. 1996

Clark E.C.G. : Isolation and Identification of Drug, General Medical Counsil, London, 1969.

Drs. Y.P. Jokosuyuno, 1980, Masalah Narkotika dan Bahan Sejenisnya, Penerbitan Yayasan Kanisius.

James Scorzelli, 1987, Drug Abuse- Preventions and Rehabilitations In Malaysia, Universiti

Kebangsaan Malaysia.

LeCouteur P. and Burreson J. Napoleon’s Buttons: How 17 Molecules Changed History. Penguin Putnam. 2003

Sudjono D, 1977, Narkotika dan Remaja, Penerbitan Alumni Bandung

disusun oleh : Ricky Hidayat       (068114123) ; Tiara Pranasita        (068114141)   ;   Yustina Amelia Awaluid    (068114143)   ; Jeffry Ben Martin    (068114158)   ;    Nana Kartika      (068114185)

nicotine replacement therapy

NICOTINE REPLACEMENT THERAPY

BY :

Lusia Lero Maya Sari               05-109

Tara Asie 05-112

Sarah Puspita Atmaja 05-140

Fanny 05-150


\rokok.bmp

Merokok berarti menghisap dan mengabsorbsi nikotin ke dalam tubuh, baik secara aktif maupun pasif. Nikotin sangat beracun, dan merupakan zat kimia adiktif yang ditemukan di tembakau. Nikotin memiliki fungsi sebagai zat perangsang (stimulan) dan sekaligus bisa memberikan efek menenangkan yang bekerja di susunan saraf pusat.

Jika seseorang sudah kecanduan merokok, maka sulit untuk menghentikannya, sehingga muncul reaksi withdrawal syndrome (gejala kecanduan) pada saat berhenti merokok seperti gugup, mudah marah, mengantuk, dan kurang konsentrasi.

Berhenti merokok memerlukan suatu proses, dan tidak dapat berlangsung dalam jangka waktu yang singkat karena melibatkan gejala ketergantungan atas nikotin dan perubahan kebiasaan. Selama berhenti merokok, rasa tidak nyaman karena ketagihan nikotin muncul ketika seseorang mengonsumsi nikotin dalam jumlah yang lebih sedikit dari biasanya.

Dua cara yang dapat dilakukan agar dapat berhenti merokok, yakni berhenti merokok secepat mungkin dan metode lainnya yaitu dengan nicotine replacement therapy (NRT). NRT adalah penggunaan produk yang mengandung nikotin untuk menggantikan nikotin yang didapatkan sebelumnya dari merokok. NRT menolong beberapa orang untuk mengurangi kecanduan nikotin setelah berhenti merokok.

Bentuk NRT yang telah dipasarkan adalah dalam bentuk patch, inhaler, nasal spray, gum, tablet sublingual, dan lozenge. NRT sangat berguna bagi pengguna tembakau yang ingin berhenti dari kecanduan dan cara ini bagi banyak orang sangat aman. Rokok menyebabkan kematian sekitar 5 juta tiap tahun. Orang yang menggunakan rokok tidak meninggal karena nikotin yang terdapat di dalam rokok, tetapi karena kandungan dalam asap tembakau seperti karbon monoksida dan tar. Rokok merupakan cara yang “kotor” dan berbahaya dalam menghantarkan nikotin, sedangkan NRT merupakan cara yang “bersih” dan aman.

NRT menghantarkan nikotin menuju otak pengguna rokok lebih lambat dibandingkan dengan rokok.

1. Nikotin patch

· Nikotin patch melepaskan sejumlah nikotin secara konstan ke dalam tubuh. Berbeda dengan nikotin yang terkandung dalam asap tembakau yang masuk ke pembuluh darah dengan segera melalui paru-paru, nikotin yang terkandung di dalam patch membutuhkan 3 jam untuk melalui lapisan kulit dan mencapai pembuluh darah pengguna.

· Patch yang digunakan bersifat adesif, patch yang berukuran lebar dapat menghantarkan nikotin lebih banyak melalui kulit.

· Nikotin patch tidak dapat dilepas, harus dipasang sepanjang hari sebagai pengganti rokok. Beberapa produk perlu diganti setiap 24 jam sekali. Beberapa produk hanya digunakan selama beraktivitas dan dilepas selama tidur

· Pemakaian patch nikotin dapat mengurangi beberapa gejala utama kecanduan rokok, seperti gugup, mudah marah, mengantuk, dan kurang konsentrasi.

· Beberapa efek samping pemakaian patch : iritasi kulit, pusing, denyut jantung yang cepat, insomnia, sakit kepala, mual, muntah, nyeri otot, dan menjadi orang yang tidak ramah.

2. Nikotin Gum

· Nikotin gum menghantarkan nikotin ke otak dengan cepat daripada bentuk sediaan patch, walaupun berbeda dengan rokok, yang secara spontan melalui aliran darah sepanjang paru-paru; nikotin gum memerlukan waktu beberapa menit untuk mencapai otak.

· Nikotin gum tidak dikunyah seperti permen karet biasa. Ketika memasukkan gum dalam mulut, dikunyah beberapa kali, kemudian letakkan di antara pipi dan gusi. Nikotin dari permen karet akan masuk ke sistem melalui pembuluh darah rongga mulut. Jika terus dikunyah, tanpa diletakkan/didiamkan, nikotin akan dilepaskan secara langsung ke dalam saliva, yang akhirnya akan ditelan, membuat sakit perut dan ketagihan rokok.

· OTC gum tersedia dalam dosis 2 mg (untuk perokok yang merokok £ 24 batang per hari) dan 4 mg (untuk perokok yang merokok ³ 25 batang per hari).

· Nikotin gum membantu mengalihkan kecanduan rokok tanpa tar dan gas beracun seperti yang terdapat dalam rokok.

· Nikotin gum harus digunakan dengan benar agar efektif. Langkah penggunaan nikotin gum meliputi:

Berhenti merokok ketika memulai terapi nikotin gum

Jangan makan atau minum selama 15 menit sebelum penggunaan, atau saat mengunyah gum (beberapa minuman dapat mengurangi keefektifannya)

Kunyah gum secara perlahan-lahan dan hentikan setelah 30 menit untuk melepaskan nikotin.

Kunyah sejumlah gum untuk mengurangi gejala kecanduan (10-15 buah per hari)

Gunakan gum setiap hari sekitar ± 1 bulan, kemudian mulai kurangi jumlah gum yang digunakan setiap hari, kunyah hanya jika diperlukan untuk menghindari gejala kecanduan.

Hentikan penggunaan gum setelah 3 bulan

Jika gum menempel pada gigi, hentikan penggunaannya dan periksakan ke dokter gigi. Gigi palsu atau kerja gigi dapat rusak karena nikotin gum lengket dan sulit dikunyah daripada permen karet biasa.

3. Nikotin Lozenge

· Bentuk Lozenge nikotin seperti permen dan melepaskan nikotin ketika sediaan ini larut secara perlahan dalam mulut. Menggigit atau mengunyah lozenge akan menyebabkan nikotin lebih mengembang dengan cepat dan menghasilkan indigesti atau heartburn.

· Lozenges nikotin tersedia dalam dosis 2 mg atau 4 mg. Satu lozenge satu dosis; Maksimum dosis tidak boleh melebihi 20 lozenges per hari.

· Setiap lozenge akan habis dalam 20-30 menit

· Tidak boleh makan atau minum 15 menit sebelum menggunakan lozenge atau ketika ada makanan atau minuman dalam mulut.

· Tidak boleh menggunakan lozenge nikotin lebih dari 12 minggu.

· Umumnya efek samping karena penggunaan lozenge adalah rasa sakit pada gigi dan gusi, indigesti, iritasi tenggorokan.

Hanya Dengan Resep Dokter

Nikotin Nasal Spray

· Nikotin diserap secara cepat melewati membran nasal dan mencapai pembuluh darah lebih cepat daripada produk NRT lainnya.

· Umumnya efek samping yang ditimbulkan adalah iritasi pada hidung dan tenggorokan.

· Dosis tunggalnya adalah 2 spray (semprotan), satu tiap lubang hidung. Maksimum dosis yang direkomendasikan adalah 5 dosis per jam atau 40 dosis total perhari.

Nikotin Inhaler

· Nikotin inhaler terdiri dari silinder plastic meliputi suatu cartridge yang menghantarkan nikotin ketika nikotin inhaler ini dihisap (puff on). Penggunaan tidak boleh lebih dari 16 cartridge sehari untuk lebih dari 12 minggu.

· Dosis awal bersifat individual. Satu cartridge akan habis dalam 20 menit pada penggunaan puffing berkelanjutan dan menghantarkan 4 mg nikotin; hanya 2 mg yang sebenarnya diabsorpsi. Ini ekuivalen dengan 2 batang rokok. Maksimum dosis yang dianjurkan adalah 16 cartridge perhari.

· Efek samping termasuk iritasi tenggorokan dan mulut. Biasa akan diawali dengan batuk tetapi batuk ini harus disembuhkan, bila belum sembuh dapat menghubungi dokter.

Non-Nicotine Pill – Zyban:

· Efek samping yang ditimbulkan adalah insomnia, mulut kering, dan pusing.

· Terapi bupropion dimulai ketika perokok mulai merokok, 1 minggu sebelum hari terakhir. Terapi kemudian dilanjutkan selama 7 – 12 minggu. Lama terapi tergantung masing-masing individu.

· Dosis awal adalah 150mg/hari diberikan selama 3 hari, kebanyakan orang mengalami peningkatan dosis menjadi 300mg/hari yang dimulai pada hari keempat terapi. Dosis maksimum yang disarankan adalah 300mg/hari yang diberikan dua kali sehari sebanyak 150mg. Interval waktu pemberian adalah tiap 8 jam.

Chantix – tablet:

· Varenicline bekerja dengan 2 langkah yaitu berhenti merokok dan mengurangi gejala dengan mengaja perokok menyalakan rokok terus menerus.

· Tablet diberikan dua kali sehari selama 12 minggu, terapi dapat digandakan pada pasien yang berhasil berhenti merokok untuk mencegah kemungkinan mereka merokok kembali.

· Efek samping yang ditimbulkan adalah mual, sakit kepala, muntah, gas, insomnia, mimpi buruk dan perubahan pada persepsi rasa.

Berdasarkan banyak penelitian menyatakan bahwa semua orang bisa berhenti merokok. Situasi atau kondisi yang dapat memberikan alasan khusus untuk berhenti:

· Ibu hamil atau baru melahirkan. Untuk melindungi kesehatan bayi dan dirinya sendiri.

· Pasien di rumah sakit. Mengurangi masalah kesehatan dan membantu penyembuhan.

· Pasien serangan jantung. Untuk mengurangi faktor resiko serangan jantung kembali.

· Untuk pasien kanker paru-paru, kepala, dan leher. Untuk mengurangi timbulnya kembali penyakit kanker

· Orangtua dan remaja. Untuk menghindari anak-anak dan para remaja dari kebiasaan merokok.

Daftar Pustaka

Anonim, 2008, Berhenti Merokok, Harapan Hidup Tambah 5 Tahun, http://www.solusisehat.net/berita.php?id=365

Anonim, 2008, Nicotine replacement therapy (NRT), http://en.wikipedia.org/wiki/Nicotine_replacement_therapy

American Lung Association, 2008, Nicotine Replacement Therapy (NRT) and Other Medications Which Aid Smoking Cessation, USA http://www.lungusa.org/site/pp.asp?c=dvLUK9O0E&b=33566

Kontroversi Legalitas dari Ganja (Cannabis sativa / Cannabis indica )

Kontroversi Legalitas dari Ganja (Cannabis sativa / Cannabis indica )

Disusun oleh :

Shielanita Eulamphia ( 068114101 )

Karolina Reyni K ( 068114102 )

Karlina ( 068114105 )

Adi Wijaya ( 068114117)

Ganja merupakan tanaman semusim yang mudah tumbuh tanpa memerlukan pemeliharaan istimewa. Tanaman ini tumbuh pada daerah beriklim sedang. Pohonnya cukup rimbun dan tumbuh subur di daerah tropis. Ganja dapat tumbuh secara liar di semak belukar. Salah satu ciri utamanya adalah daunnya berbentuk runcing dan berjari-jari ganjil (5, 7 atau 9). Nama samaran ganja banyak sekali, misalnya indian hemp, rumput, barang, daun hijau, bangli, bunga, ikat, labang, jayus, jum, grass, pot, reefer. Anak-anak ibukota menyebutnya gele ( gelek ) atau cimeng. Di kalangan pecandu disebut grass, marihuana, Mary Jane atau MJ, has atau hashish.

Sejauh ini opini tentang ganja selalu ditabukan dalam sistem hukum kita. Banyak kalangan menutup mata terhadap banyaknya manfaat ganja untuk berbagai bidang. Kepala Bidang Riset Indonesian National Institute on Drug Abuse (Inida), Tomi Hardjatno mengatakan, ganja selama ini lekat dengan nilai negatif karena tidak ada upaya untuk mengembangkan ke arah positif. Selama ini, sesuai dengan kriminalisasi penggunanya, ganja berkonotasi buruk. Menurut Tomi, ganja harus dilihat secara proporsional, jangan langsung dibasmi. Harus kita lihat apakah ganja seburuk yang digambarkan. Secara umum ganja tidak menimbulkan ketagihan (withdrawal) seperti halnya morfin. Bila seorang pecandu morfin memutuskan untuk berhenti, dia akan merasakan rasa sakit di tubuh, lazim disebut sakaw. Dari studi literatur, jelas Tomi, ganja hampir sama dengan rokok. Ganja tidak pernah menimbulkan overdosis dan tidak menimbulkan sifat agresif, namun hal ini tentunya harus diteliti lebih lanjut.

Di luar negeri penggunaan ganja ternyata dibedakan, yaitu penggunaan untuk industri dan untuk penggunaan terlarang. Ganja untuk pengunaan terlarang dikenal sebagai cannabis, sedangkan untuk penggunaan industri dikenal dengan istilah hemp. Sementara di Indonesia tidak mengenal perbedaan ini. Hal ini seperti tercantum dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1997. Di situ disebutkan bahwa ganja termasuk sebagai narkotika. Salah satu sebab mengapa ganja menjadi tumbuhan terlarang adalah karena zat THC. Zat ini bisa mengakibatkan pengguna menjadi “mabuk” sesaat jika salah digunakan. Sebenarnya zat THC dalam tumbuhan ganja dapat dikontrol kualitas dan kadarnya jika ganja dikelola dan dipantau dengan proses yang benar.

Manfaat dari daun ganja adalah dapat dibuat sayur, sedangkan batangnya bisa dijadikan serat tali, dan manfaat lainnya adalah beberapa hal untuk menyebut ganja sesungguhnya memiliki sisi positif. Dalam undang-undang selama ini ganja masuk ke dalam psikotropika golongan satu dengan ancaman hukuman bisa berupa pidana mati. Padahal kalau dikaji lebih seksama lagi, diyakini akan lebih banyak manfaatnya daripada mudaratnya.

Materi yang disampaikan Darni (tentang sisi positif tanaman ganja, red) merupakan hasil kajian ilmiah yang dikumpulkan Prof. Dr. Syamsul Rizal, M.Sc. (Ketua Lembaga Penelitian Unsyiah). Berdasarkan hasil kajian ilmiah tersebut, ternyata tanaman ganja mempunyai nilai positif, tentunya apabila tanaman tersebut dimanfaatkan secara benar. Apabila dipergunakan secara salah akan merusak generasi muda, karena menjadi bahan baku narkoba.

Adapun sisi positif yang dihasilkan ganja tersebut, akan bisa dijadikan berbagai bahan untuk industri. Sebab batang tanaman ganja ternyata memiliki serat yang cukup bagus untuk bahan baku kertas. Bahkan bahan baku kertas satu hektar tanaman ganja setara dengan 4,1 hektar kayu. Perbandingan ini dalam usia yang sama antara pohon kayu dengan tanaman ganja. Hal ini tentunya dapat mengatasi masalah penebangan pohon liar yang marak terjadi saat ini dimana pohon–pohon tersebut salah satunya digunakan sebagai bahan baku pembuatan kertas, sehingga penggundulan hutan dapat teratasi, dan bencana banjir dan tanah longsor yang kerap terjadi dimusim penghujan dapat teratasi.

Disamping untuk bahan baku kertas ternyata tanaman ganja berdasarkan hasil penelitian ilmiah juga sangat cocok untuk bahan baku tekstil. Pakaian yang dihasilkan dari serat batang ganja dapat menyerap 95 persen radiasi sinar ultraviolet sehingga lebih dingin dipakai, dan ini sangat cocok untuk iklim tropis di Aceh dan Indonesia. Pakaian dari serat tanaman ganja sudah ada yang diproduksi di Hawaii dalam jumlah terbatas, kualitasnya juga bagus.

Selain ganja dapat digunakan untuk bahan kertas dan tekstil, ganja juga dapat dimanfaatkan sebagai sumber metanol karena memiliki kandungan methanol yang cukup tinggi. Untuk satu hektar tanaman ganja akan mampu menghasilkan 1.000 galon methanol. Bahkan perusahaan mobil Henry Ford‘s di Amerika sudah melakukan uji coba dengan menggunakan minyak ganja untuk bahan bakar mobilnya. Dalam hal ini, ganja (bunga dan bijinya) diolah menjadi bahan bakar minyak untuk mobil kelas atas dan dapat menjadi salah satu alternatif sumber energi masa depan.

Di dalam tanaman ganja, terdapat suatu zat yang disebut Tetrahydrocannabinol (THC) yang memiliki efek analgesik. Selain itu juga senyawa THC ini, dapat melawan penyakit pembuluh darah atherosclerosis pada tikus. Atherosclerosis muncul bila adanya masalah pada pembuluh darah (misalnya akibat nikotin pada rokok) menyebabkan munculnya reaksi kekebalan dari tubuh yang memicu penimbunan lemak di pembuluh arteri. Secara medis, ganja banyak digunakan untuk mengobati glaucoma, dan terbukti efektif untuk mengobati depresi, hilangnya nafsu makan, tekanan darah tinggi, kecemasan, migraine, dan berbagai problem menstruasi. Demikian tulis William Glenn Steiner dalam Encyclopaedia Britannica, Edisi 2007.

Hasil penelitian ilmiah Anwar Wardy W, M Nasir Rafiq, dan Wiranda G Pialang ( 2006 ) mengatakan bahwa daun dan bunga ganja juga dapat diolah menjadi vaksin atau obat. Sedangkan bijinya akan bisa dijadikan edible oil, tepung pangan, dan pakan. Namun semua ini tetap harus dilakukan penelitian lebih lanjut, sehingga nantinya tidak akan salah kaprah, terutama untuk obat dan vaksin. Penelitian mutakhir tentang ganja menghasilkan kesimpulan, dari batang dan akarnya dapat diperoleh serat yang kuat, daunnya dapat digunakan untuk membuat obat, sementara dari bunga dan bijinya dapat diperoleh bahan bakar minyak (BBM) untuk mobil kelas atas.

Serat ganja, baik yang halus maupun kasar semua dapat dimanfaatkan. Dari serat yang halus dapat dibuat kain yang sangat halus, sementara yang kasar digunakan untuk membuat tali dan pakaian yang sangat kuat untuk kepentingan pakaian nelayan maupun buruh pabrik, juga dapat menjadi salah satu alternatif untuk campuran komponen material yang membutuhkan serat. Hal ini berarti dapat menjadi alternatif lain disamping fiberglass. Serat yang dihasilkan dari tumbuhan ganja ini yg disebut dengan hemp, merupakan bahan baku yang sangat berguna dan sangat bersahabat dengan lingkungan serta kelak akan menggantikan bahan baku petrolium. Penggunaan hemp sebagai bahan baku meliputi produksi keperluan barang sehari-hari seperti kertas, tekstil, bio-plastik, bahan bakar, tali tambang, dan berbagai makanan bergizi tinggi. Proses pembuatan kertas dari bahan baku hemp juga jauh lebih ramah lingkungan dibandingkan yang dibuat dari tumbuhan-tumbuhan lain (contoh: kayu pinus) karena tidak diperlukann pemutih (bleaching) dan bahan-bahan beracun lainnya seperti halnya pada proses pembuatan kertas yang dihasilkan dari kayu pinus. Melihat besarnya manfaat tersebut ada kemungkinan bahwa ganja dapat dilegalkan.

Namun disisi lain, ganja memiliki sisi negatif. Bila ganja dilegalkan itu berarti barang haram tersebut mudah untuk didapatkan karena boleh dan mudah ditanam di sembarang tempat. Efek dominan yang akan terjadi adalah konsumsi ganja meningkat tajam bahkan tanpa kendali. Mereka yang mengkonsumsi ganja akan memperlihatkan perubahan mental dan perilaku abnormal berupa halusinasi, disorientasi ruang dan waktu, apatis, dan perilaku maladaptif lainnya. Halusinasi adalah pengalaman panca indera tanpa adanya sumber stimulus (rangsangan) yang menimbulkannya. Misalnya seseorang mendengar suara-suara padahal sebenarnya suara itu tidak ada, atau melihat pemandangan yang aneh-aneh padahal pemandangan itu tidak ada. Disorientasi waktu terjadi dalam bentuk pemakai mengalami kesalahan dalam mempersepsi waktu. Pemakai tidak bisa membedakan sebentar maupun lama. Sepuluh menit bisa dirasakan sebagai satu jam lamanya ataupun sebaliknya. Yang lebih berbahaya adalah disorientasi ruang. Pemakai tidak bisa membedakan jauh dan dekat. Kereta api yang sudah jelas-jelas di depan mata bisa dianggapnya masih jauh, sementara lantai parkir yang berada lima tingkat di bawah, dianggapnya di depan mata. Dampak lain adalah sikap apatis, yang bersangkutan bersikap acuh tak acuh, masa bodoh, tidak peduli terhadap tugas atau fungsinya sebagai makhluk sosial; seringkali lebih senang menyendiri dan melamun, tidak ada kemauan atau inisiatif dan hilangnya dorongan kehendak. Perilaku maladaptif artinya yang bersangkutan tidak lagi mampu menyesuaikan diri atau beradaptasi dengan keadaan sekeliling secara wajar. Misalnya yang bersangkutan memperlihatakan ketakutan, kecurigaan (paraoid), gangguan menilai realitas, gangguan dalam fungsi sosial dan pekerjaan. Perilaku maladaptif ini sering meninbulkan konflik, pertengkaran, tindak kekerasan dan perilaku antisosial lainnya terhadap orang-orang di sekelilingnya.

Dengan kata lain, ganja menghancurkan ekonomi pemakainya, menggerogoti kesehatan secara perlahan tapi pasti, menjadikan pemakainya kehilangan banyak waktu berharga yang mestinya harus diisi secara produktif, mengalami kesulitan dalam relasi sosial, dan yang tak kalah fatalnya bisa memahami kecelakaan tragis yang sia-sia.

Manfaat budidaya ganja cukup jelas, sementara risikonya juga sangat nyata. Oleh karena ada beberapa pertimbangan yang bisa dijadikan acuan antara lain, mana yang lebih besar, manfaat atau mudaratnya. Kedua, bagaimana jika dilegalkan secara terbatas. Dari segi manfaat ganja bermanfaat secara ekonomis dan medis. Secara ekonomis serat dan minyaknya bisa mendatangkan devisa besar jika diekspor, sementara secara medis ganja bisa menjadi bahan dasar obat. Sedangkan mudaratnya adalah ganja dapat menghancurkan tidak hanya individu tapi juga masyarakat bahkan negara. Maka jika dipertimbangkan jauh lebih besar mudaratnya dibandingkan manfaatnya yang dirasakan dari ganja, sehingga memacu kita untuk bertindak untuk tetap mempertahankan sikap kontra bila ada ide legalitas dari peredaran ganja.

Daftar pustaka

Anonim, 2007, Dinilai Kontroversi, Rektor Unsyiah Paparkan Sisi Positif Ganja,

http://72.14.235.104/search?q=cache:k4AfTcxHRlEJ:www.aceh-eye.org/a-eye_news_files/a-eye_news_bahasa/news_item.asp%3FNewsID%3D6193+serat+ganja+sebagai+bahan+baku+kertas&hl=id&gl=id&strip=1, diakses tanggal 10 November 2008

Anonim, 2008, Ganja, http://209.85.175.104/search?q=cache:pTM1BIsuou4J:macsman.wordpress.com/2008/10/11/+serat+ganja+sebagai+bahan+baku+kertas&hl=id&gl=id&strip=1, diakses tanggal 10 November 2008

Anonim, 2008, Manfaat Positif Ganja, http://209.85.175.104/search?q=cache:yEKJhbsJU9cJ:rokester.blog.friendster.com/2008/10/ganja-kawan-atau-lawan/+manfaat+ganja&hl=id&gl=id&strip=1, diakses tanggal 10 November 2008

Wahib,A., 2007, Menimbang Legalisasi Ganja, http://209.85.175.104/search?q=cache:7SmIqoPBvC0J:www.wawasandigital.com/index.php%3Foption%3Dcom_content%26task%3Dview%26id%3D10342%26Itemid%3D62+manfaat+ganja&hl=id&gl=id&strip=1, diakses tanggal 10 November 2008

Penggunaan Lexotan di kalangan pelajar

By: Elisabeth Kartika 05811146; AloynaRepba 058114154; Presti Arma 058114156; Rillya Devita 058114161; Shinta Visitasia 058114162

Lexotan digunakan sebagai antianxietas. Lexotan adalah nama dagang dari bromazepam yang merupakan golongan benzodiazepin.. Bromazepam sebagai anxietas hanya digunakan dalam jangka pendek. Dosis yang digunakan 3-18 mg/hari. Di Indonesia, bromazepam beredar dengan nama LEXOTAN yang diproduksi oleh Roche Indonesia dalam sediaan tablet 1,5 mg, 3 mg, dan 6 mg.

Benzodiazepin mempengaruhi GABA suatu neurotransmitter yang penting di SSP. Benzodiazepin meningkatkan neurotransmisi GABAnergik. Pada semua tingkat neuroaksis termasuk sumsum tulang belakang, hipotalamus, hipokampus, substantia nigra, korteks cerebelum dan korteks cerebrum.

Benzodiazepin sebagai ansiolitik dipakai untuk gejala yang berkaitan dengan stress, tidak bahagia, atau penyakit fisik minor. Obat ini tidak boleh digunakan untuk mengobati depresi, kondisi pobia, obsesi, atau psikosis kronis. Akan tetapi banyak orang yang salah mengartikan obat tersebut bisa digunakan untuk mengobati depresi. Sedangkan orang depresi biasanya menarik diri dari lingkungan, pendiam, dan tidak bersosialisasi sehingga ketika obat itu digunakan olehorang yang mengalami depresi akan menjadi lebih depresi.

Faktor risiko penyalahgunaan zat pada remaja adalah mudah kecewa dan agresif; Mudah bosan/sulit menunda keinginan; Tertekan, rendah diri, merasa kurang mampu; Tertutup, pendiam, pemalu, kurang bergaul, menolak persaingan; Takut mendekati atau didekati lawan jenis; Masturbasi berlebihan atau tidak pernah masturbasi; Ansietas, obsesi, depresi, dan hiperaktif; Melakukan hal berisiko/ berbahaya; Kurang olah raga, makan berlebih, dan merokok usia dini; Mengabaikan disiplin, norma dan aturan; Hubungan keluarga kurang dekat.

Sebenarnya lexotan tidak dijualbelikan bebas karena lexotan harus diberikan dengan resep dokter karena merupakan psikotropika tetapi pada kenyataannya lexotan beredar bebas di masyarakat. Lexotan yang dikonsumsi banyak pelajar adalah lexotan 1,5 mg.

Kasus penyalahgunaan lexotan baru-baru ini terjadi di Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama Negeri (SLTPN) I . Kasus siswa yang ketahuan mengonsumsi lexotan terungkap menjelang upacara 17 Agustus lalu. Pada saat itu sejumlah siswa tidak mengikuti upacara, bahkan tiduran di ruang Unit Kesehatan Sekolah (UKS). Setelah dimintai keterangan mereka mengaku pusing sehabis mengonsumsilexotan. Dari keterangan mereka terkuak, 18 siswa – tiga di antaranya siswi mengonsumsi obat penenang. Atas kejadian itu, Kepala SLTPN I membuat keputusan mengeluarkan ke 18 siswa tersebut.

Kepala Diknas Purbalingga, Suyitno mengatakan, apa yang dilakukan Kepala SLTPN I adalah upaya menegakkan disiplin sekolah. “Mereka tidak dikeluarkan, tetapi diserahkan kembali kepada orangtuanya,” ujar Suyitno kepada Kompas, (25/9). Ia menolak menggunakan istilah dikeluarkan karena sekolah hanya menyerahkan kembali kepada orangtua masing-masing, kemudian orangtua dipersilakan mencari sekolah untuk anak-anaknya di tempat lain.

Penyalahgunaan lexotan dapat memberikan dampak negatif bagi generasi muda. Sebaiknya peredaran lexotan dibatasi dengan memperketat peraturan pengeluaran narkotik kepada konsumen. Selain itu, diperketat juga pengawasan antara distributor dan apotik sehingga tidak semua apotik bisa menerima narkotik tersebut.

Daftara pustaka

Anonim, 2000, Informatorium Obat Nasional Indonesia, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta