Penggunaan Lexotan di kalangan pelajar

By: Elisabeth Kartika 05811146; AloynaRepba 058114154; Presti Arma 058114156; Rillya Devita 058114161; Shinta Visitasia 058114162

Lexotan digunakan sebagai antianxietas. Lexotan adalah nama dagang dari bromazepam yang merupakan golongan benzodiazepin.. Bromazepam sebagai anxietas hanya digunakan dalam jangka pendek. Dosis yang digunakan 3-18 mg/hari. Di Indonesia, bromazepam beredar dengan nama LEXOTAN yang diproduksi oleh Roche Indonesia dalam sediaan tablet 1,5 mg, 3 mg, dan 6 mg.

Benzodiazepin mempengaruhi GABA suatu neurotransmitter yang penting di SSP. Benzodiazepin meningkatkan neurotransmisi GABAnergik. Pada semua tingkat neuroaksis termasuk sumsum tulang belakang, hipotalamus, hipokampus, substantia nigra, korteks cerebelum dan korteks cerebrum.

Benzodiazepin sebagai ansiolitik dipakai untuk gejala yang berkaitan dengan stress, tidak bahagia, atau penyakit fisik minor. Obat ini tidak boleh digunakan untuk mengobati depresi, kondisi pobia, obsesi, atau psikosis kronis. Akan tetapi banyak orang yang salah mengartikan obat tersebut bisa digunakan untuk mengobati depresi. Sedangkan orang depresi biasanya menarik diri dari lingkungan, pendiam, dan tidak bersosialisasi sehingga ketika obat itu digunakan olehorang yang mengalami depresi akan menjadi lebih depresi.

Faktor risiko penyalahgunaan zat pada remaja adalah mudah kecewa dan agresif; Mudah bosan/sulit menunda keinginan; Tertekan, rendah diri, merasa kurang mampu; Tertutup, pendiam, pemalu, kurang bergaul, menolak persaingan; Takut mendekati atau didekati lawan jenis; Masturbasi berlebihan atau tidak pernah masturbasi; Ansietas, obsesi, depresi, dan hiperaktif; Melakukan hal berisiko/ berbahaya; Kurang olah raga, makan berlebih, dan merokok usia dini; Mengabaikan disiplin, norma dan aturan; Hubungan keluarga kurang dekat.

Sebenarnya lexotan tidak dijualbelikan bebas karena lexotan harus diberikan dengan resep dokter karena merupakan psikotropika tetapi pada kenyataannya lexotan beredar bebas di masyarakat. Lexotan yang dikonsumsi banyak pelajar adalah lexotan 1,5 mg.

Kasus penyalahgunaan lexotan baru-baru ini terjadi di Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama Negeri (SLTPN) I . Kasus siswa yang ketahuan mengonsumsi lexotan terungkap menjelang upacara 17 Agustus lalu. Pada saat itu sejumlah siswa tidak mengikuti upacara, bahkan tiduran di ruang Unit Kesehatan Sekolah (UKS). Setelah dimintai keterangan mereka mengaku pusing sehabis mengonsumsilexotan. Dari keterangan mereka terkuak, 18 siswa – tiga di antaranya siswi mengonsumsi obat penenang. Atas kejadian itu, Kepala SLTPN I membuat keputusan mengeluarkan ke 18 siswa tersebut.

Kepala Diknas Purbalingga, Suyitno mengatakan, apa yang dilakukan Kepala SLTPN I adalah upaya menegakkan disiplin sekolah. “Mereka tidak dikeluarkan, tetapi diserahkan kembali kepada orangtuanya,” ujar Suyitno kepada Kompas, (25/9). Ia menolak menggunakan istilah dikeluarkan karena sekolah hanya menyerahkan kembali kepada orangtua masing-masing, kemudian orangtua dipersilakan mencari sekolah untuk anak-anaknya di tempat lain.

Penyalahgunaan lexotan dapat memberikan dampak negatif bagi generasi muda. Sebaiknya peredaran lexotan dibatasi dengan memperketat peraturan pengeluaran narkotik kepada konsumen. Selain itu, diperketat juga pengawasan antara distributor dan apotik sehingga tidak semua apotik bisa menerima narkotik tersebut.

Daftara pustaka

Anonim, 2000, Informatorium Obat Nasional Indonesia, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s