Morfin… Sang Dewa Mimpi (Napza Agustus 2008)

Morfin???? Mungkin hampir semua orang sudah tahu itu termasuk obat terlarang… Tapi bagaimana sejarah morfin??? Benarkah morfin sama sekali tidak boleh digunakan??? Mengapa morfin menjadi obat terlarang???? Mau tahu lebih banyak??? Simak artikel ini dulu… ^^

Morfin berasal dari perkataan “Morpheus” yaitu dewa mimpi dalam mitologi Yunani. Morfin adalah sejenis bahan yang terdapat di dalam cecair candu dan digunakan oleh dokter untuk meringankan rasa sakit. Morfin juga dikenali sebagai “M”, “White Stuff”, “White Powder”, “Monkey”, “Dreamer”, “Morpho”, “Tab”, “Morb”, “Cubes”, “Emsel” dan “Melter”. Biasanya morfin didapati di dalam bentuk ketulan atau debu dan biasanya berwarna cokelat atau putih kelabu. Terdapat juga morfin dalam bentuk tablet putih kecil atau kapsul. Biasanya tanda-tanda yang terdapat pada ketulan-ketulan morfin ialah cap gajah, cap kupu-kupu dan cap 999 atau 999. Morfin adalah komponen utama dari opium/candu yang diperoleh tumbuhan Papaver Somniferum.

poppy 180px-morphine-2d-skeletal1

Morfin bekerja langsung pada sistem saraf pusat untuk menghilangkan sakit. Efek samping morfin antara lain adalah penurunan kesadaran, euforia, rasa kantuk, lesu, dan penglihatan kabur. Morfin juga mengurangi rasa lapar, merangsang batuk, dan meyebabkan konstipasi. Morfin menimbulkan ketergantungan tinggi dibandingkan zat-zat lainnya.

Terdapat beberapa jenis morfin, antara lain :

· Morfin Mentah / Kasar

Morfin mentah atau morfin kasar ini didapati dalam bentuk blok atau serbuk. Warna blok berbeda-beda dari putih ke cokelat gelap dan kebanyakkannya mempunyai tanda ‘999’. Blok-blok ini biasanya mengandungi 70 % hingga 90 % morfin hidroklorid.

· Bes Morfin

Bes morfin adalah sejenis alkaloid yang diperolehi secara langsung dari candu. Bahan ini kadangkala mempunyai bau seperti opium dan berupa seperti serbuk kopi halus. Kandungan morfin yang terdapat di dalamnya adalah antara 60 % hingga 70 %.

· Pil Morfin

Pil-pil morfin ini mengandungi morfin sulfat atau morfin hidroklorid yang dikeluarkan secara sah atau legal, namun seringkali disalahgunakan ke pasaran gelap. pil-pil ini berukuran kecil dan berwarna putih atau cokelat pucat.

Kesan-kesan Penggunaan Morfin

  • Mata hitam mengecil
  • Tekanan darah turun
  • Peredaran darah lambat
  • Kurang selera makan
  • Sentiasa khayal
  • Pertuturan tidak nyata

Morfin pertama kali diisolasi pada 1804 oleh ahli farmasi Jerman  Friedrich Wilhelm Adam Sertürner. Tapi morfin belum digunakan hingga dikembangkan hypodermic needle (1853). Morfin digunakan untuk mengurangi nyeri dan sebagai cara penyembuhan dari ketagihan alkohol dan opium.

Morfin bekerja langsung pada sistem saraf pusat untuk menghilangkan sakit. Efek samping morfin antara lain adalah penurunan kesadaran, euforia, rasa kantuk, lesu, dan penglihatan kabur. Morfin juga mengurangi rasa lapar, merangsang batuk, dan meyebabkan konstipasi. Morfin menimbulkan ketergantungan tinggi dibandingkan zat-zat lainnya. Pasien morfin juga dilaporkan menderita insomnia dan mimpi buruk.

Morfin merupakan agonis reseptor opioid, dengan efek utama mengikat dan mengaktivasi reseptor µ-opioid pada sistem saraf pusat. Aktivasi reseptor ini terkait dengan analgesia, sedasi, euforia, physical dependence dan respiratory depression. Morfin juga bertindak sebagai agonis reseptor κ-opioid yang terkait dengan analgesia spinal dan miosis.

Di dalam tubuh, morfin terutama dimetabolisme menjadi morphine-3-glucuronide dan morphine-6-glucuronide (M6G). Pada hewan pengerat, M6G tampak memiliki efek analgesia lebih potensial ketimbang morfin sendiri. Sedang pada manusia M6G juga tampak sebagai analgesia. Perihal signifikansi pembentukan M6G terhadap efek yang diamati dari suatu dosis morfin, masih jadi perdebatan diantara ahli farmakologi.

Morfin diberikan secara parenteral dengan injeksi subkutan, intravena, maupun epidural. Saat diinjeksikan, terutama intravena, morfin menimbulkan suatu sensasi kontraksi yang intensif pada otot. Oleh karena itu bisa menimbulkan semangat luar biasa. Tak heran bila dikalangan militer  terkadang menggunakan autoinjector untuk memperoleh manfaat tersebut.

Pemberian secara oral, biasa dalam sediaan eliksir, solusio, serbuk, atau tablet. Morfin jarang disuplai dalam bentuk suppositoria. Potensi pemberian oral hanya seperenam hingga sepertiga dari parenteral. Hal ini dikarenakan bioavailabitasnya yang kurang baik. Saat ini morfin juga tersedia dalam bentuk kapsul extended-release untuk pemberian kronik dan juga formulasi immediate-release.

Sebuah review dilakukan oleh Wiffen PJ dkk tentang penggunaan morfin oral untuk nyeri kanker. Review yang dilaporkan dalam  The Cochrane Database of Systematic Reviews 2006 Issue 3 ini mengikutkan 55 studi (3061 subjek) yang memenuhi kriteria. Empat belas studi membandingkan preparat oral sustained release morphine (MSR) dengan immediate release morphine (MIR). Delapan studi membandingkan MSR dengan kekuatan yang berbeda. Sembilan studi membandingkan MSR oral dengan MSR rectal. Satu studi masing-masing membandingkan: MSR tablet dengan MSR suspensi; MSR dengan frekuensi dosis yang berbeda; MSR dengan non-opioid; MIR dengan non opioid; morfin oral dengan morfin epidural; dan MIR dengan rute pemberian yang berbeda.

Hasil review memperlihatkan, morfin merupakan analgesik efektif untuk mengatasi nyeri kanker. Pengurangan nyeri tidak berbeda untuk sediaan MSR dan MIR. MSR efektif untuk dosis 12 atau 24 jam tergantung pada formulasinya. Efek samping umum dijumpai, namun hanya 4% pasien yang menghentikan pengobatan karena tidak bisa menolerir.

Morfin bekerja langsung pada sistem saraf pusat untuk menghilangkan sakit. Efek samping morfin antara lain adalah penurunan kesadaran, euforia, rasa kantuk, lesu, dan penglihatan kabur. Morfin juga mengurangi rasa lapar, merangsang batuk, dan meyebabkan konstipasi. Morfin menimbulkan ketergantungan tinggi dibandingkan zat-zat lainnya. Pasien morfin juga dilaporkan menderita insomnia dan mimpi buruk.

Morfin merupakan agonis reseptor opioid, dengan efek utama mengikat dan mengaktivasi reseptor µ-opioid pada sistem saraf pusat. Aktivasi reseptor ini terkait dengan analgesia, sedasi, euforia, physical dependence dan respiratory depression. Morfin juga bertindak sebagai agonis reseptor κ-opioid yang terkait dengan analgesia spinal dan miosis.

Di dalam tubuh, morfin terutama dimetabolisme menjadi morphine-3-glucuronide dan morphine-6-glucuronide (M6G). Pada hewan pengerat, M6G tampak memiliki efek analgesia lebih potensial ketimbang morfin sendiri. Sedang pada manusia M6G juga tampak sebagai analgesia. Perihal signifikansi pembentukan M6G terhadap efek yang diamati dari suatu dosis morfin, masih jadi perdebatan diantara ahli farmakologi.

Morfin diberikan secara parenteral dengan injeksi subkutan, intravena, maupun epidural. Saat diinjeksikan, terutama intravena, morfin menimbulkan suatu sensasi kontraksi yang intensif pada otot. Oleh karena itu bisa menimbulkan semangat luar biasa. Tak heran bila dikalangan militer  terkadang menggunakan autoinjector untuk memperoleh manfaat tersebut.

Pemberian secara oral, biasa dalam sediaan eliksir, solusio, serbuk, atau tablet. Morfin jarang disuplai dalam bentuk suppositoria. Potensi pemberian oral hanya seperenam hingga sepertiga dari parenteral. Hal ini dikarenakan bioavailabitasnya yang kurang baik. Saat ini morfin juga tersedia dalam bentuk kapsul extended-release untuk pemberian kronik dan juga formulasi immediate-release.

Sebuah review dilakukan oleh Wiffen PJ dkk tentang penggunaan morfin oral untuk nyeri kanker. Review yang dilaporkan dalam  The Cochrane Database of Systematic Reviews 2006 Issue 3 ini mengikutkan 55 studi (3061 subjek) yang memenuhi kriteria. Empat belas studi membandingkan preparat oral sustained release morphine (MSR) dengan immediate release morphine (MIR). Delapan studi membandingkan MSR dengan kekuatan yang berbeda. Sembilan studi membandingkan MSR oral dengan MSR rectal. Satu studi masing-masing membandingkan: MSR tablet dengan MSR suspensi; MSR dengan frekuensi dosis yang berbeda; MSR dengan non-opioid; MIR dengan non opioid; morfin oral dengan morfin epidural; dan MIR dengan rute pemberian yang berbeda.

Hasil review memperlihatkan, morfin merupakan analgesik efektif untuk mengatasi nyeri kanker. Pengurangan nyeri tidak berbeda untuk sediaan MSR dan MIR. MSR efektif untuk dosis 12 atau 24 jam tergantung pada formulasinya. Efek samping umum dijumpai, namun hanya 4% pasien yang menghentikan pengobatan karena tidak bisa menolerir.

Keracunan morfin dapat terjadi secara akut dan secara kronis. Keracunan akut biasanya terjadi akibat percobaan bunuh diri atau dosis yang berlebihan. Keracunan kronis terjadi akibat pemakaian berulang-ulang dan inilah yang sering terjadi. Adiksi (kecanduan) atau “morfinisme” tidak lain dari pada suatu keadaan keracunan kronis. Adiksi morfin ditandai dengan adanya habituasi, ketergantungan fisik dan toleransi. Gejalanya antara lain merasa sakit, iratabilitas, tremor, lakrimasi, berkeringat, menguap, bersin-bersin, anoreksia, midriasis, deman, pernafasan cepat, muntah-muntah, kolik, diare dan pada akhirnya penderita mengalami dehidrasi, ketosis, asidosis, kolaps kardiovackuler yang bisa berakhir dengan kematian.

Morfin dapat diabsorpsi oleh usus, tetapi efek analgetik yang tinggi diperoleh melalui parentral. Dari satu dosis morfin, sebanyak 10 % tidak diketahui nasibnya, sebagian mengalami konjugasi dengan asam glukoronat di hepar dan sebagian dikeluarkan dalam bentuk bebas.

Ekskresi morfin terutama melalui ginjal. Urine mengandung bentuk bebas dan bentuk konjugasi. Berdasarkan hal ini, dapat dilakukan identifikasi morfin dalam urine dari penderita yang diduga keracunan morfin.

Adiksi (kecanduan) atau “morfinisme” tidak lain dari pada suatu keadaan keracunan kronis. Adiksi morfin ditandai dengan adanya habituasi, ketergantungan fisik dan toleransi. Gejalanya antara lain merasa sakit, iratabilitas, tremor, lakrimasi, berkeringat, menguap, bersin-bersin, anoreksia, midriasis, deman, pernafasan cepat, muntah-muntah, kolik, diare dan pada akhirnya penderita mengalami dehidrasi, ketosis, asidosis, kolaps kardiovackuler yang bisa berakhir dengan kematian.

Daftar Pustaka

Budavari, Susan. The Merck Index, 12th edition. Merck. 1996

Clark E.C.G. : Isolation and Identification of Drug, General Medical Counsil, London, 1969.

Drs. Y.P. Jokosuyuno, 1980, Masalah Narkotika dan Bahan Sejenisnya, Penerbitan Yayasan Kanisius.

James Scorzelli, 1987, Drug Abuse- Preventions and Rehabilitations In Malaysia, Universiti

Kebangsaan Malaysia.

LeCouteur P. and Burreson J. Napoleon’s Buttons: How 17 Molecules Changed History. Penguin Putnam. 2003

Sudjono D, 1977, Narkotika dan Remaja, Penerbitan Alumni Bandung

disusun oleh : Ricky Hidayat       (068114123) ; Tiara Pranasita        (068114141)   ;   Yustina Amelia Awaluid    (068114143)   ; Jeffry Ben Martin    (068114158)   ;    Nana Kartika      (068114185)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s