I believe I can fly??????

Yosephine Ratih (058114008)

Happy Suryawan (058114011)

David (058114016)

Maria Widia (058114067)

Linna Ferawati (058114070)

Semua atlet pasti memiliki impian yang ingin mereka raih. Impian itu antara lain: menjadi juara saat bertanding, memecahkan rekor dunia, atau mengincar peringkat pertama dunia.. Untuk meraih impian tersebut, para atlet pasti melakukan berbagai macam cara; berlatih keras siang dan malam, menyiapkan stamina dengan makan-makanan bergizi, mempelajari strategi lawan, dll. Namun walaupun mereka telah mempersiapkannya jauh-jauh hari, kadang rasa tidak percaya diri muncul saat para atlet akan bertanding, sehingga satu-satunya cara untuk mengatasinya adalah menggunakan doping.

Dalam sejarah manusia, doping memang sudah dipakai sejak zaman dulu. Kala itu, orang Amerika dan Afrika memakan berbagai tumbuhan liar dan madu untuk kekuatan sebelum perang, berburu, dan melakukan perjalanan jauh. Pada Perang Dunia II, banyak ditemukan pil-pil amfetamin untuk mengatasi rasa letih dan ngantuk. Istilah doping pertama kali muncul pada 1889, pada suatu perlombaan balap kuda di Inggris. Banyak pendapat yang melatarbelakangi terbentuknya kata ‘doping’. Salah satunya berasal dari kata ‘dop’ minuman alkoholik yang digunakan sebagai stimulan dalam acara dansa di Afrika Selatan pada abad 18.

Pada Kongres Ilmiah Olahraga Internasional yang diadakan pada saat berlangsungnya Olympiade Tokyo 1964, doping telah didefinisikan sebagai pemberian kepada, atau pemakaian oleh, seorang atlet yang bertanding, suatu zat asing melalui cara apa pun, atau suatu zat yang fisiologis dalam jumlah yang tak wajar, atau diberikan melalui cara tak wajar dengan maksud atau tujuan khusus untuk meningkatkan kemampuan si atlet secara buatan dengan cara yang tidak jujur.

Jenis obat yang masuk doping adalah golongan stimulan (perangsang), golongan narkotik analgesic, golongan anabolik steroid, golongan betabloker, golongan diuretika, serta golongan peptide hormons dan analognya. Karena banyaknya jenis obat itulah, maka pada artikel ini, amfetamin lebih ditekankan. Pemilihan amfetamin berdasarkan banyaknya atlet yang menyalahgunakan jenis obat ini, terutama dalam cabang bersepeda.

Pemerintahan di Eropa menyatakan bahwa amfetamin pertama kali muncul pada Olimpiade Berlin pada tahun 1936. Amfetamin pertama kali diproduksi pada tahun 1887. Amfetamin bekerja dengan cara menghambat pengambilan kembali (re-uptake dopamin). dan juga memudahkan pembebasan dopamin, sehingga dopamin pada sinapsis meningkat.

Dahulu, dalam bidang pengobatan, amfetamin digunakan untuk mengobati banyak macam penyakit antara lain depresi ringan, parkinsonisme, skizofnia, penyakit maniere, buta malam, kolon irritable, dan hipotensi. Pada masa sekarang, hanya ada tiga indikasi medis penggunaan amfetamin, yaitu untuk mengobati narkolepsi, gangguan hiperkinetik pada anak-anak, dan obesitas. Terapi untuk obesitas hanya efektif untuk jangka pendek. Sementara itu, berdasarkan studi, penyalahgunaan amfetamin sebagian besar berasal dari pemakaian amfetamin dalam usaha untuk mengurangi berat badan dan doping.

Amfetamin dapat dipakai secara oral atau parenteral dan dimetabolisir di dalam hepar. Sebagian kecil amfetamin diekskresi melalui urine. Dosis oral sebanyak 10-30 mg dapat meningkatkan kesiagaan seseorang, euforia, meningkatkan rasa percaya pada diri sendiri, meningkatkan konsentrasi pikiran dan penampilan diri, banyak bicara, dan nyeri kepala. Pada dosis yang lebih tinggi, dapat terjadi aritmia jantung. Pada dosis toksik terjadi hiper refleksi, muka berubah menjadi merah, lalu pucat dan akhirnya sianosis. Timbul demam, mual, muntah, dan keadaan sulit bernafas, gelisah, mudah tersinggung, tremor, ataksia, kesadaran berkabut, kejang, dan koma. Kematian biasanya disebabkan hiperpireksia atau shock kardiovaskuler.

Bila dipakai secara terus-menerus, amfetamin dapat menimbulkan ketergantungan fisik dengan gejala putus zat berupa rasa lelah, apatis, depresi, rasa nyeri pada seluruh badan, gerakan motorik lamban, hiperfagia, hipersomnia, banyak mimpi, kongesti pada hidung.

Karena salah satu khasiat amfetamin adalah meningkatkan kesiagaan dan stamina, maka amfetamin, paling sering digunakan pada cabang olahraga balap sepeda. Hal ini diakui sendiri oleh atlet balap sepeda. Pengakuan dua orang rekan satu tim Lance Armstrong (juara tujuh kali Tour de France) saat berlaga di Tour de France bahwa mereka menggunakan doping membuat gempar dunia olahraga. Tidak hanya wajah sang atlet asal Amerika Serikat itu saja yang tercoreng, namun olahraga balap sepeda pun ikut kena dampaknya.

Kecurangan dalam hal ini penggunaan substansi untuk memicu kemampuan dalam olahraga balap sepeda memang sepertinya sudah bukan barang baru. Penggunaan doping di dunia balap sepeda sudah ibarat kanker yang telah menggerogoti tubuh olahraga sepeda ini.

Willy Voet, pria Belgia mantan pelatih tim asal Prancis, Festina, misalnya pada ajang Tour de France 1998 ditangkap karena membawa ratusan botol EPO, hormon pertumbuhan, dan steroid. Ia kemudian di penjara akibat perbuatannya tersebut.
Voet kemudian berusaha membersihkan olahraga balap sepeda ini dari doping. Ia menulis buku berjudul Chain Massacre: Revelation of 30 Years of Cheating yang berisi berbagai kecurangan di balap sepeda. Bukunya ini membuat ia diasingkan dari lingkungan pecinta balap sepeda. Namun, melalui buku tersebut, ia membuka mata dunia mengenai penggunaan doping di dunia balap sepeda. Kini, pengawasan mengenai penggunaan doping dalam olahraga kayuh ini benar-benar sangat ketat.

Dalam bukunya, Voet menceritakan bahwa pada era 1970-an, doping yang menjadi pilihan adalah amfetamin. Anabolik steroid dan kortison menjadi pilihan di era 1980-an. Kemudian pada era 1990-an, hormon pertumbuhan dan EPO adalah doping favorit.

Voet juga menceritakan berbagai trik yang dilakukan tim serta para pembalap untuk melakukan berbagai kecurangan tersebut. Ia mengatakan sempat memberikan suntikan doping dari jendela mobil yang berjalan kepada pembalapnya yang tengah berlomba. Ia juga pernah memerintahkan pembalapnya untuk menyembunyikan kondom berisi urine segar di dalam anusnya untuk mengelabui pemeriksaan doping melalui tes urine.

Voet juga melakukan infus cairan garam kepada pembalapnya seusai lomba untuk menurunkan rasio sel darah merah dalam darah agar bisa lolos pemeriksaan tes doping. Menurut Voet, dari 500 pembalap yang pernah bekerja sama dengannya hanya dua orang yang pernah tertangkap menggunakan doping. “Pembalap yang ketahuan menggunakan doping adalah seekor keledai bodoh,” ujar Voet dalam salah satu wawancara

Ketika ditanya berapa dari 500 pembalap tersebut yang bersih dari doping, Voet mengatakan ia hanya perlu menggunakan jari dari tangan kanannya untuk menghitungnya. “Mereka inilah yang akhirnya finis di urutan paling belakang,” katanya sembari tersenyum sedih.

Armstrong adalah salah satu pembalap yang belum pernah finis di urutan paling belakang. Begitu juga Tyler Hamilton, mantan rekan satu tim Armstrong dan juara Olimpiade 2004 yang dihukum dua tahun karena menggunakan doping. Rekan satu tim Armstrong, Floyd Landis yang tahun ini menjuarai Tour de France juga diduga kuat menggunakan doping. Ivan Basco, Jan Ullrich, dan Francisco Mancebo, juara dua, tiga, dan empat, kala Armstrong menjuarai Tour de France 2005, juga diduga menggunakan doping.

Selain kasus di atas, kasus-kasus pemakaian doping amfetamin yang terkenal antara lain: pengendara sepeda Tom Simpson, yang pada tanggal 13 Juli 1967 meninggal ketika mendaki (climbing) Mount Ventoux. Penyebab tewasnya dihubungkan dengan stroke jantung yang tiba-tiba menyerang dirinya, akibat dari penggunaan amfetamin (tablet amfetamin ditemukan pada saku belakangnya). Pada tahun 1989, Laurent Fignon positif menggunakan amfetamin pada saat Grand Prix de la Liberation di Eindhoven dan pada tahun 2002, Frank Vandenbroucke, ditangkap polisi setelah ditemukan amfetamin di dalam mobilnya.

Meski sekarang penggunaan doping sudah resmi dilarang dan sudah ada undang-undang yang mengaturnya, banyak atlet yang masih tetap memakai doping sebagai shortcut untuk memenangkan pertandingan. Padahal pemakaian doping sangat berbahaya bagi kesehatan si atlet sebab dapat menyebabkan timbulnya penyakit, cacat, bahkan kematian. Jadi, keuntungan yang didapat tidaklah seimbang dengan kerugian yang akan diderita bertahun-tahun kemudian. Itu belum termasuk rasa malu yang akan ditanggungnya jika ketahuan memakai doping.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s