MONITORING TERAPI PROKAINAMID

Priska Firstya 06 8114 016

Fransisca Desiana 06 8114 017

MONITORING TERAPI PROKAINAMID

Yang dimaksud dengan monitoring kadar terapeutik obat adalah pemeriksaan secara berkala terkait kadar obat dalam darah. Dengan demikian, monitoring kadar terapeutik obat bermanfaat untuk menentukan dosis dari obat-obat yang :

· Kecepatan metabolismenya berbeda nyata secara individual

· Mempunyai “therapeutic window” yang sempit

· Efek terapeutiknya sukar atau tidak segera dapat diukur

· Gejala penyakit sukar dibedakan dengan efek samping obat

· Kecepatan metabolisme mudah jenuh

a. Individualisasi dosis dalam farmakoterapi

Pemberian obat pada umumnya didasarkan atas dosis rata-rata, yaitu dosis yang diperkirakan memberikan efek terapeutik dengan efek samping minimal. Bila dosis rata-rata itu tidak menimbulkan efek atau menimbulkan efek yang berlebihan, maka akan dilakukan penghentian obat tanpa perlu mempertimbangkan apakah dosis yang diberikan sudah sesuai dengan kebutuhan penderita.

Jika “therapeutic window” dari obat cukup besar, maka perbedaan individual kadar obat dalam keadaan “steady state” tidak akan menimbulkan masalah dalam penentuan dosis. Tetapi jika “therapeutic window” suatu obat sempit, individualisasi dosis menjadi penting, karena perbedaan dosis yang kecil saja (dalam mg/kgBB) sudah dapat menimbulkan perbedaan nyata dalam respons.

b. Contoh obat yang perlu dimonitoring

Salah satu contoh obat yang perlu dimonitoring terapi adalah prokainamid. Prokainamid merupakan obat antiaritmia kelas I-A. Umumnya obat-obat antiaritmia memiliki “terapeutic windows” yang sempit.

Prokainamid diabsorpsi dengan cepat dan hampir sempurna setelah pemberian per oral pada orang normal. Kadar puncak dicapai 45-70 menit setelah pemberian dengan bentuk kapsul, tetapi sedikit lebih lambat jika diberikan dalam bentuk tablet. Dalam minggu pertama setelah infark miokard akut, absorpsi oral mungkin buruk, tercapainya kadar puncak mungkin sangat terlambat dan kadar obat mungkin cukup untuk mengontrol aritmia.

Sekitar 20% prokainamid terikat protein dalam plasma. Obat ini dengan cepat di distribusi keseluruh jaringan tubuh, kecuali ke otak. Volume distribusi prokainamid (Vd) adalah 2 Liter/kgBB. Prokainamid dieliminasi melalui ekskresi ginjal dan metabolisme dihati. Jalur metabolisme utama adalah melalui n-asetilasi oleh enzim n-asetil transferase. Sampai sekitar 70% dari dosis prokainamid dieliminasi dalam bentuk yang tidak berubah dalam urine. Prokainamid adalah basa lemah yang mengalami filtrasi, sekresi, dan reabsorpsi diginjal. Peningkatan pH urine menyebabkan penurunan ekskresi prokainamid.

Kadar plasma yang diperlukan untuk memperoleh efek terapeutik antara 3-10µg/ml dan kadang-kadang lebih tinggi. Kemungkinan toksisitas menjadi lebih besar bila kadar plasma meningkat di atas 8 µg/ml. Efek prokainnamid terhadap jantung diperkuat bila kadar K+ plasma meningkat. Cara yang cepat dan aman untuk memperoleh kadar efektif dalam plasma adalah pemberian intravena, yaitu 100 mg disuntikkan selama 2-4 menit, tiap 5 menit sampai aritmia terkontrol, atau efek samping terlihat, atau sampai dosis total (1 gram tercapai tanpa ada perbaikan). Untuk terapi oral jangka lama biasanya diperlukan dosis total 3-6 gram/hari, karena waktu paruh eliminasinya pendek (3 jam pada orang normal dan 5-8 jam pada penderita penyakit jantung). Pemberian prokainamid tiap 6-8 jam biasanya memadai, kadar puncak tercapai dalam satu hari, karena waktu eliminasinya pendek. Efek samping yang sering ditimbulkan adalah efek samping yang berhubungan dengan kardiovaskular, selain itu dapat menimbulkan efek samping pada SSP berupa pusing, psikosis, halusinasi dan depresi.

c. Interpretasi hasil pemeriksaan kadar

Pemeriksaan kadar obat dalam cairan hayati merupakan dari “pharmaco-therapeutic audit” yang bertujuan untuk memperbaiki kualitas terapi obat. Tujuan dari monitoring akan tercapai dengan baik bila permintaan itu dilengkapi dengan data klinis yang diperlukan untuk interpretasi dan pemeriksaan dilakukan secara berulang selama terapi pemeliharaan. Interpretasi hasil pemeriksaan kadar obat dalam plasma memerlukan berbagai macam data klinis yang lebih banyak dari data klinis yang diperlukan untuk menginterpretasikan hasil pemeriksaan kimia klinik untuk diagnostik. Kecuali untuk tolerasi glukosa, pemeriksaan kimia klinik bila perlu hanya memerlukan puasa malam hari. Waktu untuk pengambilan sampel darah tidak perlu ketat sekali, karena zat yang hendak di periksa kadarnya relatif stabil dari jam ke jam berkat adanya peranan hemeostasis tubuh. Selain itu, interpretasi pemeriksaan kadar terapeutik obat memerlukan data klinis yang berguna untuk memperhitungkan secara matematis besarnya dosis dan aturan pemberian, jika regimen dosis harus diubah agar mencapai kadar terapeutik.

d. Sumber kekeliruan dalam monitoring kadar obat

Sumber keliruan dapat terjadi pada tahap-tahap awal dalam analisis laboratorik, misalnya pemberian obat yang waktunya tidak sesuai dengan yang diintruksikan, pengambilan sampel darah yang tidak tepat waktunya, sampel darah yang tidak cukup, dan terjadinya hemolisis.

Perbedaan individual dalam ikatan obat dengan protein plasma juga harus diperhatikan dalam menginterpretasikan hasil pemeriksaan kadar obat dalam plasma. Seringkali dikemukakan bahwa yang penting untuk diukur adalah kadar obat bebas (unbound), karena jumlahnya lebih mencerminkan kadar obat pada reseptor. Perbedaan individual dalam kadar obat bebas dalam plasma seringkali terjadi karena adanya perbedaan sifat protein, pengaruh obat lain yang diberikan bersama, pengaruh penyakit, serta sifat fisik dari obat yang diberikan. Metabolit aktif dapat mempersulit interpretasi kadar obat dalam darah, karena sifat farmakokinetika dan farmakodinamika metabolit tidak diketahui sehingga tidak semuanya dapat diukur serentak dengan mengukur kadar zat asalnya.

Daftar Pustaka

Ganiswarna, Sulistia G., 1995, Farmakologi dan Terapi, UI Press, Jakarta

Muchtar, dr. Armen, 1985, Monitoring Kadar Terapeutik Obat, Dalam Majalah Cermin Dunia Kedokteran, Vol. 37, 13-17

Tjay, Drs. Tan Hoan dan Drs. Kirana Rahardja, 2007, Obat-Obat Penting : Khasiat, Penggunaan dan Efek-Efek Sampingnya, PT. Gramedia, Jakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s