PENGATURAN MANAJEMEN TERAPI UNTUK MENDAPATKAN TERAPI YANG RASIONAL

Amelia kristina 06 8114 014

Anastasia Noveni 06 8114 015


PENGATURAN MANAJEMEN TERAPI UNTUK MENDAPATKAN TERAPI YANG RASIONAL

Untuk penanggulangan penyakit secara tepat, diperlukan farmakoterapi yang rasional. Untuk dapat melakukan pengobatan secara rasional, pertama kali harus dilakukan penegakan diagnosa yang rasional.

Evaluasi terapi diperlukan untuk membuktikan bahwa terapi itu tepat, artinya dapat menyembuhkan dan tidak menyebabkan efek samping yang merugikan. Beberapa hal tidak rasional dapat terjadi seperti dalam penentuan obat dan regimen terapi, serta cara pemberian obat.

a. Penentuan obat dan regimen terapi

Penentuan obat secara rasional harus mempertimbangkan hubungan antara indikasi, farmakologi klinik, dan sifat obat. Selain itu, harus dapat mengevaluasi hasil terapi termasuk mengetahui stabilitas obat, ketersediaan hayati (bioavailability), dan efek samping. Patofisiologi penyakit juga perlu diketahui agar dapat disesuaikan dengan jenis obat, formulasi, dosis, frekuensi pemberian, dan cara pemberian.

Pengurangan dosis atau frekuensi pemberian obat perlu dilakukan jika terdapat pada gangguan ekskresi renal dan gangguan hepar. Pada keadaan hipoproteinemia, dosis perlu diturunkan karena albumin yang mengikat obat berkurang sehingga konsentrasi obat bebas (unbound) meningkat.

Jika penderita memerlukan lebih dari satu macam obat, maka perlu dipikirkan kemungkinan terjadinya interaksi antara obat, fungsional, atau kimiawi maupun fisika-kimiawi atau secara tidak langsung melalui pendesakan ikatan pada albumin serta melalui pemacuan atau penghambatan enzim-enzim metabolisme obat.

Farmakoterapi harus dilakukan secara individual dengan pertimbangan :

· Umur

· Sifat-sifat genetik

· Lingkungan hidup (kebiasaan merokok, minum alkohol, dan sebagainya)

· Riwayat sakit dan riwayat pengobatan sebelumnya : derajat sakit setelah diobati, keberhasilan terapi, efek samping yang merugikan, alergi, interaksi, pengobatan mandiri, dan sebagainya

Ø Umur

Semakin muda umur, dosis yang dibutuhkan semakin besar karena kapasitas metabolisme lebih besar (per kgBB) Semakin tinggi temperatur tubuh, metabolisme semakin meningkat (tiap kenaikan 1oC, metabolisme meningkat sebesar 10%). Pada anak yang mengalami obesitas relatif memerlukan lebih sedikit obat, karena jaringan lemak relatif kurang berpengaruh dalam metabolisme. Untuk bayi yang baru lahir (neonatus) penetapan dosis belum ditetapkan secara tepat (akurat) karena enzim-enzim detoksifikasi, fungsi renal, pengikatan pada protein serum dan barier darah (otak) belum sempurna.

Respon pasien usia tua (lansia) terhadap banyak obat berbeda dengan pasien muda karena profil ADME juga berbeda. Pada pasien tua, terdapat penambahan jaringan lemak, sedangkan cairan badan total, volume plasma, cairan intersisial, dan massa badan tanpa lemak berkurang. Hal ini dapat mengurangi volume distribusi dari obat yang larut dalam air, dan menambah volume distribusi dari obat yang larut dalam lemak. Dosis standar dari obat yang larut dalam air pada keadaan ini akan menimbulkan intoksikasi. Berkurangnya albumin pada orang tua menyebabkan kadar obat bebas (unbound) menjadi lebih banyak sehingga dapat menyebabkan intoksikasi. Pengurangan cardiac output dan penambahan tahanan perifer dapat juga mengurangi aliran darah renal dan hepatik. Ini juga dapat menyebabkan intoksikasi dari obat dengan dosis standar, karena eliminasi dan kemampuan untuk transformasi enzimatik obat berkurang.

Penentuan konsentrasi obat di dalam plasma darah penting untuk monitoring terapi. Therapeutic range adalah jarak antara konsentrasi efektif minimal dan konsentrasi efektif maksimal dari obat di dalam plasma darah pada sebagian besar dari populasi. Intoksikasi terjadi jika konsentrasi obat didalam plasma darah melebihi therapeutic range.

Volume distribusi dari obat yang satu berbeda dengan obat yang lain, karena kelarutan didalam cairan badan dan ikatan pada jaringan tubuh juga berbeda. Misalnya :

· Prokainamid (antiaritmia, memiliki “terapeutic windows” yang sempit)

Vd = 2 L/kgBB

Cp = 5 µg/ml = 5 mg/L

Berapa dosis obat untuk pasien 50 kg dan 75 kg ?

Dosis obat = Volume distribusi x Konsentrasi obat dalam plasma darah

= 2 L/kgBB x 5 mg/L

= 10 mg/kgBB

Untuk pasien 50 kg = D x BB

= 10 mg/kg x 50 kg = 500mg/50kg

Untuk pasien 75 kg = D x BB

= 10 mg/kg x 75 kg = 750mg/75kg

Jadi, dosis obat yang akan diberikan kepada masing-masing individu berbeda tergantung dari berat badan pasien yang akan menerima terapi.

Ø Eliminasi Renal

Untuk mempertahankan konsentrasi plasma darah terapeutik suatu obat dapat dilakukan dengan memberikan obat dalam dosis yang equivalen dengan eliminasinya. Akumulasi dapat terjadi jika frekuensi pemberian obat itu lebih cepat dari waktu paruh sehingga interval pemberian obat harus dilakukan sesuai waktu paruh obat agar kondisi “steady state” dapat tercapai.

Ø Eliminasi hepatik

Untuk menentukan dosis dari obat-obat yang dimetabolisme didalam hepar harus berhati-hati karena hepar mempunyai kapasitas metabolisme yang terbatas sehingga ada kemungkinan suatu ketika pemberian multiple dose tidak dimetabolisime dan konsentrasi obat dalam plasma darah akan naik dengan cepat. Jika hal ini tidak dikontrol dengan penentuan konsentrasi obat di dalam plasma darah, maka akan terjadi akumulasi.

Contoh :

Seorang anak mempunyai BB = 20 kg. Anak itu mendapat fenitoin tiap 24 jam. Sesudah 4 jam, Cp = 18 mg/L. Sebelum diberikan dosis yang kedua, ternyata Cp = 10 mg/L. Ini berarti bahwa dalam 20 jam terjadi penurunan konsentrasi obat karena metabolisme sebanyak 8 mg/L. (Vd fenitoin = 0,75 L/kg)

Vd fenitoin untuk anak 20 kg = 0,75 L/kg x 20 kg = 15 L

Dosis = Vd x Cp

= 15 L x 8 mg/L

= 120mg/20kg

Jika dosis obat dalam 20 jam adalah 120 mg, maka dalam 24 jam :

Jadi, dosis maintenance untuk anak dari 20 kg = (144mg/20kg) = 7,2 mg/kg tiap 24 jam.

Resorpsi fenitoin diusus cukup baik, presentase pengikatan pada protein tinggi, lebih kurang 90%. Fenitoin dieliminasi melalui hidroksilasi dihati dan metabolit yang terbentuk tidak berkhasiat antiaritmia. Metabolisme berlangsung lambat dan tidak dipengaruhi oleh perubahan aliran darah hati. Sistem enzim yang memetabolisme fenitoin menjadi jenuh pada rentang kadar terapi. Karenanya waktu paruh eliminasi tergantung dosis dan toksisitas yang dapat muncul secara tidak terduga. Plasma waktu paruh eliminasi rata-rata 20 jam sangat variabel.

Ø Sifat-sifat Genetik

Farmakoterapi terhadap penderita yang mempunyai dasar genetik tertentu harus disesuaikan, antara lain :

· Regimen terapi INH disesuaikan dengan adanya asetilator cepat atau lambat

· Jangan memberi terapi dengan kinin, kinidin, sulfonamida, kloramfenikol, acetosal dan sebagainya pada penderita dengan defisiensi glukosa-6-fosfat dehidrogenase, karena dapat menyebabkan hemolisis

Ø Lingkungan hidup

Pola hidup seorang pasien dapat menyebabkan respon yang berubah terhadap obat. Misalnya pengobatan terhadap pecandu alkohol perlu didasari pengetahuan tentang kemungkinan adanya sinergisme dengan depresansia umum (alkoholisme akut), atau adanya toleransi farmakodinamika dan farmakokinetika (alkoholisme kronik). Juga perlu disadari bahwa karena adanya gangguan absorpsi, maka dosis obat harus ditingkatkan.

Selain itu, perlu juga dipertimbangkan riwayat sakit serta pengobatannya yang lalu, karena mungkin dapat berpengaruh baik ataupun buruk terhadap pengobatan yang akan diberikan sekarang. Riwayat sakit yang lalu perlu diketahui karena kemungkinan berhubungan dengan penyakit sekarang. Apalagi jika penyakit yang lalu dapat diperkirakan belum sembuh benar atau meninggalkan bekas kelainan yang memudahkan terjadinya penyakit sekarang. Riwayat pengobatan yang lalu juga penting untuk diketahui, sehingga memudahkan dokter memberi pengobatan yang tepat.

b. Cara pemberian obat

Cara pemberian obat juga ditentukan sesuai dengan situasi dan kondisi medis penderita. Jika tidak ada keperluan khusus dan tidak ada halangan, maka pemberian obat secara oral paling banyak dilakukan. Pada pemberian obat secara oral ini terdapat variabel-variabel antar penderita yaitu perbedaan sifat obat, komposisi dari cairan lambung dan usus, kecepatan pengosongan lambung, ada atau tidak adanya zat makanan, keadaan patologis dari saluran pencernaan dan sebagainya.

KESIMPULAN

1. Setelah berusaha menegakkan diagnosis penyakit secara rasional melalui anamnesis, pemeriksaan fisik dan laboratorium, maka perlu mengetahui patologi dan patofisiologi penyakitnya, serta menentukan pengobatan rasional terkait mengembalikan homeostasis badan.

2. Jika farmakoterapi diperlukan, maka melalui penyesuaian secara rasional, menurut prinsip-prinsip farmakologi serta parameter farmakokinetika klinik diharapkan penyakit dapat disembuhkan atau dapat dikurangi secara tidak berlebihan.

Daftar Pustaka

Ganiswarna, Sulistia G., 1995, Farmakologi dan Terapi, UI Press, Jakarta

Tjay, Drs. Tan Hoan dan Drs. Kirana Rahardja, 2007, Obat-Obat Penting : Khasiat, Penggunaan dan Efek-Efek Sampingnya, PT. Gramedia, Jakarta

Yudono, dr. R.H., 1985, Farmakoterapi Rasional, Dalam Majalah Cermin Dunia Kedokteran, Vol. 37, 32-36

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s