Tetrasiklin??? Kenalan Yukz…

TUGAS FARMAKOKINETIKA KLINIK (Maret 2009)

Nama:  Dian Verina Indriani            (068114080)
Elysabeth Frederika Yulia Jayani  (068114081)

TETRASIKLIN ?????
KENALAN YUKZ…..


Senyawa tetrasiklin semula diperoleh dari Streptomyces aureofaciens (klortetrasiklin) dan Streptomyces rimosus (oksitetrasiklin). Tetapi setelah tahun 1960, zat induk tetrasiklin mulai dibuat secara sintetis seluruhnya, yang kemudian disusul oleh derivat –oksi dan –klor serta senyawa long-acting doksisiklin dan minosiklin.
Semua tetrasiklin berwarna kuning dan bersifat amfoter, garamnya dengan klorida/fosfat paling banyak digunakan.

Indikasi
Obat untuk infeksi Mycoplasma pneumonia, klamidia dan riketsia, infeksi bakteri yang berhubungan dengan saluran pernapasan terutama sinusitis dan bronchitis. Dapat juga digunakan untuk penyakit pes, tularemia, bruselosis dan leptospirosis.

Aktivitas antimikroba
Tetrasiklin bersifat bakteriostatik terhadap banyak bakteri gram-positif dan gram-negatif, termasuk beberapa anaerob termasuk; serta terhadap riketsia, klamidia, mikoplasma, serta terhadap beberapa protozoa, misalnya amuba. Jumlah tetrasiklin yang setara di dalam cairan tubuh atau jaringan , mempunyai aktivitas antimikoba yang hampir setara.
Sebagian tetrasiklin memasuki mikroorganisme secara difusi pasif dan sebagian lagi melalui transport aktif yang tergantung atas energi. Sebagai akibatnya, sel yang peka akan mengonsentrasi obat tersebut sehingga konsentrasi obat intrasel jauh lebih tinggi dari ekstrasel. Setelah masuk ke dalam sel, tetrasiklin terikat reversible ke reseptor pada sub-unit 30S ribosom bakteri dalam posisi yang menghambat pengikatan aminoasil-tRNA ke tempat aksepor pada kompleks mRNA ribososm. Tetrasiklin efektif mencegah penambahan asam amino baru ke rantai peptide yang tumbuh, yang menghambat sintesis protein.

Absorpsi, metabolisme, dan ekskresi
Tetrasiklin diabsorpsi agak tidak teratur dari saluran pencernaan. Sebagian tetrasiklin yang diberi per oral tetap di dalam lumen usus, mengubah flora usus dan diekskresikan ke dalam tinja. Sementara hanya 30% klortetrasiklin serta 60-80% tetrasiklin, oksitetrasiklin dan demeklosiklin yang diabsorpsi di dalam usus, namun doksisiklin dan minosiklin diabsorpsi sebanyak 90-100%. Absorpsi terutama terjadi di dalam usus halus atas dan terbaik diabsorpsi bila tidak ada makanan. Tetrasiklin diperlemah oleh ‘chelation’ dengan kation bervalensi 2 (Ca2+, Mg2+, Fe2+) atau Al3+, terutama dalam susu dan antasida, dan oleh pH alkali. Larutan tetrasiklin berbuffer khusus dibuat untuk pemberian parenteral (biasanya intravena) pada orang yang tak mampu minum obat. Umumnya dosis parenteral serupa dengan dosis peroral.
Didalam darah, 40-80% berbagai tetrasiklin terikat dengan protein. Pada dosis oral 500 mg setiap 6 jam, tetrasiklin hidroklorida dan oksitetrasiklin akan mencapai kadar puncak 4-6 µg/ml. untuk doksisiklin dan minosiklin, kadar puncak agak lebih rendah (2-4µg/ml). suntikan tetrasikin intravena memberikan kadar yang agak lebih tinggi hanya untuk sementara waktu. Obat ini didistribusi luas ke jaringan dan cairan tubuh, kecuali untuk cairan serebrospinalis, tempat konsentrasinya rendah. Minosiklin bersifat unik dalam tercapainya kadar yang sangat tinggi di dalam air mata dan air liur (suatu gambaran yang memungkinkan ia membasmi keadaan pembawa meningokokus). Tetrasiklin menembus plasenta untuk mencapai janin dan juga diekskresi ke dalam air susu. Sebagian akibat ‘chelation’ dengan kalsium, tetrasiklin terikat ke tulang dan gigi yang sedang tumbuh.
Tetrasiklin yang diabsorpsi terutama diekskresikan melalui cairan empedu dan urina. Konsentrasi di dalam empedu 10 kali lebih tinggi daripada dalam serum; beberapa obat yang diekskresikan ke daam empedu akan direabsorpsi melalui usus (sirkulasi enterohepatik) dan berguna untuk mempertahankan kadar serumnya. 10-50% tetrasiklin diekskresikan ke dalam urina, terutama melalui fitrasi glomerulus. Bersihan ginjal (Cl) tetrasiklin berkisar antara 10-90 ml/menit. Dan 10-40% tetrasiklin diekskresi ke dalam tinja.
Doksisiklin dan minosiklin diabsorpsi hampir lngkap dari usus dan diekskresi lebih lambat, yang menghasilkan kadar serum yang persisten. Doksisiklin tidak memerlukan ekskresi melalui ginjal dan tidak ditimbun secara bermakna pada keadaan gagal ginjal.

Efek Samping
Pada kegunaan oral sering terjadi gangguan lambung-usus (mual, muntah, diare, dsb). Penyebabnya ialah rangsangan kimiawi teradap mukosa lambung dan atau perubahan flora-usus oleh bagian obat yang tidak diserap, terutama pada tetrasiklin. Hal terakhir dapat menimbulkan pula supra-infeksi oleh antara lain jamur Candida albicans (dengan gejala mulut dan tenggorokan nyeri, gatal sekitar anus, diare, dsb.)
Efek yang lebih serius adalah sifat penyerapannya pada jaringan tulang dan gigi yang sedang tumbuh pada janin dan anak-anak. Pembentukkan kompleks tetrasiklin-kalsiumfosfat dapat menimbulkan gangguan pada struktur kristal dari gigi serta pewarnaan dengan titik-titik kuning-coklat yang lebih mudah berlubang (caries). Efek samping lain adalah fotosensitasi, yaitu kulit menjadi peka terhadap cahaya, menjadi kemerah-merahan, gatal-gatal, dsb. Maka selama terapi dengan tetrasiklin hendaknya jangan terkena sinar matahari yang kuat.

Daftar Pustaka

Katzung, B.G., 1989, Farmakologi Dasar dan Klinik, 630-632, EGC, Jakarta
Tjay, Tan Hoan dan Kirana Raharja, 2002, Obat-Obat Penting, 75-76, Gramedia, Jakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s