ALOPURINOL DAN PENYAKIT GOUT
( Shielanita Eulampia 068114101; Karolina Reyni K. 068114102)

Alopurinol merupakan salah obat yang digunakan dalam pengobatan penyakit gout. Penyakit gout adalah suatu penyakit metabolit familial yang ditandai oleh suatu arthritis akut berulang karena endapan monosodium urat di persendian dan tulang rawan, dan dapat terjadi pembentukkan asam urat diginjal. Penyakit gout sering dikaitkan dengan kadar asam urat yang tinggi di dalam serum, dimana asam urat merupakan senyawa yang sukar larut yang diperoleh dari metabolisme purin.
Alopurinol digunakan pada pengobatan gout dengan indikasikan sebagai berikut :
1. Pada gout tofaseosa kronis, dimana reabsorbsi topi lebih cepat dibandingkan obat urikosurik.
2. Pada penderita gout yang asam urat dalam urin 24 jamnya dengan diet bebas purin melebihi 1,1 g.
3. Bila probenesid atau sulfinpirazon tidak dapat digunakan karena efek samping atau reaksi alergi, atau bila obat – obat ini memberikan efek terapi kurang optimum.
4. Untuk batu ginjal berulang.
5. Pada penderita dengan gangguan fungsi ginjal.
6. Bila kadar urat serum kurang dari 6,5mg/dL.
Selain untuk penyakit gout, alopurinol dapat digunakan sebagai antiprotozoa dan diindikasikan untuk mencegah urikosuria yang masif setelah pengobatan diskrasia darah dengan cara lain dapat menyebabkan batu ginjal.

a. Farmakokinetik
Alopurinol hampir 80% diabsorpsi setelah pemberian peroral. Seperti asam urat, alupurinol dimetabolisme sendiri oleh xantin oksidase. Senyawa hasilnya yaitu aloxantin, yang dapat mempertahankan kemampuan menghambat xantin oksidase dan mempunyai masa kerja yang cukup lama, sehingga alopurinol cukup diberikan hanya sekali sehari.
Onset dari alopurinol yaitu 1 – 2 minggu. Absorbsi alopurinol bila diberikan secara peroral adalah 60% dari dosis pemberian. Volume distribusinya 1,6 L/Kg dan metabolisme menjadi metabolit aktif oxypurinol ( 75% ). Ekskresi alopurinol dalam urin sebesar 76% dalam bentuk oxypurinol dan 12% dalam bentuk utuh. T ½ dari alopurinol adalah 1 – 3 jam sedangkan untuk aloxantin 18 – 30 jam. Bioavaibilitasnya 49 % – 53%. Klirens alopurinol pada dosis 200 mg per hari adalah 10 – 20 ml/menit. Untuk dosis 100 mg per hari, klirens alopurinol yaitu 3 – 10 ml/menit sedangkan untuk sediaan extended dengan 100 mg per hari, klirens alopurinol < 3 ml/menit.

b. Farmakodinamik
Purin dibentuk dari asam amino, asam format, dan karbondioksida dalam tubuh. Namun purin juga dibentuk dari degradasi asam nukleat yang kemudian dikonversi menjadi xantin atau hipoksantin dan dioksidasi menjadi asam urat. Jadi hipoksantin akan diubah menjadi xantin oleh enzim xantin oksidase dan kemudian xantin akan diubah menjadi asam urat ( 2, 6, 8-trioksipurin) oleh enzim xantin oksidase.
Dengan adanya alopurinol, akan menghambat enzim xantin oksidase sehingga terjadi penurunan kadar asam urat dalam plasma dan penurunan timbunan asam urat disertai dengan peningkatan xantin dan hipoksantin yang lebih larut. Mekanisme penghambatan pembentukan asam urat oleh alopurinol yaitu alopurinol yang merupakan isomer dari hipoksantin, bekerja sebagai antagonis kompetitif dari hipoksantin yang dapat dioksidasi oleh enzim xantin oksidase menjadi aloksantin. Hal ini menyebabkan jumlah enzim xantin oksidase yang seharusnya mengubah hipoksantin menjadi xantin dan dari xantin menjadi asam urat berkurang sehingga pada akhirnya produksi asam urat menurun.

c. Efek samping
Efek samping yang sering terjadi ialah reaksi kulit seperti kemerahan pada kulit, sehingga penggunaan obat harus dihentikan karena dapat menyebabkan gangguan yang lebih berat. Reaksi alergi yang mungkin terjadi berupa demam, menggigil, leukopenia atau leukositosis, eusinofilia, artralgia dan pruritis. Selain itu, efek samping yang dapat terjadi ialah intoleransi saluran cerna yang meliputi mual, muntah, dan diare serta dapat menimbulkan neuritis perifer, pastkulitis nekrotikan, depresi elemen sumsum tulang dan aplastik anemia ( namun jarang terjadi ). Adanya toksisitas pada hati dan nepritis interstitial telah dilaporkan.
Pada awal pengobatan dengan alopurinol dapat meningkatkan serangan arthritis gout akibat kristal urat ditarik dari jaringan dan kadar dalam plasma dibawah normal. Sehingga untuk mencegah serangan akut diberikan kolkisin selama periode awal penggunaan alopurinol. Namun jika alopurinol diberikan dalam gabungan dengan probenesid atau sulfinvirazon maka tidak perlu diberikan kolkisin. Alopurinol dapat terikat dengan lensa mata yang akan menyebabkan katarak.

d. Interaksi dan perhatian
Jika alopurinol diberikan bersamaan dengan kemoterapi merkaptopurin maka dosisnya harus dikurangi hingga kira – kira 25%. Alopurinol juga dapat meningkatkan efek siklofosfamid dan dapat menghambat metabolisme probenesid dan antikoagulan oral serta dapat meningkatkan konsentrasi besi di hati. Keamanan pada anak – anak dan masa kehamilan belum ditentukan.

e. Dosis
Dosis awal 100 mg/hari. Dosis harian 300 mg selama 3 minggu. Kolkisin atau indometasin diberikan selama minggu pertama terapi alopurinol untuk mencegah serangan arthritis gout yang kadang – kadang timbul. Sedangkan untuk penderita gangguan fungsi ginjal dosisnya 100 – 200 mg per hari, untuk hiperurisemia sekunder dosisnya 100 – 200 mg per hari. Untuk anak – anak 6 – 10 tahun dosisnya 300 mg sehari, anak dibawah 6 tahun 150 mg sehari.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2000, Drug Information Handbook 11th edition, hal 58-59, Lexi-Comp’s and APha, Amerika
Katzung, B. G., 1998, Farmakologi Dasar Dan Klinik edisi 6, hal 577-578, EGC, Jakarta
Wilmana, P. F., 1995, Farmakologi Dan Terapi edisi 4, hal 221, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s