ATASI DENGAN KLOQUIN

USNUL ALIFA ( O68114004 )
STEFANI SILVIA PURNOMO ( 068114005 )
PERIODE MARET 2009

Malaria menyebabkan sekitar 300 juta kasus klinis dengan lebih dari 2 juta kematian setiap tahun. Di Indonesia, sebanyak 1,8 juta kasus malaria ditemukan pada 2006 yang bertambah sangat signifikan menjadi 2,5 juta pada tahun 2007 lalu. Program pemberantasan malaria terkendala oleh semakin meluasnya plasmodium penyebab malaria yang resisten terhadap obat. Salah satu alternatif untuk mengatasi masalah tersebut adalah tindakan pencegahan dengan imunisasi atau pemberian vaksin. Teknik nuklir dapat dimanfaatkan untuk pembuatan bahan vaksin karena lebih menguntungkan dibandingkan dengan teknik konvensional (pemanasan dan kimia) dimana respon imunnya lebih kuat dalam inang pasca pemberian vaksin iradiasi. Pada dosis iradiasi yang optimum mikroorganisme tidak mampu melakukan replikasi dan tidak menimbulkan infeksi.
Hilangnya kemampuan infektif dari parasit tersebut memungkinkan untuk memperoleh bahan yang layak untuk pembuatan vaksin. Hasil studi awal menunjukkan bahwa dosis iradiasi 150-175 Gy dapat menurunkan daya infeksi Plasmodium berghei dalam tubuh mencit yang ditunjukkan oleh periode prepaten yang panjang, parasitemia dan jumlah kematian mencit yang rendah. Diharapkan dalam pengembangan bahan vaksin iradiasi dapat ditemukan suatu sistem yang optimal dimana patogen kehilangan kemampuan reproduktif dan virulensi akibat iradiasi sinar gamma, tetapi masih mampu memicu respon imun dan tetap dapat mempertahankan viabilitas, aktivitas metabolik dan profil antigeniknya.
Malaria merupakan salah satu penyakit infeksi yang mempengaruhi mortalitas bayi, anak, dan ibu melahirkan. Klorokuin merupakan antimalaria standar atau obat lini pertama untuk terapi dan kemoprofilaksi malaria tanpa komplikasi di Indonesia. Peningkatan resistensi terhadap pengobatan standar mengakibatkan kesulitan dalam pencegahan malaria, terutama di daerah endemik. Untuk memecahkan masalah tersebut, suatu antimalaria baru yaitu artemeter kini banyak diteliti.
Gambaran karakteristik dari malaria ialah demam periodik, anemia, trombositopeni, dan splenomegali. Berat ringannya manifestasi malaria tergantung jenis plasmodium yang menyebabkan infeksi dan imunitas penderita Diagnostik malaria sebagaimana penyakit pada umumnya didasarkan pada gejala klinis, penemuan fisik diagnostik, laboratorium darah, uji imunoserologis dan ditemukannya parasit (plasmodium) di dalam darah tepi penderita sebagai gold standard.
Malaria adalah penyakit yang menyerang manusia, burung, kera dan primata lainnya, hewan melata dan hewan pengerat, yang disebabkan oleh infeksi protozoa dari genus Plasmodium dan mudah dikenali dari gejala meriang (panas dingin menggigil) serta demam berkepanjangan. Demam rimba (jungle fever), malaria aestivo-autumnal atau disebut juga malaria tropika yang disebabkan oleh Plasmodium falciparum merupakan penyebab sebagian besar kematian akibat malaria. Organisme bentuk ini sering menghalangi jalan darah ke otak, menyebabkan koma, mengigau, serta kematian. Malaria kuartana yang disebabkan oleh Plasmodium malariae, memiliki masa inkubasi lebih lama daripada penyakit malaria tertiana atau tropika; gejala pertama biasanya tidak terjadi antara 18 sampai 40 hari setelah infeksi terjadi. Gejala tersebut kemudian akan terulang kembali setiap 3 hari (Anonim, 2004).
Ciri utama genus plasmodium ini adalah siklus hidupnya terjadi dalam dua inang yang berbeda. Siklus seksual terjadi dalam tubuh nyamuk Anopheles betina sebagai vektor penyebaran parasit melalui gigitan nyamuk. Siklus aseksual terjadi dalam tubuh manusia (Trager W, 1986; Anonim, 2000). Dari empat spesies parasit penyebab malaria, Plasmodium falciparum merupakan parasit yang predominan (>95% kasus) dan diketahui paling ganas karena dapat mengakibatkan kematian balita. Parasit yang masuk ke penderita akan menuju ke hati dan berubah menjadi merozoites, kemudian masuk ke aliran darah, menginfeksi sel darah merah, dan berkembang biak. Sebelum muncul gejala panas tinggi dan flu, inkubasi parasit terjadi selama 10-14 hari. Tetapi gejala dapat muncul satu tahun berikutnya setelah seseorang terjangkit
Penyakit malaria tersebut tidak lepas dari berbagai pengaruh yang menimbulkan wabah, yaitu faktor lingkungan, nyamuk sebagai vektornya, dan faktor genetik dari parasit itu sendiri. Kekebalan tubuh alamiah sebenarnya sangat efektif menahan serangan parasit tetapi tidak mampu menghancurkan parasit secara tuntas dimana patogen tetap mampu berkembang biak dalam tubuh seseorang yang kebal secara klinis. Parasit mampu menyelinap dalam sistem imun dan memiliki trik untuk bertahan. Sekali berada di dalam sel, protein-protein tertentu muncul dipermukaannya (Okiro E et al., 2007). Oleh karena diperlukan suatu pencetus daya imun dalam tubuh.

Obat malaria yang ideal adalah yang memenuhi syarat:
• Membunuh semua stadium dan jenis parasit
• Menyembuhkan infeksi akut, kronis dan kambuh
• Toksisitas dan efek samping sedikit
• Mudah cara pemberiannya
• Harga murah dan terjangkau oleh semua lapisan masyarakat
Tujuan pengobatan malaria adalah menyembuhkan penderita, mencegah kematian, mengurangi kesakitan, mencegah komplikasi dan kambuh, serta mengurangi kerugian sosial ekonomi (akibat malaria).
Gejala malaria antara lain demam, menggigil, berkeringat dan dapat disertai dengan gejala lain seperti sakit kepala, mual dan muntah.
Obat malaria yang dikenal umum adalah:
1. Obat standar: Klorokuin dan Primakuin. Klorokuin efefktivitasnya sangat tinggi terhadap Plasmodium vivax dan Plasmodium falciparum.
2. Obat alternatif: Kina dan Sp (Sulfadoksin + Pirimetamin). Kombinasi SP sangat efektif untuk mengobati penderita malaria oleh Plasmodium falciparum yang sudah resisten kloroluin.
3. Obat penunjang: Vitamin B Complex, Vitamin C dan SF (Sulfas Ferrosus).
4. Obat malaria berat: Kina HCL 25% injeksi (1 ampul 2 cc).
5. Obat standar dan Klorokuin injeksi (1 ampul 2 cc) sebagai obat alternatif
Klorokuin
Farmakologi Bagaimana mekanisme timbulnya efek plasmodisidal dari klorokuin masih belum dimengerti sepenuhnya. Namun diduga obat ini beraksi dengan menghambat enzim tertentu yang bisa menganggu transkripsi dan pemisahan untai DNA protozoa. Obat ini juga meningkatkan pH eritrosit dan menurunkan metabolisme fosfolipid protozoa. Pemberian klorokuin oral diserap cepat dan lengkap oleh saluran cerna, hanya sejumlah kecil dosis yang ditemukan pada feses. Sekitar 55% klorokuin dalam plasma terikat dengan konstituen nondiffusible. Eskresi klorokuin cukup lambat, tapi meningkat dengan pengasaman urin. Klorokuin mengalami degradasi yang lumayan besar dalam tubuh. Metabolit utamanya adalah desethylchloroquine, sekitar seperempat dari total material yang dijumpai di urin serta bisdesethylchloroquine, suatu derivat carboxylic acid.
Indikasi Untuk mengobati serangan akut malaria karena P. vivax, P.malariae, P. ovale, dan galur P. falciparum yang rentan. Obat ini juga diindikasikan untuk pengobatan extraintestinal amebiasis. Klorokuin tidak bisa mencegah kekambuhan pada pasien dengan malaria vivax atau malariae. Pasalnya, obat ini tidak efektif mengatasi bentuk exoerythrocytic dari parasit.
Dosis & Cara Pemberian Terapi supresi/profilaksis, dosis dewasa: 500 mg klorokuin posfat setara dengan 300 mg klorokuin basa pada hari yang sama tiap minggu. Dosis anak: 5 mg klorokuin basa per kg BB. Jika memungkinkan, terapi harus dimulai dua minggu sebelum paparan. Tapi jika gagal, pemberian dua kali dosis (loading dose) 1 g klorokuin fosfat setara 600 mg klorokuin basa atau 10 mg klorokuin basa/kg BB pada anak, bisa dilakukan dalam dosis terbagi dua dengan jarak pemberian 6 jam. Terapi supresi harus diteruskan hingga 8 minggu setelah meninggalkan area endemik.
Pada serangan akut, untuk dewasa diberikan dosis awal 1 g (=600 mg basa). Dan setelah 6-8 jam diberikan dosis tambahan 500 mg (= 300 mg basa) dan dosis tunggal dua hari berturut-turut. Jadi, rejimen ini memenuhi total dosis dalam tiga hari, 2,5 g klorokuin posfat atau 1,5 g klorokuin basa. Dosis untuk dewasa dengan bobot badan rendah, bayi, dan anak-anak diberikan dalam empat tahap dosis. Dosis pertama: 10 mg basa/kg BB (tidak lebih dari 600 mg basa). Dosis kedua: (6 jam setelah dosis pertama) 5 mg basa/kgBB (tidak lebih dari dosis tunggal 300 mg basa). Dosis ketiga: (24 jam setelah dosis pertama) 5 mg basa/kg BB. Dosis keempat (36 jam setelah dosis pertama) 5 mg basa/kg BB.
Untuk radical cure malaria vivax and malariae, jika perlu diberikan terapi secara bersamaan dengan obat yang mengandung senyawa 8-aminoquinoline.
Kontraindikasi Perubahan retina dan gangguan lapang pandang, hipersensitif, gangguan gastrointestinal, gangguan saraf, dan kelainan darah.
Interaksi Antasid dan kaolin bisa mengurangi absorpsi klorokuin. Simetidin menghambat metabolisme klorokuin hingga bisa meningkatkan kadar klorokuin dalam plasma. Klorokuin secara signifikan mengurangi ampisilin.
Efek Samping Sakit kepala, gangguan GI, erupsi kulit, depigmentasi, kehilangan rambut, kornea berwarna putih, gangguan penglihatan, kerusakan retina, dan jarang depresi sumsum tulang.
Awal Penggunaan 1945
Resistensi Kasus resistensi pertama dilaporkan pada 1957. Sekarang resistensi yang luas telah terjadi terhadap Plasmodium falciparum. Resistensi terhadap Plasmodium vivax juga sudah mulai dilaporkan atau ditemukan.
Nama dagang Avloclor, Maralex, Mexaquin, Nivaquine, Resochin

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2004. Malaria pada manusia, Info Penyakit Menular; Dirjen Pemberantasan Penyakit Menular & Penyehatan Lingkungan, DepKes RI, 2 Desember 2004.
Daniel, 2006, ACTs Harapan Baru Terapi Malaria, http://www.mediascape.com diakses pada tanggal 15 maret 2009
Okiro, E., Hay, S., Gikandi, P., Sharif, S., Noor, A., Peshu, N., Marsh, K., and Snow, R. 2007. The decline in paediatric malaria admissions on the coast of Kenya. Malarial Journal, 15;6 (1), 151-155.
Trager, W. 1986. Living together. The biology of animal parasitism. Plenum Press, New York.

plasmodium_falciparum1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s