ALKOHOL JALAN- JALAN DALAM TUBUH  ???

Disusun Oleh:

Giovanni Angelina      (068114109)

Yustina Amelia A       (068114143)

Alkohol adalah minuman yang dapat mempengaruhi kondisi kejiwaan seseorang dan juga mempengaruhi sistem organ tubuh, termasuk saluran cerna, kardiovaskuler, dan sistem SSP. Konsumsi alkohol dapat mempengaruhi perkembangan fetus. Di beberapa Negara, alkohol  sebagai minuman yang mudah didapatkan sehingga cenderung banyak disalahgunakan. Minuman berlkohol mengandung zat etanol (etil alkohol).

Apa yang dilakukan alcohol dalam tubuh?

Absorbsi

Alkohol yang diminum mengalami absorbsi yang  berlangsung cepat di usus halus daripada di lambung. Sehingga dengan adanya makanan berarti waktu pengosongan lambung lambat akibatnya dapat memperlambat absorbsi alkohol. Kadar puncak plasma pada keadaan puasa dicapai dalam waktu 30 menit.

Distribusi

Distribusi alkohol berlangsung cepat, tersebar secara merata ke seluruh jaringan dan cairan tubuh. Volume distribusi alkohol kira-kira sama dengan total cairan tubuh ( 0,5-0,7 L/kg ). Pada sistem  SSP, kadar alkohol meningkat secara cepat sebab otak menerima aliran darah yang banyak dan alkohol dapat melewati sawar darah otak. Alkohol juga dapat menembus sawar urine dan masuk ke janin.

Metabolisme

Metabolisme alkohol berlangsung di hati, dimana jumlah alkohol yang dimetabolisme tetap per satuan waktu terlepas dari tinggi rendahnya kadar alkohol tersebut. Alkohol mengalami metabolisme presistemik oleh enzim alcohol dehidrogenase (ADH) di lambung dan hati. Alkohol akan mengalami proses oksidasi menjadi asetaldehid yang diperantarai oleh ADH, katalase, dan sitokrom P450. Asetaldehid akan diubah menjadi asetat oleh aldehid dehidrogenase yang ada di sitosol dan mitokondria di hati. Penggunaan alkohol dalam jangka waktu panjang dapat meningkatkan kapasitas metabolisme terhadap alkohol itu sendiri.

Eksresi

Alkohol diekskresikan melewati paru-paru dan urin. Hanya ± 2-10% yang diekskresikan dalam bentuk utuh.

Respon tubuh terhadap adanya alkohol

Sistem Saraf Pusat

Alkohol terutama bekerja di susunan saraf pusat (SSP). Alkohol merupakan depresan SSP. Konsumsi alkohol akan berefek sedasi dan antiansietas (anti cemas), dan pada kadar yang lebih tinggi menyebabkan berbicara tidak jelas, tidak dapat menentukan keputusan, kekacauan pola pikir, dan perilaku disinhibisi yang dapat menimbulkan kesan adanya efek stimulasi SSP dari alkohol. Alkohol juga dapat menyebabkan hilangnya pengendalian diri dan berkurangnya daya ingat.

Sistem kardiovaskuler

Efek langsung alkohol terhadap sirkulasi sangat kecil. Depresi kardiovaskuler yang terjadi pada keracunan akut alkohol yang berat disebabkan oleh faktor sentral dan depresi napas. Alkohol dosis sedang menimbulkan vasodilatasi terutama di pembuluh darah kulit dan menimbulkan rasa hangat dan kulit merah. Vasodilatasi ini terjadi karena hambatan vasomotor secara sentral. Efek vasodilatasi ini tidak berguna untuk meningkatkan vasodilatasi koroner. Pada pasien angina stabil yang jelas menderita penyakit koroner, alkohol menurunkan uji toleransi fisik. Penggunaan alkohol berlebihan jangka panjang menyebabkan kerusakan jantung menetap.

Saluran cerna

Alkohol sering merupakan penyebab utama terjadinya disfungsi esofagus. Alkohol juga dihubungkan dengan timbulnya gejala refluks esofagus. Pada orang yang mengalami ketergantungan pada alkohol dapat menyebabkan mukosa lambung rusak dan terjadi gastritis akut maupun kronik. Banyak peminum alkohol mengalami diare kronik akibat malabsorbsi(absorbsi yang salah) pada usus halus, akibat terjadinya perubahan bentuk dan penurunan kadar enzim pencernaan yang bersifat reversibel

Hati

Keracunan akut alkohol umumnya tidak menyebabkan gangguan fungsi hati menetap. Orang yang mengkonsumsi alkohol dalam jangka panjang dapat menderita hipoglikemia karena nutrisi buruk dan pengosongan glikogen hati.

Efek teratogenik

Alkohol menimbulkan efek teratogenik yang dikenal sebagai sindrom alkohol fatal. Wanita hamil terutama pada trisemester pertama sebaiknya tidak mengkonsumsi alkohol. Pada peminum berat dapat terjadi aborsi spontan atau bayi lahir mati.

Mekanisme kerja

Alkohol mengganggu keseimbangan antara eksitasi dan inhibisi di otak, ini terjadi karena adanya penghambatan atau penekanan saraf perangsangan. Efek alkohol terhadap berbagai saraf berbeda karena perbedaan distribusi fosfolipid dan kolesterol di membran tidak seragam.

Interaksi obat

Interaksi farmakokinetik yang paling sering terjadi antara alkohol dan obat lain ialah akibat induksi sistem endoplasmik retikulum sel hati oleh alkohol yang telah lama dikonsumsi; alkohol memacu metabolisme obat lain. Sebaliknya pada orang yang belum lama mengkonsumsi alkohol, alkohol menghambat metabolisme obat lain, misalnya: fenotiazin dan hipnotik-sedatif (membahayakan pasien yang memerlukan keterampilan dalam aktifitasnya), antidepresan trisiklik, dan asetosal (meningkatkan risiko pendarahan lambung). Interaksi secara farmakodinamik terjadi antara alkohol dengan pendepresi SSP, vasodilator dan hipoglikemik oral. Alkohol juga terbukti memacu aktivitas antiplatelet asetosal.

Referensi :

Ganiswarna, S.G., 2007, Farmakologi dan Terapi, Ed. V, 157-159, UI Press, Jakarta

Neal, M.J., 2006, At a Glance Farmakologi Medis, edisi kelima, 68-69, Penerbit Erlangga, Jakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s