Farmakokinetik pada Geriatri

Maret 2009

Maria Fea Yessy (068114152)

Citra Puspita Citra (o68114155)

Pasien Geriatri adalah penderita dengan usia 60 tahun keatas, memiliki karakteristik khusus antara lain menderita beberapa penyakit akibat ganguan fungsi jasmani dan rohani, dan sering disertai masalah psikososial(Anonim, 2008).

Dalam pemberian obat pada pasien geriatric perlu dipertimbangkan beberapa hal antara lain adalah pengaturan dosisnya karena pada usis lanjut, seorang pasien lebih mudah mengalami reaksi efek samping dan interaksi obat yang merugikan. Serta pada usia lanjut, rentan terserang penyakit sehingga pemberian obat sering polifarmasi. Polifarmasi berarti pemakaian banyak obat sekaligus pada seorang pasien, lebih dari yang dibutuhkan secara logis-rasional dihubungkan dengan diagnosis yang diperkirakan.

Pada sistem pencernaan para lansia, terjadi perubahan pada peningkatan pH lambung. menurunnya aliran darah ke usus akibat penurunan curah jantung dan perubahan waktu pengosongan lambung dan gerak saluran cerna.

Distribusi obat berhubungan dengan komposisi tubuh, ikatan protein-plasma, dan aliran darah organ. Semua itu akan mengalami perubahan denganbertambahnya usia, sehingga dosis antara pasien geriatri dan pasien yang lebih muda akan berbeda. Pada geriatri, komposisi air dalam tubuh akan berkurang sehingga menyebabkan penurunan volum distribusi obat yang larut air. sehingga konsentrasi dalam plasma meningkat, contoh: digoksin. namun pada usia lansia, terjadi peningkatan total lemak dalam tubuh, sehingga meningkatkan Vd obat yang larut dalam lemak namun konsntrasi obat dalam plasma menurun. pada geriatri, jumlah albumin plasma berkurang sehingga mengakibatkan jumlah obat yang diikat olih albumin menurun dan mengakibatkan obat tersebut berada dalam tubuh dalam keadaan terikat.

Ginjal berpengaruh besar pada eliminasi beberapa obat. Umumnya obat diekskresi melalui filtrasi glomerolus yang sederhana dan kecepatan ekskresinya berkaitan dengan kecepatan filtrasi glomerolus (oleh karena itu berhubungan juga dengan bersihan kreatinin). Misalnya digoksin dan antibiotik golongan aminoglikosida.

Pada usia lanjut, fungsi ginjal berkurang, begitu juga dengan aliran darah ke ginjal sehingga kecepatan filtrasi glomerolus berkurang sekitar 30 % dibandingkan pada orang muda.

Fungsi Ginjal

Perubahan paling berarti pada geriatri ialah berkurangnya fungsi ginjal dan menurunnya creatinine clearance, walaupun tidak terdapat penyakit ginjal atau kadar kreatininnya normal. Hal ini menyebabkan ekskresi obat sering berkurang, dengan akibat perpanjangan atau intensitas kerjanya. Obat yang mempunyai waktu paruh panjang perlu diberi dalam dosis lebih kecil bila efek sampingnya berbahaya.

Dalam setiap keadaan kita perlu memakai dosis lebih kecil bila dijumpai penurunan fungsi ginjal, khususnya bila memberi obat yang mempunyai batas keamanan yang sempit. Alopurinol dan petidin, dua obat yang sering digunakan pada lansia memproduksi metabolit aktif, sehingga kedua obat ini juga perlu diberi dalam dosis lebih kecil pada lansia.

Fungsi Hati

Penurunan fungsi hati tidak sepenting penurunan fungsi ginjal. Hal ini disebabkan karena hati memiliki kapasitas yang lebih besar, sehingga penurunan fungsi hati tidak begitu berpengaruh. Kejenuhan metabolisme oleh hati bisa terjadi bila diperlukan bantuan hati untuk metabolisme dengan obat-obat tertentu.
First-pass effect dan pengikatan obat oleh protein (protein-binding) berpengaruh penting secara farmakokinetik. Obat yang diberikan oral diserap oleh usus dan sebagian terbesar akan melalui Vena porta dan langsung masuk ke hati sebelum memasuki sirkulasi umum. Hati akan melakukan metabolisme obat yang disebut first-pass effect dan mekanisme ini dapat mengurangi kadar plasma hingga 30% atau lebih. Kadar yang kemudian ditemukan dalam plasma merupakan bioavailability suatu produk yang dinyatakan dalam prosentase dari dosis yang ditelan. Obat yang diberi secara intra-vena tidak akan melalui hati dahulu tapi langsung masuk dalam sirkulasi umum. Protein-binding juga dapat menimbulkan efek samping serius. Obat yang diikat banyak oleh protein dapat digeser oleh obat lain yang berkompetisi untuk ikatan dengan protein seperti aspirin, sehingga kadar aktif obat pertama meninggi sekali dalam darah dan menimbulkan efek samping. Warfarin, misalnya, diikat oleh protein (albumin) sebanyak 99% dan hanya 1% merupakan bagian yang bebas dan aktif. Proses redistribusi menyebabkan 1% ini dipertahankan selama obat bekerja. Bila kemudian diberi aspirin yang 80-90% diikat oleh protein, aspirin menggeser ikatan warfarin kepada protein sehingga kadar warfarin-bebas naik mendadak, yang akhirnya menimbulkan efek samping perdarahan spontan. Aspirin sebagai antiplatelet juga akan menambah intensitas perdarahan. Inipun bisa terjadi dengan aspirin yang mempunyai waktu-paruh plasma hanya 15 menit. Banyak obat geser-menggeser dalam proses protein-binding bila beberapa obat diberi bersamaan. Sebagian besar mungkin tidak berpengaruh secara klinis, tetapi untuk obat yang batas keamanannya sempit dapat membahayakan penderita.

Anonim,2001,Obat untuk Kaum Lansia edisi kedua, ITB, Bandung

Anonim, 2008, geriatri, http://www. rskariadi.com, diakses pada tanggal 25 Februari 2009

Anonim,2008, Terapi pada Usia Lanjut, http//: pojokapoteker.blogspot.com, diakses tanggal 19 Maret 2009

Prest,M.,2003,Penggunaan Obat pada Lanjut Usia dalam Aslam,M;Tan,C.K&Prayitno,A., Farmasi Klinis;Menuju Pengobatan yang Rasional dan Penghargaan Pilihan Pasien, 203-204, Gramedia, Jakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s