Penggunaan Filgrastim Dalam Kemoterapi

Disusun oleh :

Amelia Christina T. (068114096)

Josephine Susanto (068114097)

Filgrastim merupakan salah satu jenis dari G-CSF (Granulocyte-Colony Stimulating Factor). G-CSF sendiri merupakan Haematopoietic Growth Factor yang merangsang sum-sum tulang menghasilkan lebih banyak sel darah putih. Filgrastim merupakan suatu protein “non-giycosylated” yang murni dan dihasilkan secara alami oleh tubuh, terdiri dari 175 asam amino. Filgrastim dapat dihasilkan dari strain bakteri Escherichia coli yang telah diubah secara genetik dengan penambahan suatu gen untuk menghasilkan “granulocyte-colony stimulated factor”.

Khasiat dan efek

Faktor perangsang koloni granulosit manusia adalah suatu glikoprotein yang mengatur produksi dan pelepasan neutrofil fungsionil dari sumsum tulang. Rekombinan Filgrastim dapat meningkatkan jumlah neutrofil darah tepi dalam waktu 24 jam, dengan sedikit peningkatan jumlah monosit. Peningkatan jumlah neutrofil dipengaruhi oleh jumlah dosis yang diberikan. Neutrofil yang dihasilkan sebagai respon terhadap Filgrastim, menunjukkan fungsi normal atau meninggi. Pada penghentian terapi dengan Filgrastim, jumlah neutrofil dalam sirkulasi berkurang 50 % dalam waktu 1 -2 hari dan mencapai normal dalam waktu 1 -7 hari. Pengobatan dengan Filgrastim pada pasien yang sedang menjalani kemoterapi sitotoksik akan mengurangi secara bermakna insiden, keparahan dan lamanya neutropenia dan “febril Neutropenia”. Pengobatan dengan Filgrastim dan kemoterapi sitotoksik diharapkan mengurangi jumlah pasien yang dirawat, mempersingkat lama perawatan dirumah sakit, dan mengurangi kebutuhan akan antibiotik dibandingkan bila pasien tersebut hanya diobati dengan kemoterapi sitotoksik.

Farmakokinetik

Terdapat hubungan linear positif antara dosis dan konsentrasi Filgrastim dalam serum, baik pemberian melalui injeksi intravena maupun subkutan. Setelah pemberian dosis tunggal Filgrastim 1,7 -69,0 μg/kg (infuse intravena singkat, lebih dari 30 menit) kadar puncak Filgrastim adalah sekitar 5 -1840 ng/ml. Setelah pemberian subkutan pada dosis yang dianjurkan, konsentrasi puncak dalam serum yang mencapai 118 ng/ml dipertahankan diatas 10 ng/ml selama 8 -16 jam. Volume distribusi dalam darah kira-kira 150 ml/kg. Bersihan Filgrastim mengikuti farmakokinetik orde I setelah pemberian intravena dan subkutan. Waktu paruh eliminasi serum dari Filgrastim lebih kurang 3,5jam, dengan kecepatan bersihan rata-rata 0,6 ml/menit/kg. Pemberian infus Filgrastim terus menerus selama 28 hari pada pasien yang dalam masa pemulihan setelah transplantasi sumsum tulang .autolog tidak menyebabkan akumulasi obat dan waktu paruh eliminasi yang berbeda.

Indikasi

Filgrastim diindikasikan untuk mengurangi lamanya neutropenia dan insiden febril neutropenia pada pasien dengan penyakit “non-myeloid malignancy” yang diobati dengan kemoterapi sitotoksik.

Dosis dan Cara Pemakaian

Dosis yang dianjurkan : 0,5 juta unit (5 ug) /kg berat badan (setara dengan 16,6μl larutan injeksi), diberikan sekali sehari. Karena itu , 1 vial Filgrastim 30 juta unit dapat diberikan pada pasien dengan berat badan 60 kg/hari. “Complete Blood Count ” (CBC) dan jumlah platelet harus diketahui lebih dahulu sebelum melakukan pengobatan dengan Filgrastim dan dimonitor dua kali seminggu selama pengobatan. Dosis dapat ditingkatkan dengan kenaikan 5 mcg/kg pada tiap siklus kemoterapi, tergantung dari lamanya dan beratnya titik terendah “Absolut Neutrophil Count” (ANC). Filgrastim harus diberikan setiap hari selama 2 minggu, sampai ANC mencapai 10.000/mm3, setelah terjadi nadir neutrofil yang diinduksi kemoterapi. Lamanya pengobatan dengan Filgrastim yang diperlukan untuk melemahkan neutropenia yang disebabkan kemoterapi, tergantung pada potensi myelosuppressive dari kemoterapi yang digunakan. Filgrastim harus dihentikan jika ANC melampaui 10.000 /mm3 setelah terjadi titik terendah neutrofil akibat kemoterapi. Pada uji fase III , khasiat telah diamati pada dosis 4 -8 mcg /kg/hari.

Cara Pemberian

Filgrastim dapat diberikan sebagai injeksi subkutan atau infus intravena jangka pendek, diencerkan dalam larutan glukosa 5 % diberikan dalam waktu lebih dari 30 menit (lihat cara pengenceran). Dosis permulaan Filgrastim tidak boleh diberikan kurang dari 24 jam setelah dan sebelum kemoterapi sitotoksik. Dosis per-hari Filgrastim harus diteruskan sampai titik terendah neutrofil yang diinginkan dilampaui, dan jumlah neutrofil kembali pada batas-batas normal. Lama pengobatan diperkirakan sampai 14 hari, tergantung dari jenis, dosis dan jadwal kemoterapi sitotoksik yang digunakan. Pada pasien penerima kemoterapi sitotoksik, kenaikan jumlah neutrofil biasanya terlihat dalam 1 -2 hari setelah permulaan terapi dengan Filgrastim. Akan tetapi, untuk memperoleh respon terapi yang terus menerus, pengobatan dengan Filgrastim tidak boleh dihentikan sebelum titik terendah yang diinginkan dilewati, dan jumlah neutrofil normal kembali. Tidak dianjurkan penghentian pengobatan Filgrastim sebelum titik terendah neutrofil yang diinginkan dicapai. Pada pasien yang diobati dengan kemoterapi sitotoksik dan transplantasi sumsum tulang autolog, Filgrastim dapat diberikan melalui infus subkutan atau infus intravena yang diencerkan dalam 20 -50 ml larutan glukosa 5 %. Dosis permulaan Filgrastim tidak boleh diberikan kurang dari 24 jam setelah kemoterapi sitotoksik, tetapi harus diberikan dalam waktu 24 jam pada infus sumsum tulang. Khasiat dan keamanan Filgrastim yang diberikan lebih dari 28 hari pada keadaan ini belum diketahui dengan pasti.

Cara pengenceran

Jika dibutuhkan, Filgrastim dapat diencerkan dalam larutan glukosa 5%. Filgrastim yang telah diencerkan dapat diserap oleh wadah gelas atau bahan-bahan plastik. Namun, bila diencerkan dengan baik, Filgrastim cocok dengan wadah gelas dan berbagai plastik, termasuk PVC, polyolefin (suatu Co-polymer dari polypropylene dan polyethylene) dan polypropylene. Jika Filgrastim diencerkan pada konsentrasi < 1,5 juta unit (15 μ g)/ml, “human serum albumin” (HSA) harus ditambahkan sehingga dicapai konsentrasi akhir 2 mg/ml.

Contoh : Dalam volume akhir injeksi 20 ml, dosis total Filgrastim yang kurang dari 30 juta unit (300 μg) harus ditambahkan 0,2 ml 20% human albumin solution Ph.Eur. Pengenceran hingga konsentrasi akhir kurang dari 0,2 juta unit ( 2 μg) perml tidak dianjurkan.

Kontraindikasi

Filgrastim tidak boleh diberikan pada pasien yang hipersensitif terhadap obat ini dan terhadap zat-zat lain di dalamnya. Filgrastim tidak boleh diberikan jika dimaksudkan untuk meningkatkan dosis kemoterapi Sitoktoksik yang dianjurkan.

Peringatan Khusus Pada Penggunaan Pertumbuhan Sel Ganas

Granulocyte-colony stimulating factor” dapat menyebabkan pertumbuhan sel-sel myeloid secara in vitro dan efek yang sama dapat terlihat pada beberapa sel-sel non-myeloid secara in vitro. Keamanan dan khasiat pemberian Filgrastim pada pasien-pasien dengan “myelodysplasia” leukemia myelogenous akut atau leukemia myelogenous kronis, belum diketahui dengan pasti. Karena adanya kemungkinan pertumbuhan tumor, penggunaan Filgrastim pada keganasan yang bersifat myeloid harus hati-hati. Uji klinik belum membuktikan secara pasti bahwa Filgrastim mempengaruhi perkembangan sindroma displasia myeloid menjadi leukemia myeloid akut. Pemberian Filgrastim harus hati-hati pada kondisi awal keganasan myeloid (pre-malignant myeloid condition).

Leukositosis

Jumlah sel darah putih 100 x 109 / L atau lebih ditemukan pada kurang dari 5% pasien pemakai Filgrastim dengan dosis 0,3 juta unit/kg/hari ( 3 μg/kg/hari), Tidak ada akibat langsung yang merugikan yang timbul akibat leukositosis ini. Meskipun demikian mengingat resiko yang dapat timbul pada leukositosis berat, hitung jumlah sel darah putih harus dilakukan secara teratur selama pengobatan dengan Filgrastim. Jika jumlah leukosit lebih dari 50 x 109/1 setelah titik terendah dicapai, pemberian Filgrastim harus segera dihentikan.

Resiko sehubungan dengan peningkatan dosis kemoterapi

Perhatian khusus harus dilakukan ketika mengobati pasien dengan kemoterapi dosis tinggi, karena perbaikan tumor belum terlihat dan peningkatan dosis dari obat kemoterapi dapat menyebabkan meningkatnya toksisitas terhadap jantung, paru-paru, neurologi dan dermatologi. Pengobatan dengan Filgrastim tidak menghambat trombositopenia dan anemia karena disebabkan oleh kemoterapi myelosuppressive. Karena kesanggupan untuk menerima dosis kemoterapi yang lebih tinggi (misalnya dosis penuh dari jadwal pengobatan), pasien mungkin mempunyai resiko terkena trombositopenia dan anemia. Dianjurkan pemantauan secara teratur jumlah sel pembeku darah dan hematokrit. Perlu perhatian khusus pada pemberian obat-oabat kemoterapi tunggal atau kombinasi, yang dapat menyebabkan trombositopenia berat. Pemantauan kepadatan tulang diperlukan pada penderita osteoporosis yang diobati dengan Filgrastim selama lebih dari 6 bulan. Penelitian penggunaan Filgrastim pada penderita kegagalan fungsi ginjal dan kegagalan fungsi hati berat, belum dilakukan,dan karena itu penggunaannya pada penderita ini tidak dianjurkan. Efek Filgrastim pada pasien dimana induk myeloidnya berkurang sangat banyak, belum diteliti. Filgrastim bekerja terutama pada prekursor neutrofil dalam meningkatkan jumlah neutrofil. Karena itu pada pasien yang prekursor neutrofilnya berkurang (seperti penderita yang diobati dengan radioterapi atau kemoterapi), respons neutrofil dapat berkurang.

Penggunaan selama kehamilan dan menyusui

Keamanan penggunaan Filgrastim pada wanita hamil belum dibuktikan. Pada penelitian menggunakan tikus dan kelinci, terbukti Filgrastim tidak bersifat teratogenik. Meningkatnya resiko keguguran telah diamati pada kelinci, tetapi tidak tampak adanya cacat. Pada kehamilan, kemungkinan resiko pada fetus akibat pemakaian Filgrastim harus dipertimbangkan terhadap manfaat terapi. Belum diketahui apakah Filgrastim diekskresi dalam air susu ibu. Filgrastim tidak dianjurkan untuk digunakan oleh wanita menyusui.

Efek samping

Pemberian Filgrastim pada dosis yang dianjurkan, seringkali dihubungkan dengan nyeri otot/rangka, biasanya ringan atau sedang, tetapi kadang-kadang berat, dan hal ini dapat diatasi dengan obat-obat analgesik standard. Efek samping yang frekwensinya kurang termasuk gangguan berkemih (terutama disuria ringan atau sedang). Penurunan tekanan darah, bersifat sementara tidak memerlukan pengobatan klinis. Tergantung dari dosis, seringkali dapat terjadi peningkatan dari lactate dehydrogenase, alkali phosphatase, asam urat serum, dan gamma-glutamyl transpeptidase yang biasanya ringan atau sedang dan bersifat reversibel. Telah diamati jumlah sel darah putih 100 x 109 /1 atau lebih, pada kurang dari 5% pasien yang menerima Filgrastim dengan dosis diatas 0,3 juta unit/kg/hari (3μ g/kg/hari), tidak ada akibat yang langsung merugikan yang timbul akibat leukositosis ini. Pada uji klinis terkontrol dengan placebo, secara acak, Filgrastim tidak meningkatkan efek klinis yang merugikan sehubungan dengan kemoterapi sitotoksik. Efek samping yang dilaporkan terjadi dengan frekwensi yang sama pada pasien yang diobati dengan Filgrastim/kemoterapi dan placebo/kemoterapi adalah mual, dan muntah, kebotakan, diare, kelelahan, nafsu makan berkurang, radang selaput lendir, sakit kepala, batuk, kulit merah, nyeri dada, kelemahan, sakit tenggorokan, konstipasi dan nyeri-nyeri yang tidak spesifik. Gangguan vaskular (misalnya ” veno-occlusive disease” dan gangguan volume cairan) kadang-kadang ditemukan pada pasien yang diobati dengan kemoterapi dosis tinggi yang disertai dengan transplantasi sumsum tulang autolog. Hubungannya dengan Filgrastim belum diketahui dengan pasti.

Daftar Pustaka

Welte K, Bonilla MA, Gillio AP, et al. Recombinant human G-CSF: Effects on hematopoiesis in normal and cyclophosphamide treated primates. J Exp Med. 1987;165:941-948

http://www.neupogen.com

http://www.hompedin.org/download/Neupogen_Filgastim_Roche.pdf

http://www.cancerbackup.org.uk/treatments/supportivetherapies/haematopoieticgrowthfactors#6452

2 responses to “Penggunaan Filgrastim Dalam Kemoterapi

  1. gimana cara pake filgratim?
    harus disuntik ga?
    trims

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s