Pil KB diminum Bersama Antibiotik…iiiiiiihhhwaaooowwww

Maret 2009

Maria Fea Yessy A 068114152

Citra Puspita Sari 068114155

Kontroversi penggunaan obat pil KB dengan obat antimikroba masih menjadi perdebatan, menurut para ahli kedua obat ini tidak dapat bersinergi namun justru keduanya malah saling berkompetisi di dalam tubuh pengonsumsinya. Karena diduga kedua obat tersebut dimetabolisme dengan enzim yang sama yaitu sitokrom P450, sehingga jika dikonsumsi bersamaan maka dapat mengurangi efek terapi salah satu dari kedua obat tersebut.

Kandungan zat aktif dalam pil KB yang banyak digunakan adalah Etinil Estradiol dimana dalam satu pil yang dapat mencapai sistemik hanya 40-50%nya sedangkan sisanya dimetabolisir di saluran pencernaan dan hati. Etinil estradiol yang telah melalui peredaran darah akan diserap oleh tubuh, dan yang tidak terserap akan mengalami konjugasi dengan senyawa sulfat di dinding saluran cerna, lalu ditranspor di pembuluh darah vena ke dalam liver dimana akan terjadi hidroksilasi dan konjugasi dengan asam glukoronat. Dengan proses metabolisme ini, etinil estradiol berubah menjadi senyawa yang tidak aktif, yang pada akhirnya akan dikeluarkan melalui feses/tinja.

Etinil Estradiol dimetabolisme oleh enzim Sitokrom P450 yang mengkatalisir proses hidroksilasi.Enzim Sitokrom P450 ini dipengaruhi oleh sifat genetik, sehingga setiap individu, termasuk dari etnik yang berbeda, bisa memiliki perbedaan kemampuan untuk memproses hidroksilasi etinil estradiol dalam tubuh. Estrogen yang tidak terhidroksilasi akan mengalami konjugasi dengan glukoronat, dan kemudian diekskresikan ke dalam empedu, lalu masuk ke dalam usus dan dikeluarkan melalui tinja. Namun, sebagian dari estrogen yang melalui usus tadi masih dapat diproses lagi oleh suatu bakteria usus yaitu spesies Clostridia kembali menjadi bentuk yang aktif/bebas dan dapat mengalami re-sirkulasi dalam peredaran darah sistemik dan mengalami penyerapan lagi.

Salah satu contoh antibiotik yang dapat mempengaruhi metabolisme Etinil Estradiol adalah Rimfampisin. Antibiotik ini merupakan induser yang poten terhadap enzym sitokrom P450, sehingga meningkatkan proses metabolisme etinil estradiol menjadi senyawa tak aktif, yang pada gilirannya menyebabkan berkurangnya konsentrasi pil KB tersebut dalam tubuh dan menyebabkan efeknya jadi berkurang. Selain Rimfampisin obat anti jamur yaitu Ketokonazol dilaporkan juga menghambat enzim sitokrom P450, yang berarti mengurangi metabolisme pil KB menjadi bentuk tak aktifnya.

Etinil Estradiol ini diubah menjadi senyawa bebas yang bisa dire-sirkulasi dan dire-absorpsi oleh bakteri usus. Namun dengan adanya obat-obatan antibiotik maka bakteri usus spesies Clostridia menjadi terbunuh akibatnya efek pil KB berkurang. Antibiotika seperti penisilin dan tetrasiklin dilaporkan dapat menyebabkan kegagalan pil KB.

Walaupun menurut beberapa studi di atas, kemungkinan kejadian interaksi ini hanya terbatas, terutama pada wanita yang memiliki aktivitas enzim pemetabolisme dan sirkulasi enterohepatik yang berlebihan, namun sampai saat ini tidak ada cara untuk mengindentifikasi apakah seorang wanita termasuk kelompok tersebut atau tidak. Karena itu, untuk menghindari kemungkinan kegagalan pil KB, adalah lebih bijaksana jika pasien maupun dokter penulis resep berhati-hati terhadap adanya kombinasi antibiotika/antijamur dengan pil KB. Bagi wanita yang mengkonsumsi rifampisin dalam jangka panjang, sebaiknya memilih cara kontrasepsi yang lain, misalnya dengan suntik KB, spiral, kondom, atau lainnya. Wanita yang menggunakan obat jamur griseofulvin juga perlu waspada terhadap berkurangnya efek pil KB, dan sebaiknya tidak menggantungkan diri pada cara kontrasepsi ini. Cara lain adalah dengan menghindari kontak seksual selama 7 hari pertama pemakaian antibiotika dan 7 hari berikutnya. Jadi tegasnya, jika Anda mendapatkan resep antibiotika, sementara Anda sedang menggunakan pil KB, maka sampaikan pada dokter Anda dan konsultasikan mengenai kemungkinan interaksi ini. Dan yang penting, gunakan juga cara kontrasepsi lain untuk mendukung kerja pil KB yang digunakan selama Anda mengkonsumsi antibiotika/antijamur. Bagaimanapun, berhati-hati akan lebih baik daripada “terlanjur” hamil tanpa direncanakan, apalagi diinginkan.


Ikawati, Zullies, 2008, Hati-hati, Obat Antibiotik dan Obat Antijamur Dapat Menurunkan Efek Pil KB, http://zulliesikawati.wordpress.com, diakses 19 Maret 2009

Kusmarjadi, Didi, 2008, 5 Penyebab Kegagalan Pil KB, http://www.drdidispog.com, diakses 19 Maret 2009


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s