Apa Hasil ‘Kolaborasi” Parasetamol dan Etanol ya??

I Putu Chandradinata                           (078114002)

Pascalia Riska Prastika H.                   (078114037)

Parasetamol  merupakan salah satu analgesik yang  tergolong sebagai obat bebas. Banyak jenis nama  dagang dari obat yang mengandung parasetamol yang beredar dan telah dikenal oleh masyarakat sehingga penggunaannya sangat luas. Di lain pihak, pada masa global saat ini penggunaan alkohol sebagai minuman juga semakin meningkat. Masyarakat yang mengkonsumsi alkohol bila menderita sakit tentu akan berusaha  menghilangkan rasa sakit tersebut dengan berbagai cara, misalnya mengonsumsi obat bebas seperti parasetamol.  Pasien yang berobat pada tenaga medis tertentu,  kemungkinan adalah seorang peminum alkohol. Bila  pasien tersebut diberikan parasetamol maka akan terjadi interaksi antara parasetamol dengan alkohol.

Parasetamol dan etanol merupakan senyawa yang bila dikonsumsi melebihi dosis dapat mengakibatkan efek hepatotoksik. Bagaimana bila kedua senyawa ini dikonsumsi bersama-sama??

Pada penellitian yang dilakukan di Laboratorium Patologi Klinik Fakultas Kedokteran Universitas Udayana/RSUP Sanglah Denpasar dilaporkan bahwa penggunaan parasetamol bersamaan dengan etanol secara akut dan kronis dapat memperkecil  kadar SGPT dan SGOT  pada darah mencit dibandingkan dengan penggunaan parasetamol saja. Dimana kadar SGPT dan SGOT  merupakan indikator kerusakan hepar (efek hepatotoksik) yang dapat dilihat pada grafik dibawah ini.

A. Kontrol, B. Parasetamol, C. Alkohol Akut, D. Alkohol Kronis, E. Alkohol Akut Parasetamol, F. Alkohol Kronis Parasetamol

Grafik Perbandingan SGOT dan SGPT kelompok kontrol dan kelompok perlakuan

Parasetamol yang diberikan dengan dosis 7,5 mg /ekor terjadi peningkatan kadar SGOT dan SGPT darah mencit. Kadar SGOT dan SGPT tersebut diukur setelah 24 jam pemberian parasetamol. Kenaikan kadar SGOT dan SGPT disebabkan karena terbentuknya metabolit toksik atau metabolit reaktif dari parasetamol yaitu N-acetyl-p-benzoquinon imine (NAPQI) yang terjadi akibat dari aktivasi enzim sitokrom P-450. Ada beberapa jenis enzim yang tergolong dapat mengoksidasi  parasetamol yaitu sitokrom 2E1, 1A2, 3A4 dan 2A6 menjadi metabolit reaktif. Dalam keadaan normal  NABQI akan ditoksifikasi oleh glutation (GSH) menjadi acetaminophen-GSH. Pembe- rian parasetamol dosis tinggi (7,5 mg/ekor)  menyebabkan penurunan GSH hingga 90%. Akibatnya metabolit reaktif NABQI akan berikatan dengan cystein group protein membentuk acetaminophen-protein adducts baik dengan enzim maupun protein dalam sel dan dalam mitokondria, sehingga terjadi gangguan fungsi pada akhirnya terjadi kerusakan sel/  lisis/nekrosis.

Hasil yang menarik pada penelitian ini adalah pemberian parasetamol yang diawali dengan alkohol akut dan kronis ternyata menurunkan kadar SGOT dan SGPT dibandingkan dengan pemberian parasetamol saja (lihat grafik B, E dan F). Pada beberapa referensi dikatakan pemberian parasetamol dapat bersifat hepatotoksik pada pasien  peminum alkohol sedang sampai berat, terutama peminum alkohol kronis.

Interaksi antara parasetamol dengan alkohol di dalam hepar merupakan interaksi yang sangat kompleks sebab pemberian alkohol akut dan kronis menimbulkan efek yang berlawanan.

Pada percobaan dengan binatang yang diberikan etanol kronis menimbulkan induksi terhadap microsomal enzyme pada hepar. Enzim yang diinduksi oleh etanol adalah CYP2E1 yang merupakan enzim yang penting dalam proses metabolisme oksidatif dari parasetamol. Enzim CYP2E1 akan memecah parasetamol menjadi metabolit toksik yaitu N-acetyl-p-benzoquinoneimine. Pada peminum alkohol kronis terjadi induksi oleh alkohol tersebut terhadap enzim CYP2E1 bisa mencapai 2 kali lipat.

Alkohol/etanol walaupun menginduksi enzim CYP2E1, ternyata  juga dapat  menghambat  kerja  dari   enzim CYP2E1. Penghambatan ini terjadi karena enzim CYP2E1 lebih banyak berikatan dengan ethanol daripada parasetamol sehingga pembentukan metabolit toksik (NABQI) dari parasetamol berkurang. Ini berarti pemberian etanol dan parasetamol secara  bersamaan akan menguntungkan sebab alkohol dapat melindungi hepar dari parasetamol .

Perlindungan etanol terhadap hepar akibat parasetamol akan  hilang  setelah 6 jam pemberian etanol. Pada binatang percobaan  efek hepatotoksik dari parasetamol akan meningkat 16-18 jam setelah etanol dihentikan. Pada penelitian lain dilaporkan bahwa efek hepatotoksik dari parasetamol pada peminum alkohol kronis akan  meningkat pada keadaan puasa. Pada keadaan puasa atau kurang gizi  kemampuan  konjugasi dari metabolit toksik parasetamol akan  menurun. Efek hepatotoksik dari parasetamol juga akan meningkat akibat menurunnya sintesis glutation. Pemberian alkohol juga akan meningkatkan pembentukan radikal bebas dalam hepar. Radikal bebas akan memerlukan  glutation, sebab pada setiap sel diperlukan glutation  sebagai antioksidan penting.    Akibatnya efek hepatotoksik parasetamol akan meningkat.

Daftar Pustaka

Jawi, I Made, dkk., 2008, Efek Parasetamol Terhadap Kadar  SGPT dan SGOT Darah Mencit Yang Diberikan Etanol Akut dan Kronis,  Medisinus,  Jakarta Selatan

Lee, Anne, 2006, Adverse Drug Reactions 2nd Edition, hal 196, The Pharmaceutical Press, Great Britain



A. Kontrol, B. Parasetamol, C. Alkohol Akut, D. Alkohol Kronis, E. Alkohol Akut Parasetamol, F. Alkohol Kronis Parasetamol

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s