FARMAKOKINETIKA OBAT PADA BAYI

Margareth Christina H. 078114012
Helen 078114024
Margareta Krisantini P.A 078114025
Eva Kristina 078114026
Mikha Pratama Sari 078114029
“ FKK A “

FARMAKOKINETIKA OBAT PADA BAYI
Penggunaan obat pada bayi harus dipertimbangkan secara khusus karena adanya perbedaan laju perkembangan organ, sistem dalam tubuh maupun enzim yang bertanggung jawab terhadap metabolisme dan ekskresi obat. Oleh karena itu, dalam pengobatan, bayi dan anak tidak dapat diperlakukan sebagai orang dewasa berukuran kecil. Dosis, bentuk sediaan maupun rute pemberiannya harus diperhatikan, agar tercapai hasil terapi yang optimum.
Proses fisiologis yang mempengaruhi variabel farmakokinetika pada bayi berubah secara bermakna pada tahun pertama kehidupan, khususnya selama beberapa bulan pertama. Oleh sebab itu, harus diberikan perhatian khusus pada farmakokinetika obat pada usia tersebut.
A. ABSORPSI OBAT
Faktor yang mempengaruhi absorpsi obat meliputi :
1. Aliran Darah pada Tempat Pemberian Obat
Absorpsi setelah suntikan intramuskuler atau sub kutan pada bayi baru lahir seperti pada orang dewasa sangat tergantung pada kecepatan aliran darah ke daerah otot atau daerah sub kutan tempat suntikan.
Bayi preterm yang sakit, memerlukan suntikan intramuskuler namun pada bayi massa otot yang dimiliki sangat sedikit. Kondisi ini diperumit dengan adanya pengurangan perfusi perifer sehingga menyebabkan absorpsi berjalan lambat karena obat tetap tinggal di otot. Apabila perfusi meningkat secara tiba-tiba, akan menyebabkan terjadinya peningkatan jumlah obat yang memasuki sirkulasi sehingga terjadi konsentrasi obat yang tinggi dan menimbulkan ketoksikan.
2. Fungsi Saluran Cerna
Perubahan biokimia dan fisiologis yang bermakna terjadi pada saluran cerna neonatus tidak lama setelah bayi lahir. Pada bayi full-term, sekresi asam lambung terjadi tidak lama setelah kelahiran dan meningkat perlahan setelah beberapa jam. Pada bayi pre-term, sekresi asam lambung terjadi lebih lambat dengan konsentrasi tertinggi terjadi pada usia 4 hari. Oleh karenanya, obat yang dinonaktifkan oleh sekresi asam lambung sebaiknya tidak diberikan secara oral.
Waktu pengosongan lambung diperpanjang (sampai 6 atau 8 jam) pada kurang lebih hari pertama kehidupan. Oleh karena itu, obat dapat diabsorpsi dengan lebih sempurna di dalam lambung terutama untuk obat yang diabsorpsi di dalam lambung. Sedangkan untuk obat yang diabsorpsi di dalam usus, efek terapeutiknya tertunda. Peristaltis pada bayi baru lahir berjalan lambat sehingga jumlah obat yang diabsorbsi lebih banyak sehingga dapat menimbulkan toksisitas.
Aktivitas enzim saluran cerna cenderung lebih rendah pada bayi baru lahir daripada orang dewasa. Bayi baru lahir memiliki konsentrasi asam empedu dan lipase yang rendah yang dapat menurunkan absorpsi obat yang larut lipid.

B. DISTRIBUSI OBAT
Proses distribusi obat dalam tubuh sangat dipengaruhi oleh
1. Komposisi Tubuh
Neonatus memiliki presentase air sebesar 70%-75% sedangkan pada orang dewasa 50%-60%. Presentase air pada neonatus full-term 70% dari berat badannya dan pada neonatus pre-term 85% dari berat badannya. Bayi pre-term memiliki lemak lebih sedikit dibandingkan bayi full-term. 40% dari berat badan neonatus merupakan cairan ekstrasel yang berperan penting untuk menentukan konsentrasi obat pada reseptor. Dengan kata lain, bayi memiliki cairan ekstrasel yang lebih banyak dibanding orang dewasa sehingga konsentrasi obat pada reseptor lebih banyak yang pada akhirnya dapat menimbulkan ketoksikan. Oleh karena itu, diperlukan pengaturan dosis pada bayi.
2. Ikatan Obat pada Protein Plasma
Ikatan obat-protein plasma pada neonatus pada umumnya kurang kuat. Kemampuan ikatan protein yang kurang ini mungkin disebabkan oleh perbedaan kualitatif dan kuantitatif pada protein plasma neonatus dan juga karena adanya substrat-substrat eksogen dan endogen pada plasma. Kurang kuatnya kemampuan ikatan obat-protein ini menyebabkan konsentrasi obat bebas dalam plasma meningkat sehingga dapat meningkatkan timbulnya toksisitas.

3. Permeabilitas Membran
Barrier darah otak pada bayi baru lahir relatif lebih permeabel. Hal ini memungkinkan beberapa obat melintasi aliran darah otak secara mudah. Keadaan ini menguntungkan, misalnya pada pengobatan meningitis dengan antibiotika.

C. METABOLISME OBAT
Aktivitas metabolisme obat pada neonatus lebih rendah daripada orang dewasa. Hal ini menyebabkan laju klirens obat lambat dan waktu paruh eliminasi obat panjang. Suatu obat mungkin saja dieliminasi dalam beberapa hari pada dewasa tetapi memerlukan beberapa minggu untuk dieliminasi pada neonatus. Adanya hal-hal semacam ini menyebabkan perubahan dosis obat pada bayi dan anak.
Pada neonatus dimana si ibu menerima obat yang dapat menginduksi maturitas secara dini pada enzim hepatis janin, maka kemampuan neonatus untuk memetabolisme obat tertentu akan lebih besar daripada neonatus dimana si ibu tidak menerima obat serupa.

D. EKSKRESI OBAT
Eliminasi ginjal merupakan rute utama pada obat-obat antimikrobial. Eliminasi ginjal sangat bergantung pada Glomerolus Filtration Rate (GFR) dan sekresi tubular. Kedua fungsi ini belum berkembang secara sempurna pada neonatus dan akan menjadi sempurna pada usia 2 tahun. GFR pada neonatus sekitar 30% GFR dewasa. Oleh karena itu, pada bayi, obat dan metabolit aktif yang diekskresi lewat urin cenderung terakumulasi. Akibatnya, obat-obat yang diekskresi dengan filtrasi glomerulus (seperti digoksin dan gentamisin) dan obat-obat yang sangat terpengaruh sekresi tubuler (misalnya penisilin) paling lambat diekskresi pada bayi baru lahir.
Renal Blood Flow (RBF) atau aliran darah ginjal akan mempengaruhi laju eliminasi obat oleh ginjal. Klirens suatu obat akan meningkat secara bermakna pada awal masa kanak setelah usia 1 tahun. Hal ini terutama dikarenakan relatif meningkatnya eliminasi renal dan hepatik suatu obat pada anak dibanding dewasa. Karenanya, dosis obat yang akan diberikan pada bayi dan anak harus disesuaikan.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2003, Penggunaan Obat pada Anak, http://piolk.ubaya.ac.id/datanb/piolk/rasional/20070322154542.pdf, diakses tanggal 25 Maret 2010
Anonim, 2010, Terapi Obat pada Penderita Pediatri, http://www.pediatrik.com/isi03.php?page=html&hkategori=Ilmiah%20Popular&direktori=ilmiah_popular&filepdf=0&pdf=&html=20060220-p0fl2yilmiah_popular.htm, diakses tanggal 25 Maret 2010
Gusrukhin, 2008, Farmakoterapi pada Neonatus, Masa Laktasi dan Anak, http://gusrukhin.files.wordpress.com/2008/08/laktasi-2.pdf, diakses tanggal 24 Maret 2010
Katzung, Bertram G., 2004, Farmakologi Dasar dan Klinik, 475-479, Salemba Empat, Jakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s