Prevent and Treat High Blood Pressure! (Ubah gaya hidup anda maka anda akan merasakan perubahan yang besar! Dan jauh dari obat-obatan

Hal ini akan berlaku baik bagi yang sudah terdiagnosa hipertensi (HT) maupun yang belum terdiagnosa, tapi memiliki kepedulian akan faktor resiko yang mengacu pada terjadinya HT. satu hal yang perlu diingat bahwa tekanan darah yang tinggi tidak dapat disembuhkan, namun dapat dikendalikan.
Hal-hal positif dengan melakukan perubahan gaya hidup:
• Menekan terjadinya kenaikan tekanan darah
• Mencegah maupun “menghambat” terjadinya HT
• Meningkatkan efektivitas dari penggunaan obat-obat antihipertensi
• Menurunkan resiko terkena serangan jantung, stroke maupun penyakit jantung (kardiovaskular) lainnya

Kenali!
Dari orang-orang yang menderita HT, sebesar 20% diantaranya tidak menyadari kondisi mereka masing-masing. Kita adalah pihak yang paling mengenali dan bertanggungjawab atas tubuh kita sendiri, karena itu, kenalilah gejala-gejala yang tubuh kita coba tunjukkan kepada kita, bahwa “something’s wrong inside” supaya kita bisa melakukan treatment yang tepat pula! Karena itu, tidak ada salahnya bila kita merasa ada yang aneh dengan tubuh kita, segeralah menemui pakar kesehatan (dalam hal ini bisa Dokter maupun Apoteker) untuk sekedar berkonsultasi dan mencari second opinion.

Ubah gaya hidup = kurangi resiko!
Meskipun tekanan darah anda masih dinyatakan normal (yaitu sistolik kurang dari 120 mm Hg dan diastolik kurang dari 80 mm Hg) dan tujuan anda adalah untuk pencegahan modifikasi gaya hidup seolah-olah menjadi resep menuju hidup sehat. Namun bagi yang sudah terdiagnosa HT, maka modifikasi gaya hidup yang esensial antara lain:
• Mengurangi asupan garam
• Mengatur berat badan
• Melakukan aktivitas fisik normal, sesuai kemampuan
• Kendalikan stress
• Mengurangi asupan alkohol dan rokok

Lakukan pengobatan dengan baik bila setelah menerima resep dari dokter!
Bagi penderita HT dengan tekanan darah diatas 140/90 mm Hg, maka jelas dibutuhkan obat dalam terapi. Terapi untuk HT biasanya merupakan terapi jangka panjang, bahkan seringkali disebutkan lifetime therapy. Berikut ini merupakan golongan obat yang biasa digunakan dalam terapi HT:
Diuretics

Beta-blockers

ACE inhibitors

Angiotensin II receptor blockers

Calcium channel blockers

Namun yang akan saya beritahukan disini bukanlah mengenai mekanisme pengobatan, namu mengenai efek samping yang kemungkinan muncul akibat penggunaannya.
Diuretik
Kemungkinan terbesar adalah menurunkan suplai mineral potassium pada tubuh. Gejala yang umumnya ditunjukkan adalah tubuh mudah lemah, maupun kram pada bagian kaki. Untuk mengatasinya, anda dapat mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung potassium, atau bisa juga dengan mengkonsumsi tablet potassium bersamaan dengan konsumsi diuretik. Beberapa orang bahkan terkena gout setelah mengonsumsi diuretik dalam jangka panjang.
Orang dengan Diabetes Mellitus tipe 2 (DM2) harus mewaspadai penggunaan diuretik ini karena dapat menyebabkan peningkatan kadar gula darah. Namun para dokter biasanya sudah mewaspadai adanya peresepand diuretik ini pada pasien DM2.

Beta-blockers
Penggunaan golongan ini harus diperhatikan terutama pada wanita yang sedang merencanakan kehamilan, atau pada saat sedang menjalani terapi diketahui pasien wanita tersebut hamil. Untuk hal ini perlu dikonsultasikan ke dokter untuk mendapatkan pengubahan dosis atau mungkin penggantian golongan obat untuk terapi HT. namun, efek samping yang lebih umum terjadi antara lain adalah insomnia, detak jantung yang melambat, gejala seperti asma, tangan dan kaki terasa dingin.

ACE inhibitors
Pasien wanita yang sedang mengonsumsi obat golongan ini sangat tidak diharapkan untuk hamil pada saat terapi! Hal ini karena obat-obat golongan ACE inhibitor ini dapat menyebabkan hipotensi yang mengacu pada kegagalan ginjal sehingga dapat membahayakan terutama nyawa bayi (neonates). Efek samping yang lebih umum terjadi adalah ruam pada kulit, namun untuk konsumsi jangka panjang dapat juga menyebabkan kerusakan ginjal.

ARB
Terkadang menyebabkan pusing. Hampir seperti golongan-golongan sebelumnya, kehamilan tidak diharapkan selama terapi dengan obat antihipertensi. Khusus untuk ARB, konsumsi obat golongan ARB pada masa kehamilan dapat menyebabkan terhambatnya perkembangan janin sehingga terkadang menyebabkan terjadinya malformasi pada janin. Perlu konsultasi lebih lanjut pada dokter mengenai penggunaan obat ini pada wanita hamil.

Calcium Channel Blocker (CCB)
Efek samping yang umumnya ditemui adalah palpitasi, persendian kaki membengkak, konstipasi, pusing.

C.A.Rosita Indah A.
068114170

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s