Morfin, Pereda Nyeri-Pembawa Candu

Marcella Pradita (08-012)

Natalia Endah Utami (08-022)

Wiria Sende Paiman (08-025)

Fransischa Soembarwati (08-054)

Gina Vinrensia (08-062)

Pernah mengalami nyeri atau sakit yang tak tertahankan? Bahkan sudah mengonsumsi obat analgesik seperti parasetamol, asam mefenamat, namun tetap tidak mengurangi rasa nyerinya? Mungkin morfin akan menjadi saran dokter. Tapi bagaimana sebenarnya kerja morfin? Bukankah morfin merupakan golongan narkotika, yang katanya dapat menyebabkan ketagihan, bahkan kecanduan?

Morfin, C17H19NO3, diambil dari nama dewa mimpi bangsa Romawi, Morpheus, yang memiliki efek menghilangkan rasa nyeri, mempengaruhi mood, dan menyebabkan tidur, termasuk dalam golongan obat analgesik narkotik. Morfin dapat digunakan untuk meredakan nyeri ringan sampai berat. Dokter biasanya menggunakan morfin untuk mengurangi rasa sakit pada waktu pembedahan, terapi pada luka dan luka bakar.

Morfin bekerja dengan menghentikan pusat persepsi rasa nyeri pada otak, yaitu pada reseptor spesifik sel saraf yang terdapat pada substantia gelatinosa, dimana sinyal rasa nyeri pertama kali diproses, dan mengurangi pelepasan neurotransmiter dari sel saraf yang menerima sinyal rasa nyeri, sehingga rasa sakit dapat berkurang. Namun tidak semua orang bisa menggunakan morfin sebagai bagian dari terapi nyeri; hanya oleh orang-orang yang telah memiliki toleransi terhadap obat-obat opioid. Dosis tunggal pemberian morfin untuk tujuan terapetik secara parenteral adalah sebesar 10-30 mg, sedangkan untuk pemakaian oral sebesar 30-60 mg.

Sama seperti semua obat pada umumnya, morfin menimbulkan efek samping, dari yang ringan hingga berat. Efek samping ringan berupa konstipasi, mual, muntah, diare, kehilangan nafsu makan, pusing, rasa cemas, dan insomnia; efek samping berat berupa susah bernapas, denyut jantung melemah, linglung, dan euphoria. Seperti telah diketahui, morfin yang merupakan obat golongan narkotika dapat menyebabkan kecanduan bagi penggunanya. FDA (Food and Drug Administration) menggolongkan morfin ke dalam obat kategori C bagi wanita hamil, yang berarti morfin memiliki resiko memberi pengaruh buruk bagi perkembangan janin, tetapi bersifat reversibel dan tidak mengakibatkan malformasi anatomi janin. Salah satu jalur ekskresi morfin adalah melalui air susu, sehingga ibu yang sedang menyusui akan secara tidak sengaja memberikan metabolit morfin kepada si bayi.

Lalu, apakah aman bila kita mengonsumsi morfin sebagai penghilang rasa nyeri? Bagaimana caranya supaya kita yang mengonsumsi morfin tidak menjadi ketagihan atau ketergantungan pada zat tersebut? Morfin memang sangat berbahaya jika digunakan secara terus menerus, karena akan menyebabkan ketergantungan, dan pada akhirnya dapat menyebabkan keadaan putus obat – atau yang lebih umum dikenal dengan sakaw. Maka dari itu sebaiknya morfin digunakan hanya jika diperlukan dan dianjurkan oleh dokter. Penggunaannya pun harus sesuai dengan saran dokter, tidak boleh berlebih baik dosis ataupun waktu pemakaiannya. Selain itu, pemakaian morfin tidak boleh dihentikan secara tiba-tiba, karena dapat menyebabkan sakaw. Maka untuk menghentikan pemakaian morfin sebaiknya dikurangi secara bertahap sampai berhenti. Kesimpulannya, morfin sebetulnya aman saja untuk digunakan, asalkan masih mengikuti aturan pakai dan anjuran dokter, alias tidak menjadi suatu penyalahgunaan.

Referensi:

Anonim, 1999, Masalah Narkotika, Psikotropika dan Obat2 Berbahaya, Mitra Bintibmas, Jakarta

Ma’roef, M., 1986, Narkotika Bahaya dan Penanggulangannya, Karisma Indonesia, Jakarta

Mutschler, E., 1991, Dinamika Obat, edisi ke-5, Penerbit ITB, Bandung

www.drugs.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s