PETIDIN – MICHAEL JACKSON???

Dionysia Giovani Jati – 078114098
Dita Maria Virginia – 078114116
Putu Dyana C. – 078114125
Melly – 088114092
Hermanto – 088114136

Pada artikel di salah satu harian New York diberitakan bahwa sang bintang Michael Jackson ditemukan tewas, dimana diduga kematiannya yang tiba-tiba itu akibat penggunaan obat-obat pembiusan secara berlebihan tanpa pengawasan tenaga medis yang berwenang. Apakah obat-obat pembiusan yang digunakan oleh Michael Jackson? Salah satu obat yang dicurigai dan digunakan olehnya merupakan obat penghilang rasa nyeri golongan narkotik (analgesik-narkotik), yaitu Meperidine HCl atau di Indonesia lebih dikenal dengan nama Petidin. Apa sebenarnya obat ini? Apakah obat penghilang rasa nyeri memang dapat menyebabkan terjadinya kematian?

Struktur kimia Petidin
Meperidine HCl (nama lainnya: Petidin HCl) merupakan salah satu obat analgesik golongan narkotik (analgesik sentral). Petidin ditemukan pada tahun 1939 oleh dua orang ilmuwan Jerman (Eisleb and Schaumann). Pada awal kemunculannya, petidin telah digunakan untuk mengatasi otot yang kaku (spasme). Tidak sama seperti morfin yang memang sudah diciptakan oleh alam, petidin diciptakan melalui sintentis. Petidin termasuk dalam golongan obat yang hampir sama struktur kimianya dengan metadon dan fentanil yang merupakan dua jenis penghilang nyeri yang sudah cukup dikenal. Sediaan yang tersedia adalah tablet 50 dan 100 mg ; suntikan 10 mg/ml, 25 mg/ml, 50 mg/ml, 75 mg/ml, 100 mg/ml. ; larutan oral 50 mg/ml. Akan tetapi sebagian besar pasien tertolong dengan dosis parenteral 100 mg.
Petidin merupakan obat golongan opioid yang memiliki mekanisme kerja yang hampir sama dengan morfin yaitu pada sistem saraf dengan menghambat kerja asetilkolin (senyawa yang berperan dalam munculnya rasa nyeri) serta dapat mengaktifkan reseptor, tertama pada reseptor mu, dan sebagian kecil pada reseptor kappa. Penghambatan asetilkolin dilakukan pada saraf pusat dan saraf tepi sehingga rasa nyeri yang terjadi tidak dirasakan oleh pasien. Onset petidin termasuk cepat dimana efek dapat dirasakan setelah 15 menit obat dimasukkan dan memiliki durasi 2-4 jam. Petidin diindikasikan untuk penderita nyeri berat dan hebat serta nyeri yang berlangsung lama (misalnya: nyeri setelah operasi, nyeri karena infeksi saluran kencing bagian atas, nyeri karena kanker). Petidin lebih efektif dalam nyeri neuropatik.
Adapun perbedaan petidin dan morfin:
1. Petidin memiliki kelarutan dalam lemak lebih besar dibandingkan dengan morfin yang larut dalam air.
2. Metabolisme petidin oleh hepar lebih cepat dan menghasilkan normeperidin, asam meperidinat dan asam normeperidinat. Normeperidin merupakan metabolit yang masih aktif memiliki sifat konvulsi dua kali lipat petidin, tetapi efek analgesinya sudah berkurang 50%.
3. Petidin bersifat atropin menyebabkan kekeringan mulut, kekaburan pandangan dan takikardia.
4. Seperti morfin ia menyebabkan konstipasi, tetapi efek terhadap sfingter oddi lebih ringan.
5. Petidin cukup efektif untuk menghilangkan gemetaran pasca bedah yang tidak ada hubungannya dengan hipiotermi dengan dosis 20-25 mg i.v pada dewasa, sedangkan morfin tidak memiliki aksi tersebut.
6. Durasi kerja petidin lebih pendek dibandingkan morfin.

Efek Samping Petidin HCl
Petidin mampu menimbulkan efek penghilang nyeri yang sangat ampuh namun petidin juga dapat menimbulkan efek samping yang cukup serius. Salah satu efek samping yang perlu diperhatikan oleh tenaga medis adalah ketagihan terhadap obat-obatan golongan narkotik dan timbulnya depresi pada sistem pernafasan. Efek samping petidin lainnya antara lain: pusing, merasa lemah, sakit kepala, perubahan suasana hati, agitasi, bingung, konstipasi, mulut mengering, berkeringat, gangguan penglihatan, gangguan jantung, mengantuk, mual, muntah, dan gangguan aliran darah. Penggunaan petidin juga dapat menimbulkan alergi dengan manifestasi seperti gatal, bengkak dan merah pada daerah suntikan, pembengkakan pada bibir, wajah, hingga terjadinya kesulitan pernafasan. Apabila overdosis akan terjadi lemah otot dan gangguan aliran darah akut.
Apabila pasien telah menggunakan petidin dalam jangka waktu lama dan atau dalam dosis besar, penggunaan petidin tidak boleh langsung diberhentikan secara tiba-tiba. Hal ini karena akan menyebabkan timbulnya efek withdraw, dimana akan terjadi gejala putus obat (sakau) seperti jantung berdebar, denyut nadi cepat, dan pernafasan menjadi tertekan, nyeri pada seluruh tubuh, rasa tidak nyaman.

Mengapa Petidin Dapat Mengakibatkan Kematian ?
Salah satu efek samping petidin yang sangat berbahaya adalah menekan sistem pernapasan. Efek ini akan semakin hebat apabila digunakan berlebihan atau bersamaan dengan obat lain yang juga dapat menekan sistem pernafasan (misalnya obat pelemas otot atau obat penenang). Penggunaan bersama dengan obat yang memiliki efek samping serupa dikuatirkan akan mengakibatkan laju pernafasan yang semakin menurun kemudian berhenti dan menimbulkan kematian apabila tidak segera diberikan pertolongan. Penurunan tekanan darah serta gangguan pada sistem saraf pusat yang ditimbulkan juga berperan mengakibatkan kematian. Hal inilah yang mungkin terjadi pada Michael Jackson.
Pemberian secara parenteral secara intra vena maupun intra muscular dapat mengakibatkan peningkatan denyut jantung sehingga berbahaya untuk pasien penderita penyakit jantung koroner. Obat analgesik narkotik dapat menjadi ‘obat penolong’ saat dibutuhkan namun di sisi lain dapat pula menjadi ‘pencabut nyawa’ jika digunakan secara tidak semestinya. Oleh karena itu penggunaan analgesik narkotik seharusnya diberikan berdasarkan rasio manfaat risiko, dimana saat rasio manfaat lebih risiko lebih besar maka obat analgesik narkotik dapat diberikan kepada pasien.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2009, Analgesic-narcotic,http://dailymed.nlm.nih.gov/dailymed /fda, diakses tanggal 7 September 2010
Anonim, 2009, Petidin HCl,http://www.epgonline.org/viewdrug.cfm/ drugId/DR000974/language/lg0011/drugName/Petidin, diakses tanggal 8 September 2010
Anonim, 2009, Analgesic, http://www.farmasiku.com/index.php?target =categories&category_id=197
Anonim, 2010, Meperidine HCl, http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/druginfo/ meds/a682117.html, diakses tanggal 8 September 2010
Frank, 2007, Two Mechanisms For The Meperidine Block Of Action Potential Production In Frog’s Skeletal Muscle; Non-Specific And Opiate Drug Receptor Mediated Blockade, http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/ PMC1348485/, diakses tanggal 8 September 2010
Koczmara, C., 2005, Meperidine Safety Issue, http://www.ismp-canada.org/download/caccn/CACCN-Spring05.pdf, diakses tanggal 11 September 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s