Monthly Archives: April 2011

ROKOK KONVENSIONAL VS ROKOK ELEKTRIK

Disusun Oleh:

Cicilia Yunilitaayu (088114131)

Suriadi (088114135)

Bennydiktus (088114137)

Lius Antony (088114138)

Tri Harjono (088114139)

Caroline E. Daat (088114140)

Rokok Konvensional VS Rokok Elektronik

Rokok merupakan kata yang tidak asing lagi kita dengar. Menurut Peraturan Pemerintah

Republik Indonesia nomor 81 tahun 1999 mengenai pengamanan rokok bagi kesehatan, rokok adalah hasil olahan tembakau terbungkus termasuk cerutu atau bentuk lainnya yang dihasilkan dari tanaman Nicotiana tabacum, Nicotiana rustica dan spesies lainnya atau sintetisnya yang mengandung nikotin dan tar dengan atau tanpa bahan tambahan.

Rokok mengandung lebih dari empat ribu zat dan dua ribu diantaranya telah dinyatakan berdampak tidak baik bagi kesehatan, diantaranya adalah bahan-bahan yang digunakan di dalam cat(aseton),pencuci lantai(ammonia),racun serangga(DDT) serta masih banyak lagi. Salah satu zat yang paling populer di telinga masyarakat saat ini adalah nikotin. Nikotin merupakan zat yang dapat menimbulkan ketergantungan,sehingga jika kita merokok kita dapat menjadi ketagihan. Hal ini menyebabkan kita sulit berhenti untuk merokok. Akibatnya, tentu saja berbahaya bagi kesehatan mulai dari  gangguan ringan seperti batuk sampai penyakit berbahaya seperti kanker.

Seiring perkembangan zaman, penggunaan rokok semakin populer. Penemuan terbaru yang cukup diperdebatkan adalah rokok elektronik. Awalnya, rokok ini dibuat untuk menggantikan fungsi rokok biasa yang berbahaya. Rokok ini dianggap “aman” karena tidak menghasilkan tar dan zat-zat berbahaya lain yang terdapat di rokok konvensional. Namun, perlu diingat bahwa seluruh kandungan dari rokok elektronik ini adalah nikotin. Dalam penggunaan jangka panjang, nikotin akan mengakibatkan kenaikan level kolesterol jahat (LDL), dan dapat merusak arteri,menimbulkan serangan jantung dan stroke. Lebih parah lagi, sebuah penelitian telah membuktikan bahwa nikotin dapat merusak fungsi otak dan tubuh.

Selain itu, penelitian yang menunjukkan keefektifan rokok elektronik masih sangat sedikit. Karena itu, beberapa pihak meragukan keamanan produk ini yaitu Food and Drug Administration (FDA) Amerika dan Health New Zealand (HNZ). Pada 6-7 Mei 2010 lalu, WHO juga mengadakan pertemuan untuk membahas peraturan terkait keselamatan penggunaan rokok elektronik dan menyatakan bahwa produk tersebut belum melalui pengujian yang cukup untuk menentukan apakah aman dikonsumsi.

”Lalu bagaimana dengan Indonesia??”

Hingga saat ini, . Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) menyarankan agar produk tersebut dilarang beredar, dan kepada masyarakat agar tidak mengonsumsi produk alternatif rokok tersebut. BPOM juga memperingatkan masyarakat bahwa rokok elektronik yang telah beredar di beberapa kota adalah produk ilegal dan tidak aman.Namun karena ilegal, , BPOM tidak dapat melakukan pengawasan. Produk ini juga belum terdaftar sebagai rokok sehingga tidak dapat ditertibkan oleh Bea Cukai.

”Pilih yang mana??”

Jika dilihat dari masing-masing rokok, baik konvensional maupun elektronik, maka dapat dilihat bahwa keduanya membawa dampak merugikan jika tidak dikontrol penggunaannya. Rokok konvensional mengandung berbagai zat yang berbahaya, sedangkan rokok elektronik mengandung zat nikotin dalam jumlah besar yang dapat menimbulkan berbagai masalah kesehatan seperti disebutkan di atas. Jadi, jika Anda ingin hidup sehat, tentu saja kedua rokok (konvensional dan elektronik) bukanlah pilihan gaya hidup yang baik.

Daftar Pustaka

Anonim, 1999, http://www.gizi.net/gaya-hidup/PERMEN%20PENGAM

This slideshow requires JavaScript.

ANAN%20ROKOK.htm, diakses tanggal 3 Maret 2011

Anonim, 2009, http://ridwanaz.com/kesehatan/ingin-tahu-lebih-detail-bahaya-rokok-bagi-kesehatan-kita/, diakses tanggal 27 Maret 2011

Anonim, 2010, http://www.lintasberita.com/Lifestyle/Kesehatan/rokok-elektronik-lebih-bahaya-dibanding-rokok-biasa-, diakses tanggal 27 Maret 2011

Anonim, 2010, http://health.detik.com/read/2010/01/21/111728/1283156/763/rokok-elektronik-diduga-sama-bahayanya-dengan-rokok-biasa, diakses tanggal 3 Maret 2011

Anonim, 2010, http://www.blogdokter.net/2010/08/11/nikotin-dan-kesehatan/, diakses tanggal 3 Maret 2011

Petidin-Madu atau Racun??

RerE  06-167 VIvI  07-060 NanA 07-070

OlivE  07-109 DinAr  07-129

Saat ini banyak terdapat berbagai jenis obat penghilang rasa nyeri. Obat anti nyeri yang sering digunakan dan dijual bebas tanpa resep dokter adalah golongan obat Anti Inflamasi Non Steroid (AINS), misalnya: ibuprofen, natrium diklofenak atau jenis lainnya. Pada kondisi tertentu, dimana rasa nyeri sedemikian hebat, obat golongan AINS tidak lagi cukup untuk dapat menghentikan rasa nyeri tersebut. Dalam kondisi tersebut, dokter dapat menggunakan narkotik, salah satu golongan obat penghilang rasa nyeri yang sangat potensial namun rawan penyalahgunaan.

Salah satu dampak penyalahgunaan obat penghilang rasa nyeri, yaitu pada kasus tewasnya Michael Jackson. Kematian Michael Jackson diduga akibat penggunaan obat-obat secara berlebihan tanpa pengawasan dokter yang berwenang. Di antara obat-obat yang ditenggarai tersebut, termasuk didalamnya adalah obat penghilang rasa nyeri golongan narkotik, meperidin HCl.

Apa itu meperidin HCl?

Meperidin HCl yang biasa dikenal dengan nama petidin, merupakan salah satu obat penghilang rasa sakit golongan narkotik. Obat ini ditemukan pada tahun 1939, oleh dua orang ilmuwan Jerman, yaitu Eisleb and Schaumann. Pada awal kemunculannya, obat ini juga digunakan untuk mengatasi otot yang kaku (spasme). Meperidin HCl termasuk golongan obat sintetik. Secara umum, rumus kimia meperidin hampir sama dengan metadon dan fentanil, yang merupakan dua jenis penghilang nyeri yang sudah cukup dikenal.

Rumus kimia petidin

 

 

 

 

 

Cara kerja dari meperidin HCL atau petidin?

Petidin merupakan narkotika sintetik derivat fenilpiperidinan dan terutama berefek terhadap susunan saraf pusat. Mekanisme kerja petidin menghambat kerja asetilkolin (senyawa yang berperan dalam munculnya rasa nyeri) yaitu pada sistem saraf serta dapat mengaktifkan reseptor, terutama pada reseptor µ, dan sebagian kecil pada reseptor kappa. Penghambatan asetilkolin dilakukan pada saraf pusat dan saraf tepi sehingga rasa nyeri yang terjadi tidak dirasakan oleh pasien

Efeknya terhadap SSP adalah menimbulkan analgesia, sedasi, euphoria, dapresi pernafasan serta efek sentral lain. Efek analgesik petidin timbul aga lebih cepat daripada efek analgetik morfin, yaitu kira-kira 10 menit, setelah suntikan subkutan atau intramuskular, tetapi masa kerjanya lebih pendek, yaitu 2–4 jam. Absorbsi petidin melalui pemberian oral maupun secara suntikan berlangsung dengan baik. Obat ini mengalami metabolism di hati dan diekskresikan melalui urin

 

Kegunaan Petidin Dalam Dunia Medis??

Petidin digunakan sebagai analgesia untuk semua tipe nyeri yang sedang sampai berat. Misalnya sebagai suplemen sedasi sebelum pembedahan, nyeri pada infark miokardium walaupun tidak seefektif morfin sulfat, mengatasi nyeri setelah operasi, atau nyeri lainnya yang tidak dapat diatasi dengan obat biasa,  untuk menghilangkan ansietas  (kecemasan) pada pasien dengan dispnea (sesak nafas) karena acute pulmonary edema & acute left ventricular failure.

Sediaan yang tersedia adalah tablet 50 dan 100 mg ; suntikan 10 mg/ml, 25 mg/ml, 50 mg/ml, 75 mg/ml, 100 mg/ml. ; larutan oral 50 mg/ml. Akan tetapi sebagian besar pasien tertolong dengan dosis parenteral 100 mg. Dosis untuk bayi dan anak ; 1-1,8 mg/kg BB.

Petidin memiliki waktu paruh selama 5 jam. Dan durasi analgesinya pada penggunaan klinis 3-5 jam.

Adapun perbedaan petidin dan morfin:

1. Petidin memiliki kelarutan dalam lemak lebih besar dibandingkan dengan morfin yang larut dalam air.

2. Metabolisme petidin oleh hepar lebih cepat dan menghasilkan normeperidin, asam meperidinat dan asam normeperidinat. Normeperidin merupakan metabolit yang masih aktif memiliki sifat konvulsi dua kali lipat petidin, tetapi efek analgesinya sudah berkurang 50%.

3. Petidin bersifat atropin menyebabkan kekeringan mulut, kekaburan pandangan dan takikardia.

4. Seperti morfin ia menyebabkan konstipasi, tetapi efek terhadap sfingter oddi lebih ringan.

5. Petidin cukup efektif untuk menghilangkan gemetaran pasca bedah yang tidak ada hubungannya dengan hipiotermi dengan dosis 20-25 mg i.v pada dewasa, sedangkan morfin tidak memiliki aksi tersebut.

6. Durasi kerja petidin lebih pendek dibandingkan morfin.

 

Efek Samping Petidin

Petidin sebagai salah satu obat analgesik golongan narkotik tentu memiliki efek samping berupa ketagihan terhadap penggunaan obat. Selain ketagihan, petidin juga memiliki efek samping menekan sistem pernapasan.

Efek samping yang ditimbulkan oleh petidin antara lain sakit kepala ringan, kepala terasa berputar, mual, muntah, gangguan aliran darah, gangguan koordinasi otot serta gangguan jantung. Efek samping yang tidak terlalu parah dapat berupa kesulitan buang air besar (konstipasi), kehilangan nafsu makan, mual, muntah, sakit kepala dan mulut terasa kering serta keringat berlebihan.

Obat ini juga dapat menimbulkan efek alergi berupa kemerahan, gatal danbengkak pada daerah sekitar tempat penyuntikan. Gejala alergi ini dapat bermanifestasi parah, seperti kesulitan bernafas, bengkak pada wajah, bibir dan lidah, serta tenggorokan.

Efek samping yang sangat berbahaya dan dapat menyebabkan kematian adalah menekan sistem pernafasan. Efek samping ini akan semakin berbahaya apabila petidin digunakan secara berlebihan atau dikonsumsi bersamaan dengan obat lain yang juga menekan sistem pernafasan, seperti obat pelemas otot atau obat penenang. Kematian dapat disebabkan laju nafas yang semakin menurun kemudian berhenti. Selain itu, penurunan tekanan darah serta gangguan pada sistem saraf pusat yang ditimbulkan juga dapat mengakibatkan kematian.

Efek samping berupa ketagihan dapat menimbulkan terjadinya overdosis. Gejala overdosis yang timbul berupa perubahan warna pada kulit, kulit menjadi dingin, dan kelemahan otot. Seseorang yang telah menggunakan obat ini dalam jangka waktu yang cukup lama, penghentiannya harus dilakukan secara bertahap dengan cara menurunkan dosis obat secara perlahan-lahan. Hal ini disebabkan adanya efek withdrawal atau gejala putus obat yang dapat terjadi. Apabila penggunaan obat ini dihentikan secara tiba-tiba, maka akan muncul gejala berupa jantung berdebar, denyut nadi meningkat, serta pernafasan tertekan. Selain itu, penderita akan merasa tidak nyaman, merasa nyeri pada seluruh tubuh yang disertai muntah.

 

Sumber:

Windiasari, D., 2010, Golongan Obat Yang Bekerja Mempengaruhi Sistem Saraf Pusat,  http://dinna-windiasari.blogspot.com/2010/09/golongan-obat-yang-bekerja-mempengaruhi.html, diakses tanggal 1 April 2011

Anonim, 2009, Pethidine, http://en.wikipedia.org/wiki/Pethidine, diakses tanggal 2 april 2011

Anonim, 2010, Penghilang Nyeri, Pembawa Maut, http://www.idijembrana.or.id/index.php?module=artikel&kode=8, diakses tanggal 1 April 2011

Anonim, 2010, Penghilang Rasa Sakit Bersalin Paling Aman, https://babyorchestra.wordpress.com/tag/penghilang-rasa-sakit-bersalin-paling-aman/, diakses tanggal 1 April 2011

Biworo, A., 2011, Analgetika, http://www.infogigi.com/dr.-Agung-Biworo,-M.Kes.html, diakses tanggal 2 April 2011

“Ngelem”?? Enak, murah tapi…..

Disusun oleh :

Christianus Heru Setiawan ( 07 8114 088 )

Marvelaos Marvel ( 07 8114 096 )

Cornelius Danan R. ( 07 8114 100 )

Mahendra Agil K. ( 07 8114 133)

Apa itu “Ngelem”???
“Ngelem”? Mungkin dibayangan kita adalah memakai lem untuk menempelkan sesuatu? Bukan!!!!!, “ngelem” yang dimaksud disini adalah menghirup uap lem, zat pelarut (thinner cat) atau zat lain sejenisnya dengan maksud untuk mendapatkan sensasi ‘high’ atau mabuk.

Jenis-jenis inhalan
Inhalen (yang sering disebut anak jalanan “ngelem”) merupakan senyawa organic berupa gas dan pelarut yang mudah menguap. Inhalen banyak terdapat di produk-produk seperti bensin, pernis, aseton untuk pembersih warna kuku, lem, pengencer cat, tip-ex, semprotan, freon dan lem aica aibon (lem aica aibon merupakan inhalen yang sering dipakai anak jalanan untuk ngelem). Berbeda dengan jenis narkoba lain, lem sangat mudah didapatkan serta dapat didapat dengan harga yang cukup murah.

Cara penggunaan inhalan ada beberapa cara, antara lain:
• Dihirup ( sniffing ) atau snorting dari uap / asap inhalan tersebut
• Menyemprotkan langsung kehidung atau mulut, efeknya lebih kuat.
• Bagging, menghirup atau menghisap uap/asap dari zat yang telah
• disemprotkan atau ditampung kedalam kantung plastik atau kantung kertas
• Huffing, menghisap melalui bahan kain yang telah direndam kedalam zat inhalan
• Menghisap dari balon yang telah diisi oksida nitrit

Apakah tanda-tanda pemakaian inhalen?
• Mata merah, berkaca-kaca atau berair.
• Pengucapan kata-kata yang lambat, bergumam kental dan tidak jelas.
• Terdapat noda cat pada tangan atau sekitar mulut.
• Terlihat seperti orang mabuk.
• Bau bahan kimia di dalam ruangan.
• Bau mulut yang tidak biasa

Gambaran klinis
Efek yang ditimbulkan dari menghirup uap lem itu sendiri hampir mirip dengan jenis narkoba yang lain yakni menyebabkan halusinasi, sensasi melayang-layang serta rasa tenang sesaat meski kadang efeknya bisa bertahan hingga 5 jam sesudahnya. Efek lain yang bisa ditimbulkan dari kegiatan “ngelem” ini sendiri antara lain adalah tidak merasakan lapar meskipun sudah waktunya makan karena ada penekanan sensor lapar di susunan saraf di otak.

Inhalen mengandung bahan-bahan kimia yang bertindak sebagai depresan. Depresan memperlambat sistem syaraf pusat, mempengaruhi koordinasi gerakan anggota badan dan konsentrasi pikiran. Inhalen mempengaruhi otak dengan kecepatan dan kekuatan yang jauh lebih besar dari zat lain, hal ini dapat mengakibatkan kerusakan fisik dan mental yang tidak dapat disembuhkan.

Sama halnya dengan depresan lainnya, inhalen ini juga menyebabkan penggunanya dalam kondisi kecanduan. Ketika pemakaian inhalen berlanjut selama beberapa waktu, si pemakai akan mengalami reaksi toleransi terhadap inhalen. Hal ini berarti, si pemakai akan membutuhkan pemakaian inhalen yang semakin sering dan dengan jumlah yang lebih besar untuk mencapai efek yang diinginkan. Selain membahayakan diri sendiri, pengguna inhalen juga bisa membahayakan orang lain. Karena zat depresan ini, bisa menyebabkan seseorang bersifat agresif dan melakukan hal-hal yang bisa membahayakan dirinya dan orang lain.

Dalam dosis awal yang kecil inhalen dapat menginhibisi serta menyebabkan perasaan euphoria, kegembiraan, dan sensasi yang menyenangkan. Gejala psikologis lain pada dosis tinggi dapat berupa rasa ketakutan , ilusi sensorik, halusinasi auditoris dan visual dan distorsi ukuran tubuh. Gejala neurologis dapat termasuk bicara yang tidak tak jelas (menggumam, penurunan kecepatan bicara dan ataksia).

Salah satu komponen dalam inhalan yang berbahaya adalah pelarut solvent, yakni cairan yang dalam suhu ruangan mudah sekali menguap. Dalam hal ini yang terdapat dalam lem adalah benzil alkohol yang sifatnya sangat mudah menguap. Ketika terhirup, uap pelarut (solven) ini hanya membutuhkan waktu yang singkat untuk mencapai kadar toksik atau beracun. Sistem organ yang diserang adalah otak dan saraf, khususnya yang berhubungan dengan jantung dan pernapasan.

Efek dari “Ngelem”

Efek jangka pendek yang dirasakan saat menghirup uap solven meliputi gejala-gejala sebagai berikut:
1) Denyut jantung meningkat
2) Mual-muntah
3) Halusinasi
4) Mati rasa atau hilang kesadaran
5) Susah bicara atau cadel
6) Kehilangan koordinasi gerak tubuh

Karena uap solven tersebut bisa terakumulasi di jaringan tubuh, dalam jangka panjang jika terhirup terus menerus bisa memberikan efek jangka panjang. Di antaranya adalah sebagai berikut:
1) Kerusakan otak (bervariasi, mulai dari cepat pikun, parkinson dan kesulitan mempelajari sesuatu)
2) Otot melemah
3) Depresi
4) Sakit kepala dan mimisan
5) Kerusakan saraf yang memicu hilangnya kemampuan mencium bau dan mendengar suara.

Meski hanya dihirup sekali, efeknya juga bisa fatal jika telah melewati ambang batas yang bisa ditoleransi oleh tubuh. Uap lem dan thinner bisa membunuh dalam seketika dengan mekanisme sebagai berikut :

1. Sudden Sniffing Death
Kematian mendadak saat menghirup uap pelarut umumnya disebabkan oleh sabotase fungsi jantung. Gejala awalnya adalah denyut nadi meningkat dan tidak teratur, lalu tak lama kemudian berhenti untuk selamanya.
2. Asphyxia
Uap solven juga bisa mengikat oksigen di sistem pernapasan dan memicu asphyxia atau kekurangan suplai oksigen ke jaringan otak.
3. Sesak napas
Di kalangan anak jalanan, aktivitas ngelem sering dilakukan dengan kepala ditutup tas plastik agar uap tidak menyebar ke mana-mana. Ketika tubuh sudah terpengaruh uap pelarut, si anak jalanan tidak bisa melepas sendiri plastik penutup tersebut dan akan mati lemas jika tidak ada temannya yang menolong.
4. Bunuh diri
Depresi dan halusinasi merupakan dampak serius dari uap solven. Dampak ini bisa membunuh seseorang jika orang itu kemudian tergerak untuk melakukan bunuh diri dalam kondisi kejiwaan yang sedang kacau.

Kesimpulan
Jadi udah tau donk bahaya “ngelem” itu. Selain merusak otak bisa menyebabkan kematian. Sudah tau berbahaya tapi masih aja orang yang melakukannya. Kita sebagai orang-orang terpelajar harus menghindari perbuatan yang satu ini, tidak cukup hanya menghindarinya tetapi mengajak korban yang sudah terjerumus untuk berhenti “ngelem”. Tidak hanya “ngelem” tetapi seluruh kegiatan berhubungan dengan NAPZA (Narkotika, Alkohol, Psikotropika, dan Zat Adiktif) yang disalahgunakan wajib kita “perangi”. Hidup sehat diawali dari kebiasaan positif dari diri sendiri. GBU

Pustaka :
Anonim, 20110, Kebiasaan Ngelem Bisa Bikin Mati Mendadak, http://health.detik.com/read/2011/01/14/120359/1546435/763/kebiasaan-ngelem-bisa-bikin-mati-mendadak?ld991103763, diakses tanggal 9 April 2011.

Ellenhorn, 1997, Medical Toxicology, Baltimore:Williams and Wilkins

risma, 2009, http://rismakhairunisa.blogspot.com/2009/02/say-no-to-inhalant-abuse.html, diakses tanggal 29 maret 2010
http://www.usdoj.gov/dea/concern/inhalants.html
Website NIDA (National Institute of Drug Abuse) http://www.nida.nih.gov/

http://archives.drugabuse.gov/inhalantsalert/index.html

http://www.rozy.web.id/informasi/ngelem-potret-anak-jalanan/

http://buser.liputan6.com/berita/201103/322572/Dua_Remaja_Ditangkap_Saat_Ngelem

Mengapa NAPZA (Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif lain) dapat menyebabkan kecanduan???

Kita tentu sering mendengar berita-berita tentang orang yang kecanduan NAPZA. Dari berita yang beredar kita jadi tau banyak tentang NAPZA dan bahayanya jika  kita terjerumus di dalamnya namun, pernahkah kita berpikir tentang bagaimana mungkin seseorang bisa terjebak didalamnya? Apa yang menyebabkan seseorang kecanduan? Bagaimana proses sehingga seseorang bisa kecanduan? Disini anda akan menemukan jawabannya selamat menikmati,,,
Sebelum kita membahas tentang bahaya, penyebab dan proses kecanduan itu sendiri ada baiknya terlebih dahulu kita  mengetahui tentang definisi NAPZA:

  • NAPZA (Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif lain) adalah bahan/zat/obat yang bila masuk kedalam tubuh manusia akan mempengaruhi tubuh terutama otak/susunan saraf pusat, sehingga menyebabkan gangguan kesehatan fisik, psikis, dan fungsi sosialnya karena terjadi kebiasaan, ketagihan (adiksi) serta ketergantungan (dependensi) terhadap NAPZA. Istilah NAPZA umumnya digunakan oleh sektor pelayanan kesehatan, yang menitik beratkan pada upaya penanggulangan dari sudut kesehatan fisik, psikis, dan sosial. NAPZA sering disebut juga sebagai zat psikoaktif, yaitu zat yang bekerja pada otak, sehingga menimbulkan perubahan perilaku, perasaan, dan pikiran.
  • NARKOBA adalah singkatan Narkotika dan Obat/Bahan berbahaya. Istilah ini sangat populer di masyarakat termasuk media massa dan aparat penegak hukum yang sebetulnya mempunyai makna yang sama dengan NAPZA.

TINGKAT PEMAKAIAN NAPZA
Ada beberapa tingkat atau tahapan dalam pemakaian NAPZA diantaranya adalah:

  • Pemakaian coba-coba (experimental use) –> tujuannya ingin mencoba,untuk memenuhi rasa ingin tahu. Sebagian pemakai berhenti pada tahap ini, dan sebagian lain berlanjut pada tahap lebih berat.
  • Pemakaian sosial/rekreasi (social/recreational use) –> tujuannya untuk bersenang-senang pada saat rekreasi atau santai dank arena terpengaruh lingkungan social atau pergaulan. Sebagian pemakai tetap bertahan pada tahap ini.
  • Pemakaian Situasional (situasional use) –> pemakaian pada saat mengalami keadaan tertentu seperti ketegangan, kesedihan, kekecewaaqn, dan sebagainnya, dengan maksud menghilangkan perasaan-perasaan tersebut.
  • Penyalahgunaan (abuse) –> suatu pola penggunaan yang bersifat patologik/klinis (menyimpang), ditandai oleh intoksikasi sepanjang hari dan tak mampu mengurangi atau menghentikannya. Berusaha berulang kali mengendalikan, terus menggunakan walaupun sakit fisiknya kambuh. Keadaan ini akan menimbulkan gangguan fungsional atau okupasional yang ditandai oleh : tugas dan relasi dalam keluarga tak terpenuhi dengan baik, perilaku agresif dan tak wajar, hubungan dengan kawan terganggu, sering bolos sekolah atau kerja, melanggar hukum atau kriminal dan tak mampu berfungsi secara efektif.
  • Ketergantungan (dependence use) : yaitu telah terjadi toleransi dan gejala putus zat, bila pemakaian NAPZA dihentikan atau dikurangi dosisnya. Agar tidak berlanjut pada tingkatyang lebih berat (ketergantungan), maka sebaiknya tingkat-tingkat pemakaian tersebut memerlukan perhatian dan kewaspadaan keluarga dan masyarakat. Untuk itu perlu dilakukan penyuluhan pada keluarga dan masyarakat.

KETERGANTUNGAN NAPZA

Ketergantungan NAPZA adalah keadaan dimana telah terjadi ketergantungan fisik dan psikis, sehingga tubuh memerlukan jumlah NAPZA yang makin bertambah (toleransi), apabila pemakaiannya dikurangi atau diberhentikan akan timbul gejala putus zat (withdrawal syamptom). Oleh karena itu ia selalu berusaha memperoleh NAPZA yang dibutuhkannya dengan cara apapun, agar dapat melakukan kegiatannya sehari-hari secara “normal”. Pada tahapan ketergantungan inilah seseorang dikatakan mengalami kecanduan.
Setiap orang memiliki neurotransmitter yang bertugas untuk mengantarkan impuls atau rangsangan. Contoh neurotransmitter yang ada dalam tubuh adalah dopamine, serotonin, norepnefrin, dan lain sebagainya. Namun, neurotransmitter yang berhubungan langsung dengan kecanduan ada dua yaitu dopamine dan serotonin.
Dopamine adalah neurotransmitter yang bertanggung jawab terhadap semangat sedangkan Serotonin mempengaruhi perasaan atau mood yang timbul. Pada keadaan normal, neurotransmitter ini (dopamine atau serotonin) akan dilepaskan ke celah sinaptik dan ditangkap oleh reseptornya yang berada pada dinding ujung sel syaraf lain pada celah itu. Dalam kondisi normal, keluarnya dopamine atau serotonin dalam jumlah yang cukup, akan menimbulkan rasa nyaman dan senang secara fisik dan mental pada individu. Bila suatu saat pengeluarannya menurun, maka sirkuit otak yang didukung neurotransmiter lain GABA, akan bereaksi meningkatkan pengeluarannya sehingga akan tercapai respons kenikmatan lagi.
Tau ga sih kenapa ada orang yang menjadi sangat bersemangat dan ada pula yang menjadi tenang dan fly saat menggunakan NAPZA?? Orang yang menjadi sangat bersemangat saat menggunakan NAPZA itu dikarenakan NAPZA tersebut memicu jalur dopaminnya dan mem-block re-uptake dopamine sehingga ketersediaan dopamin dalam celah sinaptik meningkat. Sedangkan orang yang menjadi tenang dan fly saat menggunakan NAPZA dikarenakan NAPZA tersebut memicu jalur serotoninnya dan mem-block re-uptake serotonin sehingga ketersediaan serotonin dalam celah sinaptik meningkat.
Stimulasi reseptor yang terlalu kecil akibat rendahnya kadar neurotransmitter dapat mengakibatkan meningkatnya sensitifitas saraf (supersensitivity) atau jumlah reseptor meningkat (up-regulasi). Sebaliknya, jika stimulasi reseptor berlebih akibat tingginya kadar neurotransmitter akan mengakibatkan terjadinya desensitisasi (penurunan sensitifitas reseptornya) atau down-regulasi.
Kenapa sih orang menjadi kecanduan terhadap NAPZA? NAPZA yang masuk dalam darah akan mendorong pengeluaran dopamine dan serotonin ke celah sinaptik lebih banyak dan akibatnya tercapai respons rasa nyaman atau nikmat yang tinggi. Lama-kelamaan akan terjadi desensitisasi. Desensitisasi reseptor menyebabkan terjadinya toleransi dimana untuk mendapatkan kadar kebahagiaan yang sama diperlukan peningkatan kadar dopamine dan serotonin. Jika kadar serotonin dan dopamine rendah orang akan merasa tidak nyaman bahkan kesakitan sehingga ia perlu mengkonsumsi NAPZA (lagi) dan untuk memperoleh rasa nikmat yang sama dibutuhkan NAPZA yang makin lama semakin banyak kadarnya. Toleransi zat dan pengulangan yang terus-menerus ini disebut kecanduan (adiksi).
Beberapa senyawa seperti Opiat (heroin, kokain) dapat merusak sistem neurotransmiter GABA yang berfungsi sebagai penghambat reseptor dopamin yang akan meningkatkan kadar dopamin terus menerus. Sistem GABA yang membentuk sirkuit keseimbangan otak ini dihancurkan oleh zat adiktif heroin atau kokain. Maka individu secara tak terkendali menyuntikkan heroin terus sampai sehari sepuluh kali untuk meningkatkan dopamin yang menghasilkan rasa nikmat NAPZA.
Nah, sekarang udah pada tau kan kenapa terjadi perubahan perilaku pada orang yang menggunakan NAPZA dan kenapa pula orang bisa mengalami kecanduan NAPZA? mudah-mudahan informasi ini berguna

Iryana (07-094)_Monica (07-102)_Agnes (07-138) _ Sisilia (07-141)

Daftar pustaka

Wicaksana Inu,  2011,  Otak dan Perilaku Kecanduan (AdiksiSI), http://kesehatan.kompasiana.com/kejiwaan/2011/02/28/otak-dan-perilaku-kecanduan-adiksisi/, diakses tanggal 8 April 2011.
http://www.wikipedia.com, diakses tanggal 8 April 2011.
Zainal, 2007, napza-narkotika-psikotropika-dan-zat-aditif,  http://zenc.wordpress.com/2007/06/13/napza-narkotika-psikotropika-dan-zat-aditif/, diakses tanggal 6 April 2011.
http://www.smallcrab.com/anak-anak/547-mengenal-napza-dan-penyalahgunaannya

Berkenalan Lebih Dekat dengan Dilaudid (Hidromorfin)

Oleh:
Martinus Supriyadi Krisantoro (078114065)
Daniel Kurniawan (078114071)
Tiwi Anggraini (078114106)
Dian Prahara Florentino Wara (078114107)
Paulus Febrianto Silor (078114130)

APA ITU DILAUDID?
Nama generik: hidromorfin
Nama dagang: dilaudid, dilaudid-5, exalgo

Struktur Hidromorfin

Dilaudid adalah narkotik kuat yang hanya tersedia dengan resep. Dilaudid adalah nama merek untuk obat hidromorfin yang lebih kuat daripada morfin. Dilaudid banyak tersedia dalam bentuk tablet dan sirup daripada bentuk parenteral.
Dilaudid secara kimiawi dikenal sebagai hidroklorida hidromorfin, adalah obat penghilang rasa sakit yang disintesis dan dipromosikan sebagai pengganti morfin yang tidak membuat ketagihan. Dilaudid merupakan turunan semi-sintetik kuat dari morfin, umumnya efektif untuk sakit parah atau kronis dan biasanya diresepkan untuk nyeri pasca operasi, serangan jantung, kanker, patah tulang, luka bakar, TBC, bronchitis, radang selaput dada, dan trankitis.

SEJARAH PENEMUAN
Hidromorfin atau lebih dikenal dengan nama dagang Dilaudid, diketahui pertama kali ditemukan dan disintesis di Jerman pada tahun 1924 dan mulai diperdagangkan secara missal oleh Knoll tahun 1926. Dilaudid sendiri merupakan turunan dari morfin, yang sudah dikenal sejak American Civil War (1861-1865) sebagai obat anestesi bedah. Namun, sayangnya penggunaan morfin sendiri menimbulkan efek samping bagi pasien penggunanya karena menimbulkan adiksi.
Dilaudid awalnya disintesis dan dipromosikan sebagai obat yang aman, pengganti morfin yang tidak membuat ketagihan.

INDIKASI
Hidromorfin adalah analgesik narkotik kuat, biasanya diresepkan untuk meredakan nyeri berat. Efek penghilang rasa sakit oleh dilaudid mencapai 2 hingga 8 kali lebih kuat dibandingkan morfin. kelompok obat-obatan yang disebut narkotik pereda rasa nyeri, atau disebut juga opioid. Hidromorfin mirip dengan morfin. Hidromorfin digunakan untuk mengobati nyeri berat, seperti nyeri pasca operasi, serangan jantung, kanker, patah tulang, luka bakar, TBC, bronchitis, radang selaput dada, dan trankitis.

EFEK SAMPING
Dilaudid memiliki efek yang lebih kuat tetapi efek samping yang ditimbulkan lebih sedikit daripada morfin. Dilaudid memiliki onset sekitar 15 menit, sering menyebabkan pasien bebas rasa sakit dengan mengalami linglung euphoria selama 5-6 jam. Pasien dapat mengalami muntah, mual, sembelit, pusing, atau anoreksia (kehilangan nafsu makan) walaupun reaksi seperti itu jarang terjadi. Penggunaan dilaudid secara teratur pada jangka waktu yang lama bisa menyebabkan kecanduan, namun manfaat dari penggunaan dilaudid jauh lebih besar daripada resiko ketergantungan jika digunakan secara medis.

KETERGANTUNGAN
Dilaudid memiliki potensi ketergantungan yang cukup tinggi bila digunakan selama lebih dari beberapa minggu, atau pada dosis tinggi. Orang-orang yang pernah mengalami ketergantungan pada alkohol atau narkoba lain di masa lalu umumnya lebih mudah untuk kecanduan Dilaudid. Ketergantungan psikis, ketergantungan fisik, dan toleransi dapat terjadi pada pemberian berulang hidromorfon.
Toleransi adalah ketika peningkatan dosis diperlukan untuk menghasilkan efek analgesik yang sama. Awal mula toleransi ditunjukkan dengan adanya penurunan durasi efek analgesik, diikuti oleh penurunan intensitas analgesia. Toleransi berkembang dalam hitungan hari, minggu, atau bulan. Tingkat toleransi bervariasi antara pasien yang satu dengan pasien yang lain.
Ketergantungan psikis tidak mungkin terjadi bila hidromorfon digunakan untuk jangka waktu yang singkat. Ketergantungan fisik adalah ketika harus terus menggunakan obat ini untuk menghindari gejala putus obat (sakau). Bila tidak lagi memerlukan Dilaudid, pasien harus mengurangi penggunaan obat secara bertahap untuk menghindari gejala putus obat (sakau) akut.
Gejala putus obat (sakau) Dilaudid antara lain: insomnia, keringat berlebih, kejang otot, menggigil, gelisah, menguap, tidur terganggu, lekas marah, cemas, kelelahan, mual, anoreksia, muntah , kejang usus, diare, bersin-bersin, rasa panas dan dingin, nyeri perut dan kram. Sering terjadi juga peningkatan suhu tubuh, tekanan darah, laju pernapasan dan denyut jantung.

PENCEGAHAN KETERGANTUNGAN DAN GEJALA PUTUS OBAT
Untuk menghindari putus obat (sakau) parah, umumnya pengguna Dilaudid harus mengurangi penggunaan obat secara bertahap di bawah pengawasan dokter. Selain itu, dapat pula untuk masuk ke pusat detoksifikasi atau rehabilitasi. Untuk pasien dengan tingkat kecanduan sedang sampai berat dengan penggunaan obat yang relatif lama, detoksifikasi pasien sangat dianjurkan untuk dilakukan pendekatan secara multidisipliner. Pengobatan pada akhirnya akan tergantung pada tingkat kecanduan.

Sumber:
http://www.drugs.com/mtm/dilaudid.html
http://www.rxlist.com/dilaudid-drug.htm
http://en.wikipedia.org/wiki/Hydromorphone
http://www.drugtext.org/library/books/recreationaldrugs/dilaudid.htm
http://www.healthcentral.com/chronic-pain/find-drug-25182-25.html
http://www.ncpainmanagement.com/Dilaudid.htm
http://www.scriptsrehab.com/drug-index/dilaudid/
http://www.revolutionhealth.com/drugs-treatments/dilaudid
http://www.druglib.com/druginfo/dilaudid-hp/indications_dosage/
http://www.drugabusehelp.com/drugs/dilaudid/
http://www.druglibrary.org/gh/hydromorphone.htm

Minuman Sejuta Umat Yang Diam-Diam Membahayakan..

by: Novisa (08-105), Ermenilda Sehrina (08-118), Liani (08-121), Carolie ivoni (08-128), Gita Thessa (08-133)
Apa yang kamu pikirkan tentang
minuman sejuta umat??

Jawabannya adalah TEH karena minuman ini adalah minuman yang disukai oleh semua orang, rasanya yang menyegarkan dan aroma harumnya, pandai memikat hati sebagian besar orang. Selain itu harga teh juga ekonomis dan teh diaanggap dapat memberikan manfaat bagi kesehatan.

Faktanya : Kandungan teh secara umum adalah kafein, tanin, dan minyak esensial. Unsur kafein memberikan rasa segar dan mendorong kerja jantung manusia, tidak berbahaya jika dikonsumsi tidak melebihi 300mg/hari. Unsur tanin adalah sumber energi yang berasal dari sari teh tersebut. Sedangkan minyak esensial memberikan rasa dan bau harum yang merupakan faktor-faktor pokok dalam menentukan nilai dalam setiap cangkir teh yang dijual atau diperdagangkan. (Spillane, 1992).

Penggunaan teh hijau lebih dari 300 mg/hari (sekitar 5 cangkir teh hijau) dapat mengakibatkan efek samping, misalnya gelisah, insomnia atau sulit tidur, diare, mudah tersinggung, sakit kepala, dan hilangnya nafsu makan. Jika berinteraksi dengan obat sintetik, teh hijau dapat memperlambat penyerapan obat ke dalam tubuh. (kusuma, 2011).

So, konsumsi teh sih boleh aja..tapi konsumsilah sesuai kebutuhan, jangan berlebihan. Jangan konsumsi teh pada saat perut kosong, karena kafein akan merangsang produksi asam lambung yang dapat membuat perut sakit.

DAPUS
Kusuma, 2011, Menyiasati Dampak Kafein Dari Teh, http://www.wierakusuma.com/kesehatan/238-menyiasati-dampak-kafein-dari-teh, diakses pada tanggal 8 April 2011
Suryaningrum,2007, Peningkatan Kadar Tanin Dan Penurunan Kadar Klorin Sebagai Upaya Peningkatan Nilai Guna Teh Celup, Malang
Spillane, J., 1995, Komoditi Kakao, Peranan Dalam Perekonomian Indonesia, Kanisius .
Yogyakarta

kecil indah membahayakan….


Tahukah kalian jamur tahi sapi itu apa? Jenis jamur psychedelic, biasa disebut gold caps, golden tops, cubes, purple rings atau Boomers. Dan di Indonesia orang mengenal jamur ini sebagai jamur tahi sapi. Jamur tahi sapi termasuk ke dalam genus Psilocybe. Jamur tahi sapi atau Psilocybe Cubensis dapat ditemukan di seluruh Amerika Selatan, Asia, Eropa dan bagian Australia. Psilocybe Cubensis merupakan sejenis jamur yang tumbuh dan hidup diatas permukaan kotoran hewan pemamah biak seperti sapi, kerbau, banteng dan lain-lain. Jamur ini dapat tumbuh di dalam iklim manapun, di pegunungan maupun di pinggir pantai.

PUTIH KECIL INDAH YANG MEMBAHAYAKAN….

Jamur tahi sapi or Cow shit mushroom or magic mushroom
Walaupun tempat tumbuhnya jamur ini, oleh sebagian besar orang dianggap sangat menjijikkan, yaitu di kotoran sapi atau di kotoran banteng. Akan tetapi, tempatnya tumbuh itu tidak membuat jamur tersebut kehilangan penggemarnya. Karena jamur dari genus Psilocybe mempunyai efek halusinasi. Psilocybe Cubensis ini mengandung psilosibina dan psilosina yang termasuk ke dalam psikotropika golongan I. Efek penggunaan jamur ini sama dengan efek menggunakan psikotropika jenis heroin atau LSD. Senyawa yang terkandung dalam jamur ini, di dalam tubuh akan cepat hilang dan hanya akan terdeteksi dalam kurun waktu tiga hari hingga seminggu.
Lembaga Nasional Kesehatan dan Keselamatan Kerja, cabang dari Pusat Kendali Penyakit (CDC), menilai bahwa psilocybin kurang beracun dibanding aspirin dan kafein. Psilocybin juga tidak mengakibatkan ketagihan karena bukan termasuk golongan psychoactive, melainkan psychedelic. Efek intoksikasi dari mushroom yang mengandung psilocybin berlangsung antara dua sampai tujuh jam tergantung dari dosis pemakaian, metode penggunaan, dan metabolisme perorangan. Umumnya, onset dari magic mushroom di dalam tubuh berkisar antara 10-40 menit ketika dikunyah dan dibiarkan di mulut hingga larut, dan berkisar antara 20-60 menit ketika ditelan dalam keadaan lambung kosong. Sedangkan tubuh akan kembali normal setelah 6-8 jam.
Sesaat setelah memakan jamur itu, orang akan mulai berhalusinasi, mengalami euforia, atau sebaliknya mengalami kesedihan yang berlebihan. Indra perasa, terutama kulit dan lidah akan menjadi lebih sensitif. Saat dalam pengaruh jamur, penggunanya menjadi lebih individual/asyik dengan dunianya sendiri. Keseluruhan efek jamur itu akan terasa selama empat sampai delapan jam. Walaupun penggunanya mengalami halusinasi, tetapi penggunanya masih sadar. Yang menjadi masalah, pengguna akan sulit mengontrol pikiran dan imajinasinya. Setelah efek jamur habis, penggunanya akan merasa sangat lelah.
Beberapa Efek khas dari magic mushroom ini, yaitu:
a. Distorsi visual dan perubahan persepsi terhadap ruang atau waktu
b. Senyum dan tawa yang tidak bisa dikontrol
c. Sensitivitas yang meningkat pada indra peraba, pengecap dan pendengaran
d. Halusinasi pendengaran
e. Berbicara yang tak tentu arah dan kesulitan dalam fokus untuk menjelaskan sesuatu
Di Indonesia, Badan Narkotika Nasional (BNN) memiliki pendapat yang berlainan dengan pendapat PBB melaui INCB (International Narcotics Control Board) maupun komisi kesehatan Uni Eropa. INCB yang menggolongkan magic mushroom ini ke dalam benda atau bahan psikotropika, di Indonesia magic mushroom digolongkan ke dalam zat adiktif bersama dengan alkohol, rokok, dan obat-obatan yang menyebabkan kecanduan. Walaupun terjadi perbedaan persepsi tersebut, yang pasti jamur ini harus dihindari penyalahgunaannya karena tetap mempunyai efek psikotropik dan tidak baik untuk tubuh kita.
Anggota Kelompok :
Erma Putri Nugraheni (06 8114176 )
Widya Sari Nugrahani (07 8114 013)
Dana Wingga P. (07 8114 017)
Afni Panggar Besi (07 8114 039)
Ferdian Dwi Armanto (07 8114 044)

Daftar Pustaka:
• Allen, 2004, Teonanacatl: Acient Shamic Mushroom Names of Mesoamerica and other Region of The world, http://www.mushroomjohn.org/names8.htm, diakses pada tanggal 5 April 2011
• Allen, 2009, Magic Mushrooms in Some Third World Countries, http://www.erowid.org/library/books_online/magic_mushrooms_third_world_countries.pdf, diakses pada tanggal 5 April 2011
• Anonim, 2010, Jamur Magic yang bias menimbulkan Halusinasi, http://www.koleksiweb.com/iptek/jamur-magic-yang-bisa-menimbulkan-halusinasi.html, diakses pada tanggal 5 April 2011
• Anonim, 2011, Hallucinogenic plants, http://hubpages.com/hub/Hallucinogenic-Plants, diakses pada tanggal 5 April 2011
• Anonim, 2011, psikotropika, Http:www.ikayanakesmas.blogspot.com, diakses pada tanggal 5 April 2011
• Seth, 2006, Mushroom Drug Is studied Anew, http://www.b12partners.net/mt/archives/2006/07/mushroom-drug-is-studied-anew.html, diakses pada tanggal 5 April 2011.