Apiun, Cantik Namun Danger !!

Disusun oleh:
Christiana Lambang K 098114041
Yustisia L 098114100
Michael Raharja Gani 098114101
Sisilia Mirsya Anastasia 098114102
Metri S.K 098114103

Apiun? Pernahkah kalian mendengar atau menjumpai tanaman apiun atau si Papaver?? Papaver somniferum yang mempunyai panggilan umum dalam bahasa Indonesia dikenal dengan sebutan apiun. Tanaman ini memiliki bunga yang sangat cantik dan beragam warnanya yaitu pink, ungu, merah, dan putih.

Papaver somniferum merupakan tanaman berbatang basah dengan tinggi 1,5 cm. berdaun jarang, melekat pada batang, dan berlekuk. Buah kotak, berbentuk bundar, merunjung, tidak berbulu, beruang banyak, bersekat, berdinding tebal, berwarna kuning coklat, panjang 8 cm, dan lebar 3,5 cm. biji berukuran kecil (1 mm), berbentuk ginjal, dan berwarna putih (Redaksi Agromedia, 2008).

Apanya yang danger ????
Papaver somniferum (Apiun) adalah tumbuhan liar musiman yang umumnya dikenal dengan nama ‘Opium’ atau ‘Poppy’. Saat bunga-bunga yang hanya berumur beberapa hari itu sudah menjadi buah yang masak, penuai akan mulai menuainya dengan cara memotong tangkai buah tersebut. Di dalam buah yang kaya kandungan alkaloid tersebut, terdapat butiran-butiran benih kering sebesar kapsul. Benih inilah yang kemudian mulai dipasarkan di dunia kuliner. Benih dari buah Apiun yang masak sering dipergunakan dalam membuat ‘snack bagels’. Walaupun ‘bagels’ tidak menimbulkan efek narkotika, namun setelah dikonsumsi tetap dapat memicu reaksi positif pada tes urine untuk narkoba.

Apiun untuk narkotika diperoleh dengan cara menyayat buahnya hingga mengeluarkan getah putih yang lengket. Setelah kering, getah tersebut akan berubah warna menjadi kecoklatan. Kandungan getah tersebut berisi campuran narkotika alami alkaloid, termasuk morfin dan kodein. Morfin adalah acetylated untuk menghasilkan diacetylmorphine (atau lebih dikenal sebagai heroin). Opium disaripatikan dari opium poppy(papaver somniferum) & disuling untuk membuat morfin, kodein & heroin

Morfin
Morfin dalam bahasa asing dikenal sebagai morphine atau morphium. Candu yang baik mengandung 9-14% morfin. Morfin diperoleh dari candu dengan cara ekstraksi. Morfin adalah suatu amina tersier, yang struktur kimianya mengandung sebuah radikal hidroksi alkoholik dan sebuah radikal hidroksi fenolik. Radikal hidroksi fenolik inilah yang menyebabkan morfin dapat larut dalam alkali dan dengan larutan ferri klorida membentuk senyawa yang berwarna (Sunardjo, 2008).
Kristal monohidrat morfin, yang toksik dan pahit, mencair pada suhu 254-2560C. kelarutannya dalam air sedang, sedikit sekali larut dalam alcohol dingin, dan mudah larut dalam kloroform. Morfin juga merupakan suatu reduktor yang dapat mereduksi iodat, klorat, perak nitrat atau alkali permanganat (Sunardjo, 2008).
Morfin merupakan alkaloida yang terdapat dalam opium candu yang berasal dari tanaman Papaver Somniferum L. Morfin berupa serbuk berwarna putih digunakan dalam pengobatan untuk menghilangkan rasa nyeri. Dalam bentuk sustained released tablet digunakan untuk menghilangkan rasa nyeri yang hebat pada penderita kanker, operasi, dan lain-lain. Morfin dapat mengakibatkan ketergantungan fisik, psikis, dan toleransi sehingga penggunaan dalam pengobatan sangat dibatasi (Semiun, Yustina, 2006).
Morfin adalah bentuk pertama agonis opioid dan pembanding bagi opioid lainnya. Pada manusia, morfin menghasilkan analgesi, euforia, sedasi, danmengurangi kemampuan untuk berkonsentrasi, nausea, rasa hangat pada tubuh,rasa berat pada ekstrimitas, mulut kering, dan pruritus, terutama di wilayah kulitsekitar hidung. Morfin tidak menghilangkan penyebab nyeri, tetapi meningkatkan ambang nyeri dan mengubah persepsi berbahaya yang dialami tidak sebagai nyeri. Efek analgesia akan optimal apabila morfin diberikan sebelum stimulus nyeri timbul (Mawarni, D., 2010).
Metabolisme morfin
Morfin dimetabolisme melalui dua jalur, yaitu hepatik dan ekstra hepatik.Morfin dikonjugasikan dengan asam glukoronat di hepatik sedangkan jalur ekstrahepatik lebih banyak terjadi di ginjal. Sekitar 75-85% dari morfin yang diberikan akan menjadi morfin 3 glukoronat dan 5-10% menjadi morfin 6 glukoronat (rasio 9:1). Sekitar 5% morfin akan mengalami demetilasi menjadi normomorfin dansebagian kecil diproses menjadi kodein. Metabolit morfin akan dieliminasi melalui urin, sekitar 7-10% diekskresikan melalui empedu. Morfin 3 glukoronat dapat dideteksi dalam urin setelah 72 jam pemberian. Sejumlah kecil morfin (1-2%) ditemukan dalam urin tanpa perubahan (Mawarni, D., 2010).
Morfin 3 glukoronat merupakan metabolit yang inaktif. Efek analgesia dandepresi napas ditimbulkan oleh morfin 6 glukoronat melalui aktivasi reseptor µ. Gangguan ventilasi karbon dioksida dipengaruhi oleh morfin dan morfin 6glukoronat (Mawarni, D., 2010).
Metabolisme ginjal memegang peranan utama dalam metabolisme morfin.Hal ini menjelaskan mengapa tidak terjadi penurunan klirens morfin plasma pada pasien cirrhosis hepatis atau pada fase anhepatik pasien transplantasi hati. Hal inidimungkinkan karena terjadinya peningkatan metabolisme morfin di ginjal pada pasien dengan gangguan hati.Sebaliknya pada pasien gagal ginjal, ekskresi morfin glukoronat akanterganggu dan menyebabkan akumulasi metabolit morfin dan depresi napas yangtak terduga pada dosis opioid kecil. Ikatan morfin glukoronat juga dapat dirusak oleh monoamin oksidase inhibitor yang akan menyebabkan efek morfin yang berlebihan bila kedua obat diberikan bersamaan (Mawarni, D., 2010).
Apiun adalah jenis narkotika yang paling berbahaya. Dikonsumsi dengan cara ditelan langsung atau diminum bersama teh, kopi atau dihisap bersama rokok atau syisya (rokok ala Timur Tengah).
Pada mulanya, pengonsumsi Apiun akan merasa segar bugar dan mampu berimajinasi dan berbicara, namun hal ini tidak bertahan lama. Tak lama kemudian kondisi kejiwaannya akan mengalami gangguan dan berakhir dengan tidur pulas bahkan koma. Jika seseorang ketagihan, maka Apiun akan menjadi bagian yg melekat di hidupnya. Tubuhnya tidak akan mampu lagi menjalankan fungsi-fungsinya tanpa mengonsumsi Apiun dalam dosis yang biasanya. Dia akan merasakan sakit yang luar biasa jika tidak bisa memperolehnya. Kesehatannya akan menurun drastis. Otot-otot si pecandu akan layu, ingatannya melemah dan nafsu makannya menurun. Kedua matanya mengalami sianosis dan berat badannya akan terus menyusut.
Papaver somniferum memiliki bunga yang sangat cantik, jika dilihat dengan kasat mata orang tidak akan menduga bahwa di balik kecantikan bunga tersebut telah banyak orang yang kehilangan nyawanya akibat Papaver somniferum. Jadi, catatan yang bisa dipetik yaitu penampilan yang cantik bukan berarti semua baik, tetapi dibalik kata menawan itu ternyata juga mempunyai history yang cukup berbahaya jika disalahgunakan.
Daftar Pustaka
Redaksi Agromedia, 2008, Buku Pintar Tanaman Obat, PT Agromedia Pustaka, Jakarta
Sunardjo, 2008, Pengantar Kimia Buku Panduan Kuliah Mahasiswa Kedokteran, EGC, Jakarta
Semiun, Yustina, 2006, Kesehatan Mental 2, Kanisius, Yogyakarta
Mawarni, D., 2010, Farmakologi Obat-obatan Opioid dan Hipnotik Sedatif, Universitas Sriwijaya Press, Palembang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s