Morfin… Resiko vs Manfaat???

Disusun oleh :

1. Yuliana Anggreani (088114184)

2. Viviane Theresia (088114185)

3. Pika (088114189)

4. Desi Natalia (088114190)

5. Peffley Lukito (088114193)

Kelas : FKK B 2008

Penyalahgunaan Morfin

Morfin berasal dari perkataan “Morpheus” yaitu dewa mimpi dalam mitologi Yunani. Morfin merupakan suatu kata yang tidak asing dalam dunia kedokteran. Dalam dunia kedokteran morfin merupakan analgesik narkotik yang biasa digunakan dalam operasi dan biasanya digunakan pada tentara di medan perang yang terkena tembakan pistol ataupun terkena tusukan benda tajam yang dengan terpaksa dalam keadaan darurat digunakan untuk menahan rasa sakit yang sangat berat.

Morfin merupakan agonis reseptor opioid, dengan efek utama mengikat dan mengaktivasi reseptor µ-opioid pada sistem saraf pusat. Aktivasi reseptor ini terkait dengan analgesia, sedasi, euforia, physical dependence dan respiratory depression. Morfin juga bertindak sebagai agonis reseptor κ-opioid yang terkait dengan analgesia spinal dan miosis.

Di dalam tubuh, morfin terutama dimetabolisme menjadi morphine-3-glucuronide dan morphine-6-glucuronide (M6G). Pada hewan pengerat, M6G tampak memiliki efek analgesia lebih potensial ketimbang morfin sendiri. Sedang pada manusia M6G juga tampak sebagai analgesia. Perihal signifikansi pembentukan M6G terhadap efek yang diamati dari suatu dosis morfin, masih jadi perdebatan diantara ahli farmakologi.

Morfin diberikan secara parenteral dengan injeksi subkutan, intravena, maupun epidural. Saat diinjeksikan, terutama intravena, morfin menimbulkan suatu sensasi kontraksi yang intensif pada otot. Oleh karena itu bisa menimbulkan semangat luar biasa. Tak heran bila di kalangan militer terkadang menggunakan autoinjector untuk memperoleh manfaat tersebut.

Potensi analgesik yang kuat, akhirnya membuat morfin menjadi cara untuk mengatasi kasus nyeri parah di rumah sakit. Misalnya saja, mengatasi nyeri pasca bedah, nyeri karena trauma, mengurangi nyeri parah kronik misalnya pada penderita kanker dan batu ginjal serta nyeri punggung. Di samping itu, morfin juga digunakan sebagai adjuvan pada anestesi umum. Morfin adalah alkaloid analgesik yang sangat kuat dan merupakan agen aktif utama yang ditemukan pada opium. Penggunaan morfin harus disesuaikan dengan dosis dan frekuensi yang tepat. Penyalahgunaan morfin akan berakibat pada ketagihan yang bisa menimbulkan masalah social dan ekonomi.

Morfin bekerja langsung pada sistem saraf pusat untuk menghilangkan sakit. Efek samping morfin antara lain adalah penurunan kesadaran, euforia (rasa inilah yang sering dicari oleh penyalahguna morfin), rasa kantuk, lesu, dan penglihatan kabur. Morfin juga mengurangi rasa lapar, merangsang batuk, dan menyebabkan konstipasi. Morfin menimbulkan ketergantungan tinggi dibandingkan zat-zat lainnya. Pasien morfin juga dilaporkan menderita insomnia dan mimpi buruk.

Berbagai jenis penyalahgunaan morfin yang dapat kita lihat antara lain :

1. Penyalahgunaan morfin pada zaman perang untuk kepentingan pihak NAZI, di mana para tentara diberi morfin dosis tinggi dengan harapan stamina tentara selalu fit saat perang. Penyalahgunaan morfin di kalangan tentara merupakan salah satu jenis penyalahgunaan yang paling banyak ditemui

2. Penyalahgunaan morfin untuk mencapai rasa “fly” sehingga dapat mendapatkan euphoria (rasa senang yang luar biasa)

3. Penyalahgunaan morfin untuk menghindari masalah broken home, orang yang takut menghadapi kenyataan hidup, orang yang dikucilkan oleh masyarakat, dan orang-orang dengan masalah hidup berantakan. Mereka menyalahgunakan morfin untuk kepentingan pribadi dengan anggapan bahwa dengan mendapatkan euphoria, masalah mereka akan terselesaikan.

4. Penyalahgunaan morfin untuk meredam gairah seksual pada tentara perang. Pada masa perang, morfin diselundupkan dengan tujuan bukan untuk mendapatkan euphoria namun untuk meredam gairah seksual yang mungkin timbul pada masa perang.

Kaum morfinis sebenarnya mudah dikenali. Jika mereka tertangkap polisi dan ditahan. Sulit sekali untuk mungkir. Semua morfinis akan mengalami syndroma abstinensia, yaitu gejala yang timbul karena pemakaian obat yang dihentikan secara mendadak. Untuk gejala mata sipit (pupil mata mengecil) bukanlah ciri yang khas.

Syndroma Abstinensia akan muncul setelah 8-13 jam ketika masa kerja obat habis. Badan akan mengigil, dari hidung akan keluar cairan seperti waktu terkena flu, pupil mata akan melebar, bulu roma akan berdiri ,sementara rasa dingin bertambah kuat. Inilah yang disebut cold turkey. Setelah 48 jam bakal terjadi kejang perut yang disertai rasa sakit yang lumayan hebatnya dan diare berat (buang air besar 60 kali sehari). Keringat akan keluar bercucuran membasahi tempat tidur. Berat tubuh akan turun drastis. Jika mereka dibiarkan selama 7-10 hari , kemungkinannya ada dua. Sembuh total dengan disertai rasa kapok untuk memakainya lagi atau meninggal dunia.

Morfin menimbulkan dependensi fisik (addiktif = kecanduan yang dosisnya semakin meningkat) dan dependensi psikis (habituasi). Karena kehidupan orang tersebut sudah sepenuhnya tergantung dengan obat, maka merupakan sesuatu yang mustahil apabila pelanggaran ini dapat dirahasiakan selamanya.

Toleransi

Toleransi terhadap efek analgesik morfin cukup cepat. Ada beberapa hipotesis tentang bagaimana toleransi berkembang, termasuk fosforilasi reseptor opioid (yang akan mengubah konformasi reseptor), decoupling fungsional reseptor dari G-protein (yang mengarah ke desensitisasi reseptor), reseptor opioid mu-internalisasi dan / atau reseptor down-regulasi ( mengurangi jumlah reseptor yang tersedia untuk morfin untuk bertindak atas), dan upregulation dari jalur cAMP (mekanisme counterregulatory efek opioid).

Cara kerja morfin dalam tubuh adalah dengan menekan pusat pernapasan. Pemakai yang overdosis akan mengalami gangguan pernapasan yang fatal. Penyalahgunaan morfin mengakibatkan ketergantungan, pada wanita mengganggu siklus menstruasi, pada pria mengakibatkan impotensi, menyebabkan sembelit dan kematian.

Daftar Pustaka

Budavari, Susan. The Merck Index, 12th edition. Merck. 1996 Clark E.C.G. : Isolation and Identification of Drug, General Medical Counsil, London

Drs. Y.P. Jokosuyuno, 1980, Masalah Narkotika dan Bahan Sejenisnya, Penerbitan Yayasan Kanisius

James Scorzelli, 1987, Drug Abuse- Preventions and Rehabilitations In Malaysia, Universiti Kebangsaan Malaysia

LeCouteur P. and Burreson J. Napoleon’s Buttons: How 17 Molecules Changed History. Penguin Putnam. 2003

Sudjono D, 1977, Narkotika dan Remaja, Penerbitan Alumni Bandung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s