Monthly Archives: March 2010

Tetrasiklin Bagi Ibu Hamil, Amankah?

Tetrasiklin Bagi Ibu Hamil, Amankah?

Ibu Hamil

Mega Gunawan           078114011

M. Sisca Ganwarin    078114032

Eka Yulniati                 078114033

Paulina                          078114048

Kehamilan  merupakan proses fisiologi yang perlu dipersiapkan oleh wanita dari pasangan subur agar dapat dilalui dengan aman. Ibu dan janin adalah unit fungsi yang tak terpisahkan selama masa kehamilan. Selama masa kehamilan tersebut wanita sangat rentan terhadap  beberapa penyakit, seperti infeksi saluran kemih. Salah satu antibotik yang dapat digunakan untuk pengobatan infeksi saluran kemih adalah tetrasiklin. Tetrasiklin digunakan untuk mengobati infeksi bakteri gram positif maupun gram negatif, juga infeksi akibat Mycoplasma, Chlamydia, dan Rickettsia, bronkitis kronis yang berbahaya dan pengobatan Gonorhea dan Syphillis pada pasien yang alergi Penisillin, sebagai bagian dari multidrug untuk H. Pylori yang bertujuan untuk mengurangi risiko terjadinya ulcer duodenal. Mekanisme aksi tetrasiklin adalah menghambat sintesis protein pada subunit ribosomal bakteri.

Farmakodinamika dan Farmakokinetika Tetrasiklin

  • Absorbsi oral: 75%
  • Distribusi : sebagian kecil terdapat di empedu
  • Terikat pada protein sekitar 65%
  • Waktu paruh eliminasi (t1/2el) : pada fungsi ginjal yang masih baik 8-11 jam, pada penyakit ginjal stadium akhir 57-108 jam.
  • Waktu puncak tetrasiklin dalam serum: oral: 2-4 jam
  • Eksresi: melalui urin sebesar 60% dalam bentuk yang tidak dimetabolisme, dan melalui feses.

Struktur Tetrasiklin

Gambar Struktur Tetrasiklin

Pada tahun 1980, Food and Drug Administration membagi obat-obat yang diberikan selama masa kehamilan menjadi 5 kategori yaitu kategori A, B,C, D, dan X.

Kategori A : obat-obat yang menurut penelitian terkontrol tidak menimbulkan risiko pada janin

Kategori B : untuk obat-obat yang berdasarkan penelitian pada hewan dan manusia tidak menunjukkan risiko yang bermakna. Termasuk disini adalah:

  1. dari penelitian pada hewan tidak menunjukkan risiko, tetapi belum ada penelitian pada manusia mengenai hal tersebut
  2. dari penelitian pada hewan menunjukkan adanya risiko, tetapi dari hasil penelitian yang terkontrol pada manusia menunjukkan tidak adanya risiko

Kategori C : untuk obat-obat yang belum didukung penelitian mendukung, baik pada hewan    maupun pada manusia atau obat-obat yang menunjukkan efek merugikan pada penelitian hewan tetapi belum ada penelitian pada manusia

Kategori D : untuk obat-obat yang terbukti berisiko pada janin tetapi manfaatnya jauh lebih besar

Kategori X : untuk obat-obat yang terbukti mempunyai risiko terhadap janin dan risiko itu lebih besar daripada manfaatnya.

Tetrasiklin termasuk ke dalam kategori D sehingga tidak disarankan untuk digunakan selama masa kehamilan. Tetrasiklin bersifat larut lemak sehingga dapat dengan mudah berdifusi melewati plasenta masuk ke sirkulasi janin lewat vena umbilikal. Sekitar 40-60% darah yang masuk melalui vena umbilikal akan masuk ke hati janin, sisanya akan langsung masuk ke sirkulasi umum janin. Apabila tetrasiklin diberikan selama masa kehamilan, maka obat akan tersimpan dalam gigi sang janin dan mengakibatkan pemudaran warna, dan displasia enamel. Tetrasiklin membentuk kompleks yang stabil dengan kalsium pada tulang dan gigi yang baru terbentuk. Hal ini mengakibatkan tetrasiklin tersimpan dalam tulang dan menyebabkan kelainan bentuk atau hambatan pertumbuhan tulang pada janin.

Bayi

Hati dan ginjal mengeksresi tetrasiklin dengan eliminasi melalui urin dan feses. Sebagian besar tetrasiklin yang diekskresi melalui empedu akan direabsorbsi kembali. Hal ini menyebabkan keberadaan tetrasiklin yang lama dalam tubuh. Tetrasiklin dapat tersimpan dalam jumlah besar di hati, limpa, sumsum tulang, tulang dan gigi.

PUSTAKA

Anonim, 2008, MIMS Indonesia Petunjuk Konsultasi, ed. 8, A163, CMPMedica, Jakarta

Eisenhaver, L.,1998, Clinical Pharmacology and Nurse Management, ed. 5th, Lippincott, Philadelphia

Katzung, 2004, Farmakologi Dasar dan Klinik, ed. 8, 43-45,Salemba Empat, Jakarta

Lacy, C.F.,et all, 2002, Drug Information Handbook, 1336, 11th edition, Lexy-Comp inc, Ohayo

Advertisements

Mengapa Antibiotik Harus Diminum Sampai Habis???

Contoh pada pengobatan TBC

Dalam rangka memperingati hari TBC sedunia

Tahukah kalian, mengapa saat meminum antibiotik banyak aturan yang harus dipatuhi? Seperti misalnya diminum berapa kali sehari, harus diminum sampai habis, dan lain sebagainya. Dan ternyata masih banyak masyarakat Indonesia yang belum mengetahui penggunaan antibiotik yang benar, salah satunya bahwa antibiotik yang diresepkan dokter harus diminum sampai habis.

Apa itu antibiotik??

Antibiotik adalah zat yang dihasilkan oleh suatu mikroba terutama jamur, yang dapat menghambat atau membasmi mikroba jenis lain. Namun saat ini, banyak pula antibiotik yang dibuat secara sintetik atau semi sintetik.

Antibiotik merupakan obat yang masuk dalam golongan obat keras dan penggunaannya harus dengan resep dokter. Biasanya antibiotik diresepkan untuk pasien-pasien yang sakit karena infeksi bakteri, misalnya batuk atau pilek yang disebabkan oleh bakteri. Namun dalam prakteknya terjadi pelanggaran dimana antibiotik di Indonesia dapat dibeli secara bebas di apotek tanpa resep dokter.

Kenapa sih antibiotik harus diminum sampai habis??

Saat tubuh sudah mulai merespon obat, badan akan terasa membaik dan mungkin gejala penyakit akan berkurang hal ini membuat banyak orang menghentikaan pengobatan sampai disini. Namun perlu diingat bahwa antibiotik tetap harus dihabiskan, karena apabila tidak dihabiskan akan menyebabkan resistensi atau kekebalan terhadap mikroba patogen yang menyerang tubuh. Jika efek resistensi telah terjadi dikhawatirkan obat tersebut sudah tidak lagi efektif saat terjadi infeksi berikutnya yang membutuhkan antibiotik yang sama.

Dalam proses penyembuhan suatu penyakit perlu diperhatikan masalah 3H (How much, How often, dan How long).

1. How much  –> berapa banyak obat yang akan digunakan (dosis)

2. How often –> berapa sering obat digunakan (frekuensi)

3. How long –> berapa lama obat digunakan

Hal ini perlu diperhatikan untuk menjaga kadar obat dalam tubuh tetap efektif untuk menyembuhkan penyakit (masuk dalam range terapi). Tiap obat memiliki kadar efek minimum (KEM –> kadar minimum yang dibutuhkan obat untuk berefek) dan kadar toksik minimum (KTM –> kadar minimum obat dapat memberikan efek toksik). Kadar terapi obat itu sendiri berada diantara KEM dan KTM sehingga obat dapat menghasilkan efek namun tidak sampai memberikan efek toksik. 3H membantu mempertahankan jumlah obat di dalam tubuh tetap berada pada kadar terapi/range therapy. Dengan memperhatikan aturan meminum obat (menyangkut 3H) akan membantu menjaga kadar obat dalam darah tetap pada range therapy.

  • Pertama, saat kita meminum obat sesuai dosis yang tepat (how much) maka kadar obat tersebut akan berada pada range therapy sesuai untuk tujuan terapi. Namun bila dosis yang diminum lebih besar dari range therapy sehingga melebihi KTM, maka dapat menimbulkan efek toksik. Bila dosis yang diminum lebih kecil dari range therapy sehingga di bawah KEM, maka obat tersebut tidak dapat memberikan efek terapi.
  • Kedua, saat kita meminum obat secara teratur (how often) maka obat akan terjaga kadarnya pada range therapy namun jika obat tidak diminum secara teratur kadar obat dalam tubuh dapat turun dibawah KEM. Jika hal ini terjadi, obat tidak dapat memberikan efek dan walaupun obat diminum lagi butuh waktu untuk meningkatkan kadar obat ke KEM untuk dapat memberikan efek.
  • Ketiga, berapa lama kita mengkonsumsi obat tersebut (how long) disesuaikan dengan jenis penyakitnya. Bila lama penggunaan obat melebihi waktu yang dibutuhkan maka ada kemungkinan muncul efek samping penggunaan jangka panjang. Bila lama penggunaan obat kurang dari waktu yang dibutuhkan maka efek terapi yang didapat menjadi tidak optimal.

Apa resiko jika penggunaan antibiotik tidak sesuai aturan??

Perlu kita ketahui bahwa bakteri yang menyerang tubuh memiliki sistem pertahanan yang berbeda. Sistem pertahanan pada bakteri dapat dikatakan merupakan sistem pertahanan berlapis yang membantunya bertahan apabila diserang oleh sistem pertahanan tubuh maupun obat-obatan (Antibiotik). Apabila obat yang diresepkan dokter tidak diminum sampai habis atau meminumnya tidak sesuai dengan frekuensi yang ditetapkan (sehingga kadar obat turun di bawah KEM), maka ada kemungkinan bakteri belum tuntas terbunuh dan dapat membentuk pertahanan baru terhadap antibiotik tersebut (resisten). Sistem pertahanannya kemudian berkembang dan membentuk sistem pertahanan yang baru sehingga tetap dapat bertahan apabila diserang oleh antibiotik yang sama (walaupun kita kembali meminum antibiotik tersebut namun bakteri akan mampu bertahan dan melawan antibiotik yang kita minum). Jika telah terjadi resistensi, maka diperlukan dosis antibiotik yang lebih tinggi atau dilakukan penggantian antibiotik yang memiliki daya hambat maupun daya bunuh lebih tinggi dari antibiotik sebelumnya.

Contoh kasus : Rina, seorang pasien TBC berumur 25 tahun dengan berat berat 55 kg. Oleh dokter diberi rifampisin dengan dosis 450 mg per kaplet. Diminum satu kalpet sehari, selama 6 bulan.

  • How much –> 450 mg perkaplet. Sudah tepat dosis karena dosis rifampisin untuk dewasa 8-12 mg/kg/hari (8 mg/kg x 55 kg = 440 mg) dan dosis maksimal pemberian perhari adalah 600 mg.
  • How often –> 1 x 1 kaplet perhari, sudah tepat
  • How long –> 6 bulan, sudah tepat

Bakteri TBC memiliki dinding sel yang sebagian besar tersusun dari asam mikolik dengan cabang molekul lipid yang memberikan penghalang tak tembus di sekitar sel. Lipid inilah yang membuat bakteri lebih tahan terhadap asam dan gangguan fisika kimia, sehingga pengobatan TBC memerlukan waktu antara 6 sampai 9 bulan. Walaupun gejala penyakit TBC sudah hilang, pengobatan tetap harus dilakukan sampai tuntas, karena bakteri TBC sebenarnya masih berada dalam keadaan aktif dan siap membentuk resistensi terhadap obat.

Bila kita meminum antibiotik sesuai aturan pakai maka efek terapi yang didapat optimal, dan kita bisa sembuh dari penyakit sesuai waktu yang telah diperkirakan. Inilah pentingnya, mengapa antibiotik harus diminum sesuai aturan pakai (dosis harus tepat, frekuensi minum , berapa lama pengunaan antibiotik, dan ingat selalu bahwa antibiotik harus diminum sampai habis).

Daftar Pustaka

Anonim, 2006, MIMS 104th Edition 2006, 289, CMP Medika, Jakarta

Lacy, C. F., dkk., 2003, Drug Information Handbook 11th Edition, 1219, Lexi-comp, Canada

Putera, F. R., 2009, TBC, Bukan Bakteri Biasa, http://netsains.com/2009/04/tbc-bukan-bakteri-biasa/, diakses tanggal 30 Maret 2010

Penyusun : Lydia (07-087) – Selasih (07-112) – Ita (07-125) – Rani (07-141)

Disfungsi Ereksi!!….Jangan Takut! ….Ada Solusinya…….

tadalafil

Tadalafil…Solusi untuk Disfungsi Ereksi…

Tadalafil digunakan untuk treatmen problem disfungsi ereksi pada pria dengan mekanisme kerja memblok enzim phosphodiesterase-PDE5. Dengan adanya stimulus rangsangan seksual, tadalafil akan mambantu aliran darah menuju penis, sehingga terjadi ereksi dan mempertahankannya. Obat ini tidak diindikasikan untuk digunakan oleh wanita. Penggunaannya dengan cara diminum setidaknya 30 menit sebelum berhubungan seksual; sesudah atau sebelum makan. Penggunaan obat ini lebih dari satu dalam sehari tidak dianjurkan.
Mekanisme Kerja Tadalafil
Tadalafil merupakan obat yang berkerja sebagai phosphodiesterase inhibitor. Dengan adanya stimulus seksual, NO2 dilepaskan oleh neuron atau sel-sel endotel pada jaringan penis, dengan demikian meningkatkan aktifitas guanilate siklase, enzim yang bertanggungjawab dalam konversi guanilate triphosphat menjadi cGMP. cGMP merupakan secondary messenger vasodilator yang menambah aliran arterial menuju corpora cavernosa dan menambah pengisian darah pada sinus cavernosa. Katabolisme dari cGMP dimediasi oleh phosphodiesterase.
Inhibitor phosphodiesterase isoenzim tipe 5 beraksi dengan mengurangi katabolisme dari cGMP. Phosphodiesterase isoenzim tipe 5 juga ditemukan dalam jaringan peripheral vascular, otot halus trakeal, dan platelet. Sehingga penghambatan atau inhibisi phosphodiesterase pada jaringan non-genital tersebut dapat menyebabkan efek yang tidak diinginkan.

how cialis work

Profil farmakokinetik
Tadalafil membutuhkan waktu sekitar 2 jam untuk mencapai kadar puncak dalam plasma. Sehingga waktu yang dibutuhkan untuk mencapai onset (waktu mulai bereaksi) adalah 2 jam. Perpanjangan durasi yang ditimbulkan tadalafil bisa mencapai 36 jam, dan absorbsinya tidak dipengaruhi oleh adanya makanan pada lambung. Tadalafil dimetabolisme di hepar dengan bantuan isoenzim sitokrom P450 3A4 dan juga enzim hepatik lainnya. Tadalafil dan metabolitnya diekskresikan terutama lewat feses, dan sebagian lewat urin. Presentase dosis yang diekskresikan lewat feses adalah sebesar 61%, sedangkan yang diekskresikan lewat urin 36%. Dosis harian yang dapat digunakan adalah 5-20 mg.
Efek samping
Selain memiliki efek yang poten dari tadalafil ini, ternyata tadalafil juga memiliki efek samping. Efek samping tersebut yaitu sakit kepala, sakit perut, nyeri punggung, nyeri otot, muka memerah, nyeri di kaki atau tangan, pusing, gangguan pada penglihatan. Aktivitas seksual memiliki keterkaitan dengan jantung. Oleh sebab iitu pasien yanng memiliki problem dengan jantung disarankan untuk berkonsultasi dengan farmasis atau dokter. Ketika terjadi sakit atau terjadi peranjangan waktu ereksi (lebih dari 4 jam), maka hentikan pemakaian dan lakukan pemeriksaan pada tenaga kesehatan. Alergi yang serius dapat terjadi pada penggunaan obat ini, gejala alergi seperti ruam, pusing, masalah dalam pernafasan, gatal, dan embengkakan yang tidak wajar. Maka segera hubungi farmasis atau dokter.

(by: Cosmas 07-050, Bimo Tiar 07-056, Ari Widya 07-061, Andreas Arry M 07-068)

Pustaka

Anonim, 2009, http://www.medicinenet.com/tadalafil-oral/article.htm

Dipiro, J.T., 2008, Pharmacotherapy A Pathophysiologic Approach, ed. 7,1369-1383, McGraw Hill Medical, New  York


ASAM MEFENAMAT: MINUM 500 Mg DULU BARU 250 Mg?

Asam mefenamat merupakan obat yang sudah tidak asing lagi di masyarakat. Asam mefenamat termasuk obat pereda nyeri yang digolongkan sebagai NSAID (Non Steroidal Antiinflammatory Drugs). Obat ini digunakan untuk mengatasi berbagai jenis rasa nyeri, namun lebih sering diresepkan untuk mengatasi sakit gigi, nyeri otot, nyeri sendi dan sakit ketika atau menjelang haid. Seperti juga obat lain, asam mefenamat dapat menyebabkan efek samping.

Sayangnya, banyak masyarakat yang kurang paham mengenai penggunaan asam mefenamat yang benar. Padahal, bila tidak digunakan dengan benar, dikhawatirkan efek terapi suatu obat tidak akan tercapai, atau bahkan kadarnya telah melewati batas rentang terapi. Hal ini biasa terjadi pada pasien yang melakukan pengobatan sendiri, yang membeli obat ini di apotek tanpa menanyakan dahulu dosis penggunaan dari asam mefenamat pada apoteker.

Untuk orang dewasa dan anak di atas 14 tahun, dosis awal pemberian asam mefenamat yang dianjurkan adalah 500 mg kemudian dilanjutkan 250 mg. Asam mefenamat ini digunakan melalui mulut (per oral) dan sebaiknya sewaktu makan,dan jika diperlukan
Mendengar atau membaca pernyataan di atas tentu akan menimbulkan pertanyaan dalam benak orang-orang. Mengapa asam mefenamat dosisnya diatur demikian? Mengapa tidak digunakan saja seterusnya 500 mg? Apa jadinya kalau dosis yang digunakan terus menerus sebanyak 500 mg?
Dosis pertama (500 mg) dikenal dengan loading dose, tujuan pemberiannya adalah agar kadar obat dalam darah meningkat secara cepat, sehingga obat mencapai efek terapinya. Lalu, selanjutnya diberikan dosis sebesar 250 mg, dimana dosis ini dikenal sebagai maintenance dose, yang dimaksudkan agar dapat mempertahankan tingkat keefektifan obat dalam cairan tubuh setelah loading dose tercapai.
Jadi, setelah membaca informasi ini, diharapkan masyarakat tidak lagi heran dengan peresepan dokter terkait asam mefenamat, yang menuliskan peggunaan asam mefenamat dalam dosis yang berbeda-beda. Selain itu diharapkan masyarakat hendaknya berkonsultasi pada apoteker pada saat membeli obat di apotek,untuk menghindari terjadinya kesalahan penggunaan obat. Semoga bermanfaat.

Oleh :
Belyana Maria Sidebang (078114099)
Juliana Florensa D.B.Duhan (078114119)
Noviani Lestari T. (078114132)

Prevent and Treat High Blood Pressure! (Ubah gaya hidup anda maka anda akan merasakan perubahan yang besar! Dan jauh dari obat-obatan

Hal ini akan berlaku baik bagi yang sudah terdiagnosa hipertensi (HT) maupun yang belum terdiagnosa, tapi memiliki kepedulian akan faktor resiko yang mengacu pada terjadinya HT. satu hal yang perlu diingat bahwa tekanan darah yang tinggi tidak dapat disembuhkan, namun dapat dikendalikan.
Hal-hal positif dengan melakukan perubahan gaya hidup:
• Menekan terjadinya kenaikan tekanan darah
• Mencegah maupun “menghambat” terjadinya HT
• Meningkatkan efektivitas dari penggunaan obat-obat antihipertensi
• Menurunkan resiko terkena serangan jantung, stroke maupun penyakit jantung (kardiovaskular) lainnya

Kenali!
Dari orang-orang yang menderita HT, sebesar 20% diantaranya tidak menyadari kondisi mereka masing-masing. Kita adalah pihak yang paling mengenali dan bertanggungjawab atas tubuh kita sendiri, karena itu, kenalilah gejala-gejala yang tubuh kita coba tunjukkan kepada kita, bahwa “something’s wrong inside” supaya kita bisa melakukan treatment yang tepat pula! Karena itu, tidak ada salahnya bila kita merasa ada yang aneh dengan tubuh kita, segeralah menemui pakar kesehatan (dalam hal ini bisa Dokter maupun Apoteker) untuk sekedar berkonsultasi dan mencari second opinion.

Ubah gaya hidup = kurangi resiko!
Meskipun tekanan darah anda masih dinyatakan normal (yaitu sistolik kurang dari 120 mm Hg dan diastolik kurang dari 80 mm Hg) dan tujuan anda adalah untuk pencegahan modifikasi gaya hidup seolah-olah menjadi resep menuju hidup sehat. Namun bagi yang sudah terdiagnosa HT, maka modifikasi gaya hidup yang esensial antara lain:
• Mengurangi asupan garam
• Mengatur berat badan
• Melakukan aktivitas fisik normal, sesuai kemampuan
• Kendalikan stress
• Mengurangi asupan alkohol dan rokok

Lakukan pengobatan dengan baik bila setelah menerima resep dari dokter!
Bagi penderita HT dengan tekanan darah diatas 140/90 mm Hg, maka jelas dibutuhkan obat dalam terapi. Terapi untuk HT biasanya merupakan terapi jangka panjang, bahkan seringkali disebutkan lifetime therapy. Berikut ini merupakan golongan obat yang biasa digunakan dalam terapi HT:
Diuretics

Beta-blockers

ACE inhibitors

Angiotensin II receptor blockers

Calcium channel blockers

Namun yang akan saya beritahukan disini bukanlah mengenai mekanisme pengobatan, namu mengenai efek samping yang kemungkinan muncul akibat penggunaannya.
Diuretik
Kemungkinan terbesar adalah menurunkan suplai mineral potassium pada tubuh. Gejala yang umumnya ditunjukkan adalah tubuh mudah lemah, maupun kram pada bagian kaki. Untuk mengatasinya, anda dapat mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung potassium, atau bisa juga dengan mengkonsumsi tablet potassium bersamaan dengan konsumsi diuretik. Beberapa orang bahkan terkena gout setelah mengonsumsi diuretik dalam jangka panjang.
Orang dengan Diabetes Mellitus tipe 2 (DM2) harus mewaspadai penggunaan diuretik ini karena dapat menyebabkan peningkatan kadar gula darah. Namun para dokter biasanya sudah mewaspadai adanya peresepand diuretik ini pada pasien DM2.

Beta-blockers
Penggunaan golongan ini harus diperhatikan terutama pada wanita yang sedang merencanakan kehamilan, atau pada saat sedang menjalani terapi diketahui pasien wanita tersebut hamil. Untuk hal ini perlu dikonsultasikan ke dokter untuk mendapatkan pengubahan dosis atau mungkin penggantian golongan obat untuk terapi HT. namun, efek samping yang lebih umum terjadi antara lain adalah insomnia, detak jantung yang melambat, gejala seperti asma, tangan dan kaki terasa dingin.

ACE inhibitors
Pasien wanita yang sedang mengonsumsi obat golongan ini sangat tidak diharapkan untuk hamil pada saat terapi! Hal ini karena obat-obat golongan ACE inhibitor ini dapat menyebabkan hipotensi yang mengacu pada kegagalan ginjal sehingga dapat membahayakan terutama nyawa bayi (neonates). Efek samping yang lebih umum terjadi adalah ruam pada kulit, namun untuk konsumsi jangka panjang dapat juga menyebabkan kerusakan ginjal.

ARB
Terkadang menyebabkan pusing. Hampir seperti golongan-golongan sebelumnya, kehamilan tidak diharapkan selama terapi dengan obat antihipertensi. Khusus untuk ARB, konsumsi obat golongan ARB pada masa kehamilan dapat menyebabkan terhambatnya perkembangan janin sehingga terkadang menyebabkan terjadinya malformasi pada janin. Perlu konsultasi lebih lanjut pada dokter mengenai penggunaan obat ini pada wanita hamil.

Calcium Channel Blocker (CCB)
Efek samping yang umumnya ditemui adalah palpitasi, persendian kaki membengkak, konstipasi, pusing.

C.A.Rosita Indah A.
068114170

–Berapa seh Vitamin C yang kita butuhkan ?????–

Akhir-akhir ini peredaran vitamin di pasaran semakin meningkat, bukan hanya di apotek, dan sekarang terdapat di supermarket bahkan di warung-warung kecilpun menjual vitamin. Iklan-iklan mengenai vitamin baik di media cetak maupun elektronik, serta perusahaan-perusahaan multilevel yang menawarkan vitamin juga semakin banyak. Peningkatan peredaran vitamin di pasaran tidak lepas dari meningkatnya tingkat konsumsi dari masyarakat kita. Kesadaran untuk menjaga kesehatan dan pola hidup sehat yang mendorong untuk mengkonsumsi vitamin. Tetapi tidak kita sadari bahwa penggunaan vitamin harus dibatasi atau kita perlu magetahui waktu yang tepat untuk mengkonsumsinya. Masyarakat kita sering tidak mengetahiu efek samping dari penggunaan vitamin jangka panjang atau penggunaan vitamin yang tidak terkontrol
Dari sebuah penelitian yang dilakukan, dari berbagai jenis vitamin yang ada, masyarakat paling banyak mengkonsumsi vitamin C, baik dalam bentuk tunggal maupun kombinasi multivitamin.
Vitamin C merupakan vitamin yang larut air. Vitamin ini dieksresikan dari dalam tubuh melalui ginjal dan tidak disimpan dalam tubuh dalam jumlah besar, sehingga terdapat kemungkinan untuk defisiensi vitamin ini. Dalam sehari vitamin C yang diperlukan tubuh kira- kira 100 mg.


Berapa Dosis vitamin C yang ideal ????? (How Much)


Dosis konsumsi vitamin C yang ideal adalah 75-100 miligram per hari. Untuk wanita hamil dan ibu menyusui dianjurkan mengonsumsi vitamin C lebih besar dari jumlah tadi. Ada juga yang berpendapat cukup mengonsumsi 200 miligram sehari. Untuk anak usia 5 tahun sebesar 45 miligram per hari. Untuk orang yang hidup dengan stres atau mereka yang tinggal di kota besar yang penuh polusi, seperti Jakarta, dosis 500 miligram adalah dosis yang cukup baik, dalam hal ini vitamin C bertindak sebagai antioksidan untuk mengatasi radikal bebas. Dari beberapa penelitian diperoleh t ½ dari vitamin C yaitu 10 jam, dengan diketahui waktu paruhnya penggunaan vitamin C dapat kita kontrol baik dari segi frekuensi maupun lama pemberian.
Teman-teman pasti sudah pernah menonton atau melihat iklan salah satu produk vitamin C, yang mengatakan bahwa tubuh kita memerlukan 1000 miligram vitamin C agar tidak sakit. Sebenarnya 1000 miligram dari vitamin itu mubazir karena tidak sampai 1000 miligram vitamin C yang diperlukan tubuh, kelebihan vitamin C ini akan dibuang lewat urine kita. Betapa mubazir dan rugi kita??? Oleh karena itu sangat penting sekali kita mengetahui dosis vitamin C yang kita butuhkan sebab asupan vitamin C juga sudah kita dapat dari makanan atau buah-buahan bergizi.

Banyak sekali efek samping yang ditimbulkan jika mengkonsumsi vitamin C dalam jumlah berlebih antara lain untuk balita jangan mengkonsumsi vitamin C lebih dari 400 miligram karena bisa menyebabkan diare sedangkan untuk orang dewasa tidak boleh mengkonsumsi lebih dari 2000 miligram sehari karena dapat menyebabkan maag juga dapat menyebabkan gangguan kerja ginjal. Efek samping yang paling berbahaya dari konsumsi vitamin C yang berlebih dan tidak terkontrol adalh terjadinya batu ginjal. Untuk penderita maag juga hati-hati dalam konsumsi vitamin C karena vitamin C bersifat asam, oleh karena itu sebaiknya makan terlebih dahulu untuk menghindari rasa perih di daerah lambung.
Banyak manfaat yang dapat diambil bila mengkonsumsi vitamin C, tapi yang harus perlu diingat bahwa mengkonsumsi vitamin C bukan merupakan terapi utama tetapi merupakan terapi penunjang (tujuan terapinya yaitu mencegah). Harus berhati-hati mengkonsumsi vitamin C bila mempunyai riwayat penyakit maag dan batu ginjal karena dapat memperparah penyakit ini.

Pustaka :
Anonim, 2010, Clinical pharmacokinetics of antioxidants and their impact on systemic oxidative stress, http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/12739983, diakses tgl 27 Maret 2010
Anonim, 2010, Vitamin C, http://health.detik.com/read/berapa-dosis-vitamin-c, diakses tgl 27 Maret 2010
Oleh :
Fetri Anastasia (078114101)-Ridho Prayogie (078114103) –

Maretta Putri (078114 104) –Paulus Febrianto Silor (078114130)

Minum Amoxicillin??? Hati-hati lhow!!!

MINUM AMOXICILLIN??? HATI-HATI LHOW!!!

Amoxicillin merupakan antibiotika golongan penisilin yang paling sering digunakan oleh masyarakat di Indonesia hingga mencapai 71%. Beberapa nama dagang/paten dari antibiotika ini ialah Penmox, Intermoxyl, Ospamox, Amoxsan, Hufanoxyl, dan Yusimox. Amoxicillin digunakan untuk mengobati infeksi pada telinga tengah, radang tonsil, radang tenggorokan, radang pada laring, bronchitis, pneumonia, infeksi saluran kemih, infeksi pada kulit dan dapat digunakan untuk mengobati gonorrhea.

Obat ini tersedia di pasaran dalam bentuk Kapsul : 250 dan 500 mg. Tablet : 500 mg. Sirop kering : 125mg/5ml dan 250mg/5ml. Vial untuk injeksi : 1000mg dan 500mg.

Untuk menjaga khasiat obat ini, maka harus pula diperhatikan cara penyimpanannya. Amoxicillin sebaiknya disimpan dalam suhu kamar yaitu antara 20 sampai 25 derajat Celcius. Untuk sirop kering yang telah dicampur dengan air sebaiknya tidak digunakan lagi setelah 14 hari atau 2 minggu.

Dosis therapi untuk Amoxicillin pada orang dewasa adalah 250 mg setiap 8 jam, 500 mg setiap 8 jam, 500 mg setiap 12 jam, terggantung dari derajat keparahan dari penyakit yang di derita. Untuk pengobatan gonorrhea pada orang dewasa, diberikan Amoxicillin sebanyak 3 g sekali minum. Dosis untuk anak anak diatas 3 bulan adalah 25 mg/kg/hari terbagi setiap 12 jam, 20 mg/kg/hari terbagi setiap 8 jam, 40 mg/kg/hari terbagi setiap 8 jam atau 45 mg/kg/hari terbagi dalam 12 jam terggantung dari derajat keparahan penyakit.

Amoxicillin bisa diminum baik sebelum maupun setelah makan dan obat ini sangat jarang ditemukan berinteraksi dengan obat obat yang lain. Amoxicillin juga aman diberikan untuk ibu hamil dan menyusui walaupun ada beberapa kasus diare yang terjadi pada bayi yang disusui oleh ibu yang minum Amoxicillin.

Mekanisme kerja dari amoxicillin adalah mencegah pembentukan membran sel bakteri sehingga semua materi genetik yang ada di dalamnya terurai keluar dan menyebabkan bakteri mati. Bakteri yang menjadi target sasaran dari amoxicillin antara lain N. gonorrhoea, E. coli, Pneumococci, Streptococci, dan beberapa strain dari Staphylococci.

Berdasarkan mekanisme kerja dan penggunaannya yang luas di Indonesia maka perlu ada perhatian khusus dalam penggunaannya di dalam pengobatan. Selain itu, efek samping dari Amoxicillin yang ada seperti: diare, gangguan tidur, rasa terbakar di dada, mual, gatal, muntah, gelisah, nyeri perut, perdarahan dan reaksi alergi berlebih yang dapat menyebabkan syok anafilaksis dan mengakibatkan kematian membuat antibiotik ini perlu mendapat perhatian lebih.

Berdasarkan data yang diperoleh dari survey, dari 2996 individu yang diwawancara, 486 (16%) menggunakan antibiotik. Hampir semua penderita (99%) yang menggunakan antibiotik mempunyai keluhan yang berhubungan dengan kesehatan, bila dibandingkan dengan yang tidak menggunakan antibiotik  (62%). Pemberian antibiotik yang tidak tepat dapat mengakibatkan resistensi bakteri sehingga perlu penyesuaian dalam dosis pemberian, frekuensi pemberian, dan lamanya pemberian obat antibiotik tersebut (how much, how often, dan how long).

Dosis yang diberikan haruslah tepat agar kadarnya di dalam darah dapat mencapai jendela terapi sehingga dapat menghasilkan efek terapi yang diharapkan. Pemilihan dosis yang tepat akan membantu tercapainya kadar obat dalam darah mencapai jendela tercapai. Penggunaan antibiotik sangatlah rentan terhadap resistensi yang mungkin dapat terjadi. Resistensi ini dapat terjadi jika dosis yang digunakan terlalu rendah atau  ketidakpatuhan pasien dalam menggunakan antibiotik ini. Maka dalam penggunaannya, perlu diinformasikan kepada pasien mengenai interval waktu saat minum obat sehingga saat pasien minum obat yang kedua, kadar obat dalam darah belum berada di bawah Kadar Efektivitas Minimum (KEM). Dengan demikian, kadar obat yang ada di dalam darah tetap berada di dalam jendela terapi. Proses penyembuhan penyakit akibat bakteri membutuhkan waktu yang cukup lama dibandingkan penyembuhan penyakit simptomatik seperti pusing, inflamasi, dan flu. Untuk itu perlu adanya batasan pemberian obat kepada pasien. Lamanya pemberian antibiotik kepada pasien berpengaruh pada tingkat kesembuhan penyakit pasien. Biasanya pemberian antibiotik untuk menyembuhkan penyakit tertentu adalah 5-7 hari. Ini dimaksudkan agar bakteri yang ada di dalam tubuh pasien sudah benar-benar mati. Walaupun pasien merasa sudah membaik pada hari kedua maupun ketiga, antibiotik yang diberikan harus tetap diminum agar tidak terjadi resistensi akibat tidak sempurnanya proses pembunuhan bakteri yang ada di dalam tubuh.

Dari uraian di atas maka perlu adanya penyampian informasi kepada pasien mengenai pentingnya ketaatan minum obat antibiotik terhadap kesembuhan pasien.

DAFTAR PUSTAKA

http://www.medicastore.com/apotik_online/antibiotika/penisilin.htm

http://www.sehatgroup.web.id/?p=818

http://dokteriko.com/?p=242

Disusun oleh:

Frissa Kurniawan         078114117

Paulina Maya               078114126

Devi Nathania              078114127